• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETNOREFLIKA. VOLUME 5 No. 2. Juni 2016 Halaman NILAI-NILAI AJARAN ISLAM KESULTANAN BUTON 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ETNOREFLIKA. VOLUME 5 No. 2. Juni 2016 Halaman NILAI-NILAI AJARAN ISLAM KESULTANAN BUTON 1"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI AJARAN ISLAM KESULTANAN BUTON1

La Ode Muhammad Syahartijan2

La Ode Jumaidin3

Wa ode Sitti Nurbaena4

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai-nilai ajaran yang berkembang di Kesultanan Buton melalui konsep Martabat Tujuah melalui tujuh tingkatan perwujudan atau tujuh kedudukan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang mendukung nilai pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada abad ke- 19 Metode penelitian ini adalah menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi kepustakaan serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai ajaran islam di Kesultanan Buton pada abad ke 19, melalui konsep Martabat Tujuh, tersosilisasi dengan baik pada masyarakat Buton, khususnya di kalangan Kaomu dan Walaka yang langsung diajarkan oleh pemerintah (Sultan). Sekolah-sekolah agama, madrasah, zawiyah, perpustakaan berkembang dengan pesat, yang berimplikasi pada taatnya masyarakat Buton terhadap ajaran agamanya yang diperlihatkan oleh rakyat dan pemimpin (Sultan) sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Buton sampai pada abad ke-19.

Kata kunci: nilai, ajaran Islam, kesultanan, Buton

ABSTRACT

This research aims at describing the values which are developed in Sultanate of Buton through the concept of Martabat Tujuh in seven level of implementation or seven positions. This research is also aimed to describe the supporting factors on Islam educational value in Sultanate of Buton in the 19th century. The method of this research is a historical method with using Qualitative approach. Techniques of data collection in this research are an interview, library research, and observation. The results show that Islam value in Sultanate of Buton in the 19th century, through the concept of Martabat Tujuh, was well isolating in Sultanate of Buton. Especially Kaomu and Walaka which is taught by the government (Sultan). Religious school, Islamic School, zawiyah, the libraries thrive, implying on the obedience of Butonese society to the teachings of their religion which are shown by the people and leaders (Sultan) as a unity that can not be separated in the system of government in the Sultanate of Buton until the 19th century.

Keywords: value, Islamic education, sultanate, Buton

1

Hasil Penelitian

2

Dosen pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu Oleo, Jl. H.E.A. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Kendari, Pos-el: [email protected]

3

Dosen pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu Oleo, Jl. H.E.A. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Kendari, Pos-el: [email protected]

4

(2)

A.PENDAHULUAN

Paham pendidikan Islam di Kesultanan Buton didasarkan pada konsep Martabat Tujuh yang berarti tujuh tingkat perwujudan atau tujuh kedudukan (Addin, 2011). Dalam pengertian lain Martabat Tujuh merupakan esensi penjabaran dari ajaran wanda al wujud yang memandang bahwa, wujud Tuhan wajibul wujud, yang Esa, dapat dikenal tujuh tingkatan atau martabat tujuh, yakni: (1) Martabat

Ahadiyyah atau Martabat An–al Ta’ayyun.

Martabat Zal al–bath adalah ibarat wujud Allah semata–mata, tidak bernama dan tidak bersifat, dan tidak berkaitan dengan segala kaitan, sampai kaitan semata–mata juga tidak terkait dengan zat Yang Maha Esa; (2) Martabat Al–ta ‘tayyun Al–anwal, yaitu ibarat ilmu Allah dengan zat-Nya dan dengan segala maujud secara ijmal (global) tanpa perbedaan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan dinamai Al-

wahidayyah dan Al–haqiqah

Al-muhammadyah; (3) Martabat Atta’ayyun

sari, yaitu ibarat ilmu Allah dengan zat-Nya, segala sifatnya, dan segala maujud

secara terperinci dan berbeda sebagian dengan bagian yang lain. Martabat ini dinamai Al–wahdiyyah Al–muhamadyyah; (4) Martabat Alam Al–amah, yaitu ibarat dari pada segala sesuatu yang wujud semata yang sederhana (tidak tersusun); (5) Martabat Alam Al–misal, yaitu ibarat segala sesuatu yang wujud, yang tersusun halus, yang kasar, yang belum terbagi-bagi dan terpisah-pisah; (6) Martabat Alam Ajsam, yaitu ibarat dari pada segala sesuatu yang wujud, yang tersusun, yang kasar, yang sudah terbagi–bagi dan terpisah-pisah; (7) Martabat Alam Al–jamiah atau Martabat “pengimpun” bagi martabat– martabat yang enam terdahulu dan martabat ini merupakan Martabat Tajalli atau penampakan tuhan yang paling akhir dan kenyataan paling akhir dan itulah yang disebut dengan Alam Insan atau manusia (Yunus, 1995: 55).

Adapun materi yang dapat digunakan untuk mengajarkan pendidikan Islam

meliputi unsur–unsur: dasar–dasar akkhlak, dasar-dasar ibadah, tasawuf, serta kepemimpinan. Bagaimana unsur–unsur tersebut bisa menghasilkan manusia yang insan kamil dalam suatu negara Kesultanan Buton dapat dilihat dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 1.

Diagram Ajaran Islam pada periode Kesultanan (abad XV – abad XX)

(Sumber: Alhadza, dkk, 2009)

Pendidikan Islam di Kesultanan Buton merupakan program yang dijalankan oleh lembaga-lembaga pendidikan informal (dalam rumah tangga) dan lembaga pendidikan non formal seperti, mesjid, Zaawiyah. Oleh karena itu, arahnya jelas akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ilmu aqidah akhlak dan pelaksanaan ibadah, serta ilmu tasawuf. Dengan tersedianya sarana dan prasarana dan didukung oleh sumber daya manusia sebagai faktor pendukung dalam proses proses pembelajaran, berimplikasi pada tertanamnya subtansi ajaran Islam yang berbasis tasawuf, sehingga output yang dihasilkan mampu menghasilkan lahirnya pemimpin di lingkungan kesultanan yang ulama dan umara.

