DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT PANITIA KERJA DPR·RI
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBINAAN DAN PERLINDUNGAN KETENAGA KERJAAN (PPK), DAN RUU TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN
INDUSTRIAL (PPI)
---T ahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Sifat RapatHari/T anggal Rapat Waktu
Deng an Tempat
2001-2002 IV
Rapat Panitia Kerja Terbuka
Minggu, 15 Juli 2001 14.00 WIB
Dirjen Binawas dan jajarannya Hotel Salak - Bogar
Ke tu a H. Amru Almu'tashim, SH, MM/Ketua Panja RUU PPK & PPI DPR-RI
Sekretaris Acara
Anggota Hadir
Ny. Anita Soekardjo, SH Membahas DIM
dari 49 orang anggota Panja RUU PPK
&
PPI DPR-RI orang ijinPIMPINAN PANSUS RUU PPK & PPI DPR-RI:
1. Dr. SURYA CHANDRA SURAPATY, MPH, P.HD (F-PDIP/ KETUA) 2. DRS. T JARDA MUCHTAR, MBA (F-PG/WAKIL KETUA)
3. H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, MBA (F-PPP/WAKIL KETUA) 4. H. AMRU AL MUTASHIM, SH, MM (F-PKB/WAKIL KETUA)
F-PDIP:
5. DRS. AGUS CONDRO PRAYITNO 6. ORA. BUDININGSIH
7. H. SAMBAS SOERJADI
8. DRS. JACOBUS K. MAYONG PADANG 9. DRS. HADI WASIKOEN
10. H. SYAHRUL AZMIR MATONDANG 11. RUSMAN LUMBANTORUAN B.TH 12. H. WOWO IBRAHIM
13. WILLIAM M. TUTUARIMA 14. IRMADI LUBIS
15. ERWIN PARDEDE
16. DR. REKSO AGENG HERMAN 17.DRS.MARSUDIPANDINEGARA
f·PKB:
34. ORA. NY. IDA FAUZIYAH 35. AHMAD MUBASYIR MAHFUD 36. K.H. KHALILURRAHMAN 37. KH. MACHRUS USMAN 38. DR. AN. RADJAWANE F·TNI I POLRI : 39. TAATTRI JANUAR 40. PRAYOGO, SIP 41. GADIONO, SIP 42. ROCHMULYATI, BSC
F-PG: F-REFORMASI :
18.
RAMBE KAMARULZAMAN, MSC 43. H. ROQIB ABDUL KADIR19. DRS. H.A. DJAHIDIN
44.
IR. AFNI ACHMAD20. AZAR MUCHLIS, SH 45. H. PATRIALIS AKBAR
21. DRS. H. BAMBANG W. SOEPRAPTO
46.
KH. LUTFHI ACHMAD 22. H. HASANUDDIN MURAD, SH23. DR. BURHAN DJABIR MAGENDA F-KKI:
24. SYAMSUL BACHRI, MSC 47. BIRINUS JOSEPH RAHAWADAN
25. DRS. IBNU MUNZIR
26. PEDDY TANDAWUYA, BA f·PBB:
27. ORA. HJ. YETJE LANASI 48. ORA. HJ. NURBALQIS 28. DRS. RUBEN GOBAY
f.ppp: f·PDU:
29. H.M. ARSYAD PANA 49. DRS. MUCHAROR, AM
30. HJ. CHODIDJAH H.M. SALEH 31. H. AMALUDDIN NASUTION 32. H. ABDUL KADIR AKLIS 33. HM. IZZUL ISLAM
KETUA RAPAT (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH, MM/F·PKB) : Assalamu'alaikum warakhmatullahi wabarokatuh,
lbu dan Bapak Anggota Panja yang terhormat, Pemerintah dan jajarannya yang terhormat,
Pada pagi hari ini kita akan melanjutkan pembahasan DIM dan untuk itu skors kami cabut dan rapat kami buka kembali. Dan untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali maka kami akan membacakan permasalahan yang telah kita setujui bersama yaitu:
Pasal 16 a, pasalnya Timsin, isi pasal
Ayat ( 1) : Di wilayah kerja dimana pekerja/buruh menyelesaikan perselisihan kepentingan dan perselisihan hubungan kerja melalui konsiliasi dilakukan oleh konsiliator",
(RAPAT: SETUJU)
Ayat (2) "Penyelesaian oleh konsiliator sebagaimana dimaksud ayat {1) dilaksanakan setelah para pihak mengajukan permintaan penyelesaian secara tertulis kepada konsiliator yang ditunjuk dan disepakati oleh para pihak",
(RAPAT: SETUJU)
Ayat (3) "Para pihak dapat mengetahui nama konsiliator yang akan ditunjuk dan disepakati dari daftar nama konsiliator yang dipasang dan diumumkan pada kantor instansi pemerintah yang ... di bidang ketenagakerjaan",
(RAPAT: SETUJU)
Catatan konkordan dengan DIM 97 pasal 9 ayat {2) yang berbunyi:
11
penyelesaian oleh mediator sebagaimana dimaksud dalam ayat { 1) dilaksanakan setelah para pihak mengajukan permintaan penyelesaian secara tertulis kepada mediator yang ditunjuk dan disepakati oleh para pihak"
Pasal 16 b Timsin, isi pasal:
11
Dalam waktu paling lama 7 hari kerja setelah menerima permintaan penyelesaian perselisihan secara tertulis, konsiliator harus sudah mengadakan penelitian tentang duduknya perkara dan selambat-lambatnya pad a hari kerja kedelapan harus sud ah dilakukan sidang konsiliasi pertama".
Pasal 16 c Timsin, isi pasal : Ayat (1) 11
Konsiliator dapat memanggil saksi atau saksi ahli untuk hadir dalam sidang konsiliasi guna diminta dan didengar keterangannya".
Ayat (2) "Saksi atau saksi ahli yang memenuhi panggilan berhak menerima penggantian biaya perjalanan dan akomodasi yang besarnya ditetapkan dengan keputusan menteri". Pasal 16 d, Timsin, isi pasal:
"barangsiapa yang diminta bantuannya oleh konsiliator guna penyelidikan untuk penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan undang-undang ini wajib memberikannya tanpa syarat termasuk membukakan buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan",
Catatan disetujui berkonkordan dengan DIM 107. Pasal 16 e Timsin, isi pasal:
Ayat (1) 'Dalam hal penyelesaian melalui konsiliator sebagaimana dimaksud dalam pasal.. ... , pasal ... , dan pasal ... tercapai kesepakatan penyelesaian maka dibuat persetujuan bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan diketahui oleh konsiliator"
Ayat {2) 11
Dalam hal penyelesaian melalui konsiliasi sebagaimana dimaksud dalam pasal. ... , pasal ... , dan pasal ... tidak tercapai kesepakatan penyelesaian maka konsiliator mengeluarkan anjuran tertulis"
Ayat (3) 11
Anjuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) paling lama 14 hari kerja sejak sidang konsiliasi pertama harus sudah disampaikan kepada para pihak"
Ayat (4) "Dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis, para pihak harus sudah memberikan pendapatnya kepada konsiliator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis"
Ayat (5) 11
Pihak yang tidak memberikan pendapatnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dianggap menolak anjuran".
Ayat (6) "Dalam hal para pihak menyetujui anjuran secara tertulis dari konsiliator, paling lambat lima hari kerja sejak anjuran tertulis disetujui konsiliator harus sudah membantu para pihak membuat persetujuan pertama"., semuanya disetujui.
Pas al 16 f, Tims in :
Ayat {1) "Dalam hal anjuran tertulis sebagaimana dimaksud dalam pasal... .... ayat (2) ditolak oleh salah satu pihak atau para pihak, maka perselisihan kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja diselesaikan melalui pengadilan perselisihan hubungan . industrial pada pengadilan negeri setempat"
Ayat (2) "Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dengan pengajuan gugatan oleh salah satu pihak kepada pengadilan perselisihan hubungan industrial pada pengadilan negeri setempat".
Pasal g Tims in, isi pasal :
11
Konsiliator menyelesaikan tugasnya dalam waktu paling lama 40 (empat puluh) hari kerja terhitung sejak menerima permintaan penyelesaian perselisihan". lni tidak perlu tertulis.
Pasal 16 h, Timsin, isi pasal: Ayat (1) 11
konsiliator harus terdaftar pada instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan syarat :
a. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. warga negara Indonesia;
c. berumur sekurang-kurangnya 30 tahun; d. pendidikan minimal lulusan SL TA;
e. berbadan sehat sesuai dengan surat keterangan dokter; f. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakukan tidak tercel a;
g. mempunyai pengalaman dibidang hubungan industrial sekurang-kurangnya 3 tahun;
h. menguasai peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan; i. Syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh menteri.", disetujui.
Penjelasan huruf i •yang dimaksud dengan syarat lain huruf i ini adalah antara lain pengaturan tentang standar kompetensi konsiliator, pelatihan konsiliator dan seleksi konsiliator'' dan masalah teknis lainnya.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG/F-PPP) :
lnterupsi sedikit. Penjelasan ini kemarin ditambahkan dengan ayat (1), jadi penjelasan ayat (1) huruf i.
KETUA RAPAT:
Ya, penjelasan ayat ( 1) huruf i. " ... syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh menterl', yang betul ini kita tanyakan ahli bahasa 11
syaraf' atau "syarat-syarat lain" AHLI BAHASA :
Disitu kata 11
syaraf' sudah mewakili, sudah bisa dikatakan jamak, lain. Kemudian saya mohon ayat (1) i saja, tidak usah huruf i. lni dari sudut bahasa.
