• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS IMPLEMENTASI NILAI EDUCATION for SUSTAINABLE DEVELOPMENT PADA SEBUAH SEKOLAH ADIWIYATA DI JAKARTA BARAT SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS IMPLEMENTASI NILAI EDUCATION for SUSTAINABLE DEVELOPMENT PADA SEBUAH SEKOLAH ADIWIYATA DI JAKARTA BARAT SKRIPSI"

Copied!
325
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS IMPLEMENTASI NILAI EDUCATION for

SUSTAINABLE DEVELOPMENT PADA SEBUAH SEKOLAH

ADIWIYATA DI JAKARTA BARAT

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi

Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh:

Hany Salsabila (11150161000065)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable

Development (ESD) Pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat disusun

oleh Hany Salsabila, NIM 11150161000065, Program Studi Pendidikan Biologi,

Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah melalui bimbingan dan

dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada siding

munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan

Jakarta, 1 Desember 2020

Yang mengesahkan,

Pembimbing 1

Pembimbing 2

Dr. Yanti Herlanti, M.Pd

Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A

NIP. 1971011192008012010

NIP.197509242006042001

(3)

ii

(4)

iii

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

N a m a

: Hany Salsabila

Tempat/Tgl.Lahir : Jakarta, 6 Desember 1996

NIM

: 11150161000065

Jurusan / Prodi

: Pendidikan Biologi

Judul Skripsi : Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable

Development pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di

Jakarta Barat

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Yanti Herlanti, M.Pd

2. Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya

sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta, 6 Desember 2020

Mahasiswa Ybs.

Hany Salsabila

NIM. 11150161000065

KEMENTERIAN AGAMA FORM (FR)

No. Dokumen : FITK-FR-AKD-089

UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010

FITK No. Revisi: : 01

Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1

(5)

iv

ABSTRAK

Hany Salsabila, 11150161000065. Analisis Implementasi Nilai Education for

Sustainable Development pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat.

Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan komponen dan

indikator dari nilai Education for Sustainable Development (ESD) di sekolah

Adiwiyata Mandiri SMAN 78 Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode

kualitatif deskriptif. Hasil analisis merupakan hasil olah data dan triangulasi yang

didapatkan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dari kegiatan

sekolah yang melibatkan peserta didik kelas X MIPA (KBM biologi,

ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lain), fasilitas sekolah serta

peraturan-peraturan sekolah. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive

sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada perspektif sosial-budaya,

terdapat 124 dari 142 indikator yang terimplementasi, 4 dari 142 indikator kurang

terimplementasi dan 14 dari 142 indikator tidak terimplementasi; pada perspektif

lingkungan, terdapat 16 dari 20 indikator yang terimplementasi, 1 dari 20

indikator kurang terimplementasi dan 3 dari 20 indikator tidak terimplementasi;

pada perspektif ekonomi, terdapat 4 dari 5 indikator yang terimplementasi dan 1

dari 5 indikator tidak terimplementasi. Pada lingkup komponen, terdapat 7 dari 7

komponen pada perspektif sosial-budaya yang terimplementasi dan 0 dari 7

komponen tidak terimplementasi; pada perspektif lingkungan, terdapat 3 dari 3

komponen yang terimplementasi dan 0 dari 3 komponen tidak terimplementasi;

pada perspektif ekonomi, terdapat 2 dari 2 komponen yang terimplementasi dan 0

dari 2 komponen tidak terimplementasi. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa

terdapat implementasi nilai ESD baik pada perspektif sosial-budaya, lingkungan

maupun ekonomi yang ditemukan di lingkungan SMAN 78 Jakarta. Penelitian

mengenai pemetaan nilai-nilai ESD pada sekolah Adiwiyata dapat memberikan

informasi mengenai ragam bentuk penerapan nilai ESD di sekolah serta

memberikan dorongan agar nilai ESD dapat diterapkan secara komprehensif di

sekolah.

Kata Kunci : Implementasi, Education for Sustainable Development, Sekolah

Adiwiyata

(6)

v

ABSTRACT

Hany Salsabila, 11150161000065. Analysis of Implementation of the Education

for Sustainable Development values at an Adiwiyata School in West Jakarta.

Undergraduate Thesis, Biology Education Study Program, Faculty of Tarbiya and

Teaching Science, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2020.

This study aims to see how the implementation of components and indicators of

the Education for Sustainable Development (ESD) values in Adiwiyata Mandiri

school at SMAN 78 Jakarta. This research uses descriptive qualitative method.

The results of the analysis are the results of data processing and triangulation

obtained through observation, interviews and study documentation of school

activities which involving X

th

grader of Mathematics and Natural Science major

(biology teaching and learning activities, extracurricular activities and other

activities), school facilities and school regulations. The sample selection was done

by using purposive sampling technique. The results of the analysis shown that in

the socio-cultural perspective, there are 124 from 142 indicators that are

implemented, 4 from 142 indicators are not implemented enough and 14 from 142

indicators are not implemented at all; in the environmental perspevtive, there are

16 from 20 indicators that are implemented, 1 from 20 indicators is not

implemented enough and 3 from 20 indicators are not implemented at all; In the

economic perspective, there are 4 from 5 indicators that are implemented and 1

from 5 indicator is not implemented at all. In the component scope, there are 7

from 7 components in the socio-cultural perspective that are implemented and 0

from 7 components are not implemented at all; in the environmental perspective,

there are 3 from 3 components implemented and 0 from 3 components not

implemented at all; In the economic perspective, there are 2 from 2 of the

components that are implemented and 0 from 2 of the components is not

implemented at all. In general, it can be concluded that there is an

implementation of ESD values in the socio-cultural, environmental and economic

perspective found in the SMAN 78 Jakarta. Research on mapping of ESD values

in Adiwiyata School provide information about how to implement ESD in school

and also give encouragement so that ESD values can be applied comprehensively

in school.

Keywords: Implementation, Education for Sustainable Development, Adiwiyata

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Tiada kata lain selain ucapan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu

wa Ta‟ala karena berkat rahmat dan karunia-Nya, peneliti dapat sampai hingga

titik ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah

Shallallahu „Alayhi wa Salam beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya

hingga akhir jaman.

Alhamdulillahirrabbil „alamiin, atas izin dan limpahan kebaikan dari Allah

Subhanahu wa Ta‟ala yang tiada hentinya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul “Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable

Development (ESD) pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan

Strata 1 (S1) pada Program Studi Pendidikan Biologi di Fakultas Ilmu Tarbiyah

dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama

penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, peneliti telah mendapatkan banyak

dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Ucapan terimakasih

sebesar-besarnya peneliti sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Sururin, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Yanti Herlanti, M.Pd selaku Ketua Program Studi Tadris Biologi dan