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, maka pola perkem-bangan pendidikan Islam di Kesultanan Buton sangat ditentukan oleh proses

ber-Bentuk Lem-baga Pendidi-kan Kurikulum Informal (Rumah Tangga) Non formal (Zawiah Masjid) Dasar-dasar Akhlak Dasar-dasar Ibadah Tasawuf Akhlak Ibadah Tasawuf Kepemimpinan Sarana Prasarana Metode Sumber Daya Manusia Hasil Pendidikan Faktor Pendukung Faktor Penghambat Pencapaian Visi Pendidikan

(3)

pikir manusia. Pemahaman tentang keis-laman secara paripurna sangat penting demi untuk melahirkan manusia yang insan kamil. Sehubungan dengan hal tersebut di-atas, penelitian Zuhdi tahun 2010 tentang Sejarah Buton yang terabaikan me-nyinggung bahwa pemimpin –pemimpin di Kesultanan Buton dalam menjalankan sis-tem pemerintahan menggunakan pendeka-tan unsur tasawuf.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai ajaran yang berkem-bang di Kesultanan Buton melalui konsep Martabat Tujuh.

B. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Bau-Bau melalui pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan dengan menggunakan studi literatur, mencari referensi-referrensi dan naskah – naskah , dokumen-dokumen yang mempunyai relevansi dengan nilai nilai ajaran Islam di Kesultanan Buton pada abad 19 serta melakukan interview

dengan tokoh tokoh sejarah, akademesi yang banyak mengetahui tentang sistem pemerintahan selama kesultanan Buton berlangsung khususnya pada abad ke -19.

Data dalam penelitian ini adalah naskah–naskah, dokumentasi (fisik maupun non fisik) berupa gambar, foto, maupun bangunan sejarah seperti mesjid keraton, istana sultan maupun Lembaga–Pendidikan formal–non formal yang masih terlihat, hasil wawancara dengan informan serta gejala–gejala yang muncul dalam rangkaian ungkapan keberagaman masya-rakat Buton pada zaman kesultanan yang diasumsikan sebagai hasil hubungan dina-mis yang terjadi dalam ajaran Islam.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah melalui tata kerja sebagai berikut: (1) pengumpulan data (heuristik), yaitu langka awal untuk mengumpulkan data yang dilakukan oleh peneliti melalui penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research); (2) kritik sumber umumnya dilakukan

ter-hadap sumber–sumber pertama; (3) penafsiran data (interpretasi), dan (4) penu-lisan sejarah (historigrafi

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kesultanan Buton

Sistem pemerintahan dimasa Kera-jaan Buton berbentuk Monarki karena dikuasai oleh dinasti Wa Kaka yang secara turun temurun berkuasa di Kerajaan Buton. Pada masa kerajaan ini pula dari raja per-tama hingga raja ke-5 tidak ditemukan tanda-tanda pengaruh Islam. Bahkan yang tampak adalah pengaruh kebudayaan Hindu yang salah satunya terdapat pada nama-nama raja. Disamping itu dalam aspek keyakinan, juga dijumpai faham “reinkar-nasi”. Majelis sara juga sebagai menteri koordinator yang beranggotakan Mia

Patamiana, bertugas mengkoordinir

tiap-tiap kelompok dalam limbo-nya.

Pemimpin tinggi angkatan perang, juga bertugas sebagai duta dalam hubungan luar negeri. Pada masa kerajaan, jabatan ini pertama kali dijabat oleh Sibatara dan sekaligus sebagai penasehat raja.

Menteri khusus daerah seberang dan perluasan wilayah menteri ini juga menjab-at sebagai komando pasukan khusus pengawal istana dipimpin oleh Kaudoro

dan Sangiariana. Pada masa pemerintahan

Bataraguru struktur pemerintahan kerajaan

bertambah yaitu dengan adanya jabatan ba-ru seorang Sapati yang bertugas membantu raja dalam pelaksanaan pemerintahan di pusat kerajaan. Di masa modern saat ini, sering dikenal sebagai perdana menteri. Pa-da masa pemerintahan Raja Tuarade juga terjadi pertambahan jabatan yaitu jabatan

kanepulu yang fungsinya membantu

Sapati/wakil dari Sapati.

Struktur pemerintahan dalam bidang agama yaitu; Lakina Agama, Imam, Khatib,

Moji, Mokimu, dan Bisa. Implementasi

sis-tem pemerintahan Undang-undang Marta-bat Tujuh menjalankan praktek kepem-impinan Islam, menjadi fondasi dan suri tauladan pada masa pemerintahan

(4)

Sultan-sultan berikutnya. Martabat Tujuh menjadi tonggak perubahan yang mendasar dalam struktur pemerintahan, hukum maupun adat istiadat masyarakat Buton.

2.Praktek Demokrasi pada Kesultanan Buton Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap negara memiliki bentuk dan sistem pemerintahan yang sistemnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan negara. Demikian halnya dengan Negara Kesul-tanan Buton, bentuk dan sistem peme-rintahannya berpedoman pada Martabat Tujuh Sara Wolio yang di dalam praktik pemerintahannya terdapat unsur demokrasi. Kepala pemerintahan dipimpin oleh se-orang Sultan yang dipilih oleh lembaga

Sio-limbona (legislatif). Sistem pemeritahan

Kesultanan Buton meng-gunakan sistem presidensial Sultan ber-tindak langsung se-bagai kepala negara dan kepala peme-ritahan, serta bentuk pemerintahan meng-gunakan monarki konstitusional, dalam praktik penyelenggaraan pemeritahannya terdapat unsur demokrasi.

