RENCANA STRATEGIS 2020-2024
i
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT maka dokumen
Rencana Strategi Bisnis Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar
Tahun 2020-2024 dapat diselesaikan. Buku ini merupakan panduan dalam
menyusun perencanaan tahunan Balai Besar Laboratorium Kesehatan
Makassar sehingga pelaksanaan kegiatan operasional diharapkan dapat
berjalan secara efektif dan efisien. Rencana Strategis Bisnis ini disusun
dengan melibatkan seluruh komponen dari unit kerja khususnya dalam
memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan dokumen
ini.
Mudah-mudahan dengan adanya Rencana Strategis Bisnis yang disusun ini
dapat memberikan nuansa baru dalam meningkatkan kinerja Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Makassar ke depan dalam memberikan dukungan
program pada kantor pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Pelayanan
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Disadari bahwa Rencana Strategis Bisnis yang disusun ini masih
membutuhkan penyempurnaan dan pengembangan sesuai dan kondisi yang
terjadi di tahun mendatang. Olehnya itu, perlu penyesuaian sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan program dan kebijakan.
Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Makassar, 31 Desember 2021
Kepala BBLK Makassar
dr. Mujaddid, M.Kes.,[MMR]
NIP. 196505261998031003
ii
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1. 1 Latar Belakang ... 1
1. 2 Tujuan ... 3
1. 3 Dasar Hukum ... 3
1. 4 Sistematika Penyajian ... 5
BAB II KONDISI SATKER ... 6
2. 1 Profil Satker ... 6
2.1.1 Sejarah Singkat BBLK Makassar ... 6
2.1.2 Struktur Organisasi BBLK Makassar ... 9
2. 2 Gambaran Kinerja ... 9
2.2.1 Kinerja Aspek Pelayanan ... 10
A. Jenis Layanan Laboratorium ... 10
B. Kinerja Pemeriksaan KLB dan Surveilans ... 12
C. Kinerja Pemantapan Mutu Eksternal... 12
D. Kinerja Kegiatan Bimbingan Teknik ... 13
2.2.2 Kinerja Aspek Keuangan ... 17
2.2.3 Kinerja Aspek SDM ... 19
2.2.4 Kinerja Aspek Sarana dan Prasarana ... 21
2. 3 Tantangan Startegis ... 24
2. 4 Benchmarking ... 25
2. 5 Analisa SWOT ... 25
2. 6 Diagram Kartesius dan Prioritas Strategis ... 27
2. 7 Analisa TOWS ... 31
2. 8 Analisa dan Mitigasi Risiko ... 34
iii
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.8.2 Penilaian Tingkat Risiko ... 35
2.8.3 Rencana Mitigasi Risiko ... 38
BAB III ARAH DAN PROGRAM STRATEGIS ... 43
3.1. Rumusan Pernyataan Visi, Misi, dan Tata Nilai ... 43
3.2. Arah dan Kebijakan Stakeholders Inti ... 44
3.3. Rancang Peta Strategi Balanced Scorecard (BSC) ... 46
3.4. Matriks IKU ... 47
3.5. Kamus IKU ... 49
3.6. Roadmap 5 tahun kedepan ... 77
3.7. Program Kerja Strategis ... 82
BAB IV PROYEKSI KEUANGAN... 93
4.1. Estimasi Pendapatan ... 93
4.2. Rencana Kebutuhan Anggaran... 93
4.2.1. Anggaran kelangsungan operasional ... 93
4.2.2. Anggaran Pengembangan ... 94
4.3. Rencana Pendanaan ... 96
iv
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 1.
Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Laboratorium Tahun 2015-2019
10
Tabel 2.
Penerimaan BLU BBLK Makassar tahun 2015-2019
11
Tabel 3.
Kinerja Pemerikssan KLB dan Suveilans BBLK Makassar
Periode 2015-2019
12
Tabel 4.
Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) Tahun 2015-2019
dengan BBLK Makassar sebagai Penyelenggara
12
Tabel 5.
Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) Tahun 2015-2019
dengan BBLK Makassar sebagai Penyelenggara
13
Tabel 6.
Bimbingan Teknik yang dilaksanakan BBLK Makassar tahun
2020-2024 berdasarkan lokasi
14
Tabel 7.
Pencapaian target IKU Layanan tahun BBLK Makassar 2020-2024
14
Tabel 8.
Proporsi anggaran BBLK Makassar tahun 2015-2019 berdasarkan
sumber dana
17
Tabel 9.
Target dan realisasi PNBP BBLK Makassar sejak tahun 2015-2019
18
Tabel 10. Pencapaian target IKU Layanan tahun BBLK Makassar 2020-2024
18
Tabel 11. Jumlah Pegawai BBLK Makassar tahun 2015-2019 berdasarkan
pendidikan
19
Tabel 12. Jumlah Kebutuhan Pegawai BBLK Makassar Tahun 2020-2024
berdasarkan pendidikan
21
Tabel 13. Kondisi Sarana Prasarana BBLK Makassar s.d Juni 2019
21
Tabel 14. Faktor-Faktor Internal yang membentuk Kekuatan dan Kelemahan
pada BBLK Makassar
26
Tabel 15. Faktor-Faktor Eksternal yang membentuk Peluang dan Ancaman
pada BBLK Makassar
26
Tabel 16. Penentuan Skor Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang,
dan Ancaman
28
Tabel 17. Analisa TOWS
32
Tabel 18. Jenis Risiko Berdasarkan Sasaran Strategis
34
Tabel 19. Penentuan Tingkat Risiko
36
Tabel 20. Posisi berbagai risiko dalam matriks risiko
38
Tabel 21. Rencana Mitigasi Risiko
39
Tabel 22. Tamplate analisis stakeholders inti
44
Tabel 23. Matriks IKU
48
v
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 25. Program Kerja Strategis Tahunan
82
Tabel 26. Estimasi Pendapatan 2020-2024
93
Tabel 27. Estimasi Anggaran Kelangsungan Operasional 2020-2024
94
vi
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1. Struktur Organisasi BBLK Makassar
9
Gambar 2. Realisasi Penerimaan dari Kegiatan Layanan BBLK
Makassar Per Instalasi tahun 2020-2024
11
Gambar 3. Diagram Proporsi Anggaran BBLK Makassar
Tahun 2015-2019 berdasarkan sumber dana
17
Gambar 4. Target dan realisasi PNBP BBLK Makassar
Sejak tahun 2015-2019
18
Gambar 5. Grafik Jumlah SDM BBLK Makassar berdasarkan
Pendidikan periode 2015-2019
20
Gambar 6. Posisi daya saing BBLK Makassar berdasarkan
Diagram kertesius
30
1
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Rencana Strategis Bisnis Kementerian/Lembaga (RSB–KL) adalah
dokumen perencanaan Kementerian/Lembaga jangka menengah (5 tahun)
yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan
pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga, yang
disusun dengan menyesuaikan kepada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) dan bersifat indikatif. Rencana strategis
mengindikasikan bagaimana suatu organisasi akan dibawa pada masa
mendatang. Renstra yang merupakan perencanaan jangka menengah dan
merupakan bagian dari Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(SAKIP) harus menunjukkan perspektif ke depan yang tercermin dari visi yang
ditetapkan dan sudah seharusnyalah menjadi acuan dalam perencanaan
tahunan
Berdasarkan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah Diktum Kedua, setiap instansi pemerintah sampai tingkat
Eselon II wajib menyusun Rencana Strategis untuk melaksanakan
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai wujud pertanggungjawaban
kinerja instansi pemerintah. Di samping itu, sesuai dengan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
pasal 15 ayat (1) dan pasal 19 ayat (2), setiap kementerian/lembaga wajib
menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra–KL) untuk
menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan dan pengawasan serta menjamin tercapainya penggunaan
sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Pergeseran dari Inpres 7 Tahun 1999 ke Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
tidak sekedar penguatan dari sisi regulasi, namun lebih pada tujuan penyatuan
akuntabilitas kinerja dan keuangan yang sebelum terbit undang-undang
2
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
tersebut masih kurang optimal, terutama dalam menjalankan program
pembangunan yang sudah kita kenal sebagai instrumen kebijakan yang berisi
satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga
untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau
kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional selanjutnya menjadi satu kesatuan tata
cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat
Pusat dan Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN)
tahun 2020 – 2024 dalam kerangka RPJPN 2005 – 2025 memasuki tahapan
keempat, diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri,
maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang
dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh
berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh
SDM berkualitas dan berdaya saing.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
memuat berbagai perubahan mendasar dalam pendekatan penyusunan
anggaran. Perubahan mendasar tersebut, meliputi aspek-aspek penerapan
pendekatan penganggaran dengan perspektif jangka menengah (Medium
Term Expenditure Framework/MTEF), penerapan penganggaran secara
terpadu (unified budget), dan penerapan penganggaran berdasarkan kinerja
(Performance Based Budgeting). Dengan mengacu kepada perubahan
mendasar dalam pendekatan penyusunan anggaran tersebut, akan lebih
menjamin peningkatan keterkaitan antara proses perencanaan dan
penganggaran.
Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tersebut, khususnya pasal 12 ayat (2) dan 14 ayat (6) maka diterbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 202 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA–KL).
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tersebut di atas
3
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
disebutkan bahwa rencana kerja kementerian negara/lembaga periode 1
(satu) tahun yang dituangkan dalam RKA–KL merupakan penjabaran dari
RKP dan Renstra–KL. Dengan demikian dalam tahap implementasinya fungsi
Renstra–KL menjadi sangat penting, karena digunakan sebagai pedoman
dalam penyusunan dokumen perencanaan jangka pendek (1 tahun), yaitu
Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja–KL), dan Rencana
Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA–KL) sebagai lampiran
Nota Keuangan dalam rangka mengantarkan RUU APBN.
1.2.
Tujuan
Penyusunan Rencana Strategi Bisnis BBLK Makassar 2020-2024
bertujuan untuk:
1. Sebagai arah dan panduan yang dapat memfokuskan manajemen pada
pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan sehingga mampu mewujudkan
visi BBLK Makassar dalam kurun waktu lima tahun.
2. Sebagai sarana untuk memfasilitasi terciptanya anggaran yang efektif
3. Sebagai sarana untuk memfasilitasi dilakukannya alokasi sumber daya
yang optimal
4. Sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan strategis dan peningkatan
mutu BBLK Makassar.
5. Sebagai instrumen dalam pengambilan keputusan melalui penetapan
skala prioritas untuk menjamin pelayanan yang produktif, efektif dan
efisien.
6. Sebagai bahan untuk membangun jalinan kerjasama dan kemitraan
dengan stakeholders.
1.3.
Dasar Hukum
Landasan penyusunan Rencana Strategis BBLK Makassar Tahun
2020-2024 adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional.
4
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024
5. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional (SKN)
6. Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan
Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja
Pemerintah.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 375/MENKES/SK/V/2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun
2005-2025.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/422/2017 tahun
2017 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2020-2024 .
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 605/MENKES/SK/VII/2008 tentang
Pedoman Penyelenggaraan dan Standar Balai Laboratorium Kesehatan
dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan.
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 52 tahun 2013 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Balai Besar Laboratorium Kesehatan di Lingkungan
Kementerian Kesehatan.
14. Surat
Edaran
Direktur
Jenderal
Bina
Upaya
Kesehatan
No.HK.03.03/2032/2014 tentang Rencana Strategi Bisnis UPT Vertikal
Ditjen BUK.
5
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
1.4.
Sistematika Penyajian
Sistematika penyajian Rencana Strategis Bisnis BBLK Makassar Tahun
2020-2024 adalah sebagai berikut :
Bab I
Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang dan tujuan serta landasan hukum
penyusunan Rencana Strategis Bisnis BBLK Makassar Tahun
2020-2024
Bab II Kondisi Satuan Kerja (Satker)
Menjelaskan profil satker, gambaran pencapaian kinerja dari aspek
pelayanan, aspek keuangan, aspek sumber daya manusia, dan aspek
Sarana dan Prasarana BBLK Makassar tahun 2016-2018, tantangan
strategis yang tengah dan akan menentukan pencapaian visi dan
misi, benchmarking, analisis SWOT, diagram Kartesius dan prioritas
strategis, analisis TOWS, serta analisia dan mitigasi Risiko
Bab III Arah dan Program Strategis
Menjelasan rumusan pernyataan Visi, Misi, dan Tata Nilai, arah dan
kebijakan stakeholders inti berisi harapan dan kekhawatiran dari
setiap stakeholders inti, Rancangan peta strategis Balanced
Scorecard (BSC) berdasarkan upaya-upaya strategis yang dihasilkan
pada analisa TOWS, indikator kinerja utama yang berisi ukuran
dan target ukuran kinerja utama yang hendak dicapai pada kurun
waktu periode RSB, roadmap pengembangan BBLK Makassar 5
tahun kedepan dan Program Kerja Strategisyang akan dilakukan
untuk mewujudkan IKU dan implementasi roadmap.
Bab V Proyeksi Keuangan
Menjelaskan estimasi pendapatan yang disusun selama periode
RSB, rencana kebutuhan anggaran serta rencana pendanaan.
Bab VI Penutup
Menjelaskan tentang kesimpulan dan saran terhadap pembahasan
RSB yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.
6
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
BAB II
KONDISI SATUAN KERJA (SATKER)
2.1.
Profil Satker
2.1.1. Sejarah Singkat Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar
Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar (BBLK Makassar) yang
terletak di jalan Perintis Kemerdekaan KM 11 Makassar merupakan UPT
vertikal milik Kementerian Kesehatan RI yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Berdiri
di atas lahan seluas 9.854 m2, BBLK Makassar hadir dengan tugas pokok
melaksanakan pelayanan laboratorium klinik, uji kesehatan dan laboratorium
kesehatan masyarakat, serta pemberian bimbingan teknis di bidang
laboratorium kesehatan, khususnya untuk wilayah Indonesia Timur
Sejarah BBLK Makasssar di mulai pada tahun 1929 oleh Pemerintah
Belanda berada di Jalan Jendral Sudirman 5 Ujung Pandang, kemudian
diserahkan ke Pemerintah Indonesia pada tahun 1946, dibawah pimpinan DR.
Woworuntu Samuel Wellel Tanamal.
Pada tahun 1978, nama laboratorium berubah menjadi Balai
Laboratorium Kesehatan dengan SK Menkes No. 142/Menkes/SK/IV/1978
berada dibawah Direktur Laboratorium Kesehatan Ditjen Yankes. Fungsi dari
laboratorium
tersebut
adalah
melaksanakan
pemeriksaan
meliputi
pemeriksaaan mikrobiologi, kimia air, patologi klinik, dan imunologi, dan
melaksanakan sistem rujukan (refferal) laboratorium kesehatan.
Pada tahun 1986, Balai Laboratorium Kesehatan berubah menjadi UPT
pusat berada dibawah Kepala Pusat Laboratorium Kesehatan Sekretariat
Jenderal Departemen Kesehatan RI dan menjadi institusi penghasil PNPB
(Pendapatan Negara Bukan Pajak). Perubahan tersebut diatur dalam SK
Menkes No. 783/Menkes/SK/XI/1986.
Tahun
1992
melalui
Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
No.563/MENKES/SK/VII/1992 tentang Susunan Jabatan dalam Lingkungan
Organisasi Balai Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan, Balai
7
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Laboratorium Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan digolongkan sebagai
laboratorium kelas A. Tahun 1995 lokasi Laboratorium Kesehatan Prov. Sulsel
di pindahkan ke Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 11 Tamalanrea Makassar
melalui Ruislag (tukar guling).
Dalam perjalanan selanjutnya Balai Laboratorium Kesehatan Makassar
statusnya meningkat menjadi Balai Laboratorium Kesehatan kelas A dengan
Eselon III.a sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 1063 /MENKES/
SK/IX/2004 dengan struktur organisasi dipimpin oleh seorang Kepala Balai
dibantu Kasub Bagian Tata Usaha dan dua Kepala Seksi (Seksi Laboratorium
Klinik & Kesmas, dan Seksi Pengendalian Mutu).