Dosen Pembimbing Skripi I yang telah mencurahkan perhatian dan

memberikan banyak masukan dalam proses penyusunan skripsi dari tahap

seminar proposal hingga skripsi selesai

4. Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang

telah memberikan banyak masukan, bimbingan dan perhatian dari tahap revisi

proposal hingga skripsi selesai

5. Wakasek Kurikulum, Wakasek Sarana & Prasarana, Wakasek Kesiswaan,

Guru Biologi kelas X MIPA serta Peserta didik SMAN 78 Jakarta yang sudah

(8)

vii

menerima saya dengan sangat baik dan bersedia untuk membantu saya dalam

mengumpulkan data lapangan

6. Kedua orang tua yang tersayang, Sami Koto Viliang dan Nurmanis S.Pd yang

selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil yang tiada

putus-putusnya

7. Kakak dan adik tercinta yang senantiasa menjadi teman, menghibur dan

memotivasi peneliti selama proses penyusunan skripsi

8. Keluarga besar Pendidikan Biologi angkatan 2015

9. Selly Safariyah, Vina Ruliyanti, Nur Alfiyah, Khairunnisa dan Shaffitri

Dianawati yang telah dengan sabar menemani peneliti dalam proses

pengambilan data lapangan

10. Anggota grup ESD, Nurul Safrina dan Niken Triana Putri yang senantiasa

menguatkan, memberikan masukan, koreksi serta memotivasi satu sama lain

selama proses penyusunan skripsi

11. Teman-teman 3 Garis, Dea Amelia Widyananda, Shaffitri Dianawati dan Vivi

Friliandita yang telah membersamai dan menjadi teman semenjak SMA,

senantiasa memberikan penghiburan serta dukungan moril satu sama lain

12. Anggota grup Biology Squad, Selly Safariyah Fatimah, Andini Maulida,

Nurul Safrina, Listianingsih, Vina Ruliyanti, Fajarotul Hidayah dan Keziah

Diah Tantri yang telah membersamai dan menjadi teman selama masa kuliah

serta senantiasa saling menguatkan satu sama lain

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan, rahmat dan

karunia-Nya kepada seluruh pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan

skripsi ini. Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat berguna bagi banyak

pihak, terkhusus di bidang pendidikan.

Tangerang, Desember 2020

Penulis,

Hany Salsabila

(9)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI ... ii

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 8

D. Perumusan Masalah ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 8

F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS ... 10

A. Deskripsi Teoretis ... 10

(10)

ix

2. Perspektif Education for Sustainable Development (ESD) ... 13

3. Sekolah Alternatif Berbasis Education for Sustainable Development

(ESD) ... 15

4. Sekolah Adiwiyata ... 16

5. Implementasi ESD dalam Pendidikan Formal ... 18

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 21

C. Kerangka Berpikir ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 28

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

B. Metode Penelitian ... 28

C. Situasi Sosial dan Sampel ... 28

D. Instrumen Penelitian ... 30

1. Lembar Wawancara ... 30

2. Lembar Observasi ... 30

3. Dokumentasi ... 30

E. Teknik Pengambilan Data ... 31

1. Wawancara... 31

2. Observasi ... 31

3. Studi Dokumentasi ... 31

F. Prosedur Penelitian ... 32

1. Tahap Persiapan ... 32

2. Tahap Pelaksanaan ... 32

3. Tahap Akhir ... 33

(11)

x

G. Teknik Analisis Data ... 33

1. Data Reduction (Reduksi Data)... 33

2. Data Display (Penyajian Data) ... 34

3. Conclusion Drawing / Verification ... 34

H. Triangulasi Data ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Hasil Penelitian ... 37

1. Data Keseluruhan ... 37

2. Hasil Analisis Implementasi ESD di Setiap Perspektif ... 48

B. Pembahasan ... 49

BAB V PENUTUP ... 66

A. Kesimpulan... 66

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 74

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data Keseluruhan Penerapan Aspek dan Indikator ESD di

SMAN 78 Jakarta ... 38

Tabel 4.2 Total Komponen dan Indikator yang Terimplementasi pada

Setiap Aspek ... 48

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Tabel Rincian Nilai ESD yang Terimplementasi

Berdasarkan Hasil Observasi ... 75

Lampiran 2

Tabel Rincian Nilai ESD yang Terimplementasi

Berdasarkan Hasil Wawancara ... 125

Lampiran 3

Tabel Hasil Studi Dokumentasi ... 211

Lampiran 4

Pemetaan Indikator SDGs dengan Indikator Instrumen

Penelitian untuk Mencapai Tujuan Pembangunan

Berkelanjutan ... 218

Lampiran 5

Tabel Indikator Integrasi ... 252

Lampiran 6

Hasil Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah

Bidang Kesiswaan ... 256

Lampiran 7

Hasil Wawancara dengan Guru Biologi Kelas X MIPA

... 260

Lampiran 8

Hasil Wawancara dengan Peserta didik Kelas X MIPA

... 263

Lampiran 9

Hasil Wawancara dengan Ketua dan Anggota

Ekstrakurikuler ... 267

Lampiran 10

Dokumen Prestasi SMAN 78 Jakarta ... 270

Lampiran 11. Kegiatan Saat MPLS ... 271

Lampiran 12. Tata Tertib ... 272

Lampiran 13. Dokumen Pembelajaran Biologi ... 274

Lampiran 14. Kegiatan Pembelajaran Biologi ... 277

Lampiran 15. Kegiatan Ekstrakurikuler ... 278

(14)

xiii

Lampiran 17. Kegiatan saat Ulang Tahun Sekolah ... 281

Lampiran 18. Education Fair ... 283

Lampiran 19. Kegiatan Keagamaan ... 285

Lampiran 20. Fasilitas Sekolah dan Bentuk Fisik Konservasi Air .. 286

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lingkungan beserta semua sumberdaya yang dikandungnya telah menjadi

sandaran dan pijakan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Soedjono, lingkungan diartikan sebagai segala unsur dan faktor fisik

jasmaniah yang berada di alam, meliputi hewan, tumbuhan dan manusia.

1

Hal-hal yang ada dalam lingkungan dan dapat dimanfaatkan untuk mencukupi

kebutuhan hidup manusia disebut sebagai sumber daya alam.

2

Manusia hidup

dari proses memanfaatkan semua yang alam suguhkan untuk dikelola.

Pengelolaan terhadap sumber kehidupan berupa lingkungan dan sumber daya

alam yang dilakukan secara bijak, akan menjaga keseimbangan, keberlanjutan

dan ketersediaan sumber-sumber kehidupan tersebut. Sebaliknya, pengelolaan

yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya, akan menimbulkan krisis

pangan, krisis energi, krisis air dan lingkungan.

3

Seiring dengan berkembangnya jaman, seluruh aspek-aspek dalam

kehidupan pun ikut berkembang. Aspek yang terus berkembang dalam

kehidupan manusia merupakan yang paling menjadi sorotan, sebab manusia

menempati posisi paling dominan dan berpengaruh bagi aspek-aspek lainnya.

Seiring dengan semakin majunya jaman, manusia makin mengandalkan

teknologi untuk melaksanakan pembangunan maupun memenuhi kebutuhan

hidupnya.

Saat ini, kegiatan pembangunan yang masif dilakukan terkadang tidak

mengindahkan efek dari aktivitas yang dilakukannya terhadap lingkungan.

1

Aris Kurniawan , Pengertian Lingkungan Menurut Para Ahli, 2020, diakses dari

https://www.gurupendidikan.co,id/pengertian-lingkungan/ tanggal 1 Juli 2020 pukul 18.48 WIB 2

Rimbakita.com, Sumber Daya Alam-Pengertian, Jenis, Manfaat & Contoh, 2020, diakses dari https://rimbakita.com/sumber-daya-alam/ tanggal 1 Juli 2020 pukul 19.13 WIB

3

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Pembangunan

Berkelanjutan, Lingkungan dan Otonomi Daerah, 2020, diakses dari http://lib.geo.ugm.ac.id/ wordpress/?p=125 tanggal 29 Juni 2020 pukul 13.06 WIB

(16)

2

Kemajuan teknologi yang ada saat ini bukan lagi dimanfaatkan untuk sekedar

memenuhi kebutuhan, melainkan digunakan untuk mengeksploitasi sumber

daya alam melebihi batasan-batasannya. Modernisasi gaya hidup juga telah

membawa manusia ke pola hidup yang konsumtif. Di sisi lain, terjadi

peningkatan jumlah populasi manusia, yang tentunya akan memerlukan

sokongan sumberdaya dan energi dalam jumlah besar.

