• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TPS BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TPS BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TPS BERBASIS PENDEKATAN

SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS

SISWA KELAS IV

I Nengah Suardika

1

, Ida Bagus Gede Surya Abadi

2

, I Nengah Suadnyana

3 1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa yang membelajarkan pembelajaran TPS (Think-Pair-Share) berbasis pendekatan saintifik dan siswa yang membelajarkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra Tahun Ajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu. Desain penelitian ini menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra dengan jumlah populasi 353 siswa. Sampel diambil dengan teknik Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IVB SDN 18 Pemecutan sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IVB SDN 21 Pemecutan sebagai kelas kontrol dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 43 siswa pada kelompok ekperimen dan 46 orang siswa pada kelompok kontrol. Data tentang hasil belajar IPS di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol dikumpulkan dengan instrumen berupa tes pilihan ganda. Tes hasil belajar IPS diberikan pada saat post test secara tertulis.Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis uji-t dapat diketahui terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa yang membelajarkan pembelajaran TPS (Think-Pair-Share) berbasis pendekatan saintifik dengan siswa yang membelajarkan pembelajaran konvensional (thit = 2,221 > ttabel = 1,671) dengan dk = 87 dan taraf signifikansi 5%. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran TPS (Think-Pair-Share) berbasis pendekatan saintifik berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra Tahun Ajaran 2015/2016.

Kata-kata kunci : model pembelajaran TPS, pendekatan saintifik, hasil belajar pengetahuan

IPS.

Abstract

This research was aims to determine the different significant result of learning outcomes of social sciene between student who gain learning model TPS (Think-Pair-Share) based scientifik approach with students who gain learning model conventional to the student in grade IV of SD graders Mayor Metra Academic Year 2015/2016. Kind of this research was Quasi Experimental Design. This research design used Nonequivalent Control Group

Design. Populations of this research were all the student in grade IV SD graders Mayor

Metra with total of 353 student. Samples were taken with a random sampling technique. Samples in this research is the students grade IV B SDN 18 Pemecutan as a experiment class and the students grade IV B SDN 21 Pemecutan as a class control with amount of each group around 43 students on experimental groups and 46 students on control groups. The result data about learning of social sciene in experimental class as well as in the control

(2)

2

class collected by intruments form of multiple-choise test. Achievement test of social science given at the time of written post test. And then, the data were analyzed by t-test. The result of this research shows that base on t-test analysis can be seen there is a significant difference learning outcomes of social science students who have learning model TPS

(Think-Pair-Share) base scientific approach with the students who receive conventional learning models

(thit = 2,221 > ttabel = 1,671) with dk = 87 and a significance extent 5%. Thus it can be

concluded learning model by TPS (Think-Pair-Share) based scientific approach give significant effect on learning outcomes of social science students in grade IV SD graders Mayor Metra Academic Years 2015/2016.

Key Words: learning model TPS, scientific approach, learning outcomes of social science

knowledge.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan, dalam proses pembelajaran dipandang perlu menggunakan model pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan perkembangan pendidikan yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Berhasil dan tidaknya suatu pendidikan sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang ada. Kurikulum saat ini menuntut perkembangan kualitas pendidikan yang lebih baik dan lebih maju. Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi yang semakin pesat, pemerintah melakukan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah dengan menerapkan kurikulum 2013 yang disusun dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan guna meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan memiliki peranan penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis.

Pendidikan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan tentunya terkait dengan peran guru dalam proses pembelajaran. Kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih pendekatan, model maupun metode pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran

khususnya di sekolah dasar, siswa

diajarkan beberapa mata pelajaran salah satunya adalah mata pelajaran IPS. ‘Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan memberikan pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya” (Susanto, 2014:138). Pada kurikulum 2013 pembelajaran IPS di Sekolah Dasar terkandung dalam tema pembelajaran. Dalam satu tema terdapat beberapa sub tema dan dalam satu sub tema terdiri dari beberapa pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman pada saat melaksanakan PPL-Real, kendala yang muncul adalah proses pembelajaran dilakukan secara teacher centered, yaitu semua kegiatan pembelajaran berpusat pada guru. Walaupun telah menggunakan pendekatan saintifik yaitu pendekatan yang mengedepankan aktivitas siswa dalam mengonstruksi pengentahuannya sendiri secara aktif melalui kegiatan mengobservasi, menanya, mengumpulkan data, menganalisis data, dan mengomunikasikan hasil belajar. Namun hal itu tersebut tidak didukung oleh kemampuan siswa sendiri. Siswa terlihat masih bergantung pada guru dan masih perlu dibimbing untuk membiasakan diri dalam mencari dan membuka wawasannya sendiri. Siswa terkesan tidak memiliki motivasi untuk belajar sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi kurang optimal khususnya dalam pembelajaran IPS. Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran

(3)

3 dengan menggunakan satu metode saja, tetapi guru harus mampu menggunakan beberapa metode mengajar yang dapat menunjang pendekatan saintifik sebagai pendekatan yang utama dalam proses pembelajaran. Guru mempunyai peran yang penting dalam mengarahkan siswa untuk mengimplementasikan pendekatan saintifik. Para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kreatif dalam melibatkan siswa serta

belum menggunakan berbagai

pendekatan/strategi pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi pembelajaran. Disini guru perlu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan dalam belajar.

Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan penelitian sebagai solusi memecahkan permasalahan. Untuk meningkatkan pembelajaran yang optimal, perlu diadakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang minat siswa untuk lebih antusias berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik diharapkan tepat dalam melaksanakan pembelajaran siswa, agar hasil belajar dapat tercapai optimal pada mata pelajaran IPS. Dengan menggunakan model pembelajaran TPS dapat memberikan siswa waktu berpikir, memberi kesempatan memperdalam jawaban yang telah dipikirkan dengan pasangannya, terjadinya tanya jawab yang mendorong pembangunan pengetahuan secara integratif. Dengan demikian model tersebut sangat efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Hal ini dikarenakan model pembelajaran TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mepengaruhi pola interaksi.

Model pembelajaran TPS atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi.

Dalam model pembelajaran

kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan

kepada siswa, tetapi juga harus

membangun pengetahuan dalam

pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri Dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat membandingkan tanya jawab kelompok secara keseluruhan.

Menurut Rusman (2013:202)

menyatakan bahwa, “pembelajaran kooperatif (cooperative learning ) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen”.

Model pembelajaran TPS atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Menurut Trianto (2012:81) menyatakan bahwa, “model pembelajaran TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas”. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.

Model pembelajaran TPS merupakan salah satu dari teknik-teknik pembelajaran Kooperatif. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, menjawab dan membantu satu sama lain. Menurut Trianto (2012:81) menyatakan bahwa, “ ‘Think’ berarti berpikir, dimana dalam tahap ini guru mengajukan pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. ‘Pairing’ berarti berpasangan, dimana dalam tahapan ini guru menugaskan siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan. Interaksi selama waktu yang telah disediakan dapat menyatukan jawaban, suatu pertanyaan

(4)

4 yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. ‘Sharing’ berarti berbagi, dalam tahap ini guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan”.

Pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan khususnya di sekolah dasar dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifiik.

Menurut Daryanto (2014:51),

“Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar siswa secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau merumuskan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.”

Pendekatan Saintifik yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan ilmiah yang mengajarkan peserta didik bahwa apa yang dipelajari dan diperoleh dilakukan dengan indra dan akal pikiran sendiri sehingga mereka mengalami secara langsung dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau merumuskan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep serta informasi yang diperoleh bisa berasal dari mana saja , kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru.

Model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik adalah suatu model pembelajaran yang memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami (berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain) dengan menggunakan

pendekatan saintifik sebagai

pendekatannya. Di dalam proses

pembelajarannya akan menerapkan sintaks model pembelajaran TPS yang di integrasikan/ dipadukan dengan pendekatan saintifik yang menjadi ciri khas dalam kurikulum 2013.

