• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MASASE PUNGGUNG TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN POST VITRECTOMY DENGAN FACE DOWN POSITIONING DI RUMAH SAKIT KASIH IBU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MASASE PUNGGUNG TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN POST VITRECTOMY DENGAN FACE DOWN POSITIONING DI RUMAH SAKIT KASIH IBU"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MASASE PUNGGUNG TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN POST VITRECTOMY DENGAN FACE DOWN POSITIONING DI RUMAH SAKIT

KASIH IBU Susilowati1)

, Rufaida Nur Fitriana 2) , Saelan 3) 1)

Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta 2)

Dosen STIKes Kusuma Husada Surakarta email : [email protected]

ABSTRAK

Vitrectomy merupakan operasi mata untuk mengatasi kelainan retina (selaput saraf mata) atau vitreus (jaringan jernih berbentuk agar yang mengisi bola mata). Setelah dilakukan operasi Vitrectomy pasien akan diminta untuk melakukan posisi face down positioning. Pasien post vitrectomy dengan posisi wajah tertelungkup (face down positioning) akan sering mengakibatkan ketidaknyamanan kepada pasien selain itu pasien juga dapat mengalami kecemasan. Masase punggung merupakan salah satu tindakan alternatif dan terapi komplementer untuk mengurangi kecemasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu. Desain penelitian menggunakan metode quasi experiment dengan one-group pretest-posttest design. Pengukuran dengan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A) untuk mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan masase punggung. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling sejumlah 39 responden. Hasil penelitian didapatkan tingkat kecemasan sebelum pemberian masase punggung didapatkan mayoritas kecemasan sedang sebanyak 21 responden dan setelah didapatkan mayoritas kecemasan ringan sebanyak 16 responden. Analisis bivariat didapatkan pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu dengan p value = 0,000 (p < 0,05). Hasil penelitian ini menyarankan penerapan masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy.

Kata Kunci : Masase Punggung, Kecemasan, Post Vitrectomy ABSTRACT

Vitrectomy is an eye surgery to cope with retina (eye nerve membranes ) or vitreus (A clear,jelly-like substance thatfillsthe back part of the eye ). Following the administration of vitrectomy, patients are usually asked to perform face down positioning. This position makes the patients feel uncomfortable and even induces anxiety. Back massage is one of the alternative interventions and a complementary therapy to reduce anxiety. The objective of this research is to investigate effect of back massage on anxiety level of post vitrectomy patients with face down positioning at Kasih Ibu Hospital. This research used the quasi experimental research method with one-group pretest-posttest design. The anxiety level of the patients prior to and following the administration of back massage was measured with Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS -A) Purposive sampling was used to determine its samples. They consisted of 39 respondents. Prior to the administration of back massage, majority of the respondents, 21 respondents, had a medium anxiety level (moderate ), and following that of back massage the majority of the respondents, 16 respondents, had a low anxiety level (mild ). The result of the bivariate analysis shows that the p- value was 0.000 which was less than 0.05, meaning that the back massage had an effect on the anxiety level of the post vitrectomy patients with face down positioning at Kasih Ibu Hospital. This, back massage is recommended to be applied to reduce anxiety level of post vitrectomy patients.

(2)

PENDAHULUAN

Ablasio retina merupakan kondisi patologis yang berpotensi menyebabkan kebutaan dan merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan di bagian mata (Putu, Sri & Yulia, 2015). Penanganan ablasio retina dengan tindakan pembedahan salah satunya adalah operasi vitrectomy. Pasien dengan kerusakan penglihatan yang berat, vitrectomy merupakan terapi yang dapat diharapkan untuk memperbaikinya (Setyandriana, 2010)

Berdasarkan data WHO (2014) sekitar 285 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan penglihatan dan 14% diantaranya mengalami kebutaan, penyebab gangguan penglihatan antara lain gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, diikuti oleh katarak dan glaukoma. Di Indonesia, angka prevalensi penyakit mata dan kebutaan khusus cukup sulit untuk diidentifikasi. Secara umum, penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia adalah katarak (Kemenkes, 2014). Prevalensi operasi vitrectomy di negara Korea mengalami peningkatan dari 15,1 % pada tahun 2002 menjadi 49,4% pada tahun 2013 per 100.000 orang (Kim et al, 2017). Di Indonesia prevalensi operasi vitrectomy tidak tersedia laporan nasional per tahunnya (Simanjuntak et al, 2018).

Operasi vitrectomy selesai dilakukan pasien diminta untuk memposisikan face down positioning. Menurut Jannifer (2013), merekomendasikan satu hingga 10 hari melakukan sikap face down positioning. Face down positioning dilakukan selama tiga sampai satu minggu setelah operasi untuk perbaikan lubang makula idiopatik. Namun kondisi face down positioning sering mengakibatkan ketidaknyamanan kepada pasien karena mobilisasi dibatasi sehingga tidak mudah dilakukan (Yoshiaki et al, 2012).