KETUA RAPAT:
Dari sudut hukum pak Profesor. AHLI HUKUM:
Tam bah kata huruf pak, jadi ayat ( 1) huruf i memang biasa begitu. KETUA RAPAT:
Jadi penjelasan ayat (1) huruf i, bisa diterima ini. Ayat (2) 11
Konsiliator yang telah terdaftar sebagaimana dimaksud ayat (1) diberi legitimasi o/eh menteri atau pejabat yang berwenang di bidang ketenagakerjaan",
Pasal 16 i Timsin, isi pasal 11
konsiliator berhak mendapat ... berdasarkan penyelesaian perselisihan dan dibebankan kepada negara". 11
konsilator berhak mendapat honorarium dan imbalan jasa" nanti yang betul yang mana pak. Yang konsiliator mendapat kan sudah, "konsiliator berhak mendapat 11
itu hitam. 11
honararium dan imbalan, jasall masih merah berdasarkan penyelesaian perselisihan dan dibebankan kepada negara sudah hitam. Di atas diganti bisa disepakati.
Ayat (2) "besarnya honorariumlimbalan jasa (itu merah) sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan oleh menterf' jadi yang merah "honorariumlimbalan jasa", silakan.
F·PDIP (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) :
Klarifikasi dulu dengan ahli bahasa ayat (1) ini, apakah tidak timbul interpretasi yang dibebankan kepada negara itu apa, apa penyelesaian perselisihannya atau honorariumnya di dalam kalimat ini.
KETUA RAPAT:
lni juga ahli hukum dan ahli bahasa saya persilakan. AHLI BAHASA :
Kalau melihat kalimat ini yang dibebankan kepada negara itu jelas honorariumnya, karena konsiliator berhak mendapat honorarium atau imbalan jasa berdasarkan penyelesaian perselisihan, mestinya kata yang dibebankan kepada negara. Artinya honorarium itu dibebankan kepada negara.
KETUA RAPAT:
Konsiliator berhak mendapat honorarium atau imbalan jasa berdasarkan penyelesaian perselisihan yang dibebankan kepada negara, mungkin professor Gunawan supaya tidak timbul interpretasi lain.
AHLI BAHASA :
Sebenarnya apa yang disampaikan oleh rekan kita ahli bahasa sudah memadai, artinya tidak akan salah pengertian atau interpretasi. Namun kalau akan dirubah juga dengan "honorarium, imba/an jasa yang dibebankan kepada negara berdasarkan penyelesaian perselisihan" juga bisa. Saya kira mungkin lebih jelas sebagaimana yang dikemukakan dari bapak PDIP Perjuangan.
KETUA RAPAT:
Jadi "konsHiator berhak mendapat honorariumlimbalan
jasa
yang dibebankan kepada negara berdasarkan penyelesaian perselisihan". "konsiliator berhak mendapatkan ... yang dibebankan kepada negara", silakan.F-TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP):
Kalau bisa saya mengusulkan demikian "konsiliator berhak mendapat honorariumlimbalan jasa yang dibebankan kepada negara berdasarkan perselisihan yang diselesaikannya"
KETUA RAPAT:
Bisa ini, ini yang warga negara kan sudah final itu. Catatan apa pemerintah akan konsultasi dalam masalah pada waktu itu, bagaimana pak Dirjen.
PEMERINTAH:
Memang yang akan kita pakai honorarium atau imbalan jasa, nanti berdasarkan hasil konsultasi kita yang memungkinkan, kalau sampai sekarang saya lebih sreg pada yang pertama tadi. Karena honorarium dan imbalan jasa yang dibebankan kepada negara berdasarkan penyelesaian perselisihan, seolah-olah beban-beban negara itu yang berdasarkan penyelesaian perselisihan, padahal besarnya honorarium itu yang berdasarkan kepada penyelesaian perselisihan, bahwa nanti negara yang membayar itu konteks lain.
KETUA RAPAT:
Dibandingkan yang di bawahnya, "konsiliator berhak mendapat...', pilih yang mana, pemerintah menghendaki yang bawah, ini kan tidak ada prinsip. Maksud kami sebenamya menurut professor Gunawan yang bawah ini juga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berbeda. Kalau yang di atas menurut pak Dirjen menimbulkan interpretasi.
PEMERINT AH :
Menurut kami penyelesaian perselisihan itu berupa keterangan ataupun ikutan dari besarnya honorarium dan imbalan, bahwa nanti itu dibayar oleh negara itu merupakan suatu bentuk pengertian lain. lni kalau saya, terserah.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BAIF·PPP) : Saya kira sudah tepat yang bawah ini.
KETUA RAPAT:
Yang bawah ya, saya harapkan dihitamkan lagi "konsilator berhak mendapat (itu hitam) dan berdasarkan (itu seluruhnya hitam).", setuju
Honorarium, imbalan jasa, pemerintah berkonsultasi dengan menteri, kemarin sudah putu~ saya kira.
Ayat (2) " ... honariumlimbalan
jasa
(merah) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan o/eh menterl', sudah disetujui.Sekarang pasal 16 j, pasalnya Timsin, Ayat (1) 11
Kinerja konsiliator dalam satu periode tertentu dipantau dan dinilai oleh menteri atau pejabat yang berwenang dibidang ketenagakerjaan".
Ayat (2) legitimasi konsiliator dapat dicabut oleh menteri atau pejabat yang berwenang di bidang ketenagakerjaan dalam hal konsiliator:
a. meninggal dunia;
b. terbukti melakukan tindak pidana kejahatan; c. penyalahgunaan jabatan;
d. tidak cakap menajalnkan tugas; atau e. mengundurkan diri atas perminta sendiri.
Saya tidak ikut kemarin-kemarin, saya ingin tanya kepada professor Gunawan, ini apakah mesti tindak pidana kejahatan, apakah hanya kejahatan yang harus dicabut, yang tidak kejahatan monggo. Hal-hal lainnya misalnya bisa tidak.
AHLI HUKUM:
Saya kira kalau masih tindak pidana, pelanggaran, itu waktu hukumannya tidak lebih dari satu tahun, dan kalau kita hubungkan dengan ketidakhadiran karyawan yang ditolelir sampai satu tahun berdasarkan analogi dari PP 8/1981, maka tentunya tidak begitu saja dapat diberhentikan atau dicabut.
KETUA RAPAT:
Kalau misalnya tidak bayar pajak, itu kejahatan atau pelanggaran, mestinya kan pelanggaran.
AHLI HUKUM:
Jadi hanya kualitas dari tindak pidana itu, kalau pelanggaran lebih ringan dan kalau kejahatan lebih berat. Kalau kejahatan otomatis dapat diberhentikan.
KETUA RAPAT:
Sudah disetujui 16 k Timsin "Ketentuan mengenai tata cara pendaftaran, pengangkatan dan tata cara konsiliasi serta pencabutan legitimasi konsiliator diatur dengan Keputusan Menterf,
ini oke ada yang pending. Memang pendaftaran inikan ada 2, pendaftaran calon dan di daftamya itu, di atas kan ada di daftar dalam. Apa yang dimaksudkan menteri mendaftarkan itu ataukah pendaftaran calon. Dengan kata calon selesai saya kira, karena semuanya konsiliator, muaranya kan pendaftaran · ca Ion konsiliator, pengangkatan konsiliator, tata cara kerja konsiliator, serta pencabutan legitimasi konsiliator, kan begitu. Kalau demikian halnya tata cara konsiliasi itu harus di belakang, jadi pendaftaran, pengangkatan dan pencabutan legitimasi konsiliator, jadi jangan disisipkan kata kerja konsiliasi.
Pak Dirjen. PEMERINTAH:
Kalau pola pikir kami bahwa sesudah diangkat tentu dia bekerja, maka kita atur tata cara kerja konsiliasi, sesudah itu selama dia bekerja atau oleh sebab lain legitimasinya dapat dicabut. ltu urutannya begitu menurut pola piker kami.
KETUA RAPAT:
lni waktu itu usul pak Afni Ahmad membalikan tata kerja konsiliasi, konsep awal semula tata kerja konsiliasi itu di belakang, inikan terjadi perdebatan, usul pak Afni Ahmad kata kerja konsiliasi itu disisipkan, pencabutan legitimasi konsiliator di belakang. Kemudian pak Amru saya ingat pendaftaran calon itu siapa, calon konsiliator atau konsiliator. ltulah waktu itu dipending direnungkan dulu. Agar undang-undang ini tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi, itu harus jelas, jelas dan gampang orang mengerti itu. Kalau yang ini maksudnya pak Dirjen SK, sistematikanya demikian. Tapi kalau menurut pak chandra yang pentingkan jelas.
F·PDl·P (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) :
Kitakan harus jelas, pengangkatan, pengangkatan siapa, legitimasi konsiliatorkan, itu harus dicakup urutan kata-kata itu, pengangkatan dan pencabutan legitimasi konsiliator serta tata kerja konsiliasi. ltu lain kan, itu orangnya ini tata kerjanya, jadi urutan itu. Urutan kalimatnya supaya jelas.
KETUA RAPAT:
Jadi yang pertama itu personifikasinya dan yang kedua itu lembaganya. Saya kira tidak apa pak Dirjen. Tata cara pendaftaran ca/on, pengangkatan, dan pencabutan Jegitimasi konsliator serta tata kerja konsiliasi diatur dengan keputusan menterf'. Setuju ya? pak Dirjen sudah setuju.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BAIF·PPP):
Sebelum kata-kata pencabutan apa tidak diperlukan adanya penilaian dulu. KETUA RAPAT:
Sudah barang tentu
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP) : Menteri nantikan mesti menilai
KETUA RAPAT:
Setuju ya ? jadi pending hilang
(RAPAT : SETUJU)
Sekarang DIM 237 "Bab Ill, Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial",
DIM 238 disetujui berbunyi 11
8agian Pertama Umum",
DIM 239 Timsin pasalnya titik-titik, isi pasal "pengadilan perselisihan hubungan industrial dibentuk pada pengadilan negeri dan pada mahkamah agung", oke ini
ya.
