ANALISIS IMPLEMENTASI NILAI EDUCATION for
SUSTAINABLE DEVELOPMENT PADA SEBUAH SEKOLAH
ADIWIYATA DI JAKARTA BARAT
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Disusun oleh:
Hany Salsabila (11150161000065)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi yang berjudul “Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable
Development (ESD) Pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat disusun
oleh Hany Salsabila, NIM 11150161000065, Program Studi Pendidikan Biologi,
Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah melalui bimbingan dan
dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada siding
munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan
Jakarta, 1 Desember 2020
Yang mengesahkan,
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Dr. Yanti Herlanti, M.Pd
Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A
NIP. 1971011192008012010
NIP.197509242006042001
ii
iii
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
N a m a
: Hany Salsabila
Tempat/Tgl.Lahir : Jakarta, 6 Desember 1996
NIM
: 11150161000065
Jurusan / Prodi
: Pendidikan Biologi
Judul Skripsi : Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable
Development pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di
Jakarta Barat
Dosen Pembimbing : 1. Dr. Yanti Herlanti, M.Pd
2. Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A
dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya
sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.
Jakarta, 6 Desember 2020
Mahasiswa Ybs.
Hany Salsabila
NIM. 11150161000065
KEMENTERIAN AGAMA FORM (FR)No. Dokumen : FITK-FR-AKD-089
UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010
FITK No. Revisi: : 01
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1
iv
ABSTRAK
Hany Salsabila, 11150161000065. Analisis Implementasi Nilai Education for
Sustainable Development pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat.
Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan komponen dan
indikator dari nilai Education for Sustainable Development (ESD) di sekolah
Adiwiyata Mandiri SMAN 78 Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif. Hasil analisis merupakan hasil olah data dan triangulasi yang
didapatkan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dari kegiatan
sekolah yang melibatkan peserta didik kelas X MIPA (KBM biologi,
ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lain), fasilitas sekolah serta
peraturan-peraturan sekolah. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive
sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada perspektif sosial-budaya,
terdapat 124 dari 142 indikator yang terimplementasi, 4 dari 142 indikator kurang
terimplementasi dan 14 dari 142 indikator tidak terimplementasi; pada perspektif
lingkungan, terdapat 16 dari 20 indikator yang terimplementasi, 1 dari 20
indikator kurang terimplementasi dan 3 dari 20 indikator tidak terimplementasi;
pada perspektif ekonomi, terdapat 4 dari 5 indikator yang terimplementasi dan 1
dari 5 indikator tidak terimplementasi. Pada lingkup komponen, terdapat 7 dari 7
komponen pada perspektif sosial-budaya yang terimplementasi dan 0 dari 7
komponen tidak terimplementasi; pada perspektif lingkungan, terdapat 3 dari 3
komponen yang terimplementasi dan 0 dari 3 komponen tidak terimplementasi;
pada perspektif ekonomi, terdapat 2 dari 2 komponen yang terimplementasi dan 0
dari 2 komponen tidak terimplementasi. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa
terdapat implementasi nilai ESD baik pada perspektif sosial-budaya, lingkungan
maupun ekonomi yang ditemukan di lingkungan SMAN 78 Jakarta. Penelitian
mengenai pemetaan nilai-nilai ESD pada sekolah Adiwiyata dapat memberikan
informasi mengenai ragam bentuk penerapan nilai ESD di sekolah serta
memberikan dorongan agar nilai ESD dapat diterapkan secara komprehensif di
sekolah.
Kata Kunci : Implementasi, Education for Sustainable Development, Sekolah
Adiwiyata
v
ABSTRACT
Hany Salsabila, 11150161000065. Analysis of Implementation of the Education
for Sustainable Development values at an Adiwiyata School in West Jakarta.
Undergraduate Thesis, Biology Education Study Program, Faculty of Tarbiya and
Teaching Science, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2020.
This study aims to see how the implementation of components and indicators of
the Education for Sustainable Development (ESD) values in Adiwiyata Mandiri
school at SMAN 78 Jakarta. This research uses descriptive qualitative method.
The results of the analysis are the results of data processing and triangulation
obtained through observation, interviews and study documentation of school
activities which involving X
thgrader of Mathematics and Natural Science major
(biology teaching and learning activities, extracurricular activities and other
activities), school facilities and school regulations. The sample selection was done
by using purposive sampling technique. The results of the analysis shown that in
the socio-cultural perspective, there are 124 from 142 indicators that are
implemented, 4 from 142 indicators are not implemented enough and 14 from 142
indicators are not implemented at all; in the environmental perspevtive, there are
16 from 20 indicators that are implemented, 1 from 20 indicators is not
implemented enough and 3 from 20 indicators are not implemented at all; In the
economic perspective, there are 4 from 5 indicators that are implemented and 1
from 5 indicator is not implemented at all. In the component scope, there are 7
from 7 components in the socio-cultural perspective that are implemented and 0
from 7 components are not implemented at all; in the environmental perspective,
there are 3 from 3 components implemented and 0 from 3 components not
implemented at all; In the economic perspective, there are 2 from 2 of the
components that are implemented and 0 from 2 of the components is not
implemented at all. In general, it can be concluded that there is an
implementation of ESD values in the socio-cultural, environmental and economic
perspective found in the SMAN 78 Jakarta. Research on mapping of ESD values
in Adiwiyata School provide information about how to implement ESD in school
and also give encouragement so that ESD values can be applied comprehensively
in school.
Keywords: Implementation, Education for Sustainable Development, Adiwiyata
vi
KATA PENGANTAR
Tiada kata lain selain ucapan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu
wa Ta‟ala karena berkat rahmat dan karunia-Nya, peneliti dapat sampai hingga
titik ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah
Shallallahu „Alayhi wa Salam beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya
hingga akhir jaman.
Alhamdulillahirrabbil „alamiin, atas izin dan limpahan kebaikan dari Allah
Subhanahu wa Ta‟ala yang tiada hentinya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “Analisis Implementasi Nilai Education for Sustainable
Development (ESD) pada Sebuah Sekolah Adiwiyata di Jakarta Barat”.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan
Strata 1 (S1) pada Program Studi Pendidikan Biologi di Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama
penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, peneliti telah mendapatkan banyak
dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Ucapan terimakasih
sebesar-besarnya peneliti sampaikan kepada:
1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Sururin, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Yanti Herlanti, M.Pd selaku Ketua Program Studi Tadris Biologi dan
Dosen Pembimbing Skripi I yang telah mencurahkan perhatian dan
memberikan banyak masukan dalam proses penyusunan skripsi dari tahap
seminar proposal hingga skripsi selesai
4. Eny S. Rosyidatun, S.Si., M.A selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang
telah memberikan banyak masukan, bimbingan dan perhatian dari tahap revisi
proposal hingga skripsi selesai
5. Wakasek Kurikulum, Wakasek Sarana & Prasarana, Wakasek Kesiswaan,
Guru Biologi kelas X MIPA serta Peserta didik SMAN 78 Jakarta yang sudah
vii
menerima saya dengan sangat baik dan bersedia untuk membantu saya dalam
mengumpulkan data lapangan
6. Kedua orang tua yang tersayang, Sami Koto Viliang dan Nurmanis S.Pd yang
selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil yang tiada
putus-putusnya
7. Kakak dan adik tercinta yang senantiasa menjadi teman, menghibur dan
memotivasi peneliti selama proses penyusunan skripsi
8. Keluarga besar Pendidikan Biologi angkatan 2015
9. Selly Safariyah, Vina Ruliyanti, Nur Alfiyah, Khairunnisa dan Shaffitri
Dianawati yang telah dengan sabar menemani peneliti dalam proses
pengambilan data lapangan
10. Anggota grup ESD, Nurul Safrina dan Niken Triana Putri yang senantiasa
menguatkan, memberikan masukan, koreksi serta memotivasi satu sama lain
selama proses penyusunan skripsi
11. Teman-teman 3 Garis, Dea Amelia Widyananda, Shaffitri Dianawati dan Vivi
Friliandita yang telah membersamai dan menjadi teman semenjak SMA,
senantiasa memberikan penghiburan serta dukungan moril satu sama lain
12. Anggota grup Biology Squad, Selly Safariyah Fatimah, Andini Maulida,
Nurul Safrina, Listianingsih, Vina Ruliyanti, Fajarotul Hidayah dan Keziah
Diah Tantri yang telah membersamai dan menjadi teman selama masa kuliah
serta senantiasa saling menguatkan satu sama lain
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan, rahmat dan
karunia-Nya kepada seluruh pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan
skripsi ini. Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat berguna bagi banyak
pihak, terkhusus di bidang pendidikan.
