ii
DAFTAR ISI
PRASYARAT GELAR ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
RINGKASAN ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 9
1.3. Tujuan Penelitian ... 10
1.4. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Goal Setting Theory ... 12
2.2. Pendekatan Kontinjensi ... 14 2.3. Teori Motivasi ... 15 2.4. Kompetensi ... 19 2.5. Kepemimpinan ... 25 2.6. Lingkungan Kerja ... 32 2.7. Kinerja ... 34 2.8. Penelitian Sebelumnya ... 37
iii
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS
PENELITIAN ... 41
3.1. Kerangka Berpikir ... 41
3.2. Konsep Penelitian ... 42
3.3. Hipotesis Penelitian ... 44
3.3.1. Peran Motivasi dalam Memoderasi Pengaruh Kompetensi Pada Kinerja Bendahahara Desa ... 44
3.3.2. Peran Motivasi dalam Memoderasi Pengaruh Kepemimpinan Pada Kinerja Bendahahara Desa ... 45
3.3.3. Peran Motivasi dalam Memoderasi Pengaruh Lingkungan Kerja Pada Kinerja Bendahahara Desa ... 46
BAB IV METODE PENELITIAN ... 49
4.1. Rancangan Penelitian ... 49
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 50
4.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 51
4.4. Penentuan Sumber Data ... 51
4.5. Variabel Penelitian ... 52
4.5.1 Identifikasi Variabel ... 52
4.5.2 Definisi Operasional Variabel ... 53
4.6. Instrumen Penelitian ... 56
4.7. Prosedur Penelitian ... 56
4.8. Uji Instrumen Penelitian ... 57
4.8.1 Uji Reliabilitas dan Validitas... 57
4.8.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 58
4.9. Analisis Data ... 60
4.9.1 Moderated Regression Analysis (MRA) ... 60
4.9.2 Uji Kelayakan Model ... 61
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 63
5.1. Gambaran Umum Responden ... 63
5.2. Karakteristik Responden ... 64
5.3. Hasil Analisis Data ... 66
5.3.1 Deskripsi Variabel Penelitian ... 66
5.3.2 Hasil Uji Instrumen Penelitian ... 73
5.3.3 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 75
5.3.4 Hasil Analisis Regresi dan Pengujian Hipotesis ... 78
5.4. Pembahasan ... 82
5.4.1. Moderasi Motivasi terhadap Pengaruh Kompetensi pada Kinerja Bendahara ... 82
5.4.2. Moderasi Motivasi terhadap Pengaruh Kepemimpinan pada Kinerja Bendahara ... 84
5.4.3. Moderasi Motivasi terhadap Pengaruh Lingkungan Kerja pada Kinerja Bendahara ... 85
iv
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 87
6.1. Simpulan ... 87
6.2. Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA ... 90
v
DAFTAR TABEL
Halaman
4.1 Populasi Penelitian ... 52
5.1 Penyebaran dan Pengembalian Kuesioner ... 63
5.2 Profil Responden ... 64
5.3 Statistik Deskriptif Variabel ... 66
5.4 Penilaian Responden Mengenai Variabel Kinerja ... 67
5.5 Penilaian Responden Mengenai Variabel Kompetensi ... 68
5.6 Penilaian Responden Mengenai Variabel Kepemimpinan ... 69
5.7 Penilaian Responden Mengenai Variabel Linkungan Kerja ... 70
5.8 Penilaian Responden Mengenai Variabel Motivasi ... 71
5.9 Hasil Uji Validitas ... 72
5.10 Hasil Uji Reliabilitas ... 74
5.11 Hasil Uji Normalitas ... 75
5.12 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 76
5.13 Hasil Uji Multikolonieritas ... 76
vi DAFTAR GAMBAR Halaman 3.1 Kerangka Berpikir ... 42 3.2 Konsep Penelitian ... 43 4.1 Rancangan Penelitian ... 50
vii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Penelitian Sebelumnya ... 96 2. Kuesioner Penelitian ... 102
3. Daftar Nama Desa di Kabupaten Tabanan ... 111
4. Profil Responden ... 114
5. Statistik Deskriptif Data Uji ... 115
6. Validitas Instrumen... 116 7. Reliabilitas Instrumen ... 123 8. Uji Normalitas ... 133 9. Uji Heterokedastisitas ... 134 10. Uji Multikolinearitas ... 135 11. Regresi Moderasi ... 136
ii ABSTRAK
KEMAMPUAN MOTIVASI MEMODERASI PENGARUH KOMPETENSI, KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA PADA KINERJA
BENDAHARA DESA DI KABUPATEN TABANAN
Pengelolaan keuangan desa tidak dapat dilepaskan dari fungsi bendahara, terutama dalam penyusunan laporan keuangan desa. Kinerja Bendahara Desa menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti karena banyak faktor yang memengaruhinya. Hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa kompetensi, kepemimpinan dan lingkungan kerja tidak selalu berpengaruh pada kinerja pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan motivasi memoderasi pengaruh kompetensi, kepemimpinan dan lingkungan pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan.