Pasal titik-titik DIM 241, DIM 242 disetujui berbunyi 11
untuk pertama dengan undang-undang ini dibentuk pengadilan perselisihan hubungan industrial pada setiap pengadilan negeri disetiap ibukota propinsf', sudah oke.
Ayat (2) DIM 243 berbunyi 'di kabupatenlkota terutama yang padat industri, dengan keputusan presiden, harus segera dibentuk pengadilan perselisihan hubungan industrial pada pengadilan negerl', tidak ada masalah.
DIM 244 dicabut catatan terkait dengan pembahasan pasal 82. penjelasan ayat (2) pending, yang dimaksud dengan segera dalam ayat ini adalah bahwa dalam waktu paling lama bulan sesudah undang-undang ini berlaku efektif terbentuknya pengadilan di ibukota propinsi, pending ini ya.
Sekarang DIM 245, silakan ANGGOTA FRAKSI ... :
Barangkali yang pending ini bisa diputuskan sekarang, persoalannya cuma memilih antara berlaku efektif atau terbentuknya pengadilan di ibukota propinsi, yang mana kita tetapkan ini. Enam bulan sesudah berlaku efektif atau enam bulan sesudah terbentuk nya pengadilan di ibukota propinsi.
KETUA PANSUS :
Karena kaitannya itu dengan lingkungan di tingkat kota dan kabupaten, memang untuk pertama kalinya kita bentuk di ibukota propinsi. Jadi untuk kedua kalinya itu menjadi prioritas kota yang kabupaten yang padat industrinya. Karena kalau kita tidak batas ideal, jadi mulai terbentuk pengadilan di lbukota Propinsi. Jadi di propinsi sudah terbentuk maka berikutnya kota dan kabupaten yang padat·industrinya.
KETUA RAPAT:
lni penjelasan ayat (2) di kabupaten kota terutama yang padat industri, contohnya Tangerang padat, Tangerang kabupaten dan kotanya memang padat industri. Dengan keputusan presiden harus segera dibentuk pengadilan perselisihan hubungan industrial pada pengadilan negeri setempat. Artinya kemudian penjelasan ayat (2) supaya segera dibentuk propinsi. Penjelasan ayat (2) yang dimaksud kata segera dalam ayat ini adalah bahwa dalam waktu paling lama 6 bulan sesudah undang-undang ini berlaku atau terbentuknya pengadilan segera berfungsi.
F·PDIP (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) : Sesudah undang-undang ini berlaku atau terbentuknya KETUA RAPAT:
Ayat (1) ini sudah jelas, kan sudah definitive segera terbentuk di lbukota Propinsi, sekarang persoalannya kan daerah yang mendesak supaya segera dibentuk. Segera dibentuk kalau kalimat ini apa masih kurang. Paling lama 6 bu Ian sesudah undang-undang ini berlaku atau terbentuknya pengadilan di ibukota propinsi. lni ada yang usul pak Dirjen, sesudah berlakunya undang-undang ini. Tapi sebenarnya kan sesudah undang-undang ini berlaku propinsi terbentuk, sesudah propinsi terbentuk 6 bulan paling lama dari lahimya pengadilan itu sudah harus ada. Say a kira dengan ini kan sud ah efektif.
PEMERINT AH :
Ada kemungkinan di propinsi B misalnya kondisi propinsi belum memungkinkan tapi di kabupaten yang mendesak.
KETUA RAPAT:
Contohnya saya kira tidak ada itu pak.
PEMERINT AH :
Propinsi persiapan misalnya Banten.
KETUA PANJA :
Propinsi Banten saya kira itu tidak, kan sudah sah, propinsi Gorontalo saya kira itu tidak mendesak, karena Gorontalo industri tidak padat.
Setuju ? pemerintah sudah setuju titik, pemerintah setuju kalimat ini ? (RAPAT : SETUJU)
lni pending hilang, sekarang DIM 245,
lni saya tidak mengikuti kalau nanti keliru mohon dimaafkan. DIM 246 pasal 30 saya kira semua sudah kesepakatan Timsin, disini saya persilakan pemerintah memberikan penjelasan.
DIM 247 pasal 30
PEMERINT AH :
Pasal 30 berbunyi susunan pengadilan perselisihan industrial : a. hakim; b. hakim adhoc. C. hakim kasasi. D. panitera muda; dan e. panitera pengganti. Kemudian penjelasan karena ini teknis hukum, saya mintakan bantuan ahli hukum supaya lebih jelas.
AHLI HUKUM:
Dari ide sudah dibahas di forum pertemuan antara pemerintah dengan Mahkmah Agung dan Departemen Kehakiman, dalam membahas susunan pengadilan perselisihan hubungan industrial ini, dijelaskan bahwa untuk tingkat pengadilan negeri, jadi untuk tingkat I masih ditolelir adanya hakim adhoc. Sehingga di dalam pengadilan penyelesaian perselisihan hubungan industrial di peradilan tingkat pertama itu diperkenankan mengusulkan adanya hakim adhoc yang berasal pengusaha maupun dari serikat pekerja atau serikat buruh. Sehingga prinsip tripartit yang pernah dikenal di P4 itu masih tetap dapat diterapkan di dalam pengadilan penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Kemudian di dalam menggunakan upaya hukum, yaitu adanya putusan yang kemudian di banding dan putusan yang di tingkat pengadilan tinggi (di kasasi), maka di dalam proses pengadilan penyelesaian perselisihan hubungan industrial hanya dikenal putusan tingkat pertama dan langsung kasasi. Di dalam tingkat kasasi sesuai dari penjelasan pejabat Mahkamah Agung tidak dikenal adanya hakim agung adhoc. Oleh karena itu maka di dalam susunan ini tidak disebutkan adanya hakim agung adhoc, tetapi langsung disebut sebagai hakim kasasi. Kasasi tentunya terdiri dari hakim agung yang menangani dan memeriksa perkara-perkara kasasi. Sehingga tidak ada sebutan agung disitu karena proses kasasi hanya di tingkat Mahkamah Agung.
Kemudian dari aspek administrasinya dikenal adanya panitera muda dan panitera pengganti, oleh karena pengadilan penyelesaian perselisihan hubungan industrial ini memang bagian dari pengadilan negeri, sehingga panitera kepalanya adalah panitera kepala dart pengadilan negeri.
Untuk administrasi perselisihan hubungan industrial ini maka dibentukfah unit administrasi yang dipimpin oleh panitera muda yang mempunyai anggota panitera-panitera pengganti, sehingga susunan pengadilan penyelesaian perselisihan industrial kita bertemu dengan tingkat pertama hakim yang terdiri dari hakim karier dan hakim adhoc, kemudian tingkat kasasi hakim agung yang menangani kasasi dan untuk administrasi hanya panitera muda dan panitera pengganti. Mudahan-mudah dengan penjelasan ini dapat dipahami.
KETUA RAPAT:
Jadi disini tidak ada pengadilan banding. Saya mengusulkan pasal ini kita bahas tuntas, 24 7 sampai 253 karena satu komponen. Disini yang ada pertama kali dari PKB dan PPP isinya hanya judul undang-undang, saya kira tidak ada masalah. Kemudian yang ada dari reformasi, ini pertanyaan siapa yang bertindak selaku hakim ketua, oh ini TN l/POLRI pertanyaan siapa yang bertindak selaku hakim ketua, seyogyanya hakim adhoc sebagai hakim anggota, hakim ketuanya hakim karier. Kemudian kalau dari PDKB hanya merubah supaya hakim adhoc dihapus, ini yang sudah ada, saya kira PKB dan PPP hanya judul. Sekarang saya putar dari fraksi ketua.
KETUA PANSUS :
Saya melihat di tingkat pengadilan negeri ada hakim adhoc, sedangkan di tingkat kasasi tidak ada, justru itu yang kita keberatan, karena kita inginkan tripartit itu juga sampai di tingkat kasasi. Jadi di tingkat kasasi sewajarnya ada hakim adhoc, kita juga tidak terlalu yakin bahwa hakim adhoc juga mengerti masalah undang-undang tenaga kerja. Jadi saya tetap ingin mengusulkan hakim kasasi itu juga harus ada hakim agung yang juga terdiri dari tripartit.
KETUA RAPAT:
Fraksi ketua sudah, sekarang saya mufai dari FKKI F·KKI (DRS. ANTHONIUS RAHAil) :
Kami memahami upaya yang telah dilakukan oleh pihak pemerintah sebagaimana tadi sudah dijelaskan bahwa apa yang ada ini merupakan hasil konsultasi yang normative pada pemerintah kita, ini dapat kami pahami. Kemudian. tadi ada pemikiran oleh pak ketua berkenaan dengan hakim kasasi dan perlunya hakim adhoc di tingkat kasasi. lni saya tidak tahu apakah itu suatu yang bisa kita lakukan sebagai konsekuensi reformasi atau pada tataran seperti ini bisa melaksanakan tugas sesuai dengan harapan kita manakala itu dianggap memadai. Kami pikir itu sebagai suatu yang sudah bisa.
KETUA RAPAT: Sekarang FKB.
F·KB (ORA. IDA FAUZIYAH) :
Kalau saya minta penjelasan dari pemerintah saja bagaimana normatifnya yang berlaku di peradilan kita, termasuk usulannya pak Jacob ditambahkan.
KETUA RAPAT:
Memang FKB ada d itu hakim agung adhoc, silakan FPG. F·PG {ORA. YET JE LANASI) :
Ketua Pansus pak Jacob yang memang sudah banyak berkecimpung dan sebagai bos SPSI, ini barangkali perlu dipertimbangkan apa yang disampaikan oleh nya tadi secara hukum kira-kira apakah bisa diterima.
KETUA RAPAT: Silakan F.PPP.