3.Partisipasi efektif dalam Kesultanan Buton Partisipasi yang dimaksudkan oleh Robert Dahl dalam sebuah pemerintahan demokrasi yaitu, peran semua lapisan masyarakat untuk turun langsung memba-has agenda-agenda yang berkaitan dengan kebijakan, ataupun masalah umum, baik berkaitan dengan politik ataupun kekua-saan. Untuk konteks Kesultanan Buton, partisipasi efektif yang dimaksudkan oleh Robert Dahl telah dijalankan yang ditandai dengan keikutsertaan lapisan sosial ma-syarakat untuk ikut serta dalam membahas sebuah kebijakan umum. Contoh kongkrit-nya dalam hal penentuan kebijakan yang menyangkut negara dan masyarakat luas. Seorang Sultan tidak dapat memutuskan kebijakan secara sepihak seperti halnya ra-ja-raja. Sistem ini bertujuan untuk meminimalkan bahaya penyelewengan kekuasaan yang dampaknya bisa mengaki-batkan tirani. Segala sesuatu yang menyangkut keputusan maupun kebijakan

yang akan dikeluarkan oleh pemerintah. Dalam hal pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab sebagai aparat negara, di-putuskan melalui musyawarah mufakat yang melibatkan seluruh lapisan masyara-kat Kesultanan Buton, baik dari jajaran perwakilan pemerintah pusat, pemerintah daerah (kadie), dan aliansi pemerintahan

(barata). Semua dilibatkan serta

mempu-nyai hak yang sama dalam proses musya-warah tersebut.

Beberapa contoh dalam hal pera-turan pembagian pajak di sebuah kecamatan

(kadie), pihak kesultanan akan meninjau

kecamatan tersebut melihat potensi apa yang ada dalam kecamatan tersebut. Setelah itu menentukan pajak apa yang akan dikenakan oleh kecamatan, tentunya me-lalui proses tahap musyawarah yang mem-pertemukan pihak pemerintahan pusat ( Sul-tan dan Siolimbona) dan pihak pemimpin kecamatan (Lakina dan Bonto) untuk mem-bahas besaran pajak tersebut. Sejalan dengan pandangan Al-Quran yang mene-gaskan tentang prinsip “syura” (musya-warah) untuk mengatur proses pembuatan keputusan, Al-Quran dengan tegas me-nyebutkan “semua keputusan mereka dipu-tuskan melalui proses musyawarah antara mereka”. Hal yang dimaksud dengan uru-san mereka adalah bukan uruuru-san pero-rangan, kelompok ataupun elit tertentu uru-san yang dimaksud dalam hal ini yakni “urusan masyarakat pada umumnya” dan milik masyarakat secara keseluruhan. 4.Status Sosial dalam Lingkup Kesultanan

Buton

Syarat demokrasi prosedural yang dipaparkan oleh Dahl, mengenai persamaan suara untuk konteks Kesultanan Buton masih terbatas dalam hal partisipasi politik belum menyentuh, kepersamaan hak dalam pekerjaan ataupun status sosial lebih cenderung menempatkan hak yang sesuai dengan proposinya. Kesultanan Buton mempunyai klaster tersendiri untuk pemangku jabatan-jabatan penting dalam pemerintahannya. Statifikasi masyarakat

(5)

Buton terjadi tidak lain karena alasan poli-tik. Pada masa pemerintahannya, Dayanu Ikhasanuddin melakukan pertemuan dan sepakat dengan sapati yang saat itu dijabat oleh La Singga dan Kanepulu dijabat oleh La Bula. Petemuan ini didasari atas usul Abdul Wahid, mengingat karena ketiga orang ini mengawini anak dari Abdul Wa-hid. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penerus tahta yang hanya berasal dari keturunan Sultan pertama hing-ga yang keempat Dayanu Ikhsanuddin (kepemimpinan tahta turun temurun). Berkaitan dengan hal tersebut, dengan bijak beliau menyarankan kepada ketiga menan-tunya untuk musyawarah dalam membahas pembagian kekuasaan dan untuk mengan-tisipasi terjadinya ambisi jabatan dalam menduduki posisi sultan. Sepakatlah ketiga belah pihak bahwa hanya keturunan mereka yang berhak menduduki ketiga jabatan tinggi kerajaan, yaitu jabatan, Sultan,

Sapati dan Kanepulu.”

Keturunan dari mereka bertiga inilah yang kemudian dikenal dengan go-longan kaomo atau bisa disebut juga Lalaki. Sementara itu, golongan walaka berasal dari keturunan para Bonto atau kepala kam-pong. Selain itu, terdapat pula golongan

Papara yaitu golongan yang tidak ada

hub-ungan darah dari kedua golongan tersebut. Golongan papara ini adalah masyarakat mendiami limbo ataupun kadie. Papara

sendiri terbagi atas tiga klaster yaitu:

a. Papara dari keturunan masyarakat asli

yang tunduk pada Kesultanan Buton atas kemauannya sendiri (papara kantinale).

b. Papara yang datang dari luar dan tunduk

pada Kesultanan Buton karena tawanan perang (tolubirana);

c. Papara yang datang menyerahkan

dirinya dengan tidak melalui perang (

pe-raka).

Sedangkan lapisan masyarakat Buton yang paling terbawah adalah batua

(budak) yang dilahirkan dari ibu bapak yang seorang budak juga. Jika ibunya saja yang budak, maka anaknya tidak menjadi

budak karena dalam sistem kekera-batan/kekeluargaan masyarakat Buton menggunakan sistem patriaki.

Golongan budak di kala itu terdiri dari tiga kategori yaitu:

a. Orang yang tunduk dibawah kekuasaan kerajaan dengan paksa dalam adat dise-but bente;

b. Musuh kerajaan yang kalah dalam pepe-rangan;

c. Orang luar kerajaan yang dirampas dan dijual kepada golongan kaomu dan wa-laka.