Tangerang, Desember 2020
Penulis,
Hany Salsabila
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI ... ii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Pembatasan Masalah ... 8
D. Perumusan Masalah ... 8
E. Tujuan Penelitian ... 8
F. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS ... 10
A. Deskripsi Teoretis ... 10
ix
2. Perspektif Education for Sustainable Development (ESD) ... 13
3. Sekolah Alternatif Berbasis Education for Sustainable Development
(ESD) ... 15
4. Sekolah Adiwiyata ... 16
5. Implementasi ESD dalam Pendidikan Formal ... 18
B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 21
C. Kerangka Berpikir ... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 28
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28
B. Metode Penelitian ... 28
C. Situasi Sosial dan Sampel ... 28
D. Instrumen Penelitian ... 30
1. Lembar Wawancara ... 30
2. Lembar Observasi ... 30
3. Dokumentasi ... 30
E. Teknik Pengambilan Data ... 31
1. Wawancara... 31
2. Observasi ... 31
3. Studi Dokumentasi ... 31
F. Prosedur Penelitian ... 32
1. Tahap Persiapan ... 32
2. Tahap Pelaksanaan ... 32
3. Tahap Akhir ... 33
x
G. Teknik Analisis Data ... 33
1. Data Reduction (Reduksi Data)... 33
2. Data Display (Penyajian Data) ... 34
3. Conclusion Drawing / Verification ... 34
H. Triangulasi Data ... 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37
A. Hasil Penelitian ... 37
1. Data Keseluruhan ... 37
2. Hasil Analisis Implementasi ESD di Setiap Perspektif ... 48
B. Pembahasan ... 49
BAB V PENUTUP ... 66
A. Kesimpulan... 66
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 74
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Data Keseluruhan Penerapan Aspek dan Indikator ESD di
SMAN 78 Jakarta ... 38
Tabel 4.2 Total Komponen dan Indikator yang Terimplementasi pada
Setiap Aspek ... 48
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Tabel Rincian Nilai ESD yang Terimplementasi
Berdasarkan Hasil Observasi ... 75
Lampiran 2
Tabel Rincian Nilai ESD yang Terimplementasi
Berdasarkan Hasil Wawancara ... 125
Lampiran 3
Tabel Hasil Studi Dokumentasi ... 211
Lampiran 4
Pemetaan Indikator SDGs dengan Indikator Instrumen
Penelitian untuk Mencapai Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan ... 218
Lampiran 5
Tabel Indikator Integrasi ... 252
Lampiran 6
Hasil Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah
Bidang Kesiswaan ... 256
Lampiran 7
Hasil Wawancara dengan Guru Biologi Kelas X MIPA
... 260
Lampiran 8
Hasil Wawancara dengan Peserta didik Kelas X MIPA
... 263
Lampiran 9
Hasil Wawancara dengan Ketua dan Anggota
Ekstrakurikuler ... 267
Lampiran 10
Dokumen Prestasi SMAN 78 Jakarta ... 270
Lampiran 11. Kegiatan Saat MPLS ... 271
Lampiran 12. Tata Tertib ... 272
Lampiran 13. Dokumen Pembelajaran Biologi ... 274
Lampiran 14. Kegiatan Pembelajaran Biologi ... 277
Lampiran 15. Kegiatan Ekstrakurikuler ... 278
xiii
Lampiran 17. Kegiatan saat Ulang Tahun Sekolah ... 281
Lampiran 18. Education Fair ... 283
Lampiran 19. Kegiatan Keagamaan ... 285
Lampiran 20. Fasilitas Sekolah dan Bentuk Fisik Konservasi Air .. 286
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lingkungan beserta semua sumberdaya yang dikandungnya telah menjadi
sandaran dan pijakan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Soedjono, lingkungan diartikan sebagai segala unsur dan faktor fisik
jasmaniah yang berada di alam, meliputi hewan, tumbuhan dan manusia.
1Hal-hal yang ada dalam lingkungan dan dapat dimanfaatkan untuk mencukupi
kebutuhan hidup manusia disebut sebagai sumber daya alam.
2Manusia hidup
dari proses memanfaatkan semua yang alam suguhkan untuk dikelola.
Pengelolaan terhadap sumber kehidupan berupa lingkungan dan sumber daya
alam yang dilakukan secara bijak, akan menjaga keseimbangan, keberlanjutan
dan ketersediaan sumber-sumber kehidupan tersebut. Sebaliknya, pengelolaan
yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya, akan menimbulkan krisis
pangan, krisis energi, krisis air dan lingkungan.
3Seiring dengan berkembangnya jaman, seluruh aspek-aspek dalam
kehidupan pun ikut berkembang. Aspek yang terus berkembang dalam
kehidupan manusia merupakan yang paling menjadi sorotan, sebab manusia
menempati posisi paling dominan dan berpengaruh bagi aspek-aspek lainnya.
Seiring dengan semakin majunya jaman, manusia makin mengandalkan
teknologi untuk melaksanakan pembangunan maupun memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Saat ini, kegiatan pembangunan yang masif dilakukan terkadang tidak
mengindahkan efek dari aktivitas yang dilakukannya terhadap lingkungan.
1
Aris Kurniawan , Pengertian Lingkungan Menurut Para Ahli, 2020, diakses dari
https://www.gurupendidikan.co,id/pengertian-lingkungan/ tanggal 1 Juli 2020 pukul 18.48 WIB 2
Rimbakita.com, Sumber Daya Alam-Pengertian, Jenis, Manfaat & Contoh, 2020, diakses dari https://rimbakita.com/sumber-daya-alam/ tanggal 1 Juli 2020 pukul 19.13 WIB
3
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Pembangunan
Berkelanjutan, Lingkungan dan Otonomi Daerah, 2020, diakses dari http://lib.geo.ugm.ac.id/ wordpress/?p=125 tanggal 29 Juni 2020 pukul 13.06 WIB
2
Kemajuan teknologi yang ada saat ini bukan lagi dimanfaatkan untuk sekedar
memenuhi kebutuhan, melainkan digunakan untuk mengeksploitasi sumber
daya alam melebihi batasan-batasannya. Modernisasi gaya hidup juga telah
membawa manusia ke pola hidup yang konsumtif. Di sisi lain, terjadi
peningkatan jumlah populasi manusia, yang tentunya akan memerlukan
sokongan sumberdaya dan energi dalam jumlah besar.