Pasien yang dilakukan tindakan vitrectomy dengan posisi wajah tertelungkup (face down positioning), dapat mengalami

kecemasan, walaupun sudah dipersiapkan dengan baik termasuk pemberian penjelasan prosedur dan segala risiko yang dapat terjadi serta informed consent yang ditandatangani pasien (Neno et al., 2012). Selain itu kecemasan pasien yang dilakukan face down positioning dapat disebabkan oleh gejala-gejala yang muncul setelah dilakukan pembedahan, diantaranya yaitu rasa nyeri dan gangguan mobilisasi (Morris dkk, 2010). Asmadi (2009) menjelaskan bahwa kondisi immobilitas dapat memengaruhi emosional.

Kecemasan berdampak pada kepatuhan melakukan face down positioning setelah operasi yang mendukung pemulihan dan keberhasilan vitrectomy. Prosedur medis yang harus dijalani terkadang sangat komplek dan membuat pasien menjadi takut dan khawatir. Rasa cemas dan takut ini dapat menjadi parah apabila pasien tidak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penyakit dan pengobatannya sehingga pasien bereaksi secara berlebihan (Nuralita, 2010). Hasil penelitian Mozaffarieh et al (2017) mengatakan tingkat kecemasan pasien face down positioning setelah operasi sebanyak 65%.

Kecemasan dapat diatasi dengan beberapa cara, antara lain terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Terapi farmakologi seperti pemberian obat anti cemas (anxiolytic), antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) dapat membantu menurunkan kecemasan tetapi memiliki efek samping ketergantungan (Lowdermilk & Perry, 2013). Terapi non farmakologi seperti psikoterapi, terapi terawa, terapi kognitif, terapi relaksasi nafas dalam dan terapi komplementer (Suyatmo, 2009). Masase punggung merupakan salah satu tindakan alternatif dan terapi komplementer (Eddy dkk, 2015). Masase pada punggung merangsang titik tertentu di sepanjang meridian medulla spinalis yang ditransmisikan melalui serabut saraf besar

(3)

ke formatio retikularis, thalamus dan sistem limbic tubuh akan melepaskan endorphin yang memberikan efek tenang (Aryani, 2015). Hasil penelitian Chen (2013) di Taiwan Selatan menyatakan masase punggung secara signifikan dapat mengurangi kecemasan, menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, meningkatkan kenyamanan, tingkat kejenuhan oksigen meningkat, serta denyut jantung dan pernafasan membaik. Masase punggung dilakukan dengan posisi tengkurap karena yang dipijat hanya area punggung (Zulmi, 2016). Hal ini sangat memungkinkan diberikan pada pasien face down positioning dengan posisi tengkurap.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Kasih Ibu jumlah pasien yang melakukan operasi post vitrectomy pada bulan Januari sampai November 2018 sebanyak 421 pasien. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan 3 pasien post vitrectomy diharuskan memposisikan face down positioning untuk mempercepat penutupan makula mengatakan cemas karena merasakan tidak bebas dengan posisi wajah tertelungkup dan takut posisinya akan terus seperti ini sehingga tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Paien merasakan seperti jantung berdebar, 3 pasien mengatakan keluar keringat pada tangan, gelisah saat diminta untuk memposisikan wajah menunduk atau tertelungku dirasakan tidak nyaman karena gerakan dibatasi. Hasil wawancara peneliti dengan 3 perawat mengatakan pasien yang mengalami cemas bisa terlihat dari raut wajah yang tidak rileks, sering menanyakan keadaannya selama ini untuk mengurangi kecemasan perawat memberikan edukasi kepada pasien dan memberikan relaksasi napas dalam

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu

METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment dengan one-group pretest-posttest design. Penelitian ini berlangsung dari bulan Maret-April 2019 di Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta. Peneliti menggunakan 39 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini ialah purposive sampling. Peneliti menggunakan Kuesioner HRS-A (Hamilton Rating Scale Anxiety) untuk mengukur kecemasan sebelum dan sesudah. Analisis data yang digunakan ialah analisa uji wilcoxon.

Peneliti membantu membacakan kuesioner dan mengisikan cek list kuesioner sesuai jawaban responden. Peneliti dalam penelitian ini sebagai observer dan hanya melakukan observasi. Pelaksanaan masase punggung dilakukan oleh asisten penelitian yang merupakan fisioterapi yang telah memiliki sertifikat yang diberikan sebanyak satu kali setiap pertemuan dengan durasi 3-5 menit selama 3 hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut ini adalah data dari gambaran umum responden meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan serta kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan pemberian masase punggung pada pasien post vitrectomy dengan face down positioning.

a. Karakteriktik Responden Menurut Usia Tabel 1 Karakteristik Responden Menurut

Usia (N=39)

Berdasarkan hasil penelitian bahwa rata-rata usia adalah 51,08 tahun. Menurut Depkes (2009) usia 46-55 tahun masuk kategori usia lansia awal. Sejalan dengan hasil penelitian Maharani dkk (2016) operasi vitrectomy banyak dilakukan pada usia lebih dari 45 tahun sebanyak 57,14%. Usia lansia akhir ditandai dengan adanya kemunduran

Karakteristik Penilaian

Min Max Mean SD Median

(4)

biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala penurunan fisik seperti tingginya masalah kesehatan bersifat kronis, sehingga diperlukan tindakan pembedahan. Penurunan yang terjadi pada lansia mempengaruhi kesehatan jiwa. Masalah kesehatan jiwa yang sering timbul pada lansia salah satunya kecemasan (Daryanti, 2016).