4

Hal-hal ini telah

membawa dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan dan kemerosotan

sumberdaya alam yang ada.

Perubahan teknologi, pola konsumsi manusia dan pembangunan yang tidak

ramah lingkungan telah memunculkan berbagai persoalan lingkungan.

Diantaranya yang memiliki pengaruh terbesar bagi kehidupan ialah fenomena

perubahan iklim. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri mendefinisikan

perubahan iklim sebagai gejala yang disebabkan baik secara langsung ataupun

tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga mengubah komposisi dari

atmosfer global dan variabilitas iklim alami.

5

Dampak dari perubahan iklim yang sering terjadi di Indonesia adalah

kebakaran hutan. Seperti yang diketahui, fungsi hutan yang paling dasar ialah

untuk menyimpan air. Dalam kondisi banyaknya hutan yang terbakar, akan

semakin sedikit cadangan air yang tersimpan, akibatnya ialah terjadinya

kekeringan saat musim kemarau. Hal ini akan berimbas pada sektor pertanian

yang akan mengalami kelumpuhan. Apabila sektor pertanian mengalami

kelumpuhan, maka hasil panen pun akan menurun

6

dan kebutuhan pangan

dalam negeri pun tidak dapat tercukupi.

Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan peningkatan suhu

permukaan laut yang menyebabkan proses pemutihan terumbu karang semakin

sering terjadi. Rusaknya terumbu karang akan membawa pengaruh besar bagi

4

Alamsyah Taher, Pemikiran dan Praktek Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Sosiologi

USK, Vol.11, No.2, 2017, hlm.111

5

Knowledge Centre Perubahan Iklim, Mengenai Perubahan Iklim, 2020, diakses dari

http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/perubahan-iklim tanggal 1 Juli 2020 pukul 18.36 WIB

6

Chryssanti Widya, dkk., Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2019, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2019), hlm. 25

(17)

3

seluruh ekosistem laut. Berdasarkan data dari LIPI yang dikutip oleh Badan

Pusat Statistik, sepanjang tahun 2016, keberadaan tutupan terumbu karang di

Indonesia mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari sekitar 2.5 juta hektar luas terumbu karang yang ada di Indonesia, hanya

6.39 persen yang berada dalam kondisi sangat baik, 23.40 persen dalam kondisi

baik, 35.06 persen dalam kondisi cukup dan 35.15 persen dalam kondisi jelek

(LIPI, 2017).

7

Ekosistem hutan dan terumbu karang, keduanya memiliki peran dan posisi

yang sangat krusial bagi kehidupan di bumi. Kedua ekosistem ini merupakan

naungan bagi banyak makhluk hidup di dalamnya. Kedua ekosistem ini

merupakan tempat biodiversitas tertinggi yang ada di muka bumi. Kehilangan

kedua ekosistem ini dalam jumlah yang besar berarti juga kehilangan

keanekaragaman dan banyak sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya.

Kedua contoh tersebut merupakan sedikit dari efek domino yang

ditimbulkan dari aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Manusia dan

lingkungan pada hakikatnya saling terkait erat. Ada kalanya manusia sangat

ditentukan oleh lingkungan sekitarnya, begitupun sebaliknya.

8

Hal ini sudah

sepatutnya menyadarkan manusia bahwa perlu adanya wawasan etika

lingkungan dalam menjalankan berbagai aktivitas. Serta menanamkan nilai dan

etika lingkungan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk proses

pembelajaran sosial serta pendidikan formal pada semua tingkatan.

9

Indonesia sendiri sebenarnya telah memulai usaha implementasi nilai

pendidikan lingkungan hidup dalam dunia pendidikan sejak tahun 1975.

Namun, baru pada tahun 1986 nilai pendidikan lingkungan hidup ini

diintegrasikan kedalam kurikulum di beberapa sekolah, mulai dari tingkat SD

sampai dengan SMK di seluruh Indonesia. Setelah dimonitor dan dievaluasi

pada tahun 2002, kegiatan ini dinilai kurang berhasil. Kekurangberhasilan ini

disebabkan belum adanya konsep dasar PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup)

yang baku, khususnya untuk pengintegrasian ke dalam kurikulum, strategi

7

Ibid., hlm. 22 8

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. loc.cit 9

(18)

4

baku pelaksanaan yang kurang efektif, serta belum berhasilnya upaya

koordinasi antara mata pelajaran di sekolah sendiri yang masih berjalan

menurut orientasi masing-masing pengajar.

10

Pada tahun 1996, dibuat kesepakatan kerjasama pertama antara

Departemen Pendidikan Nasional dan Kementrian Negara Lingkungan Hidup

No. 0142/U/1996 dan No. 89/MENLH/5/1996 tentang Pembinaan dan

Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup.

11

Kesepakatan tersebut

kemudian ditingkatkan menjadi Memorandum of Understanding (MoU) pada

tahun 2005 dan diperbaharui pada tahun 2010. Dalam kesepakatan ini, program

yang sedang dikembangkan bersama adalah program Adiwiyata.

12

Program

Adiwiyata merupakan program yang komprehensif (menyeluruh), melibatkan

semua pemangku kepentingan baik di sekolah maupun di masyarakat untuk

membantu meningkatkan kepedulian lingkungan, khususnya bagi peserta

didik.

13

Sekolah Adiwiyata dinilai merupakan tempat yang baik dan ideal untuk

memperoleh ilmu pengetahuan, norma serta etika yang menjadi dasar manusia

untuk mewujudkan terciptanya kesejahteraan hidup dan menggapai cita-cita

pembangunan berkelanjutan.

14

Sekolah yang memutuskan untuk menjadi

sekolah Adiwiyata terus meningkat jumlahnya hingga hari ini. Hal ini

menandakan semakin banyak sekolah yang merasa pentingnya integrasi nilai

10

Mohammad Soerjani, Lingkungan Hidup (The Living Environment) Pendidikan,

Pengelolaan Lingkungan dan Kelangsungan Pembangunan, (Jakarta: IPPL, 2007), hlm. 239

11

Pemerintah Kabupaten Bantul Dinas Lingkungan Hidup, Pendidikan Lingkungan

Hidup, 2020, diakses dari https://dlh.bantulkab.go.id/berita/198-pendidikan-lingkungan-hidup

pada 29 Juni 2020 pukul 14.53 WIB 12

Noor Endah Mochtar, dkk., Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education

for Sustainable Development) di Indonesia :Implementasi dan Kisah Sukses, (Jakarta: Komisi

Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 31

13

Rizky Dewi Iswari dan Suyud W Utowo, Evaluasi Penerapan Program Adiwiyata untuk Membentuk Perilaku Peduli Lingkungan di Kalangan Siswa, Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol.02, No.01, 2017, hlm.36

14

Nanik Hidayati, Tukiman Taruna dan Hartuti Purnaweni, “Perilaku Warga Sekolah dalam Program Adiwiyata di SMK Negeri 2 Semarang”, disampaikan pada Prosiding Seminar Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang, 2013, hlm. 150

(19)

5

lingkungan dalam ranah pendidikan, dalam rangka mempersiapkan peserta

didik mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pada tahun 1987, konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan untuk

pertama kalinya oleh World Commission on Environment and Development

(Brundtland Commission) melalui bukunya “Our Common Future”.

