• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.PENGERTIAN PERPUSTAKAAN

Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu pustaka artinya kitab, buku (Depdikbud, 1980). Menurut Lasa Hs ( 2009 : 262) “perpustakaan dalam bahasa Arab disebut maktabah, bibliotheca (B. Italia), bibliotheque (B.Perancis), bibliothek ( B. Jerman)”. Perpustakaan merupakan sistem informasi yang

dalam prosesnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan,

pengawetan, pelestarian, dan penyajian.

Menurut Suwondo Atmodjahnawi ( 1982 : 2) “perpustakaan adalah suatu koleksi buku-buku dan bahan-bahan bukan buku (non book materials) dalam suatu bangunan (gedung ) yang mewadahinya, yang telah siap untuk dimanfaatkan bagi siapa saja yang memerlukannya”.

Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan merupakan suatu tempat untuk mewadahi segala sumber informasi baik secara tertulis maupun terekam dengan adanya suatu kegiatan yang terorganisir seperti kegiatan pengadaan, pengolahan, pelayanan serta manajemen yang baik dan pada akhirnya informasi tersebut dapat sampai ke tangan pengguna yang memerlukan.

Menurut Andoyo (2007 : 3) dalam Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin ( 2008 : 142), tujuan perpustakaan adalah membantu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai hidup

(2)

commit to user

mahasiswa, dosen dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu perpustakaan merupakan tempat orang-orang yang mempunyai intelektualitas serta orang yang haus akan adanya informasi pun pada jaman yang telah berkembang seperti saat ini.

2.2.PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Menurut Suwondo Atmodjahnawi ( 1982 : 3) menyatakan bahwa “Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang merupakan pusat kegiatan belajar dari mahasiswa serta merupakan sumber informasi bagi tenaga pengajar dan peneliti. Peranan perpustakaan perguruan tinggi berperan sebagai unit sarana kelengkapan pusat suatu perguruan tinggi, yang bersifat akademis dalam menunjang Tridharma Perguruan Tinggi yaitu, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat”.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, perpustakaan perguruan tinggi juga ikut andil dalam perannya untuk mengembangkan layanannya yang berbasis teknologi sehingga memudahkan dalam mengembangkan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah. Untuk itulah fasilitas layanan mandiri menjadi kunci dalam pencarian informasi yang mudah kepada pengguna. Agar nantinya dalam proses penelitian ilmiah dapat berjalan lancar dengan ditunjangnya berbagai informasi dari koleksi yang ada di perpustakaan perguruan tinggi, maka sebuah perguruan tinggi harus mampu memberikan mutu kualitas layanan yang terbaik dan juga sangat efisien terhadap waktu yang dimilikinya.

2.3.PERPUSTAKAAN DAN TEKNOLOGI INFORMASI

Penerapan teknologi informasi ( TI ) di perpustakaan merupakan wujud dari suatu perubahan layanan. Perubahan inilah yang mendorong

(3)

commit to user

perpustakaan untuk melakukan modernisasi dan menerapkan layanan berbasis teknologi dalam transaksi kesehariannya. Dari awalnya muncul sebuah perpustakaan layanan yang diberikan pun akan sesuai dengan perkembangan jaman, yang dulunya layanan manual, kemudian layanan digital, layanan virtual bahkan sampai layanan mandiri berbasis teknologi. Dalam Online Dictionary for Library and Information Science (ODLIS) oleh Joan M. Reitz mengatakan bahwa “information technology is A very broad term encompassing all aspects of the management and processing of information by computer, including the hardware and software required to access it”. Teknologi informasi adalah sebuah istilah yang sangat luas mencakup semua aspek pengelolaan dan pengolahan informasi oleh komputer, termasuk perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mengaksesnya.

Perpustakaan sebagai lembaga dari segala sumber informasi dan merupakan pengelola informasi seharusnya telah terjamah penerapan teknologi informasi yang telah berkembang dengan pesat. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa dilihat dari perkembangan jenis pelayanan yang diberikan yang selalu berkaitan dengan teknologi.

