• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA MEMAAFKAN DENGAN KEMATANGAN DIRI PADA REMAJA AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA MEMAAFKAN DENGAN KEMATANGAN DIRI PADA REMAJA AKHIR"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

144

HUBUNGAN ANTARA MEMAAFKAN DENGAN

KEMATANGAN DIRI PADA REMAJA AKHIR

Ilsan Sumiati1

Stefanus Soejanto Sandjaja Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Krida Wacana

Abstract. This study aimed to determine the relationship between self-maturity and forgiveness

in the late adolescence. The hypothesis of this study was there is a positive correlation between self-maturity and forgiveness in the late adolescence. The population in this study were university students at UKRIDA. The research sample was taken by purposive sampling (N=108 subjects). This study used quantitative approach. The data were collected using a scale. The instruments that used in this study were forgiveness scale TRIM-18 (Transgression Related Interpersonal Motivation) and Self-Maturity scale. The data were analyzed by Pearson’s Product Moment correlation analysis. The result showed, that there is a positive relationship between self-maturity and forgiveness in late adolescence (r = 0.491; p < 0,01).

Keywords: forgiveness, late adolescence, self-maturity

Pendahuluan

Manusia dikenal sebagai mahluk sosial, di mana dalam proses perkembangannya manusia tidak dapat dilepaskan dari interaksi sosial. Sebuah hubungan yang melibatkan individu lain dalam berinteraksi secara sosial tentu tidak selalu berjalan dengan lancar, bahkan di dalam suatu relasi yang memiliki keterikatan psikologis yang erat, seperti persahabatan sekalipun, konflik tampaknya tidak dapat dihindarkan (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009).

Konflik yang dihadapi secara umum dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya perasaan direndahkan, dihina, tidak dihargai, pelecehan dan sebagainya (dalam Hadriami, 2008). Pada dasarnya konflik yang terjadi seringkali menimbulkan goresan luka batin dalam diri individu yang tersakiti. Oleh karena itu, individu yang tidak mampu menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya, akan memunculkan berbagai emosi

(2)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

145

negatif yang tidak menyenangkan dalam dirinya (dalam Puspasari, Rostiana, & Nisfiannoor, 2005).

Bertrand (dalam Latipun, 2010) menuturkan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik telah lama terjadi dalam masyarakat Indonesia. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (dalam Latipun, 2010) konflik tidak hanya terjadi pada masyarakat awam, kalangan pelajar yang terdiri dari para remaja juga seringkali berkonflik bahkan disertai dengan tindakan agresif. Papalia, Olds, dan Feldman (dalam Budiono, 2005) berpendapat bahwa pada rentang usia 17-21 tahun, individu banyak berinteraksi dengan individu lain, sehingga terdapat kemungkinan yang lebih besar bagi remaja akhir untuk mengalami konflik.

Utami (2009) menyatakan bahwa mahasiswa di Indonesia berada pada tahap perkembangan remaja akhir, yakni masa di mana individu telah mengalami proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikis yang mengarah pada kesempurnaan kematangan (dalam Puspasari, Rostiana & Nisfiannor, 2005). Mahasiswa dikenal sebagai kaum akademisi yang menduduki strata pendidikan paling tinggi dalam dunia pendidikan, memiliki kematangan kognitif dan kematangan psikologis yang memungkinkan untuk berpikir logis dan realistis, melihat hubungan sebab-akibat, dan mengatasi permasalahan dengan mencari pemecahan masalah yang baik ketika mengalami konflik untuk kemudian melangkah pada tahap selanjutnya, yaitu memikirkan masa depan (dalam Puspasari, Rostiana & Nisfiannor, 2005).

Namun pada kenyataanya, mahasiswa tidak jarang menunjukkan perilaku yang tidak sejalan dengan nilai intelektual sebagai masyarakat intelektual. Hal ini terlihat pada beberapa konflik yang sering kali melibatkan mahasiswa, seperti pada kasus yang terjadi beberapa waktu lalu di Jakarta, yaitu aksi demonstrasi yang berakhir dengan anarkis dengan pihak keamanan (Kompas, 2012). Melihat pada fakta di lapangan tindakan demonstrasi yang berakhir anarkis ini jauh dari nilai intelektual, di mana seharusnya mahasiswa dapat mengupayakan proses mediasi berupa komunikasi terbuka dengan wakil rakyat. Allport dalam teorinya berpendapat bahwa masalah kenakalan, kejahatan, dan pemberontakan yang terjadi pada anak remaja disebabkan kurangnya tujuan-tujuan

(3)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

146

yang berarti dan konstruktif bagi remaja untuk mengalihkan atau menghabiskan energi mereka. (dalam Schultz, 1991).

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa yang merupakan para remaja dalam berbagai fenomena aksi kekerasan dewasa ini merupakan suatu bentuk agresi (dalam Widodo, 2007). Synder dan Lopez (dalam Prasetyo & Oriza, 2009) menyatakan bahwa pemaafan mampu mematahkan siklus kekerasan. Oleh karenanya, Sarwono (dalam Prasetyo & Oriza, 2009) berpendapat penanaman perilaku memaafkan ini penting dilakukan pada masa remaja, karena pada masa ini terjadi masa transisi. Widodo (2007) menambahkan bahwa perilaku seperti melukai, menyakiti, dan merugikan orang lain seringkali terjadi pada masa remaja.

Sebagai upaya untuk menghilangkan perilaku kekerasan dan mengurangi emosi-emosi negatif yang muncul akibat adanya perilaku menyinggung yang merusak suatu relasi, individu harus memiliki kerelaan dan kesediaan untuk memaafkan serta menerima kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang bersalah. McCullough (dalam Synder & Lopez, 2007) memberikan pernyataan bahwa memaafkan dapat membebaskan individu (korban) dari respon negatif atas perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan oleh pelaku terhadapnya.