Penelitian ini dilaksanakan pada seluruh Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada responden. Sampel dipilih adalah sampel jenuh sehingga diperoleh sebanyak 133 orang responden. Analisis data dilakukan dengan analisis Moderated Regression Analysis (MRA) yang didahului dengan uji validitas dan reliabilitas serta uji asumsi klasik.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) motivasi tidak mampu memoderasi pengaruh kompetensi pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan; (2) motivasi mampu memperkuat pengaruh kepemimpinan pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan dan (3) motivasi tidak mampu memoderasi pengaruh lingkungan kerja pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan.
Kata kunci : kompetensi, kepemimpinan, lingkungan kerja, motivasi, kinerja Bendahara Desa
iii ABSTRACT
ABILITY MOTIVATION EFFECT OF COMPETENCE MODERATING LEADERSHIP AND PERFORMANCE WORK ENVIRONMENT IN
VILLAGE IN THE DISTRICT TREASURER TABANAN
Management of village finances can not be separated from the function of treasurer, particularly in the preparation of financial statements village. Village Treasurer performance becomes an interesting phenomenon to study because many of the factors that influence it. Results of previous studies stating that competence, leadership and work environment does not necessarily affect the performance of employees. This study aims to determine the ability to moderate the effect of competence motivation, leadership and environmental performance of Treasurer village in Tabanan.
The research was conducted on the entire Treasurer village in Tabanan using primary data obtained from questionnaires distributed to respondents. The sample was selected is a saturated sample in order to obtain as many as 133 respondents. Data analysis was performed by analysis Moderated Regression Analysis (MRA), preceded by a test of validity and reliability and classic assumption test.
The results showed (1) the motivation is not able to moderate the influence of competence in the performance of Treasurer village in Tabanan; (2) motivation to be able to strengthen leadership influence on the performance Treasurer village in Tabanan and (3) the motivation is not able to moderate the influence of the working environment on the performance Treasurer village in Tabanan.
Keywords: competence, leadership, work environment, motivation, performance Treasurer Village
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa merupakan satuan terkecil dalam struktur pemerintahan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menerbitkan secara formal Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagai dasar hukum untuk mengatur segala sesuatu yang penting dalam penyelenggaraan Pemerintah Desa. Berdasarkan ketentuan itu, Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam menyelenggarakan pemerintahannya desa diserahi berbagai hak, wewenang dan kewajiban tertentu untuk menentukan sikap dalam berbagai pengambilan keputusan, melakukan penetapan maupun pertanggungjawaban (Suwignjo, 1985:15). Hak, wewenang dan kewajiban tersebut tumbuh dan berkembang sejak terbentuknya desa dan adat-istiadat yang melingkupnya.
Pembangunan desa merupakan seluruh kegiatan pembangunan yang berlangsung di pedesaan, meliputi seluruh aspek kehidupan dari seluruh masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong. Indikator keberhasilan pembangungan desa pada dasarnya adalah perbaikan riil dalam kondisi kehidupan masyarakat secara keseluruhan, karena
2
pembangunan senatiasa merupakan proses perbaikan dari suatu proses keadaan ke keadaan yang lebih baik. Adanya paradigma pembangunan Desa telah mengalami perubahan konsep dan spirit dari era-era sebelumnya. Yakni, dari spirit “Membangun Desa” menjadi “Desa Membangun”. “Desa Membangun” menempatkan desa sebagai subjek pembangunan, dimana Desa dapat merencanakan sendiri, melaksanakan sendiri, dan memberdayakan sendiri masyarakatnya. Sedangkan, pemerintah yang lebih tinggi bertugas memperkuat,
memonitor dan mengawasi. Keberadaan Desa dimasa lalu hanya dijadikan sebagai
obyek “penguasa”. Keberadaan Desa dan masyarakatnya seolah-olah selalu lemah dan jauh dari sikap yang mandiri.