5.Tanggung jawab Politik dalam Kesultanan Buton

Hak-hak politik eksekutif (Sultan) diawasi langsung oleh badan Siolimbo-na (legislatif). Sultan dalam bertindak harus melalui persetujuan aparat negara Kesultanan (Pangka) dan persetujuan dari lembaga Sio Limbona. Sistem pengawasan dewan Sio liombona terhadap sultan, bersi-fat langsung dan berkesinambungan (proak-tif). Jadi tidak harus menunggu laporan dari seorang rakyat atau karena adanya aksi demonstrasi agar lembaga eksekutif “turun gunung”. Tindakan-tindakan seorang Sultan maupun pejabat negara disesuaikan dengan budaya bangsa, kepentingan negara dan kepen-tingan masyarakat yang dipimpinnya, tidak berdasarkan kepent-ingan kelompok atau preferensi perorangan. Hal ini didasarkan oleh pasal 1, 3 dan 4 un-dang-undang Mar-tabat Tujuh.

Pola rekruitmen pemimpin dalam sistem dan bentuk pemerintahan Kesultanan Buton bersifat tidak langsung. Masyarakat atau rakyat menyalurkan aspirasinya lewat dewan Siolimbona dan dewan inilah yang memilih seorang Sultan. Dalam pelak-sanaan pemeritahan sultan bertanggung ja-wab langsung oleh rakyat yang dipimpinya. Sedangkan rekruitmen dan tata cara angkatan pejabat lainnya berdasarkan peng-alaman dibidang yang akan dijabat ataupun memiliki pengetahuan yang cukup sesui ja-batan yang diemban. Selain pengetahuan, dalam rekrutman tersebut diutamakan pula

(6)

model moralitas. Di samping hal tersebut, pengangkatan sultan ataupun pejabat peme-ritahan negara harus mempunyai syarat yang tertera pada pasal 3, 5, dan 6 Undang-undang Martabat Tujuh.

Khusus dengan Siolimbona, sistem pengangkatannya hanya dapat melalui ka-langan kaomu. Pejabat negara kesultanan, selain sapati, dalam melaksanakan roda pemerintahannya wajib bertanggung jawab langsung kepada sultan. Perlu dijelaskan bahwa walaupun sapati dalam sistem pemerintahan adalah seba pemimpin dalam melaksanakan pemerintahan, dalam men-jalankan tugasnya tidak bertanggung jawab terhadap sultan, tetapi terhadap dewan Sio-limbona.

Siolimbona adalah jabatan yang hanya bisa

di tempati oleh golongan walaka, berfungsi sebagai dewan penasehat tertinggi di kesultanan Buton serta sebagai penyeleksi dan pelantik calon sultan

Jika dilihat dari tata cara pengang-katan para pejabat tersebut keahlian dan kesempurnaan batinlah yang diutamakan. Tidak seperti halnya era modern ini pejabat atau pemimpin yang duduk dalam peme-rintahan ada indikasi tidak berdasarkan keahlian. Adapun pejabat yang ditempatkan sesuai keahliannya itu hanya sedikit atau-pun secara kebetualan. Dari beratus-ratus jabatan kemungkinan hanya terdapat satu atau dua orang pejabat yang sesuai dengan keahliannya. Dewasa ini dalam rekruitmen pejabat ada indikasi bahwa faktor moralitas bukan merupakan hal yang sangat prinsipil lagi. Ini dapat dilihat pada beberapa pejabat negara yang terindikasi melakukan per-buatan korupsi ataupun amoral yang ber-lebihan.

6.Pengawasan Agenda dalam Ketersedian Lembaga Negara di Kesultanan Buton

Kesultanan Buton dalam penerapan pemerintahannya menganut sistem pemi-sahan kekuasaan ke dalam cabang-cabang yang luas. Hal ini di dasari oleh pasal 1 UU Martabat Tujuh. Cabang-cabang tersebut terdiri dari; eksekutif (sultan), legislatif

(siolimbona) dan yudikatif (kanepulu). Hal

ini sejalan dengan teori pembagian kekua-saan yang dikemukakan oleh Montesquieu lebih dikenal dengan teori trias politika, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif, untuk sistem pemerintahannya menganut sistem presidensial dimana raja sebagai ke-pala negara dan keke-pala pemerintahan. Pe-merintahan Kesultanan Buton dalam menja-lankan tugas negara dibantu oleh jajaran bi-rokrasi yang berada pada wilayah ibukota kesultanan maupun birokrasi yang bertugas di luar ibukota.

Pemerintahan Kesultanan Buton diatur oleh satu konstitusi tertulis yang oleh masyara-kat Buton dikenal dengan undang-undang Martabat Tujuh Sara Wolio. Dalam konsti-tusi Undang-undang Murtabat Tujuh, im-plementasi pemerintahan menggunakan sis-tem “Resposible Government” (peme-rintahan yang bertanggung jawab). Negara mengunakan prinsip pemisahan lembaga dan pemisahan daerah kekuasaan dengan tujuan untuk menghindari kekuasaan yang tumpah tindi (separation of powers). Pem-bagian wilayah pemerintahan terdiri dari wilayah pusat pemerintahan yang berada di ibukota kesultanan, wilayah Barata, berada di daerah-daerah Barata dan wilayah Kadie

berada di daerah-daerah Kadie. Masing-masing wilayah tersebut dipimpin oleh se-orang Bonto atau Lakina. Pemilihan kepala wilayah, baik daerah Barata maupun Kadie, dipilih langsung oleh masyarakatnya tanpa campur tangan pemerintah pusat. Kebijakan dan urusan rumah tangga daerah Barata

diserahkan sepenuhnya kepada daerah Ba-rata (otonomi penuh). Khusus daerah Kadie

dalam perihal pemimpin apabila salah satu

Kadie tidak mempunyai seorang calon

pe-mimpin, seorang Bonto yang bertugas men-gontrol pemerintahan di daerah Kadie di-perbolehkan menjadi pemimpin Kadie. Dengan persetujuan Sultan atas permintaan masyarakat setempat. Daerah Barata di samping mempunyai hak otonom, juga merupakan daerah pertahanan keamanan negara Kesultanan. Apabila ada

(7)

penyerang-an dari luar, daerah Barata-lah yang meng-adakan perlawanan terlebih dahulu.