Tanggal 31 Juli 2006, status Balai Laboratorium Kesehatan Makassar
meningkat menjadi Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Makassar
dengan eselon IIb, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
558/MENKES/PER/VII/2006. Dengan Eselon II.b tersebut maka BBLK
Makassar dipimpin oleh seorang Kepala Balai dibantu seorang Kepala Bagian
Tata Usaha dan dua orang Kepala Bidang (Bidang Laboratorium Klinik &
Kesmas dan Bidang Pengendalian Mutu). Kepala Bagian Tata Usaha di bantu
dua orang Kepala Sub Bagian (Subbag Perencanaan dan Keuangan dan
Subbag Umum dan Kepegawaian). Sedangkan Kabid Laboratorium Klinik dan
Kesmas dibantu dua kepala seksi (Seksi Laboratorium Klinik dan Seksi
Kesmas), dan Kabid Pengendalian Mutu dibantu dua orang kepala seksi
(Seksi Pemantapan Mutu dan Seksi Diklat dan Litbang).
Tanggal 25 September 2008, Balai Besar Laboratorium Kesehatan
Makassar memperoleh sertifikat Akreditasi ISO 17025 dari Komite Akreditasi
Nasional/KAN No. LP-400-IDN. Setelah peningkatan status dari eselon IIIa ke
eselon II.b, BBLK Makassar memulai proses selanjutnya untuk menjadi
Instansi Pemerintah yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum (PPK BLU). Melalui serangkaian proses pengusulan ke Ditjen
Bina Pelayanan Medik dan presentasi di depan Tim PPK BLU Kementerian
Keuangan, maka terhitung tanggal 5 Februari 2010 melalui Keputusan Menteri
Keuangan No. 56/KMK.05/2010, Balai Besar Laboratorium Kesehatan
Makassar ditetapkan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan
8
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum. 21 Maret 2013 Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Makassar sebagai laboratorium penguji vide
Sertifikat Akreditasi SNI ISO/IEC 17025:2008 (ISO/IEC17025:2005). Dalam
rangka peningkatan mutu, cakupan pelayanan rujukan laboratorium
kesehatan regional dan telah ditetapkannya Balai Besar Laboratorium
Kesehatan sebagai Instansi Pemerintah yang menerapkan PK-BLU, maka
tahun 2013 disesuaikan strukurnya sesuai dengan perkembangan yang ada
melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 52 TAHUN 2013 tanggal 22 Juli
2013.
9
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.1.2. Struktur Organisasi Balai Besar Laboratorium Kesehatan
Makassar
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 52 Tahun 2013
yang telah ditetapkan pada tanggal 22 Juli 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Balai Besar Laboratorium Kesehatan, maka struktur orgaisasi BBLK
Makassar di gambarkan sebagai berikut:
10
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.2.
Gambaran Kinerja
2.2.1. Kinerja Aspek Pelayanan
BBLK Makassar sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian
Kesehatan RI yang berada di Sulawesi Selatan, memberikan pelayanan untuk
pemeriksaan sampel klinik maupun sampel kesehatan masyarakat. Kinerja
pelayanan laboratorium dapat dilihat dari bidang pelayanan pemeriksaan
laboratorium klinik dan uji kesehatan serta pelayanan pemeriksaan
laboratorium kesehatan masyarakat.
A. Jenis Layanan Laboratorium
Jenis layanan laboratorium BBLK Makassar sebagai berikut:
1. Layanan Pemeriksaan Laboratorium:
a. Pemeriksaan Patologi
b. Pemeriksaan Mikrobiologi
c. Pemeriksaan Imunologi
d. Pemeriksaan Kimia Kesehatan
2. Layanan Pemeriksaan Penunjang Medik
a. Pemeriksaan Radiologi Diagnostik
b. Pemeriksaan Elektrocardiography (ECG)
c. Pemeriksaan Ultrasonography (USG)
Tabel 1. Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Laboratorium Tahun 2015-2019
No Jenis Pemeriksaan Jumlah Pemeriksaan
2015 2016 2017 2018 2019
1 Pemeriksaan Patologi 13.100 22.803 18.750 22.856 25.089 2 Pemeriksaan Mikrobiologi 4.411 6.066 8.783 7.477 17.022 3 Pemeriksaan Imunologi 4.809 5.851 8.773 11.785 19.031 4 Pemeriksaan Kimia Kesehatan 42.401 46.018 48.524 48.501 53.835 5 Penunjang Medik
a. Radiologi 584 536 597 1.031 2149
b. ECG 185 183 154 592 624
c. USG 0 0 134 362 775
TOTAL 65.490 81.457 85.715 92.604 118.525
Ditinjau dari capaian pelayanan secara keseluruhan dari tahun 2015-2019
terdapat peningkatan jumlah pemeriksaan laboratorium.
Berikut hasil pencapaian pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) Tahun
2015 -2019.
11
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 2. Penerimaan BLU BBLK Makassar Tahun 2019-2019
No Uraian 2015 2016 2017 2018 2019
1 Instalasi Patologi 552.753.000 715.418.000 765.388.250 994.974.000 1.664.899.217 2 Instalasi Imunologi 491.433.000 483.400.500 1.154.740.250 1.676.888.471 2.107.325.820 3 Instalasi Mikrobiologi 460.104.000 506.084.000 724.612.500 1.177.399.500 1.449.253.703 4 Instalasi Kimia Kesehatan 1.748.862.550 1.974.587.000 2.151.080.000 2.744.701.734 3.077.593.941 5 Instalasi Media & Reagensia 81.096.000 85.042.000 53.326.000 46.676.629 66.940.500 6 Penunjang Medik
Instalasi Uji Kesehatan 68.036.500 95.078.000 140.289.000 190.860.000 215.940.000 Radiologi 44.337.500 56.662.500 74.032.000 171.245.000 320.204.000 EKG 13.822.500 16.087.500 18.150.000 48.922.500 105.518.000 7 Diklat/Bimbingan Teknik 174.690.500 139.706.000 73.484.000 109.370.825 189.350.000 8 Penerimaan Lainnya Sewa 17.950.000 5.000.000 32.800.000 5.500.000 53.200.000 Jasa Giro 45.243.844 40.178.706 55.776.093 57.697.137 133.666.666 Surat Ket Bebas Narkoba 32.385.000 33.180.500 77.216.485 94.890.000 110.460.000 Sertifikat 1.480.000 9.472.500 4.910.000 1.365.000 885.000 Surat Ket Penelitian - - - 1.680.000 18.005.000
Jasa Lainnya 31.125.375
3.732.194.394 4.159.897.206 5.325.804.578 7.322.170.796 9.544.367.222
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa tren pendapatan BLU BBLK
Makassar
selalu
mengalami
kenaikan
setiap
tahunnya
dari
Rp.4.159.897.206,- ditahun 2015 menjadi Rp.9.544.367.222,- ditahun 2019.
Gambar 2. Realisasi Penerimaan dari Kegiatan Layanan BBLK Makassar Per Instalasi
tahun 2015-2019 Rp. 0 Rp. 500.000.000 Rp. 1.000.000.000 Rp. 1.500.000.000 Rp. 2.000.000.000 Rp. 2.500.000.000 Rp. 3.000.000.000 Rp. 3.500.000.000 2015 2016 2017 2018 2019
12
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
B.
Kinerja Pemeriksaan KLB dan Surveilans
Salah satu fungsi BBLK Makassar adalah laboratorium rujukan dan
penyelenggara Surveilans. Adapun kinerja Pemeriksaan KLB dan Surveilans
BBLK Makassar periode 2015-2019 adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Kinerja Pemerikssan KLB dan Suveilans BBLK Makassar Periode 2015-2019
No Jenis Pemeriksaan Jumlah Spesimen/Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Kolera 3 - 9 - - 2 Difteri 16 2 41 69 29 3 Keracunan Pangan 62 11 22 31 - 4 Bacillus Antrax 3 - 13 2 - 5 HCV - - - - 108 TOTAL 84 13 85 102 137
C.