Menurut Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin ( 2008 : 33) penerapan informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut :

2.3.1. Teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi

(4)

commit to user

diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.

2.3.2. Teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.

Dengan demikian perpustakaan yang identitasnya berhubungan dengan pemberian layanan yang dilakukan oleh pustakawan. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi yang hadir, maka pengelolaan perpustakaan dapat terbantu dengan hadirnya teknologi

informasi. Bahkan teknologi informasi menjadi peran dalam

perkembangan perpustakaan. Untuk itulah teknologi informasi sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah perpustakaan. Jika melihat fungsi teknologi informasi dapat diterapkan dalam berbagai proses pelayanan, maka alangkah baiknya teknologi tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

2.4.LAYANAN SIRKULASI

Pelayanan perpustakaan merupakan suatu unit usaha yang memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan. Menurut Moenir (1998 : 16) dalam Khoirul Maslahah (2013 : 184) menyatakan bahwa

“Pelayanan adalah suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung, aktivitas yang dimaksud adalah

(5)

commit to user

suatu proses penggunaan akal, pikiran, panca indra dan anggota badan dengan atau tanpa alat bantu yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan baik dalam bentuk barang maupun jasa”.

Pelayanan yang paling utama dilihat oleh pengguna adalah pelayanan sirkulasi. Pelayanan ini merupakan pemberian layanan yang berinteraksi langsung dengan pengguna perpustakaan. Apalagi jika fasilitas layanannya berbasis teknologi, maka pengguna sendirilah yang akan terlibat dengan melakukan transaksi peminjaman maupun pengembalian buku.

Menurut Lasa Hs ( 1995 : 1) “pelayanan sirkulasi adalah mencakup semua bentuk kegiatan pencatatan yang berkaitan dengan pemanfaatan, penggunaan koleksi perpustakaan dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pengguna jasa perpustakaan”. Berdasarkan pakar yang lain yaitu Khoirul Maslahah (2013 : 222) “layanan sirkulasi merupakan suatu kegiatan rutin dari perpustakaan yang diberikan kepada para pengguna jasa perpustakaan dari proses peminjaman, perpanjangan sampai kepada pengembalian bahan pustaka serta pembayaran denda keterlambatan”.

Sedangkan menurut Abdul Rahman Saleh (1995 : 179) “pelayanan sirkulasi adalah pelayanan yang menyangkut peredaran bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan”.

Berdasarkan definisi diatas sirkulasi merupakan pelayanan bertemunya seorang petugas perpustakaan dengan pengguna untuk melakukan transaksi peminjaman, pengembalian, perpanjangan ataupun

(6)

commit to user

keterlambatan buku dengan membayar denda. Sirkulasi menjadi pelayanan utama bagi sebuah perpustakaan, oleh karena itu layanan sirkulasi harus mempunyai citra yang baik di mata pengguna perpustakaan. Layanan yang diberikan dalam sirkulasi saat ini dituntut mengikuti perkembangan jaman, yaitu perkembangan yang menuntut adanya teknologi didalamnya. Maka dari itu layanan sirkulasi pada jaman sekarang bukan hanya sekedar pengguna memberikan kepada petugas untuk diproses , namun justru pengguna sendirilah yang akan melakukan transaksi proses tersebut.

Agar pengguna jasa perpustakaan dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan baik, maka perlu ditentukan sistem sirkulasi yang jelas. Dengan adanya sistem ini pengguna akan mengetahui peraturan dan tata tertib yang berlaku. Dalam pelayanan sirkulasi terdapat dua sistem yang digunakan yakni sistem tertutup ( close access) dan sistem terbuka ( open access).