METODE

Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra, dengan memanipulasi variabel bebas dalam pendekatan pembelajaran yang digunakan, sedangkan variabel lain tidak bisa dikontrol secara ketat sehingga desain penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen semu (quasy exsperiment). Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2012:77) yang menyatakan “kuasi eksperimen mempunyai kelompok control, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen”.

Desain eksperimen semu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Equivalent Control Group Design. Menurut Dantes (2012:97) “desain quasy exsperiment sangat sering digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian perilaku (behavioral) lainnya, pada penelitian ini sering digunakan intac group, seperti kelas sehingga menyebabkan randomisasi tidak dapat dilakukan”. Dalam desain ini, subjek penelitian atau partisipan penelitian tidak dipilih secara acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok Kontrol. Jadi, peneliti harus menerima kelas atau subjek yang telah ditentukan oleh sekolah sesuai dengan kebijakan sekolah dengan kata lain peneliti tidak bentuk kelas baru dalam penelitian ini. Rancangan penelitian ini hanya memperhitungkan skor post test saja yang dilakukan pada akhir penelitian atau dengan kata lain tanpa memperhitungkan skor pre test. Hal tersebut didukung oleh pendapat Dantes (2012:97) yang menyatakan “bahwa pemberian pre-test biasanya untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok”.

(5)

5 Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri atas tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pengakhiran eksperimen. Adapun Tahap persiapan eksperimen terdapat beberapa langkah-langkah yang dilaksanakan yaitu, (1) Mempersiapkan sarana pendukung pembelajaran seperti, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), LKS, dan media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. (2) menyusun instrumen penelitian berupa tes hasil belajar siswa. (3) mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan guru kelas dan dosen pembimbing (4) mengadakan validasi instrumen penelitian yaitu tes hasil belajar IPS. Dalam pelaksanaan eksperimen terdapat beberapa langkah yang dilaksanakan yaitu, (1) menentukan sampel penelitian berupa kelas dari populasi yang tersedia. (2) sampel yang telah diambil kemudian diundi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. (3) melaksanakan penelitian yaitu memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen berupa pendekatan saintifik dengan model pembelajaran TPS. Pada tahapan akhir eksperimen terdapat beberapa langkah yang dilaksanakan adalah memberikan post test pada akhir penelitian untuk mengetahui hasil belajar siswa pada masing-masing kelas.

Menurut Sugiyono (2012:80) “ populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra yang terdiri dari 4 Sekolah yaitu: SDPN Tulang Ampian, SDN 18 Pemecutan, SDN 21 Pemecutan, SDN 29 Pemecutan.

Dari populasi yang telah ditentukan maka selanjutnya diambil perwakilan dari populasi tersebut yang dianggap mewakili seluruh populasi. Perwakilan dari populasi yang mewakili seluruh populasi disebut sampel. Menurut Sugiyono (2012:81) “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”

.

Dalam melakukan pemilihan sampel penelitian, tidak dapat dilakukan

pengacakan individu karena tidak bisa mengubah kelas yang terbentuk sebelumnya dan kelas IV yang akan dijadikan sampel berada di sekolah yang berbeda.

Berdasarkan karakteristik populasi dan tidak bisa dilakukan pengacakan individu, maka pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling, tetapi yang dirandom adalah kelas.

Pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling dengan cara undian. Seluruh populasi yang berada di Gugus Mayor Metra diundi untuk mendapatkan dua kelas. Untuk membuktikan bahwa ke dua kelas tersebut setara, dilakukan uji kesetaraan dengan menggunakan uji-t. Uji kesetaraan dengan menggunakan nilai Pre Test. Sebelum menggunakan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

Hasil uji normalitas untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan

menggunakan rumus Chi-Square.