4Hal-hal ini telah
membawa dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan dan kemerosotan
sumberdaya alam yang ada.
Perubahan teknologi, pola konsumsi manusia dan pembangunan yang tidak
ramah lingkungan telah memunculkan berbagai persoalan lingkungan.
Diantaranya yang memiliki pengaruh terbesar bagi kehidupan ialah fenomena
perubahan iklim. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri mendefinisikan
perubahan iklim sebagai gejala yang disebabkan baik secara langsung ataupun
tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga mengubah komposisi dari
atmosfer global dan variabilitas iklim alami.
5Dampak dari perubahan iklim yang sering terjadi di Indonesia adalah
kebakaran hutan. Seperti yang diketahui, fungsi hutan yang paling dasar ialah
untuk menyimpan air. Dalam kondisi banyaknya hutan yang terbakar, akan
semakin sedikit cadangan air yang tersimpan, akibatnya ialah terjadinya
kekeringan saat musim kemarau. Hal ini akan berimbas pada sektor pertanian
yang akan mengalami kelumpuhan. Apabila sektor pertanian mengalami
kelumpuhan, maka hasil panen pun akan menurun
6dan kebutuhan pangan
dalam negeri pun tidak dapat tercukupi.
Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan peningkatan suhu
permukaan laut yang menyebabkan proses pemutihan terumbu karang semakin
sering terjadi. Rusaknya terumbu karang akan membawa pengaruh besar bagi
4
Alamsyah Taher, Pemikiran dan Praktek Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Sosiologi
USK, Vol.11, No.2, 2017, hlm.111
5
Knowledge Centre Perubahan Iklim, Mengenai Perubahan Iklim, 2020, diakses dari
http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/perubahan-iklim tanggal 1 Juli 2020 pukul 18.36 WIB
6
Chryssanti Widya, dkk., Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2019, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2019), hlm. 25
3
seluruh ekosistem laut. Berdasarkan data dari LIPI yang dikutip oleh Badan
Pusat Statistik, sepanjang tahun 2016, keberadaan tutupan terumbu karang di
Indonesia mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dari sekitar 2.5 juta hektar luas terumbu karang yang ada di Indonesia, hanya
6.39 persen yang berada dalam kondisi sangat baik, 23.40 persen dalam kondisi
baik, 35.06 persen dalam kondisi cukup dan 35.15 persen dalam kondisi jelek
(LIPI, 2017).
7Ekosistem hutan dan terumbu karang, keduanya memiliki peran dan posisi
yang sangat krusial bagi kehidupan di bumi. Kedua ekosistem ini merupakan
naungan bagi banyak makhluk hidup di dalamnya. Kedua ekosistem ini
merupakan tempat biodiversitas tertinggi yang ada di muka bumi. Kehilangan
kedua ekosistem ini dalam jumlah yang besar berarti juga kehilangan
keanekaragaman dan banyak sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya.
Kedua contoh tersebut merupakan sedikit dari efek domino yang
ditimbulkan dari aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Manusia dan
lingkungan pada hakikatnya saling terkait erat. Ada kalanya manusia sangat
ditentukan oleh lingkungan sekitarnya, begitupun sebaliknya.
8Hal ini sudah
sepatutnya menyadarkan manusia bahwa perlu adanya wawasan etika
lingkungan dalam menjalankan berbagai aktivitas. Serta menanamkan nilai dan
etika lingkungan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk proses
pembelajaran sosial serta pendidikan formal pada semua tingkatan.
9Indonesia sendiri sebenarnya telah memulai usaha implementasi nilai
pendidikan lingkungan hidup dalam dunia pendidikan sejak tahun 1975.
Namun, baru pada tahun 1986 nilai pendidikan lingkungan hidup ini
diintegrasikan kedalam kurikulum di beberapa sekolah, mulai dari tingkat SD
sampai dengan SMK di seluruh Indonesia. Setelah dimonitor dan dievaluasi
pada tahun 2002, kegiatan ini dinilai kurang berhasil. Kekurangberhasilan ini
disebabkan belum adanya konsep dasar PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup)
yang baku, khususnya untuk pengintegrasian ke dalam kurikulum, strategi
7
Ibid., hlm. 22 8
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. loc.cit 9
4
baku pelaksanaan yang kurang efektif, serta belum berhasilnya upaya
koordinasi antara mata pelajaran di sekolah sendiri yang masih berjalan
menurut orientasi masing-masing pengajar.
10Pada tahun 1996, dibuat kesepakatan kerjasama pertama antara
Departemen Pendidikan Nasional dan Kementrian Negara Lingkungan Hidup
No. 0142/U/1996 dan No. 89/MENLH/5/1996 tentang Pembinaan dan
Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup.
11Kesepakatan tersebut
kemudian ditingkatkan menjadi Memorandum of Understanding (MoU) pada
tahun 2005 dan diperbaharui pada tahun 2010. Dalam kesepakatan ini, program
yang sedang dikembangkan bersama adalah program Adiwiyata.
12Program
Adiwiyata merupakan program yang komprehensif (menyeluruh), melibatkan
semua pemangku kepentingan baik di sekolah maupun di masyarakat untuk
membantu meningkatkan kepedulian lingkungan, khususnya bagi peserta
didik.
13Sekolah Adiwiyata dinilai merupakan tempat yang baik dan ideal untuk
memperoleh ilmu pengetahuan, norma serta etika yang menjadi dasar manusia
untuk mewujudkan terciptanya kesejahteraan hidup dan menggapai cita-cita
pembangunan berkelanjutan.
14Sekolah yang memutuskan untuk menjadi
sekolah Adiwiyata terus meningkat jumlahnya hingga hari ini. Hal ini
menandakan semakin banyak sekolah yang merasa pentingnya integrasi nilai
10
Mohammad Soerjani, Lingkungan Hidup (The Living Environment) Pendidikan,
Pengelolaan Lingkungan dan Kelangsungan Pembangunan, (Jakarta: IPPL, 2007), hlm. 239
11
Pemerintah Kabupaten Bantul Dinas Lingkungan Hidup, Pendidikan Lingkungan
Hidup, 2020, diakses dari https://dlh.bantulkab.go.id/berita/198-pendidikan-lingkungan-hidup
pada 29 Juni 2020 pukul 14.53 WIB 12
Noor Endah Mochtar, dkk., Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education
for Sustainable Development) di Indonesia :Implementasi dan Kisah Sukses, (Jakarta: Komisi
Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014), hlm. 31
13
Rizky Dewi Iswari dan Suyud W Utowo, Evaluasi Penerapan Program Adiwiyata untuk Membentuk Perilaku Peduli Lingkungan di Kalangan Siswa, Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol.02, No.01, 2017, hlm.36
14
Nanik Hidayati, Tukiman Taruna dan Hartuti Purnaweni, “Perilaku Warga Sekolah dalam Program Adiwiyata di SMK Negeri 2 Semarang”, disampaikan pada Prosiding Seminar Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang, 2013, hlm. 150
5
lingkungan dalam ranah pendidikan, dalam rangka mempersiapkan peserta
didik mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pada tahun 1987, konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan untuk
pertama kalinya oleh World Commission on Environment and Development
(Brundtland Commission) melalui bukunya “Our Common Future”.
