• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PAKAN BEBAS PILIH PADA MASA GROWER- DEVELOPER TERHADAP KINERJA PERTELURAN DINI AYAM WARENG-TANGERANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PAKAN BEBAS PILIH PADA MASA GROWER- DEVELOPER TERHADAP KINERJA PERTELURAN DINI AYAM WARENG-TANGERANG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PAKAN BEBAS PILIH PADA MASA

GROWER-DEVELOPER TERHADAP KINERJA PERTELURAN DINI

AYAM WARENG-TANGERANG

(The Effect of Grower-Developer Free Choice Feeding on Early Laying

Performance of Tangerang-Wareng Hens)

SOFJAN ISKANDAR,TRIANA SUSANTI danSONY SOPIYANA

Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRACT

Wareng chicken has been claimed as germ-plasm of chicken in Tangerang district, Banten province. The chicken was light breed with white plumage. The hen weight was less then one kg, and the rooster was only 1.1 kgs. The hen was hardly brooding with more than 30% egg production. There was no information on the nutrient requirements, therefore would for some extent providing nutrient requirement for Wareng chicken age 6 – 16 weeks. There were 160 six week sexed chicks divided into two feeding treatments: (1) Full feed with commercial ration of 19% dietary protein with 3000 kkal ME/kg, (2) Free choice feed commercial concentrate as a source of protein and ground yellow corn as source of energy. Each feeding treatment replicated in four containing 10 birds each replicate. The trial was carried out until the age of 16 weeks. Bodyweight and food consumption were recorded once every fortnight. The hens were then continued on layer commercial ration of 16% dietary protein with 2800 kkal ME/kg up to about 100 days laying period. Results respectively for birds on complete ration versus (vs) free choice feed were bodyweight gain of 910 vs 703 g/bird (P < 0.05), feed consumption of 2754 vs 2946 g/bird (P > 0.05), energy of 8288 vs 7757 kkal/bird (P > 0.05), protein of 556 vs 328 g/bird (P < 0.05), calcium of 47.36 vs 85.59 g/bird (P < 0.05), phosphorus of 17.07 vs 5.43 g/bird and fcr of 4.14 vs 5.54. Performance of early egg production was not influenced by the grower-developer free choice feeding. Ir it concluded that Wareng chicken for some extent could select feed for dietary energy but not for protein, calcium and phosphorus due to metabolic inhibition by nutrient imbalance in the ingredient served.

Key Words: Wareng Chicken, Free Choice Feed, Growth, Performance

ABSTRAK

Ayam wareng diakui sebagai ayam plasma nutfah di Kabupaten Tangerang Propinsi Banten. Ayam ini merupakan tipe ringan dengan bulu penutup putih. Ayam betina dewasa berbobot kurang dari satu kg dan ayam jantan sekitar 1,1 kg. Ayam betina tidak mengeram dan bertelur diatas 30%. Sampai sejauh ini belum ada informasi mengenai kebutuhan gizinya. Oleh karena itu suatu percobaan pemberian pakan bebas pilih yang dipisahkan sumber protein dari sumber energinya, kiranya dapat memberikan sedikit karakteristik tingkah laku makan. Sebanyak 160 ekor ayam berumur enam minggu terbagi atas dua kelompok perlakuan: 1) Ransum komplit dengan ransum komersial mengandung 19% protein dan 3000 kkal ME/kg, dan 2) Ransum bebas pilih yang terdiri dari konsentrat komersial sebagai sumber protein dan jagung kuning giling sebagai sumber energi. Kedua bahan disajikan terpisah dalam wadah yang berdampingan. Perlakuan terdiri dari empat ulangan berisi 10 ekor ayam per ulangan. Perlakuan diberikan sampai ayam berumur 16 minggu. Bobot badan dan konsumsi ransum diukur setiap dua minggu. Setelah umur 16 minggu ayam betina diberi ransum petelur komersial. Pengamatan kinerja perteluran dini dilakukan selama 100 hari pertama bertelur. Hasil menunjukkan untuk masing-masing kelompok ayam ransum komplit versus (vs) kelompok ayam ransum bebas pilih adalah bobot badan 910 vs 703 g/ekor (P < 0,05), energi 8288 vs 7757 kkal/ekor (P > 0,05), protein 556 vs 328 g/ekor (P < 0,05), kalsium 47,36 vs 85,59 g/ekor (P < 0,05), fosfor 17,07 vs 5,43 g/ekor (P < 0,05), efisiensi ransum (fcr) 4,14 vs 5,54 (P < 0,05). Kinerja perteluran dini tidak terpengaruh oleh pemberian ransum bebas pilih pada masa grower-developernya. Dapat disimpulkan bahwa untuk masa