F-PPP ( H. ABDUL KADIR AKLIS) :
Jadi jiwa daripada undang-undang ini kita rencanakan dapat suatu penyelesaian yang murah, juga berkekuatan hukum sehingga tidak ada bolak-balik. Jadi apa yang disampaikan oleh ketua Pansus merupakan pengalamannya. Kami kira tidak bertentangan dengan apa yang kami usulkan disini.
KETUA RAPAT: Ada tambahan
WAKIL KETUA ( H.A. SYAHRUDJI TANJUNG) :
Nampaknya memang pada DIM yang kita bicarakan memang belum termasuk pada DIM 255, jadi kami mengusulkan adanya hakim kasasi adhoc itu. Dengan demikian prinsipnya kita sependapat dengan pak Jacob.
KETUA RAPAT: TN l/POLRI barangkali
WAKIL KETUA ( H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP) : Saya sependapat dengan Pak Jacob.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Fraksi TNl/Polri barangkali disamping menanggapi juga usulannya. T erima kasih.
F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) : Terima kasih.
Dari Fraksi TNl/Polri seperti tadi dibacakan oleh pimpinan rapat, kami mohon penjelasan dari Pemerintah siapa yang bertindak selaku hakim ketua dan seyogyanya hakim adhoc sebagai hakim agung Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Terima kasih.
Fraksi PDI Perjuangan
F·PDl·P (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) :
lni pertanyaan saya sebagai orang awam melihat kalimat ini, begitu; susunan pengadilan perselisihan hubungan industrial, itu susunan di dalam suatu pengadilan tingkat pertama dan tingkat kasasi itu dibedakan tidak. Jadi kalau melihat ini sekaligus ini, hakim adhoc, hakim kasasi langsung masuk di satu pengadilan itu. Jadi maksud saya apa maksud susunan itu, apa komposisi dalam satu sidang atau lembaga itu terdiri dari hakim-hakim adhoc - hakim kasasi, atau perlu dibedakan, ini untuk tingkat pertama, lebih dari ini tingkat kasasi terdiri dari ini, begitu, atau dia jadi
satu lembaga. Lembaga sendiri yang mencakup juga hakim pada pengadilan tingkat pertama dan hakim pada tingkat kasasi, itu jadi satu lembaga, begitu. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ada tambahan Pak Ketua. KETUA PANSUS :
Jadi pertanyaan yang dilontarkan oleh Fraksi POI Perjuangan itu yang perlu mendapat penjelasan Pemerintah, saya hanya ingin kasih contoh saja Pak ahli hukum ya, ada kasus diputuskan keempat pusat DOM (?), sudah diturunkan masuk jadi kasasi di hakim agung. Keputusan hakim agung itu keliru. Sebagai contoh lembur itu seharusnya maksimal 2 tahun dihitung, tetapi oleh hakim agung memutuskan sejak dia masuk sampai dia keluar dihitung lemburnya. ltu saya menganggap keliru diputuskan oleh hakim agung.
Yang kedua, contoh cuti. Cuti itu ketentuannya maksimal 2 tahun, atauy 1 tahun dia belum ambil, tetapi oleh keputusan hakim agung sejak dia masuk sampai selesai dia cuti terus. ltu juga menjadi persoalan, ya sampai ke DPR sini. lni satu contoh Pak, bahwa saya tidak sepakat kalau hanya hakim agung saja, bukan hakim adhoc. lni contoh kasus yang pernah sampai ke DPR, hakim agung salah memutuskan sehingga persoalan ini berlarut-larut sampai sekarang, terpasksa di PK lagi. Jadi ini kira-kira masalahnya kenapa saya mengusulkan supaya disana itu ada hakim adhoc yang terdiri secara tripartit, hakim agung karir dan hakim yang ditunjuk atau yang diangkat oleh presiden melalui Mahkamah Agung atau bagaimana itu nanti saya sepakat nanti. T etapi sebagai contoh seal kasus yang terjadi bahwa hakim agung salah memutuskannya karena tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah biasa diputuskan. Lembur itu paling maksimal 2 tahun yang dihitung, bukan sejak dia masuk sampai selesai walaupun itu menguntungkan pekerja. Tetapi menurut saya itu salah. Jadi tidak semua hakim agung mengerti masalah Undang-undang Ketenagakerjaan. Jadi kira-kira itu kenapa saya meminta adanya hakim adhoc. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Disini ada tiga persoalan ya. Persoalan pertama, ini susunan pengadilan. lni pertanyaannya, ini susunan pengadilan kok, isinya hakim sampai panitera. Kok tidak pengadilan tingkat I, kemudian pengadilan tingkat kasasi. ltu harus kita peroleh penjelasan.
Yang kedua, dari pertanyaan dari Fraksi TNl/Polri yang menjadi ketua nanti siapa. Usulan Fraksi TNl/Polri seyogyanya hakim agung adhoc sebagai hakim anggota, artinya hakim karir sebagai ketua. lni siapa hakim ini.
Yang ketiga, adanya hakim adhoc, hakim agung adhoc. lni ada beberapa fraksi, Fraksi PPP, Fraksi KB dan Fraksi POI Perjuangan.
Say a silakan Pemerintah untuk memberikan penjelasan. PEMERINTAH :
Kalau masalah-masalah yang bersifat umum, kami mungkin langsung menjawab Pak, tetapi nanti yang masuk teknis hukum nanti kita serahkan kepada ahli hukum. Yang pertama Adalah, sebelum nanti Pak Gunawan menjelaskan sebagaimana yang sudah disampaikan bahwa kita sampai kepada keputusan atau merumuskan sebagaimana yang tertera didalam pasal ini, setelah melakukan konsultasi. Jadi bagaimana nantinya konsultasi dan juga bagaimana prospek ke depan itu nanti kita mintakan Pak Gunawan.
Kemudian yang mengenai susunan, susunan ini terkandung maksud di pihak kami ada untuk menggambarkan kesungguhan proses Pak. Jadi supaya kelihatan di Mahkamah Agung itu juga ada bagian yang mengurus masalah kasus-kasus yang menyangkut perselisihan hubungan
industrial ini. Namun andaikata memang judul ini membingungkan dan terkesan bahwa hanya menyangkut skup yang terbatas, kami juga tidak keberatan apabila dilakukan perubahan struktural, begitu. Kemudian kalau pertanyaan yang menjadi ketua siapa, sebenamya di Pasal 55 kalau kita lihat sudah ada nanti diatur. Apa perlu saya bacakan Pak disini.
KETUA RAPAT:
Ya, silakan.
PEMERINT AH :
Jadi Pasal 55 ayat (1) menyebutkan begini; Ketua Pengadilan Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah menerima permohonan penyelesaian perselisihan harus sudah menetapkan Menje/is Hakim yang terdiri dari 1 (satu) orang hakim sebagai ketua majelis dan 2 (dua) orang hakim adhoc sebagai anggota majelis yang memeriksa dan memutus perselisihan.
Jadi say a kira kaf au sampai saatnya mungkin pertanyaan ini sudah akan terjawab. Untuk selanjutnya Pak Gunawan kami persilakan.
AHLI HUKUM:
Terima kasih.
Dalam susunan pengadilan penyelesaian perselisihan hubungan industrial ini memang pimpinannya itu adalah Ketua Pengadilan Negeri Pak. Oleh karena itu di dalam susunan ini tidak disebut pimpinan, karena pimpinannya itu adalah Ketua Pengadilan Negeri. Namun kalau ingin lebih jelas lagi pengelompokannya, tentunya memang dapat disusun; pengadilan penyelesaian hubungan industrial pada Pengadilan Negeri : hakim, hakim adhoc, panitera muda dan panitera pengganti. ltu yang coba ditulis langsung supaya itu tadi kita, jadi; susunan pengadilan perselisihan hubungan industrial pada Pengadi/an Negeri : (titik dua) atau terdiri dari (titik dua) hakim, hakim adhoc, panitera muda dan panitera pengganti. Jadi disini kita tidak menyebutkan pimpinannya, pimpinannya ex officio - Ketua Pengadilan Negeri.
Kemudian ayat (2); susunan pengadilan perselisihan hubungan industrial pada Mahkamah Agung terdiri dari: hakim kasasi. Kemudian b. Direktorat Hukum Perdata, atau akan disebut panitera juga boleh. Kemudian untuk kemungkinan untuk hakim agung adhoc dalam hal ini Pemerintah telah beberapa kali melakukan lokakarya atau semiloka, saya lupa Pak, kira-kira 3 kali dan di dalam forum itu dihadirkan Direktur Perdata, Direktur TUN dan Direktur Hukum dan Perundang-Undangan. Ada tiga pejabat. Kemudian dari Departemen Kehakiman hadir Direktur Perundang-Undangan. Dalam diskusi atas pengusulan Pemerintah untuk mengajukan jabatan hakim agung adhoc dijawab bahwa untuk tingkat Mahkamah Agung tidak dikenal adanya jabatan hakim adhoc. Oleh karena itu khsusunya dari Direktur Hukum dan Perundang-Undangan Mahkamah Agung menjelaskan dalam usulan ini kiranya tidak dapat didukung oleh mereka. Sehingga setelah dalam 2 atau 3 kali diskusi dalam pertemuan akhimya Pemerintah mengikuti, tidak mengajukan jabatan hakim agung adhoc tetapi langsung dengan sebutan hakim kasasi. Hal ini memang sulit sekali oleh karena contoh sebelum pengadilan yang kita susun dalam RUU ini belum pernah ada. Sedang untuk tingkat pertama sudah beberapa contoh adanya hakim adhoc, hanya bedanya untuk bidang lain hakim adhoc-nya temperer, sedang yang kita usulkan adalah hakim adhoc yang permanent dan tidak dapat dirangkap dengan jabatan lain. ltu yang kedua.
