• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kegiatan Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kegiatan Tahun"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 2

BAB I

PENDAHULUAN

Pada Tahun 2013, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan telah melaksanakan beberapa kegiatan utama dan pendukungantara lain, melaksanakan Kajian Arah Kebijakan Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan Nasional 2015 – 2019; merumuskan Isu Strategi Kebijakan dan Sasaran Penataan Ruang Wilayah Nasional dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Reforma Agraria; melakukan Identifikasi Kinerja Pelaksanaan Prioritas Nasional dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Reforma Agraria; melaksanakan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Pertanahan untuk Input Penyusunan RPJMN 2015 - 2019; Koordinasi Strategis Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN); serta koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (RAN).

Kegiatan-kegiatan tersebut masing-masing terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan yang akandijelaskan secara mendetail pada laporan ini.

A. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Tata RuangdanPertanahan

Tugas dan Fungsi Direktorat Tata RuangdanPertanahanadalah melaksanakan pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaannya di Bidang Tata Ruang dan Pertanahan.Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan menyelenggarakan fungsi:

1. Subdit Tata Ruang

 Pengkajian kebijakan dan peraturan di bidang tata ruang;

 Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang;

 Penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang tata ruang;

 Penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang tata ruang;

 Pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang tata ruang;

 Pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang tata ruang.

2. Subdit Pertanahan

 Pengkajian kebijakan dan peraturan di bidang pertanahan;

 Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang pertanahan;

 Penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang pertanahan;

 Penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang pertanahan;

 Pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang pertanahan.

(3)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 3 3. Subdit Infosos

 Pelaksanaan sosialisasi hasil pengkajian kebijakan di bidang tata ruang dan pertanahan;

 Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di bidang informasi tata ruang dan pertanahan;

 Penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang informasi tata ruang dan pertanahan;

 Penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang informasi tata ruang dan pertanahan;

 Pelaksanaan inventarisasi dan analisis berbagai kebijakan dan informasi yang berkaitan dengan penyiapan rencana pendanaan pembangunan di bidang informasi tata ruang dan pertanahan;

 Pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan, dan program-program pembangunan di bidang informasi tata ruang dan pertanahan.

B. Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan terdiri atas tiga sub-direktorat. Setiap sub-direktorat diperkuat oleh PNS dan staf Non PNS. Direktorat TRP juga menjalankan tugas khusus selaku pengelola Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional dan Sekretariat Koordinasi Reforma Agraria Nasional. SusunanorganisasiDirektorat Tata RuangdanPertanahandapat dilihat pada Gambar 1.

Keterangan: *) mulai bertugas pada tanggal 17 September 2013

Gambar 1.Struktur Organisasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Direktur TRP *

Dr. Ir. Oswar Mungkasa, MURP

Administrasi PNS: Cecep S Sylvia K Non PNS: Rahajeng Pramushinto, ST Fungsional Perencanaan Madya

Hernydawaty, ME Nana Apriyana, MT Rinella Tambunan, MPA

Kasubdit Pertanahan Uke M. Hussein, MPP

Sekretariat Koordinasi RAN Non PNS: Dea Chintantya, ST Gita Nurahmi, ST Sekretariat BKPRN Non PNS: Chandrawulan P, ST Cindie Ranotra P, ST Octavia Rahma M, SH Redha Sofiya, ST Zahratul H, ST

Kasubdit Informasi dan Sosialisasi TRP Mia Amalia, PhD

Kasubdit Tata Ruang Dwi Hariyawan, MA PNS: Agung Dorodjatoen, MSc Aswicaksana, MT, MSc Non PNS: Riani Nurjanah, ST PNS: Santi Yulianti, MSc Non PNS: Astri Yulianti, S.Kom Gina Puspitasari, ST Indra Ade S, S.Kom PNS:

Raffli Noor, SSi Non PNS: Idham Khalik, MP

Tenaga Pendukung Non PNS:

(4)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 4

C. Anggaran Direktorat Tata RuangdanPertanahan Tahun 2013

Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan tahun 2013sebesar Rp.3.949.415.000,-.Status penyerapanAnggaran per 31 Desember 2013 cukup tinggi mencapai 99,4%.Grafik penyerapan anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Tahun 2013 dapat dilihat pada Gambar 2.