Sistem tertutup ( close access) adalah suatu cara peminjaman yang tidak memungkinkan pengguna untuk memilih dan mengambil sendiri

akan koleksi perpustakaan. Koleksinya akan diambilkan

petugas.Sedangkan sistem terbuka (open access) adalah suatu cara pinjam yang memungkinkan pengguna untuk masuk ke ruang koleksi untuk memilih, mengambil sendiri koleksi yang sesuai. Untuk itu pengguna harus mengenal sistem pengelompokan buku yang dianut oleh

(7)

commit to user

perpustakaan. Tanpa mengerti sistem ini mereka akan berputar-putar mengelilingi rak-rak buku untuk menemukan satu judul.

Sistem layanan yang digunakan dalam penerapan layanan sirkulasi berbasis teknologi yaitu layanan mandiri tentunya menggunakan sistem terbuka yang mana segala prosesnya penggunalah yang akan melakukan semuanya sendiri, pengguna hanya tinggal memilih apa yang dibutuhkan.

Menurut Soeatminah (1992 : 17) dalam Khoirul Maslahah (2013 : 185) , suatu pelayanan dikatakan baik apabila dilakukan dengan :

a) Cepat, artinya untuk memperoleh layanan, orang tidak perlu menunggu terlalu lama.

b) Tepat waktu, artinya orang dapat memperoleh kebutuhan tepat pada waktunya.

c) Benar, artinya pustakawan membantu perolehan sesuatu sesuai dengan yang diinginkan.

Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian pelayanan yang baik kepada pengguna harus menerapkan sistem layanan seperti diatas. Memberikan pelayanan yang cepat guna menyingkat waktu pengguna perpustakaan ketika melakukan transaksi tanpa harus menunggu lama serta pemberian layanan tepat pada waktunya tanpa menunda-nunda hal lain yang mendahulukan selain pemberian layanan kepada pengguna. Dan juga benar dalam memberikan pelayanan kepada pengguna yang pengguna butuhkan.

Dengan adanya teknologi yang sedang berkembang terutama saat ini sudah mulai merambah ke perpustakaan, hal macam diatas dapat dilakukan dengan baik. Dengan adanya layanan berbasis teknologi yang disebut layanan mandiri. Pengguna perpustakaan dapat melakukan

(8)

commit to user

transaksi peminjaman maupun pengembalian dengan cepat, tepat waktu, benar dan tentunya pengguna sendiri dapat ikut andil dalam proses layanan transaksi tersebut. Hal inilah yang menjadi kunci suksesnya pemberian layanan dalam sebuah perpustakaan yang memudahkan penggunanaya dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Layanan mandiri yang diberikan adalah untuk transaksi layanan peminjaman dan pengembalian. Karena dalam layanan sirkulasi dua komponen tersebut sangat melekat dan telah menjadi bagian dalam sirkulasi.

2.5.LAYANAN PEMINJAMAN DAN PENGEMBALIAN MANDIRI

2.5.1. Layanan Peminjaman Mandiri ( Self Check )

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 571 dan 625), layanan artinya “membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang”, sedangkan mandiri adalah “keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain”.

Jadi dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

layanan mandiri adalah memberikan suatu fasilitas pelayanan kepada pengguna perpustakaan yang mana bahwa pengguna sendirilah yang akan melakukan layanan tersebut tanpa dilakukan oleh petugas.Layanan mandiri dalam hal peminjaman ini disebut dengan Self Check. Layanan ini digunakan untuk melakukan transaksipeminjaman bahan pustaka oleh pengguna sendiri.

(9)

commit to user

Menurut Bapak Admiko Suharto, SIP selaku Kepala Divisi

ahli TI Perpustakaan menyatakan bahwa Self berarti “sendiri” dan Check berarti “pilihan”. Dari kedua kata tersebut dapat ditarik sebuah definisi bahwa Self Check adalah memilih sendiri yang terdapat di layar monitor. Pengguna perpustakaan ketika melakukan peminjaman buku dapat memilih sendiri apa yang ada dilayar monitor layanan tersebut. Dalam artian bahwa pengguna melakukan pemilihan sendiri dalam melakukan transaksi peminjaman dengan cara pengguna tersebut sebelumnya telah

memilih nomor ID dan pasword miliknya dengan tepat. ( Wawancara dilakukan pada Kamis, 27 Maret 2014 ).