Kinerja Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
BBLK Makassar selain berperan sebagai penyelenggara juga sebagai
peserta dalam kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME). BBLK Makassar
sebagai penyelenggara Pemantapan Mutu Eksternal (PME) berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: HK.02.02/MENKES/400/2016 tanggal
3 Agustus 2016.
Tabel 4. Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) Tahun 2015-2019 dengan BBLK Makassar sebagai Penyelenggara
No Jenis/Bidang PME Jumlah Peserta/Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 A PME Regional 1 Hematologi 45 84 198 2 Kimia Klinik 44 84 192 3 Urinalisis 29 48 161 4 - BTA 30 9 37 52 5 - Telur Cacing 8 26 46 6 - Malaria 0 30 13 36 47 7 - Kultur resistensi 1 2 12 8 Anti HIV 20 38 237 9 Anti HCV 19 32 51 10 HbsAg 22 50 116 11 RPR/SPILISH 20 18 155
12 Kima Air Wajib 1 9 21
13
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Keterangan:
- Mulai tahun 2016 kegiatan PME Regional tidak ada, diganti dengan PME
Nasional yang dilaksanakan oleh 4 Balai Besar Laboratorium Kesehatan
sesuai wilayah binaan masing-masing.
- Tahun 2015 PME Malaria tidak ada karena Ditjen Pelayanan Kesehatan
tidak menyelenggarakan.
Tabel 5. Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) Tahun 2015-2019 dengan BBLK Makassar sebagai Penyelenggara
No Penyelenggara Jenis/bidang PME Hasil penilaian 2015 2016 2017 2018 2019 A PME Nasional 1 BBLK Surabaya
Kimia Klinik Baik Baik Memuaskan
Hematologi Memuaskan Immunologi Sangat Baik Baik Mikrobiologi Sangat Baik - Urinalisa Sangat Baik - Sangat Baik BTA Lulus Telur Cacing Baik Malaria Baik Sempurna Kultur & Resistensi Baik
Anti HIV Benar
Anti HCV Baik HBs Ag Baik RPR/Spilish Baik/baik Kimia Air Wajib Memuaskan Mikroskopik Malaria Sangat baik - 2 BBLK Palembang
Kimia Klinik - Baik
Urinalisa - Sangat
Baik
D.
Kinerja Kegiatan Bimbingan Teknik
Bimbingan teknik merupakan kegiatan pembinaan yang dilaksanakan
oleh BBLK Makassar terhadap laboratorium-laboratorium di wilayah binaan.
Dengan adanya Bimbingan Teknik, terjalin kerjasama lintas sektoral,
14
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
peningkatan mutu sumber daya manusia dan penyelesaian masalah-masalah
yang dihadapi.
Tabel 6. Bimbingan Teknik yang dilaksanakan BBLK Makassar Tahun 2015-2019 berdasarkan Lokasi
No Wilayah/Jenis Lab Jumlah Lokasi/Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 A Sulawesi Selatan 1 Labkesda, Labkesling, Labkesmas kab/kota 2 2 RSUD Kab/Kota 22 10 15 3 Lab Puskesmas 1
B Luar Provinis Sulawesi Selatan
1 BLK 6 6 2
2 Puskesmas
3 Rumah Sakit 3 1
TOTAL 6 9 22 16 15
Pencapaian target IKU Layanan tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Pencapaian Target IKU Layanan Tahun BBLK Makassar 2015-2019
No. Sub Subaspek / Kelompok Indikator /
Indikator Standar
BBLK Makassar
2015 2016 2017 2018 2019
Skor Skor Skor Skor Skor
1 Layanan 35 18.25 14.75 25.00 25.10 27
a. Pertumbuhan Produktivitas 11 9.50 4.00 10.00 8.50 11
1) Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan
Mikrobiologi 2 2 0 2 0.5
2
2) Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan
Imunologi 2 1.5 0.5 2 2 2
3) Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan
Patologi Klinik 2 1 0 2 2 2
4) Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan
Kimia Kesehatan 2 2 1 1.5 1.5 2
5) Pertumbuhan Rata-rata Pembuatan
Media dan Reagensia 2 1.5 1.5 1.5 1.5 2
6) Pertumbuhan Rata-rata Pemeriksaan
15
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
b. Efektivitas Pelayanan 18 5.50 7.00 13.00 13.00 15
1) Rasio Jumlah Pemeriksaan
Mikrobiologi dengan Analis 3 0.5 0.5 2 2 2
2) Rasio Jumlah Pemeriksaan Imunologi
dengan Analis 3 0.25 0.5 2 2 3
3) Rasio Jumlah Pemeriksaan Patologi
Klinik dengan Analis 3 0.5 1 1 1 3
4) Rasio Jumlah Pemeriksaan Kimia
Kesehatan dengan Analis 3 1 2 3 3 2
5) Rasio Jumlah Pembuatan Media
Reagensia dengan Analis 2 0.25 0.5 1 1 1
6) Rasio Jumlah Pemeriksaan Laboratorium Klinik dengan Dokter Spesialis Patologi Klinik
1 0.5 0.5 1 1 1
7) Rasio Jumlah Pemeriksaan Uji Kesehatan dengan Tenaga Yang Bertugas di Unit Instalasi Uji Kesehatan
2 0.5 1 2 2 2
8) Angka Pengulangan Pemeriksaan
Laboratorium 1 2 1 1 1 1
c. Perspektif Pertumbuhan
Pembelajaran 6 3.25 3.75 2.00 2.00 2
1) Rata-rata Jam Pelatihan per
Karyawan 2 1.75 1.75 2 2 2
2) Penelitian 2 1.5 1.5 0 0 0
3) Program Reward dan Punishment 2 0 0.5 0 0 0
2 Mutu dan Manfaat Bagi Masyarakat 35 33.85 33.85 29.75 32.50 33.5
a. Mutu Pelayanan 14 13.50 13.50 13.50 13.50 13.5
1) Waktu Tunggu Pelayanan 2 2 2 2 2 2
2) Waktu Layanan Bidang Pemeriksaan
Mikrobiologi 2 2 2 2 2 2
3) Waktu Layanan Bidang Pemeriksaan
Patologi Klinik 2 2 2 2 2 2
4) Waktu Layanan Bidang Pemeriksaan
Imunologi 2 2 2 2 2 2
5) Waktu Layanan Bidang Pemeriksaan
Kimia Kesehatan 2 1.5 1.5 1.5 1.5 2
6) Waktu Layanan Bidang Pembuatan
Media dan Reagensia 2 2 2 2 2 1.5
7) Waktu Layanan Bidang Pemeriksaan
16
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
b. Mutu Klinik 8 7.75 7.75 7.75 7.75 8
1) Angka Kegagalan Pengambilan
Sampel Uji 2 2 2 2 2 2
2) Angka Pemeriksaan Laboratorium
yang Dirujuk 2 2 2 2 2 2
3) Hasil Kegiatan Pemantapan Mutu
Internal 2 1.75 1.75 1.75 2 2
4) Hasil Pemantapan Mutu Eksternal 2 2 2 2 1.75 2
c. Kepedulian Kepada Masyarakat 6 6.00 6.00 5.00 6.50 6
1) Pembinaan Kepada Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat, Laboratorium Rumah Sakit dan Laboratorium Mandiri dan Sarana Kesehatan Lain
2 2 2 2 2 2
2) Kegiatan Pelayanan PME Regional 2 2 2 2 2 2
3) Program Penyuluhan Kesehatan 2 2 2 1 2.5 2
d. Kepuasan Pelanggan 4 3.60 3.60 1.75 3.00 4
1) Penanganan Pengaduan / Komplain 2 2 2 0.25 1 2
2) Kepuasan Pelanggan 2 1.6 1.6 1.5 2 2
e. Kepedulian Terhadap Lingkungan 3 3.00 3.00 2 2 2
1) Program BLK Berseri 2 2 2 1 1 1
2) Proper Lingkungan 1 1 1 1 1 1
17
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.2.2. Kinerja Aspek Keuangan
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya BBLK Makassar tetap
membutuhkan subsidi dari pemerintah dalam bentuk APBN terutama untuk
membiayai kegiatan investasi untuk pengembangan sarana prasarana dan
untuk kegiatan operasional lainnya yang belum dapat dioptimalkan dari
penerimaan BLU. Berikut adalah perincian sumber dana BBLK Makassar
untuk 5 tahun ke belakang:
Tabel 8. Proporsi Anggaran BBLK Makassar Tahun 2015-2019 berdasarkan Sumber Dana
Tahun 2015 2016 2017 2018 2019
Anggaran RM 19.636.729.000 13.414.354.000 16.308.539.000 19.609.972.000 21.293.373.000 Anggaran BLU 4.296.078.000 4.044.437.000 6.012.503.000 9.771.150.000 6.397.842.000
Gambar 3. Diagram Proporsi Anggaran BBLK Makassar tahun berdasarkan sumber dana
Target dan realisasi PNBP BBLK Makassar sejak tahun 2015-2019 terus
mengalami peningkatan sebagaimana tabel berikut:
Rp. 0 Rp. 5.000.000.000 Rp. 10.000.000.000 Rp. 15.000.000.000 Rp. 20.000.000.000 Rp. 25.000.000.000 2014 2015 2016 2017 2018 2019
18
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 9. Target dan realisasi PNBP BBLK Makassar sejak tahun 2015-2019
Tahun 2015 2016 2017 2018 2019
Target 4.296.078.000 4.044.437.000 6.012.503.000 6.397.842.000 8.000.000.000 Realisasi 3.732.194.394 4.159.897.206 5.325.804.578 7.322.170.796 9.642.601.208
Gambar 4.