grower-developer ayam Wareng mampu menentukan kebutuhan energinya, meskipun untuk protein, kalsium

dan fosfor masih terhambat oleh ketidak seimbangan gizi bahan pakan ransum bebas pilih yang disajikan.

(2)

PENDAHULUAN

Plasmanutfah ayam domestik di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu telah menjadi perhatian pemerintah. Komisi plasma nutfah nasional dibentuk untuk membangun berbagai upaya melestarikan berbagai macam plasmanutfah yang ada di tanah air. Ayam Wareng Tangerang yang diakui oleh pemerintah daerah kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, merupakan salah satu plasma nutfah ayam domestik yang perlu dilestarikan. Selama ini belum banyak laporan mengenai ayam Wareng Tangerang ini. SUSANTI et al. (2006) dan ISKANDAR et al. (2005) melaporkan bahwa ayam Wareng Tangerang dewasa mempunyai karakteristik lebih kecil dari rata-rata ayam Kampung tetapi lebih besar dari ayam kate hias. Bobot jantan dewasa maksimum 1,3 kg dan bobot betina dewasa maksimum 0,8 kg. Warna bulu dominan putih dengan jengger tunggal berwarna kulit kuning dan putih. Menurut SUTOMO (komunikasi pribadi) ayam Wareng Tangerang dewasa hanya mengkonsumsi ransum lengkap rata-rata per hari per ekor 50 – 60 g dan mempunyai besar dan warna telur mendekati besar dan warna telur ayam kampung.

Berbedanya ukuran tubuh pada suatu galur ayam akan menentukan kebutuhan gizi untuk mempertahankan hidup dan produktifitas biologisnya. Oleh karena itu penentuan kebutuhan gizi yang lebih tepat dapat mengantarkan kita pada upaya peningkatan efisiensi penggunaan pakan. Berbagai cara untuk mengetahui kebutuhan gizi unggas, diantaranya adalah pemberian ransum bebas pilih (POUSGA et al., 2005). Teknik ini mengandalkan pada kemampuan ayam untuk mengkonsumsi dua atau lebih bahan pakan dalam takaran tertentu berdasarkan kebutuhan individual dan kapasitas produksi. Kemampuan ayam dalam mengkonsumsi bahan pakan secara seimbang pada pemberian berbagai bahan pakan telah dilaporkan oleh banyak

peneliti (EMMANS, 1977; SUMMERS dan LEESON, 1978). CUMMING (1992) melaporkan bahwa pemberian pakan bebas pilih (biji-bijian dengan konsentrat protein dan calcium) pada ayam petelur mempunyai keuntungan finansial terutama untuk usahatani pemeliharaan ayam skala kecil di pedesaan.

Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat respon pertumbuhan dan konsumsi gizi ayam Wareng dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta kinerja perteluran dini.

MATERI DAN METODA

Sebanyak 160 ekor ayam Wareng umur 6 minggu jantan dan betina terpisah, dipakai dalam percobaan ini. Ayam dipelihara dalam kandang koloni terbuat dari kawat, berukuran 40 cm x 40 cm dengan tinggi 40 cm. Setiap kandang diisi dengan 8 ekor ayam. Pakan yang dipakai dalam percobaan ini yaitu ransum konsentrat komersial dan jagung giling halus yang diberikan secara terpisah dan ad libitum dalam tempat pakan yang disediakan di depan kandang. Air minum yang dialirkan terus menerus dari kran kedalam pipa paralon setengah lingkaran sepanjang kandang. Kandang-kandang koloni tersebut ditempatkan dalam bangunan beton tertutup cukup ventilasi dan penerangan. Bobot badan dan konsumsi ransum kelompok ulangan ayam diukur seminggu sekali. Kandungan gizi konsentrat, jagung dan pakan komplit dianalisa secara proksimat di laboratorium analisis kimia Balai Penelitian Ternak. Kandungan gizi ransum disajikan pada Tabel 1. Pengamatan dilakukan sampai dengan ayam berumur 16 minggu.