Dalam Kamus Inggris Indonesia (2005 : 388 dan 131) Self

berarti “sendiri atau dirinya” dan Check berarti “memeriksa”. Dapat diartikan bahwa Self Check merupakan layanan untuk memeriksa atau mengecek bahan pustaka yang dilakukan secara sendiri. Artinya bahwa apabila pengguna akan melakukan transaksi peminjaman bahan pustaka terlebih dahulu pengguna harus memeriksakan atau mengecekkan bahan pustaka tersebut dalam sistem Self Check yang telah terprogram dalam suatu sistem yang

nantinya bahan pustaka tersebut secara otomatis dapat

terpinjamkan. Tentunya pengguna dengan terlebih dahulu telah mempunyai kartu anggota perpustakaan tersebut beserta password

(10)

commit to user

dan ID yang telah dipunyai pengguna untuk nantinya bisa melakukan transaksi peminjaman bahan pustaka.

2.5.2. Layanan Pengembalian Mandiri

Sedangkan layanan mandiri untuk pengembalian buku disebut Book Drop. Menurut Bapak Admiko Suharto, SIP selaku Kepala Divisi ahli TI Perpustakan, Book berarti “buku” dan Drop berarti “jatuh”. Berdasarkan arti dua kata tersebut dapat ditarik sebuah definisi bahwa Book Drop adalah buku jatuh. Ketika pengguna perpustakaan melakukan transaksi pengembalian buku, setelah buku dimasukkan dalam sebuah lubang Book Drop maka buku tersebut kemudian jatuh dalam sebuah kotak untuk menampung buku yang dikembalikan.(Wawancara dilakukan pada Kamis, 27 Maret 2014)

Dalam Kamus Inggris Indonesia (2005: 112 dan 177) Book berarti “buku” dan Drop berarti “memasukkan”. Artinya bahwa apabila untuk melakukan transaksi pengembalian, bahan pustaka tersebut dimasukkan dalam sebuah lubang yang berbentuk kotak panjang. Tentunya dengan sistem yang telah terprogram dengan jaringan tersebut, maka secara otomatis buku tersebut sudah dinyatakan kembali dengan munculnya struk pengembalian berhasil.

Dengan demikian maka layanan pengembalian mandiri merupakan layanan mandiri yang dapat digunakan pengguna

(11)

commit to user

perpustakaan untuk mengembalikan bahan pustaka dengan cara pengguna sendirilah yang melakukan transaksi pengembalian tersebut. Layanan pengembalian mandiri ini sangat efektif digunakan apabila pengguna merasa terburu-buru bila ingin melakukan kegiatan yang lain. Untuk itulah penempatan layanan ini pun juga harus disesuaikan secara strategis.

2.5.3. Teknologi untuk Layanan Peminjaman dan Pengembalian

Mandiri

Layanan diatas tentunya yang mempunyai peranan penting dalam pengembalian maupun peminjaman adalah sistem yang telah terprogram. Sistem tersebut menggunakan teknologi RFID yang diletakkan di dalam buku yang mana ketika telah tersensor dengan alat yang dinamakan Tag Reader atau alat yang dapat mendeteksi RFID yang di dalam buku itu telah terbaca, maka proses peminjaman dan pengembalian pun dapat terjadi.

Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin (2008: 158) menyatakan bahwa:

“RFID adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung (dalam jarak

pendek). RFID dikembangkan sebagai pengganti atau

penerus teknologi barcode. Implementasi RFID secara efektif digunakan pada lingkungan manufaktur atau industri yang memerlukan akurasi dan kecepatan identifikasi objek dalam jumlah yang besar serta berada di area yang luas.RFID bekerja pada Hf untuk aplikasi jarak dekat (proximity) dan bekerja pada jarak jauh (vicinity)”.

(12)

commit to user

Saat ini sudah mulai dikembangkan RFID untuk digunakan sebagai bagian layanan di perpustakaan. Cukup dengan meletakkan “pad” maka buku yang akan dipinjam akan terdeteksi secara otomatis. Untuk itulah pengguna dapat menggunakan layanan mandiri unutk peminjaman maupun pengembalian dengan otomatis.

2.5.4. Cara Kerja Sistem Layanan Mandiri

RFID ( Radio Frequency Identification ) adalah teknologi

yang mampu mengidentifikasi suatu objek yang berbasis

gelombang radio. RFID memberikan keunggulan dalam

layanan perpustakaan dibandingkan dengan menggunakan

barcode, dengan RFID ini secara otomatis dapat

menghindarkan dari permasalahan pencurian.

Secara umum ada 3 komponen dalam suatu sistem RFID yang mendukung proses transaksi layanan mandiri yaitu sebagai berikut :

1. Tag RFID, berupa stiker, kertas atau plastik dengan beragam ukuran. Tag RFID ini nantinya yang akan ditempel pada setiap buku agar nantinya dapat terbaca dengan adanya gelombang radio pada RFID.

2. Terminal Reader RFID ( pad staff), terdiri atas RFID reader dan

antena yang akan mempengaruhi jarak optimal identifikasi. Terminal RFID ini akan membaca atau mengubah informasi

(13)

commit to user

yang tersimpan dalam tag melalui frekuensi radio. Terminal RFID ini terhubung langsung dengan

Alat inilah yang dapat membaca RFID yang telah terpasang pada buku tadi sehingga buku tersebut dapat terbaca yang datanya telah terprogram dalam database sistem informasi perpustakaan. Sebagai penghubungnya adalah

atau

terprogram database perpustakaan.

3. Host Komputer,

informasi atau sebagai penghubung dari item

terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi antara Tag RFID dan Terminal reader RFID (

komputer ini terhubung ke jaringan LAN / internet untuk komunikasi dengan server

Cara kerja RFID baik pada

Sumber : http://asdie.blog.binusian.org/files/2009/

yang tersimpan dalam tag melalui frekuensi radio. Terminal RFID ini terhubung langsung dengan sistem

Alat inilah yang dapat membaca RFID yang telah terpasang pada buku tadi sehingga buku tersebut dapat terbaca yang datanya telah terprogram dalam database sistem informasi perpustakaan. Sebagai penghubungnya adalah

atau seperangkat alat komputer yang di dalamnya telah terprogram database perpustakaan.

Host Komputer, adalah sistem komputer yang mengatur alur informasi atau sebagai penghubung dari item

terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi ntara Tag RFID dan Terminal reader RFID (

komputer ini terhubung ke jaringan LAN / internet untuk komunikasi dengan server.

Gambar 1

Cara kerja RFID baik pada Self Check maupun Book Drop

Sumber : http://asdie.blog.binusian.org/files/2009/06/radio-frequency.doc.

yang tersimpan dalam tag melalui frekuensi radio. Terminal sistem Host Komputer. Alat inilah yang dapat membaca RFID yang telah terpasang pada buku tadi sehingga buku tersebut dapat terbaca yang datanya telah terprogram dalam database sistem informasi perpustakaan. Sebagai penghubungnya adalah host komputer seperangkat alat komputer yang di dalamnya telah

adalah sistem komputer yang mengatur alur informasi atau sebagai penghubung dari item-item yang terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi ntara Tag RFID dan Terminal reader RFID (pad staff). Host komputer ini terhubung ke jaringan LAN / internet untuk