Berdasarkan perhitungan hasil uji normalitas nilai pre test kelompok eksperimen X2

hitung = 3,02 dan X2tabel = 11,070, karena X2

hitung < X2tabel (3,02 < 11,070) maka data berdistribusi normal. Berdasarkan perhitungan hasil uji normalitas nilai pre test kelompok kontrol X2

hitung = 5,72 dan X2tabel = 11,070, karena X2

hitung < X2tabel (5,72 < 11,070) maka data berdistribusi normal.

Uji homogenitas untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan uji F. Berdasarkan uji homogenitas Fhitung = 1,19 dan Ftabel = 1,65, karena Fhitung < Ftabel maka data homogen. Karena data nilai pre test untuk kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal dan homogen dilanjutkan dengan melakukan uji kesetaraan dengan uji-t.

Berdasarkan hasil analisis thitung = 0,72 dan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan dk (n1 + n2) – 2 adalah 1,671. Sehingga

thitung kurang dari ttabel maka kedua kelompok

penelitian ini setara. thitung < ttabel = (0,72 < 1,671). Sehingga thitung kurang dari ttabel maka kelas IVB SDN 18 Pemecutan dan kelas IVB SDN 21 Pemecutandinyatakan setara.

(6)

6 Dari dua kelas tersebut diundi kembali untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah diundi terpilih kelas IVB SDN 18 Pemecutan sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik sedangkan yang terpilih sebagai kelas kontrol yaitu kelas IVB SDN 21 Pemecutan yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Menurut Sugiyono (2012:38) variabel penelitian pada dasarnya adalah “segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan”. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel bebas sering disebut juga sebagai variabel independen atau prediktor. Menurut Sugiyono (2012:39) menyatakan, “bahwa variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya dan timbulnya variabel dependen (terikat)”.Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Model Pembelajaran TPS berbasis Pendekatan Saintifik yang nantinya akan diterapkan pada kelas eksperimen yang terpilih. Sedangkan kelompok kontrol dikontrol dengan menggunakan model pembelajaran konvensional berbasis pendekatan saintifik yang biasa digunakan oleh guru dam mengajar sehari- hari di sekolah.

Variabel terikat sering disebut juga variabel dependen atau kriteria. Sugiyono (2012:39) menyatakan, “variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar pengetahuan IPS.

Dalam pelaksanaan penelitian ini, data yang dikumpulkan adalah data hasil belajar pengetahuan IPS. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes. ”Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian” (Sudijono, 2015:66). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra.

Data tentang hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

diperoleh setelah melaksanakan pembelajaran melalui tes akhir. Jenis tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk tes hasil belajar objektif dalam bentuk pilihan ganda biasa dengan 4 pilihan jawaban. Menurut Arikunto (2012:183) tes pilihan ganda adalah tes yang terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options). Tes disusun oleh mahasiswa, guru serta melalui bimbingan dari dosen pembimbing.

Pada suatu penelitian ilmiah alat pengumpul data yang digunakan harus memenuhi persyaratan. Tes hasil belajar IPS sebelum digunakan terlebih dahulu diuji cobakan untuk mengetahui uji validitas, reliabilitas, daya beda, dan indeks kesukaran.

Validitas adalah mutu yang paling penting bagi setiap tes. Validitas berarti sejauh mana ketepatan dan kecepatan suatu istrumen dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Gay (dalam Darmadi, 2014:159), suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validitas tes objektif ditentukan melalui analisis butir berdasarkan koefisien korelasi point biserial (rpbi), karena tes bersifat dikatomi.

Dari perhitungan dengan rtabel = 0,284

terdapat 13 soal yang nilai r hitungnya kurang dari rtabel sehingga soal dinyatakan

tidak valid dan 32 soal yang nilai r hitungnya lebih dari rtabel sehingga

dinyatakan valid.

