• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. money laundering merupakan istilah yang sering didengar dari berbagai media

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. money laundering merupakan istilah yang sering didengar dari berbagai media"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindak pidana pencucian uang atau yang lebih dikenal dengan istilah

money laundering merupakan istilah yang sering didengar dari berbagai media

massa, oleh sebab itu banyak pengertian yang berkembang sehubungan dengan

istilah pencucian uang. Sutan Remi Sjahdeini menggarisbawahi, dewasa ini istilah

money laundering sudah lazim digunakan untuk menggambarkan usaha-usaha

yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum untuk melegalisasi uang “kotor”,

yang diperoleh dari hasil tindak pidana.1

“Term used to describe investment or other transfer of money flowing from racketeering, drug transaction, and other illegal sources into legal channels so that its original source cannot be traced.”

Dalam Black’s Law Dictionary karya

Henry Campbell Black (1990), money laundering didefinisikan sebagai berikut:

2

Istilah ini menggambarkan bahwa pencucian uang (money laundering)

adalah penyetoran atau penanaman uang atau bentuk lain dari pemindahan atau

pengalihan uang yang berasal dari pemerasan, transaksi narkotika, dan

sumber-sumber lain yang ilegal melalui saluran legal, sehingga sumber-sumber asal uang tersebut

tidak dapat diketahui atau dilacak.3

Istilah pencucian uang atau money laundering dikenal sejak tahun 1930 di

Amerika Serikat, munculnya istilah tersebut erat kaitannya dengan perusahaan

1

Aziz Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 17.

2

Bismar Nasution, Rejim Anti-Money Laundering di Indonesia, (Bandung: BooksTerrace & Library Pusat Informasi Hukum Indonesia, 2008), hlm.17.

3

(2)

laundry. Hal ini dikarenakan pada masa itu kejahatan pencucian uang tersebut

dilakukan oleh organisasi kejahatan mafia melalui pembelian

perusahaan-perusahaan pencuci pakaian atau laundry sebagai tempat untuk melakukan

pencucian uang hasil kejahatan, dari sanalah muncul istilah money laundering.4 Menurut Aziz Syamsuddin, tindak pidana pencucian uang adalah tindakan

memproses sejumlah besar uang ilegal hasil tindak pidana menjadi dana yang

kelihatannya bersih atau sah menurut hukum, dengan menggunakan metode yang

canggih, kreatif dan kompleks. Atau, tindak pidana pencucian uang sebagai suatu

proses atau perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan

asal-usul uang atau harta kekayaan, yang diperoleh dari hasil tindak pidana yang

kemudian diubah menjadi harta kekayaan yang seolah-olah berasal dari kegiatan

yang sah.5

Tindak pidana pencucian uang ini bukan hanya bisa dilakukan oleh

perorangan saja tetapi juga dapat dilakukan oleh korporasi. Indonesia sebagai

salah satu negara berkembang di dunia ini, sangat menitikberatkan perkembangan

dan pembangunan ekonominya kepada sektor swasta yang didominasi oleh

korporasi. Oleh karena itu hubungan antara tindak pidana pencucian uang dengan

korporasi ini sangatlah erat. Perkembangan teknologi yang semakin maju pesat

juga membawa pengaruh terhadap tindak pidana pencucian uang, salah satunya

yang dilakukan oleh korporasi dapat dengan mudah terjadi dan menghasilkan

kekayaan dalam jumlah yang sangat besar.

4 Ibid., hlm. 19 5 Ibid., hlm. 19

(3)

Korporasi bagi orang awam dimengerti hanya sebagai perusahaan saja,

tetapi sebetulnya dalam hukum, korporasi mempunyai pengertian yang lebih

detail. Kata korporasi menurut Kamus Hukum Fockema Andreae : “Corporatie:

dengan istilah ini kadang-kadang dimaksudkan suatu badan hukum; sekumpulan

manusia yang menurut hukum terikat mempunyai tujuan yang sama, atau

berdasarkan sejarah menjadi bersatu, yang memerlihatkan sebagai subjek hukum

tersendiri dan oleh hukum dianggap sebagai suatu kesatuan...”.6

Secara umum ada dua alasan pokok yang menyebabkan praktik pencucian

uang diperangi dan dinyatakan sebagai tindak pidana, sebagai berikut:

Korporasi ini

dapat berupa bank, perusahaan efek (dalam hal terjadi tindak pidana pencucian

uang di pasar modal), dan sebagainya.