Book Drop

(14)

commit to user

Hal tersebut diatas merupakan gambaran umum proses sistem RFID yang digunakan oleh perpustakaan dalam Layanan Mandiri. Proses sistem diatas digunakan oleh salah satu perpustakaan yang menggunakan sistem RFID pada bahan pustaka. Bahan pustaka tersebut telah terpasang RFID yang berupa mikrochip yang di dalamnya berisi informasi berupa angka pada buku berupa barcode atau kode buku yang membedakan buku satu dengan buku lainnya. Kemudian RFID tersebut akan mengirimkan gelombang radio pada jarak tertentu berdasarkan kapasitas jenis RFID dan gelombang radio tersebut akan diterima oleh Terminal Reader untuk dibaca segala informasi yang ada dalam buku tersebut. Terminal Reader telah terhubung dengan Host Komputer yaitu sebuah layar monitor untuk mendukung tampilnya segala informasi mengenai buku tersebut dan Host Komputer tersebut sebelumnya telah terprogram dari sistem database perpustakaan. Untuk nantinya sistem tersebut sampai dan digunakan dalam transaksi peminjaman maupun pengembalian maka harus terhubung dengan jaringan pusat internet. Kemudian pusat internet tersebut akan menyebarkan jaringan tersebut ke jaringan database lain yang berhubungan langsung dengan layanan mandiri yang digunakan. Barulah buku yang telah terpasang RFID dapat dipinjam maupun dikembalikan setelah melalui proses sistem RFID di atas.

(15)

commit to user

2.5.5. Komponen Sistem Layanan Peminjaman Mandiri ( Self

Check)

Sistem layanan mandiri di perpustakaan UII ini telah menggunakan teknologi dalam proses transaksi peminjaman buku. Adanya tawaran

produk Self Check ini yaitu dari 3 M SELFCHECK SYSTEM telah

banyak membantu proses layanan di perpustakaan. Self Check digunakan untuk peminjaman buku secara mandiri. Pengguna sendirilah yang

nantinya akan melakukan transaksi peminjaman buku dengan

menggunakan 3M SELFCHECK SYSTEM tersebut. Komponen dalam 3M SELFHCHECK SYSTEM ini berupa beberapa perangkat yang mendukung untuk dapat melakukan transaksi peminjaman buku. Komponen tersebut sebagai berikut:

1. Barcode reader, alat ini nantinya disorotkan pada barcode yang ada

di buku dengan melakukan scanning pada barcode dan juga ID pada kartu pengguna. Sehingga mengetahui kode masing-masing.

2. Tag reader atau pad staff, alat inilah yang digunakan sebagai alat

pembaca Tag RFID yang telah tertempel pada buku sehingga segala informasi pada tag RFID dapat terbaca melalui gelombang radio.

3. Layar monitor, atau seperangkat alat komputer yang mendukung munculnya segala informasi yang ada pada tag RFID pada sebuah buku. Tentunya perangkat komputer ini telah tersambung dengan program sistem informasi perpustakan yang digunakan yaitu

(16)

commit to user

Simpus UII. Simpus tersebut berisi database mengenai informasi buku yang telah terprogram dan nantinya dapat melakukan transaksi peminjaman buku secara otomatis.

4. Sebuah alat Print Out, alat ini sebagai pencetak hasil informasi dari transaksi yang dilakukan. Alat ini sebagai pendukung bukti bahwa proses tersebut telah dilakukan.

2.5.6. Komponen Sistem Layanan Pengembalian Mandiri (Book

Drop)

Seperti halnya Self Check, Book Drop ini merupakan layanan perpustakaan berbasis teknologi. Layanan ini merupakan layanan mandiri untuk transaksi pengembalian buku secara mandiri. Book drop ini juga merupakan produk dari 3M SELFCHECK SYSTEM. Book Drop digunakan pengguna untuk melakukan transaksi pengembalian buku secara mandiri. Pengguna sendirilah yang nantinya melakukan transaski pengembalian buku. Komponen dalam 3M SELFCHECK SYSTEM pada layanan Book Drop ini berupa beberapa perangkat yang mendukung untuk dapat melakukan transaksi peminjaman buku.

