I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higiene dan sanitasi dengan menetapkan sasaran Indonesia STOP BABS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-‐2014. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses.
Dalam rangka akselerasi pencapaian akses masyarakat terhadap sanitasi yang layak dan akses air minum serta peningkatan perilaku higiene tersebut maka Kementerian Kesehatan bersama lintas sektor dan pemangku kepentingan terkait telah mengembangkan Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dalam Kepmenkes Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 yang mencakup 5 pilar perilaku higienis yaitu:
1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) 2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM RT) 4) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS RT)
5) Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga (PAL RT)
STBM saat ini dilaksanakan di masyarakat luas dengan banyak pelaku, baik dari lembaga pemerintah maupun LSM/NGO atau pihak lainnya. Sebagai program nasional, dalam pelaksanaannya sangat dibutuhkan pemantauan dan evaluasi untuk dapat melihat pencapaian dan pembelajarannya. Untuk mensinergikan para pelaku dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi program nasional STBM, maka dipandang perlu adanya satu pedoman untuk menjalankan kegiatan ini.
Dokumen Pedoman Pemantauan dan Evaluasi STBM ini merupakan salah satu dari beberapa dokumen pedoman STBM, ditujukan sebagai pedoman atau referensi dalam melaksanakan pemantauan, evaluasi dan pelaporan Program STBM bagi para pelaku program.
Pedoman ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pedoman-‐pedoman STBM lain.
1.2. Tujuan
Sebagaimana diamanatkan dalam Kepmenkes 852/2008, maka pemerintah daerah diharapkan mengembangkan sistem pemantauan dan pengelolaan data.
Dengan demikian, dokumen Pedoman Pemantauan dan Evaluasi ini digunakan sebagai rujukan dan standar minimal sehubungan dengan upaya pemantauan dan evaluasi program STBM. Pedoman ini berisikan informasi yang diperlukan untuk
dapat melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi program STBM. Pemerintah daerah dapat mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan yang ada di daerah.
1.3. Pengguna dokumen ini
Pengguna dokumen ini adalah pemerintah dan non pemerintah pelaku/penggiat STBM (proyek, LSM/NGO, swasta, perguruan tinggi, donor, dll).
Pengguna Manfaat
Organisasi masyarakat • Memahami arti penting pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh masyarakat
• Terwujudnya proses pelaksanaan dan pengelolaan program secara terbuka dan transparan
• Segenap masyarakat dapat melakukan pemantauan dan memberikan masukan untuk perbaikan dalam pengelolaan program
• Masyarakat dapat melakukan Pemantauan secara berkelanjutan
Pengelola Program • Memahami secara menyeluruh Konsep Pemantauan dan Evaluasi program
• Merencanakan pengelolaan program dan melakukan evaluasi sesuai tahapan yang ada dalam program • Mengendalikan program termasuk penilaian kinerja
pelaksanaan kegiatan
Konsultan Pelaksana • Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan kegiatan lapangan
• Memantau dan mengevaluasi kemajuan pelaksanaan program sesuai kondisi kemajuan di lapangan
• Menyusun strategi dan rencana kerja dalam rangka perbaikan pelaksanaan fasilitasi di lapangan
Fasilitator Masyarakat • Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan kegiatan lapangan
• Panduan kerja pendampingan masyarakat dan para pemangku kepentingan di desa/kelurahan
Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kota/Kabupaten)
• Memahami secara menyeluruh Konsep Pemantauan dan Evaluasi program
• Memastikan kebijakan untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program
Kelompok
Peduli/Pemerhati
• Melakukan kontrol dan umpan balik • Melakukan advokasi
II. PENGERTIAN DAN BATASAN
Untuk lebih menjelaskan indikator pencapaian, berikut ini adalah kriteria/batasan penilaian yang digunakan.
1. Stop buang air besar sembarangan
Melakukan perilaku buang air besar dengan membuang tinja dan air buangannya (ketika membersihkan/membasuh diri) sehingga memutus mata rantai penularan penyakit.
2. Jamban sehat
Sarana pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit.
• Penampungan tinja tidak mencemari sumber air minum dan tanah, tidak dapat diakses oleh lalat atau vektor penyakit lainnya;
• Ada cukup air untuk membersihkan diri dan sarana jamban; • Ada sabun;
• Tidak menimbulkan bau yang mengganggu;
• Konstruksi sederhana, bahan yang mudah dan murah; • Jarak penampungan tinja dengan sumber air minimal 10 m.
Dalam pedoman teknis ini, jamban sehat dibedakan menurut ke-‐efektif-‐an memutus mata rantai penularan penyakit dan ketahanan masa pakainya (durability), yakni: • Jamban Sehat Permanen (JSP), dimana secara konstruksi telah dilengkapi
dengan leher angsa pada bagian dudukan (bagian tengah) dan septik tank sebagai bangunan bagian bawahnya,
• Jamban Sehat Semi Permanen (JSSP), adalah jamban sehat yang belum dilengkapi dengan leher angsa pada bagian dudukan, dan septik tank sebagai bangunan bagian bawah; namun telah cukup efektif memutus mata rantai penularan penyakit. Secara ketahanan masa pemakaian, tanpa ada perlakuan tertentu akan jauh lebih singkat dibandingkan jamban sehat permanen.
3. Masyarakat memiliki Akses kepada jamban sehat
Suatu kondisi dimana masyarakat telah menggunakan secara konsisten sarana jamban sehat, baik mereka memiliki sendiri ataupun tidak sarana jamban sehat tersebut. Masyarakat yang telah menggunakan jamban sehat, namun belum memiliki sarana jamban sendiri dapat dikatakan mereka memiliki akses “sharing” kepada jamban sehat tersebut, baik yang permanen maupun semi permanen. Di masyarakat secara sering mereka menyebutkan dengan istilah “jamban numpang”.