Percobaan dilaksanakan dengan mengikuti kaidah rancangan percobaan dengan faktor: dua bentuk pemberian ransum x dua jenis kelamin x empat ulangan dengan 8 ekor ayam setiap ulangan. Data diuji dengan analisis keragaman dan dilanjutkan dengan pengujian nilai rata-rata dengan uji beda nyata terkecil (STEEL dan TORRIE, 1991).

Tabel 1. Kandungan gizi ransum percobaan hasil analisis di Laboratorium Balai Penelitian Ternak

Ransum Protein kasar

(%) Energi kotor (kkal/kg) Kalsium (% Ca) Phosphorus (% P) Air (%) Konsentrat komersial 31,20 2555 15,00 1,30 8,53 Jagung 7,46 4375 0,01 0,24 12,70

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rataan pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, protein dan energi dan efisiensi penggunaan ransum disajikan pada Tabel 2.

Pertambahan bobot badan ayam yang diberi ransum komplit nyata (P < 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang diberi ransum bebas pilih. Sementara konsumsi ransum ayam yang diberi ransum komplit lebih rendah (P > 0,05) dibandingkan dengan konsumsi ransum ayam pada kelompok pemberian ransum bebas pilih. Namun jika dilihat pada konsumsi energi maupun proteinnya, ayam pada ransum komplit mengkonsumsi protein nyata (P < 0,05) lebih tinggi daripada konsumsi ayam pada perlakuan bebas pilih. Konsumsi ransum oleh ayam bebas pilih yang rata-rata 42 g/ekor/hari yang sedikit lebih tinggi dari ayam ransum komplit (39 g/ekor/hari) kelihatannya sudah mencapai kapasitas maksimum saluran pencernaan ayam Wareng atau bisa juga bahwa ayam ransum bebas pilih ini sudah memenuhi kebutuhan protein dan energi yang lebih rendah dari ayam ransum komplit. Persoalannya disini adalah apakah bobot badan yang dicapai pada umur 16 minggu oleh ayam ransum komplit tersebut merupakan bobot badan ideal (910 g/ekor) atau bobot badan ayam ransum bebas pilih (703 g/ekor). Ini tentunya perlu dibuktikan dengan salah satu variabel atau peubah lain seperti keseragaman tubuh ayam

betina dalam rangka mempersiapkan perteluran.

Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kebutuhan gizi untuk hidup pokok dan produksi versus kecukupan gizi dalam ransum. Sudah teridentifikasi bahwa ayam dapat menentukan kebutuhan pasokan protein dan energi (COWAN danMICHIE, 1978; MASTIKA dan CUMMING, 1987; SINURAT dan BALNAVE, 1986; SUMMERS dan LEESON, 1979). Penyediaan ransum bebas pilih dengan berbagai bahan pakan tentunya tidak sembarang bahan pakan, akan tetapi yang mengandung cukup kandungan nutrisi dan aroma rasa (flavours) yang disukai ayam (BALOG dan MILLARD, 1989). Oleh karena itu pemberian ransum konsentrat protein (dalam hal ini konsentrat komersial) dan konsentrat energi (jagung) diharapkan dapat memberikan keluasaan bagi ayam untuk dapat mengatur konsumsinya sesuai dengan kebutuhan untuk hidup pokok dan produksinya. Namun pengaturan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan kalsium (HUGHES, 1979), fosfor (HOLCOMBE et al., 1976), seng (HUGHES dan DEWAR, 1971; KIRCHGESSNER et al., 1990) terlihat pula pada ayam. Informasi ini memang menjadi komplek, sehingga ayam akan memilih yang paling utama (energi dan protein), namun besar kemungkinan pula ayam akan berhenti makan apabila terdapat flavours yang tidak disukai dan ketidakseimbangan gizi lain.