Pemberian Dana Desa langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dikelola masyarakat desa adalah salah suatu bukti konkrit Pemerintahan untuk membangun dari pinggiran dan desa-desa. Dana desa yang diterima merupakan salah satu pendapatan Desa yang dikelola dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). APBDes terdiri dari pendapatan, belanja dan pembiayaan Desa.
Pendapatan desa yang dikelola bersama masyarakat desa bersumber dari (a) Pendapatan Asli Desa (PADes), (b) Transfer; dan (c) Pendapatan lain-lain. PADes terdiri dari hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, serta lain-lain pendapatan asli desa. Sedangkan pendapatan transfer yang dimaksud adalah Dana Desa, bagian dari Hasil Pajak Daerah Kabupaten/Kota, Alokasi Dana Desa (ADD), Bantuan Keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan Bantuan Keuangan dari APBD
3
Kabupaten/Kota. Dan yang terakhir Pendapatan lain-lain meliputi, Hibah dan sumbangan pihak ketiga yang tidak mengikat dan pendapatan Desa yang sah (Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2014).
Desa-desa yang ada di KabupatTen Tabanan sebagian besar perekonomian bertumpu pada sektor pertanian, namum beberapa desa pada sektor perdagangan dan ada pula yang di sektor pariwisata. Dana Desa dan Alokasi Dana Desa merupakan pendapatan terbesar mereka jika dibandingkan dengan PADes sendiri. Penetapan prioritas Dana Desa, mengacu pada PP Nomor 60 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, yang telah diubah menjadi PP Nomor 22 Tahun 2015. Dalam PP tersebut dijelaskan, bahwa mengingat Alokasi Dana Desa bersumber dari belanja pemerintah pusat, untuk mengoptimalkan penggunaan Dana Desa, pemerintah diberikan kewenangan untuk menetapkan prioritas penggunaan Dana Desa untuk mendukung program pembangunan Desa dan Pemberdayaan masyarakat Desa.
Pemerintah Desa sesuai UU no 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah Kepala Desa atau Perbekel yang dibantu oleh Perangkat Desa (Sekretaris Desa, Kepala Seksi dan Bendahara). Dalam rangka mewujudkan terwujudnya tata kelola yang baik (good governance) dalam penyelenggaraan desa, pengelolaan Keuangan Desa sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 113 Tahun 2014 adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa, dan dalam tata kelola keuangan desa tetap
4
mengacu pada prinsip transparan, akuntabel dan partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
Bendahara Desa tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan keuangan desa serta mempunyai tugas: menerima, menyimpan, menyetorkan/membayar, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan penerimaan pendapatan desa dan pengeluaran pendapatan desa dalam rangka pelaksanaan APBDes (Permendagri No 113 Tahun 2014). Selain itu seorang Bendahara Desa harus mampu merencanakan kas yang baik, memungut dan menyetorkan pajak, mencegah terjadinya penyimpangan dan kebocoran dana serta mengupayakan agar keuangan desa berputar sesuai dengan kebutuhan sehingga roda pemerintahan desa berjalan lancar. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur (Permendagri No 13 Tahun 2006)
Mengelola keuangan desa yang cukup besar membuat beberapa Bendahara Desa belum bisa melaksanakan tata kelola keuangan yang baik seperti transparan, akuntabel serta tertib administrasi. Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Bali melihat beberapa kesalahan yang
dilakukan oleh Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan antara lain: (1) penatausahaan keuangan desa oleh Bendahara Desa belum tertib yang beresiko
terjadinya penyalahgunaan keuangan desa; (2) Bendahara Desa tidak mencatat setiap transaksi sehingga tidak dapat ditelusuri perbedaan antara saldo bank dengan kas tunai pada akhir periode; (3) Tata keuangan desa belum dikelola secara baik seperti uang yang diterima dipakai langsung tanpa melalui mekanisme
5
APBDes.; dan (4) Sistem Pengendalian Intern (SPI) kurang efektif, seperti Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Tabanan belum menetapkan peraturan dan petunjuk pelaksaaan dana desa, bimbingan teknis dan pendampingan belum maksimal.
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa telah mensyaratkan bahwasanya semua penerimaan dan pengeluaran desa dilaksanakan melalui Rekening Kas Desa; harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah; Bendahara Desa wajib melakukan pencatatan setiap transaksi serta melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Perwakilan Provinsi Bali, Nomor: 29/LHP/XIX.DPS/12/2015, tanggal 31 Desember 2015 menyimpulkan bahwa: pemeriksaan BPK terhadap kinerja Bendahara Desa di 30 Desa yang menjadi sampel ditemukan beberapa penyimpangan sebagai berikut: (1) Pengelolaan penerimaan asli desa di luar mekanisme APBDes; (2) Buku pencatatan transaksi keuangan belum semua dibuat; (3) Pencatatan Buku Kas Umum (BKU) tidak tertib dan tidak sesuai dengan tanggal transaksi; (4) Bendahara menyimpan uang lebih dari 10 juta Rupiah.