15

Sejarah

perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

ini telah berlangsung lama. Bermula dari dokumen “Our Common Future”

(hari depan bersama) yang kemudian dipublikasikan oleh The World

Commision on Environmental and Development (WCED) pada tahun 1987.

Sedangkan awal mula tercetusnya konsep ESD (Education for Sustainable

Development) ialah dari “The World Summit on Sustainable Development”

yang dilakukan di Johannesburg pada tahun 1992.

16

Menurut Brundtland Report dalam World Commission on Environment

and Development (1987), pembangunan berkelanjutan adalah proses

pembangunan yang berprinsip pada “pemenuhan kebutuhan generasi sekarang

tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (…to meet

the need of the present without sacrificing the ability of the future to meet

theirs)”. Dengan kata lain, pembangunan adalah sesuatu yang bersifat esensial

untuk pemenuhan kebutuhan serta meningkatkan kualitas hidup manusia.

Pembangunan juga mesti dilandasi dengan efisiensi dan penggunaan

lingkungan yang bertangungjawab dari seluruh masyarakat, dengan tetap

memperhatikan sisi ekonomi dan sosial tanpa melampaui fungsi ekologis

(lingkungan hidup).

17

Perlu adanya perbaikan pada aspek-aspek yang turut terlibat dan

mempengaruhi implementasi nilai pembangunan berkelanjutan, yaitu manusia

(sosial) dan pembangunan (ekonomi). Manusia dan kegiatannya memiliki

peluang paling besar untuk mengakibatkan kerusakan lingkungan. Tujuan akhir

15

Dika Agustia Indrati, “ESD (Education for Sustainable Development Melalui Pembelajaran Biologi)”, disampaikan pada Prosiding Symbion (Symposium on Biology

Education), Prodi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Ahmad Dahlan, 2016, hlm. 374

16

Ibid., hlm. 372 17 Ibid., hlm. 374

(20)

6

dari

Sustainable

Development

adalah

tercapainya

kehidupan

yang

berkelanjutan di bumi, baik dari lingkungan, harapan hidup manusia maupun

kemajuan pembangunan.

Konsep keberlanjutan dalam Sustainable Development mendukung adanya

pemberdayaan manusia, ekonomi dan lingkungan, yaitu tentang bagaimana

agar semua pilar penting pembangunan dapat terus terpenuhi kebutuhannya

tanpa mengabaikan dampak yang diberikan ketiga pilar tersebut terhadap

lingkungan. Implikasi dari konsep keberlanjutan ini, pada akhirnya akan

mendukung adanya pembangunan yang dilaksanakan dalam daya dukung

lingkungan, juga peningkatan kualitas manusia. Sustainable Development

menyuguhkan solusi yang lebih menyeluruh dalam menghadapi permasalahan

kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam dan keberlanjutan hidup di

bumi.

Pendidikan dinilai sebagai salah satu bidang strategis dalam pembentukan

nilai Sustainable Development dikarenakan pendidikan dapat memfasilitasi

ilmu pengetahuan yang mendasari nilai pembangunan berkelanjutan itu sendiri.

Kemudian, memunculkan sifat dan sikap sadar serta empati melalui berbagai

kegiatan dan membentuknya menjadi suatu karakter. Sebagai sekolah yang

tercetus atas dasar konsep Sustainable Development, Sekolah Adiwiyata

menjadi tempat yang kondusif untuk belajar nilai pembangunan berkelanjutan

dalam perspektif lingkungan, sosial dan ekonomi.

Dalam hal ini, Sekolah Adiwiyata diharapkan mampu memfasilitasi

peserta didik dengan edukasi yang komprehensif mengenai nilai pembangunan

berkelanjutan, baik melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun

kegiatan lain di sekolah. Selain itu, komprehensif juga berarti pendidikan

pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan di Sekolah Adiwiyata dapat

fokus pada semua perspektif baik lingkungan, ekonomi dan sosial. Untuk itu,

perlu dilakukan pemetaan untuk mengetahui seberapa jauh nilai-nilai

pembangunan berkelanjutan telah diterapkan di Sekolah Adiwiyata.

(21)

7

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,

terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, antara lain:

1. Eksploitasi sumber daya yang seringkali dilakukan manusia dalam

kegiatan pembangunan telah mengakibatkan munculnya permasalahan

baik pada perspektif lingkungan, sosial maupun ekonomi.

2. Education for Sustainable Development (ESD) merupakan jawaban bagi

tantangan pembangunan di masa depan. Namun diperlukan integrasi

yang komprehensif dari ESD agar peserta didik dapat benar-benar belajar

nilai keberlanjutan di sekolah

3. Sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri, SMAN 78 Jakarta merupakan

media yang kondusif untuk penanaman nilai Sustainable Development.

Namun belum ada penelitian mengenai sejauh apa nilai pembangunan

berkelanjutan ini telah diterapkan

4. Perlu dilakukan pemetaan nilai ESD di Sekolah Adiwiyata SMAN 78

Jakarta, agar perannya sebagai wadah yang dapat memfasilitasi

pembelajaran nilai keberlanjutan dapat dimaksimalkan

(22)

8

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan rancangan penelitian yang telah dibuat, pembatasan masalah

penelitian ini pada:

1. Peneliti melakukan analisis implementasi nilai Education for Sustainable

Development (ESD) pada salah satu SMA Adiwiyata di Jakarta Barat

yaitu SMAN 78 Jakarta dalam lingkup ranah pembelajaran di kelas

(khususnya pembelajaran Biologi), kegiatan ektsrakurikuler dan

kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan peserta didik kelas X MIPA.

2. Fokus utama dalam penelitian ini adalah pengumpulan data dalam bentuk

kegiatan yang diimplementasikan yang relevan dengan nilai ESD,

kemudian dalam bentuk lainnya yang menunjang data

3. Terdapat 3 perspektif umum yang menjadi pilar utama Sustainable

Development yang akan dianalisis penerapannya, yaitu perspektif

lingkungan, sosial dan ekonomi

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah tersebut diatas, maka

masalah yang dapat dirumuskan dalam skripsi ini adalah:

1. Bagaimana penerapan komponen dan indikator dari nilai ESD yang ada

di SMAN 78 Jakarta?

2. Apakah

perspektif

ESD

(ekonomi,

sosial

dan

lingkungan)

terimplementasi secara menyeluruh di SMAN 78 Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini diantaranya ialah:

1. Mengetahui nilai-nilai Education for Sustainable Development (ESD)

yang telah diterapkan di SMAN 78 Jakarta pada perspektif sosial budaya,

lingkungan dan ekonomi

2. Mengetahui nilai-nilai Education for Sustainable Development (ESD)

yang kurang diimplementasikan serta tidak diimplementasikan sama

(23)

9

sekali di SMAN 78 Jakarta pada perspektif sosial budaya, lingkungan

dan ekonomi

3. Menyelidiki kendala yang dihadapi dalam menerapkan ESD di

lingkungan SMAN 78 Jakarta

F. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini, diharapkan tulisan ini dapat memberikan manfaat di

antaranya yaitu :

1. Bagi pihak sekolah, dapat menjadi wawasan baru mengenai konsep ESD

dan menambah wawasan mengenai nilai ESD yang sudah terdapat

implementasinya di sekolah

2. Bagi peneliti, dapat menjadi bahan pengembangan untuk penelitian

selanjutnya dengan tema yang sama

3. Bagi masyarakat, dapat memberi informasi baru dan bermanfaat mengenai

ESD dan pentingnya penerapannya dalam lingkungan sekolah

(24)

10

BAB II

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis

1. Konsep Education for Sustainable Development (ESD)

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan merupakan gabungan

dari dua istilah yang berbeda, yaitu Pendidikan dan Pembangunan

Berkelanjutan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

negara.