Pertama, Pengaruh pencucian uang pada sistem keuangan dan ekonomi

diyakini berdampak negatif bagi perekonomian dunia. Misalnya, dampak negatif

terhadap efektifitas penggunaan sumber daya dan dana yang banyak digunakan

untuk kegiatan tidak sah dan menyebabkan pemanfaatan dana yang kurang

optimal, sehingga merugikan masyarakat. 7

Hal tersebut terjadi karena uang hasil tindak pidana diinvestasikan di

negara-negara yang dirasakan aman untuk mencuci uangnya, walaupun hasilnya

lebih rendah. Uang hasil tindak pidana ini dapat saja beralih dari suatu negara

yang perekonomiannya kurang baik. Dampak negatifnya money laundering bukan

hanya menghambat pertumbuhan ekonomi dunia saja, tetapi juga menyebabkan

6 N.E Algra, H.W. Gokkel, Saleh Adiwinata, A. Teloeki, Boerhanoeddin St. Batoeah,

Kamus Istilah Hukum Fockma Andreae Belanda – Indonesia (Bandung : Binacipta, 1983), hal.83.

(4)

kurangnya kepercayaan publik terhadap sistem keuangan internasional, fluktuasi

yang tajam pada nilai tukar suku bunga dan dapat mengakibatkan ketidakstabilan

pada perekonomian nasional dan internasional.8

Kedua, dengan ditetapkannya pencucian uang sebagai tindak pidana akan

memudahkan penegak hukum untuk melakukan penindakan terhadap pelaku

kejahatan tersebut. Misalnya, menyita hasil tindak pidana yang susah dilacak atau

sudah dipindahtangankan kepada pihak ketiga. Dengan cara ini pelarian uang

hasil tindak pidana dapat dicegah. Orientasi pemberantasan tindak pidana sudah

beralih dari “menindak pelakunya” ke arah menyita “hasil tindak pidana”.

Pernyataan pencucian uang sebagai tindak pidana juga merupakan dasar bagi

penegak hukum untuk memidanakan pihak ketiga yang dianggap menghambat

upaya penegakan hukum.9

Adanya sistem pelaporan transaksi dalam jumlah tertentu dan transaksi

yang mencurigakan, memudahkan para penegak hukum untuk menyelidiki kasus

pidana sampai kepada tokoh-tokoh dibelakang tindak pidana pencucian uang yang

biasanya sulit dilacak dan ditangkap, karena pada umumnya mereka tidak terlihat

dalam pelaksanaan tindak pidana, tetapi menikmati hasil tindak pidana tersebut.

Oleh karena akibat dari pencucian uang dapat mengakibatkan

ketidakstabilan pada perekonomian nasional dan internasional, maka pihak-pihak

yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang

harus melakukan tugasnya secara optimal. Pihak-pihak tersebut antara lain :10 1. Bank Indonesia

8

Ibid., hlm. 13

9 Ibid.

(5)

Merupakan pengawas dan pembina industri perbankan, yaitu bank umum

dan bank perkreditan rakyat, pedagang valuta asing dan kegiatan usaha

pengiriman uang (KUPU). Beberapa ketentuan yang terdapat dalam peraturan

Bank Indonesia yang mendukung pencegahan tindak pidana pencucian uang,

misalnya peraturan tentang penerapan KYC (Know Your Customer) dan

penugasan khusus Direktur Kepatuhan pada bank umum untuk dapat

menerapkan ketentuan perbankan yang sehat.

2. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan)

PPATK adalah lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas

dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dan

bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Dalam

menjaga keindependenannya, ketentuan mengenai PPATK dalam

hubungannya dengan tindak pidana pencucian uang diatur dalam UU RI No.

8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana

Pencucian Uang yang melarang setiap orang untuk melakukan segala bentuk

campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang PPATK. Di sisi

lain, PPATK diwajibkan menolak dan/atau mengabaikan segala bentuk

campur tangan dari pihak manapun.