Rekomendasi yang diberikan oleh BPK RI terkait permasalahan Dana Desa terutama menyangkut kinerja Bendahara Desa adalah: (1) Bupati Tabanan agar memerintahkan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa untuk menyusun panduan penatausahaan keuangan desa untuk memudahkan
6
(2) Mengadakan bimbingan teknis kepada Perbekel dan Perangkat Desa guna meningkatkan pengetahuan agar pengelolaan keuangan desa dapat berjalan dengan ketentuan perundang-undangan. Melihat rekomendasi yang diberikan BPK RI terhadap berbagai temuan Dana Desa, kinerja seorang Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan merupakan fenomena sangat menarik untuk diteliti.
Kompetensi yang dimiliki seorang Bendahara Desa merupakan kemampuan yang dimiliki untuk bekerja sesuai dengan tujuan yang diinginkan organisasi. Kompetensi dapat meningkatkan kinerja Bendahara Desa karena dengan kompetensi tinggi berdampak pada kepercayaan diri dalam bekerja. Kompetensi yang dimaksud adalah pendidikan, pengalaman dan pelatihan. Pendidikan yang tinggi menyebabkan seorang pegawai mampu menyerap pengetahuan yang diterima, semakin lama menduduki posisi Bendahara Desa membuat pengalaman dalam menyelesaikan tugas akan lebih baik, cepat dan akurat. Serta banyaknya pelatihan yang diikuti Bendahara Desa akan membuat keterampilannya bertambah. Ketiga indikator tersebut dapat tercermin dari kompetensi karyawan yang dapat memotivasi dalam bekerja.
Penelitian terdahulu yang membuktikan adanya hubungan kompetensi dengan kinerja pegawai antara lain: Rahman, dkk (2014), Safwan, et al (2015), Emmayah (2009), Suryadana, dkk (2014) yang menyatakan kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Namun demikian, di lain sisi ada penelitian yang menunjukkan hasil yang berbeda seperti Dhermawan dkk (2012) yang melakukan penelitian pada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, menunjukkan
7
bahwa kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Demikian pula dengan penelitian Linawati dan Suhaji (2011) yang menyatakan bahwa variabel kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. Herculon Carpet Semarang.
Faktor lain yang memengaruhi kinerja Bendahara Desa adalah kepemimpinan. Kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang atasan dapat dipersepsikan oleh setiap individu bersifat negatif atau positif. Persepsi yang berbeda-beda ini dipengaruhi faktor kebutuhan karyawan/bawahan. Kebutuhan merupakan dorongan yang muncul dalam diri maupun luar individu, salah satunya kebutuhan perhatian dari atasan dengan kata lain pegawai mengharapkan kepemimpinan secara teratur dan sesuai dengan atasan. Bendahara Desa akan semangat dan bergairah dalam kerja bila atasan yang dijadikan panutan mereka memberikan contoh yang baik sehingga dapat meningkatkan kinerja dari Bendahara Desa. Penelitian yang menerangkan bahwa kepemimpinan berpengaruh pada kinerja pegawai antara lain: Suryadana, dkk (2014), Henarathgoda (2016), Thao, et al (2015), Jankingthong (2012), Munparidi (2012), Wahyuni (2015)
Penelitian lain yang mengungkapkan bahwa kepemimpinan berpengaruh negatif terhadap kinerja pegawai: Brahmasari dan Suprayetno (2008), Melati (2011) ini berarti hasil dari manajerial kepemimpinan belum tentu mempunyai dampak yang selalu positif. Pemimpin yang lebih menekan bawahan/karyawan justru akan menurunkan kinerja karyawan. Berdasarkan perbedaan hasil penelitian
8
tersebut terlihat ada perbedaan pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai sehingga diduga ada faktor lain yang dapat memoderasi hubungan kepemimpinan dan kinerja adalah motivasi.