Target dan realisasi PNBP BBLK Makassar sejak tahun 2015-2019Pencapaian target IKU Keuangan tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Pencapaian target IKU Layanan tahun BBLK Makassar 2020-2024
No. Subaspek / Indikator Standar
BBLK Makassar
2015 2016 2017 2018 2019 Skor Skor Skor Skor Skor
1 Rasio Keuangan 19 7.00 9.50 8.75 9.90 9.25
a. Rasio Kas (Cash Ratio) 2 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 b. Rasio Lancar (Current Ratio) 3 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 c. Periode Penagihan Piutang
(Collection Period) 2 0.25 0.25 1.5 0.25 1.5
d. Perputaran Aset Tetap (Fixed Asset
Turnover) 2 2 2 2 2 2
e. Imbalan atas Aset Tetap (Return on
Fixed Asset) 2 0 0 0 0 0
f. Imbalan Ekuitas (Return on Equity) 2 0 0 0 2 0 g. Perputaran Persediaan (Inventory
Turnover) 2 2 2 0 0.4 2
h. Rasio Pendapatan PNBP terhadap
Biaya Operasional 4 0 2.5 2.5 2.5 1.5 2.000.000.000 4.000.000.000 6.000.000.000 8.000.000.000 10.000.000.000 12.000.000.000 2015 2016 2017 2018 2019
TREND PENERIMAAN BLU
19
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2 Kepatuhan Pengelolaan Keuangan
BLU 11 9.80 10.50 10.55 9.70 11.00
a. Rencana Bisnis dan Anggaran
(RBA) Definitif 2 1.6 2 1.6 1.6 2
b. Laporan Keuangan Berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan 2 1.2 2 1.95 1.2 2 c. Surat Perintah Pengesahan
Pendapatan dan Belanja BLU 2 2 1.5 2 2 2
d. Tarif Layanan 1 1 1 1 1 1
e. Sistem Akuntansi 1 1 1 1 1 1
f. Persetujuan Rekening 0.5 0.5 0.5 0.5 0.4 0.5 g. SOP Pengelolaan Kas 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 h. SOP Pengelolaan Piutang 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 i. SOP Pengelolaan Utang 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 j. SOP Pengadaan Barang dan Jasa 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 k. SOP Pengelolaan Barang Inventaris 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
Jumlah Skor Aspek Keuangan (1+2) 30 16.80 20.00 19.30 19.60 20.50
2.2.3. Kinerja Aspek SDM
Adapun jumlah Sumber Daya Manusia/Pegawai Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Makassar hingga saat ini tercatat sebanyak 87
pegawai. Kondisi pegawai berdarkan Pendidikan dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 11. Jumlah Pegawai BBLK Makassar tahun 2015-2019 berdasarkan pendidikan
No. Pendidikan Jumlah /Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 A. PNS 1 Dokter Spesialis 1 1 2 3 3 2 S2 13 13 11 7 5 3 S1 38 40 38 37 37 4 D-IV 2 5 5 5 5 5 D-III 18 18 16 19 19 6 D-I 1 1 1 1 1 7 SLTA / Sederajat 14 14 14 14 14 8 SLTP / Sederajat 3 3 3 1 1 JUMLAH TENAGA PNS 90 95 90 87 85
20
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
B. Non PNS / Pegawai BLU Kontrak
1 S1 2 4 6 6 6
2 SLTA / Sederajat 2 2 2 6 6
3 SLTP / Sederajat 2 2 2 2 2
4 SD 0 1 1
JUMLAH TENAGA BLU 6 8 10 15 15
TOTAL PEGAWAI 96 103 100 102 100
Gambar 5. Grafik Jumlah SDM BBLK Makassar berdasarkan pendidikan periode 2015-2019
Jumlah SDM BBLK Makassar secara keseluruhan mengalami
peningkatan jumlah di tahun 2017 dan 2018, peningkatan tersebut diakibatkan
adanya penambahan jumlah pegawai BLU non PNS. Dari sisi jumlah SDM
dengan status PNS, sejak tahun 2015-2019 terjadi penurunan dikarenakan
adanya pegawai yang pensiun dan meninggal dunia. Dari segi pendidikan,
sebagian besar SDM BBLK Makassar berpendidikan S1. Pada tahun 2019,
BBLK Makassar telah memiliki 2 SDM bergelar doktor ilmu Kedokteran. Dari
segi kuantitas SDM, berdasarkan analisis beban kerja BBLK Makassar masih
kekurangan jumlah SDM baik SDM teknis maupun umum. Adapun kebutuhan
SDM yang dianggap paling urgen untuk diadaka adalah sebagai berikut:
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Dokter Spesialis
S2 S1 D-IV D-III D-1 SLTA / Sederajat
SLTP / Sederajat
SD 2015 2016 2017 2018 2019
21
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 12. Kebutuhan Pegawai BBLK Makassar Tahun 2020-2024 berdasarkan pendidikan Bidang Keilmuan Kualifikasi Pendidikan Jumlah
Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
Hukum S1 1 0 1 Pengadaan Baru
Listrik S1 1 0 1 Pengadaan Baru
IT D3 2 1 1 Pengadaan Baru
2.2.4. Kinerja Aspek Sarana dan Prasarana
Kondisi sarana prasarana dan alat yang dimiliki BBLK Makassar saat
ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 13. Kondisi Sarana Prasarana BBLK Makassar s.d Juni 2019
Nama Sarana/Prasarana/Alat Jumlah Kondisi
Baik Buruk Berfungsi Rusak Sarana
a. Gedung Laboratorium Patologi 1 b. Gedung Laboratorium Immunologi 1 c. Gedung Laboratorium Mikrobiologi 1 d. Gedung Laboratorium biomolekuler 1 e. Gedung Laboratorium Kimia Kesehatan 1 f. Gedung Laboratorium Radiologi 1 g. Gedung Laboratorium Uji Kesehatan 1 h. Gedung Laboratorium Perkantoran 1
i. Ruang Pelayanan 1 j. Ruang Spesimen 1 Prasarana a. Alat Laboratorium 1 Electrocardiograph (EKG) 1 1 2 Laboratory Refrigerator 24 18 6 3 Tensimeter 6 6 4 Stetoskop 3 3 5 Timbangan Badan 4 3 1 6 Audiometer 1 1 7 Spirometri 2 1 1
8 Mobile X-ray Unit 2 1 1
9 Utrasonograph (USG) 1 1
22
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
11 Hematologi Analyzer 3 2 1
12 Centrifuge 7 1 5 2
13 Frezzer 2 2
14 Mixer 3 3
15 Photometer 3 2 1
16 Portabel Urine Analyzer 1 1
17 Waterbath 8 6 2
18 Blood Bank Refrigerator 1 1
19 Inkubator / Oven 15 13 2
20 Urine Analyzer 2 1 1
21 Mikroskop 19 18 1
22 Electrolite Analyzer 1 1
23 Microscopic Urine Sediment
Analyzer 1 1 24 VES Matic 1 1 25 Vidas 2 2 26 Rotator 1 1 27 Inkubator thermoshaker 1 1 28 Biosafety Cabinet 9 6 3
29 Auto Imun Analyzer 1 1
30 Cobas Tacman 1 1 31 Centrifuge Rerigerator 2 2 32 Elisa Reader 1 1 33 Elisa Washer 1 1 34 Autoclave 9 7 2 35 Inspissator 1 1 36 Lemari Asam 6 3 3 37 Analytical Balance 7 5 2 38 pH Meter 7 4 6
39 Purefied water system 3 1 2
40 Blender Stainles 2 2
41 Laminar Air Flow 3 2 1
42 Timbangan 2 1 1 43 Bact Allert 1 1 44 Stomacher 2 1 1 45 Candle jar 1 1 46 Vitek 1 1 47 Colony Counter 1 1
23
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
48 Microbiologi Air sampler 2 2
49 Shaker 1 1 50 Membrane dispenser 1 1 51 AAS 4 3 1 52 Anemometer 4 3 1 53 COD reactor 3 3 54 Conductivity Meter 2 1 1 55 DO meter 1 1 56 Destilasi 2 2 57 Furnace 2 2 58 GCD 1 1
59 High Volume Air Sampling 2 2
60 Impinger 2 1 1
61 Inkubator BOD 3 1 2
62 Lux Meter 1 1
63 Stirer 1 1
64 Rotary Evaporator 2 1 1