Berdasarkan hasil penelitian Neno et al (2012) mengatakan pasien yang dilakukan tindakan vitrectomy dengan posisi wajah tertelungkup (face down positioning), dapat mengalami kecemasan (Neno et al., 2012). Kecemasan yang dialami pasien post vitrectomy dengan face down positioning dapat disebabkan oleh gejala-gejala yang muncul setelah dilakukan pembedahan, diantaranya yaitu rasa nyeri dan gangguan mobilisasi (Morris dkk, 2010).

Karakteristik pada pasien operasi berdasarkan umur sangat berpengaruh terhadap kesiapan seseorang dalam menghadapi operasi, dimana semakin tua umur pasien maka akan berkurang dalam ketidaksiapan dalam menerima tindakan operasi, sehingga akan beresiko terjadi suatu tingkat kecemasan (Prihyanto, 2012). Seseorang yang mempunyai umur lebih tua ternyata lebih mudah mengalami kecemasan daripada seseorang yang lebih muda, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya (Varcoralis, 2012).

Hasil penelitian Videback (2011), mengemukakan prevalensi kecemasan di negara berkembang pada usia dewasa dan lansia sebanyak 50%. Menurut asumsi peneliti kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning terjadi tidak hanya karena pembatasan gerak dan nyeri melainkan usia juga mempengaruhi kecemasan. Semakin bertambahnya usia maka akan banyaknya masalah yang harus dihadapi diimbangi dengan beratnya tanggungjawab salah satunya masalah kesehatan.

b. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin

Tabel 2 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin (N=39)

Hasil penelitian ini bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 responden (53,8%). Sejalan dengan hasil penelitian Sinaga dkk (2016) mengatakan pasien operasi vitrektomi mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 pasien (63%). Laki-laki lebih banyak menjalani vitrektomi disebabkan laki-laki lebih dominan dalam masyarakat dan kurangnya preferensi untuk kesehatan wanita (Subendi et al, 2010). Berdasarkan hasil observasi perempuan memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan laki-laki dikarenakan perempuan lebih peka terhadap emosinya yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan cemasnya. Hasil penelitian ini sependapat dengan hasil penelitian terdahulu menyatakan berdasarkan jenis kelamin, tingkat kecemasan paling banyak terdapat pada perempuan sebesar 16 responden (88,9%) yang terdiri dari 7 responden dengan kecemasan ringan, 7 responden kecemasan sedang dan 2 responden kecemasan berat (Soemantri 2012).

Didukung oleh penelitian Heningsih (2014) mengatakan tingkat kecemasan paling banyak pada jenis kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki yaitu responden perempuan sebanyak 28 responden (53,8%). Berdasarkan hasil penelitian Untari & Rohmawati (2014) mengatakan faktor jenis kelamin pada lansia yang mengalami kecemasan di dominasi oleh perempuan sebanyak 52 orang (86,66%). Menurut Handini (2014) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas

Jenis

Kelamin Frekuensi %

Perempuan 18 46,2 Laki-laki 21 53,8

(5)

akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif.

Menurut pendapat Sadock, et al (2010) bahwa gangguan kecemasan lebih sering dijumpai pada wanita dengan ratio 2 : 1. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Azoulay, et al (2009) yang menyatakan bahwa ansietas lebih banyak dialami oleh wanita dari pada laki-laki. Menurut Kane, et al (2010), mengungkapkan bahwa perempuan lebih mudah mengalami cemas dibandingkan dengan laki-laki, menurut dia laki-laki bersifat lebih aktif, sedangkan perempuan memiliki sifat lebih sensitif. Dari penelitian lain menjelaskan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.

Menurut asumsi peneliti koping dalam menghadapi masalah perempuan lebih mengutamakan perasaaan dibanding laki-laki yang menggunakan logikanya. Selain itu perempuan lebih peka terhadap emosinya yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan cemasnya.

c. Karakteristik Responden Menurut Pendidikan

Tabel 3 Karakteristik Responden Menurut Pendidikan (N=39)

Hasil penelitian ini bahwa mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 17 responden (43,6%). Sejalan dengan hasil penelitian Simanjuntak (2009) pendidikan pasien yang menjalani vitrektomi mayoritas SMA sebanyak 14 responden (73,7%). Berpendidikan menengah memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang berpendidikan tinggi. Kecemasan pasien yang berpendidikan menengah memang beralasan karena

ketidaktahuan mereka tentang operasi (Frost et al, 2009). Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan responden tersebut terhadap pemeliharaan kesehatan dan juga tingkat kecemasan dalam menghadapi stressor kecemasan (Kusmarjathi, 2009).