Lingkungan kerja yang kondusif juga dapat memengaruhi kinerja Bendahara Desa. Kondisi lingkungan yang baik memberikan suasana dan kondisi kerja yang baik pula. Lingkungan kerja dapat dilihat melalui hubungan kerja karyawan dan pimpinan, hubungan antar karyawan, kebersihan, sirkulasi udara, penerangan, dll. Hal tersebut diungkap dalam penelitian Sukmasari (2011) dan Munparidi (2012) mengatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Lingkungan kerja yang segar dan nyaman serta memenuhi standar kebutuhan layak akan memberikan kontributsi terhadap kenyamanan karyawan dalam melakukan tugasnya.
Perbedaan hasil penelitian tersebut, Govindarajan (1988) menyatakan bahwa pendekatan kontijensi (contingency approach) dapat dipergunakan sebagai solusi atas ketidakkonsistenan hasil-hasil riset sebelumnya. Pendekatan kontigensi dapat dipakai untuk semua pengetahuan yang mutakhir tentang organisasi dengan cara yang paling tepat, karena tindakan yang tepat bergantung pada variabel situasional (Davis dan Newstrom, 1985). Pendekatan kontijensi ini mempunyai pandangan bahwa hubungan antara variabel bebas dengan varibel terikat dipengaruhi oleh variabel yang bersifat kondisional, seperti motivasi.
Selain ketiga variabel bebas diatas yaitu kompetensi, kepemimpinan dan lingkungan kerja, terdapat variabel lain sebagai pemoderasi yang juga diduga
9
memengaruhi peningkatan kinerja Bendahara Desa yaitu motivasi. Festinger (dalan Kluvers dan Tippet, 2009) karyawan dengan motivasi tinggi tetapi tidak mencapai harapan yang diinginkan, maka karyawan tersebut akan melakukan pembenahan aktivitasnya guna mencapai harapannya. Demikian sebaliknya karyawan dengan motivasi rendah, ketika tidak dapat mencapai harapannya, karyawan tersebut beranggapan sebatas itulah kemampuan yang dimilikinya. Sejalan dengan pendapat Festinger, beberapa penelitian menunjukkan bahwa karyawan dengan motivasi tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula yaitu: Munparidi (2012), Rahman (2014) dan Sawitri (2011) yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Penelitian lain menjelaskan motivasi sebagai moderasi terhadap kinerja adalah Sulistyawati (2012) menyatakan bahwa motivasi signifikan memoderasi pengaruh komitmen organisasi terhadap kepuasan kerja dan penelitian Wasasih (2015) menyatakan motivasi memperkuat pengaruh pendidikan terhadap kinerja Bendahara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Tabanan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1) Apakah motivasi mampu memoderasi pengaruh kompetensi pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan?
2) Apakah motivasi mampu memoderasi pengaruh kepemimpinan pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan?
10
3) Apakah motivasi mampu memoderasi pengaruh lingkungan kerja pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk memberikan bukti empiris kemampuan motivasi memoderasi pengaruh kompetensi pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan. 2) Untuk memberikan bukti empiris kemampuan motivasi memoderasi
pengaruh kepemimpinan pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan.
3) Untuk memberikan bukti empiris kemampuan motivasi memoderasi pengaruh lingkungan kerja pada kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan.
1.4 Manfaat Penelitian
Apabila tujuan penelitian seperti tersebut diatas dapat diwujudkan, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1) Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dan memberikan kontribusi pemikiran kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan khususnya Kepala Desa selaku Pengelola Keuangan Desa dalam penunjukan pegawai yang bertugas sebagai Bendahara Desa perlu memperhatikan
faktor-11
faktor yang memengaruhi kinerjanya antara lain: (a) kompetensi meliputi pendidikan, keterampilan dan pengalaman; (b) kepemimpinan meliputi memberikan arahan, pembagian tugas, kecepatan mengatasi masalah serta pengawasan; (c) lingkungan kerja meliputi kondisi fisik kerja, hubunga kerja yang harmonis dan komunikasi yang efektif; dan (d) motivasi meliputi kelayakan kompensasi, penghargaan prestasi serta otonomi dalam melaksanakan tugas.
2) Manfaat Teoritis yang berhubungan dengan motivasi
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan Goal Setting Theory dalam mencapai tujuan organisasi harus melakukan perencanaan yang berkaitan dengan kompetensi, kepemimpinan dan lingkungan kerja agar kinerja Bendahara Desa dapat maksimal. Pendekatan kontijensi salah satunya adalah motivasi bertindak sebagai variabel moderasi yang berkaitan dengan kinerja Bendahara Desa di Kabupaten Tabanan serta memberikan dukungan konseptual pada pengembangan akuntansi sektor publik.