Selain uji validitas, syarat lainnya adalah uji reliabilitas. Reliabilitas sama dengan konsisten atau keajekan. “Suatu instrumen penelitian dikatakan reliabilitas apabila yang dipakai mengukur apa yang seharusnya diukur digunakan kapanpun dan bilamanapun hasilnya sama” (Darmadi, 2014:166). Uji reliabilitas dilakukan terhadap butir soal yang valid saja, dengan demikian uji reliabilitas bisa dilakukan setelah dilakukan uji validitas. Uji reliabilitas tes yang bersifat dikotomi dan heterogen ditentukan dengan rumus Kuder Richardson20 (KR-20). Uji reliabilitas dilakukan terhadap 32 soal. Dalam pemberian interpretasi terhadap koefesien reliabilitas tes r11 pada umumnya digunakan

(7)

7 patokan sebagai berikut : (1) Apabila r11

sama dengan atau lebih besar daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji realibilitasnya dinyatakan telah reliabel, (2) Apabila r11 lebih kecil daripada 0,70

berarti tes hasil belajar yang sedang diuji realibilitasnya dinyatakan unreliabel. Berdasarkan analisis uji reliabilitas diperoleh r11 = 0,88 dan r tabel = 0,70

sehingga r11 lebih dari r tabel (0,88 > 0,70)

maka tes tergolong reliabel.

Menurut Arifin (2009:273) “Daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum/kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu

.

Daya pembeda (DP) dari sebuah butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara testi (siswa) yang mengetahui jawabannya dengan benar dengan testi (siswa) yang tidak dapat menjawab soal tersebut (testi yang menjawab salah). Semakin tinggi koefisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peserta didik yang menguasai kompetensi dengan peserta didik yang kurang menguasai kompetensi.Soal yang valid yaitu sebanyak 32 soal kemudian dilakukan uji daya pembeda. Berdasarkan uji daya beda terdapat 5 soal dengan kriteria jelek, 14 soal dengan kriteria cukup, 12 soal dengan kriteria baik dan 1 soal dengan kriteria baik sekali. Soal dengan kriteria jelek ini kemudian dibuang.

Tingkat kesukaran dapat dipandang sebagai kesanggupan atau kemampuan siswa menjawab tes yang diberikan. Bisa juga dikatakan bahwa tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan proporsi peserta tes yang menjawab betul butir soal yang diberikan.Sudah atau belum memadainya derajat kesukaran item tes hasil belajar dapat diketahui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat kesulitan dari item tersebut Uji tingkat kesukaran dilakukan pada 27 soal yang telah diuji validitas dan daya pembedanya. Setelah dilakukan uji tingkat kesukaran, terdapat 3 soal dengan kriteria sukar, 20

soal dengan kriteria sedang dan 4 soal dengan kriteria sukar.

Pada teknik analisis data, sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas menggunakan analisis Chi-Square dan uji homogenitas varians dengan menggunakan uji F.

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah uji hipotesis dengan statistik parametrik bisa dilakukan atau tidak. Untuk mengetahui hasil belajar IPS

siswa masing-masing kelompok

berdistribusi normal atau tidak.

Kriteria pengujian, jika

2

2

hit

dengan taraf signifikansi 5% (dk = jumlah kelas dikurangi parameter, dikurangi 1), maka H0 diterima yang berarti

data berdistribusi normal.

Uji homogenitas dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok.

Kriteria pengujian tolak H0 jika

11, 21

n n

hit

F

F

, uji dilakukan pada taraf signifikansi 5% maka data yang dianalisis homogen.

Data yang telah diuji normalitas dan homogenitas kemudian diuji hipotesisnya. Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji-t dengan rumus polled varians.

Dengan kreteria pengujian adalah Ho

ditolak jika ≥ , didapat dari tabel distribusi t pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2 - 2) dan Ha ditolak jika thitung< ttabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil belajar IPS pada kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik diketahui rata-rata = 78,46, standar deviasi = 8,24, varians = 67,85, skor maksimum = 96, dan skor minimum = 66 sedangkan data hasil belajar IPS pada kelompok kontrol yang dibelajarakan melalui model pembelajaran konvensional diketahui rata-rata = 75,15, standar deviasi = 6,67, varians = 44,44,

(8)

8 skor maksimum = 92, skor minimum = 62. Dapat dikatakan bahwa hasil belajar IPS kelompok eksperimen lebih baik dari hasil belajar IPS kelompok kontrol.