15Sejarah
perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
ini telah berlangsung lama. Bermula dari dokumen “Our Common Future”
(hari depan bersama) yang kemudian dipublikasikan oleh The World
Commision on Environmental and Development (WCED) pada tahun 1987.
Sedangkan awal mula tercetusnya konsep ESD (Education for Sustainable
Development) ialah dari “The World Summit on Sustainable Development”
yang dilakukan di Johannesburg pada tahun 1992.
16Menurut Brundtland Report dalam World Commission on Environment
and Development (1987), pembangunan berkelanjutan adalah proses
pembangunan yang berprinsip pada “pemenuhan kebutuhan generasi sekarang
tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (…to meet
the need of the present without sacrificing the ability of the future to meet
theirs)”. Dengan kata lain, pembangunan adalah sesuatu yang bersifat esensial
untuk pemenuhan kebutuhan serta meningkatkan kualitas hidup manusia.
Pembangunan juga mesti dilandasi dengan efisiensi dan penggunaan
lingkungan yang bertangungjawab dari seluruh masyarakat, dengan tetap
memperhatikan sisi ekonomi dan sosial tanpa melampaui fungsi ekologis
(lingkungan hidup).
17Perlu adanya perbaikan pada aspek-aspek yang turut terlibat dan
mempengaruhi implementasi nilai pembangunan berkelanjutan, yaitu manusia
(sosial) dan pembangunan (ekonomi). Manusia dan kegiatannya memiliki
peluang paling besar untuk mengakibatkan kerusakan lingkungan. Tujuan akhir
15
Dika Agustia Indrati, “ESD (Education for Sustainable Development Melalui Pembelajaran Biologi)”, disampaikan pada Prosiding Symbion (Symposium on Biology
Education), Prodi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Ahmad Dahlan, 2016, hlm. 374
16
Ibid., hlm. 372 17 Ibid., hlm. 374
6
dari
Sustainable
Development
adalah
tercapainya
kehidupan
yang
berkelanjutan di bumi, baik dari lingkungan, harapan hidup manusia maupun
kemajuan pembangunan.
Konsep keberlanjutan dalam Sustainable Development mendukung adanya
pemberdayaan manusia, ekonomi dan lingkungan, yaitu tentang bagaimana
agar semua pilar penting pembangunan dapat terus terpenuhi kebutuhannya
tanpa mengabaikan dampak yang diberikan ketiga pilar tersebut terhadap
lingkungan. Implikasi dari konsep keberlanjutan ini, pada akhirnya akan
mendukung adanya pembangunan yang dilaksanakan dalam daya dukung
lingkungan, juga peningkatan kualitas manusia. Sustainable Development
menyuguhkan solusi yang lebih menyeluruh dalam menghadapi permasalahan
kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam dan keberlanjutan hidup di
bumi.
Pendidikan dinilai sebagai salah satu bidang strategis dalam pembentukan
nilai Sustainable Development dikarenakan pendidikan dapat memfasilitasi
ilmu pengetahuan yang mendasari nilai pembangunan berkelanjutan itu sendiri.
Kemudian, memunculkan sifat dan sikap sadar serta empati melalui berbagai
kegiatan dan membentuknya menjadi suatu karakter. Sebagai sekolah yang
tercetus atas dasar konsep Sustainable Development, Sekolah Adiwiyata
menjadi tempat yang kondusif untuk belajar nilai pembangunan berkelanjutan
dalam perspektif lingkungan, sosial dan ekonomi.
Dalam hal ini, Sekolah Adiwiyata diharapkan mampu memfasilitasi
peserta didik dengan edukasi yang komprehensif mengenai nilai pembangunan
berkelanjutan, baik melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun
kegiatan lain di sekolah. Selain itu, komprehensif juga berarti pendidikan
pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan di Sekolah Adiwiyata dapat
fokus pada semua perspektif baik lingkungan, ekonomi dan sosial. Untuk itu,
perlu dilakukan pemetaan untuk mengetahui seberapa jauh nilai-nilai
pembangunan berkelanjutan telah diterapkan di Sekolah Adiwiyata.
7
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,
terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, antara lain:
1. Eksploitasi sumber daya yang seringkali dilakukan manusia dalam
kegiatan pembangunan telah mengakibatkan munculnya permasalahan
baik pada perspektif lingkungan, sosial maupun ekonomi.
2. Education for Sustainable Development (ESD) merupakan jawaban bagi
tantangan pembangunan di masa depan. Namun diperlukan integrasi
yang komprehensif dari ESD agar peserta didik dapat benar-benar belajar
nilai keberlanjutan di sekolah
3. Sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri, SMAN 78 Jakarta merupakan
media yang kondusif untuk penanaman nilai Sustainable Development.
Namun belum ada penelitian mengenai sejauh apa nilai pembangunan
berkelanjutan ini telah diterapkan
4. Perlu dilakukan pemetaan nilai ESD di Sekolah Adiwiyata SMAN 78
Jakarta, agar perannya sebagai wadah yang dapat memfasilitasi
pembelajaran nilai keberlanjutan dapat dimaksimalkan
8
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan rancangan penelitian yang telah dibuat, pembatasan masalah
penelitian ini pada:
1. Peneliti melakukan analisis implementasi nilai Education for Sustainable
Development (ESD) pada salah satu SMA Adiwiyata di Jakarta Barat
yaitu SMAN 78 Jakarta dalam lingkup ranah pembelajaran di kelas
(khususnya pembelajaran Biologi), kegiatan ektsrakurikuler dan
kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan peserta didik kelas X MIPA.
2. Fokus utama dalam penelitian ini adalah pengumpulan data dalam bentuk
kegiatan yang diimplementasikan yang relevan dengan nilai ESD,
kemudian dalam bentuk lainnya yang menunjang data
3. Terdapat 3 perspektif umum yang menjadi pilar utama Sustainable
Development yang akan dianalisis penerapannya, yaitu perspektif
lingkungan, sosial dan ekonomi
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah tersebut diatas, maka
masalah yang dapat dirumuskan dalam skripsi ini adalah:
1. Bagaimana penerapan komponen dan indikator dari nilai ESD yang ada
di SMAN 78 Jakarta?