65 Sound Level Meter 4 2 1
66 Vacum Pump 2 1 1 67 Thermo Magnetic 1 1 68 UV Vis Spektrofotometer 2 2 69 Vibration Meter 1 1 70 Turbidimeter 1 1 71 Gas Comatography 2 1 1 72 Gas Sampling 1 1 73 Spektrofotmeter 3 2 1 74 Dust Trake 1 1 75 Extractor System 1 1 76 Microwave 1 1 77 GPS 2 2
78 Portabel Emision Analyzer 1 1
79 Opositas 1 1
80 Lemari Pendingin 5 3
81 Lampu UV 1 1
b. Air Conditioner (AC) 113 91 22
c. Daya Listrik 800 kw
24
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
e. SILK 1 1 f. Saluran Air 1 1 G Kendaraan Roda 2 12 12 H Kendaraan Roda 4 4 4 I Kendaraan Khusus 4 2 2
2.3.
Tantangan Startegis
Tantangan strategis yang tengah dihadapi dan menentukan
pencapaian dan realisasi visi yang akan menimbulkan suatu kerugian yang
lebih besar atau sebaliknya dan apabila tidak dimanfaatkan akan
menghilangkan peluang untuk pencapaian visi dan misi dalam jangka panjang.
Memperhatikan dinamika tuntutan stakeholders kunci dan informasi dari
benchmark, maka tantangan strategis yang akan dihadapi oleh BBLK
Makassar untuk periode tahun 2020 – 2024 sebagai berikut :
1. Penguatan peran BBLK Makassar sebagai Laboratorium rujukan dan
pelaksana uji kesehatan di Kawasan Timur Indonesia;
2. Penguatan peran BBLK Makassar sebagai pelaksana PME dan Bimtek di
Kawasan Timur Indonesia;
3. Meningkatnya standar nilai kepuasan konsumen;
4. Penguatan layanan unggulan dan pengembangan layanan prioritas
lainnya;
5. Penguatan SDM sesuai dengan kompetensinya;
6. Meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana laboratorium standar
nasional dan internasional;
7. Peningkatan kesejahteraan SDM yang berkeadilan dan pengembangan
karier yang sehat;
8. Belum terintegrasinya proses bisnis dengan data dan informasi yang
terpadu;
9. Tuntutan untuk cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis
dan teknologi;
25
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.4.
Benchmarking
Dalam menghadapi tantangan strategi yang harus dilalui, maka BBLK
Makassar memilih 4 laboratorium sebagai tempat rujukan, yakni:
1. BBLK Surabaya sebagai laboratorium rujukan nasional untuk beberapa
program yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan
2. Eijkman Institute sebagai laboratorium rujukan penelitian yang memiliki
alat dan kemampuan laboratorium yang mutakhir
3. National Reference Laboratory (NRL) Melborne Australia sebagai tempat
penyelenggara uji profisiensi yang berstandar internasional.
2.5.
Analisa SWOT
Untuk mendapatkan suatu potret mengenai posisi bersaing organisasi
saat ini dilakukan dengan cara analisa SWOT. Analisis SWOT
mengkombinasikan antara finding dari pihak pelaku usaha, orang yang
berkepentingan dengan usaha atau top management yang mengelola usaha
dikombinasikan berdasarkan experienced pelanggan, customer atau penikmat
dari usaha itu sendiri. Pemetaan dilakukan terhadap bidang pelayanan,
Sumber Daya Manusia (SDM), keuangan serta sarana/prasarana.
Dalam SWOT dikenal dengan adanya matrik positioning kondisi usaha
dan identifikasi strategi yang layak diterapkan dalam usaha atau lebih familiar
dikenal dengan Diagram dan Matriks SWOT yang terdiri dari 4 kuadran 1)
Strategi Agresif, 2) Strategi Diversifikasi, 3) Strategi Turn-Around dan 4).
Strategi Defensif.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dilakukan peninjauan dan
evaluasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi.
26
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 14. Faktor Internal yang membentuk Kekuatan dan Kelemahan pada BBLK Makassar
Faktor Kekuatan Faktor Kelemahan
1. Terakreditasi ISO/IEC 17025 :2005, ISO/IEC 17043, KALK dan ISO/IEC 15189
1. Letak kantor yang kurang strategis
2. Memiliki peralatan laboratorium yang muktahir di beberapa bidang pemeriksaan
2. Sistem informasi belum seluruhnya berbasis digital dan saling terintegrasi
3. Memiliki SDM unggul dan kompeten di bidangnya
3. Budaya organisasi yang masih cenderung negatif (kaku, individual, pasif, kurang empati dalam memberikan pelayananan)
4. Telah menerapkan pengelolaan keuangan yang fleksibel (berstatus BLU)
4. Lemahnya sistem pengendalian internal
5. Pusat Rujukan Laboratorium Kesehatan Regional Timur Indonesia
5. Promosi dan layanan informasi publik belum dilakukan dengan optimal
6. Penyelenggara uji kualitas laboratorium kesehatan (PME) Regional Timur Indonesia
6. Terdapat beberapa parameter pemeriksaan yang belum dapat dilakukan dan belum seluruh parameter pemeriksaan telah terakreditasi 7. Sebagai tempat penyelenggara
bimbingan dan penelitian
7. Perencanaan belum optimal
8. Memiliki tarif yang kompetitif 8. Belum memiliki database terkait wilayah binaan 9. Memiliki lab TB yang berstandar
internasional
9. Terbatasnya dana pelatihan dan peningkatan skill pegawai baik teknis maupun non teknis 10. Masih kurangnya tenaga pendukung (non teknis)
Tabel 15. Faktor Eksternal yang membentuk Peluang dan Ancaman
pada BBLK Makassar
Faktor Peluang Faktor Ancaman
1. Adanya kebijakan kementerian terkait program PPRA (Program Pencegahan Resistensi Antibiotik)
1. Ketidakpastian regulasi sehingga terjadi tumpang tindih fungsi laboratorium pemerintah
2. Pemeriksaan laboratorium saat ini sudah merupakan penentu diagnosa
2. Peraturan terkait kerjasama BPJS 3. Meningkatnya Kesadaran masyarakat
akan pentingnya mendeteksi penyakit lebih dini dengan pemeriksaan laboratorium
3. Revolusi Industri 4.0
4. Adanya regulasi dari Kementrian Lingkungan Hidup, mewajibkan setiap perusahaaan memiliki izin lingkungan
4. Pertumbuhan jumlah laboratorium Klinik yang semakin pesat
5. Adanya regulasi dari Kementrian Tenaga Kerja, mewajibkan setiap perusahaaan melakukan medical chek-up rutin bagi karyawannya
5. Pengurangan subsidi pemerintah
6. Pesaing laboratorium lingkungan masih kurang
6. Tingkat Inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak stabil
27
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
7. Dukungan teknologi informasi 7. Masuknya pemodal asing dalam pelayanan laboratorium yang memiliki sistem dan peralatan yang lebih canggih (ancaman persaingan global di era AFTA)
8. Meningkatnya kepercayaan laboratorium maupun perusahan untuk bekerjasama
8. Image instansi pemerintah masih kurang baik di mata masyarakat 9. Hasil penelitian di bidang medis yang
mendukung fungsi laboratorium
10. Adanya kepastian sumber dana dari pemerintah
2.6.