Fungsi PPATK dalam melaksanakan tugas mencegah dan memberantas

tindak pidana pencucian uang, sebagai berikut :

a. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;

b. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK;

(6)

d. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan

yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana

lain.11 3. Pihak Pelapor

Pihak pelapor dalam tindak pidana pencucian uang, meliputi

pihak-pihak sebagai berikut:12 a. penyedia jasa keuangan:

1) bank;

2) perusahaan pembiayaan;

3) perusahaan asuransi dan perusahaan pialang asuransi;

4) dana pensiun lembaga keuangan;

5) perusahaan efek;

6) manajer investasi;

7) kustodian;

8) wali amanat;

9) perposan sebagai penyedia jasa giro;

10) pedagang valuta asing;

11) penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu;

12) penyelenggara e-money dan/atau e-wallet;

13) koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam;

14) pegadaian;

11

Pasal 40 UU RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

12

Pasal 17 ayat (1) UU RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(7)

15) perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditi;

16) penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang.

b. penyedia barang dan/atau jasa lain:

1) perusahaan properti/agen properti;

2) pedagang kendaraan bermotor;

3) pedagang permata dan perhiasan/logam mulia;

4) pedagang barang seni dan antik; atau

5) balai lelang.

4. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK)

Merupakan lembaga yang bertugas melakukan pembinaan, pengaturan,

dan pengawasan di bidang pasar modal dan lembaga keuangan nonbank. Terkait

dengan pelaksanaan rezim anti pencucian uang, sebagai tindakan pencegahan,

Bapepam-LK mengekuarkan kebijakan sesuai dengan Keputusan Ketua

BAPEPAM-LK No. Kep-476/BL/2009 tentang Prinsip Mengenal Nasabah (PMN)

oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal. Penyedia Jasa Keuangan di

Bidang Pasar Modal antara lain perusahaan efek, pengelola reksa dana, dan

kustodian. Sementara itu, yang dimaksud dengan lembaga keuangan non-bank

antara lain perasuransian, dana pensiun, dan lembaga pembiayaan.

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar

Modal, BAPEPAM-LK juga berwenang mengadakan pemeriksaan, penyidikan,

bahkan menerapkan sanksi administratif terhadap setiap pihak yang melakukan

pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

(8)

Merupakan regulator / pengawas perposan sebagai salah satu pengelola

jasa keuangan (PJK) berdasarkan UU RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan

dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

6. Kementrian Perdagangan

Merupakan regulator / pengawas perdagangan.

7. Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC)

Merupakan salah satu unit di bawah Kementrian Keuangan yang juga

bagian dari rezim anti-pencucian uang terkait dengan pelaporan Cross Border

CashCarrying (CBBC), yaitu pembawaan uang fisik lintas negara.

8. Penegak hukum

Berikut ini adalah penegak hukum terkait dengan tindak pidana pencucian

uang.

a. Penyidik Tindak Pidana Asal

Penyidikan tindak pidana pencucian uang dilakukan oleh penyidik

tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan

peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain menurut UU

RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak

Pidana Pencucian Uang. Sementara itu, yang dimaksud dengan

“penyidik tindak pidana asal” adalah pejabat dari instansi yang oleh

undang-undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan

sebagai berikut :

1) Kepolisian Negara Republik Indonesia

(9)

3) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

4) Badan Narkotika Nasional (BNN)

5) Direktorat Jenderal Pajak

6) Direktorat Jenderal Bea Cukai

Penyidik tindak pidana asal dapat melakukan penyidikan tindak

pidana pencucian uang apabila menemukan bukti permulaan yang

cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang saat melakukan

penyidikan tindak pidana asal sesuai kewenangannya.

b. Pengadilan

Melaksanakan pemeriksaan perkara tindak pidana pencucian uang

pada sidang pengadilan. Khusus di pengadilan tindak pidana korupsi,

perkara yang diproses selain pekara tindak pidana korupsi juga perkara

tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana korupsi.