Pendidikan dapat mempengaruhi sesorang temasuk akan pola hidup terutama akan motivasi untuk sikap berperan serta dalam membangun kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah menerimah informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang harus diperkenalkan (Abubakar, 2010). Tingkat pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stressor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus (Lutfa dan Maliya, 2010). Menurut asumsi peneliti pendidikan responden mempengaruhi tingkat kecemasan, responden yang berpendidikan rendah sulit memahami penjelasan yang sudah diberikan oleh perawat. Responden cenderung bertanya dan berulang-ulang.

d. Tingkat Kecemasan Sebelum

Tabel 4 Tingkat Kecemasan Sebelum (N=39)

Hasil penelitian ini didapatkan sebelum pemberian massase punggung mayoritas responden mengalami tingkat kecemasan sedang sebanyak 21 responden (53,8%). Berdasarkan hasil penelitian dari Yamamoto et al (2016) mengatakan pasien post vitrectomy dengan face down positioning akan mengalami kecemasan. Kecemasan sedang ditandai dengan hasil Kuesioner Kecemasan Sebelum F (%) Tidak Cemas Ringan Sedang Berat Panik - 7 21 11 - - 17,9 53,8 28,2 - Jumlah 39 100

Pendidikan Frekuensi Persentase (%) SD SMP SMA D3/S1 6 13 17 3 15,4 33,3 43,6 7,7 Jumlah 39 100%

(6)

HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) skor 21 – 27.

Respon cemas seseorang tergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi tantangan, harga diri, dan mekanisme koping yang digunakan dan juga mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi kecemasannya antara lain dengan menekan konflik, implus-implus yang tidak dapat diterima secara sadar, tak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya (supresi) (Stuart, 2013). Pasien yang dilakukan tindakan vitrectomy dengan posisi wajah tertelungkup (face down positioning), dapat mengalami kecemasan, walaupun sudah dipersiapkan dengan baik termasuk pemberian penjelasan prosedur dan segala risiko yang dapat terjadi serta informed consent yang ditandatangani pasien (Neno et al., 2012). Selain itu kecemasan yang dialami dapat disebabkan oleh gejala-gejala yang muncul setelah dilakukan pembedahan, diantaranya yaitu rasa nyeri dan gangguan mobilisasi (Morris dkk, 2010).

Respon cemas seseorang tergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi tantangan, harga diri dan mekanisme koping yang digunakan dan juga mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi kecemasannya antara lain dengan menekan konflik, implus-implus yang tidak dapat diterima secara sadar, tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya (Stuart, 2013). Hasil penelitian Bahsoan (2013) serta Amri & Syaifuddin (2012) mengatakan mekanisme atau strategi koping memiliki korelasi dengan kecemasan pada pasien post operasi.

Menurut asumsi peneliti kecemasan sedang yang dialami sebagian besar responden disebabkan karena post vitrectomy dengan face down positioning yang dilakukan merupakan pengalaman pertama serta responden takut matanya tidak akan mengalami perubahan karena face

down positioning merupakan prosedur yang harus dijalani pasien untuk memulihkan mata setelah operasi selesai. Harapan pasien untuk sembuh dan dapat melihat seperti semula sangat tinggi sehingga menimbulkan kekhawatiran atau kecemasan yang berlebih. e. Tingkat Kecemasan Sesudah

Tabel 5 Tingkat Kecemasan Sesudah (N=36)

Hasil penelitian ini didapatkan sesudah pemberian masase punggung sesudah masase punggung mayoritas responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 16 responden (41%). Sejalan dengan hasil penelitian Wuryani (2015) mengatakan sesudah masase punggung mayoritas responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 18 responden (56%). Menurut asumsi peneliti kecemasan responden menjadi kecemasan ringan disebabkan responden merasakan nyaman dan rileks saat diberikan masase punggung sehingga responden lupa dengan kecemasan yang dirasakannya. Kecemasan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai paparan atau sesuatu yang didapatkan.

Kecemasan yang timbul pada pasien dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, pengalaman operasi, mobilisasi dini dan nyeri (Kaplan & Sadock, 2010). Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengelola kecemasan adalah dengan melakukan upaya relaksasi otot (Dalmartha, 2012). Relaksasi otot salah satunya adalah pijatan, merupakan stimulasi kulit tubuh secara umum, dipusatkan pada punggung dan bahu, atau dapat dilakukan pada satu atau beberapa bagian tubuh akan

Kecemasan Sesudah F (%) Tidak Cemas Ringan Sedang Berat Panik 9 16 14 - - 23,1 41 35,9 - - Jumlah 39 100

(7)

memperbaiki sirkulasi darah, dan mengurangi kecemasan dan depresi dan stress (Mahendra & Destarina, 2010). Masase punggung merupakan salah satu intervensi yang relatif mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan (Supliyani, 2017).