Kapi-talao akan mengeluarkan kebijakan

(ban-tuan) apabila Barata yang bersangkutan meminta batuan. Tanpa permintaan dari

Ba-rata, Kapitalao tidak berhak ikut campur

dalam kebijakan daerah Barata walaupun kapitalao dalam negara modern adalah se-orang menteri pertahanan dan keamanan. Untuk lebih lanjutnya peneliti akan mem-bahas sub bab mengenai lembaga-lembaga negara Kesultanan Buton beserta seluruh struktur pemerintahan dan pertahanannya pada sub bab. 5.3 tentang Struktur Pe-merintahan dan Pertahanan Kesultanan Bu-ton Pasal 1 Undang-Undang Murtabat Tujuh yang menjelaskan pokok adat ber-dasarkan falsafah Buton.

7. Prosesi Pemilihan Raja/ Sultan Buton Proses pemilihan pemimpin setiap kesultanan di nusantara mempunyai taha-pan yang berbeda-beda baik dari proses penjaringan sultan dan tata cara pelan-tikannya. Untuk Kesultanan Buton terdiri dari beberapa tahapan, yakni: 1) melalui sistem kepartaian; 2) tahap Fali (setelah memperoleh calon dari tiap partai); 3) tiga tahap penetapan calon Sultan, dan ke-empat

8. Keistimewaan Konstitusi Murtabat Tujuh Berbicara tentang keistimewaan suatu konstitusi berarti berbicara pula ten-tang sejauh mana konstitusi itu dapat men-sejahterakan dan menciptakan kedamaian dalam masyarakatnya. Semua konstitusi mempunyai keistimawaan. Keistimawaan setiap undang-undang dapat dilihat pada se-berapa konstribusi undang-undang tersebut dapat menjamin ketentraman, keadilan dan kenyamanan masyarakatnya keistimewaan undang-undang Murtabat Tujuh: Pertama, sebagai dasar ilmu dan sumber hukum da-lam ketatanegaraan yang mengambil hik-mat Al-Quran dan hadits yang dipersatukan dalam kesatuan sistem yaitu sistem peme-rintahan, berbangsa dan bernegara. Nilai-ni-lai Murtabat tujuh bersifat universal dengan

kata lain nilai yang terkandung dalam mur-tabat Tujuh dapat diterapkan kapan saja dan dimana saja. Jika dilihat dari letak geografis yang beranekaragam suku dan budaya serta bahasa yang berbeda di Kesultanan Buton, dapat dikatakan sebagai Nusantara mini. Kendatipun masyarakat sangat plural dan memiliki bahasa yang beraneka ragam, ni-lai-nilai Murtabat Tujuh dapat menyatukan seluruh lapisan masyarakat di Kesultanan Buton.

Nilai yang bersifat universal sebut bisa dilihat pada falsafah yang ter-kandung dalam Murtabat Tujuh yaitu “Bincci-bhinciki kuli” (nilai rasa empati) dalam pemaknaannya bisa diartikan men-cubit kulit sendiri sebelum menmen-cubit kulit orang lain maksud dari falsafah tersebut adalah mengenai rasa empati yang tinggi serta rasa saling menghormati dan meng-hargai. Nilai rasa tersebut dapat mem-persatukan negara Kesultanan Buton.

Binci-bhinciki kuli dalam pergaulan sehari-hari

dimanifestasikan dalam bentuk: saling me-nyayangi satu sama lain, saling menghor-mati satu sama lain, saling memelihara satu sama lain dan saling taat menaati. Taat me-naati bukan karena kedudukan atau jabatan seirang sehingga ia ditaati tetapi karena se-tiap manusi memiliki hak lebih yaitu hak asasi. Hak ini tidak boleh dilanggar oleh siapapun.

Empat dasar inilah yang diterapkan oleh masyarakat Buton dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penerapan nilai-nilai Murtabat tujuh tersebut dapat men-ciptakan akhlak yang baik dan tidak me-nyinggung perasaan orang lain. Dengan ter-ciptanya akhlak yang baik, masing-masing orang atau masyarakat akan bekerja sesuai aturan yang dikehendaki oleh semua pihak. Dengan demikian kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan yang diinginkan dapat terwujudkan.

Kedua, undang-undang Murtabat

tu-juh digali dari ilmu Tasawuf khususnya il-mu kebatinan yang mengadopsi dari Mur-tabat Tujuh versi Ibnu Arabi dan digali dari

(8)

dua puluh sifat Allah SWT melalui jalan ijtihad sehingga mampu bertahan dalam se-gala zaman. Nilai yang terkandung dalam undang-undang Murtabat Tujuh tiada lain adalah memanusiakan manusia, menjadi manusia Khaliffatullah, sejahtera Zahir maupun bathin. Oleh sebab itu, rakyatnya patuh dan tunduk terhadap pemerintah me-lalui hukum adat. Seseorang yang tidak be-radab dan beradat, jelas sekali orang terbut mengkhianati agamanya yang se-harusnya dipanutinya. Sehingga pada ja-mannya orang akan merasa malu kalau dikatakan tidak beradat dan lebih baik mati daripada dikatakan demikian.

Ketiga, nilai-nilai Murtabat Tujuh

bersifat horizontal dan vertical. Murtabat Tujuh menjamin dan mengatur kehidupan masyarakat bukan hanya kehidupan dunia tapi juga kehidupan akhirat. Nilai-nilai ter-sebut senantiasa dapat menjamin keten-traman masyarakat Buton dari masa ke ma-sa. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya adalah:

a. Nilai agama yang mendalam; b. Nilai kemanusiaan yang tinggi; c. Nilai sosial yang kokoh; d. Nilai persatuan yang kental; e. Nilai kebangsaan yang tinggi; f. Nilai kejujuran yang transparan.