Mendukung pendapat McCullough, Tsang (dalam Anizza, 2008) melalui penelitiannya menyatakan bahwa dalam sebuah hubungan interpersonal, konflik tidak dapat dihindari dan untuk itu memaafkan (forgiveness) adalah sebuah cara yang dapat membantu memperbaiki kedekatan dalam hubungan setelah adanya konflik atau perilaku yang salah. Beberapa tokoh mengemukakan manfaat dari pemaafan, antara lain Luskin (dalam Setyawan, 2007), ia memaparkan praktek memaafkan telah terbukti dapat mengurangi kemarahan, depresi, dan stress serta mengarahkan perasaan pada harapan, perdamaian, kasih sayang, dan kepercayaan diri. Sehingga dapat diraih hubungan yang sehat sama baiknya dengan kesehatan fisik. Pemaafan juga memengaruhi sikap individu sehingga terbuka hatinya pada kebaikan, keindahan, dan cinta. Synder dan Lopez (dalam Prasetyo & Oriza, 2009) menambahkan bahwa pemaafan (forgiveness) mampu memelihara ketentraman dalam masyarakat atau lingkungan sekitar.

(4)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

147

Dalam proses memaafkan diperlukan tindak lanjut sesuai dengan tujuan ke depan, membuang semua keinginan melakukan pembalasan dan sakit hati yang bersifat pribadi dan berlanjut dengan adanya upaya memperbaiki hubungan yang telah rusak. Soesilo (2006) memberikan pendapat bahwa meski konteks memaafkan dinilai penting namun tidak dengan rekonsiliasi. Melepaskan pemaafan dapat dilakukan oleh korban meski tidak melibatkan pelaku dalam prosesnya (permintaan maaf dari pelaku), akan tetapi tidak dengan rekonsiliasi, yang dalam prosesnya memerlukan respon dan kerja sama antar kedua belah pihak yang terkait. Rekonsiliasi tidak dapat dilakukan untuk semua keadaan, di mana mungkin terdapat pelanggaran batas berupa kekerasan dan penganiayaan yang berkepanjangan. Ketidaksepakatan juga terlihat pada sebagian peneliti yang mengatakan bahwa pemaafan tidak membutuhkan rekonsiliasi dengan pihak yang bersalah, sementara pihak lain menekankan aspek rekonsiliasi dalam pemaafan (Hargave & Sells dalam Hadriami, 2009).

Perlu untuk diketahui bahwa upaya memaafkan memiliki tujuan yang akan membantu individu mengatasi rasa bersalah dalam diri dan memutuskan untuk tidak memberikan hukuman, sehingga individu akan melepaskan beban amarah dan kebencian terhadap pelaku dan memeroleh kelegaan emosional (dalam Affinito, 1999). Membangun pemaafan menurut Ausberger (dalam Agustinus, 2012) merupakan salah satu tindakan yang paling sulit untuk dilakukan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Baumeister (dalam Setyawan, 2007) di Universitas Florida pada tahun 2002, menunjukkan terdapat beberapa hambatan besar bagi terbentuknya proses pemaafan. Salah satu hambatan memaafkan adalah karena adanya ketidakmampuan individu melihat potensi yang ada dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya terhadap individu lain.

Baumeister (dalam Setyawan, 2007) lebih lanjut menjelaskan bahwa ketidakmampuan memahami bahwa individu mungkin saja melakukan kesalahan yang dilakukan oleh individu lain berkaitan dengan penilaian yang lebih kasar (tidak matang) dan kesiapan yang rendah untuk memaafkan. Smedes (dalam Wardhati & Faturochman, 2006) juga menekankan diperlukan pemaafan secara dewasa, yang tidak saja menghapus seluruh perasaan negatif tetapi menjadi sebuah keseimbangan perasaan.

(5)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

148

Kematangan diri didefinisikan oleh Allport sebagai pribadi yang sehat. Allport menerangkan individu yang sehat adalah individu yang matang, bekerja secara rasional dalam kontrol kesadaran (menyadari apa yang mereka kerjakan dan alasan mengerjakannya) dan terbebas dengan konflik di masa lalu. Ia memiliki hubungan yang hangat dengan dirinya maupun dengan orang lain serta mampu memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan, turut menyadari bahwa kebutuhan, hasrat, dan harapan orang lain tidaklah berbeda dari yang mereka miliki. Kematangan diri memampukan individu mengetahui keterbatasan yang dimiliki dan menerimanya, ia juga merasa aman dengan diri sendiri dan dalam hubungan dengan dunia sekitarnya (dalam Feist & Feist, 2008).

Berdasarkan definisi yang dijelaskan oleh Allport, ditemukan hubungan yang terkait dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Baumeister (dalam Setyawan, 2007) sebelumnya. Dalam berhubungan dengan individu lain, setiap individu pasti pernah melakukan kesalahan dalam sikap atau perilaku yang dilakukan. Oleh karenanya, Baumeister berpendapat individu yang tidak dapat memahami bahwa dirinya juga mungkin dapat melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh individu-individu lainnya, secara tidak langsung menunjukkan rendahnya kematangan diri dan rendahnya kesiapan untuk memaafkan dalam diri individu tersebut. Sementara individu yang memiliki kematangan diri akan mampu untuk dapat menghargai dan menyadari bahwa individu lain memiliki kebutuhan dan keterbatasan yang sama dengan dirinya (dalam Feist & Feist, 2008). Sehingga dapat disimpulkan bahwa di dalam memaafkan dibutuhkan kematangan diri dari individu.

