1
m
m
a
a
l
l
a
a
c
c
c
c
e
e
n
n
s
s
i
i
s
s
)
)
p
pa
ad
da
a
D
Do
om
me
e
st
s
ti
ik
ka
as
si
i
J
Je
en
ni
is
s
D
Di
i
K
Ko
ot
ta
a
P
Pe
em
ma
at
ta
an
ng
gs
si
ia
an
nt
ta
ar
r
M
MaarruullaammMMTTSSiimmaarrmmaattaa
Staf Pengajar Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian USI e-mail : [email protected]
A
Abbssttrraakk
Gaharu (Aquilaria malaccensis) sebagai plasma nutfah, pada dekade terakhir ini menjadi sorotan berbagai pihak terutama terhadap produk yang dihasilkan, yaitu resin (oleoresin) yang berada di jaringan kayu yang berwarna hitam dan beraroma wangi yang biasanya disebut gubal gaharu, produk ini mempunyai nilai yang sangat tinggi terutama gubal yang mempunyai kualitas super.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemulsaan terhadap tingkat pertumbuhan tanaman, manfaat pemulsaan terhadap kondisi lahan serta pengaruh pemulsaan terhadap kegiatan waktu dan teknik pemeliharaan.
Penelitian dilaksanakan pada areal Arboretum Fakultas Pertanian Universitas Simalungun selama 9 bulan, dimulai bulan Mei 2012 sampai dengan Januari 2013. Ulangan pada perancangan ini dirancang untuk setiap petak pengujian 2 jenis mulsa dan 1 petak control (tanpa mulsa) yang disusun berdasarkan Completelly Randomized Block Design (CRBD). Data yang diperoleh disusun menurut Completelly Randomized Block Design. Analisis data dilakukan dengan analisis pendugaan parameter model seperti persentase hidup tanaman, pertumbuhan jumlah daun, tinggi dan diameter tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah tanaman yang hidup, pertambahan diameter batang, serta pertambahan tinggi tanaman. Ada pengaruh pengguguran daun akibat pemberian perlakuan dan penamanan Gaharu (Aquilaria malaccensis) dengan cara domestikasi jenis berdasar perlakuan dapat dilakukan dengan baik di Kota Pematangsiantar.
Kata Kunci : Gaharu, Pemulsaan, Domestikasi Jenis
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-Pendahuluan
Gaharu (Aquilaria malaccensis) sebagai plasma nutfah, pada dekade terakhir ini menjadi sorotan berbagai pihak terutama terhadap produk yang dihasilkan, yaitu resin (oleoresin) yang berada di jaringan kayu yang berwarna hitam dan beraroma wangi yang biasanya disebut gubal gaharu, produk ini mempunyai nilai yang sangat tinggi terutama gubal yang mempunyai kualitas super. Dengan nilai yang sangat tinggi ini menyebabkan masyarakat dan beberapa pihak untuk melakukan perburuan pohon gaharu alam.
Dengan menurunnya populasi gaharu alam khususnya jenis Aquilaria malaccensis maka dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan jenis ini. Oleh karenaitu pada konferansi IX di bulan Nopember 1994 di Florida Amerika Serikat, para angota CITES (Convention on international Trade Endengered species of wild flora and fauna) memasukkan Aquilaria malaccensis dalam appendix II, artinya pohon terancam punah, karena itu volume perdagangannya perlu dibatasi,dan perlu dilakukan usaha untuk penyelamatan jenis dengan berbagai cara baik konservasi in situ maupun ex situ.
2 Saat ini Pusat Penelitian Geografi
Terapan (PPGT-FMIPA) Universitas Indonesia (UI) sudah meluncurkan hasil penelitiannya terkait dengan rekayasa produksi kayu gaharu. Kayu gaharu yang tadinya hanya didapatkan dari alam langsung sekarang sudah dapat dbudidayakan dengan lebih seksama seperti tanaman perkebunan lain (teh, kopi, coklat, karet dll).
Menyangkut kegiatan pemeliharaan pada tanaman dengan berpedoman pada teknik silvikultur assited or accelerated natural regeneration (ANR) dengan tujuan meng-hambat laju pertumbuhan tanaman gulma dan menambah bahan organik bagi tanah diduga akan dapat tercapai dengan melakukan pemulsaan dengan bahan organik pada tana-man.