9.Nilai Konstitusi Kesultanan Buton yang Berhubungan dengan Proses Politik

Tidak ada sendi kehidupan, penge-tahuan dan peradaban manusia yang tak tersentuh gairah pemikiran politik. Po-litik digunakan untuk beragam makna. “po-litik bisa berarti seperangkat hipotesa mengenai proses atau institusi pemerin-tahan, atau juga bisa merujuk pada prinsip-prinsip dan norma-norma yang mengontrol perilaku politik. Aristoteles sepakat dengan Plato bahwa manusia adalah hewan politik yang bisa memenuhi wataknya hanya dalam po-lis, yakni: 1) bahwa negara adalah ins-titusi moral yang ada untuk membantu manusia mencapai kesempurnaanya; 2) bahwa nega-ra yang benar berupaya menciptakan

kese-jahteraan bagi semua dan bukan hanya un-tuk kebaikan sekelompok saja.

Politik dalam Kesultan Buton dise-but gau/musyawarah. Permulaan segala peraturan negara berasal dari pemufakatan yang tidak lampau keputusan tetang negara atau hasil proses politik di Kesultan Buton tercapai dengan baik melaui proses pe-mufakatan bersama. Nilai Murtabat Tujuh yang berhubungan dengan politik adalah ni-lai-nilai pengabdian masyarakat terhadap negara yaitu:

a. Ainda indamo aurata sumanamo karo

(kepentingan diri orang banyak lebih uta-ma dari harta benda), adalah wujud dari pengabdian dan pengorabanan rakyat ter-hadap sesama warga negara dan umat manusia, harta benda yang dimiliki sebe-rapapun harganya rela dikorbankan demi keselamatan diri atau orang banyak. Apalah artinya harta kalau diri atau ma-syarakat lain tidak merasa aman dan nyaman, harta tidak mempunyai nilai, justru harta itu akan menimbulkan ke-cemburuan masyarakat lain yang akan mengakibatkan persatuan menjadi reng-gang. Sehingga apabila kerenggangan ini terjadi persatuan untuk mencapai tujuan bersama negara untuk mewujudkan ke-hidupan yang sejahterah demi kepen-tingan sediri ataupun orang lain dan harta bukanlah segala-galanya.

b.Ainda-ndamo karo somanamo lipu karo

(kepentingan negara lebih utama dari kepentingan pribadi). Karo adalah diri pribadi, orang seorang atau orang ba-nyak, yang wajib dilindungi keselama-tannya oleh negara atau pemerintah. Namun untuk mempertahankan dan membela kepentingan yang lebih tinggi

lipu (negara), karo atau warga negara rela berkorban demi membela dan mem-pertahankan lipu sekalipun mengorban-kan nyawa mereka. Nilai ini wujud dari pengabdian masyarakat terhadap kepen-tingan negara.

c. Ainda-indamo lipu somanamo sara

(9)

negara). Sara atau negara berazaskan musyawarah adalah milik bersama se-luruh rakyat dan pemerintah. Negara wa-jib dipelihara dan dipertahankan keutuh-annya dari bahaya yang menganam dari manapun datangnya. Namun apabila ke-pentingan yang lebih tinggi dan lebih utama menghendaki keselamatan peme-rintah (sara), bagian- bagian negara ter-tentu dalam keadaan terpaksa boleh di-korbankan.

d.Ainda-indamo sara somanamo agama,

(agama lebih utama dari pemerintah). Maksudnya apabila seorang atau bebe-rapa orang aparat kesultanan berbuat me-langgar peraturan negara atau meme-langgar hukum yang berlaku, aparat yang ber-sangkutan akan mempertanggungjawab-kan tindamempertanggungjawab-kannya dihadapan agama.

10.Pengawasan Agenda dalam Ketersedian Lembaga Negara di Kesultanan Buton

Kesultanan Buton dalam penerapan pemerintahannya menganut sistem pemisa-han kekuasaan ke dalam cabang-cabang yang luas. Hal ini didasari oleh pasal 1 UU Murtabat Tujuh. Cabang-cabang tersebut terdiri dari; eksekutif (sultan), legislatif

(siolimbona) dan yudikatif (kenepulu). Hal

ini sejalan dengan teori pembagian kekua-saan yang dikemukakan oleh Montesquieu lebih dikenal dengan teori trias politika, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Untuk sistem pemerintahannya menganut sistem presidensial, dimana raja sebagai ke-pala negara dan keke-pala pemerintahan. Pe-merintahan Kesultanan Butondalam men-jalankan tugas negara dibantu oleh jajaran birokrasi yang berada pada wilayah ibukota kesultanan maupun birokrasi yang bertugas diluar ibukota.

Pemerintahan Kesultanan Buton di-atur oleh satu konstitusi tertulis yang oleh masyarakat Buton dikenal dengan undang-undang Murtabat Tujuh Sara Wolio. Dalam konstitusi Undang-undang Murtabat Tujuh, implementasi pemerintahan menggunakan sistem “Kesultanan Buton” sebagai sebuah negara pernah eksis selama kurun waktu

tu-juh abad. Pada masa itu, diprediksi Islam telah masuk di Buton pada abad ke–16 M. Hal ini dapat dibagi atas dua periode, yakni:

Pertama, periode kerajaan yang dimulai

semenjak pembentukan delapan bonto se-bagai cikal bakal berdirinya sebuah Kesul-tanan Buton. Kedua, periode kesultanan yaitu terbentuknya konstitusi martabat tu-juh dan sifat dua puluh kesultanan Buton yaitu pada masa Sultan Dayanu Ikhsanud-din (Sultan IV) yaitu menyempurnakan ke-tatanegaraan dan menjadikan Kesultanan Buton sebagai negara yang berdasarkan atas hukum dan konstitusi tertulis. Periode ke-sultanan tersebut dapat bertahan kurang le-bih 4(empat) abad lamanya, dengan 38 pe-riodesasi kepemimpinan kesultanan.