Ketidakmatangan diri menjadi hambatan dalam proses memaafkan, hal ini dikarenakan di dalam proses memaafkan dibutuhkan kesadaran dari pihak korban untuk menyadari bahwa pelaku memiliki derajat kemanusiaan yang sama dengan dirinya (dalam Hadriami, 2006). Derajat kemanusiaan yang dimaksudkan di sini adalah tingkatan, martabat, dan kedudukan pelaku sebagai individu yang juga memiliki kodrat, hak, dan kewajiban, yang dalam hal ini dapat berupa menerima pemaafan dari korban (dalam Satria, 2011). Hal ini dikarenakan saat korban telah memiliki kematangan diri, di mana korban mampu menyadari bahwa pelaku juga memiliki derajat kemanusiaan yang

(6)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

149

sama dengan dirinya, korban akan lebih mampu untuk memberikan pemaafan bagi pelaku yang telah melakukan kesalahan terhadap dirinya. Oleh karena itu, hal ini juga turut menunjukkan bahwa individu yang telah memiliki kematangan diri tersebut tidak akan lagi berfokus pada hal-hal yang hanya mengarah pada dirinya sendiri, namun juga turut memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan individu lain di luar dirinya. Kepedulian ini secara nyata dapat digambarkan dalam sikap memaafkan yang dilakukan korban, yang mengarah pada adanya keinginan korban untuk menciptakan sebuah hubungan yang harmonis dengan individu lain (McCullough dalam Hadriami, 2006). Dengan demikian, masalah yang ingin dilihat dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara memaafkan dengan kematangan diri pada remaja akhir?

Definisi Memaafkan

Perilaku memaafkan menurut McCullough, Worthington dan Rachal (1997) ditandai dengan adanya perubahan motivasi untuk menghilangkan motivasi atau dorongan negatif seperti dendam, dan penghindaran yang muncul setelah adanya perselisihan, kemudian individu tersebut akan menumbuhkan motivasi yang positif dan mengarah kepada perbaikan hubungan.

Enright (dalam Brown, 2003) menerangkan memaafkan adalah sebuah tindakan yang dipilih secara bebas oleh seorang korban di mana di dalamnya terdapat pengurangan rasa tidak suka dan memunculkan rasa iba, rasa kasihan, dan kasih sayang kepada orang yang bertindak menyinggung. Definisi yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Kurzynski (1998) yang menyatakan bahwa pemaafan yang tulus hanya terjadi bila kemarahan teratasi berdasarkan pertimbangan moral.

Hadriami (2006) berpendapat, dalam pengertian memaafkan yang sebenarnya terdapat proses di mana akhirnya korban menyadari bahwa pencidera memiliki derajat kemanusiaan yang sama dengan dirinya, dan pantas untuk dihargai.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemaafan

Baumeister (dalam Setyawan, 2007) menyebutkan terdapat dua hambatan besar bagi pembentukan proses memaafkan:

(7)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

150

a. Pemaafan lebih sulit dilakukan pada individu dengan kecenderungan narsisitik, yang merasa bahwa mereka pantas mendapatkan banyak hal. Mereka melihat memaafkan sebagai sesuatu yang penuh resiko dan tidak adil, khususnya bila mereka tidak menerima “ganti rugi” atau permintaan maaf apapun dari pelaku. Bentuk lain dari kecenderungan ini adalah ketidakmampuan individu untuk melihat potensinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya pada orang lain. Ketidakmampuan merefleksikan bahwa dirinya bisa saja melakukan kesalahan yang dilakukan orang lain berkaitan dengan penilaian yang lebih kasar (tidak matang) dan kesiapan yang rendah untuk memaafkan.

b. Adanya keyakinan dari korban bahwa memaafkan membuka kesempatan untuk disakiti kembali.

Dimensi Pemaafan

Dimensi yang ada pada TRIM 18 menjelaskan lebih jauh definisi pemaafan menurut McCullough, yaitu proses perubahan tiga dorongan dalam diri individu terhadap pelaku. Tiga dorongan tersebut yaitu motivasi membalas dendam (revenge motivation), motivasi menghindar (avoidance), dan motivasi mendekat (benevolence) (dalam McCullough, Root & Cohen, 2006).

Definisi Kematangan Diri

Allport (dalam Feist & Feist, 2008) menyatakan individu yang matang adalah individu dengan pribadi yang sehat, bekerja secara rasional dalam kontrol kesadaran, menyadari sepenuhnya dorongan-dorongan yang memotivasi mereka dan mampu mengontrol dorongan-dorongan itu pula. Individu yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Pandangan individu yang sehat dan matang adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa yang akan datang dan hidup di masa depan dan tidak mundur kembali. Segi pandangan ini memberi lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak.

Erickson (dalam Widjaja & Wulan, 1998) mengatakan individu dewasa yang matang adalah individu yang memetik hasil dari semua konfrontasi dengan krisis-krisis yang

(8)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

151

dihadapi. Sementara kematangan menurut Piaget (dalam Widjaja & Wulan, 1998) adalah suatu kondisi fisik yang dimiliki oleh individu untuk menunjukkan suatu kesiapan bertindak atau bersifat biologis, kemasakan fisik ini pada dasarnya muncul secara alami atau merupakan bawaan.

Definisi lain dikemukakan oleh Hurlock (dalam Widjaja & Wulan, 1998), ia menyamakan antara dewasa dan matang dalam artian psikologis, yang berarti mereka sudah mampu mengendalikan emosi, bertanggung jawab baik terhadap keluarga maupun terhadap dirinya sendiri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapat Mahasiswa Mengenai Arti Kematangan Diri

Faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap kematangan diri yang diartikan oleh mahasiswa, yaitu jenis kelamin, usia, suku bangsa, urutan kelahiran, pekerjaan dan penghasilan orang tua turut mempengaruhi pendapat mahasiswa mengenai konsep kematangan diri.