4. Cara CTPS yang benar
• Cuci tangan dengan air bersih mengalir; • Gunakan sabun, gosok hingga berbusa;
• Gosok telapak tangan, punggung tangan, antara jari dan bawah kuku; • Bilas sampai bersih dengan air mengalir;
• Keringkan dengan lap/kain bersih. 5. Sarana CTPS
• Tersedia air, sabun dan lap/kain bersih; • Air buangan tidak menggenang.
6. Pelayanan umum
Sarana/fasilitas umum seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal.
7. Pengelolaan air minum rumah tangga
Pengelolaan air minum rumah tangga adalah proses pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya seperti berkumur, sikat gigi, persiapan makanan/minuman bayi.
Pengolahan disini antara lain: merebus, menggunakan sodis, klorinasi tablet atau cair (aquatab, air rahmat), keramik filter, biosand filter. Pemanfaatan yang dimaksud: mulai dari proses mengambil air minum dari tempat penampungan, hingga disajikan.
(penting untuk dipertegas bahwa definisi air minum disini adalah air yang siap dikonsumsi bukan PDAM?)
8. Perilaku penanganan air minum rumah tangga
• Tidak memasukkan benda atau tangan ke dalam penyimpanan minum • Jangan minum air langsung dari mulut wadah/kran;
• Letakkan wadah penyimpanan air minum di tempat yang bersih dan sulit terjangkau oleh binatang;
• Wadah air minum sebaiknya dicuci tiap 3 hari atau saat air habis; • Gunakan air yang sudah diolah sebagai air bilasan terakhir.
9. Sarana PAM RT yang aman
Sarana PAMRT yang aman adalah sarana yang dapat mengolah air baku menjadi air minum dalam skala rumah tangga. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum sesuai kriteria dalam permenkes 492 tahun 2010.
Contoh opsi sarana pengolahan air minum rumah tangga: • Filtrasi/penyaringan o Biosand filter o Keramik filter • Khlorinasi o Khlorin cair o Khlorin tablet
• Flokulasi/pengumpulan dan disinfeksi • Sodis (solar water disinfection)
Pewadahan air minum rumah tangga
• Wadah yang aman adalah yang bertutup, berleher sempit dan lebih baik jika dilengkapi dengan kran;
• Air minum sebaiknya disimpan di wadah pengolahannya;
• Air yang sudah diolah sebaiknya disimpan di wadah yang bersih dan selalu tertutup.
Pewadahan makanan rumah tangga • Wadah tertutup;
• Wadah terpisah antara pangan mentah dan pangan matang.
10. Perilaku pengelolaan makanan yang aman
Perilaku mengelola makanan dengan melakukan 5 (lima) kunci pengamanan pangan yaitu:
• Jagalah kebersihan Contoh:
o Cucilah tangan sebelum mengolah pangan dan sesering mungkin selama pengolahan pangan;
o Cucilah tangan sesudah dari toilet;
o Cuci dan sanitasi seluruh permukaan yang kontak dengan pangan dan alat untuk pengolahan pangan;
o Jagalah area dapur dan pangan dari serangga, hama dan binatang lainnya.
• Pisahkan pangan mentah dari pangan matang Contoh:
o Pisahkan daging sapi, daging unggas, dan pangan hasil laut dari pangan lainnya;
o Gunakan peralatan yang terpisah, seperti pisau dan talenan untuk pangan mentah;
o Simpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang.
• Masaklah dengan benar
Contoh:
o Masaklah pangan dengan benar terutama daging sapi, daging unggas, telur dan pangan hasil laut;
o Rebuslah pangan, seperti sup sampai mendidih dan usahakan agar suhu internalnya mencapai 70°C. Untuk daging, usahakan cairannya bening, tidak berwarna merah muda. Agar lebih yakin, gunakan termometer; o Panaskan kembali pangan secara benar.
• Jagalah pangan pada suhu aman Contoh:
o Jangan membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam; o Simpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin
(sebaiknya disimpan di bawah suhu 5°C);
o Pertahankan suhu makanan lebih dari 60°C sebelum disajikan; o Jangan menyimpan makanan terlalu lama dalam lemari pendingin; o Jangan biarkan makanan beku mencair pada suhu ruang.
• Gunakan air dan bahan baku yang aman Contoh:
o Gunakan air yang aman atau beri perlakuan agar air aman; o Pilihlah pangan segar dan bermutu;
o Pilihlah cara pengolahan yang menghasilkan pangan aman, seperti susu yang sudah dipasteurisasi;
o Cucilah buah-‐buahan dan sayuran, terutama yang dimakan mentah; o Jangan mengkonsumsi pangan yang sudah kadaluwarsa.
11. Sampah
Sisa kegiatan sehari-‐hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
12. Pemilahan sampah
Kegiatan memisahkan sampah organik dan anorganik.
13. Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat
Merupakan suatu proses pembuangan dan pengumpulan sampah dengan aman. Apa yang dilihat adalah bagaimana setiap keluarga tidak lagi buang sampah sembarangan dan dibakar (minimal kebutuhan)1.
Harapan ke depan pengelolaan sampah rumah tangga ini, dapat meningkat hingga kepada pendekatan perubahan perilaku 3R dalam pengelolaan sampah rumah tangga di suatu komunitas melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
14. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman
Limbah cair yang dimaksud adalah air buangan dari kegiatan mencuci, mandi, dan memasak (grey water). Pengelolaan limbah cair rumah tangga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya genangan dan pembuangan secara tidak aman sehingga dapat mencemari sumber air minum dan lingkungan.
1 Note: Penilaian hingga ke tingkat pemilahan dan pengolahan dengan 3R (dapat disajikan dengan model
15. Sarana untuk melakukan pengelolaan limbah cair yang aman
Sarana untuk pengelolaan limbah cair rumah tangga adalah saluran limbah cair dan/atau sistem peresapan, dengan kriteria:
• Tidak menimbulkan genangan • Tidak mencemari sumber air minum; • Tidak mengotori permukaan tanah; • Menghindari penyebaran cacing tambang;
• Mencegah berkembangbiaknya lalat dan serangga lain; • Tidak menimbulkan bau yang mengganggu;
• Jarak dengan sumber air minimal 10-‐15 m.