Pemulsaan terhadap tanaman diper-kirakan akan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan memberikan hasil yang lebih baik, untuk itu diperlukan suatu studi untuk itu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemulsaan terhadap tingkat pertumbuhan tanaman, manfaat pemulsaan terhadap kondisi lahan serta pengaruh pemulsaan terhadap kegiatan waktu dan teknik pemeliharaan.
M
MeettooddeePPeenneelliittiiaann
Penelitian dilaksanakan pada areal Arboretum Fakultas Pertanian Universitas
Simalungun Pematangsiantar, dimulai sejak mulai bulan Mei 2012 s/d. Januari 2013.
Peralatan yang digunakan antara lain : peralatan penanaman dan pemulsaan; pengukuran (meter dan jangka sorong); dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang digunakan untuk mendukung penelitian ini antara lain : bibit/benih siap tanam ; mulsa organik; dan mulsa anorganik.
Pengamatan pada sejumlah tanaman yang ditanam pada areal tanaman meliputi : (a) tanaman tanpa pemulsaan; (b) tanaman dengan perlakuan pemulsaan bahan organik; dan (c) tanaman dengan perlakuan pemulsaan bahan anorganik. Ulangan (replication) pada peran-cangan ini dirancang untuk setiap petak pengujian 2 jenis mulsa dan 1 petak control (tanpa mulsa) yang disusun berdasarkan Completelly Randomized Block Design (CRBD). Frekunsi perlakuan dilakukan sebanyak 9 kali dengan meneladani persamaan (t-1)(r-1)≥ 15 (Hanafiah, 1991).
Data yang diperoleh dari setiap petak pengujian 2 jenis mulsa dan 1 kontrol disusun menurut Completelly Randomized Block Design (CRBD) dengan 9 ulangan sebagai kelompok dan 5 tanaman sejenis perkelompok. Analisis data dilakukan dengan analisis pendugaan parameter model seperti persentase hidup tanaman, pertumbuhan jumlah daun, tinggi dan diameter tanaman.
Model umum persamaan linier RAL (Steel dan Torrie, 1980) adalah :
3
= Hasil pengamatan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
Nilai tengah umum = Pengaruh perlakuan ke-i
Error pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
Error pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
i = 1,2,3………., k
j = 1,2,3,………, n
Jika hasil analisa keragaman menun-jukkan pengaruh perlakuan yang nyata, maka akan dilanjutkan dengan Uji Beda Rata-rata, dengan Uji BNT (Steel dan Torrie, 1980) :
BNT = t Dimana :
BNT = Beda Nyata Terkecil untuk taraf 5% dan 1%
t = Nilai t pada table t untuk taraf 5% dan 1%
S2 = Kuadrat Tengah Galat n = ulangan
H
HaassiillddaannPPeemmbbaahhaassaann
P
PeerrsseennttaasseeHHiidduuppTTaannaammaann
Hasil pengamatan sementara pada persentase hidup tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis) seperti diuraikan pada tabel. 1.
Hasil analisa sidik ragam pengaruh pemulsaan terhadap jumlah hidup tanaman pada perlakuan tidak memberikan pengaruh pada kedua taraf pengujian. Persentase jumlah tanaman hidup seperti tertera pada Gambar dibawah ini.
Dari data diatas, didapatkan bahwa ketiga perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang sama yaitu didapatkan 96,3% tanaman yang hidup. Hal ini dapat dimaklumi, karena data hasil pengukuran baru tahap pertama, sehingga belum didapatkan hasil yang maksimal.
Tabel 1. Rerata Tanaman Gaharu Yang Hidup
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9
P0 (Kontrol)
3,00 2,50 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 26,50 2,94P1 (Organik)
2,50 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 26,50 2,94P2 (Plastik)
3,00 3,00 2,50 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 26,50 2,94Jumlah
8,50 8,50 8,50 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 79,50 8,83Perlakuan
Kelompok
Jumlah
Rerata
Sumber : Data Primer Diolah
4 P
PeerrsseennttaasseeJJuummllaahhDDaauunn
Hasil pengamatan sementara pada pertambahan jumlah daun dapat dilihat pada tabel 2.