Kemudian yang ketiga, sebagai kelaziman memang Ketua Pengadilan dengan ketetapannya akan menunjuk suatu majelis hakim yang akan memeriksa, mengadili dan memberikan putusan suatu perkara. Mereka yang ditunjuk sebagai Ketua majelis selalu didasarkan kepada senioritas. Oleh karena itu dalam majelis yang kita harapkan nanti terbentuk kiranya kemungkinan kecil sebagai senior yang berasal dari pengusaha dan pekerja. Di dalam jabatan hakim kiranya tidak mungkin sehingga saya menggambarkan bahwa akhirnya nanti memang majelis-majelis yang dibentuk itu selalu akan dipimpinan oleh hakim karir, karena senioritas dalam
catatan sebagai hakim. Sedang yang kita usulkan tentunya merupakan hakim adhoc yang mungkin malah baru pertama kali berfungsi sebagai hakim. ltu yang ketiga.
Kemudian yang keempat, mengenai ada satu lagi, apa Pak, ada satu yang saya catat, tetapi lupa Pak. Nanti kalau muncul lagi saya sampaikan. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Terima kasih.
Jadi ada dua pertanyaan yang sudah selesai, pertama; susunan, susunan terdiri dari pada pengadilan negeri terdiri dari dan pada Mahkamah Agung terdiri dari. Saal susunan bisa diterima, bisa diterima ya susunan ini.
F·KB (ORA. HJ. JOA FAUZIAH): Belum Pak .
. Jadi itu dari pasal langsung pada ayat ya Pak. Jadi Pasal 30 misalnya, terus ayat (1) ayat (2), tidak perlu ada kepala pasal begitu. Tidak perlu.
KETUA RAPAT:
Seda pendapat perlu ada kepala daripada kata-kata ini. Tetapi ini pasal ya, saya kira pasal menceritakan begitu. Baik saya sebelum kata-kata ya terhadap dua susunan ini sudah kita terima ya. Artinya terdiri dari Pengadilan Negeri dan Pengadilan Mahkamah Agung, bisa diterima ya.
Yang kedua, soal pertanyaan dari Fraksi TNl/Polri sudah terjawab Pasal 55 tadi sudah terjawab, ketuanya adalah hakim karier, Pasal 50 maupun keterangan dari Prof. Gunawan tadi. Sekarang tinggal ini; perlu ada kepala apa tidak. Saya ingin dari Pemerintah.
PEMERINTAH :
Untuk menjawab pertanyaan apakah memang perlu ada kepala atau tidak. Di dalam berbagai-bagai pasal yang kita pernah lakukan Pak, memang biasa juga menjurus dari pasal langsung ke ayat, begitu. Tetapi menyangkut apakah ini pakai judul, karena kelihatannya masing-masing itu sudah punya isi sendiri-sendiri. Andaikata tanpa judul pun kita akan dapat mengerti bahwa masing-masing ayat itu sudah menggambarkan missi yang ingin kita lakukan pada kedua kegiatan tersebut. Secara teknis penulisan hukum mungkin bisa juga kita minta konsultasi dengan hukum.
AHLI HUKUM:
Terima kasih Pak. Jadi kalau kita perhatikan susunan dari RUU ini maka materi ini termasuk di dalam Bab Ill - Pengadilan Perselisihan Industrial, Bagian Pertama - Umum. Jadi termasuk dalam Ketentuan Umum untuk Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial. Oleh karena itu pasalnya tidak perlu diberi judul lagi Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Teri ma kasih. Bisa diterima Bu Ida
? .
Bisa . Jadi sudah bisa diterima. Tinggal satu persoalan yaitu perlu atau tidaknya pengadilan hakim adhoc.Saya persilakan Pak Ketua Pansus. KETUA PANSUS :
Terima kasih.
Cuma begini Pak ahli hukum ya, kita harus berani mereformasikan keadaan hukum di Indonesia. Kita jangan terus ortodox, jangan mengikuti apa yang sudah alami selama ini, dan
permasalahan penyelelsaian perselisihan di tingkat ketenagakerjaan itu tripartit. ltu yang harus kita lakukan, baik di tingkat mulai masuk dengan mediator itukan sudah tripartit, masuk pengadilan pertama itukan sudah tripartit, kasasi pun harus tripartit, beda dengan masalah yang lain.
Jadi saya tetap berkeinginan di tingkat kasasi itu harus tripartit juga, karena tidak bisa dibiarkan saja hakim. Pengalaman saya katakan tadi itu sudah ada contoh soal Pak yang sampai saat ini tidak terselesaikan, hakim agung P4 Pusat menentukan keputusan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada, di-TUN (?) juga tetap memperkuatkan, memperkuat keputusan P4 Pusat. Di hakim agung, di tingkat kasasi dia merubah itu semua, tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadi ini akan terjadi dualisme.
Jadi menurut saya sebaiknya di tingkat kasasi tetap ada hakim adhoc yang terdiri dari tripartit, ketuanya silakan hakim karier, tetapi anggotanya adalah tripartit. Nanti kita cari mereka-mereka yang memang ahli dalam bidang, banyak yang ahli dalam bidang itu. Tidak ada alasan bahwa Mahkamah Agung tetap pertahanannya hakim agung, saya kira tidak ada, dan kita harus berani mereformasikan hukum perundang-undangan di Indonesia yang selama ini berpihak kepada rakyat. T erima kasih.
KETUA RAPAT: Ada yang lain, silakan.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP):
Terima kasih. Kami dari Fraksi PPP memang sependapat dengan Pak Jacob sebagai Ketua Pansus bahwa ini termasuk hal yang prinsip bagi kami, karena alasannya adalah kita ingin untuk melakukan supremasi hukum itu betul-betul ditegakkannya keadilan, khususnya dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial ini, yang selama ini kita rasakan memang sampai pada tingkat kasasi itu saya rasa banyak sekali pekerja atau buruh yang dirugikan. Karenanya kalau pada tingkat pertama kita bisa memasukan hakim adhoc tentunya pada tingkat selanjutnya juga harus kita perjuangankan adanya hakim kasasi adhoc. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Fraksi KB ada tambahan, atau Fraksi PPP ada tambahan. Fraksi KB silakan. F·KB (ORA. HJ. IDA FAUZIAH):
lni juga termasuk dari usulannya Fraksi KB, hakim adhoc pada Mahkamah Agung. Cuma mungkin perlu Pak Jacob yang berpengalaman di bidang ini, jadi diberikan gambaran bagaimana kira-kira nanti mempermudah kerjanya Mahkamah Agung untuk menunjuk hakim adhoc. Jadi ada, ada apa ya, Pak Jacob kan berpengalaman di bidang ini, sehingga untuk meyakinkan diri kita begitu Iha, meyakinkan diri kita dan kita bisa meyakinkan kepada Mahkamah Agung tentang itu. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Boleh langsung ini Bapak, silakan. KETUA PANSUS :
Baik, terima kasih lbu Ida.
Jadi masalah ketengakerjaan itu, itu terdiri dari 3 pihak, pihak yang pertama yaitu Pemerintah, pihak yang kedua pengusaha, pihak yang ketiga buruh atau pekerja. lni tiga pihak, yang mereka punya kepentingan yang sama. Sebenarnya Pemerintah seharusnya tidak perlu mencampuri urusan ini kalau bisa diselesaikan di tingkat bipartit. Kalau bisa diselesaikan disitu itu akan jauh lebih baik. Tetapi masalah yang terkesan selama ini, saya kira Pemerintah/Departemen
Tenaga Kerja pasti sangat tahu bahwa setelah P4 inikan dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang turun itu langsung di-TUN-kan, masuk ke pengadilan TUN. Disana itu pengusaha tidak akan berhenti, karena masih ada peluang masuk ke kasasi. Kasasi kalau hanya dilakukan oleh pengadilan karier, hakin agung karier ini yang menjadi masalah belum tentu mereka semua mengerti, belum tentu. Bagaimana kepentingan pengusaha, bagaimana kepentingan buruh atau pekerja, ini persoalannya. Dan untuk menguasai persoalan itu membutuhkan waktu. Sebenarnya di tingkat, kalau kita tidak, dengan adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 mengenai pengadilan, mengenai Undang-undang Pokok Kehakiman maka seharusnya ini harus terpisah sama sekali, dia harus betul-betul hakim independen, termasuk itu mulai dari hakim yang pertama adhoc itu dia juga tidak boleh rangkap, tidak boleh seharusnya. Supaya benar-benar independensi ini kita peroleh. Selama inikan katanya tidak independen.
Jadi oleh karena itu yang saya sangat harapkan bahwa di tingkat kasasi pun harus ada hakim adhoc, sehingga kepentingan dua pihak ini, kepentingan pengsuaha dan kepentingan pekerja bisa terakomodir disana. Tetapi kalau hanya hakim agung, dia hanya gunakan Undang-undang KUHAP dan lain sebagainya, ini akan sangat menyulitkan, itu baru salah satu contoh soal yang saya katakan sampai saat ini ada di DPR, hakim agung salah memutuskan. Menurut saya itu salah, karena dia tidak mempelajari dengan peraturan perundangan yang lain, hanya dia melihat bahwa ini adalah hak, padahal ada diatur hal itu sampai dimana. Kalau dilihat kebutuhan Mahkamah Agung itu menguntungkan pekerja, tetapi menurut saya itu menjadi preseden. Jadi kalau ada keputusan tingkat bawah sampai ke atas, ini mungin yang perlu saya sampaikan ke Departemen Tenaga Kerja kasus yang sudah sampai ke DPR itu ada dua kasus. lni menjadi satu contoh soal. Jadi sebaiknya di tingkat kasasi itu harus terdiri dari tiga kelompok, yaitu hakim karier dan hakim adhoc yang terdiri dari yang mewakili pengusaha dan yang mewakili pekerja, tetap tercermin itu sampai ke tingkat kasasi, kira-kira begitu.Terima kasih.
