Basuki Kartono* EPIDEMIOLOGI Lingkungan Rumah dan Kejadian Difteri di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut
Teks penuh
Gambar
Dokumen terkait
Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor lingkungan fisik rumah yang memenuhi syarat adalah suhu dan kepadatan hunian sedangkan yang tidak memenuhi syarat adalah
Mengetahui hubungan kondisi lingkungan rumah (kepadatan hunian, ventilasi, bahan bakar memasak, jenis lantai, dan kelembaban) terhadap kejadian ISPA pada balita
Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti apakah faktor lingkungan fisik rumah (luas ventilasi rumah, kepadatan hunian rumah, jenis lantai, jenis dinding, pencahayaan,
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan pencemaran udara dalam rumah dengan kejadian
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah kepadatan hunian rumah memiliki risiko sebesar 7.756 terhadap kejadian TB paru dan signifikan, ventilasi rumah
Selain itu, perubahan kualitas udara rumah seperti kepadatan hunian, ventilasi, dan kelembaban juga mempengaruhitingginya angka kejadian ISPA pada balita di wilayah
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Jumlah ventilasi ruang tidur yang memenuhi syarat 53 rumah (57,6%) dan yang tidak memenuhi syarat 39 rumah (42,2%)
Kesimpulan adalah ada hubungan yang bermakna antara lingkungan fisik rumah yang meliputi kepadatan hunian, luas ventilasi, jenis dinding, jenis bahan bakar masak dan