1

Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang

berpijak

pada

prinsip

“memenuhi kebutuhan sekarang tanpa

mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (menurut

Laporan Brundtland dari PBB, 1987).

2

Pembangunan Berkelanjutan

merupakan suatu konsep sedangkan Pendidikan merupakan alat yang

digunakan untuk menanamkan konsep tersebut.

Apabila ditilik, terdapat banyak sekali pengertian atau definisi dari

ESD atau PPB itu sendiri, namun keseluruhannya memiliki makna yang

serupa. Budi Sri Hastuti (2009) memiliki pemahaman yang sedikit berbeda

dalam mengartikan makna development dalam ESD, seperti yang

termaktub dalam definisi berikut:

Istilah ESD berasal dari istilah Education Sustainable Development

atau di singkat ESD minus for atau Pendidikan Pengembangan

Berkelanjutan tanpa memakai kata untuk. Mengapa di Indonesia

ditambah dengan for atau untuk. Kata untuk berarti menghasilkan

1

Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hlm.1 2

Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Pembangunan Berkelanjutan, 2018, diakses dari

http://law.ui.ac.id/v3/fasilitas/pembangunan-berkelanjutan/ pada 11 Oktober 2018 pukul 17.30 WIB

(25)

11

sesuatu, ada tujuan yang ingin dicapai. Untuk menghasilkan sesuatu

atau mencapai tujuan, harus ada tindakan (action). Sedangkan

development diterjemahkan pengembangan bukan pembangunan,

karena pembangunan sering dimaknai pembangunan fisik atau

infrastruktur.

3

Berdasarkan definisi tersebut, Budi Sri Hastuti mengartikan bahwa

“development” dalam ESD memiliki makna pengembangan, bukan

pembangunan yang bersifat fisik. Pengembangan yang dimaksud

merupakan perubahan dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan yang

diharapkan

berlangsung

secara

simultan

dan

berkesinambungan.

Pengembangan ini bertujuan demi menghasilkan kondisi yang aman,

tentram dan nyaman baik bagi masa sekarang maupun masa mendatang.

4

Kemudian dengan dibubuhkannya kata “for” atau “untuk” dalam ESD

menjadi tanda bahwa adanya tujuan yang ingin dicapai melalui action atau

tindakan nyata.

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan berisi hal-hal yang

berkenaan dengan belajar keterampilan, perspektif dan nilai-nilai yang

membimbing serta memotivasi orang untuk mencari penghidupan yang

berkelanjutan, berpartisipasi dalam masyarakat demokratis, dan hidup

secara berkelanjutan. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan juga

melibatkan belajar mengenai isu-isu lokal dan juga isu-isu global, apabila

diperlukan. Pendidikan untuk sebuah pembangunan berkelanjutan sendiri

menurut UNESCO adalah:

…sebuah konsep yang jauh melampaui pendidikan lingkungan.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan adalah proses

pendidikan untuk mencapai pembangunan manusia („tiga pilar

pembangunan manusia‟ yang diusulkan oleh UNDP: pertumbuhan

ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan)

3

Budi Sri Hastuti, Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education for

Sustainable Development) dalam Perspektif PNFI (Implementasi ESD pada Program PNFI), Jurnal Andragogia, Vol.1, No.1, 2009, hlm.46

4

(26)

12

secara

inklusif,

adil

dan

aman.

(

http://www.dpendidikanuntukpembangunanberkelanjutan.org

/).

5

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan

untuk Pembangunan Berkelanjutan mempelajari bukan hanya sebatas teori,

melainkan ilmu aplikatif dan bukan hanya sebatas pada pendidikan

lingkungan, namun juga pilar lain yang mendukung pembangunan manusia

(ekonomi dan sosial), dengan tujuan melatih agar manusia dapat hidup

secara berkelanjutan.

Pendidikan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumberdaya

non-fisik berperan penting dalam pembentukan sikap dan karakter manusia.

Dalam hal ini, pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas dan

kompetensi manusia agar dapat menggerakkan dan mengelola

sektor-sektor tertentu, khususnya pada bidang atau sektor-sektor yang ditekuninya.

6

Dalam kaitan itu, maka dapat dikatakan bahwa salah satu hal yang

menentukan keberlanjutan kehidupan dalam suatu masyarakat ialah

pendidikan. Hal-hal yang telah dikemukakan diatas juga semakin

memperjelas bahwa pendidikan merupakan kegiatan investasi sumber daya

manusia. Apabila dilakukan secara tepat dan benar, akan mampu

menghasilkan sumber daya manusia yang handal serta memiliki rasa

tanggung jawab terhadap lingkungan.

7

Konsep Pembangunan Berkelanjutan bukan merupakan suatu konsep

yang baru, namun sudah tersurat secara jelas dalam Undang-undang

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun dalam

Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Kemdiknas (2010) juga mengemukakan bahwa konsep ESD sebagai

pendidikan yang bermakna, berfungsi, dan bertujuan untuk 1)

5

Syukri Hamzah, Pendidikan Lingkungan: Sekelumit Wawasan Pengantar, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hlm. 91

6

Ibid., hlm. 88 7

(27)

13

pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi sekarang

tanpa harus mengesampingkan kemampuan generasi masa depan untuk

memenuhi kebutuhan hidup mereka, 2) meningkatkan mutu hidup manusia

dengan tetap hidup di dalam daya dukung ekosistem, dan 3)

menguntungkan bagi semua makhluk di bumi (manusia dan ekosistem)

pada masa kini maupun di masa yang akan datang.

8

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tercapainya

pelaksanaan pembangunan berkelanjutan ini sudah menjadi tujuan dari

pendidikan Indonesia. Pendidikan memiliki posisi yang sangat menentukan

mengenai mampu atau tidaknya suatu generasi untuk mendukung

keberlanjutan. Hal ini karena pendidikan merupakan alat yang sangat

potensial untuk membentuk sikap dan karakter manusia.

2. Perspektif Education for Sustainable Development (ESD)

Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang dicetuskan oleh UN

(United Nations) bertujuan untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan

yang seimbang dalam berbagai aspek. Karena dalam kehidupan, setiap

aspek saling terkait satu sama lain dan untuk mendukung keberlanjutan

tentunya semua bidang dalam kehidupan harus tersentuh konsep

pembangunan berkelanjutan. Kesemua aspek tersebut, dihimpun dalam 3

bidang / pilar / dapat dipandang melalui perspektif yang lebih umum.

Menurut Muhammad Ali, konsep Pembangunan Berkelanjutan dapat

dilihat dari 3 perspektif.