Tabel 2. Rataan pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, protein dan energi dan efisiensi ransum ayam

Wareng yang diberi ransum bebas pilih umur 6 – 16 minggu Pertambahan bobot badan g/ekor Konsumsi ransum g/ekor Konsumsi protein g/ekor Konsumsi energi kal/ekor Konsumsi Kalsium g/ekor Konsumsi Fosfor g/ekor Mati % Ransum (R) Komplit 910a1) 2754a 556a 8288a 47,36b 17,07a 10,31a Bebas pilih 703b 2946a 328b 7757a 85,59a 5,43b 5,45a LSD(0,05) 117 319 53 959 15,07 1,29 7,76 Sex (S) Jantan 910a 2829a 477a 8423a 76,38a 11,84a 8,89a Betina 703b 2519a 407b 7622a 56,57b 10,66a 6,88a LSD(0,05) 117 319 53 959 15,07 1,29 7,76 Interkasi R x S tbn tbn tbn tbn Tbn tbn Tbn

Nilai dengan tanda superscript yang sama, secara statistik tidak berbeda nyata (P > 0,05) tbn = tidak berbeda nyata (P > 0,05)

(4)

Ayam Wareng ransum bebas pilih mengkonsumsi kalsium (85,59 g/ekor) hampir dua kali lipat (P < 0,05) konsumsi kalsium dari ayam Wareng ransum komplit (47,36 g/ekor). Namun sebaliknya konsumsi fosfor (5,43 g/ekor) tiga kali lipat lebih rendah (P < 0,05) pada ayam ransum komplit (17,07 g/ekor). Besar kemungkinan perbedaan ini menyebabkan ayam ransum bebas pilih menunjukkan pertumbuhan, efisiensi ransum, efisiensi energi, dan efisiensi kalsium (Tabel 3) yang lebih rendah dari ayam ransum komplit, tetapi tidak dengan efisiensi protein. Tingginya efisiensi protein dan efisiensi fosfor pada ayam ransum bebas pilih besar kemungkinan hampir seluruh protein yang dikonsumsi dimanfaatkan oleh tubuh ayam, sementara pada ransum komplit ada kemungkinan kelebihan pasokan, seperti yang terlihat pada rasio energi: protein dan rasio kalsium: fosfor yang lebih rendah (P < 0,05) (Tabel 3).

Satu ukuran kualitas ransum adalah rasio kandungan energi terhadap proteinnya (E/P ratio). Rasio E/P intake ransum pada ayam ransum bebas pilih (24) lebih tinggi daripada ayam ransum komplit (14,89) dan berada pada rasio E/P ransum normal, seperti yang dilaporkan oleh HUSSEIN et al. (1996) untuk ayam dara ras petelur.

Ketidak terpenuhan gizi tubuh disebabkan salah satunya oleh kualitas bahan pakan yang

disajikan, terutama keseimbangan asam amino (CRUZ et al., 2005), sehingga diduga konsentrat yang diberikan pada ransum bebas pilih diduga (tidak dilakukan analisis kimiawi) tidak mengandung asam amino yang seimbang.

Selain energi dan protein, ayam mampu mengatur kebutuhan kalsium (HUGES, 1979 dan HOLCOMBE et al., 1975) dan fosfor (HOLCOMBE et al., 1976). Dari hasil analisis kimiawi, konsentrat yang diberikan dalam percobaan ini tidak mempunyai keseimbangan kalsium dan fosfor (Tabel 1). Dalam hal ini terlihat pula pada imbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor yang tinggi (15,60) untuk ransum bebas pilih dibandingkan dengan ransum komplit (2,77).

Ayam jantan menunjukkan superioritas performannya dari ayam betina seperti yang sudah diduga sebelumnya. Pertambahan bobot badan, konsumsi ransum dan peubah-peubah lainnya untuk ayam jantan lebih tinggi daripada untuk ayam betina (Tabel 2 dan 3).