B. Perumusan Masalah

Sesuai dengan topik pembahasan di atas penulis merumuskan beberapa

hal yang akan dikaji dalam tulisan ini yaitu :

1. Bagaimana pengaturan tentang tindak pidana pencucian uang?

2. Bagaimanakah bentuk-bentuk tindak pidana pencucian uang oleh

korporasi?

(10)

C. Tujuan dan Manfaat

Secara umum tujuan utama penulisan skripsi ini adalah untuk

memenuhi kewajiban dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Hukum dari

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Secara khusus lagi, tujuan penulisan skripsi ini disesuaikan dengan

permasalahan yang sudah dirumuskan. Adapun yang menjadi tujuan penulisan

skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaturan tentang tindak pidana pencucian uang.

2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk tindak pidana pencucian uang oleh

korporasi.

3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban hukum dalam tindak pidana

korporasi sesuai dengan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Di samping tujuan di atas diharapkan juga skripsi ini memberi manfaat sebagai

berikut :

1. Secara teoritis, pembahasan ini bisa menjadi tambahan ilmu dalam hukum

ekonomi. Dan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan dan

pencegahan terhadap tindak pidana pencucian uang di Indonesia

2. Secara praktis, pembahasan skripsi ini diharapkan dapat menjadi tambahan

pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada

khususnya untuk mengetahui terjadinya tindak pidana pencucian uang

(11)

D. Keaslian Penulisan

“Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi

Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan

Tindak Pidana Pencucian Uang” yang diangkat sebagai judul skripsi ini telah

diperiksa dan diteliti secara administrasi dan judul tersebut belum pernah

ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sebelumnya. Jadi,

penulisan dan pembahasan skripsi ini dengan mengangkat judul tersebutdi atas

dapat dikatakan asli dan sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional

dan objektif serta terbuka. Semua ini merupakan implikasi ciri dari proses

menemukan kebenaran ilmiah, sehingga pengangkatan judul di atas dapat juga

dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

E. Tinjauan Kepustakaan

Adapun yang menjadi pengertian secara etimologis daripada judul

skripsi ini adalah :

1. Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dapat dipidana atau

dihukum.13

2. Pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur

tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.14 3. Korporasi adalah kumpulan orang dan / atau kekayaan yang terorganisasi,

baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.15

13

Tb. Irman S., Hukum Pembuktian Pencucian Uang(Money Laundering), (Jakarta: MQS Publishing, 2006), hlm. 37.

14

Pasal 1 (1) UU RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan PemberantasanTindak Pidana Pencucian Uang

(12)

4. Berdasarkan dapat disinonimkan dengan kata menurut atau sesuai

5. Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 adalah Undang-Undang Republik

Indonesia tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana

Pencucian Uang yang disahkan pada tanggal 22 Oktober 2010

( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 122)

F. Metode Penulisan

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah

dengan melakukan penelitian hukum yang mengacu kepada norma-norma

hukum yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain,

digunakan metode penelitian hukum normatif, yaitu penelitian dengan hanya

menggunakan data-data sekunder. Metode penelitian hukum normatif adalah

suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan

logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.16

15

Pasal 1 (10) UU RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan PemberantasanTindak Pidana Pencucian Uang

Penelitian ini bersifat deskriptif.

Tujuan penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara tepat, sifat individu,

suatu gejala, keadaan atau kelompok tertentu, asas-asas atau suatu

peraturan-peraturan hukum dalam konteks teori-teori hukum dan pelaksanannya, serta

menganalisa secara cermat tentang penggunaan peraturan perundang-undangan

yang mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang.

16

Johnny Ibrahim, Teori Metode dan Penelitian Hukum Normatif, (Malang : Bayumedia Publishing, 2005), hal. 47.