Perspektif pertama merupakan Perspektif Sosial-Budaya, yakni

pembangunan berkelanjutan dipandang sebagai suatu upaya dalam

memenuhi hak-hak manusia, mewujudkan ketahanan nasional, serta

perdamaian dunia, keberlangsungan hidup bangsa, persamaan gender,

8

Dika Agustia Indrati, “ESD (Education for Sustainable Development Melalui Pembelajaran Biologi)”, disampaikan pada Prosiding Symbion (Symposium on Biology

(28)

14

keragaman budaya, dan pemahaman antar budaya (interculture),

pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan penanganan penyakit berbahaya

seperti HIV/AIDS. Perspektif kedua merupakan Perspektif Lingkungan,

yakni pembangunan berkelanjutan sebagai upaya memanfaatkan kekayaan

dan sumber daya alam secara bijak dengan memperhatikan kepentingan

generasi yang akan datang, mengantisipasi terjadinya perubahan iklim,

perubahan pada lingkungan hidup, di pedesaan dan perkotaan akibat

urbanisasi, dan pencegahan bencana yang dipicu oleh kegiatan manusia

dalam mengeksploitasi lingkungan secara kurang bijak, seperti banjir yang

diakibatkan oleh penggundulan hutan. Perspektif ketiga merupakan

Perspektif Ekonomi, yakni pembangunan berkelanjutan sebagai upaya

pengurangan

kemiskinan,

peningkatan

kesejahteraan

membangun

kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa.

9

Ketiga pilar dalam ESD ini sangat berkaitan satu sama lainnya. Dalam

menjalankan kegiatan ekonomi, tentunya membutuhkan daya dukung dari

alam (ekologi). Kemudian dalam mewujudkan kehidupan sosial yang baik,

sangat diperlukan daya dukung dari aspek ekologi dan ekonomi.

10

Dalam

dunia pendidikan, ketiga pilar inilah yang memberi bentuk dan menjadi isi

pada pembelajaran yang berkelanjutan di sekolah.

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep

Sustainable Development yang diusung sebagai solusi permasalahan

lingkungan dan keterbatasan sumber daya alam, dalam kenyataannya

bukan hanya memperhatikan permasalahan lingkungan saja. Konsep

Sustainable Development juga memperhatikan perspektif-perspektif lain

yang terkait erat dengan pembangunan berkelanjutan, yaitu perspektif

ekonomi dan sosial. Hal ini karena tujuan akhir dari Pembangunan

Berkelanjutan (Sustainable Development) adalah tercapainya kehidupan

9

Muhammad Ali, Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, (Bandung: PT Imperial Bhakti Utama, 2009), hlm. 84

10

Klipaa.com, Education for Sustainable Development, 2020, diakses dari

https://klipaa.com/story/325-education-for-sustainable-development-ESD, pada 18 November 2020 pukul 17.00 WIB

(29)

15

yang berkelanjutan dan seimbang dalam berbagai aspek. Semua perspektif

beserta turunannya inilah yang penting untuk menjadi isi dari pembelajaran

di sekolah.

3. Sekolah

Alternatif

Berbasis

Education

for

Sustainable

Development (ESD)

Strategi umum dalam pendekatan ESD yang berorientasi whole school

approach, melibatkan proyek yang dikenal sebagai “Sekolah Hijau”. Di

Indonesia, pendekatan ESD yang berorientasi whole school approach

dipromosikan melalui Sekolah Hijau Adiwiyata. Dukungan para

administrator dan pemimpin sekolah adalah syarat utama untuk

mengadopsi pendekatan whole school approach.

11

Salah satu indikator penting dalam pengarusutamaan ESD di sekolah

formal adalah adanya adopsi whole school approach. Menurut UNESCO

ESD Sourcebook, whole school approach biasanya mengandung

komponen-komponen sebagai berikut. Pertama kurikulum formal, berisi

pengetahuan, keterampilan, perspektif, dan nilai-nilai yang terkait dengan

keberlanjutan. Kedua, belajar mencakup masalah kehidupan nyata untuk

meningkatkan motivasi dan pembelajaran siswa. Ketiga, sekolah memiliki

etos keberlanjutan, yang dapat dilihat pada perlakuan orang lain, properti

sekolah, dan lingkungan. Keempat, praktik manajemen sekolah yang

mencerminkan keberlanjutan. Kelima, kebijakan sekolah mencerminkan

kelestarian lingkungan, sosial, dan ekonomi. Keenam, interaksi antara

sekolah dan masyarakat dipupuk. Ketujuh, acara khusus dan kegiatan

ekstra kurikuler berlaku dan meningkatkan pembelajaran kelas tentang

keberlanjutan. Kedelapan, murid terlibat dalam pengambilan keputusan

mempengaruhi kehidupan sekolah.

12

11

Aaron Benavot, Research Gate, Technical Report about Education for Sustainable

Development in Primary and Secondary Education, 2014,

(https://www.researchgate.net/publication/282342116) , hlm. 14-15 12

(30)

16

Berdasarkan penjabaran teori diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa

sekolah alternatif berbasis ESD di Indonesia dikenal sebagai Sekolah

Hijau Adiwiyata. Berdasarkan karakteristiknya, Sekolah Adiwiyata

mengadopsi

whole

school

approach,

menandakan

adanya

pengarusutamaan atau menjadikan ESD sebagai nilai-nilai penting dalam

sekolah tersebut. Adanya pengarusutamaan nilai ESD di Sekolah

Adiwiyata dapat dilihat dari segi kurikulum, kebijakan sekolah yang

berlaku, manajemen sekolah dan interaksi antara sekolah dan

masyarakatnya.

4. Sekolah Adiwiyata

Istilah "Adiwiyata" merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa

Sansekerta, yaitu Adi dan Wiyata. Adi berarti besar, agung, baik, ideal atau

sempurna, sedangkan Wiyata berarti tempat di mana seseorang

mendapatkan pengetahuan, norma, dan etika dalam kehidupan sosial.

13

Definisi sekolah hijau di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri

Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2013 tentang Pedoman Program

Adiwiyata. Disebutkan dalam peraturan menteri bahwa Sekolah Adiwiyata

adalah sekolah yang baik dan ideal sebagai tempat untuk memperoleh

semua ilmu pengetahuan, norma, dan etika yang dapat menjadi dasar bagi

penciptaan

kesejahteraan

manusia

dan

model

pembangunan

berkelanjutan.

14

Sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang telah menerapkan sistem

untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, melalui tata kelola

sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Program

Adiwiyata sendiri telah dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup

dan berlanjut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk

13

Warju, et.al., Evaluating the Implementation of Green School (Adiwiyata) Program: Evidence from Indonesia, International Journal of Environmental and Science Education, Vol.12, No.6, 2017, hlm.1485

14

(31)

17

mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui

kegiatan pembinaan, penilaian dan pemberian penghargaan Adiwiyata

kepada sekolah. Pedoman pelaksanaan program Adiwiyata diatur dalam

Peraturan Menteri LH Nomor 5 Tahun 2013.

15

Sekolah Adiwiyata bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sekolah

yang peduli dan berbudaya lingkungan, dengan beberapa kiat berikut.

Pertama, menciptakan kondisi yang lebih baik bagi sekolah untuk menjadi

tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid, orang

tua / wali murid dan warga masyarakat) dalam upaya pelestarian

lingkungan hidup. Kedua, mendorong dan membantu sekolah agar dapat

ikut melaksanakan upaya pemerintah dalam melestarikan lingkungan

hidup dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan

demi kepentingan generasi yang akan datang. Ketiga, membentuk warga

sekolah yang turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan

lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.