III. KERANGKA KERJA PEMANTAUAN STBM
Dokumen Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Kepmenkes Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008) merupakan acuan dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi yang terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.
Dalam dokumen Strategi Nasional itu disebutkan bahwa STBM menekankan pada 5 (lima) perubahan perilaku higienis untuk terjadinya kondisi sanitasi total. Kelima perilaku higienis ini dikenal sebagai 5 pilar STBM, yaitu:
• Pilar 1: Stop buang air besar sembarangan (Stop BABS);
• Pilar 2: Cuci tangan pakai sabun (CTPS);
• Pilar 3: Pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT);
• Pilar 4: Pengelolaan sampah rumah tangga (PS RT);
• Pilar 5: Pengelolaan air limbah rumah tangga (PAL RT).
Kepmenkes Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 menyebutkan bahwa indikator outcome dari program STBM adalah:
“Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku”
Untuk kepentingan pemantauan dan evaluasi, selain indikator outcome dibutuhkan indikator penilaian lain yang dalam program ini terdiri dari 2 jenis seperti yang dijabarkan pada Pedoman Pelaksanaan STBM, yaitu:
• Indikator pencapaian;
• Indikator kinerja program.
Sesuai dengan pola pikir program STBM dan dikaitkan dengan fokus proses kegiatan STBM yang terjadi di tingkat masyarakat dalam pencapaian layanan sanitasi yang sinambung, kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan berdasarkan penjabaran lebih rinci Kerangka Kerja Rencana Pemantauan STBM seperti pada matriks dibawah berikut.
Tabel-‐1 MATRIKS KERANGKA KERJA PEMANTAUAN STBM
No. INDIKATOR SUMBER DATA/ Siapa FREKUENSI LAPORAN Model FORM/ INSTRUMENT SISTEM PELAPORAN DAN DATABASE
Indikator Capaian (Outcome)
1 Jumlah dan persentase rumah tangga menggunakan sarana jamban sehat
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan masyarakat secara partisipatif)
bulanan Pemetaan sosial; checklist pengamatan jamban; format rekap LB-‐1
Monitoring berbasis SMS dan STBM website
2 Jumlah desa/kelurahan di kabupaten yang mencapai SBS/ODF, dicek ulang setiap tahun setelah deklarasi ODF
Tim verifikasi ODF triwulan Terhubung dengan LB-‐1; format
verifikasi ODF; format rekap ODF Terhubung dengan sistem monitoring berbasis SMS dan STBM website
3 Jumlah dan persentase rumah tangga memiliki dan menggunakan sarana untuk melakukan CTPS;
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh kader posyandu)
bulanan Kartu rumah; pengembangan bagian format monitoring PHBS Desa Siaga atau SP2TP atau SP3. Format rekam disesuaikan dengan instrumen mana yang berfungsi di kabupaten; penyesuaian penting dilakukan agar kompilasi data secara nasional dapat dianalisis dan digunakan.
Sistem monitoring berbasis web
4 Jumlah dan persentase anak sekolah yang telah menggunakan sarana untuk CTPS di lingkungan sekolah
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh guru penjas/ pembina UKS)
bulanan Akan ditentukan kemudian, mengacu kepada model pengembangan sanitasi sekolah.
Sistem monitoring berbasis web
5 Jumlah dan persentase rumah tangga melakukan pengelolaan air minum dengan aman
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh kader posyandu)
bulanan Kartu rumah; pengembangan bagian format monitoring PHBS Desa Siaga atau SP2TP atau SP3. Format rekam disesuaikan dengan instrumen mana yang berfungsi di kabupaten; penyesuaian penting dilakukan agar kompilasi data secara nasional dapat dianalisis dan digunakan.
Sistem monitoring berbasis web
6 Jumlah dan persentase rumah tangga melakukan pengelolaan makanan yang aman
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh kader posyandu)
bulanan Sistem monitoring berbasis web
7 Setiap rumah tangga yang telah melakukan pengelolaan sampah dengan aman
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh kader posyandu)
bulanan Sistem monitoring berbasis web
8 Jumlah dan persentase rumah tangga yang telah melakukan pengelolaan limbah cair yang aman
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan oleh kader posyandu)
bulanan Sistem monitoring berbasis web
No. INDIKATOR SUMBER DATA/ Siapa FREKUENSI LAPORAN Model FORM/ INSTRUMENT SISTEM PELAPORAN DAN DATABASE
kabupaten yang mencapai desa/kelurahan STBM, dicek ulang setiap tahun status capaian
(komposisi dapat sama dengan tim verifikasi ODF)
pencatatan pencapaian pilar lain (cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang aman, pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga yang aman); format verifikasi Desa STBM; format rekap Desa STBM
monitoring berbasis SMS dan STBM website
Indikator Input dan Hasil Kegiatan 1 Jumlah dan persentase desa/
kelurahan yang mendapatkan intervensi STBM (baik melalui bentuk pemicuan atau promosi peningkatan demand lainnya)2
Staf Puskesmas (berdasarkan kompilasi dari pemantauan masyarakat secara partisipatif)