Perkembangan agama Islam di Bu-ton semakin cepat setelah datangnya seo-rang mubaligh Islam bernama Syeikh Ab-dul Wahid, kemudian diperkuat lagi setelah Lakilaponto diangkat menjadi Raja Buton VI (Madu, 1983). Upaya untuk mengem-bangkan Agama Islam, bagi Raja Lakila-ponto ini tidak hanya terbatas, bahkan struktur dan sistem pemerintahan Buton di-ubah dan menyesuaikan dengan ajaran Is-lam. Berubahlah bentuk pemerintahan dari kerajaan menjadi kesultanan. Dengan de-mikian nama Kesultanan yang dipimpin oleh Lakilaponto menjadi kesultanan Buton rajanya bergelar Sultan Qaimuddin Kha-lifatul Khamiz. Perkembangan Islam pada masa pemerintahan Sultan Qaimuddin di-tandai dengan adanya pengaruh dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat yai-tu bidang politik, ekonomi dan sosial bu-daya.

Usaha Sultan Qaimuddin menyebar-kan Islam, juga dilakumenyebar-kan dengan men-dirikan Masjid Kaliwu–liwuto berdasarkan nama tempat didirikanya. Mesjid ini dijadi-kan sebagai pusat kegiatan siar Islam, ter-masuk tempat pelantikan Sultan Buton, (Hafid, dkk 2009).

Proses pendidikan Islam pada peri-ode ini masih sangat sederhana. Hal ini disebabkan karena masyarakat penganut

(10)

Islam tersebut hanyalah masyarakat awam. Meskipun pendidikan Islam masih bersifat sangat sederhana, namun karena sudah ada masjid maka sejak itu sudah ada pendidikan informal di lingkungan rumah tetangga (keluarga) dan pendidikan non formal di mesjid (Mustafa, dkk 2009).

Pemimpin tertinggi dalam negara kesultanan Buton dipegang oleh seorang Sultan. Sultan memiliki kekuasaan, kebe-saran dan kemuliaan dalam daerah/wilayah kekuasaanya. Menurut adat mufakat disertai pemahaman agama Islam Sultan diteladan-kan sebagai Khalifatullah (bayang–bayang Tuhan di Bumi). Dalam kondisi-kondisi tertentu, Sultan memiliki hak istimewa, se-lama tujuannya dipergunakan untuk kebaik-an dkebaik-an kemkebaik-anfaatkebaik-an bagi kepentingkebaik-an ma-syarakat umum dan Negara. Pedoman yang menjadi dasar pegangan Sultan dalam adat ditamsilkan atas dalil “Fa aalun Limaa Yuriydu” artinya Sultan berbuat sekehen-daknya dengan adil (Addin, 2011).

D. PENUTUP

Ajaran Islam diterima oleh masya-rakat Buton sebagai suatu agama resmi, ju-ga merupakan sebuah ideologi dimana aja-ran ajar masyarakat Butonan terimple-mentasi dalam kehidupan sehari-hari, terin-tegrasi dalam undang-undang negara me-lalui konsep Martabat Tujuh sebagai un-dang-undang kesultanan Buton. Pendidikan Islam pada masa kesultanan masih tampak dengan jelas implementasinya yakni pada setipoa keberagaman masyarakat Buton yang mampu mengintegrasikan anatara ni-lai-nilai luhur Al-Quran yang bersifat uni-versal meskipun terlihat bahwa begitu do-minanya pendekatan Tasawuf dalam proses pendidikan Islam era kesultanan di abad ke 19, maka tradisi kepercayaan pra-Islam juga sebagian masyarakatnya masih terikat dengan tradisi tersebut, namun demikian ti-dak mengurangi semangat keberagaman

DAFTAR PUSTAKA

Ganiu Syeikh, Abdul. Paeasa Mainawa

Ganiy Syeikh, Abdul. 1823. Naskah Mirat-ul Jamani

Kaimuddin Muhammad Idrus. Bula Malino

Addin, Asnur, dkk. 2011. Struktur

Pemerin-tahan Kesultanan Buthuni. Bau-Bau:

Yayasan Fajar Al Buthuni Bau-Bau. Addin, Asnur, dkk. 2011. Undang-Undang

Martabat Tujuh dan sifat Dua Puluh.

Bau-Bau: Yayasan Fajar Al Buthuni. Addin, Asnur, dkk. 2011. Nilai – nilai

Agama Islam dalam Kehidupan

Bernegara di Kesultanan Buthuuni.

Bau-Bau: Yayasan Fajar Al Buthuni. Alhadza, Abdullah, 2009. Sejarah

Perkem-bangan Pendidikan Islam di Sulawesi

Tenggara. Makalah dalam Seminar

Laporan Penelitian.

Abdullah, Muhammad. 2005. Naskah Ke-agamaan dan Relevansinya dengan Proses Islammisasi Buton abad XIV

sampai Abad XIX. Makalah dalam

Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara IX. Baruga Keraton Buton, Bau – Bau 5 – 8 Agustus 2005.

Al Qurtubi. 1967. Al –jami’ Li Ahkam Al-

Quran Kairo: Dar Al-kitab Al –Arabi

Li Al –Tiba’ah Wa Al Nasyr H. 211 Abdul Gani, Ruslan. 1963. Penggunaan

Ilmu Sejarah. Jakarta: Prapanca.

Ahmad. 1994. Tafsir Ilmu Pendidikan

da-lam Perpektif Isda-lam. Cet II, Bandung:

Rosda Karya. H. 147 -151.

Abdullah Taufik. 1992. Pemikiran Islam di

Nusantara dalam Perpektif Sejarah.

Prisma, Jakarta, LP3ES. Nomor – 3 Tahun XX Maret hlm. 16 – 27.

Ali Maulana, Muhammad. 1980. Islamologi

(Dinul Islam). Jakarta, Ikhtiar Baru

Van Hoeva:H.2.

Ahmad D, Marimba 1980. Pengantar

Fil-safat Pendidikan Islam. Bandung. Al

–Maarif H.45 – 46

Al-Asya’ari, 1952. Kitab Al-Luma Firadd,

Ala Ahlal-Ziqwa Al-Bida. Beirut: Al

(11)

Al-Ghazali, Imam, 1952 Ihya ‘Ulumal-Din, Jilid III. Beirut:Dar Al-Fikr H.56 Burke, Peter, 2001. Sejarah dan Teori

So-sial. Yayasan Obor Indonesia,

Ja-karta.