Setelah perlakuan bebas pilih dihentikan pada umur 16 minggu, ayam kemudian diberi ransum developer komersial Gold Coin 104 crumble (protein kasar 15 – 16%, energi 2850 kkal ME/kg) sampai umur 18 minggu. Selanjutnya ransum petelur komersial Gold Coin 105 crumbel, kemudian diberikan. Pengaruh perlakuan ransum bebas pilih terhadap produksi telur disajikan pada Tabel 4.

Tabel 3. Rataan efisiensi nutrisi ayam Wareng yang diberi ransum bebas pilih umur 6 – 16 minggu

Perlakuan Efisiensi ransum (FCR) Energi efisiensi rasio (EFR) Protein efisiensi rasio (PER) Energi protein rasio (EPR) Kalsium efisiensi rasio (KER) Fosfor efisiensi rasio (FER) Kalsium fosfor rasio (KFR) Ransum (R) Komplit 4,14b1) 9,23a 0,62a 14,89b 0,07b 0,03a 2,77b Bebas pilih 5,54a 11,18a 0,47b 24,00a 0,15a 0,01b 15,60a LSD(0,05) 0,41 0,75 0,04 1,39 0,012 0,003 1,86 Sex (S) Jantan 4,41b 9,43b 0,52b 18,56b 0,13a 0,02a 10,44a Betina 5,26a 10,98a 0,57a 20,33a 0,09b 0,02a 7,93b LSD(0,05) 0,41 0,75 0,04 1,39 0,011 0,003 1,86 Interkasi R x S Tbn2) Tbn tbn tbn tbn tbn tbn

Nilai dengan tanda superscript yang sama, secara statistic tidak berbeda nyata (P > 0,05) tbn = tidak berbeda nyata (P > 0,05)

(5)

Pertambahan bobot ayam pada saat pertama bertelur dari ayam yang mendapat ransum komplit (883 g/ekor) lebih tinggi daripada ayam ransum bebas pilih (846 g/ekor), namun tidak berbeda nyata (P > 0,05). Besar kemungkinan kondisi ini disebabkan oleh adanya suatu mekanisme kompensasi pertumbuhan (compensatory growth) selesai perlakuan (LEESON dan SUMMERS, 1991). Namun dari keseragaman (uniformity) tubuh dan umur pertama bertelur (Tabel 5) ayam pada ransum bebas pilih menunjukkan keragaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam pada ransum komplit. Pemberian ransum bebas pilih pada masa developer ini kelihatannya memberikan suatu keuntungan dalam membentuk ayam yang lebih seragam, seperti yang diupayakan pada pemeliharaan ayam breeder (SINGH, 1999) dan pada ayam pedaging (ROSASRIO, 1999). Peubah yang menjadi tolok ukur kinerja masa bertelur dini untuk kedua kelompok ayam perlakuan, tidak berbeda nyata (P > 0,05). Masing-masing untuk ayam kelompok ransum komplit versus kelompok ayam ransum bebas pilih disajikan pada Tabel 4.

Bagaimanapun juga metoda ransum bebas pilih ini masih bisa diandalkan terutama untuk mengukur kebutuhan gizi ayam dengan mangandalkan kemampuan ayam dalam

menseleksi pakan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Seperti pada kasus ayam Wareng ini, ditunjukkan bahwa selama pengamatan 70 hari (umur 6 – 16 minggu), ayam hanya mengkonsumsi ransum rata-rata 40 g/ekor/hari dengan konsumsi energi 115 kkal/ekor/hari dan protein 7,9 g/ekor/hari untuk ayam ransum komplit dan 4,7 g/ekor/hari untuk ayam ransum bebas pilih. Informasi ini dapat selanjutnya dipakai untuk patokan formulasi ransum optimal. Namun percobaan ini masih menunjukkan kelemahan yaitu pada perlakuan ransum bebas pilih yang sebaiknya diperbaiki dengan memperhitungkan terlebih dahulu keseimbangan gizi bahan yang akan disajikan, sehingga data yang diperoleh dari pemberian ransum bebas pilih dengan bahan-bahan yang mempunyai kandungan gizi relatif seimbang.