KETUA RAPAT:
lni begini Pak
ya,
logikanya kalau di tingkat pertama itu ada hakim adhoc, logikanya tentunya di tingkat Mahkamah Agung juga ada. Cuma karena masalah ini tidak bisa, Pemerintah sudah konsultasi saya kira ada baiknya kita undang, jadi yang ayat (1) ini selesai, ayat (2) dipending masalah ditulis bawahnya itu, panitera tetap saja, masalah hakim agung adhoc, hakim agung, hakim agung kasasi adhoc minta pendapat Mahkamah Agung pada waktu konsultasi. Dan masalah yang lain kemarin itu masalah apa ya ? Masalah eksikusi. Saya kira ini Mbak Nita, DPR ini kirim surat. Saya ulangi ya yang ayat ( 1) disetujui ya.(RAPAT: SETUJU)
Sekarang ayat (2}; susunan pengadilan perselisihan hubungan industrial pada mahkamah Agung terdiri dari :
Hakim kasasi.
Hakim agung adhoc (betul itu ya) minta pendapat Mahkamah Agung. Kalau a, itu hakim agung boleh. A-nya itu hakim agung, begitu. Hakim agung ?. Tetap hakim kasasi. Ya sudah-lah nanti setelah kita ketemu yang pas yang mana. Tidak ini saja Pak, masalah hakim agung adhoc. Oh masukan begitu. Ya sudah-lah merah Pak. Oh e-nya itu, b menjadi c.
F·PG (PEDDY TANDAWUYA, BA):
Ada usulan Ketua. Dari uraian Ketua Pansus juga Ketua Panja ini temyata niat kita untuk adanya ayat b sampai dengan a,b,c itu memenuhi tekad Pansus ini untuk mempercepat proses pengadilan, mempercepat proses kasasi itu. Oleh sebab itu harus ada yang berkepentingan disitu, baik pengusaha maupun pekerja yang bisa mendorong hakim kasasi ini supaya lebih cepat pelaksanaan tugas, tidak akan terkumpul banyak kasus. Oleh sebab itu kita letakan saja b itu, c; panitera itu. Seperti ini. lnilah yang kita sampaikan kepada yang diundang itu bahwa Panja ini berkehendak seperti itu urusan pada Mahkamah Agung. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Teri ma kasih. Jadi ini catatannya demikian menanggapi Pak Peddy tadi memang begini, kalau kita berpedoman pada yang ada, artinya undang-undang atau peraturan hukum yang ada memang Mahkamah Agung keberatan. Tetapi pertanyaannya kan begini; struktur negara ini berdasarkan kepentingan masyarakat atau masyarakat berdasarkan pada, perkembangan masyarakat kan menghendaki hakim agung adhoc.
Jadi kalau dipatok, ini bahasanya Pak Ketua ini ortodox, itu artinya dipatok. Sudahlah saya kira dengan kalimat ini saya kira bisa kita akhiri. Setuju ? Pemerintah setuju ? Hakim kasasi di a. Tidak begitu Mas, yang a itu Hakim kasasi. Hakim agung, begitu. b. Hakim agung adhoc, C. Panitera. Hakim agung adhoc, merah. Sudah yang atas itu dihilangkan saja. Tidak begitu Mas, yang a itu selesai. Mas atau Mbak itu yang a itu selesai, c itu selesai. Kasasi tidak ada, terdiri dari itu Iha. ltu saja yang a dan b dihapus. Nah sekarang ini usul-usul kan hilang, itu hakim agung hitam, a hitam, a hitam, b hitam. Ya sudahlah b ini.
Catatan; masalah hakim agung adhoc minta pendapat Mahkamah Agung bersamaan dengan masa eksekusi persetujuan sama dalam proses tripartit. Ya sudah itu. Setuju?
(RAPAT : SETUJU) Alhamdulillah.
Sekarang ini dengan demikian dengan catatan ini sampai DIM 255 selesai.
Sekarang DIM 256 Pasal 31, Pasal 31 pasalnya Timsin. Sekarang isi pasal saya silakan Pak Dirjen untuk memberikan penjelasan.
PEMERINTAH:
lsi pasal kami bacakan terlebih dahulu; hakim pengadilan perse/isihan indsutrial pada pengadilan negeri diangkat dan diberhentikan berdasarkan keputusan Ketua Mahkamah Agung, ini mengacu kepada ketentuan pokok tentang kehakiman.
KETUA RAPAT:
Ada tambahan dari Profesor? Tidak ada. Sekarang yang ada ini dari Fraksi Partai Golkar sudah cukup dalam hal ini. Dari fraksi PPP industri diganti dengan perburuhan - sama. Fraksi KB istilah PP diganti. Silakan.
F·KB (ORA. HJ. IDA FAUZIYAH):
Tidak Pak, Fraksi KB itu memang usulannya, cuma yang perf u saya tanyakan kepada Pak Gunawan, inikan hakim karier ini maksudnya, yang dimaksud pasal inikan hakim karier. Karena hakim adhoc-nya ada disini; hakim adhoc pengadilan perselisihan industrial diangkat dan diberhentikan dengan keputusan. Ada tersendiri.
KETUA RAPAT: Pasal berapa ?
F·KB (ORA. HJ. IDA FAUZIYAH):
Di Pasal 33. Ya, ini nanti hakim karier. Hakim karier itukan ada atau tidak ada dia di peraturan industrial ini, dia-kan masih tetap diangkat oleh Mahkamah Agung, atau perlu dicantumkan di undang-undang kita, apa perlu yang kita cantumkan itu yang hakim adhoc-nya itu. T erima kasih Pak
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Kita putar saja Pak sekarang, dari Fraksi POI Perjuangan ada masalah, karena sudah ada masalah sekarang. Tidak ada masalah ?. artinya sekarang saya ingin tanyakan, dijawab dulu atau ini langsung. Dijawab dulu ?, ya silakan.
PEMERINT AH :
Saya kira langsung kepada Pak Gunawan saja, karena pertanyaannya juga itu. AHLI HUKUM :
Hakim karier ini memang sudah ada dan berkedudukan di Pengadilan Negeri, dan beliau ini tentunya bertugas baik sebagai hakim pidana maupun sebagai hakim perdata. Nah sehubungan dengan RUU kita, maka hakim yang akan ditugasi untuk menyelesaikan dan memeriksa perkara-perkara hubungan industrial, tentunya harus diangkat kembali khusus sebagai hakim pada pengadilan perselisihan hubungan industrial. Oleh karena itu perlu disebutkan di dalam Pasal 32 ini, sehingga status yang bersangkutan jelas mempunyai kompetensi untuk memeriksa perkara-perkara perselisihan hubungan industrial. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Jadi karena fungsi hakim disini adalah di dalam pengadilan hubungan industrial jadi perlu ada penegasan diatur disini. Setuju ?
(RAPAT: SETUJU)
Apa sekarang DIM 258, pasalnya saya kira tidak ada masalah. lsi pasal saya silakan kepada Pemerintah.
PEMERINT AH :
lni seperi yang tertera didalam Pasal 32; pengangkatan hakim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dilaksanakan sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.
WAKIL KETUA ( H.A. SY AHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP) :
Terima kasih. Kebetulan Pimpinan Sidang ijin, kita lanjutkan. Setelah mendengar penjelasan dari Pemerintah, kami ingin tanyakan kepada fraksi-fraksi yang ada. Pertama kita minta Fraksi POI Perjuangan.
ANGGOT A FRAKSI POI PERJUANGAN : Tidak ada masalah. Tetap.
KETUA RAPAT:
Selanjutnya Fraksi POU? Tidak ada masalah. Fraksi PPP? Juga tidak Fraksi TNl/Polri? Tidak ada. Fraksi KB ? DIM 259 ya. Fraksi Partai Golkar ? Setuju ya. Setuju semua. Dengan demikian kita setujui ? .
(RAPAT: SETUJU)
Selanjutnya DIM 260 Pasal 33 - Timsin. Kemudian DIM 261 dimintakan penjelasan dari Pemerintah.
PEMERINT AH :
Ayat (1); Hakim adhoc pengadilan perse/isihan industrial diangkat dan diberhentikan dengan keputusan presiden berdasarkan usu/ Ketua Mahkamah Agung me/alui menteri. Jadi disini kita membedakan antara hakim adhoc dengan hakim karier yang sudah ada di pengadilan negeri setempat. Jadi kalau hakim karier pada pengadilan negeri setempat diangkat oleh Ketua Mahkamah Agung maka hakim adhoc diangkat oleh Presiden berdasarkan usul dari Ketua Mahkamah Agung melalui menteri. Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT: Teri ma kasih.
Disini ada beberapa fraksi, yang pertama ini Fraksi PPP, saya kira ini sama. Saya silakan dari Fraksi PPP.
WAKIL KETUA ( H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP} :
Sebagai tambahannya karena memang itu masih dikonsultasikan, Fraksi PPP menambahkan hakim agung adhoc sebetulnya. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Dari Fraksi KB. f·KB (ORA. HJ. IDA FAUZIYAH} : lstilahnya Pak disesuaikan.
KETUA RAPAT:
lstilah. Dari Fraksi TNl/Polri. F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :
Terima kasih. Kami mohon penjelasan mengapa harus melalui menteri, padahal pembinaan hakim langsung di bawah Mahkamah Agung.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Kemudian dari Fraksi PBB, kami bacakan; hakim adhoc pengadilan. Oh ini hanya istilah saja ya, istilah. Kemudian dari Fraksi POU, silakan Pak.
F·PDU (DRS. MUCHAROR, AM} : Sama Pak.