Sebelum dilakukan pengujian hipotestis penelitian , maka terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat analisis. Uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas data yang dikenakan kepada kedua kelompok dan uji homogenitas varians.

Berdasarkan hasil uji normalitas

kelompok eksperimen dengan

menggunakan uji Chi-Square, ditemukan harga Chi-Square hitung X2

hitung = 7,85 harga tersebut kemudian dibandingkan dengan harga Chi-Square tabel dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2

tabel= 11,070 karena x2

tabel > x2hitung maka Ho diterima

(gagal ditolak). Sehingga dapat dikatakan bahwa data hasil belajar IPS kelompok eksperimen dapat dikategorikan berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil uji normalitas kelompok kontrol dengan menggunakan uji Chi-Square, ditemukan harga Chi-Square hitung X2

hitung = 3,55 harga tersebut

kemudian dibandingkan dengan harga Chi-Square tabel taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2

tabel= 11,070 karena x2tabel > x2hitung maka Ho diterima (gagal ditolak). Sehingga dapat

dikatakan bahwa data hasil belajar IPS kelompok kontrol dapat dikategorikan berdistribusi normal.

Uji homogenitas varians dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji F. Berdasarkan hasil uji homogenitas kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh F hitung = 1,52 dan Ftabel = 1,65 sehingga Fhitung kurang dari

Ftabel (1,52 < 1,65) maka data homogen.

Berdasarkan hasil uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan homogenitas varians diperoleh bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t.

Hipotesis dengan uji-t, kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thitung > ttabel dengan derajat kebebasan dk = n1 + n2 - 2 dan α = 5%. Uji t dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Post Test Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

No Kelompok thitung ttabel Keterangan

1 Eksperimen 2,221 1,671 H0 ditolak

2 Kontrol

Berdasarkan perhitungan uji-t menunjukkan thitung = 2,221 dan ttabel 1,671 untuk dk = 87 dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan kriteria pengujian, thitung > ttabel (2,221 > 1,671) maka H0 ditolak dan Ha

diterima. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik dengan siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra tahun ajaran 2015/2016.

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran TPS berbasis pendekatan

saintifik memiliki pengaruh yang berbeda secara signifikan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian, model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik dapat direkomendasikan dalam membelajarkan siswa khususnya pada kegiatan pembelajaran yang berisi muatan materi IPS. Kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik dengan model pembelajaran konvensional memberikan hasil belajar yang berbeda pada siswa karena baik model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik maupun model pembelajaran konvensional berpusat

(9)

9 pada siswa serta berbasis pada pendekatan saintifik sebagai ciri khas dalam kegiatan pembelajaran Kurikulum 2013, hanya saja langkah-langkah pada kegiatan pembelajarannya yang berbeda. Selain itu, masing-masing model tersebut memiliki kelebihan dalam membelajarkan siswa

.

Model pembelajaran TPS atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Pembelajaran IPS yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS yaitu Tahap (1) pendahuluan (kegiatan awal), Tahap (2) Think / berpikir , Tahap (3) Pairing / berpasangan atau berkelompok dan Tahap (4) Sharing / berbagi (perwakilan kelompok berbagi hasil diskusinya), Tahap (5) pemberian penghargaan (kegiatan inti pada konfirmasi) dapat memberikan pengaruh pola interaksi siswa dan cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas yang memiliki prosedur ditetapkan secara eksplisit memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami (berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain) sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan. Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS yaitu (1) Model ini dengan sendirinya memberikan kesempatan yang banyak kepada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. (2) Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. (3) Antara sesama siswa dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. (4) Siswa dapat mengembangkan ketrampilan berfikir dan menjawab dlam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. (5) Keaktifan siswa akan meningkat, karena kelompok yang dibentuk tidak gemuk, dan masing- masing siswa dapat dengan leluasa mengeluarkan pendapat mereka.