16

Target sasaran dari program Adiwiyata adalah lingkup pendidikan

formal setingkat SD, SMP, SMA atau sederajat. Sekolah menjadi target

pelaksanaan Adiwiyata karena memiliki andil dalam membentuk nilai-nilai

kehidupan, termasuk nilai-nilai untuk peduli & berbudaya lingkungan

hidup. Sekolah-sekolah yang telah mengikuti dan melaksanakan program

Adiwiyata berhak untuk mendapatkan penilaian dan penghargaan yang

diberikan secara berjenjang. Jenjang dari penghargaan Adiwiyata yang

dapat diterima oleh sekolah, meliputi tingkatan sebagai berikut. Yang

pertama, Penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan diberikan

oleh Bupati/Walikota. Yang kedua, Penghargaan Adiwiyata Provinsi,

penghargaan diberikan oleh Gubernur. Yang ketiga, Penghargaan

Adiwiyata Nasional, penghargaan diberikan oleh Menteri Lingkungan

Hidup dan Kehutanan dan Penghargaan Adiwiyata Mandiri, khusus bagi

15

Heny Puspita R, Adiwiyata Mewujudkan Sekolah yang Berbudaya Lingkungan, 2018,

diakses dari

http://bp2sdm.menlhk.go.id/emagazine/index.php/umum/59-adiwiyata-mewujudkan-sekolah-yang-berbudaya-lingkungan.html pada12 Oktober 2018 pukul 15.53 WIB 16

(32)

18

sekolah yang memiliki minimal 10 sekolah binaan yang telah mendapatkan

penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan diberikan oleh

Presiden.

17

Menurut Chaeruddin (2009), pelaksanaan Program Adiwiyata

diletakkan pada dua prinsip dasar yaitu: Partisipatif dan Berkelanjutan.

Partisipatif bermakna seluruh komponen sekolah terlibat dalam manajemen

sekolah yang meliputi keseluruhan proses meliputi perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran. Sedangkan

berkelanjutan bermakna seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana

dan terus menerus secara komprehensif.

18

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa penghargaan

Sekolah Adiwiyata merupakan bentuk keseriusan pemerintah Indonesia

untuk membentuk generasi dengan karakter dan sikap keberlanjutan dalam

kehidupannya. Bentuk keseriusan juga terlihat dari adanya standarisasi

berjenjang yang ditetapkan pemerintah untuk calon Sekolah Adiwiyata.

Sebagai sekolah yang tercetus atas dasar konsep Sustainable Development,

Sekolah Adiwiyata menjadi tempat yang kondusif untuk belajar nilai

pembangunan berkelanjutan tidak hanya bagi peserta didik, melainkan bagi

seluruh warga sekolah, wali murid maupun masyarakat sekitar sekolah.

5. Implementasi ESD dalam Pendidikan Formal

Penanaman nilai-nilai ESD di sekolah, dilaksanakan melalui beberapa

strategi pembelajaran, diantaranya: 1) Integrasi ke dalam mata pelajaran; 2)

Melalui mulok sebagai mata pelajaran tersendiri (monolitik); 3)

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler / program pengembangan diri; 4) Pembiasaan

17

Ibid. 18

Dosen Pendidikan 2, Adiwiyata Adalah – Pengertian, Fungsi, Manfaat, Ciri dan

Tujuan, 2018, diakses dari http://www.dosenpendidikan.co.id/adiwiyata-adalah/ pada 11 Oktober 2018 pukul 16.27 WIB

(33)

19

(pembudayaan) yang merupakan penerapan dari visi misi sekolah,

termasuk pelaksanaan peraturan sekolah.

19

Dalam mengimplementasikan pendidikan pembangunan berkelanjutan

pada jalur pendidikan formal, diarahkan dan dikembangkan pada upaya

penanaman nilai-nilai pembangunan semenjak dini melalui pembelajaran

di sekolah. Nilai-nilai ini mengarah pada keberlanjutan pembangunan

ekonomi, ekologi dan sosial budaya. Menurut Sudibyo (2009) kegiatan

yang dilakukan dalam pembelajaran di sekolah adalah pengembangan

dalam dimensi lingkungan. Dimensi lingkungan menitik beratkan pada

upaya menanamkan kesadaran dan tanggungjawab siswa secara

sendiri-sendiri atau bersama menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan

nyaman dengan membudayakan perilaku green dalam aktivitas

keseharian.

20

Beberapa aktivitas dalam keseharian yang biasa kita jumpai di mana

terdapat

penerapan

perilaku

green

didalamnya

contohnya:

Penghijauan/menanam pohon di panti belajar dan sekitarnya, di

pekarangan rumah dan sekitarnya, serta lahan tidak produktif, Menjaga

kebersihan tempat belajar dan sekitarnya, rumah dan sekitarnya (sanitasi

air,

MCK,

bak

sampah)

21

,

melakukan

kegiatan

3M

(menguras/membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat

penampungan air dan mendaur ulang barang bekas yang dapat berpotensi

menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk)

22

, Membuang sampah pada

tempatnya, Tidak menggunakan bahan kimia (pengawet, pewarna) pada

makanan, Budidaya obat-obatan herbal, Tidak menebang pohon

seenaknya, Tidak membunuh binatang seenaknya, Pembiasaan kegiatan

19

Nur Listiawati, Pelaksanaan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan oleh Beberapa Lembaga, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.19, No.3, 2013, hlm. 447

20

Yanti Shantini, Penyelenggaraan ESD dalam Jalur Pendidikan di Indonesia, Jurnal

Pedagogia, 13, 2015, hlm. 139

21

Ibid., hlm. 140

22 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Menkes:Dibanding Fogging, PSN 3M Plus

Lebih Utama Cegah DBD, 2020, diakses dari

http://www.kemkes.go.id/article/view/16021500003/menkes-dibanding-fogging-psn-3m-plus-lebih-utama-cegah-dbd.html pada 29 Desember 2020 pukul 17.15 WIB

(34)

20

reduce, reuse, recycle, Pengurangan polutan, dan Pengurangan emisi.

Kegiatan-kegiatan tersebut di atas menjadi bentuk refensi akan kegiatan

ataupun wawasan pengelolaan lingkungan yang perlu diketahui oleh siswa

sekolah di tingkat dasar hingga tinggi.

23

Selain berupa integrasi dalam pelajaran tertentu maupun pembuatan

mulok khusus, nilai-nilai Pembangunan Berkelanjutan juga dapat

diimplementasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Ekstrakurikuler

adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam

belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan

dilakukan di

bawah bimbingan sekolah

dengan tujuan untuk

mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik

yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.

24

Adapun fungsi-fungsi kegiatan ekstrakurikuler menurut Aqip dan Sujak

antara lain sebagai berikut.

Fungsi pertama merupakan fungsi Pengembangan, yaitu untuk

mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat,

pembentukan

karakter,

pengembangan

potensi,

dan

pelatihan

kepemimpinan. Fungsi kedua merupakan fungsi Sosial, yaitu untuk

mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab serta memberikan

kesempatan peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktik

keterampilan sosial dan internalisasi nilai moral. Fungsi ketiga, Rekreatif,

yaitu untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan, dan

menyenangkan

bagi

peserta

didik

yang

menunjang

proses

perkembangannya. Fungsi terakhir atau fungsi keempat Persiapan karier,

yaitu fungsi kegiatan esktrakulikuler untuk mengembangkan kesiapan

karier peserta didik.