2. Apakah
perspektif
ESD
(ekonomi,
sosial
dan
lingkungan)
terimplementasi secara menyeluruh di SMAN 78 Jakarta?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini diantaranya ialah:
1. Mengetahui nilai-nilai Education for Sustainable Development (ESD)
yang telah diterapkan di SMAN 78 Jakarta pada perspektif sosial budaya,
lingkungan dan ekonomi
2. Mengetahui nilai-nilai Education for Sustainable Development (ESD)
yang kurang diimplementasikan serta tidak diimplementasikan sama
9
sekali di SMAN 78 Jakarta pada perspektif sosial budaya, lingkungan
dan ekonomi
3. Menyelidiki kendala yang dihadapi dalam menerapkan ESD di
lingkungan SMAN 78 Jakarta
F. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini, diharapkan tulisan ini dapat memberikan manfaat di
antaranya yaitu :
1. Bagi pihak sekolah, dapat menjadi wawasan baru mengenai konsep ESD
dan menambah wawasan mengenai nilai ESD yang sudah terdapat
implementasinya di sekolah
2. Bagi peneliti, dapat menjadi bahan pengembangan untuk penelitian
selanjutnya dengan tema yang sama
3. Bagi masyarakat, dapat memberi informasi baru dan bermanfaat mengenai
ESD dan pentingnya penerapannya dalam lingkungan sekolah
10
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis
1. Konsep Education for Sustainable Development (ESD)
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan merupakan gabungan
dari dua istilah yang berbeda, yaitu Pendidikan dan Pembangunan
Berkelanjutan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
1Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang
berpijak
pada
prinsip
“memenuhi kebutuhan sekarang tanpa
mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (menurut
Laporan Brundtland dari PBB, 1987).
2Pembangunan Berkelanjutan
merupakan suatu konsep sedangkan Pendidikan merupakan alat yang
digunakan untuk menanamkan konsep tersebut.
Apabila ditilik, terdapat banyak sekali pengertian atau definisi dari
ESD atau PPB itu sendiri, namun keseluruhannya memiliki makna yang
serupa. Budi Sri Hastuti (2009) memiliki pemahaman yang sedikit berbeda
dalam mengartikan makna development dalam ESD, seperti yang
termaktub dalam definisi berikut:
Istilah ESD berasal dari istilah Education Sustainable Development
atau di singkat ESD minus for atau Pendidikan Pengembangan
Berkelanjutan tanpa memakai kata untuk. Mengapa di Indonesia
ditambah dengan for atau untuk. Kata untuk berarti menghasilkan
1
Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hlm.1 2
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Pembangunan Berkelanjutan, 2018, diakses dari
http://law.ui.ac.id/v3/fasilitas/pembangunan-berkelanjutan/ pada 11 Oktober 2018 pukul 17.30 WIB
11
sesuatu, ada tujuan yang ingin dicapai. Untuk menghasilkan sesuatu
atau mencapai tujuan, harus ada tindakan (action). Sedangkan
development diterjemahkan pengembangan bukan pembangunan,
karena pembangunan sering dimaknai pembangunan fisik atau
infrastruktur.
3Berdasarkan definisi tersebut, Budi Sri Hastuti mengartikan bahwa
“development” dalam ESD memiliki makna pengembangan, bukan
pembangunan yang bersifat fisik. Pengembangan yang dimaksud
merupakan perubahan dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan yang
diharapkan
berlangsung
secara
simultan
dan
berkesinambungan.
Pengembangan ini bertujuan demi menghasilkan kondisi yang aman,
tentram dan nyaman baik bagi masa sekarang maupun masa mendatang.
4Kemudian dengan dibubuhkannya kata “for” atau “untuk” dalam ESD
menjadi tanda bahwa adanya tujuan yang ingin dicapai melalui action atau
tindakan nyata.
Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan berisi hal-hal yang
berkenaan dengan belajar keterampilan, perspektif dan nilai-nilai yang
membimbing serta memotivasi orang untuk mencari penghidupan yang
berkelanjutan, berpartisipasi dalam masyarakat demokratis, dan hidup
secara berkelanjutan. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan juga
melibatkan belajar mengenai isu-isu lokal dan juga isu-isu global, apabila
diperlukan. Pendidikan untuk sebuah pembangunan berkelanjutan sendiri
menurut UNESCO adalah:
…sebuah konsep yang jauh melampaui pendidikan lingkungan.
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan adalah proses
pendidikan untuk mencapai pembangunan manusia („tiga pilar
pembangunan manusia‟ yang diusulkan oleh UNDP: pertumbuhan
ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan)
3
Budi Sri Hastuti, Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education for
Sustainable Development) dalam Perspektif PNFI (Implementasi ESD pada Program PNFI), Jurnal Andragogia, Vol.1, No.1, 2009, hlm.46
4
12
secara
inklusif,
adil
dan
aman.
(
http://www.dpendidikanuntukpembangunanberkelanjutan.org
/).
5Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan
untuk Pembangunan Berkelanjutan mempelajari bukan hanya sebatas teori,
melainkan ilmu aplikatif dan bukan hanya sebatas pada pendidikan
lingkungan, namun juga pilar lain yang mendukung pembangunan manusia
(ekonomi dan sosial), dengan tujuan melatih agar manusia dapat hidup
secara berkelanjutan.
Pendidikan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumberdaya
non-fisik berperan penting dalam pembentukan sikap dan karakter manusia.
Dalam hal ini, pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas dan
kompetensi manusia agar dapat menggerakkan dan mengelola
sektor-sektor tertentu, khususnya pada bidang atau sektor-sektor yang ditekuninya.
6Dalam kaitan itu, maka dapat dikatakan bahwa salah satu hal yang
menentukan keberlanjutan kehidupan dalam suatu masyarakat ialah
pendidikan. Hal-hal yang telah dikemukakan diatas juga semakin
memperjelas bahwa pendidikan merupakan kegiatan investasi sumber daya
manusia. Apabila dilakukan secara tepat dan benar, akan mampu
menghasilkan sumber daya manusia yang handal serta memiliki rasa
tanggung jawab terhadap lingkungan.
7Konsep Pembangunan Berkelanjutan bukan merupakan suatu konsep
yang baru, namun sudah tersurat secara jelas dalam Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Kemdiknas (2010) juga mengemukakan bahwa konsep ESD sebagai
pendidikan yang bermakna, berfungsi, dan bertujuan untuk 1)
5
Syukri Hamzah, Pendidikan Lingkungan: Sekelumit Wawasan Pengantar, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hlm. 91
6
Ibid., hlm. 88 7
13
pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi sekarang
tanpa harus mengesampingkan kemampuan generasi masa depan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka, 2) meningkatkan mutu hidup manusia
dengan tetap hidup di dalam daya dukung ekosistem, dan 3)
menguntungkan bagi semua makhluk di bumi (manusia dan ekosistem)
pada masa kini maupun di masa yang akan datang.
8Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tercapainya
pelaksanaan pembangunan berkelanjutan ini sudah menjadi tujuan dari
pendidikan Indonesia. Pendidikan memiliki posisi yang sangat menentukan
mengenai mampu atau tidaknya suatu generasi untuk mendukung
keberlanjutan. Hal ini karena pendidikan merupakan alat yang sangat
potensial untuk membentuk sikap dan karakter manusia.
2. Perspektif Education for Sustainable Development (ESD)
Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang dicetuskan oleh UN
(United Nations) bertujuan untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan
yang seimbang dalam berbagai aspek. Karena dalam kehidupan, setiap
aspek saling terkait satu sama lain dan untuk mendukung keberlanjutan
tentunya semua bidang dalam kehidupan harus tersentuh konsep
pembangunan berkelanjutan. Kesemua aspek tersebut, dihimpun dalam 3
bidang / pilar / dapat dipandang melalui perspektif yang lebih umum.