Keterangan: RM : Rupiah Murni

Gambar 2.Grafik Kinerja Anggaran Direktorat Tata Ruang dan PertanahanTahun Anggaran 2013

Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Des

% RM 11.9 17.4 23.3 28.5 44.1 46.2 63.5 78.1 99.4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 P e n ye ra p an (% )

(5)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 5

BAB II

RENCANA KERJA TAHUN 2013

A. Rencana Kerja

RencanaKerjaDirektorat Tata RuangdanPertanahanpadatahun 2013adalahsebagaiberikut:

1. Melaksanakan Kajian Arah Kebijakan Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan Nasional 2015 – 2019;

2. Merumuskan Isu Strategi Kebijakan dan Sasaran Penataan Ruang Wilayah Nasional dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Reforma Agraria;

3. Melakukan Identifikasi Kinerja Pelaksanaan Prioritas Nasional dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Reforma Agraria;

4. Melaksanakan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Pertanahan untuk Input Penyusunan RPJMN 2015 - 2019;

5. Koordinasi Strategis Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN); 6. Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (RAN).

B. Capaian RPJMN 2010-2014

Capaian untuk Bidang Tata Ruang pada RPJMN 2010-2014, antara lain: (1) ditetapkannya beberapa peraturan pelaksanaan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Peraturan PemerintahNomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, PP No. 68 /2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang, dan PP No. 8/2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang; (2) Tersusunnya Peraturan Presiden untuk Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan RTR Pulau yang sejalan dengan enam koridor ekonomi prioritas, yang hingga akhir tahun 2013 telah ditetapkan 4 (empat) Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau (Jawa-Bali, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan) serta 4 (empat) RTR KSN (Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro), Makassar-Maros-Sungguminasa-Takalar (Mamminasata), Batam-Bintan-Karimun (BBK), dan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan (Sarbagita)); (3) Terselesaikannya Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi(RTRWP) dan Kab/Kotayang hingga saat ini mencapai 18 RTRWP, 260 RTRW Kabupaten dan 70 RTRW Kota.

Capaian untuk Bidang Pertanahan pada RPJMN 2010-2014, antara lain: (1) Prioritas Nasional 4: Penanggulangan Kemiskinan yang didukung oleh pengelolaan pertanahan provinsi yang meliputi terselesaikannya kegiatan redistribusi tanah pada 129.963 bidang (86,87%); (2) Prioritas Nasional 6: Infrastruktur, antara lain: (a) terselesaikannya kegiatan neraca penatagunaan tanah pada96kab/kota (96%); (b) terselesaikannya kegiatan inventarisasi P4T pada47.814 bidang (13,50%); (c) terselesaikannya kegiatan penyusunan peraturan perundang-undangan pengadaan tanah untuk kepentingan umum yaitu Peraturan Kepala BPN Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah; (3) Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha melalui: (a) terselesaikannya kegiatan pembuatan peta pertanahan pada 4.815.572 Ha (171,9%); (b) terselesaikannya kegiatan legalisasi aset tanah pada909.808 bidang (102,8%); (c) terselesaikannya kegiatan penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan pada5.745kasus (205,8%); (4) Prioritas Nasional 8: Energi telah dilaksanakannyakegiatan

(6)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 6 inventarisasi dan identifikasi tanah terindikasi terlantar : 57SP; (5) Prioritas Nasional 10: Wilayah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Paska Konflik melalui: (a) terselesaikannya inventarisasi Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu (WP3WT): 163SP (88,58%); dan (b) terselesaikannya inventarisasi Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu (WP3WT).