KESIMPULAN

Ayam Wareng umur 6 – 16 minggu mampu mengatur kebutuhan energinya, namun untuk protein, kalsium dan fosfor terhambat oleh ketidak seimbangan kalsium dan fosfor dalam konsentrat komersial yang disajikan. Pemberian ransum bebas pilih pada ayam Wareng umur 6 – 16 minggu tidak mempengaruhi kinerja produksi telur dini.

Tabel 4. Rataan bobot badan pertama bertelur, umur pertama bertelur, bobot telur pertama, dan produksi

telur selama masa produksi 100 hari ayam Wareng yang diberi ransum bebas pilih pada umur 6 – 16 minggu

Perlakuan Bobot badan pertama bertelur g/ekor

Bobot telur pertama g/butir

Produksi telur butir/ekor

Umur pertama bertelur hari/ekor

Komplit 883a 23,2a 36,7a 153,6a

Bebas pilih 846a 22,7a 33,3a 143,5a

LSD (0,05) 62 1,8 9,9 12,5

Nilai dengan tanda superskript yang sama, secara statistik tidak berbeda nyata (P > 0,05) tbn = tidak berbeda nyata (P > 0,05)

Tabel 5. Sebaran bobot badan pertama bertelur dan umur pertama bertelur ayam Wareng yang diberi ransum

bebas pilih pada umur 6 – 16 minggu

Bobot badan pertama bertelur g/ekor Umur pertama bertelur hari/ekor Peubah

Komplit Bebas pilih Komplit Bebas pilih

Rata-rata ± sb1) 883 ± 129 (cv2) = 14,61%) 846 ± 95 (cv = 11,23%) 154 ± 26 (cv = 16,88%) 143 ± 18 (cv = 12,58%) Minimum 598 624 137 108 Maximum 1068 980 237 183

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih ini kami sampaikan kepada Pak Armin Sutomo atas bantuan penyediaan ayam Wareng dan Bapak Kusnan, staf Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, Banten atas keterangan mengenai keberadaan ayam Wareng di Tangerang.

DAFTAR PUSTAKA

BALOG,J.M.andR.J.MILLARD.1989.Influence of the sense of taste on broiler chick feed consumption. Poult. Sci. 68: 1519 – 1526. COWAN,P.J.andW.MICHIE. 1978. Environmental

temperature and broiler performance: The use of diets containing increasing amount of protein. Brit. Poult. Sci. 19: 601 – 605

CRUZ,V.C.,A.C.PEZZATO,J.C.GONCALVES andJ.R. SARTORI. 2005. Effect of free choice feeding on the performance and ileal digestibility of nutrients in broilers. Rev. Bras. Cienc. Avic 7(3) http://www.scielo.br/scielo.php?script= sci_arttext&pid=S1516-635x2005000300002 (26 Juni 2006).

CUMMING,R.B. 1992. The advantage of free choice feeding for village chicken. In proceedings of XIX World’s Poultry Congress, Amsterdam, P525 – P427.

EMMANS G.C. 1977. The nutrient intake of laying hens given a choice of diets in relation to their production requirements. Brit. Poult. Sci. 18: 227 – 250.

HOLCOMBE, D.J.,D.A. ROLAND and R.H.HARMS. 1975. The ability of hens to regulate phosphorus intake when offered diets containing different levels of phosphorus. Poultry Science 55: 308 – 317.

HOLCOMBE, D.J., D.A. ROLAND and R.H.HARMS. 1976. The ability of hens to regulate calcium intake when given a choice of diet containing two levels of calcium. Poult. Sci. 54: 552 – 561. HUGHES,B.O.and W.A.DEWAR. 1971. A specific

appetite for zinc-depleted domestic fowls.

Brit. Poult. Sci. 12: 255 – 258

HUGHES,B.O. 1979. Appettite for specific nutrients.

In: Food Intake Regulation in Poultry.

BOORMAN, K.N. and B.M. FREEMAN (Eds.).

Brit. Poult. Sci. Ltd. Edinburgh. pp. 141 – 169.