Menurut Muhammad Ali, konsep Pembangunan Berkelanjutan dapat
dilihat dari 3 perspektif.
Perspektif pertama merupakan Perspektif Sosial-Budaya, yakni
pembangunan berkelanjutan dipandang sebagai suatu upaya dalam
memenuhi hak-hak manusia, mewujudkan ketahanan nasional, serta
perdamaian dunia, keberlangsungan hidup bangsa, persamaan gender,
8
Dika Agustia Indrati, “ESD (Education for Sustainable Development Melalui Pembelajaran Biologi)”, disampaikan pada Prosiding Symbion (Symposium on Biology
14
keragaman budaya, dan pemahaman antar budaya (interculture),
pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan penanganan penyakit berbahaya
seperti HIV/AIDS. Perspektif kedua merupakan Perspektif Lingkungan,
yakni pembangunan berkelanjutan sebagai upaya memanfaatkan kekayaan
dan sumber daya alam secara bijak dengan memperhatikan kepentingan
generasi yang akan datang, mengantisipasi terjadinya perubahan iklim,
perubahan pada lingkungan hidup, di pedesaan dan perkotaan akibat
urbanisasi, dan pencegahan bencana yang dipicu oleh kegiatan manusia
dalam mengeksploitasi lingkungan secara kurang bijak, seperti banjir yang
diakibatkan oleh penggundulan hutan. Perspektif ketiga merupakan
Perspektif Ekonomi, yakni pembangunan berkelanjutan sebagai upaya
pengurangan
kemiskinan,
peningkatan
kesejahteraan
membangun
kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa.
9Ketiga pilar dalam ESD ini sangat berkaitan satu sama lainnya. Dalam
menjalankan kegiatan ekonomi, tentunya membutuhkan daya dukung dari
alam (ekologi). Kemudian dalam mewujudkan kehidupan sosial yang baik,
sangat diperlukan daya dukung dari aspek ekologi dan ekonomi.
10Dalam
dunia pendidikan, ketiga pilar inilah yang memberi bentuk dan menjadi isi
pada pembelajaran yang berkelanjutan di sekolah.
Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep
Sustainable Development yang diusung sebagai solusi permasalahan
lingkungan dan keterbatasan sumber daya alam, dalam kenyataannya
bukan hanya memperhatikan permasalahan lingkungan saja. Konsep
Sustainable Development juga memperhatikan perspektif-perspektif lain
yang terkait erat dengan pembangunan berkelanjutan, yaitu perspektif
ekonomi dan sosial. Hal ini karena tujuan akhir dari Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Development) adalah tercapainya kehidupan
9
Muhammad Ali, Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, (Bandung: PT Imperial Bhakti Utama, 2009), hlm. 84
10
Klipaa.com, Education for Sustainable Development, 2020, diakses dari
https://klipaa.com/story/325-education-for-sustainable-development-ESD, pada 18 November 2020 pukul 17.00 WIB
15
yang berkelanjutan dan seimbang dalam berbagai aspek. Semua perspektif
beserta turunannya inilah yang penting untuk menjadi isi dari pembelajaran
di sekolah.
3. Sekolah
Alternatif
Berbasis
Education
for
Sustainable
Development (ESD)
Strategi umum dalam pendekatan ESD yang berorientasi whole school
approach, melibatkan proyek yang dikenal sebagai “Sekolah Hijau”. Di
Indonesia, pendekatan ESD yang berorientasi whole school approach
dipromosikan melalui Sekolah Hijau Adiwiyata. Dukungan para
administrator dan pemimpin sekolah adalah syarat utama untuk
mengadopsi pendekatan whole school approach.
11Salah satu indikator penting dalam pengarusutamaan ESD di sekolah
formal adalah adanya adopsi whole school approach. Menurut UNESCO
ESD Sourcebook, whole school approach biasanya mengandung
komponen-komponen sebagai berikut. Pertama kurikulum formal, berisi
pengetahuan, keterampilan, perspektif, dan nilai-nilai yang terkait dengan
keberlanjutan. Kedua, belajar mencakup masalah kehidupan nyata untuk
meningkatkan motivasi dan pembelajaran siswa. Ketiga, sekolah memiliki
etos keberlanjutan, yang dapat dilihat pada perlakuan orang lain, properti
sekolah, dan lingkungan. Keempat, praktik manajemen sekolah yang
mencerminkan keberlanjutan. Kelima, kebijakan sekolah mencerminkan
kelestarian lingkungan, sosial, dan ekonomi. Keenam, interaksi antara
sekolah dan masyarakat dipupuk. Ketujuh, acara khusus dan kegiatan
ekstra kurikuler berlaku dan meningkatkan pembelajaran kelas tentang
keberlanjutan. Kedelapan, murid terlibat dalam pengambilan keputusan
mempengaruhi kehidupan sekolah.
1211
Aaron Benavot, Research Gate, Technical Report about Education for Sustainable
Development in Primary and Secondary Education, 2014,
(https://www.researchgate.net/publication/282342116) , hlm. 14-15 12
16
Berdasarkan penjabaran teori diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa
sekolah alternatif berbasis ESD di Indonesia dikenal sebagai Sekolah
Hijau Adiwiyata. Berdasarkan karakteristiknya, Sekolah Adiwiyata
mengadopsi
whole
school
approach,
menandakan
adanya
pengarusutamaan atau menjadikan ESD sebagai nilai-nilai penting dalam
sekolah tersebut. Adanya pengarusutamaan nilai ESD di Sekolah
Adiwiyata dapat dilihat dari segi kurikulum, kebijakan sekolah yang
berlaku, manajemen sekolah dan interaksi antara sekolah dan
masyarakatnya.
4. Sekolah Adiwiyata
Istilah "Adiwiyata" merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa
Sansekerta, yaitu Adi dan Wiyata. Adi berarti besar, agung, baik, ideal atau
sempurna, sedangkan Wiyata berarti tempat di mana seseorang
mendapatkan pengetahuan, norma, dan etika dalam kehidupan sosial.
13Definisi sekolah hijau di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2013 tentang Pedoman Program
Adiwiyata. Disebutkan dalam peraturan menteri bahwa Sekolah Adiwiyata
adalah sekolah yang baik dan ideal sebagai tempat untuk memperoleh
semua ilmu pengetahuan, norma, dan etika yang dapat menjadi dasar bagi
penciptaan
kesejahteraan
manusia
dan
model
pembangunan
berkelanjutan.
14Sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang telah menerapkan sistem
untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, melalui tata kelola
sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Program
Adiwiyata sendiri telah dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup
dan berlanjut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk
13
Warju, et.al., Evaluating the Implementation of Green School (Adiwiyata) Program: Evidence from Indonesia, International Journal of Environmental and Science Education, Vol.12, No.6, 2017, hlm.1485
14
17
mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui
kegiatan pembinaan, penilaian dan pemberian penghargaan Adiwiyata
kepada sekolah. Pedoman pelaksanaan program Adiwiyata diatur dalam
Peraturan Menteri LH Nomor 5 Tahun 2013.
15Sekolah Adiwiyata bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sekolah
yang peduli dan berbudaya lingkungan, dengan beberapa kiat berikut.