25

23

Yanti Shantini. loc.cit 24

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81A tahun 2013

25

Si Manis, Pengertian Ekstrakurikuler, Fungsi, Tujuan dan Jenis Ekstrakurikuler

Menurut Para Ahli, 2020, diakses dari https://www.pelajaran.co.id/2019/21/pengertian-ekstrakurikuler-fungsi-tujuan-dan-jenis-ekstrakurikuler-menurut-para-ahli.html pada 18 November 2020 pukul 17.12 WIB

(35)

21

Dalam praktiknya, kegiatan ekstrakurikuler bentuknya

bermacam-macam. Secara umum, terdapat beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler.

Jenis ekstrakurikuler krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar

Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan

Pengibar Bendera (Paskibraka). Terdapat pula ekstrakurikuler jenis karya

ilmiah yang meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan

keilmuan dan kemampuan akademik dan penelitian. Jenis Latihan / lomba

keberbakatan / prestasi yang meliputi pengembangan bakat olahraga, seni

dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, dan kegamaan dan lainnya, atau

jenis lainnya.

26

Berdasarkan paparan diatas, disimpulkan bahwa implementasi nilai

Education for Sustainable Development di sekolah dapat dilakukan melalui

kegitan pembelajaran, ekstrakurikuler, pembiasaan, pelaksanaan visi-misi

sekolah maupun melalui peraturan-peraturan sekolah. Edukasi dari nilai

Sustainable Development ini dapat berupa integrasi dengan kegiatan yang

sudah ada, atau dengan menciptakan kegiatan baru yang lebih terfokus

pada perspektif tertentu dari Sustainable Development. Dengan mengetahui

karakteristik dari setiap kegiatan, dapat dilihat potensinya untuk dapat

dikembangkan menjadi media peserta didik belajar nilai keberlenjutan.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Terdapat

beberapa

penelitian

yang

relevan

terkait

Pendidikan

Pembangunan Berkelanjutan yang sudah pernah diteliti sebelumnya,

diantaranya:

1. Hasil penelitian yang dilakukan Sri Ngabekti yang berjudul Konsep

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Kasus Pondok Pesantren

Modern Selamat Kendal) menunjukkan bahwa persepsi dan sikap santri

terhadap konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB)

yang termaktub dalam tiga dimensi serta isu strategisnya di Indonesia

26

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81A tahun 2013

(36)

22

cukup baik, dan sebagian besar telah dipraktekkan oleh komunitas PPMS

Kendal dalam kehidupan sehari-hari. Selain tiga dimensi PPB tersebut,

ditemukan pula dua dimensi khas pendidikan di pondok pesantren yakni

dimensi edukasional dan dimensi spiritual. Dimensi edukasional

merupakan sarana dalam membentuk jiwa yang memenuhi prinsip-prinsip

PPB. Dimensi spiritual pada PPMS Kendal selaras dengan esensi

pendidikan Indonesia dan juga esensi pendidikan di pondok pesantren,

serta melengkapi konsep PPB yang telah ada sebelumnya.

27

2. Hasil penelitian

yang dilakukan Zainal

Arifin

yang berjudul

Pengembangan Sekolah Islam Berwawasan Education for Sustainable

Development (ESD) Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler (Studi di SD

IT-SMP IT Al-Ikhlas Mantren Karangrejo Magetan) menunjukkan bahwa

pengembangan sekolah Islam berwawasan Education for Sustainable

Development (ESD) di SD IT-SMP IT Al-Ikhlas dilakukan melalui

kegiatan ekstrakurikuler berwawasan sosial budaya (bakti sosial,

penyembelihan hewan kurban di desa terpencil, kunjungan pasien ke

rumah sakit, kultum keagamaan di masjid sekitar sekolah, kunjungan

profesi ke lembaga-lembaga profesi dan outbound), ekstrakurikuler

berwawasan ekonomi (business day, cooking project, dan pembuatan

berbagai macam masakan/makanan) serta melalui ekstrakurikuler

berwawasan lingkungan (penghijauan, tebar benih ke sungai, melepas

burung dan bakti sosial membersihkan sampah di tempat umum).

28

3. Hasil penelitian yang dilakukan Ilyas Nasaruddin Siregar yang berjudul

Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam Perspektif

27

Sri Ngabekti, “Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan”, Kesimpulan dan Summary disertasi pada sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2012, hlm. 21-22

28

Zainal Arifin, “Pengembangan Sekolah Islam Berwawasan Education for Sustainable

Development (ESD) melalui Kegiatan Ekstrakurikuler (Studi di SD IT-SMP IT Al-Ikhlas Mantren

Karangrejo Magetan),” dalam Laporan Penelitian Kompetitif Individual Tahun 2012, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012, hlm. 66-67

(37)

23

Pendidikan Islam menunjukkan bahwa Pendidikan untuk Pembangunan

Berkelanjutan jika disesuaikan dengan konsepsi Pendidikan Islam

diartikan sebagai proses penanaman kesadaran diri tentang tanggung

jawab dan keadilan seorang muslim dalam mengelola segala tindakannya

selaku wakil Allah di muka bumi yang rahmatan lil alamin. Adapun

mewujudkan PPB dalam perspektif Pendidikan Islam Indonesia adalah:

memaksimalkan zakat sebagai basis ekonomi Islam dalam menunjang

pendidikan, memperhatikan lembaga pendidikan Islam, serta mengubah

pola pikir masyarakat terhadap pendidikan.

29

4. Kartikeya V. Sarabhai dalam jurnal “ESD for Sustainable Development

Goals (SDG)”, menjelaskan bahwa pendidikan memiliki peran dalam arti

luas dalam keberhasilan pencapaian SDG. Termasuk didalamnya

pendidikan berperan dalam memberikan pelatihan dan pengembangan

kapasitas, komunikasi dan menciptakan kesadaran publik untuk mencapai

SDG. Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk mencapai 16 goals lain

dalam SDG. Banyak pekerjaan telah dilakukan di lapangan, tetapi

sayangnya praktisi tidak semuanya mendokumentasikan pengalaman

mereka secara memadai. Bukti lebih lanjut diperlukan jika pendidikan

memang dianggap serius sebagai bagian dari strategi untuk mencapai

tujuan pembangunan berkelanjutan yang lain.

30

5. Robert Laurie, et.al., dalam jurnal yang berjudul “Contributions of

Education for Sustainable Development (ESD) to Quality Education : A

Synthesis of Research”, menjelaskan bahwa penelitian ini adalah sintesis

penelitian yang dilakukan di 18 negara untuk mengidentifikasi kontribusi

pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD) untuk pendidikan

29

Iliyas Nasaruddin Siregar, “Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam Perspektif Pendidikan Islam,” Skripsi pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2015, hlm. 88-89

30

Kartikeya V. Sarabhai, ESD for Sustainable Development Goals (SDG), Journal of

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
Tabel 4.1 Data Keseluruhan Penerapan Aspek dan Indikator ESD di SMAN  78 Jakarta  Perspektif  ESD  Komponen : 1
Tabel 4.2 Total Komponen dan Indikator yang Terimplementasi pada Setiap  Perspektif
Tabel Rincian Nilai ESD yang Terimplementasi Berdasarkan Hasil  Observasi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa lima bahan ajar fisika pada materi sumber-sumber energi sudah memuat persepktif Education for

SIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwasanya penggunaan bahan ajar di kelas IV sekolah dasar masih belum memenuhi kebutuhan peserta

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dibuktikan elektronik modul berbasis Education for Sustainable Development untuk Sekolah Dasar menunjukan kelayakan e-modul dari hasil validasi