Dimensi Kematangan Diri

Allport (dalam Feist & Feist, 2008) mengidentifikasikan kematangan diri ke dalam enam bagian, yaitu adanya perluasan perasaan diri, hubungan hangat dirinya dengan orang lain, rasa aman emosional atau penerimaan diri, persepsi yang realistis, objektifikasi diri, dan filsafat hidup yang menyatukan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Karakteristik dari subjek penelitian ini adalah: a) Mahasiswa/i aktif UKRIDA; b) Memiliki batasan usia antara 17-21 tahun; dan c) Berjenis kelamin perempuan atau laki-laki.

Penelitian ini dilakukan di Universitas Kristen Krida Wacana. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 28 Mei 2012 hingga 31 Mei 2012. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dengan jumlah subjek sebanyak 108 orang, yang terdiri dari 45 subjek laki-laki dan 63 subjek perempuan.

(9)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

152

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen skala. Pada skala pemaafan digunakan TRIM-18 (Transgression Related Interpersonal Motivation) yang dikembangkan oleh McCullough. Skala ini terdiri dari 18 item yang dibangun berdasarkan tiga dimensi, yaitu revenge motivation, avoidance motivation, dan benevolence

motivation. Pada hasil uji validitas dan reliabilitas, diperoleh nilai koefisien validitas antara

0,438 sampai 0,746 dan nilai reliabilitas sebesar 0,916.

Sementara pada Skala Kematangan Diri terdiri dari 42 item yang dibuat berdasarkan enam kriteria kematangan diri yang diterangkan oleh Allport. Keenam dimensi tersebut adalah perluasan perasaan diri, hubungan hangat dirinya dengan orang lain, rasa aman emosional atau penerimaan diri, persepsi yang realistis, objektifikasi diri, dan filsafat hidup yang menyatukan. Pada hasil uji validitas dan reliabilitas diperoleh 16 item yang dinyatakan valid dengan nilai koefisien validitas 0,305 sampai 0,486 dan nilai reliabilitas sebesar 0,772. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis korelasi

Pearson Product Moment.

Hasil Penelitian

Hasil dari analisis data diperoleh nilai Pearson’s Product Moment Correlation sebesar (r) = 0,491 dengan nilai signifikansi sebesar (p) < 0,01. Berdasarkan analisis tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini diterima, yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan antara kematangan diri dan memaafkan. Nilai r positif menunjukkan arah hubungan kedua variabel positif, yaitu semakin tinggi kematangan diri maka akan semakin tinggi pemaafan, sebaliknya semakin rendah kematangan diri maka akan semakin rendah pula pemaafan.

Besarnya nilai koefisen korelasi (r) = 0,491 menyatakan bahwa hubungan kedua variabel memiliki nilai korelasi yang terkategori cukup kuat (dalam Sarwono dan Suhayati, 2010). Hubungan antar kedua variabel yang ada dalam penelitian ini, juga diperkuat dengan hasil skor total antara memaafkan dan kematangan diri remaja akhir di UKRIDA, yaitu pemaafan pada remaja akhir di UKRIDA termasuk kategori cukup dan kematangan diri pada remaja akhir di UKRIDA terkategori tinggi.

(10)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

153

Pembahasan

Besarnya hubungan kematangan diri terhadap pemaafan, dilakukan perhitungan: (0,491)² = 24,01%. Hasil sebesar 24,01% menunjukkan nilai kontribusi terhadap pemaafan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kematangan diri hanya merupakan salah satu faktor yang turut berkontribusi terhadap pemaafan, sementara masih terdapat 75,99% faktor-faktor lain yang turut berkontribusi terhadap pemaafan yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Worthington (dalam Parmawati, 2008) menyatakan terdapat empat faktor yang turut memengaruhi pemaafan, yaitu kepribadian, karakteristik hubungan sebelum tindakan menyakiti, kejadian yang berlangsung selama dan sesudah episode menyakitkan, dan proses-proses psikologis yang berasosiasi dengan perkembangan sense of emphaty. Dalam intervensi yang mempromosikan pemaafan, empati merupakan elemen penting, karena melalui empati individu mampu memaafkan dan mampu menumbuhkan perasaan positif pada pelaku (dalam Wade & Worthington, 2005).

Empati merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosi yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi, baik diri sendiri ataupun individu lain, memilah-milah semuanya serta menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri (dalam Bilgis, 2007). Tanpa kemampuan ini individu dapat menjadi terasing, salah menafsirkan perasaan sehingga mengalami penumpulan perasaan akibat rusaknya hubungan.

McCullough (dalam Anizza, 2008) memastikan bahwa empati merupakan akar dari perilaku memaafkan. Hal ini disebabkan dalam upaya membangun pemaafan yang sesungguhnya, individu diharapkan mampu menggantikan motivasi dan perasaan negatif dengan sikap dan perasaan positif. Oleh karenanya, Smedes (dalam Wardhati & Faturochman, 2006) menuturkan bahwa pemaafan yang sesungguhnya dapat dicapai apabila individu mampu menghapus seluruh perasaan negatif menjadi sebuah keseimbangan perasaan.

Berdasarkan pada teori yang telah dipaparkan ini, empati dinilai turut memegang peranan penting dalam perilaku memaafkan pada remaja akhir, namun di dalam

(11)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

154

penelitian ini peneliti tidak melibatkan empati sebagai variabel yang harus diteliti lebih lanjut.