Pertama, menciptakan kondisi yang lebih baik bagi sekolah untuk menjadi
tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid, orang
tua / wali murid dan warga masyarakat) dalam upaya pelestarian
lingkungan hidup. Kedua, mendorong dan membantu sekolah agar dapat
ikut melaksanakan upaya pemerintah dalam melestarikan lingkungan
hidup dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan
demi kepentingan generasi yang akan datang. Ketiga, membentuk warga
sekolah yang turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan
lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.
16Target sasaran dari program Adiwiyata adalah lingkup pendidikan
formal setingkat SD, SMP, SMA atau sederajat. Sekolah menjadi target
pelaksanaan Adiwiyata karena memiliki andil dalam membentuk nilai-nilai
kehidupan, termasuk nilai-nilai untuk peduli & berbudaya lingkungan
hidup. Sekolah-sekolah yang telah mengikuti dan melaksanakan program
Adiwiyata berhak untuk mendapatkan penilaian dan penghargaan yang
diberikan secara berjenjang. Jenjang dari penghargaan Adiwiyata yang
dapat diterima oleh sekolah, meliputi tingkatan sebagai berikut. Yang
pertama, Penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan diberikan
oleh Bupati/Walikota. Yang kedua, Penghargaan Adiwiyata Provinsi,
penghargaan diberikan oleh Gubernur. Yang ketiga, Penghargaan
Adiwiyata Nasional, penghargaan diberikan oleh Menteri Lingkungan
Hidup dan Kehutanan dan Penghargaan Adiwiyata Mandiri, khusus bagi
15
Heny Puspita R, Adiwiyata Mewujudkan Sekolah yang Berbudaya Lingkungan, 2018,
diakses dari
http://bp2sdm.menlhk.go.id/emagazine/index.php/umum/59-adiwiyata-mewujudkan-sekolah-yang-berbudaya-lingkungan.html pada12 Oktober 2018 pukul 15.53 WIB 16
18
sekolah yang memiliki minimal 10 sekolah binaan yang telah mendapatkan
penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan diberikan oleh
Presiden.
17Menurut Chaeruddin (2009), pelaksanaan Program Adiwiyata
diletakkan pada dua prinsip dasar yaitu: Partisipatif dan Berkelanjutan.
Partisipatif bermakna seluruh komponen sekolah terlibat dalam manajemen
sekolah yang meliputi keseluruhan proses meliputi perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran. Sedangkan
berkelanjutan bermakna seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana
dan terus menerus secara komprehensif.
18Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa penghargaan
Sekolah Adiwiyata merupakan bentuk keseriusan pemerintah Indonesia
untuk membentuk generasi dengan karakter dan sikap keberlanjutan dalam
kehidupannya. Bentuk keseriusan juga terlihat dari adanya standarisasi
berjenjang yang ditetapkan pemerintah untuk calon Sekolah Adiwiyata.
Sebagai sekolah yang tercetus atas dasar konsep Sustainable Development,
Sekolah Adiwiyata menjadi tempat yang kondusif untuk belajar nilai
pembangunan berkelanjutan tidak hanya bagi peserta didik, melainkan bagi
seluruh warga sekolah, wali murid maupun masyarakat sekitar sekolah.
5. Implementasi ESD dalam Pendidikan Formal
Penanaman nilai-nilai ESD di sekolah, dilaksanakan melalui beberapa
strategi pembelajaran, diantaranya: 1) Integrasi ke dalam mata pelajaran; 2)
Melalui mulok sebagai mata pelajaran tersendiri (monolitik); 3)
Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler / program pengembangan diri; 4) Pembiasaan
17
Ibid. 18
Dosen Pendidikan 2, Adiwiyata Adalah – Pengertian, Fungsi, Manfaat, Ciri dan
Tujuan, 2018, diakses dari http://www.dosenpendidikan.co.id/adiwiyata-adalah/ pada 11 Oktober 2018 pukul 16.27 WIB
19
(pembudayaan) yang merupakan penerapan dari visi misi sekolah,
termasuk pelaksanaan peraturan sekolah.
19Dalam mengimplementasikan pendidikan pembangunan berkelanjutan
pada jalur pendidikan formal, diarahkan dan dikembangkan pada upaya
penanaman nilai-nilai pembangunan semenjak dini melalui pembelajaran
di sekolah. Nilai-nilai ini mengarah pada keberlanjutan pembangunan
ekonomi, ekologi dan sosial budaya. Menurut Sudibyo (2009) kegiatan
yang dilakukan dalam pembelajaran di sekolah adalah pengembangan
dalam dimensi lingkungan. Dimensi lingkungan menitik beratkan pada
upaya menanamkan kesadaran dan tanggungjawab siswa secara
sendiri-sendiri atau bersama menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan
nyaman dengan membudayakan perilaku green dalam aktivitas
keseharian.
20Beberapa aktivitas dalam keseharian yang biasa kita jumpai di mana
terdapat
penerapan
perilaku
green
didalamnya
contohnya:
Penghijauan/menanam pohon di panti belajar dan sekitarnya, di
pekarangan rumah dan sekitarnya, serta lahan tidak produktif, Menjaga
kebersihan tempat belajar dan sekitarnya, rumah dan sekitarnya (sanitasi
air,
MCK,
bak
sampah)
21,
melakukan
kegiatan
3M
(menguras/membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat
penampungan air dan mendaur ulang barang bekas yang dapat berpotensi
menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk)
22, Membuang sampah pada
tempatnya, Tidak menggunakan bahan kimia (pengawet, pewarna) pada
makanan, Budidaya obat-obatan herbal, Tidak menebang pohon
seenaknya, Tidak membunuh binatang seenaknya, Pembiasaan kegiatan
19
Nur Listiawati, Pelaksanaan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan oleh Beberapa Lembaga, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.19, No.3, 2013, hlm. 447
20
Yanti Shantini, Penyelenggaraan ESD dalam Jalur Pendidikan di Indonesia, Jurnal
Pedagogia, 13, 2015, hlm. 139
21
Ibid., hlm. 140
22 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Menkes:Dibanding Fogging, PSN 3M Plus
Lebih Utama Cegah DBD, 2020, diakses dari
http://www.kemkes.go.id/article/view/16021500003/menkes-dibanding-fogging-psn-3m-plus-lebih-utama-cegah-dbd.html pada 29 Desember 2020 pukul 17.15 WIB
20
reduce, reuse, recycle, Pengurangan polutan, dan Pengurangan emisi.
Kegiatan-kegiatan tersebut di atas menjadi bentuk refensi akan kegiatan
ataupun wawasan pengelolaan lingkungan yang perlu diketahui oleh siswa
sekolah di tingkat dasar hingga tinggi.
23Selain berupa integrasi dalam pelajaran tertentu maupun pembuatan
mulok khusus, nilai-nilai Pembangunan Berkelanjutan juga dapat
diimplementasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Ekstrakurikuler
adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam
belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan
dilakukan di
bawah bimbingan sekolah
dengan tujuan untuk
mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik
yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.
24Adapun fungsi-fungsi kegiatan ekstrakurikuler menurut Aqip dan Sujak
antara lain sebagai berikut.