Masase punggung sederhana selama 3 menit dapat meningkatkan kenyamanan dan relaksasi klien serta memiliki efek positif pada parameter kardiovaskuler seperti tekanan darah, frekuensijantung dan frekuensi pernafasan (Kozier, 2010). Masase punggung ini tidak dilakukan pada pasien yang mengalami luka terbuka atau bekas insisi operasi bagian anterior, misalnya abdomen. Klien dengan gangguan pernafasan karena posisi prone pada saat dilakukan pijat punggung akan mengakibatkan ekspansi paru menurun (Susilawati & Wisastra, 2013).

Secara fisologis masase punggung merangsang keluarnya hormon endorfin dari lokasi nosiseptor, terminal saraf kornu dorsalis medula spinalis sehingga kecemasan berkurang (Noonan, 2010). Menurut Potter dan Perry (2009) massase punggung bekerja memberikan pengaruh paling baik untuk jangkan waktu yang singkat. Menurut asumsi peneliti masase punggung dapat merangsang keluarnya hormon endorfin serta mempelancar sirkulasi darah dalam tubuh.

f. Perbedaan Kecemasan Sebelum Dan Sesudah Pemberian Masase Punggung Pada Pasien Post Vitrectomy Dengan Face Down Positioning Di Rumah Sakit Kasih Ibu

Tabel 6 Perbedaan Kecemasan Sebelum Dan Sesudah Pemberian Masase Punggung Pada Pasien Post Vitrectomy Dengan Face Down Positioning Di Rumah Sakit Kasih Ibu

Z P-Value

Kecemasan Pre-Post -5,456 0,000 Hasil analisa Hasil analisa uji wilcoxon nilai P value 0,000 sehingga P value < 0,05 maka H0 di tolak dan Ha di terima bahwa

terdapat pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu. Sebelum pemberian masase punggung mayoritas kecemasan sedang berubah menjadi kecemasan ringan setelah pemberian masase punggung sebanyak 14 responden. Adanya pengaruh masase punggung dikarenakan responden sangat kooperatif dan menikmati masase punggung yang dilakukan oleh peneliti.

Sejalan dengan hasil penelitian Chen et al (2013) mengatakan masase punggung

dapat menurunkan kecemasan,

meningkatkan kenyamanan dan respon psikologis pada pasien congestive heart failure. Hasil penelitian Rosfiati dkk (2015) mengatakan masase punggung dapat untuk mengurangi stres psikologis (kecemasan) dan meningkatkan kenyamanan pasien sebelum tindakan coronary angiography. Didukung dengan hasil penelitian Khozin dkk (2018) mengatakan ada pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pada santri kelas II SMP. Hasil penelitian Nugraha dkk (2018) mengatakan masase punggung dapat menurunkan skor kecemasan pada pasien gagal jantung di ruang rawat inap Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Garut.

Kecemasan merupakan ketegangan yang tinggal secara samar-samar karena merasa takut pada hampir sebagian besar waktunya dan cenderung beraksi secara berlebihan terhadap stres yang ringan sekalipun (Bandiyah & Lukluk, 2011). Menurut Wilkinson dan Nancy, (2011) kecemasan terjadi pada pasien bedah dengan tingkatan tertentu ringan, sedang, maupun berat.

Masase punggung mampu

merelaksasikan beberapa kumpulan otot di area punggung yang akan merangsang sistem limbik di hipotalamus untuk mengeluarkan Corticotropin Releasing Factor (CRF). Substansi tersebut akan

(8)

menstimulasi hipofisis untuk meningkatkan sekresi endorfine dan Pro Opioid Melano Cortin (POMC) yang akan meningkatkan produksi ensefalin oleh medula adrenal sehingga akan mempengaruhi suasana hati dan memberikan perasaan rileks. Setiap teknik relaksasi akan menstimulasi sekresi endorfin di otak (Black, & Hawks, 2009; Nugraha dkk, 2017). Perasaan nyaman baik secara fisik maupun psikologis merupakan respon dari pengeluaran hormon endorfine (Moss et al, 2012).

Masase punggung dapat menstimulasi peningkatan endorfin. Relaksasi akan memicu pengeluaran hormon Endorfine. Hormon tersebut berbentuk polipeptida yang mengandung 30 unit asam amino yang mengikat pada reseptor opiat di otak, Hormon ini bertindak seperti morphine, bahkan dikatakan 200 kali lebih efektif dari morphine. Endorfine mampu menimbulkan perasaan euforia, bahagia, nyaman, menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati seseorang hingga membuat seseorang relaks. Relaksasi akan memicu limbik sistem dan memicu hipotalamus untuk mensekresikan endorfin. Dalam kondisi tersebut maka konsentrasi endorfin di otak akan meningkat (Nugraha dkk, 2018).