Selanjutnya, pada penelitian ini peneliti juga melakukan analisa tambahan dengan menyertakan beberapa faktor-faktor, seperti faktor agama, jenis kelamin, usia, suku bangsa, dan urutan kelahiran. Analisa ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat faktor lain yang turut berhubungan dengan pemaafan dan kematangan diri. Faktor-faktor ini dianalisa menggunakan teknik perhitungan Chi-Square, untuk mengamati ada tidaknya hubungan antara faktor yang satu dengan faktor yang lain. Pengambilan keputusan didasarkan pada probabilitas (signifikansi) 0,05. Apabila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat hubungan, sementara jika nilai p < 0,05 menunjukkan adanya hubungan antar variabel. Hasil analisa tambahan akan peneliti uraikan secara singkat

Memaafkan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan agama. Berdasarkan hasil perhitungan pada data pemaafan diperoleh nilai Chi-Square = 5,060 dan signifikansi (p) = 0,281 > 0,05. Pada data kematangan diri diperoleh nilai Chi-Square = 1,154 dan signifikansi (p) = 0,562 > 0,05. Melihat pada nilai signifikansi (p) pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan agama adalah lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara agama, baik agama Kristen maupun agama Buddha dengan pemaafan dan kematangan diri.

Pada umumnya setiap agama selalu mendasarkan ajarannya pada aspek untuk saling mengasihi, memaafkan dan menghormati. Permasalahannya terletak pada komitmen beragama dan bagaimana pengalaman individu atas pengampunan Tuhan dalam hidupnya. Pengalaman dan komitmen beragama yang benar akan memberikan sumbangsih positif pada individu, yang kemudian akan membawa individu pada kesalehan pribadi dan kesalehan sosial (dalam Asudarmanto, 2012). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keagamaan yang dimiliki seseorang tidak sepenuhnya menjadikan individu memiliki komitmen beragama dan pemahaman yang baik apabila keagamaan yang mereka miliki hanya merupakan sebuah simbolitas semata. Perlu untuk diketahui bahwa komitmen dan pengalaman religiusitas seseorang yang lebih berperan pada perilaku individu. Oleh karenanya, peneliti merasa perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan yang mengkaji lebih dalam mengenai kematangan agama seseorang, dilihat dari

(12)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

155

pengalaman spiritualitas yang dimiliki, terhadap pemaafan dan kematangan diri untuk penelitian mendatang.

Memaafkan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan jenis kelamin. Hasil perhitungan pada data pemaafan diperoleh nilai Chi-Square = 4,533 dan signifikansi (p) = 0,339 > 0,05. Pada data kematangan diri diperoleh nilai Chi-Square = 2,817 dan signifikansi (p) = 0,245 > 0,05. Melihat pada nilai signifikansi (p) pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan jenis kelamin adalah lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan dengan pemaafan dan kematangan diri.

Hasil penelitian ini searah dengan penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan oleh McCullough, Sandage, Brown, Rachal, Worthingthon, Hight (1998) di mana diperoleh hasil yang serupa, yaitu tidak ditemukannya perbedaan antara jenis kelamin, baik pada laki-laki maupun pada peremuan dalam hasil skor TRIM penelitiannya. Namun, pada beberapa penelitian lain ditemukan adanya hasil penelitian yang bertentangan dengan hasil penelitian ini dan hasil penelitian yang dilakukan oleh McCullough et al.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Departemen Psikologi Univercity of Alberta di Kanada (dalam Nurchayani, 2011) menyatakan bahwa subjek berjenis kelamin perempuan memiliki kematangan diri yang tinggi dan cepat dibandingkan dengan subjek berjenis kelamin laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan lebih mudah mengatur kesejahteraan psikologis mereka. Sementara, sebuah studi terbaru yang dilakukan di

University of the Basque Country, menemukan bahwa perempuan dinyatakan lebih

mudah memaafkan bila dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan faktor yang paling menentukan dalam kapasitas memaafkan adalah empati, dan perempuan dinilai memiliki kapasitas empati yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan laki-laki (dalam Nurchayani, 2011).

Berdasarkan pada uraian di atas, ditemukan adanya perbedaan antara hasil penelitian yang satu dengan hasil penelitian lain yang terkait dengan pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan jenis kelamin. Oleh karenanya peneliti menilai perlu untuk dilakukannya penelitian lanjutan untuk melihat lebih jelas peran jenis kelamin terhadap pemaafan dan kematangan diri seseorang.

(13)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

156

Memaafkan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan usia. Hasil perhitungan pada data pemaafan diperoleh nilai Chi-Square = 10,401 dan signifikansi (p) = 0,238 > 0,05. Pada data kematangan diri diperoleh nilai Chi-Square = 6,765 dan signifikansi (p) = 0,149 > 0,05. Melihat pada nilai signifikansi (p) pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan usia adalah lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan pemaafan dan kematangan diri.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Allport (dalam Feist & Feist, 2008) yang mengemukakan bahwa kematangan diri tidak dapat diukur berdasarkan pada usia seseorang. Allport mendefinisikannya sebagai suatu pandangan hidup yang tumbuh dalam pengalaman, karena kematangan diri terletak pada perilaku dan tanggung jawab individu dengan lingkungan sekitar. Sementara untuk penelitian mengenai memaafkan dan usia, peneliti tidak dapat menemukan penelitian yang membahas mengenai hal ini sebelumnya.

Memaafkan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan suku bangsa. Hasil perhitungan pada data pemaafan diperoleh nilai Chi-Square = 14,646 dan signifikansi (p) = 0,996 > 0,05. Pada data kematangan diri diperoleh nilai Chi-Square = 12,514 dan signifikansi (p) = 0,708 > 0,05. Melihat pada nilai signifikansi (p) pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan suku bangsa adalah lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara suku bangsa dengan pemaafan dan kematangan diri.

Pada penelitian ini tidak dilakukan kontrol yang kuat pada suku bangsa subjek penelitian, di mana subjek dalam penelitian ini lebih dominan bersuku bangsa Tionghoa. Budaya menurut Goode (dalam Nailiu, 1997) turut mempengaruhi pemahaman dan pola pikir individu. Bentuk keluarga yang terdapat di Indonesia menekankan kemandirian pada anak sebab anak dinilai harus memiliki bekal untuk mengurus diri sendiri kelak.