Diagram Kartesius dan Prioritas Strategis
Berdasarkan hasil invetigasi akan faktor-faktor kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman, akan diperoleh posisi daya saing BBLK Makassar
melalui diagram Kartesius. Hal ini membantu manajemen BBLK Makassar
dalam menentukan prioritas strategis untuk dapat memenangkan pasar.
Adapun tahapan untuk bisa menentukan posisi daya saing adalah sebagai
berikut
1. Memberikan bobot terhadap masing faktor-faktor kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman, dengan total bobot dari masing-masing faktor
pembentuk kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman tidak lebih dari
100%.
2. Penentuan besar rating terhadap masing faktor-faktor kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman. Besar rating untuk setiap faktor
pembentuk kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman berkisar antara
0 (nol) sampai dengan 100 (seratus).
3. Menentukan skor untuk setiap faktor-faktor pembentuk kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dengan mengalikan nilai bobot dan
nilai rating masing-masing faktor pembentuk.
4. Menentukan total skor berbagai faktor pembentuk kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman.
28
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Tabel 16. Penentuan Skor Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman
Uraian Bobot Rating Skor
Faktor Kekuatan
1. Terakreditasi ISO/IEC 17025 :2005, ISO/IEC 17043, KALK
dan ISO/IEC 15189 0.13 80 10.0
2. Memiliki peralatan laboratorium yang muktahir di beberapa
bidang pemeriksaan 0.12 80 9.6
3. Memiliki SDM unggul dan kompeten di bidangnya 0.11 70 7.8 4. Telah menerapkan pengelolaan keuangan yang flesibel
(berstatus BLU) 0.10 70 6.8
5. Pusat Rujukan Laboratorium Kesehatan Regional Timur
Indonesia 0.08 70 5.8
6. Sebagai penyelenggara uji kualitas laboratorium kesehatan
(PME) Regional Timur Indonesia 0.13 80 10.7
7. Sebagai tempat penyelenggara bimbingan dan penelitian 0.09 70 6.5
8. Memiliki tarif yang kompetitif 0.12 70 8.1
9. Memiliki lab TB yang berstandar internasional 0.12 80 9.6
Total 1 75.0
Faktor Kelemahan
1. Letak kantor yang kurang strategis 0.08 70 5.3 2. Sistem informasi belum seluruhnya berbasis digital dan
saling terintegrasi 0.11 80 8.5
3. Budaya organisasi yang masih cenderung negatif (kaku, individual, pasif, kurang empati dalam memberikan pelayananan)
0.11 90 9.6 4. Lemahnya sistem pengendalian internal 0.12 90 11.0 5. Promosi dan layanan informasi publik belum di lakukan
dengan optimal 0.11 80 8.5
6. Terdapat beberapa parameter pemeriksaan yang belum dapat dilakukan dan belum seluruh parameter pemeriksaan telah terakreditasi
0.10 70 6.7
7. Perencanaan belum optimal 0.09 70 6.4
8. Belum memiliki database terkait wilayah binaan 0.10 80 7.9 9. Terbatasnya dana pelatihan dan peningkatan skill pegawai
baik teknis maupun non teknis 0.09 70 6.4
10. Masih kurangnya tenaga pendukung (non teknis) 0.11 70 7.5
Total 1 77.7
Faktor Peluang
1. Adanya kebijakan kementerian terkait program PPRA
(Program Pencegahan Resistensi Antibiotik) 0.10 70 7.6 2. Pemeriksaan laboratorium saat ini sudah merupakan
penentu diagnosa 0.09 70 8.3
3. Meningkatnya Kesadaran masyarakat akan pentingnya mendeteksi penyakit lebih dini dengan pemeriksaan laboratorium
0.09 80 8.3 4. Adanya regulasi dari kementrian lingkungan hidup,
mewajibkan setiap perusahaaan memiliki izin lingkungan 0.11 80 9.7 5. Adanya regulasi dari kementrian tenaga kerja, mewajibkan
setiap perusahaaan melakukan medical chekup rutin bagi karyawannya
0.09 70 7.3 6. Pesaing laboratorium lingkungan masih kurang 0.12 80 10.8
29
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
7. Dukungan teknologi informasi 0.09 80 8.3
8. Meningkatnya kepercayaan laboratorium maupun
perusahan untuk bekerajsama 0.11 90 11.3
9. Hasil penelitian di bidang medis yang mendukung fungsi
laboratorium 0.08 70 6.4
10. Adanya kepastian sumber dana dari pemerintah 0.09 80 7.6
Total 1 78.2
Faktor Ancaman
1. Ketidakpastian regulasi sehingga terjadi tumpang tindih
fungsi laboratorium pemerintah 0.16 80 12.9
2. Peraturan terkait kerjasama BPJS 0.09 60 5.4
3. Revolusi Industri 4.0 0.15 80 11.7
4. Pertumbuhan jumlah laboratorium Klinik yang semakin
pesat 0.11 80 8.8
5. Pengurangan subsidi pemerintah 0.14 80 10.9 6. Tingkat Inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang
tidak stabil 0.14 70 9.5
7. Masuknya pemodal asing dalam pelayanan laboratorium yang memiliki sistem dan peralatan yang lebih canggih (ancaman persaingan global di era AFTA)
0.11 70 7.7 8. Image instansi pemerintah masih kurang baik di mata
masyarakat 0.11 70 7.7
Total 1 74.6
Berdasarkan total skor yang diperoleh diatas, dilakukan penempatan
nilai diagram kartesius. Penentuan nilai untuk masing-masing sumbu X dan Y
ditentukan sebagai berikut:
Nilai Sumbu X = total nilai terbobot kekuatan dikurangi total nilai terbobot
kelemahan
= 75.0 – 77.7= -2.7
Nilai Sumbu Y = total nilai terbobot peluang dikurangi total nilai terbobot
ancaman
= 78.4 – 74.6 = 3.8
30
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Gambar 6. Posisi daya saing BBLK Makassar berdasarkan diagram kertesius
Dari diagram diatas, maka posisi bersaing BBLK Makassar saat ini
berada pada Kuadran II, yang mengindikasikan bahwa BBLK Makassar
memiliki posisi bersaing dimana kelemahan organisasi masih jauh lebih
menonjol daripada kekuatan organisasi, namun memiliki peluang usaha yang
lebih tinggi dibandingkan dengan ancaman, dengan kata lain secara umum
BBLK Makassar lemah, namun masih memiliki peluang usaha yang masih
terbuka lebar. Oleh karena itu strategi bersaing terbaik yang harus dilakukan
oleh BBLK Makassar kedepannya adalah mengubah strategi sebelumnya
(turn around) yang menghambat BBLK Makassar untuk menangkap peluang
dan sekaligus memfokuskan arah pengembangan pada menjaga perbaikan
kinerja atau penguatan mutu kelembagaan (stability). Artinya melakukan
priortitas strategis untuk melakukan investasi penyempurnan dan penataan
kemampuan organisasi, kemampuan sistem manajemen dan proses bisnis,
serta kemampuan personilnya sambil memantapkan tingkat penguasaan
layanannya.