Peningkatan endorfin di otak akan menciptakan perasaan rileks secara fisik, dengan meningkatnya endorfin maka sekresi kortisol akan ditekan sehingga pasien akan merasakan sensasi rileks secara psikologis. Peningkatan endorfin setelah dilakukan masase punggung akan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah yang berimplikasi pada perbaikan sirkulasi dimana terjadi perbaikan suplai oksigen dan energi. Selain itu, perasaan rileks akan menurunkan laju metabolisme serta menurunkan kebutuhan energi. Peningkatan endorfin akan diikuti dengan penekanan kortisol secara simultan. Dengan menurunnya kortisol maka akan mengurangi

masalah psikologis seperti depresi dan kecemasan (Chen, Liu, Yeh, Chiang, Fu, & Hsieh, 2013; Nugraha, Fatimah, & Kurniawan, 2017).

Menurut asumsi peneliti, pemberian masase punggung merupakan salah satu tindakan untuk menurunkan kecemasan pada pasien post vitrectomy dengan face down positioning. Responden pada penelitian ini pasien post vitrectomy dengan face down positioning yang belum pernah melakukan prosedur operasi sebelumnya. Kecemasan pada responden terjadi bervariasi dari ringan sampai berat. Untuk itu perlu mengkaji psikologis pasien post vitrectomy dengan face down positioning. Kecemasan pada pasien post vitrectomy dengan face down positioning harus segera diatasi, jika tidak akan memberikan dampak kepada perubahan fisiologis, terutama perubahan system kardiovaskular sehingga menimbulkan dada berdebar-debar, peningkatan tekanan darah. Akibatnya dapat menambah lama perawatan selain itu terjadinya komplikasi post vitrectomy yaitu tidak terjadi perbaikan lubang makula idiopatik.

Masase punggung akan memberikan kenyaman untuk pasien yang didapatkan dari sentuhan tangan yang diberikan dipunggung pasien sehingga peredaran darah disekitar akan lancar selain itu akan merasngsang keluarnya hormon endorfin sehingga kecemasan berkurang. Masase punggung sangat cocok diberikan karena posisi pasien post vitrectomy akan diberikan intervensi face down positioning yang berarti posisi punggung akan berada diatas sehingga memudahkan untuk diberikan masase.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down

(9)

positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil karakteristik rata-rata usia adalah 51,08 tahun, karakteristik jenis kelamin responden mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 17 responden (53,1%), karakteristik pendidikan mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 17 responden (43,6%).

2. Tingkat kecemasan responden sebelum masase punggung mayoritas responden mengalami tingkat kecemasan sedang sebanyak 21 responden (53,8%).

3. Tingkat kecemasan responden sesudah masase punggung mayoritas responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 16 responden (41%).

4. Terdapat pengaruh masase punggung terhadap tingkat kecemasan pasien post vitrectomy dengan face down positioning di Rumah Sakit Kasih Ibu dengan p value = 0,000.

SARAN

1. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan masase punggung dapat menjadi bahan masukan untuk pengaplikasian dalam asuhan keperawatan pasien post vitrectomy dengan face down positioning yang mengalami kecemasan dengan cara memberikan pelatihan masase punggung pada perawat

2. Bagi Perawat

Diharapkan perawat dapat berkolaborasi dengan fisioterapi atau melakukan pelatihan masase punggung untuk memberikan intervensi pada setiap pasien post vitrectomy dengan face down positioning untuk mengurangi kecemasan 3. Bagi Institusi Pendidikan

Pendidikan keperawatan hendaknya mengembangkan, memberikan materi dan melatih kemampuan mahasiswa dalam melakukan masase punggung sebagai intervensi untuk menurunkan

kecemasan klien pada waktu mahasiswa praktik.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Perlunya penelitian lanjutan berkaitan dengan penanganan dampak psikologis pasien post vitrectomy dengan face down positioning dengan mengembangkan intervensi selain masase punggung atau menambah kelompok kontrol selain itu juga dapat menguji efektivitas masase punggung terhadap penyakit lain atau kondisi pasien yang lain dengan memperhatikan latarbelakang demografi dan budaya pada populasi yang akan diteliti serta menambahkan kelompok kontrol dalam penelitian.