Hasil penelitian ini diperkuat penelitian yang dilakukan oleh Krisnayati (2013) yang hasil penelitiannya menunjukkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Gugus Letda Made Putra Kecamatan Denpasar Utara Tahun Ajaran 2012/2013.

SIMPULAN DAN SARAN

Hasil belajar pengetahuan IPS kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik pada siswa kelas IV SD Negeri Gugus Mayor Metra tahun ajaran 2015/2016 diperoleh rata-rata sebesar 78,46. Hasil belajar pengetahuan IPS kelompok eksperimen yang termasuk kategori sangat baik sebanyak 29 siswa atau sebesar 67% dan kategori baik sebanyak 14 orang atau sebesar 33%.

Hasil belajar pengetahuan IPS kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Negeri Gugus Mayor Metra tahun ajaran 2015/2016 diperoleh rata-rata sebesar 75,15. Hasil belajar pengetahuan IPS kelompok eksperimen yang termasuk kategori sangat baik sebanyak 25 siswa atau sebesar 54%, kategori baik sebanyak 21 orang atau sebesar 46%.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, diperoleh thitung = 2,221 dan dalam taraf signifikansi

5% dengan derajat kebebasan 87 diperoleh ttabel = 1,671. Dengan membandingkan hasil

thitung dan ttabel yaitu (2,221 > 1,671) dapat

disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan hasil perhitungan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPS antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TPS berbasis pendekatan saintifik dengan siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional siswa kelas IV SD Gugus Mayor Metra tahun ajaran 2015/2016.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru hendaknya dapat menambah wawasannya mengenai inovasi

pembelajaran sehingga mampu

(10)

10 pembelajaran di kelas secara lebih inovatif dan bervariasi agar dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar pengetahuan siswa, , kepada kepala sekolah disarankan hendaknya dapat berkontribusi penuh dalam meningkatkan kualitas serta mengoptimalkan proses pembelajaran

,

kepada peneliti lain disarankan agar dapat mengembangkan berbagai model pembelajaran lain pada subyek penelitian yang berbeda sehingga proses pembelajaran IPS dapat berlangsung optimal dan memberikan dampak positif bagi hasil belajar pengetahuan IPS siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Zainal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian. Yogyakarta. CV Andi Offset.

Darmadi, Hamid. 2014. Metode Penelitian dan Sosial. Bandung: Alfabeta.

Daryanto. 2014. Pendekatan

Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media. Krisnayati, Ni Putu. 2013. “Pengaruh Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Terhadap Prestasi Belajar Materi Cahaya dalam Mata Pelajaran IPA Siswa Kelas V SD Gugus Letda Made Putra Kecamatan Denpasar Utara Tahun Ajaran 2012/2013”. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha.

Rusman. 2013. Model-model

pembelajaran. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.

Sudijono, Anas. 2015. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.

Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan pendekatan saintifik dapat meningkatkan hasil belajar hasil belajar tema tempat tinggalku pada siswa kelas IV SD Negeri Winong, Kecamatan Penawangan,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pengaruh penerapan penerapan saintifik terhadap hasil belajar tema tempat tinggalku pada siswa kelas IV SD Negeri Winong,

Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran teks ulasan film/drama melalui pendekatan saintifik berbasis teks di kelas XI IPS SMA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh penerapan model pembelajaran kontekstual berbasis cartoon art terhadap hasil belajar IPS siswa kelas 3

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (i) penerapan pendekatan saintifik pada mata pelajaran IPS yang terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya yang relevan pada siswa kelas IV SD

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD setelah diterapkannya pendekatan saintifik melalui

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio dapat meningkatkan hasil belajar IPA dan sikap spiritual siswa kelas IV SDN

Penelitian ini bertujuan untk mengetahui apakah terdapat pengaruh pendekatan scientific dan model pembelajaran think pair share (PS-MP TPS) terhadap hasil belajar IPS siswa