Takaku (dalam Hadriami, 2008) dalam penelitiannya pada orang Jepang dan Amerika menemukan bahwa motivasi untuk memaafkan bagi budaya orang individualistik (Amerika) berbeda dengan budaya kolektivistik (Jepang). Menurut Takaku, orang Amerika memberikan pemaafan karena terdapat motivasi untuk menjaga integritas dirinya dan bagaimana memelihara keadilan, sedangkan orang Jepang memaafkan

(14)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

157

karena berusaha memelihara hubungan baik dengan individu lain dan menjaga norma sosial.

McCullough (dalam Hadriami, 2008) menyatakan penelitian mengenai pemaafan masih kurang melibatkan adanya pengaruh agama, budaya, dan situasi kehidupan terhadap pengertian dan pengalaman individu mengenai pemaafan. Berdasarkan pada uraian tersebut, perlu untuk dilakukannya penelitian mendalam untuk penelitian berikutnya, yang mengkaji mengenai kebudayaan yang dimiliki seseorang dengan pemaafan dan kematangan diri. Terutama pada masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh adat istiadat budaya timur, di mana individu masih harus memperhatikan aturan dan nilai budaya di dalam bersikap dan berperilaku.

Memaafkan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan pada urutan kelahiran. Hasil perhitungan pada data pemaafan diperoleh nilai Chi-Square = 21,211 dan signifikansi (p) = 0,385 > 0,05. Pada data kematangan diri diperoleh nilai Chi-Square = 10,130 dan signifikansi (p) = 0,429 > 0,05. Melihat pada nilai signifikansi (p) pemaafan dan kematangan diri ditinjau berdasarkan urutan kelahiran adalah lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara urutan kelahiran dengan pemaafan dan kematangan diri.

Hurlock (dalam Nailiu, 1997) menyebutkan bahwa anak dengan urutan kelahiran pertama cenderung menjadi korban dari tuntutan dan harapan keluarga secara berlebihan, sehingga diharapkan untuk dapat mandiri dan bertanggung jawab serta dapat menjadi panutan bagi adik-adiknya. Sebaliknya, anak dalam urutan kelahiran terakhir atau anak bungsu cenderung bertumbuh dalam atmosfir yang lebih rileks dan permisif.

Pada penelitian ini, peneliti kurang memberikan kontrol yang lebih jelas terhadap urutan kelahiran dari subjek penelitian. Peneliti tidak menyediakan pilihan, seperti pilihan anak tunggal, anak sulung, anak tengah (dari berapa bersaudara), dan pilihan anak bungsu pada data demografis subjek penelitian. Oleh karenanya diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk dapat memperhatikan faktor ini sebagai bahan penelitian lanjutan di kemudian hari.

Berdasarkan pada hasil perhitungan analisa tambahan yang disertakan dalam penelitian ini, faktor agama, jenis kelamin, suku bangsa, dan urutan kelahiran dinyatakan

(15)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

158

tidak memiliki hubungan dengan pemaafan dan kematangan diri pada individu. Sementara pada beberapa penelitian yang dilakukan di negara lain, faktor agama, jenis kelamin dan suku bangsa memiliki hubungan terhadap pemaafan dan kematangan diri. Hasil yang bertentangan ini dapat dikarenakan adanya keterlambatan proses kematangan pada remaja akhir di Indonesia.

Mahasiswa di Indonesia umumnya berada dalam tahap perkembangan remaja akhir, yang menurut Piaget (dalam Santrock, 2008) telah berada dalam tahap perkembangan kognitif operasional formal, di mana individu sudah dapat berpikir secara abstrak. Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Hurlock (dalam Fazrul, 2010), menurutnya remaja akhir telah mencapai kematangan pada organ tubuh termasuk fungsi reproduksi serta munculnya kematangan untuk berpikir abstrak, di mana individu memiliki kemampuan dalam memecahkan berbagai masalah yang kompleks, termasuk upaya pengembangan suatu alternatif dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Pada kenyataan yang terjadi di negara-negara berkembang, seperti di Indonesia, masih terdapat remaja-remaja atau bahkan individu dewasa yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap kemampuan berpikir pada tingkat operasional formal. Sebagian dari mereka masih berada pada tahap perkembangan kognitif sebelumnya, yaitu tahap operasional konkrit, di mana pola pikir yang digunakan dalam tahapan ini dinilai masih sangat sederhana dan belum mampu untuk melihat masalah dari berbagai macam sudut pandang atau dimensi (dalam Hidayat, 2011).

Oleh karena itu, tidak jarang mahasiswa di Indonesia seringkali terlibat dengan aksi kekerasan, kejahatan, dan pemberontakan, seperti aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis mahasiswa dengan pihak keamanan. Mereka seolah bertindak menyuarakan hati rakyat, namun tidak mengetahui dasar dari nilai dan tujuan yang memotivasi atau mendorong mereka untuk melakukan aksi demonstrasi tersebut. Kurangnya tujuan dan visi ke depan dalam bertindak inilah yang menurut Allport (dalam Schultz, 1991) menyebabkan remaja seringkali terlibat dengan aksi kenakalan, kejahatan, dan pemberontakan. Melalui kurangnya tujuan serta adanya keterlibatan kekerasan pada mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan suatu permasalahan,

(16)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

159

secara tidak langsung menandakan bahwa remaja akhir di Indonesia belum mencapai tahap kematangan atau mengalami keterlambatan dalam proses menuju kematangan.

Ketidakmampuan mereka untuk menyelesaikan dan menilai berbagai persoalan atau masalah yang dihadapi secara lebih kritis ini juga memperlihatkan kurangnya kemampuan individu untuk mengatasi konflik yang terjadi. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan pula bahwa individu akan memiliki kesiapan yang rendah untuk melepaskan pemaafan, karena individu dinilai tidak mampu menghilangkan atau menggantikan emosi negatif (marah, dendam, penghindaran, dan sakit hati) dengan motivasi positif (mengarah pada perbaikan hubungan). Sehingga individu dinilai tidak dapat mencintai dan memperluas dirinya ke dalam hubungan yang penuh perhatian dengan individu-individu lain, karena bagi individu yang matang, pertumbuhan dan pemenuhan individu lain akan menjadi sama pentingnya dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri (Allport, dalam Schultz, 1991).