Fungsi pertama merupakan fungsi Pengembangan, yaitu untuk
mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat,
pembentukan
karakter,
pengembangan
potensi,
dan
pelatihan
kepemimpinan. Fungsi kedua merupakan fungsi Sosial, yaitu untuk
mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab serta memberikan
kesempatan peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktik
keterampilan sosial dan internalisasi nilai moral. Fungsi ketiga, Rekreatif,
yaitu untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan, dan
menyenangkan
bagi
peserta
didik
yang
menunjang
proses
perkembangannya. Fungsi terakhir atau fungsi keempat Persiapan karier,
yaitu fungsi kegiatan esktrakulikuler untuk mengembangkan kesiapan
karier peserta didik.
2523
Yanti Shantini. loc.cit 24
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81A tahun 2013
25
Si Manis, Pengertian Ekstrakurikuler, Fungsi, Tujuan dan Jenis Ekstrakurikuler
Menurut Para Ahli, 2020, diakses dari https://www.pelajaran.co.id/2019/21/pengertian-ekstrakurikuler-fungsi-tujuan-dan-jenis-ekstrakurikuler-menurut-para-ahli.html pada 18 November 2020 pukul 17.12 WIB
21
Dalam praktiknya, kegiatan ekstrakurikuler bentuknya
bermacam-macam. Secara umum, terdapat beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler.
Jenis ekstrakurikuler krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar
Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan
Pengibar Bendera (Paskibraka). Terdapat pula ekstrakurikuler jenis karya
ilmiah yang meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan
keilmuan dan kemampuan akademik dan penelitian. Jenis Latihan / lomba
keberbakatan / prestasi yang meliputi pengembangan bakat olahraga, seni
dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, dan kegamaan dan lainnya, atau
jenis lainnya.
26Berdasarkan paparan diatas, disimpulkan bahwa implementasi nilai
Education for Sustainable Development di sekolah dapat dilakukan melalui
kegitan pembelajaran, ekstrakurikuler, pembiasaan, pelaksanaan visi-misi
sekolah maupun melalui peraturan-peraturan sekolah. Edukasi dari nilai
Sustainable Development ini dapat berupa integrasi dengan kegiatan yang
sudah ada, atau dengan menciptakan kegiatan baru yang lebih terfokus
pada perspektif tertentu dari Sustainable Development. Dengan mengetahui
karakteristik dari setiap kegiatan, dapat dilihat potensinya untuk dapat
dikembangkan menjadi media peserta didik belajar nilai keberlenjutan.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Terdapat
beberapa
penelitian
yang
relevan
terkait
Pendidikan
Pembangunan Berkelanjutan yang sudah pernah diteliti sebelumnya,
diantaranya:
1. Hasil penelitian yang dilakukan Sri Ngabekti yang berjudul Konsep
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Kasus Pondok Pesantren
Modern Selamat Kendal) menunjukkan bahwa persepsi dan sikap santri
terhadap konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB)
yang termaktub dalam tiga dimensi serta isu strategisnya di Indonesia
26
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81A tahun 2013
22
cukup baik, dan sebagian besar telah dipraktekkan oleh komunitas PPMS
Kendal dalam kehidupan sehari-hari. Selain tiga dimensi PPB tersebut,
ditemukan pula dua dimensi khas pendidikan di pondok pesantren yakni
dimensi edukasional dan dimensi spiritual. Dimensi edukasional
merupakan sarana dalam membentuk jiwa yang memenuhi prinsip-prinsip
PPB. Dimensi spiritual pada PPMS Kendal selaras dengan esensi
pendidikan Indonesia dan juga esensi pendidikan di pondok pesantren,
serta melengkapi konsep PPB yang telah ada sebelumnya.
272. Hasil penelitian
yang dilakukan Zainal
Arifin
yang berjudul
Pengembangan Sekolah Islam Berwawasan Education for Sustainable
Development (ESD) Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler (Studi di SD
IT-SMP IT Al-Ikhlas Mantren Karangrejo Magetan) menunjukkan bahwa
pengembangan sekolah Islam berwawasan Education for Sustainable
Development (ESD) di SD IT-SMP IT Al-Ikhlas dilakukan melalui
kegiatan ekstrakurikuler berwawasan sosial budaya (bakti sosial,
penyembelihan hewan kurban di desa terpencil, kunjungan pasien ke
rumah sakit, kultum keagamaan di masjid sekitar sekolah, kunjungan
profesi ke lembaga-lembaga profesi dan outbound), ekstrakurikuler
berwawasan ekonomi (business day, cooking project, dan pembuatan
berbagai macam masakan/makanan) serta melalui ekstrakurikuler
berwawasan lingkungan (penghijauan, tebar benih ke sungai, melepas
burung dan bakti sosial membersihkan sampah di tempat umum).
283. Hasil penelitian yang dilakukan Ilyas Nasaruddin Siregar yang berjudul
Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam Perspektif
27
Sri Ngabekti, “Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan”, Kesimpulan dan Summary disertasi pada sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2012, hlm. 21-22
28
Zainal Arifin, “Pengembangan Sekolah Islam Berwawasan Education for Sustainable
Development (ESD) melalui Kegiatan Ekstrakurikuler (Studi di SD IT-SMP IT Al-Ikhlas Mantren
Karangrejo Magetan),” dalam Laporan Penelitian Kompetitif Individual Tahun 2012, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012, hlm. 66-67
23
Pendidikan Islam menunjukkan bahwa Pendidikan untuk Pembangunan
Berkelanjutan jika disesuaikan dengan konsepsi Pendidikan Islam
diartikan sebagai proses penanaman kesadaran diri tentang tanggung
jawab dan keadilan seorang muslim dalam mengelola segala tindakannya
selaku wakil Allah di muka bumi yang rahmatan lil alamin. Adapun
mewujudkan PPB dalam perspektif Pendidikan Islam Indonesia adalah:
memaksimalkan zakat sebagai basis ekonomi Islam dalam menunjang
pendidikan, memperhatikan lembaga pendidikan Islam, serta mengubah
pola pikir masyarakat terhadap pendidikan.
294. Kartikeya V. Sarabhai dalam jurnal “ESD for Sustainable Development
Goals (SDG)”, menjelaskan bahwa pendidikan memiliki peran dalam arti
luas dalam keberhasilan pencapaian SDG. Termasuk didalamnya
pendidikan berperan dalam memberikan pelatihan dan pengembangan
kapasitas, komunikasi dan menciptakan kesadaran publik untuk mencapai
SDG. Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk mencapai 16 goals lain
dalam SDG. Banyak pekerjaan telah dilakukan di lapangan, tetapi
sayangnya praktisi tidak semuanya mendokumentasikan pengalaman
mereka secara memadai. Bukti lebih lanjut diperlukan jika pendidikan
memang dianggap serius sebagai bagian dari strategi untuk mencapai
tujuan pembangunan berkelanjutan yang lain.
305. Robert Laurie, et.al., dalam jurnal yang berjudul “Contributions of
Education for Sustainable Development (ESD) to Quality Education : A
Synthesis of Research”, menjelaskan bahwa penelitian ini adalah sintesis
penelitian yang dilakukan di 18 negara untuk mengidentifikasi kontribusi
pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD) untuk pendidikan
29
Iliyas Nasaruddin Siregar, “Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam Perspektif Pendidikan Islam,” Skripsi pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2015, hlm. 88-89
30
Kartikeya V. Sarabhai, ESD for Sustainable Development Goals (SDG), Journal of