Darajat Zakiah, 1994. Pendidikan Islam

da-lam Keluarga dan Sekolah. Jakarta:

Ruhama.

Departeman Agama RI, 1993. Alqur’an dan

Terjemahanya. Jakarta: Intermasa.

Frederick, William H. Soeri Soeroto, 1984.

Pemahaman Sejarah Indonsia,

Sebe-lum dan Sesudah Revolusi. Jakarta:

LP3ES.

Hafid, Anwar, dkk. 2009. Sejarah

Penyeba-ran Islam di Sulawesi Tenggara.

Kendari: CV. Shadra Taman Surapati. Herman DM. 2007. Sejarah dan

Komu-nikasi Pendidikan Islam. Bahan Ajar.

Hasan Ahmad. 1994. Early Development

of Islamic Law. Delhi: Adam

Publis-hing and Distributors.

Hayyan Abu, 1993. Tafsir Al-

Bahr,Al-Muhit. Beirut: Dar-AlKutub

Al-Ilmiy-yah H.514.

Hugiono, dan P.K Poerwantana, 1987.

Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Bina

Aksara.

Herry, Noer Ali dan Mudzier Suparta. 2000. Watak Pendidikan Islam. Jakar-ta: Friska Agun Insani.

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu

Seja-rah. Yogyakarta: Yayasan Benteng

Budaya.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi

Se-jarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Utama.

Ki Hajar Dewantara, 1962. Bagian Pertama

Pendidikan. Yogyakarta: Majelis

Luhur Taman Siswa H. 14 -15.

Lechte, John. 2001. Lima Puluh Filsuf Kon-temporer dari Strukturalisme ke Post

Moderniti. Yogyakarta: Canisius.

Mustafa P, dkk. 2009. Sejarah Perkem-bangan Pendidikan Islam di Sulawesi

Tenggara. Kendari: CV. Shadra-

Ta-man Surapati.

Mudyahardjo, Redja. 2001. Filsafat Ilmu

Pendidikan. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Madu, La Ode.1983. Merintis Buton Wolio

Morikana. Surabaya.

Miskawih, Ibn. 1934. Tahzib Al-Akhlak Wa

Tahir Al –A’raq. Cet I. Mesir: Al-

Mathba’Ah Almishriyat H.40.

Nata Abudin, 2000. Metodologi Studi Islam

Cet IV: Jakarta: Raja Grafindo Per-sada H. 292 -295.

Natsir M. 1954. Capita Selecta. Jakarta: Van Hoeva. H. 53 -61.

Nasution, Harun. 1979. Islam ditinjau dari

berbagai Aspeknya. Jilid 1. Jakarta:

UI. Press.

Poerwadarminta, W.J.S. 1991. Kamus

Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Rifai Nur, 2009. Historiografi. Jakarta: Puspem.

Razak, Nasruddin, 1977. Dinul Islam, Cet. II Al –Ma’arif. H. 56

Supatra, 2000. Watak Pendidikan Islam.

Jakarta: Friska Agung Insani, H. 143-148.

Shaliba, Jamil. 1978. Al –Mu’jam Al –

Falsafi, Juz I.. Mesir: Dar Al- Kitab

Al- Mishri, H.539.

Schacht Joseph. 1965. Pengantar Hukum

Islam. Bandung: Nuansa.

Turi, La Ode. 2007. Esensi Kepemimpinan Bhinci Bhinciki Kuli (Suatu Tinjauan Budaya Kepemimpinan Lokal Nusan-tara) Khasanah Nusantara.

Uhbiyati Nur , 1998. Ilmu Pendidikan Is-lam: Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, cet II.: Pustaka Setia. H. 29 -31. Bandung

Undang - Undang tentang Sistem Pendidi-kan Nasional dan Peraturan

Pelaksa-naanya, 1993. ( UU RI No. 2 th. 1989

. : Sinar Grafika. Cet,IV. H.3 Jakarta Wood Ward , Mark, R. 1999. Islam in Java,

Normative Piety and Mysticism.

Ter-jemahan Hairu Salim, HS, Islam Ja-wa. Yogyakarta: LKIS.

(12)

Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban

Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Per-sada.

Yunus, Rahim. 1995. Posisi Tasawuf Da-lam Sistem Kekuasaan di Kesultanan

Buton Pada Abad ke-19. Jakarta: Inis.

Zuhdi, Susanto. 2010. Sejarah Buton yang

Terabaikan Labu Rope Labu Wana.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Zuhairini, dkk. 1992. Sejarah Pendidikan

Islam. Cet. III. Jakarta Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian diperoleh dari 32 sampel penelitian dengan menggunakan instrument penelitian berupa kuestioner untuk mengetahui persepsi mahasiswa fisioterapi terhadap

Seperti yang dilakukan pada perencanaan dengan flip-flop RS, maka peta masukan dapat diisikan baik dari tabel masukan maupun langsung dari peta keadaan

Kandungan Senyawa Fenolik dan Beta-Karoten Serta Aktivitas Enzim Kasar Carotenoid Cleavage Dioxygenases dari Pomace dan Jus Jeruk Siam (Citrus Nobilis Lour

PT Moda Global Maritim memiliki karyawan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda-beda di masing-masing individu, yang menjadi nilai dan harus

Oleh karena keberadaan penelitian mengenai suporter sepakbola yang masih terhitung minim, juga karena ketertarikan saya mengenai dunia suporter sepakbola dan keinginan

Hasil penelitian yang dilakukan penulis juga dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pengawas sekolah bidang bimbingan dan konseling pada Dinas Kabupaten/ Kota

Meskipun Injil mengandung banyak tema Yahudi konservatif, bentuk akhir dari teks Matius menunjukkan bahwa itu adalah penulis dapat digambarkan dengan

salina akibat pemberian variasi dosis pakan tepung kepala udang Vannamei dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui dosis perlakuan yang menghasilkan rerata