Hasil analisa sidik ragam pengaruh pemulsaan terhadap jumlah daun tanaman pada perlakuan kelompok memberikan penga-ruh yang nyata pada kedua taraf pengujian. Persentase jumlah tanaman hidup seperti tertera pada Gambar 2.
Dari data diatas, didapatkan bahwa ketiga perlakuan yang memberikan pengaruh terhadap jumlah daun. Didapatkan data bahwa
perlakuan yang diberikan memberikan efek pengurangan daun pada sampel penelitian.
Hal ini diduga terjadi akibat tanaman melakukan penyesuaian tempat tumbuh. Hal ini didukung dengan kondisi bibit tanaman sudah mencapai umur 1 tahun, sehingga untuk proses tumbuh selanjutnya tanaman sampel mengalami stagnan pertumbuhan. Dengan demikian proses pertumbuhan tidak berjalan sehingga daun layu dan mati karena proses metabolisme tidak berjalan, hanya meman-faatkan cadangan unsur yang terdapat di dalam batang tanaman, sebelum perakaran melakukan prosesnya.
Tabel 2. Rerata Pertambahan Jumlah Daun Gaharu
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 P0 (Kontrol) -39,67 -49,50 -40,33 -21,33 -28,67 -26,33 -19,67 -10,33 -25,oo -260,83 -28,98 P1 (Organik) -35,00 -40,33 -35,33 -18,67 -35,67 -28,67 -29,00 -18,00 -17,00 -257,67 -28,63 P2 (Plastik) -38,00 -39,33 -26,00 -35,00 -27,00 -28,00 -22,67 -21,33 -30,00 -267,33 -29,70 Jumlah -112,67 -129,16 -101,66 -75,00 -91,34 -83,00 -71,34 -49,66 -72,00 -785,83 -87,31 Jumlah Rerata Perlakuan Kelompok
Sumber : Data Primer Diolah
5 P
PeerrsseennttaasseeDDiiaammeetteerrBBaattaanngg
Hasil sementara pengamatan pada persentase pertambahan diameter batang tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis) da-pat dilihat pada tabel 3.
Hasil analisa sidik ragam pengaruh pemulsaan terhadap pertambahan diameter batang tanaman pada perlakuan tidak mem-berikan pengaruh pada kedua taraf pengujian. Persentase jumlah pertambahan diameter batang seperti tertera pada Gambar 3.
Dari data, didapatkan bahwa ketiga perlakuan yang memberikan pengaruh
terha-dap pertambahan diameter batang. Perlakuan pemakaian mulsa organic memberikan hasil yang baik untuk pertambahan diameter batang sebesar 0,23 cm.
Hal ini seiring dengan proses yang terjadi, dimana terjadi pengurangan daun pada tanaman sampel yang diikuti dengan pem-besaran batang. Tanaman sampel dengan cepat melakukan penyesuaian tempat tumbuh dengan baik, ditambah perlakuan pemberian mulsa organic menjadi sumber hara bagi pertumbuhan tanaman.
Tabel 3. Rerata Pertambahan Diamater Batang Gaharu
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 P0 (Kontrol) 0,10 0,05 0,10 0,07 0,03 0,07 0,10 0,10 0,03 0,65 0,07 P1 (Organik) 0,05 0,10 0,07 0,07 0,13 0,03 0,07 0,10 0,10 0,72 0,08 P2 (Plastik) 0,07 0,10 0,10 0,70 0,07 0,07 0,03 0,10 0,07 0,68 0,08 Jumlah 0,22 0,25 0,27 0,21 0,23 0,17 0,20 0,30 0,20 2,05 0,23
Perlakuan Kelompok Jumlah Rerata
Sumber : Data Primer Diolah
Gambar 3. Histogram Jumlah Pertambahan Diameter (cm)
P
6 Hasil sementara pengamatan pada
persentase pertambahan tinggi tanaman tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis) dapat dilihat pada tabel 4.
Hasil analisa sidik ragam pengaruh pemulsaan terhadap pertambahan tinggi tana-man pada perlakuan tidak memberikan pengaruh pada kedua taraf pengujian. Persentase jumlah pertambahan tinggi tana-man seperti tertera pada Gambar 4.