5. Bagi Peneliti

Penelitian ini menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang menurunkan tingkat kecemasan post vitrectomy dengan face down positioning dengan memberikan masase punggung. DAFTAR PUSTAKA

Amri, K, Saefudin, M.(2012).Strategi koping pasien dalam menghadapi kecemasan pre operasi di ruang rawat inap RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan',Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan

Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.http://www.eskripsi.sti kesmuh-pkj.ac.id. Diakses 20 Juni 2019

Aryani, Y. (2015). Pengaruh masase pada punggung terhadap intensitas nyeri kala 1 fase laten persalinan normal melalui peningkatan kadar endorfin. Jurnal Kesehatan Andalas. 2(5):11-20

Asmadi. (2009). Tehnik prosedural keperawatan: Konsep dan applikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika

Bahsoan, H (2013),.Hubungan mekanisme koping dengan kecemasan pasien

(10)

pre operasi di ruang perawatan bedah RSUD Prof Dr Aloei Saboe Kota Gorontalo.Universitas Negeri Gorontalo.http://eprints.ung.ac.id. Diakses 20 Juni 2019

Bandiyah, Siti, Lukluk Z.(2011).Psikologi kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Black, M. J. & Hawks, H.J., (2009).Medical surgical nursing: clinical management for continuity of care, 8th ed. Philadephia: W.B. Saunders Company

Chen, W.L. (2013). Effect of back massage intervention on anxiety, comfort, and physiologic responses in patients with congestive heart failure. The Journal of Alternative and Compelentary Medicine. 4(19) 464-470

Daryanti.(2016). Pengaruh Terapi Guide Imagery Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Bedah Operasi Mayor Di Ruang Bedah RSUD Karanganyar.Skripsi. http://www.digilib.stikeskusumahus ada.ac.id. Diakses Tanggal 2 Juni 2019

Departemen Kesehatan RI. (2009). Kategori usia. http://kategori-umur-menurut-Depkes.html.Diakses Pada Tanggal 2 Juni 2019

Eddy R, Elly N, Yulia Y .(2015).Pengaruh pijat punggung terhadap tingkat kecemasan dan kenyamanan pasien angina pektoris stabil sebelum tindakan angiografi koroner. Jurnal Keperawatan Indonesia, 18(2):102-113

Kane R, Roberts CM, Bishop B, Cross D, Fenton J, Hart B. (2010).The prevention of anxiety and depression in children from disadvantaged schools. Behavior research and therapy. 48(1):68-73

Kaplan, H.I. dan Sadock, B.J. (2010). Sinopsis psikiatri. jilid 2, edisi VII. Jakarta : Binarupa Aksara

Kemenkes RI. .(2014).Profil kesehatan indonesia tahun 2014.Jakarta : Kemenkes RI

Kemenkes RI.(2015).Rencana strategis kementerian kesehatan tahun 2015-2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Khozin M, Happy H,

Saelan.(2018).Pengaruh Masase Punggung Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Santri Kelas II SMP Di Pondok Pesantren Imam Bukhori Gondangrejo Karanganyar. http://digilib.stikeskusumahusada.a c.id. Diakses 2 Juli 2019

Kim Y, Tyler R, Sung K.(2017).Trends of pars plana vitrectomy rates in south korea: a nationwide cohort study.

Korean J Ophthalmol

2017;31(5):446-451

Kozier, E., Berman & Snyder, (2010). Buku ajar fundamental keperawatan. 7 ed.Jakarta: EGC

Kusmarjathi, NI Ketut. (2009). Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Apendictomy di RSUD Sarjiwangi Gianyar.http://pdii.lipi.go.id.Diakse s 19 Juni 2019

Lowdermilk, D, L., Perry Shannon E., Cashion Kitty. (2013). Buku keperawatan edisi 8 –buku 2, Penerjemah :dr. Felicia Sidartha & dr. Anesia Tania.Elsevier (Singapura) Pte Ltd. Salemba Medika

Maharani, Prahasta, Gustiany.(2016). Trabekulektomi pada glaukoma sekunder pasca vitrektomi pars plana dengan silicone oil intravitreal.Media Medika Muda.1(1):39-48

(11)

Mahendra, B., Destarina, Y. (2009). Massase sendiri. Cet.1 Jakarta : Penebar Plus.

Morris, B.A, et al. (2010). Clinical practice guidelines for early mobilization hours after surgery. Journal of Orthopaedic Nursing.5(11):70-82 Moss, A. S., Wintering, N., Roggenkamp,

H., Khalsa, D. S., Waldman, M. R., Monti, D., & Newberg, A. B. (2012). Effects of an 8-week meditation program on mood and anxiety in patients with memory loss. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 18(1), 48-53.

Mozaffarieh M, Stefan S, Thomas B, and Andreas W.(2012). Mental health measures of anxiety and depression in patients with retinal detachmen. Clin Pract Epidemiol Ment Health. 3(10):69-74

Noonan.T. (2010). Effect of massage therapy techniques on the autonomic nervous system (ANS), endocrine and the other body

systems. Diperoleh

darihttp://www.timnoonan.com.au/ maspap98.htm.Diakses 2 Juli 2019 Nugraha B, Sulastini, Aisyah.(2018)

.Pengaruh Pijat Punggung Terhadap Skor Kecemasan Pada Pasien Gagal Jantung Di Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Garut. Jurnal Kesehatan Holistik (The

Journal of Holistic

Healthcare.12(1):55-59

Nuralita, A., & Hadjam N. (2010). Kecemasan pasien rawat inap ditinjau dari persepsi tentang layanan keperawatan di Rumah Sakit. Anima. Indonesian Psychological journal. 17 (2):21-29 Potter, Patricia A. dan Anne G. Perry. (2009). Fundamental keperawatan

buku 1 ed. 7. Jakarta: Salemba Medika.