bulanan Format rekapitulasi intervensi
Desa STBM Terhubung dengan sistem monitoring berbasis SMS dan STBM website
2 Rentang waktu pencapaian SBS/ODF setelah pemicuan dilakukan.
-‐sda-‐ triwulan Format rekapitulasi intervensi
Desa STBM Terhubung dengan sistem monitoring berbasis SMS dan STBM website
3 Rentang waktu pencapaian desa/ kelurahan STBM setelah pemicuan dilakukan.
-‐sda-‐ triwulan Format rekapitulasi intervensi
Desa STBM Terhubung dengan sistem monitoring berbasis SMS dan STBM website
4 Jumlah fasilitator STBM yang telah dilatih untuk melakukan pemicuan ataupun promosi peningkatan demand lainnya
Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan
kabupaten 6 bulanan Format pencatatan peningkatan kapasitas Sistem monitoring berbasis web
5 Jumlah fasilitator STBM yang telah dilatih dan aktif melakukan pemicuan ataupun promosi peningkatan demand lainnya
Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan
kabupaten 6 bulanan Format pencatatan peningkatan kapasitas Sistem monitoring berbasis web
6 Jumlah penyedia layanan sanitasi
yang terlatih di kabupaten Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan kabupaten 6 bulanan Format pencatatan peningkatan kapasitas Sistem monitoring berbasis web 7 Jumlah penyedia layanan sanitasi
yang terlatih dan aktif di kabupaten Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan kabupaten Format pencatatan peningkatan kapasitas Sistem monitoring berbasis web 8 Jumlah dan jenis sarana sanitasi
yang ditawarkan oleh penyedia Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan kabupaten triwulan Format monitoring usaha sanitasi Sistem monitoring berbasis web
2 Lokasi-lokasi yang belum diintervensi saat proses pengenalan STBM belum sampai ke lokasi tersebut dapat diperhitungkan
No. INDIKATOR SUMBER DATA/ Siapa FREKUENSI LAPORAN Model FORM/ INSTRUMENT SISTEM PELAPORAN DAN DATABASE
layanan sanitasi terlatih 9 Rasio anggaran sanitasi di
kabupaten per rumah tangga yang belum terlayani
Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan
kabupaten Tahunan Format rekapitulasi penilaian kinerja program sanitasi Sistem monitoring berbasis web 10 Proporsi anggaran sanitasi untuk
kegiatan non-‐konstruksi dari total anggaran sanitasi daerah
Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan
kabupaten Tahunan Format rekapitulasi penilaian kinerja program sanitasi Sistem monitoring berbasis web 11 Proporsi anggaran sanitasi dari
kegiatan non-‐konstruksi yang digunakan untuk promosi sanitasi melalui media
Seksi PL/Kesling Dinas kesehatan
kabupaten Tahunan Format rekapitulasi penilaian kinerja program sanitasi Sistem monitoring berbasis web
IV. TATA LAKSANA PEMANTAUAN STBM
4.1 Pelaksanaan monitoring STBM
Monitoring dan evaluasi program STBM melalui Sistem Informasi Monitoring dilaksanakan secara umum melalui tahapan, yaitu pengumpulan data dan informasi, pengolahan dan analisis data dan informasi, dan pelaporan dan pemberian umpan-‐balik. Tahapan ini terjadi di masing-‐masing tingkatan.
Monitoring program STBM sedapat mungkin dapat dilakukan secara mandiri dan partisipatori oleh masyarakat sendiri, dan diharapkan peran aktif dari natural leader yang muncul dan organisasi masyarakat seperti PKK, kelompok dasa wisma, dan lainnya. Namun demikian tetap diharapkan peran aktif dari petugas PUSKESMAS/ Sanitarian sebagai fasilitator dan katalisator di tingkat kecamatan/desa dalam mengelola data dan informasi hasil monitoring kegiatan kesehatan lingkungan ini. Bila di tingkat kabupaten terdapat proyek terkait STBM sedang berjalan, fungsi monitoring ini akan diperkuat dengan memanfaatkan sumber daya tenaga Konsultan/Fasilitator di tingkat kabupaten untuk melakukan alih pengetahuan dan pembinaan, baik terhadap para petugas PUSKESMAS/Sanitarian maupun langsung kepada masyarakat (natural leader/ organisasi masyarakat yang berperan aktif). Adapun gambaran sederhana dari pelaksanaan monitoring program STBM seperti pada gambar-‐1 berikut.
Fasilitator Natural leader/
Komite Staf Puskesmas
Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota DInas Kesehatan Provinsi Kementerian Kesehatan Melalui pemicuan masyarakat ataupun secara khusus ada upaya untuk melakukan pengumpulan data dasar STBM oleh kabupaten/ kota Memantau perkembangan pemicuan di masyarakat Permintaan verifikasi STBM Mengkompilasi update progress pemicuan Memverifikasi klaim STBM dan melaporkan hasil verifikasi Feedback temuan Mengirim laporan pemantauan via SMS Konsolidasi data melalui SMS gateway Analisis data: perbaikan kegiatan dan perencanaan kedepan Feedback kepada staf puskesmas Disseminasi kepada lintas program terkait dan sektor AMPL
Workshop review pembelajaran tahunan dan analisis komparatif pencapaian hasil antar kabupaten/ kota Disseminasi kepada lintas program terkait dan sektor AMPL Evaluasi tahunan kompetitif melalui media massa (contoh JPIP) Rakornas STBM: review tahunan dan analisis komparatif pencapaian hasil antar propinsi. Disseminasi kepada lintas program terkait dan sektor AMPL
Desa/ Kelurahan Kecamatan Kabupaten/
Kota Provinsi Pusat
Tingkatan Pelaku pemantauan Aksi yang dilakukan Pelaporan Data dasar STBM (misal melalui peta sosial), berisi akses sanitasi di masyarakat Mencatat kemajuan dan memperbaharui dalam peta sosial terhadap perubahan yang terjadi Pelaporan bulanan. Verifikasi STBM. Pelaporan bulanan. Pelaporan tahunan Bahan untuk publikasi Penilaian kinerja per tahun
(Benchmarking) program sanitasi kabupaten/kota Konsolidasi untuk pencapaian MDG. Penilaian kinerja per tahun (Benchmarking) program sanitasi propinsi. 1 2 3 4 5 6 Tahap
Gambar-‐1 Alur pikir tata laksana monitoring dan pelaporan dari masyarakat hingga tingkat pusat