KETUA RAPAT:
lstilah ya, istilah. Saya kira itu. Dari Fraksi PDKB ini dihapus. Oh Fraksi Partai Golkar? Tidak memang ini yang saya bacakan usulnya. Sekarang saya silakan kepada yang tidak ada di dalam ini, saya silakan kepada Fraksi Partai Golkar.
F-PG (PEDDY TANDAWUYA, BA) :
Sejalan dengan Fraksi TNl/Polri rasanya memperjauh atau memperlambat proses ini kalau harus dia menteri. Jadi diusulkan oleh Mahkamah Agung ke Presiden, Presiden mengeluarkan keputusan. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Silakan Fraksi KKI. F·KKI (DRS. ANTHONIUS RAHAil) :
Teri ma kasih. Barangkali nanti sebentar kita akan mendengar dari Pemerintah, tetapi yang dapat kami fahami dari ini karena menteri yang membidangi bidang ketenagakerjaan itu adalah Menteri Tenaga Kerja. Dalam kontekstual itu barangkali disitu dipandang sebagai orang atau menteri yang mengusulkan pengangkatannya. Jadi dalam konteks itulah kami fahami terhadap judul ini. ltu saja.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Dari Fraksi POI Perjuangan ada komentar atau pendapat atau menyetujui. Kami persilakan.
KETUA PANSUS :
Terima kasih. Karena masalah ini adalah masalah pengadilan hukum industrial, saya kira wajar menteri yang membidangai tenaga kerja itu dia harus tahu, jadi di dalam merekrut itukan berdasarkan ayat (2) yaitu organisasi kepengurusan dan organisasi pekerja. Jadi sebelum, jadi benar hakim agung, mungkin redaksional saja yang apa perlu diperbaiki; hakim agung pengadilan perselisihan industrial diangkat dan diberhentikan dengan keputusan Presiden berdasar usul Ketua Mahkamah Agung melalui menteri.
Saya kira itu tepat itu, dan kita harus tetap mempertahankan supaya Menteri Tenaga Kerja itu yang berfungsi di dalam rangka merekrut itu semua hakim agung dan disalurkan melalui Mahkamah Agung. Saya kira demikian. Jadi sebaiknya Menteri Tenaga Kerja itu tetap berfungsi. T erima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Dari Pemerintah silakan. PEMERINT AH :
Memang benar Pak bahwa nanti hakim adhoc inikan usulan daripada serikat pekerja dan serikat asosiasi pengusaha. Oleh karena itu pemeriksaan administrasi untuk kemudian meneruskan kepada Mahkamah Agung itu memang diperlukan, begitu Pak. Tetapi hanya sekedar melalui, dia tidak memberikan rekomendasi apa-apa, begitu Iha. Jadi sekedar melalui, artinya tidak akan menghambat proses, kalau dikhawatirkan melalui menteri ini akan memperlambat pengurusan administrasinya itu. Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT:
Saya ingin tanyakan juga, jadi begini; inikan ada Presiden, ada Mahkamah Agung, ada menteri, dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja. lni apakah dalam rangka koordinasi ataukah dalam rangka wenangkah Mahkamah Agung kirim surat kepada Presiden dalam masalah ini. Apakah tidak menteri mengusulkan kepada Mahkamah Agung, kemudian Mahkamah Agung kepada Presiden.
PEMERINTAH :
Jadi begini Pak, sesuai dengan pengaturan tentang pengangkatan hakim yang berlaku sampai dengan saat ini, itu hakim yang berpangkat IV.A ke bawah itu diangkat oleh Ketua Mahkamah Agung. Kemudian hakim IV.B ke atas itu diangkat oleh Presiden, karena hakim adhoc ini merupakan pimpinan-pimpinan serikat pekerja, kita menganggap mereke senior, jadi berarti sudah bukan IV.A ke bawah lagi tetapi IV.B ke atas. Oleh karena itu memang kita mengusulkan wajar kalau hakim adhoc yang nota bene adalah pimpinan-pimpinan serikat pekerja dan asosiasi pengusaha ini SK pengangkatannya dikeluarkan oleh Presiden. Prosedurnya begitu Pak.
KETUA RAPAT :
Tidak, inikan persoalannya begini ya Pak; yang tahu dia berpengalaman dan tidak inikan Menteri tenaga Kerja. Jadi mohon maaf, kalau hanya melalui kan Pak Kos (?), begitu Pak ya. Kalau misalnya sekarang diusulkan oleh Menteri Tenaga Kerja, menteri melalui Mahkamah Agung.
KETUA PANSUS :
Baik, kalau boleh saya tambahkan. Jadi begini Pak Dirjen, sebaiknya Menteri Tenaga Kerja yang mengusulkan, mengusulkan melalui Mahkamah Agung dan keputusannya oleh Presiden. Karena yang tahu itukan Menteri Tenaga Kerja. Jadi setelah Menteri Tenaga Kerja mendapatkan usulan-usulan organisasi serikat pekerja dan serikat pengusaha, disanakan dia pasti harus meneliti ini pantas tidak untuk diteruskan. Jadi tidak asal main usul saja begitu. Jadi kalau menurut saya sebaiknya yang usul itu Menteri Tenaga Kerja melalui Mahkamah Agung dan keputusan Presiden, itu akan jauh lebih baik karena yang mengetahui itukan langsung Menteri Tenaga Kerja, bukan Mahkamah Agung. Terima kasih.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP) :
Bisa saya kembangkan Pak. Jadi ini memang perlu dijelaskan tentang mekanismenya Pak, dari awal begitu, bagaimana mekanismenya dari awal sehingga sampai ke Mahkamah Agung dan Presiden itu. Apakah memang yang mengusulkan nanti Mahkamah Agung ke Presiden setelah diusulkan oleh Menteri, begitu. Jadi kita perlu kejelasan agak tuntas.
PEMERINTAH:
Jadi begini Pak, bahwa rumusan ayat ini itu berdasarkan surat edaran Mahkamah Agung Nemer 2 Tahun 2000 antara lain pada Pasal 2 yang menyangkut tentang tata cara pengangkatan, dapat kami bacakan, ayat {1 ); hakim adhoc diangkat oleh Presiden atas usul Mahkamah Agung. Jadi itu sudah jelas, bahwa itu tidak bisa menteri mengusulkan itu. Jadi Mahkamah Agung yang mengusulkan.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP): Artinya adhoc apa itu Pak.
PEMERINTAH:
Ya Pak. Pada umumnya tidak disebutkan hakim adhoc apapun. Surat edaran ini menyebutkan penyempurnaan peraturan Mahkamah Agung Nemer 3 Tahun 1999 tentang Hakim Adhoc Mahkamah Agung Republik Indonesia.
WAKIL KETUA (H.A. SY AHRUDJI TANJUNG, BAIF·PPP) :
Sebentar Pak. Sebelum Mahkamah Agung mengusulkan, Mahkamah Agung menerima dari siapa.
PEMERINT AH :
Menteri Tenaga Kerja Pak.
WAKIL KETUA (H.A. SY AHRUDJI T ANJUNG, BA/F-PPP) :
Jadi berarti, Menteri Tenaga Kerja mengajukan ke Mahkamah Agung untuk mengusulkan ke Presiden.
PEMERINT AH :
Ya, meneruskan ke Mahkamah Agung untuk diusulkan ke Presiden. WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA) :
Apa tidak mungkin bisa kita gambarkan disini prosesnya itu. Terima kasih. PEMERINT AH :
Kita baca ayat (2); Ketua Mahkamah Agung mengusulkan ca/on hakim ad hoc dan ca/on yang disampaikan oleh asosiasi pengusaha dari ca/on yang disampaikan oleh asosiasi dan asosiasi pekerja atas persetujuan menteri.
KETUA RAPAT :
Ya Pak, jadi ini begini, menteri itu jangan hanya sekedar melalui, kalimat melalui kan tafsirnya Pak Pas kan bisa itu Pak. Artinya supaya menteri disitu ada fungsi persetujuan, seperti ayat (2)-nya. Jadi intinya itu begini; presiden itu yang memutus - setuju. Kemudian Mahkamah Agung itu sebagai penilai ya, wajar tidak orang itu menjadi hakim, kemudian yang mengetahui juga, menteri itu menyetujui orang itu pantas tidak diajukan sebagai itu. Kalau itu tiga-tiganya.
PEMERINTAH :
Jadi tadi begini Pak, konsep pertama sebenarnya dari Pemerintah ini memang -persetujuan, ayat (2). Tetapi pada waktu itu diprotes jangan-jangan arti persetujuan ini nanti diskriminasi atau ada KKN atau menghambat, begitu. Oleh karena itu kata-katanya kita rubah "mela/ul' tetapi dengan pengertian dulu memang ada seleksi disitu Pak. Karena tidak mungkin misalnya andaikata banyak yang dikirimkan terus Mahkamah Agung untuk menetapkan seharusnya memang lebih mengerti itu adalah Menteri tenaga Kerja, begitu. Tetapi kalau kita memang menyetujui persetujuan saya kira memang itu maksud kita sebetulnya.
KETUA RAPAT :
Jadi kalau menteri mengusulkan kepada Mahkamah Agung, Mahkamah Agung mengusulkan kepada Presiden. lntinya kan itu. Nah bagaimana di redaksi, dan kami kira sependapat, saya kira yang floor ini kalau menteri itu hanya melalui. Jadi menteri juga harus mempunyai, melihat kualifikasi kepada calon-calon hakim agung adhoc ini. Kalau tidak kan siapa yang akan bertanggungjawab. Karenanya serikat kerja, serikat pekerja Pak Jacob inikan mesti subyektifnya, ini orang saya, nanti Amru ini bukan - tidak bisa. lni contohnya Pak. Tetapi kalau menteri itu juga menyeleksi dari serikat pekerja saya kira itu perlu Pak. Jadi kalimat kasar begini Pak; hakim adhoc (ini dan seterusnya) diangkat oleh Presiden berdasarkan usul menteri melalui Mahkamah Agung. Atau bagaimana sekarang dua-dua ini menjadi dasar.