Prihyanto.(2011).Pengaruh pemberian infomed consent terhadap kecemasan pre operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal Di RSUD RAA Soewondo Pati. Universitas Negeri Sebelas Maret. https://digilib.uns.ac.id. Diakses 1 Juli 2019

Putu, Sri & Yulia.(2015).Karakteristik Dan Hasil Tindakan Pembedahanpada Pasien Ablasio Retina Regmatogen Di Rsupsanglah Denpasar. https://simdos.unud.ac.id. Diakses 1 Juli 2019

Rosfiati E, Nurachmah E,

Yulia.(2015).Pengaruh pijat punggung terhadap tingkat kecemasan dan kenyamanan pasien angina pektoris stabil sebelum tindakan angiografi koroner. Jurnal Keperawatan Indonesia,18(2):102-113

Sadock ,Benjamin james dan Sadock, Virginia Alcott. (2010). Gangguan ansietas. Dalam : Kaplan & Sadock buku ajar psikiatri klinis. Ed Ke- 2. EGC : Jakarta.

Simanjuntak G.(2009). Surgical result of pseudophakic retinal detachment in cikini hospital-school of medicine christian university of Indonesia Jakarta. Jurnal Oftalmologi Indonesia.7(2):52-61

Simanjuntak G, Asri A, Ari D, Mardiati N.(2018).Cost analysis of vitrectomy under local versus general anesthesia in a developing

country. Clinical

Ophthalmology.2(12):1987–1991 Sinaga RT, Rares L, Sumual.(2016).Indikasi

vitrektomi pada kelainan retina di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) Provisi Sulawesi Utara

(12)

periode Januari– Desember 2014. Jurnal e-Clinic (eCl).4(1):359-362 Soemantri, B, Lestari, R & Triambadha PV

(2012).Pengaruh terapi mengenang masa lalu (reminiscence therapy) terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia di Panti Wredha Pangesti Lawang.Jurnal Keperawatan Indonesia.3(13): 30-32.

Stuart,G.W. (2013).Psyciatric nursing. (edisi 9). Jakarta: EGC

Susilawati, Wisastra B.(2013). Pengaruh masase punggung terhadap kualitas tidur pasien di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD R

Syamsudin SH Kota

Sukabumi.http://jurnal.stikesmi.ac.i d. Diakses 17 Juli 2019

Supliyani E.(2017). Pengaruh masase punggung terhadap intensitas nyeri persalinan kala 1 di Kota Bogor.

Jurnal Bidan “Midwife

Journal”.3(1):22-30

Untari & Rohmawati. (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pada usia pertengahan dalam menghadapi proses menua (aging process). Jurnal Keperawatan AKPER 17 Karaganyar. 1(2):1-9 Wuryani, S., Fatmawati, N., & Aprilia, R.

(2015). Pengaruh terapi relaksasi masase punggung terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi bedah mayor di SMC RS Telogorejo. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 1(1):12-21

Yoshiaki S, Yui S, Tadashi M, Atsuhiro T, Masayuki H.(2017). Patient adherence to the face-down positioning after macular hole

surgery. Clinical

Ophthalmology.2(11):29-34

Yunani Setyandriana.(2010). Vitrektomi pada Pasien dengan Retinopati

Diabetik. Mutiara

Referensi

Dokumen terkait

Belajar Mengajar (KBM) pada Program Studi Teknik Listrik, Teknik Elektronika dan Teknik lnformatika Jurusan.. Teknik Elektro, Semester Genap Tahun Akademik 241212013

[r]

3 Bentuk- bentuk interaksi sosial bersifat asosiatif Pernyataan tentang bentuk interaksi sosial bersifat asosiatif dengan jenis Kerjasama Disajikan pernyataan,

Adapun yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan kemampuan berhitung pembagian bersusun (porogapit) pada materi mengubah bentuk pecahan yaitu menggunakan

2.2 Rerangka Pemikiran Gambar 1 Rerangka Pemikiran Kepemilikan Manajerial Profitabilitas Kepemilikan Institusional Teori Keagenan Teori Keagenan Teori Keagenan

Banyaknya pemilih pemula yang golput atau memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya sudah menjadi sebuah indikasi bahwa pemilih pemula yang juga anggota dalam

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat limpahan kasih sayangNYA maka penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul: “Pengaruh Pemberian

Perlakuan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap variabel tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 35 HST, bobot basah umbi dan bobot kering tanaman