Tabel-‐2 Peran dan fungsi pelaku dalam pelaksanaan Monitoring Program STBM
Pelaku Peran Penanggung Jawab
Pusat § Melakukan pemantauan rutin terhadap
pencapaian kinerja kabupaten/propinsi terhadap program sanitasi yang berjalan § Memberikan umpan balik terhadap hasil
analisis data dan informasi monitoring tersebut
§ Melakukan sharing informasi antar kabupaten/ propinsi
§ Melakukan verifikasi dan sertifikasi terhadap propinsi dan kabupaten yang telah mencapai ODF, hingga Sanitasi Total (5 pilar)
Staf Depkes membidangi Program STBM
Propinsi § Melakukan pemantauan rutin terhadap
pencapaian kinerja kabupaten terhadap program sanitasi yang berjalan
§ Menganalisis data dan informasi hasil monitoring, dan memberikan umpan balik terhadap hasil analisis data dan informasi monitoring tersebut
§ Melakukan sharing informasi antar kabupaten
§ Melakukan verifikasi dan sertifikasi terhadap kabupaten yang telah mencapai ODF, hingga Sanitasi Total (5 pilar)
Staf Dinkes membidangi Program STBM
Kabupaten § Merekam/entry data dan informasi hasil monitoring kedalam database
§ Melakukan pemantauan rutin terhadap indikator-‐indikator tertentu yang harus dilakukan oleh tim kabupaten3
§ Menganalisis data dan informasi hasil monitoring
§ Memberikan umpan balik terhadap hasil analisis data dan informasi monitoring § Melakukan verifikasi dan sertifikasi terhadap
kecamatan yang telah mencapai ODF, hingga Sanitasi Total (5 pilar)
Staf Dinkes membidangi Program STBM Resource Agency (RA)
§ Melakukan bimbingan kepada pelaku di kabupaten, kecamatan dan masyarakat dalam pelaksanaan monitoring keluaran program STBM
§ Membantu kecamatan dalam melakukan pengumpulan data dan informasi monitoring
Fasilitator Kabupaten
di tingkat masyarakat
§ Membantu kabupaten dalam menganalisis data dan informasi hasil monitoring
§ Memonitor keefektifan kegiatan Program melalui sistem monitoring rutin
Kecamatan § Melakukan pengumpulan data dan informasi monitoring di tingkat masyarakat
§ Melakukan verifikasi dan sertifikasi hasil monitoring yang dilakukan oleh masyarakat, sebelum dikirimkan ke kabupaten untuk direkam/ di-‐entri dalam database.
§ Melakukan verifikasi dan sertifikasi terhadap komunitas yang telah mencapai ODF, hingga Sanitasi Total (5 pilar)
Petugas PUSKESMAS/ Sanitarian
Masyarakat Melakukan monitoring mandiri terhadap hasil perkembangan kegiatan Program STBM
Natural leader/ Organisasi Masyarakat
4.1.1 Pelaksanaan monitoring di tingkat masyarakat/ desa
Pelaksanaan monitoring di tingkat masyarakat akan lebih bertumpu kepada indikator monitoring yang mudah dilihat dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat itu sendiri, antara lain terkait:
1. Pengumpulan data dasar terkait indikator 5 pilar perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu: a) data akses awal jumlah masyarakat yang memiliki dan menggunakan jamban sehat, memiliki dan menggunakan jamban tidak sehat, jumlah masyarakat yang masih numpang ke jamban tetangga atau umum dibedakan menurut jenis jamban sehat dan tidak sehat, dan terakhir masih BAB di sembarang tempat; b) data akses awal jumlah keluarga (termasuk anggota keluarga di dalamnya) yang telah terbiasa cuci tangan pakai sabun pada waktu-‐waktu kritis; c) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola air minumnya dengan aman; d) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola sampahnya dengan aman; e) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola limbah cair rumah tangganya dengan aman.
2. Proses pemicuan perubahan perilaku Buang Air Besar masyarakat,
Indikator yang direkam antara lain: a) peningkatan akses masyarakat kepada penggunaan sarana jamban sehat; b) kebersihan lingkungan sekitar rumah keluarga; c) peningkatan perubahan perilaku pilar lainnya.
Pendataan ini bertujuan untuk menjaring informasi jumlah tukang yang beredar di desa bersangkutan yang memiliki pengalaman dan/atau ketrampilan membangun/ memperbaiki sarana jamban.
Berikut dibawah ini disajikan beberapa model pelaksanaan monitoring yang dapat dilakukan di tingkat masyarakat.
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan
Monitoring perkembangan perubahan perilaku BAB dan pembuangan kotoran anak batita
Masyarakat Persiapan:
• Pihak kabupaten/ kecamatan/ desa menyediakan kertas spot berwarna (merah, kuning, hijau), dengan yang mudah terlihat dari jarak pandang cukup jauh, misal: bentuk bulat dengan diameter 15 cm; bentuk bujursangkar dengan ukuran 15 cm X 15 cm.
• Menginformasikan penggunaan kertas berwarna kepada masyarakat setelah proses pemicuan awal atau saat monitoring lanjutan. Kertas merah (jamban numpang), kuning (jamban blm sehat), hijau (jamban sehat).
• Untuk aspek PHBS lain, seperti cuci tangan, pengelolaan dan penyimpanan air minum dan makanan, pengelolaan limbah RT dapat mengikuti pola monitoring mandiri untuk perilaku BAB di jamban. Untuk efektivitas monitoring dapat menggunakan “kartu sehat”
Pelaksanaan monitoring:
• Masyarakat yang telah berupaya berubah perilaku untuk tidak BAB di sembarang tempat (termasuk membuang kotoran anak batita tidak sembarangan), menempelkan tanda kertas spot di depan rumah mereka pada tempat yang tampak dari pandangan orang yang berdiri di depan atau melalui rumah tersebut. Warna yang ditempel sesuai kondisi perkembangan upaya perubahan perilaku mereka.
• Pada kertas tersebut dapat dituliskan tanggal mereka melakukan perubahan tersebut. • Apabila pada keluarga tertentu ada peningkatan
perubahan perilaku dengan ditandai perubahan warna kertas spot yang ditempel. Tempel warna baru diatas warna lama, sehingga informasi warna awal masih ada.