Permasalahan ini dapat saja dilatarbelakangi oleh pola asuh yang diberikan oleh orangtua kepada remaja, di mana para remaja masih diperlakukan sebagai anak-anak, sehingga tidak jarang menyebabkan remaja tidak cukup berhasil mencapai tugas perkembangan yang harus mereka lalui. Penyebab lainnya dapat pula disebabkan sistem pendidikan yang terdapat di Indonesia yang masih menggunakan sistem mengajar secara satu arah, yang dilakukan tanpa melibatkan interaksi yang komunikatif antara pengajar dengan peserta didik, serta kurangnya perhatian dan penyesuaian para pengajar terhadap proses pengembangan kognitif anak (dalam Hidayat, 2011). Dengan demikian, hal-hal yang telah diuraikan ini, dapat dinilai menjadi penyebab dari timbulnya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini dengan hasil penelitian yang peneliti temukan di negara lain.

Adapun beberapa hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini meliputi: a) Peneliti tidak mengetahui berapa lama korban mengalami atau merasakan tindakan tidak menyenangkan yang telah dilakukan pelaku. Pengalaman ini akan mempengaruhi perbedaan tingkat pemaafan yang diberikan korban; b) Tidak adanya penggalian lebih jelas mengenai seberapa besar kedalaman luka dan persepsi korban mengenai luka yang dialami korban akibat tindakan pelaku; c) Penelitian ini tidak menyertakan gambaran

(17)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

160

jelas mengenai objek yang dibayangkan subjek penelitian ketika diminta untuk mengisi skala. Sementara kedekatan hubungan yang dimiliki subjek dengan pelaku turut mempengaruhi tingkat pemaafan yang akan diberikan oleh subjek; d) Pada penelitian ini tidak ada penggalian respon pelanggar, apakah objek yang dibayangkan oleh subjek sebagai pelaku pernah mengucapkan permintaan maaf atas perbuatannya terhadap subjek; dan e) Peneliti tidak memberikan data kontrol yang jelas pada faktor-faktor yang mempengaruhi pemaafan dan kematangan diri.

Beberapa hal yang dapat dijadikan saran berdasarkan hasil penelitian ini yaitu bagi orang tua agar dapat membantu para remaja untuk terus mempertahankan bahkan mengembangkan kematangan diri. Para orang tua dapat menjadi teladan bagi remaja dan menyediakan waktu untuk mendampingi mereka, sehingga orangtua dapat mendisiplinkan para remaja secara konsisten dengan mengaitkan tingkah lakunya dengan konsekuensi-konsekuensi logis atau ilmiah. Orangtua tidak hanya sebagai sumber pengaruh besar, melainkan turut berperan sebagai sumber pengaruh yang paling lama meresap dalam kepribadian anak.

Sementara itu bagi peneliti selanjutnya apabila ingin melakukan penelitian lanjutan disarankan beberapa hal berikut: a) menambahkan item-item tambahan pada skala kematangan diri, hal ini dimaksudkan agar jumlah item proposional untuk mewakili setiap dimensi yang ada; b) menyertakan variabel lain, seperti kematangan beragama dan empati pada subjek, guna melihat lebih jelas hubungan antara pengalaman spiritualitas dan peran empati terhadap pemaafan dan kematangan diri; c) memperhatikan faktor-faktor lain yang turut berpengaruh kuat dalam penelitian, seperti faktor-faktor jenis kelamin, suku bangsa yang tentu akan berpengaruh pada pola pikir, kebiasaan, dan sikap dalam berperilaku; faktor kematangan (intelektual, sosial, moral, dan emosi); dan kondisi keluarga (urutan kelahiran atau pola asuh), sehingga dapat memperkaya hasil penelitian; dan d) menggunakan subjek dari tahap perkembangan yang berbeda, yaitu peneliti selanjutnya dapat memilih subjek yang tengah duduk di bangku sekolah, subjek yang tidak bersekolah, dan subjek yang berada dalam tahap perkembangan lain.

(18)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

161

Daftar Pustaka

Agustinus, S. (2012). Pengaruh inner healing terhadap forgiveness pada mahasiswa

ukrida beretnis batak. (Skripsi tidak dipublikasikan). Jakarta: Universitas Kristen

Krida Wacana.

Anizza, N. (2008). Hubungan perilaku memaafkan (forgiveness) dan kepuasan pernikahan pada pasangan bekerja. Jurnal Inquiry, 1(1), 60-74.

Asudarmanto. (2012). Esai: menebar cinta dan pemaafan dalam kesamaan di atas

keberbedaan. Diunduh dari: http://cenasofindonesia.org

Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bilgis, Y. I. (2007). Perbedaan tingkat empati pada remaja akhir ditinjau dari keaktifan

menjalankan ibadah puasa ramadhan. (Skripsi tidak dipublikasikan). Malang:

Universitas Islam Negeri.

Budiono, J. A. (2005). Hubungan preferensi kepribadian dan tempramen dengan

kesediaan untuk memaafkan. (Skripsi tidak dipublikasi). Depok: Universitas

Indonesia.

Brown, R. P. (2003). Measuring individual differences in the tendency to forgive: construct validity and links with depression. Personality and Social Psychology, 29, 759-771. Fazrul, H. (2010). Salah kaprah tentang konsep remaja. Kompasiana. Diunduh dari:

http://www.edukasi.kompasiana.com

Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of personality (6th ed). Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hadriami, E. (2006). Pemaafan dalam konseling. Jurnal Psikodimensia, 5(1), 97-108. Hadriami, E. (2008). Permaafan dalam kaidah kerukunan hidup orang jawa. Jurnal

Psikodimensia, 7(1), 12-25.