(13)

2. Data

Berhubung karena metode penelitian adalah penelitian hukum normatif

maka data-data yang dipergunakan adalah data-data berupa bahan hukum yang

berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang seperti :

a) Bahan Hukum Primer yaitu : bahan-bahan hukum atau dokumen

peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang

khusus yang berkaitan dengan masalah merger atau penggabungan

perusahaan yang ada dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah

yang dijadikan sasaran peraturan pelaksananya.

b) Bahan hukum sekunder yaitu : bahan-bahan yang memberikan

penjelasan tentang bahan hukum primer.

c) Bahan hukum tertier yaitu : kamus, bahan dari internet dan lain-lain

bahan hukum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum

primer dan bahan hukum sekunder.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini, digunakan teknik pengumpulan data

melalui Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian dengan

mengumpulkan data dan meneliti melalui sumber bacaan yang berhubungan

dengan judul skripsi ini, yang bersifat teoritis ilmiah yang dapat dipergunakan

sebagai dasar dalam penelitian dan menganalisa masalah-masalah yang

dihadapi. Teknik ini dipergunakan untuk mengumpulkan data sekunder.

(14)

perundang-undangan maupun karya ilmiah para sarjana, majalah, surat kabar,

internet maupun sumber teoritis lainnya yang berkaitan dengan materi skripsi

yang diajukan.

4. Analisa Data

Analisis data dilakukan secara kualitatif yakni pemilihan teori-teori,

asas-asas, norma-norma, doktrin dan pasal-pasal di dalam Undang-Undang

yang relevan dengan permasalahan, membuat sistematika dari data-data

tersebut sehingga akan menghasikan kuslifikasi tertentu yang sesuai dengan

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Data yang dianalisis

secara kualitatif akan dikemukakan dalam bentuk uraian secara sisteatis pula,

selanjutnya semua data diseleksi, diolah kemudian dinyatakan secara deskriptif

sehingga dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dimaksud

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penulisan dan penjabaran tulisan ini maka

penelitian ini akan dibagi menjadi 5 (lima) bab dengan sistematika sebagai

berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan secara ringkas latar belakang, pokok

permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan,

tinjauan kepustakaan, metode penulisan dan sistematika

(15)

BAB II : PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengaturan tindak pidana

pencucian uang, mencakup sejarah dan pengaturan pencucian

uang, serta pengaturan tentang korporasi secara umum.

BAB III : BENTUK-BENTUK TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

OLEH KORPORASI

Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengaturan korporasi di

Indonesia dan bentuk-bentuk tindak pidana pencucian uang yang

dilakukan oleh korporasi.

BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN KORPORASI DALAM TINDAK

PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING)

Dalam bab ini akan dibahas mengenai unsur-unsur penentuan

kooporasi melakukan praktek money laundering, tanggung jawab

korporasi dalam rezim anti-money laundering dan bentuk

pertanggungjawaban korporasi yang melakukan praktek money

laundering.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen penelitian ini terdiri dari Motivasi, kepemimpinan dan kinerja pegawai, dilakukan terhadap 34 orang Pegawai Kantor Koperasi Beringin Jaya Palembang

Pengaruh langsung antar karakter kopi Arabika: panjang cabang primer (PCP), jumlah cabang sekunder (JCS), jumlah ruas cabang primer (JRCP), jumlah ruas pada batang (JRB), tebal

Persentase saldo pemanfaatan airtanah di CAT Menoreh tahun 2021 dominan tinggi di Kecamatan Nanggulan Pengasih, dan Lendah (tergolong memiliki cadangan yang sangat

Hal ini ditunjukkan oleh pangsa produksi dalam negeri terhadap ketersediaan pangan nasional rata-rata mencapai lebih dari 96 persen Fakta tersebut menunjukkan

Melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu pasca sarjana untuk mendapatkan gelar magister (S-2). Tujuan PPAk adalah untuk menghasilkan akuntan professional dengan

Surat Keputusan KASAD Nomor Kep/496/VII/2015 tentang Tata Cara Perkawinan, Perceraian, dan Rujuk bagi Prajurit AD menyebutkan bahwa ada beberapa alasan

Hasil dari regresi dengan metode OLS diperoleh R 2 (Koefisien Determinasi) sebesar 0.731 artinya variabel dependen (Y) dalam model yaitu ketimpangan pendapatan

„Kada ja volim Boga, ja sam uho kojim On sluša, ja sam pogled kojim On gleda, ja sam ruka kojom On kuje, noga kojom On hoda ". Od Boga sve dolazi, i to je objava. Bogu se sve