WAKIL KETUA (H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, BA/F-PPP) : Saya usulkan Pak.
Kira-kira begini Pak, ini pasal harus kita balik, jadi ayat pertamanya itu menjelaskan tentang calon dulu. Jadi calon hakim adhoc dari calon yang disampaikan organisasi pengusaha dan organisasi pekerja atas persetujuan menteri diusulkan kepada Mahkamah Agung. Jadi status calonnya dulu. Kemudian baru yang kedual jadi itu kelihatan peran daripada Menteri Tenaga Kerja.
KETUA RAPAT: Silakan Pak Ketua. KETUA PANSUS :
Ayat (2) menjadi ayat (1), ayat (1) menjadi ayat (2), kemudian itu yang dinamakan umum (?). Kemudian ayat (1) yang menjadi ayat (2) itu menurut saya sebagian berfungsi, dia jangan hanya sepotong-sepotong. Jadi terhadap usul serikat pekerja ini kepada menteri, kemudian itukan merujuk kepada persetujuan menteri. Nah dia akan ayat (1) itu menjadi ayat (2); menteri mengusulkan kepada Mahkamah Agung, dan Mahkamah Agung mengusulkan kepada Presiden, Presiden mengirimkan surat. Hanya bahasanya itu yang perlu diperbaharui.
PEMERINT AH : Begini Pak. KETUA RAPAT:
Sebentar Pak, ini tadi saya biar tidak di protes yang lain-lain, ya tadi saya melihat banyak yang mengacungkan tangan. Saya silakan dari Fraksi KKI yang acung lebih dahulu.
F·KKI (DRS. ANTHONIUS RAHAil) :
Terima kasih. Yang kami ingin sampaikan sudah disampaikan oleh Pak Tanjung tadi. T erima kasih.
KETUA RAPAT:
Oh yal terima kasih. Dari Fraksi Partai Golkar. F·PG (PEDDY T ANDAWUY A, BA) :
Sama, memang yang kami inginkan bahwa ayat (2) itu menjadi ayat (1). Yang kedua, kami sepakat pola pikir yang sejak awal itu, pertengahan itu seperti, itulah. Jadi calon hakim agung itu dicalonkan oleh serikat pekerja dan organisasi pengusaha ke menteri. Menteri memproses ke Ketua Mahkamah Agung untuk dilanjutkan ke Presiden untuk diterbitkan SK pengangkatan. ltu persis. Bahasanya silakan. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Pak Chandra silakan.
f ·PDIP (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) :
Yang kata "melalul' itu bisa kita ganti "atas usur atau "atas persetujuan" atau "atas saran" menteri. Jadi tidak "melalul' itu harus jelas. Karena kalau pakai "melalur bisa saja Ketua Mahkamah Agung memberikan surat itu ke menteri, kemudian menteri ke Presiden. Padahal pengertiannya lain, menteri dulu ke Mahkamah Agung baru ke Presiden. Maka itu jadi "atas usu/ menteri". Jadi; hakim adhoc pengadi/an perselisihan industrial itu diangkat dan diberhentikan dengan keputusan Presiden berdasarkan usu/ Mahkamah Agung atas usu/ menteri atau atas persetujuan atau atas saran menteri. Nah mana yang bagus. Kalau tadi Pemerintah khawatir kalau
dibilang atas persetujuan nanti bisa jug a bisa tidak setuju. Mungkin saja kalau calonnya tidak bagusl kan. Kalau saya tetapl susunan tetap demikian, tidak usah dirubah ayat (1) dibalik ayat (2), ayat (2) dibalik ayat (1). Karena apa ? Karena ayat (1) itu menerangkan tentang hakim adhoc, baru ayat (2) ini tata caranya pengusulan hakim adhoc itu dari calon hakim adhoc, yang dari organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. lni sudah cocok yang ayat (2).
KETUA RAPAT:
Ayat (1) nya; atas usul/atas persetujuan/atas saran. Coba ditulis dulu ayat (1) {yang bawah), disitu; Mahkamah Agung atas usul/atas persetujuan/atas saran.
F-PDIP (dr. SURYA CHANDRA S, MPH, Ph.D) :
Kalau kita tidak mau usul-usul, usul ketua, usul itu - saran saja, begitu. Supaya katanya jangan double.
KETUA RAPAT : Ya, silakan Pemerintah. PEMERINTAH :
Kalau persetujuan mungkin alergi Pak ya, karena ada kecenderungan penggunaan kewenangan. Kemudian kalau saran mungkin kalau dibandingkan dengan persetujuan kita harus berusaha. Tetapi ada satu kata lagi yang mungkin dapat dipertimbangkan, kalau rekomendasi bagaimana. (floor; ya bagus juga)
KETUA RAPAT:
Kita bacal yang bawah ya; hakim agung. Oh Fraksi KKI silakan. F·KKI (DRS. ANTHONIUS RAHAil ) :
Terima kasih. lni hanya pertimbangan saja Bapak-bapak ahli hukum yang ada barangkali ketika kita bicara Mahkamah Agung dan kasasi, kita masuk wilayah yudikatif, lalu menteri dalam wilayah eksekutif. Apakah memang bisa kita dengan rekomendasi itu secara psikologis tidak ada pengaruh-pengaruh lain yang akan dihadapi nanti. Sebagai pertimbangan saja, pada prinsipnya kami setuju, sebagai pertimbangan saja, ingin kami kemukakan dalam forum ini. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. Jadi ini maksudnya begini saya sampaikan kepada Pak Gunawan. lnikan menteri ini sebagai spesifikasi yang membina ketenagakerjaan, ya kalau beliau memberi rekomendasi kepada seseorang dari yuridis bagaimana. Saya silakan Pak.
PEMERINTAH :
Jadi begini Pak, mungkin kita harus bedakan antara rekomendasi tentang seseorang di dalam wilayah kewenangannya atau di luar sepengetahuannya dengan campur tangan kita menentukan siapa pun yang memang sudah menjadi hak lembaga yudikatif itu. Jadi kalau sampai dengan rekomendasi terhadap personil yang diajukan oleh, baik pimpinan serikat pekerja maupun pimpinan asosiasi perusahaan, itu pada hakekatnya sekedar saran sebenarnya. Jadi daripada keinginan untuk mencampuri. Jadi daripada misalnya sudah sampai ke Mahkamah Agung, kemudian mengirim surat lagi siapa di antara mereka yang paling berkompeten. Nah mungkin untuk mengatasi permasalahan tersebutlah sejak awal mungkin sudah memberikan pendapat atau sarannya. Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT:
Atau kasarnya Pak ya, bahasa kasarnya begini; serikat pekerja itu temyata orangnya black list. ltu yang tahu black list tidak kan menteri. Jadi organisasi itu sudah black list atau orang itu black list. Nah itu yang tahu kan menteri. Jadi kalau menteri tidak memberikan rekomendasi ternyata yang diangkat Mahkamah Agung dia hanya melalui, kalau melalui kan langsung saja menteri kepada presiden tanpa dia punya tanggung jawab menteri itu. Temyata pada kejadiannya orang itu black list. Jadi saya kira pikiran ini saya kira kok karena wewenangnya. Saya silakan Pak Gunawan kalau sudah siap.
AHLI HUKUM :
Rekomendasi, istilah rekomendasi kalau di dalam kedinasan biasanya selalu dilakukan oleh atasan kepada bawahannya. Pada umumnya demikian, tidak pemah pada bawahan memberikan rekomendasi kepada atasannya. Kalau sejajar bisa.
Nah dalam hal ini menteri ini pembantu presiden, jadi bukan anggota lembaga tinggi negara. Sedang Ketua Mahkamah Agung adalah anggota lembaga tinggi negara, sehingga menurut saya lebih tinggi kedudukan Ketua Mahkamah Agung. Sehingga istilah rekomendasi disini saya merasa kurang tepat dengan pertimbangan itu tadi. Tetapi kalau atas usul saya kira lebih cocok dalam kalimat tersebut. T erima kasih.
KETUA RAPAT : Pak Peddy, kalau saran. PEMERINT AH :
Kalau saran itu lebih lemah itu, grade-nya lebih di bawah usul Pak. Kalau sudah usul itu pasti ada justifikasinya. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Say a silakan Pak Peddy.
f·PG, PEDDY TANDAWUYA, BA :
Urutan nomor 1 ayat (1), ayat (2), jika kalimatnya seperti itu benar itu. Jadi; hakim adhoc pengadilan perselisihan hubungan industrial, itu penekanannya pada hakim adhoc. Ya, sehingga dia harus menjadi ayat (1). Tetapi yang kita usulkan tadi bahwa ayat (2) ini akan menjadi ayat (1) dengan kalimat itu dimulai dengan calon hakim adhoc. Dengan penekanan pada calon hakim adhoc, maka dia akan berhak duduk pada nomor urut 1. Sebab kita membicarakan calon hakim adhoc dulu prosesnya bagaimana. Penyelesaian proses itu pada ayat (2). ltu usul mengapa tadi kami mengatakan itu bahasanya belum lengkap. Tetapi prosesnya seperti itulah dalam pikiran kita. Tetapi kalau memang tidak dirubah kalimat kemarin, sebab Ketua Mahkamah Agung lalu hakim adhoc, padahal sasaran kita subyeknya adalah hakim adhoc. Jika kita pandang pindah kalimat ini mulai calon hakim adhoc itu, sama-sama dia menjadi subyektif. Oleh sebab itu hendaknya ayat (2) ini akan dirubah sesuai kalimatnya supaya dia menjadi ayat (1). Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi konkretnya; calon hakim adhoc disampaikan oleh organisasi pengusaha dan organisiasi pekerja atas persetujuan menteri. ltu saja. Silakan.