Hadriami, E. (2009). Deskripsi sifat-sifat permaafan. Jurnal psikodimensia, 8(1), 1-10. Hidayat, D. R. (2011). Permasalahan mahasiswa. Diunduh dari:

http://www.kopertis3.or.id

Hurlock, E. B. (1990). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang

kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Kurzynski, M. J. (1998). The virtue of forgiveness as a human resource management strategy. Journal of Business Ethnics, 17, 77-85.

Latipun (2010). Pengembangan model konseling berfokus konflik resolusi antar teman sebaya di kalangan remaja. Waskita Mandiri Bimbingan Konseling. Diunduh dari: http://www.waskitamandiribk.wordpress.com

McCullough, M. E., Root, L. M., & Cohen, A. D. (2006). Writing about the benefits of an interpersonal transgression facilitates forgiveness. Journal of Counseling and Clinical

Psychology. 74(5), 887-897.

McCullough, M. E., Sandage, S. J., Brown, S. W., Rachal, K. C., Worthington, E. L., & High, T. L. (1998). Interpersonal forgiving in close relationships: II. Theoritical elaboration and measurement. Journal of Personality and Social Psychology. 75(6), 1586-1603.

McCullough, M. E, Wortington, E. L, & Rachal, K. C. (1997). Interpersonal forgiving in close relationships. Journal of Personality and Social Psychology. 73(2), 321-336. Nailiu, C. (1997). Arti kedewasaan dan aspek-aspeknya. (Skripsi tidak dipublikasikan).

(19)

Jurnal

NOETIC

Psychology Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2013

162

Nurcahyani, D. I. (2011). Ternyata, wanita lebih pemaaf ketimbang pria. Diunduh dari: http://lifestyle.okezone.com

Parmawati, S. B. (2008). Pemaafan terhadap pacar yang berselingkuh (studi pada remaja

akhir). (Skripsi tidak dipublikasikan). Depok: Universitas Indonesia.

Prasetyo, D. B., & Oriza, I. D. (2009). Perbedaaan forgiveness pada mahasiswa yang mengikuti bela diri aikido dengan mahasiswa yang tidak mengikuti bela diri aikido.

Jurnal Psibernetika, 2(2), 39-56.

Puspasari, T., Rostiana, D, N., & Nisfiannor, M. (2005). Hubungan antara komitmen beragama dan subjective well being pada remaja akhir. Jurnal Phronesis, 7(1), 1-27. Santrock, J. W. (2008). Psikologi pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Satria, Y. (2011). Persamaan hak dan persamaan derajat di Indonesia. Wordpress.

Diunduh dari: http://sirjordi.wordpress.com.

Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta: Kanisius.

Setyawan, I. (2007). Membangun pemaafan pada anak korban perceraian. Diunduh dari: http://www.eprints.undip.ac.id.pdf

Soesilo, V. A. (2006). Mencoba mengerti kesulitan untuk mengampuni: perjalanan menuju penyembuhan luka batin yang sangat dalam. VERITAS, 7(1), 115-125. Synder, C. R., & Lopez, S. J. (2007). Positive psychology: the scientific and practical

explorations of human strengths. United States of America: Sage Publications, Inc.

Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2009). Psikologi Sosial (12th ed). Jakarta: Prenada Media Group.

Utami, M. S. (2009). Keterlibatan dalam kegiatan dan kesejahteraan subjektif mahasiswa.

Jurnal Psikologi, 36(2), 144-163.

Wade, N. G,. & Worthington, E. L. (2005). In search of common core: a content analysis of interventions to promote forgiveness. Psychotherapy Journal, 42, 160-177.

Wardhati, L. T., & Faturochman. (2006). Psikologi pemaafan. Buletin Psikologi UGM,

14(1).

Widjaja, P. D., & Wulan, R. (1998). Hubungan antara asertivitas dan kematangan diri dengan kecenderungan neurotik pada remaja. Jurnal Psikologi, 2, 56-62.

Widodo, P. B. (2007). Perilaku agresi remaja ditinjau dari konsep diri dan pengelolaan diri. Jurnal Psycho Idea, 5(1), 35-50.

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian terakhir adalah pengujian robot Hanoman Duta yang mana pada pengujian ini gerakan robot berjalan digabungkan dengan gerakan tarian Hanoman Duta dan

Alat pemindahan bahan ( material handling equipment ) adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan muatan yang berat dari satu tempat ke tempat lain dalam jarak yang tidak

Beberapa penelitan yang telah dilakukan untuk meningkatkan literasi fisika melalui pengembangan bahan ajar berupa bahan pengayaan kontekstual seperti oleh Rofiah,

Az is feltehet ő kérdés, hogy miért lesz valaki konzer- vatív vagy liberális, feltéve, ha elismerjük, hogy a politikai orientációk sokdimen- ziósak, változtathatóak, és

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa sifat fisikokimia madu yang paling baik (sesuai SNI) dari desa Bonto Manurung kabupaten

Hasil penelitian menunjukkan OD biofilm pada kelompok yang diberi perlakuan penambahan larutan kombinasi EDTA 17% dan NaOCl 2,5% mempunyai OD yang rendah daripada

Data pre-test diolah dengan menggunakan rumus Anova (Rasio F) hasil pre-test menunjukkan tidak ada perbedaan hasil belajar siswa secara signifikan anatar kelas

- Tuhan telah menyediakan Keselamatan untuk semua orang baik yang dipilih- Nya ataupun bukan (Yohanes 3:16 “Allah sangat mengasihi orang didunia ini sehingga Dia memberikan