• Natural leader atau komite secara berkala memperbaharui informasi tersebut dalam peta masyarakat (tanpa mengganggu informasi baseline)
Setiap saat ada perubahan perilaku yang terjadi pada komunitas tersebut.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa monitoring di tingkat masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatori dan mengangkat peran aktif masyarakat untuk melakukan monitoring mandiri. Oleh karena itu, penting sekali bahwa selama proses kegiatan STBM, fasilitator kabupaten membantu meningkatkan kapasitas masyarakat untuk melakukan monitoring mandiri melalui on the job training.
4.1.2 Pelaksanaan monitoring di tingkat Puskesmas/ kecamatan
Pelaksanaan monitoring di tingkat Puskesmas/ kecamatan akan lebih bertumpu kepada mengumpulkan perkembangan informasi di tingkat desa dan menjaring indikator monitoring yang terjadi di tingkat Puskemas/ kecamatan, antara lain sebagai berikut:
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan
1. Perekaman monitoring perkembangan perubahan perilaku BAB dan pembuangan kotoran anak batita (kemajuan pemicuan), perilaku cuci tangan pakai sabun, serta pilar lainnya
Fasilitator pemicu (Kecamatan/ Puskesmas)
Persiapan:
• Pihak kecamatan/ Puskesmas menyiapkan dan memahami pengisian format monitoring perkembangan perubahan perilaku pilar-‐pilar STBM (pilar 1 hingga pilar 5).
Contoh Pelaksanaan monitoring:
• Mengacu kepada peta sosial masyarakat, informasi perkembangan hasil pemicuan (akses masyarakat kepada jamban) dipindahkan kedalam format LB-‐1.
• Melakukan kunjungan ke rumah tangga yang telah melakukan perubahan (berdasarkan perkembangan data pada peta sosial) untuk mengamati kondisi dan pemeliharaan jamban dan lingkungan sekitarnya (lihat panduan transeck walk).
Penting: Monitoring perkembangan perubahan
perilaku masyarakat terkait kebiasaan BAB, sekaligus sebagai kegiatan verifikasi ODF per rumah tangga, yang digunakan sebagai dasar verifikasi status ODF suatu komunitas.
Perekaman data dasar (baseline) di awal dan kemajuan hasil pemicuan dilakukan bulanan (misal: minggu ke-‐empat setiap bulannya)
2. Monitoring status ODF yang dicapai suatu komunitas (Verifikasi ODF)
Tim kecamatan bersama masyarakat.
Persiapan:
− Masyarakat melalui natural leader atau komite menginformasikan pihak Puskesmas untuk
Sebaiknya dilakukan begitu menerima informasi dari masyarakat bersangkutan
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan dilakukan verifikasi status ke-‐ODF-‐an mereka
(akan lebih baik bila penginformasian dilakukan melalui surat pernyataan yang diketahui oleh kepala desa).
− Tim kabupaten menyiapkan stiker atau papan ODF.
Pelaksanaan monitoring:
− Tim kecamatan melakukan pengecekan informasi total masyarakat yang sudah berubah
perilakunya. Dengan alat bantu peta sosial dan ceklist jamban, tim mengunjungi rumah
masyarakat dan mencocokkan warna kertas spot (kaitkan dengan proses monitoring no.1). Rekaman hasil verifikasi dicantumkan dalam format LB-‐2.
− Tim melakukan penilaian terhadap total akses masyarakat. Hasilnya diinformasikan kepada masyarakat. Bila telah mencapai 100% akses, tim dapat menempelkan stiker atau menempatkan papan ODF dengan diisi tanggal kapan mereka mencapai ODF dan verifikasi dilakukan.
3. Monitoring status Desa STBM yang dicapai suatu komunitas (Verifikasi Desa STBM) Tim kecamatan
bersama masyarakat.
Persiapan:
− Masyarakat melalui natural leader atau komite menginformasikan pihak Puskesmas untuk dilakukan verifikasi status ke-‐STBM-‐an mereka (akan lebih baik bila penginformasian dilakukan melalui surat pernyataan yang diketahui oleh kepala desa).
− Tim kabupaten menyiapkan stiker atau papan pencapaian Desa STBM.
Pelaksanaan monitoring:
− Tim kecamatan melakukan pengecekan informasi total masyarakat yang sudah berubah
perilakunya. Dengan alat bantu peta sosial dan ceklist capaian 5 pilar STBM, tim mengunjungi rumah masyarakat dan mencocokkan warna kertas spot (kaitkan dengan proses monitoring no.1).
Rekaman hasil verifikasi dicantumkan dalam format rekam pilar-‐1 sampai pilar-‐5 STBM. − Tim melakukan penilaian terhadap total akses
masyarakat. Hasilnya diinformasikan kepada masyarakat. Bila telah mencapai 100% akses kelima pilar STBM, tim dapat menempelkan stiker atau menempatkan papan Desa STBM dengan diisi tanggal kapan mereka mencapai
Begitu menerima informasi dari masyarakat bersangkutan
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan status tersebut dan verifikasi dilakukan.
4. Investasi jamban oleh masyarakat Fasilitator pemicu
(Kecamatan/ Puskesmas)
Persiapan:
Menyiapkan dan memahami cara pengisian format LB-‐3.
Pelaksanaan:
• Kegiatan ini dapat dilaksanakan saat fasilitator pemicu memperbaharui (updating) informasi kemajuan pemicuan.
• Pada saat kunjungan ke rumah tangga, dapat menanyakan kepada keluarga bersangkutan perkiraan biaya untuk membangun jamban. (untuk membantu dapat melakukan perkiraan bahan yang digunakan dan tenaga yang dikeluarkan)
5. Pendataan tukang terkait jasa dan layanan sanitasi Fasilitator pemicu
bekerja sama dengan Natural leader (NL)/ komite
Persiapan:
Menyiapkan dan memahami cara pengisian format LT-‐3.