HUSSEIN,A.S.,A.H.CANTOR, A.J.PESCATORE and T.H.JOHNSON. 1996. Effect of dietary protein and energy levels on pullet development.

Poult. Sci. 75:973 – 978.

ISKANDAR S., T.SUSANTI,S.SOPIYANA,E.WAHYU, R. HERNAWATI dan E. MARDIAH. 2006. Evaluasi Performans Ayam Wareng, Pembekuan Semen Ayam Kampung, Eksplorasi dan Koleksi Ayam Lokal Lainnya. Laporan Hasil Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2005. Puslitbang Peternakan, Bogor. KIRCHGESSNER,R.,U.STEINRUCK andR.X.ROTH. 1990. Selective zinc intake in broilers. J.

Anim. Physiol. Anim. Nutr. 64: 250 – 260.

LEESON,S. andJ.D. SUMMERS. 1991. Commercial Poultry Nutrition. University Books, Guelp, Ontario Canada. pp. 160.

MASTIKA,M. andR.B.CUMMING. 1987. Effect of previous experience and environmental variation on the performance and pattern of feed intake of choice fed and complete feed broiler. Recent Advance in Animal Nutrition in Australia. FARRELL,D.J. (Ed.). University of New England, Armidale NSW. Pp. 260 – 282 POUSGA S., H. BOLY and B. OGLE. 2005. Choice

feeding of poultry: a review. Livestock Research for Rural Development, 17(4). Art. # 45. Retrieved March 16, 2006 from http://www.cipav.org.co/lrrd17/4/pous17405.h tm.

ROSASRIO,K.J. 1999. Broiler uniformity. Poult. Int. 38(10): 26 – 32.

SINGH, K.B. 1999. Bodyweight uniformity and breeder productivity. Poult. Int. 38(14): 54 – 58

SINURAT,A.P.andD.BALNAVE, 1986. Free choice feeding at high temperature. Brit. Poult. Sci. 29: 557 – 584.

STEEL,R.G.D.dan J.H.TORRIE. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. hlm. 455 – 470.

SUMMERS J.D. and S. LEESON. 1978. Dietary selection of protein and energy by broiler.

Brit. Poult. Sci. 19: 425 – 430.

SUSANTI T., S. ISKANDAR danS.SOPIYANA. 2006. Karakteristik kualitatif dan ukuran-ukuran tubuh ayam Wareng. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 5 – 6 September 2006. Puslitbang Peternakan, Bogor (inpress).

Referensi

Dokumen terkait

Algoritma Min-mAx merupakan algoritma yang digunakan untuk menemukan langkah terbaik dalam permainan catur, sedangkan Algoritma Alpha Beta Pruning adalah algoritma

GAMIT adalah sebuah paket perangkat lunak ilmiah yang digunakan untuk pengolahan data pengamatan GPS yang dikembangkan oleh MIT ( Massachusetts Institute of Techology ) dan SIO

PEMOTONGAN / PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN OLEH BENDAHARA PPh Ps.21/26 PPh Ps.21/26 Dibayarkan kepada ORANG PRIBADI sehubungan dgn: Pekerjaan Jabatan Jasa Kegiatan

Perhitungan luas bontos/penampang kayu yang terdapat pada penampang bujur sangkar dengan ukuran 2 meter x 2 meter, diperoleh dengan mengukur seluruh diameter kayu bundar

Hasil dari pengujian pull out ini, tulangan bambu mengalami keruntuhan tarik sehingga untuk nilai kuat tarik bambu pilin dapat diolah menggunakan hasil beban

Disebutkan bahwa posisi penampang kritis adalah pada jarak yang tidak lebih dari setengah tebal efektif pelat (d/2) dari muka kolom atau dari tepi luar tulangan geser jika

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daging buah kurma ajwa berpengaruh secara signifikan terhadap hitung limfosit dan basofil tetapi tidak terdapat pengaruh

Aspek Infrastruktur Teknologi meliputi aksesbilitas teknologi, ketersediaan fitur, sistem pengamanan, dan perlindungan data: Aksesbilitas teknologi adalah kemampuan teknologi yang