Dari data, didapatkan bahwa ketiga perlakuan yang memberikan pengaruh terha-dap pertambahan tinggi tanaman Permberian mulsa organic yang berasal dari serasauh
tanaman memberikan hasil yang baik untuk pertambahan tinggi tanaman. Pertambahan rerata tinggi tanaman didapatkan pada perlakuan pemakaian mulsa organic sebesar 40,22 mm selama 2 bulan.
Hal ini seiring dengan proses yang terjadi, dimana terjadi pengurangan daun pada tanaman sampel yang diikuti dengan pem-besaran batang dan pertambahan tinggi tanaman. Tanaman sampel dengan cepat melakukan penyesuaian tempat tumbuh de-ngan baik, ditambah perlakuan pemberian mulsa organic menjadi sumber hara bagi pertumbuhan tanaman.
Tabel 4. Rerata Pertambahan Tinggi Tanaman Gaharu
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 P0 (Kontrol) 28,67 4,00 3,67 14,67 17,33 5,67 9,00 7,00 6,00 96,01 10,67 P1 (Organik) 7,00 8,67 5,00 9,00 4,33 11,33 14,00 40,00 23,67 123,00 13,67 P2 (Plastik) 9,00 4,67 19,50 31,00 10,33 6,33 14,67 7,67 16,33 119,50 13,28 Jumlah 44,67 17,34 28,17 54,67 31,99 23,33 37,67 54,67 46,00 338,51 37,61
Perlakuan Kelompok Jumlah Rerata
Sumber : Data Primer Diolah
7 K
KeessiimmppuullaannddaannSSaarraann
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini bahwa pemberian perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah tanaman yang hidup, pertambahan diameter batang, serta pertam-bahan tinggi tanaman. Ada pengaruh peng-guguran daun akibat pemberian perlakuan, serta penamanan Gaharu (Aquilaria mala-ccensis) dengan cara domestikasi jenis berdasar perlakuan dapat dilakukan dengan baik di Kota Pematangsiantar.
Diperlukan pengamatan yang lebih panjang dalam rangka ujicoba domestikasi penanaman Gaharu di Kota Pematangsiantar.
P
Puussttaakkaa
Anonim. 1998. Pengelolaan Persemaian untuk Menghasilkan Bibit Bermutu Tinggi. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian dan Pengembangan Balai Teknologi Reboisasi (BTR) Banjar Baru.
Anonim. 2012. Konservasi Gaharu di
Kabupaten Sleman.
http://alamtropika.com (diunduh Agustus 2012)
Anonim. 2012. Gaharu Sekilas. http://supergaharu.wordpress.com/ (diunduh Agustus 2012)
Anonim. 2012. Gaharu.
http://supergaharu.wordpress.com/(diu nduh Agustus 2012)
Aswoko, G. 2012. Tahun Gaharu Indonesia 2009.
http://wahanagaharu.blogspot.com. (diunduh Juni 2012)
FAO. 1985. Aguide to Forest Seed Handing. FAO Forestry Paper 20. Roma
Hendromono, 1998. Pengaruh Media Organik dan Tanah Mineral Terhadap Mutu Bibit Pterygota alata Roxb. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I dan II. Badan Penelitian dan Pengmbangan Kehutanan Departemen Kehutanan RI Jakarta.
Jhonson, J.D. and M.L. Cline. 1991. Seedling Quality of Southern Pines. Forest Regeneration Manual.
Jordan, F. 1985. Nutrient Cycling in Tropical Forest Ecosystem. John Willey Sons. New York.
Kareen. 2007. Bahan Organik. http://karieeen.wordpress.com/(diundu h 2 Desember 2012)
Purwowidodo. 1983. Teknologi Mulsa. Dewa Ruci Press. Jakarta
Rizlani, C. dan Aswandi. 2012. Penanganan Bibit Gaharu Cabutan Stump. http://laksmananursery.blogspot.com/( diunduh Agustus 2012)
Sophie., M.M. 1997. Pengawasan Mutu Benih Tanaman Hutan Diperbaharui. Duta Rimba 207-208/XXIII : 17-24.
Steel, R.G.D., and J.H. Torrie. 1980. Principles and Procedure of Statistics. A Biometrical Approach. 2nd ed. Mc Graw Hill, New York
Supriadi, G., dan Valli, I. 1998. Manual Persemaian ATA-267 Mechanized Nursery and Plantation Project in South Kalimantan (Indonesia – Finladia)