Pelaksanaan:
• Pendataan awal tentang tukang yang ada di komunitas/ desa tersebut sebagai data dasar, dilakukan selang 1 – 2 minggu setelah pemicuan awal
• Pembaharuan pendataan tukang dilakukan setiap 3 bulan, baik ada pengurangan (karena pindah atau bekerja diluar) atau penambahan jumlah tukang
6. Monitoring mandiri terhadap dampak yang dirasakan Masyarakat bekerja
sama dengan pihak Puskesmas/
kecamatan/ kabupaten
Persiapan:
• Masyarakat membuat tulisan gambaran kondisi masyarakat sebelum intervensi (pemicuan awal) dilakukan
Pelaksanaan monitoring:
• Masyarakat membuat tulisan perubahan kondisi masyarakat yang dirasakan setelah intervensi (pemicuan awal) dilakukan.
• Hasil tulisan masyarakat ini dapat didokumentasi secara elektornik dan dipublikasi dalam media daerah lokal hingga situs AMPL.
Minimal 6 bulan setelah ODF
Tim kecamatan Persiapan:
• Membuat pemberitahuan kepada setiap desa
Berkala per triwulan
(pada pertemuan regular yang ada di kecamatan)
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan agar mempersiapkan hasil capaian kegiatan
program sanitasi di masing-‐masing wilayah
Pelaksanaan monitoring:
• Kegiatan review dan sharing hasil capaian program sanitasi dapat dilakukan melalui forum komunikasi tingkat kecamatan
• Kegiatan review dan sharing ini dapat diikutkan/ dititipkan dalam kegiatan rutin di tingkat kecamatan yang meng-‐agenda-‐kan pertemuan kemajuan desa
7. Pendataan toko dan produsen produk sanitasi Tim Puskesmas/
kecamatan
Persiapan:
• Menyiapkan dan memahami cara pengisian format pendataan toko dan produsen produk sanitasi
Pelaksanaan:
• Tim mengidentifikasi dan memetakan toko bangunan dan produsen produk sanitasi yang ada di wilayah kerja Puskesmas/ kecamatan
bersangkutan
• Tim membagi tugas kunjungan ke toko bangunan dan/atau produsen produk sanitasi
• Petugas mewawancarai pemiliki toko dan/atau produsen produk sanitasi dan mengisi informasi yang dijaring sesuai dengan format LT-‐2A dan 2B.
Pendataan dilakukan secara berkala per triwulan
8. Pendataan kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) Tim Puskesmas/
kecamatan
Persiapan:
• Menyiapkan dan memahami cara pengisian format pendataan kegiatan peningkatan kapasitas (format LT-‐5)
9. Monitoring institusionalisasi sistem monitoring Tim Puskesmas/
kecamatan
• Pihak Puskesmas/ kecamatan mencatat dan mengkompilasi data komunitas yang
menggunakan peta sosial atau instrumen lainnya dalam memonitor pencapaian ODF dan perilaku cuci tangan pakai sabun oleh seluruh masyarakat
4.1.3 Pelaksanaan monitoring di tingkat kabupaten
Pelaksanaan monitoring di tingkat kabupaten diharapkan dapat mencakup kegiatan monitoring di tingkat masyarakat dan indikator lainnya yang memang penting untuk dipantau dan direkam di tingkat kabupaten (mengacu kepada Kerangka Kerja Monitoring STBM). Kabupaten disamping
memiliki peran dan fungsi dalam melaksanakan monitoring, juga harus dapat merekam indikator penting untuk melihat perubahan dan dampak, menganalisanya dan memberikan umpan-‐balik secara cepat untuk perbaikan pelaksanaan program sanitasi di wilayah kerjanya. Disamping itu, hasil pembelajarannya dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan kebijakan daerah yang dapat mengakomodir pelaksanaan kegiatan sanitasi yang pendekatannya senada dengan program STBM.
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan
1. Dukungan pendanaan oleh pemerintah daerah
Tim kabupaten • Pendataan anggaran belanja kebupaten sebelum program STBM masuk, terkait dengan program-‐ program sanitasi
• Pendataan anggaran belanja kabupaten setelah mengadopsi pendekatan STBM, terkait dengan kegiatan-‐kegiatan program sanitasi
(menggunakan format LT-‐1)
Per tahun
2. Peminatan kecamatan
Tim kabupaten Persiapan:
• Persiapan pertemuan para-‐pihak (unsur kecamatan). Detail kegiatan dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan STBM.
Pelaksanaan monitoring:
• Paska roadshow kecamatan/desa, kabupaten mendata kecamatan/desa yang memasukkan LoI. • Surat minat (LoI) kecamatan dan desa
dikumpulkan dan diarsipkan dengan baik di kabupaten
Per tahun; ada pengembangan lokasi sasaran program
3. Pendataan database media massa
Tim kabupaten • Mendata berbagai jenis media massa (cetak dan elektronik) yang beroperasi dan menjangkau masyarakat di kabupaten tersebut; informasi dijaring sesuai dengan format LT-‐4.
4. Pendataan hasil kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) Tim kabupaten Persiapan:
• Menyiapkan dan memahami cara pengisian format pendataan kegiatan peningkatan kapasitas (format LT-‐5)
5. Monitoring institusionalisasi sistem monitoring
Tim kabupaten • Pihak kabupaten merekam dan mengkompilasi kecamatan-‐kecamatan yang secara rutin
mengumpulkan dan mengkompilasi data monitoring masyarakat
Pada pertemuan pembelajaran di tingkat kabupaten
Pelaku Cara pelaksanaan Waktu pelaksanaan • Pihak kabupaten merekam dan mengkompilasi
kecamatan-‐kecamatan yang telah menggunakan data hasil monitoringnya dalam pengelolaan kegiatan di puskesmas atau kecamatan bersangkutan
4.2 Verifikasi pencapaian
4.2.1 Verifikasi desa melaksanakan STBM
Parameter bahwa suatu desa dikatakan telah melaksanakan STBM adalah:
1. Minimal telah ada intervensi melalui pemicuan di salah satu dusun dalam desa tersebut. 2. Ada masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi STBM seperti
disebutkan pada poin pertama, baik individu (natural leader) ataupun bentuk komite. 3. Sebagai respon dari aksi intervensi STBM, masyarakat menyusun suatu rencana aksi
kegiatan dalam rangka mencapai komitmen-‐komitmen perubahan perilaku pilar-‐pilar STBM, yang telah disepakati bersama; misal: mencapai status SBS.