Komponen tersebut sebagai berikut :

1. Sebuah kotak yang berlubang, alat ini nantinya digunakan untuk memasukkan buku ke lubang dengan sistem yang ada di dalamnya , secara otomatis buku tersebut telah dikembalikan.

2. Tag reader, seperti halnya pada Self Check, perangkat Book

(17)

commit to user

membaca tag RFID yang terpasang pada buku. Dengan gelombang radio yang memancar dari tag RFID, maka tag ini dapat terbaca secara otomatis. Alat ini sudah terpasang di dalam seperangkat alat Self Check maupun Book Drop.

3. Komputer, hal ini juga sama dengan Self Check, komputer berperan sebagai program aplikasi perpustakaan yang telah tersambung dengan database sistem informasi perpustakaan. Sehingga segala database informasi dalam tag RFID yang ada dalam buku dapat muncul dalam komputer tersebut.

4. Alat print out, alat ini digunakan untuk mencetak hasil dari proses sebagai bukti bahwa buku tersbut telah dikembalikan, sehingga apabila proses transaksi pemgembalian buku tersebut berhasil ataupun gagal maka alat print out ini sebagai mencetak informasi pengembalian dari transaksi tersebut.

Dari penjelasan di atas bahwa setiap komponen baik Self Check maupun Book Drop mempunyai peran dan tugas masing-masing dalam menjalankan tugasnya dan mendukung proses transaksi peminjaman maupun pengembalian buku. Seperangkat komponen tersebut akan saling berhubungan dan tidak dapat berjalan terpisah. Dan tentunya tanpa adanya jaringan yang menghubungkan komponen tersebut, maka poses sistemnya pun juga tidak dapat berjalan degan lancar. Jaringan yang terhubung dan sistem informasi yang digunakan juga akan mempengaruhi keberjalanan proses Layanan Mandiri. Sehingga baik dari

(18)

commit to user

komponen Layanan Mandiri ataupun jaringan yang terhubung dengan Pusat Data dan sistem informasi harus berjalan seimbang dan beriringan demi efektifnya Layanan Mandiri.

Referensi

Dokumen terkait

Pola gerakan tote di luar ruang iradiasi secara sederhana dapat digambarkan seperti pada Gambar 5. Gerakan tote dari lokasi loading menuju ke ruang iradiasi yang juga

Perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem dalam tiga skala dengan pelbagai komponen dan konsep turunannya, merupakan upaya masyarakat kota untuk mengatur

Sampai dengan bulan September 2014, porsi komitmen pembiayaan untuk investasi tercatat sebesar 84% atau sekitar Rp 3,9 triliun dari total seluruh pembiayaan PT SMI

Rencana pembiayaan investasi bersumber dari sumber-sumber pembiayaan invetasi di Bidang Infrastruktur di Kota Bukittinggi didukung oleh sumber baik dari Pemerintah

Oleh karena itu produk (dalam hal ini lulusan) yang dihasilkan harus senantiasa menyesuaikan dengan tuntutan pelanggan/pasar. Pada kenyataannya tuntutan pasar terkait dengan

Pendahuluan  Kelas di mulai dengan salam dilanjutkan dengan menanyakan kabar peserta didik melalui WhatsApp Group (Religius dan Integritas)..  Menanyakan kabar peserta didik

Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan Klik Menu Pencatatan Aktiva/inventaris Menampilkan form Pencatatan Aktiva/inventaris Dapat melihat tabel Pencatatan

Pas sudah dua bulan kenal, suami omong kalau dia suka sama saya, saya sebenarnya secara pribadi tertarik dengan dia karena yang saya lihat dia orangnya baik hati dan