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 (-2.7, 3.8)Startegi Stabilitas
31
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.7.
Analisa TOWS
Berbagai sasaran strategis yang akan dilakukan BBLK Makassar dalam
kurun waktu periode RSB, diidentifikasi melalui analisa TOWS. Sasaran
strategis menggambarkan upaya strategis yang akan diwujudkan oleh BBLK
Makassar dalam rangka merealisasikan visi pada kurun waktu periode RSB.
Untuk dapat merumuskan upaya strategis tersebut, analisa dilakukan dengan
mendasarkan pada masing-masing kondisi dengan cara mempertemukan:
1. Kekuatan dan peluang BBLK Makassar (maxi-maxi Strategi) yaitu strategi
yang menggunakan kekuatan untuk memaksimalkan peluang.
2. Kekuatan dan ancaman BBLK Makassar (maxi-mini Strategi) yaitu
Strategi yang menggunakan kekuatan untuk meminimalkan ancaman.
3. Kelemahan dan peluang BBLK Makassar "Mini-Maxi" Strategi Strategi
yang meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang.
4. Kelemahan dan ancaman BBLK Makassar "Mini-mini" Strategi Strategi
yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.
32
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
Hasil Identifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 17. Analisa TOWSKekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness)
1. Terakreditasi ISO/IEC 17025 :2005, ISO/IEC 17043, KALK dan ISO/IEC 15189 2. Memiliki peralatan laboratorium yang muktahir di beberapa bidang pemeriksaan 3. Memiliki SDM unggul dan berkopetensi di bidangnya 4. Telah menerapkan pengelolaan keuangan yang flesibel (berstatus BLU) 5. Ditetapkan sebagai Pusat Rujukan Laboratorium Kesehatan Regional Timur Indonesia 6. Sebagai penyelenggara uji kualitas laboratorium kesehatan (PME) Regional Timur Indonesia 7. Sebagai tempat penyelenggara bimbingan dan penelitian
8. Memiliki tarif yang kompetitif
9. Memiliki lab TB yang berstandar internasional
1. Letak kantor yang kurang strategis 2. Sistem informasi
belum seluruhnya berbasis digital dan saling terintegrasi 3. Budaya organisasi
yang masih cenderung negatif (individual, pasif, kurang empati dalam memberikan pelayananan) 4. Lemahnya sistem
pengendalian internal 5. Promosi dan layanan
informasi publik belum di lakukan dengan optimal
6. Terdapat beberapa parameter
pemeriksaan yang belum dapat dilakukan dan belum seluruh parameter pemeriksaan telah terakreditasi 7. Perencanaan belum optimal 8. Belum memiliki database terkait wilayah binaan 9. Terbatasnya dana pelatihan dan peningkatan skill pegawai baik teknis maupun non teknis 10. Masih kurangnya
tenaga pendukung (non teknis)
Peluang (Opportunity) Mempertahankan dan meningkatkan mutu layanan (s1, s2,O8,O10) Memperkuat networking dengan memanfaatkan regulasi yang ada (s5, s6, s7,O4, O5, O6,O8) Meningkatkan promosi dan layanan informasi berbasis teknologi (w1, w5, O7, O10) melakukan variasi produk dengan cara melakukan benchmarking untuk mengetahui kekuatan pesaing dan perubahan 1. Adanya kebijakan kementerian terkait program PPRA (Program Pencegahan Resistensi Antibiotik)
2. Pemeriksaan laboratorium saat ini sudah merupakan penentu diagnosa
3. Meningkatnya Kesadaran masyarakat akan
33
BALAI ESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
penyakit lebih dini dengan pemeriksaan laboratorium
4. Adanya regulasi dari kementerian lingkungan hidup, mewajibkan setiap perusahaaan memiliki izin lingkungan
5. Adanya regulasi dari kementerian tenaga kerja, mewajibkan setiap
perusahaaan melakukan medical chekup rutin bagi karyawannya
6. Pesaing laboratorium lingkungan masih kurang
7. Dukungan teknologi informasi
8. Meningkatnya
kepercayaan laboratorium maupun perusahan untuk bekerajsama
9. Hasil penelitian di bidang medis yang mendukung fungsi laboratorium
10. Adanya Kepastian Sumber dana dari pemerintah
Memaksimalkan utilisasi alat dengan menambah jenis pemeriksaan baru (s2,O10)
perilaku pasar(w6, O2, O3, O4, O5, O6)
meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM (w7,w9,w10,O9,O10) Terwujudnya kepuasan konsumen (O8,w2)
Ancaman (Threat) Menciptakan value
dengan gencar mempromosikan layanan unggulan (s1, s5, s6, s9, t4, t5, t8) memperkuat manajemen asset (baik aset lancar, tetap) untuk mengoptimlisasikan sumber daya (S1,S2, S3, T1) membangun sistem pengendalian intern yang efektif (w3, w4, w7, w8) Mengoptimalkan kegiatan promosi dan informasi publik dengan memilih strategi promosi yang tepat (w1, w5) Penerapan strategi CRM untuk memenangkan konsumen (w2, T8) membangun sistem informasi teknologi yang saling terintegrasi (w2) 1. Ketidakpastian regulasi sehingga terjadi tumpang tindih fungsi laboratorium pemerintah
2. Peraturan terkait kerjasama BPJS 3. Revolusi Industri 4.0 4. Pertumbuhan jumlah
laboratorium Klinik yang semakin pesat
5. Pengurangan subsidi pemerintah
6. Tingkat Inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak stabil 7. Masuknya pemodal asing
dalam pelayanan laboratorium yang memiliki sistem dan peralatan yang lebih canggih (ancaman persaingan global di era AFTA)
8. Image instansi pemerintah masih kurang baik di mata masyarakat
34
BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN MAKASSAR
2.8.
Analisa dan Mitigasi Risiko
Karena berada dalam lingkungan ketidakpastian, maka BBLK
Makassar meghadapi beberapa risiko yang dapat menghambat perwujudan
sasaran strategis. Memahami risiko yang akan dihadapi, sumber dari risiko
serta dampak yang ditimbulkan akan sangat membantu dalam pencapaian
visi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisa risiko, tujuannya untuk
membedakan risiko minor yang dapat diterima dari risiko mayor, dan untuk
menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko. Adapun
tahapan analisa risiko dimulai dengan melakukan analisa pendahuluan untuk
mendapatkan gambaran seluruh risiko yang ada.Kemudian disusun urutan
risiko yang ada. Risiko-risiko yang kecil untuk sementara diabaikan dan
prioritas diberikan kepada risiko-risiko yang cukup signifikan dapat
menimbulkan kerugian. Metode analisis yang digunakan dalam menganalisa
resiko pada RSB ini adalah metode kualitatif.
2.8.1. Identifikasi Risiko
Risiko yang dihadapi BBLK Makassar untuk mewujudkan suatu
sasaran stragisnya dalam kurun waktu lima tahun ke depan dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 18. Jenis Risiko Berdasarkan Sasaran Strategis
Sasaran Strategis Risiko
Prespektif Konsumen
Terwujudnya kepuasan konsumen 1. hasil kuisioner indeks kepuasan konsumen tidak dijadikan dasar perbaikan layanan 2. buruknya tindak lanjut komplain
3. Pelayanan belum bersifat customer oriented
Perspektif Proses Bisnis Internal
Terwujudnya dukungan terhadap keamanan dan pengamanan kesehatan manusia dan lingkungan berbasis laboratorium
1. Ketidakmampuan lab dalam melakukan pemeriksaan surveilance dan penyakit berpotensi wabah.
2. Kerjasama dengan institusi penyelenggara surveilance belum maksimal.
Terwujudnya pengembangan produk layanan
1. Tidak adanya perencanaan pengembangan layanan yang baik
2. Kemampuan SDM belum memadai
3. Kemampuan pendapatan BLU dan keterbatasan APBN