Tidak ada perlakuan verifikasi secara khusus untuk mengetahui apakah masyarakat suatu desa dikatakan telah melaksanakan STBM atau tidak. Kemajuan dari berapa jumlah desa yang telah melaksanakan STBM dapat diketahui dari pemantauan rutin oleh petugas Puskesmas.
4.2.1 Verifikasi status ODF
Parameter suatu masyarakat dikatakan telah mencapai status ODF adalah:
1. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/ kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah)
2. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar
3. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB di sembarang tempat
4. Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat
5. Ada upaya atau strategi yang jelas dan tertulis untuk dapat mencapai Total Sanitasi
Tercapainya kondisi semua masyarakat telah BAB ke jamban sehat, dapat disebut bahwa masyarakat tersebut telah mencapai SBS (stop buang air besar sembarangan)4.
Verifikasi terhadap pencapaian status ODF oleh satu komunitas dilakukan berdasarkan kriteria ODF pada pedoman aspek manajemen. Evaluasi status ODF satu komunitas oleh tim verifikasi kecamatan dengan menggunakan format verifikasi ODF seperti pada Lampiran-‐2; hasilnya dapat direkapitulasi dengan menggunakan format LB-‐5. Adapun proses verifikasi status ODF di satu komunitas adalah sebagai berikut:
1. Komunitas bersangkutan dapat melakukan pengajuan permohonan untuk diverifikasi kepada Puskesmas atau kantor kecamatan terdekat apabila mereka telah siap untuk mendeklarasikan mereka telah bebas buang air besar sembarang tempat.
2. Tim verifikasi kecamatan melakukan kunjungan mendadak ke komunitas yang akan diverifikasi. Tim akan mengamati kondisi dan perilaku di masyarakat, dan mewawancara keluarga-‐keluarga yang berubah perilakunya di komunitas atau desa bersangkutan. Pada hari itu juga, tim verifikasi melaporkan hasil verifikasi kepada masyarakat di komunitas tersebut.
3. Bila satu komunitas dianggap telah lolos verifikasi, akan diumumkan dan diresmikan secara simbolis (misal: papan deklarasi berlogo Puskesmas atau Kecamatan); Bila ada bentuk-‐ bentuk penghargaan sebaiknya diwujudkan dalam penghargaan untuk mendapatkan prioritas program pembangunan lainnya.
4. Karena suatu hal verifikasi tidak dapat diberikan, alasannya perlu disampaikan kepada masyarakat. Mereka dapat mengajukan ulangan untuk diverifikasi pada waktu yang disepakati bersama saat penyampaian hasil verifikasi.
Demikian halnya dengan deklarasi kecamatan dan kabupaten yang ODF, secara proses mengikuti langkah yang sama seperti verifikasi status ODF di komunitas. Evaluasi deklarasi kecamatan yang ODF akan dilakukan oleh tim verifikasi kabupaten, sementara deklarasi kabupaten yang ODF akan dilakukan oleh tim evaluasi propinsi atau bahkan tim nasional.
4.2.2 Penilaian penghargaan pencapaian status ODF
Sesuai dengan cita-‐cita pemberdayaan masyarakat yang berakar kepada penumbuhan kemandirian masyarakat, maka penghargaan terhadap masyarakat yang dapat mencapai status ODF pun akan memegang PRINSIP tersebut. Penghargaan yang diberikan kepada masyarakat sebaiknya menghindarkan pemberian langsung bentuk uang tunai; melainkan pewujudan
4 SBS merupakan konteks dalam bahasa Indonesia untuk ODF (Open Defecation Free). Suatu
komunitas dapat dikatakan SBS dijelaskan lebih lanjut pada Panduan Pemantauan dan Evaluasi STBM.
program terbuka yang dapat diusulkan dan dikelola oleh masyarakat tersebut menjadi rencana kerja sebagai tindak lanjut yang mengarah kepada perubahan tatanan masyarakat yang lebih baik untuk mencapai tujuan (goal) program STBM.
4.2.3 Verifikasi Komunitas/ Desa STBM
Mengacu kepada pola pikir di atas, maka dapat diuraikan indikator capaian5 seperti di bawah ini:
Tabel 5.1. Indikator capaian
Pilar STBM Indikator pencapaian terkait perilaku Indikator pencapaian terkait akses keberhasilan Indikator 1. Stop buang air
besar sembarangan (Stop BABS)
Jumlah dan persentase penduduk tidak buang air besar sembarangan.
• Jumlah dan persentase rumah tangga
menggunakan sarana jamban sehat6. • Jumlah desa/kelurahan
di kabupaten yang mencapai SBS/ODF, dicek ulang setiap tahun setelah deklarasi ODF
100%
2. Cuci tangan pakai
sabun (CTPS) Setiap anggota keluarga cuci tangan pakai sabun pada waktu-‐waktu kritis.
• Jumlah dan persentase rumah tangga memiliki dan menggunakan sarana untuk melakukan CTPS;
• Setiap institusi pendidikan dan kesehatan memiliki sarana untuk melakukan CTPS.
100%
3. Pengelolaan air minum/makanan yang aman (PAMM RT)
• Jumlah dan persentase rumah tangga melakukan pengelolaan air minum dengan aman • Jumlah dan
persentase rumah tangga melakukan pengelolaan
makanan yang aman
• Jumlah dan persentase rumah tangga memiliki sarana untuk melakukan pengelolaan air minum dengan aman
• Jumlah dan persentase rumah tangga memiliki sarana untuk melakukan pengelolaan makanan yang aman 100% 4. Pengelolaan sampah rumah tangga (PS RT)
Setiap rumah tangga melakukan pengelolaan sampah dengan aman
Setiap rumah tangga mengakses sarana untuk melakukan pengelolaan sampah
100%
5