Berdasarkan Rencana Strategis (renstra) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tahun 2012 target sertifikasi lintas kementerian/lembaga (K/L) berjumlah 918.339bidang tanah. Namun dalam Daftar Isian Proyek dan Anggaran (DIPA) BPN tahun 2012 telah dilakukan penyesuaian pagu anggaran oleh Kementerian Keuangan sehingga target tersebut turun menjadi 884.952 bidang tanah.Secara keseluruhan pencapaian kegiatan sertifikasi lintas K/L tahun 2012 sudah mendekati target yang direncanakan, baik untuk tahapan pra dan sertifikasi, kecuali untuk sertifikasi tanah transmigrasi yang baru sekitar 31,40% terutama disebabkan belum terbitnya HPL. Secara rinci capaian sertifikasi tanah masing-masing K/L sebagai berikut: (1) sertifikasi tanah UKM sebanyak 17.692 bidang (88,46%); (2) sertifikasi tanah petani sebanyak 28.743 bidang (95,81%); (3) sertifikasi tanah nelayan sebanyak 13.741 bidang (91,60%); (4) sertifikasi tanah masyarakat berpenghasilan rendah sebanyak 6.508 bidang (86,77%); dan (5) sertifikasi tanah transmigran sebanyak 28.805 bidang (31,40 %).

C. Capaian Kegiatan Kegiatan Utama

Capaian kegiatan utama terkait tugas dan fungsi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan yang telah dilaksanakan pada Tahun 2013 adalah:

1. Tersusunnya backgroundstudy RPJMN 2015–2019 bidang Tata Ruang dan Pertanahan;

2. Terlaksananya koordinasi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2014dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Pertanahan Nasional yang menghasilkan Peraturan Presiden No. 39/2013tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2014;

3. Terlaksananya koordinasi perencanaan sertifikasi tanah lintas K/L;

4. Terlaksananya pemantauanRKP 2013bidang tata ruang dan pertanahan dan evaluasi RKP 2012bidang tata ruang dan pertanahan;

5. Tersosialisasikannya informasi melalui situs internet BKPRN (www.bkprn.org) dan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (TRP) Bappenas (landspatial.bappenas.go.id) dan buletin TRP serta

leaflet;

6. Tersosialisasikannya peraturan perundangan terkait penataan ruang dan pertanahan melalui diseminasi dan sirkulasi dokumen perundang-undangan terkait bidang tata ruang dan pertanahan (UU No. 2/2012 dan Perpres RTR Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi); 7. Telah selesai disusunnya white paperKebijakan Pengelolaan Pertanahan Nasional.

Kegiatan Pendukung

o Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional

Capaian kegiatan pendukung terkait penugasan khusus sebagai pengelolaSekretariat BKPRN, adalah terfasilitasinya:

- Berbagai rapat koordinasi BKPRN dalam rangka percepatan penyelesaian Pepres RTR Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan RTR Pulau, dan Perda RTRW Provinsi, Kabupaten, dan Kota; - Penyusunan PP No. 8/2013 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Rencana Tata Ruang;

(7)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 7 - Penetapan Peraturan Daerah RTRW untuk 18 Provinsi (Sulawesi Selatan, Bali, Lampung, DI Yogyakarta, NTB, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, NTT, Gorontalo, Sumatera Barat, Jambi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat); 260 kabupaten; dan 70 kota;

- Penetapan Inpres No. 8 Tahun 2013 tentang Penyelesaian Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota (Inpres tentang Holding Zone) dan tersusunnya Rancangan SEB tentang Holding Zone;

- Penyelenggaraan Sarasehan Nasional dalam rangka Review RTRWN dengan tema “Kilas Balik 5 Tahun Implementasi RTRWN sebagai Matra Spasial Pembangunan Nasional”; - Penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional BKPRD Tahun 2013 dengan tema “Optimalisasi

Peran dan Fungsi BKPRD dalam Rangka Mewujudkan Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah yang Berkualitas”;

- Penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional BKPRN Tahun 2013 dengan tema “Peningkatan Kapasitas Penataan Ruang melalui Tata Pemerintahan yang Baik untuk Mewujudkan Penataan Ruang yang Optimal dan Berkelanjutan”, dengan output rumusan Agenda Kerja BBKPRN Tahun 2014 – 2015;

- Penetapan Pedoman Tata Kerja Sekretariat BKPRN melalui Permen PPN/Kepala Beppenas No. KEP.46/M.PPN/HK/03/2013 untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja BKPRN;

- Penetapan Hari Tata Ruang Nasional melalui Keputusan Presiden No. 28 Tahun 2013;

- Penyelenggaraan Lokakarya Penyelarasan Implementasi UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam rangka percepatan penyusunan RZWP-3-K;

- Penyusunan Laporan Pelaksanaan Koordinasi BKPRN Tahun 2013 kepada Presiden.

Khusus untuk fasilitasi penyelesaian konflik pemanfaatan ruang di forum BKPRN, antara lain: - Konflik pemanfaatan ruang di kabupaten Tangerang yang disebabkan oleh adanya perbedaan

peruntukan ruang di 5 lokasi dalam Perpres No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur dengan Perda RTRW Kabupaten Tangerang No. 13 Tahun 2011. Perwakilan BKPRN mengadakan tinjauan lapangan beserta analisis untuk menelaah masalah ini dan selanjutnya menyampaikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang;

- Konflik pembangunan kawasan industri di kabupaten Wonogiri yang disebabkan oleh rencana alih fungsi kawasan hutan BKPH Pulosari Alas Kethu menjadi kawasan industri yangmengakibatkan ketidaksesuaian antara izin pembukaan kawasan industri dengan RTRW Provinsi Jawa Tengah dan RTRW Kabupaten Wonogiri dan surat Menteri Kehutanan Nomor S.399/Menhut-VII/2009 tentang Persetujuan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. BKPRN memberikan beberapa masukan.

o Sekretariat Reforma Agraria Nasional

Sekretariat Tim KoordinasiReforma Agraria Nasional telah berhasil menyelesaikan kegiatan pendukungberupa:

- Penyusunan Laporan Pelaksanaan Koordinasi Reforma Agraria Nasional Tahun 2013 - Penyusunan Peta Sebaran Jumlah Bidang Tanah yang Telah Bersertifikat;

- Penyusunan Peta Sebaran Peta Dasar Pertanahan Nasional;

(8)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 8 - Koordinasi pelaksanaan sertipikasi tanah transmigrasi;

- Identifikasi konsep dan model bank tanah;

(9)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 9

BAB

III

PELAKSANAAN RENCANA KERJA TAHUN 2013

A. Kegiatan Utama

1. Penetapan Prioritas dan Rancangan Awal RKP 2014 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Penyusunan RKP 2014 dimulai dengan penyusunan rancangan awal RKP 2014 pada bulan Januari 2013.

Output yang diharapkan dari pelaksanaan koordinasi ini adalah tersusunnya program maupun kegiatan

prioritas bidang tata ruang dan pertanahan pada tahun 2014 yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia di tahun tersebut.

Usulan program pembangunan keseluruhan yang direncanakan masuk ke dalam DIPA Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2014 adalah Program Penyelenggaraan Penataan Ruang. Sementara usulan program pembangunan keseluruhan yang direncanakan masuk ke dalam DIPA BPN pada tahun 2014 adalah:

 Program Pengelolaan Pertanahan Nasional;

 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya di BPN;

 Program Pengelolaan Sarana dan Prasarana Aparatur BPN;

 Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur BPN;

2. Pertemuan Internal Dua Pihak (Bilateral Meeting) dalam Pembahasan Rancangan Awal RKP 2014

Untuk membahas dan mensinergikan antara substansi kegiatan dan pendanaannya dalam RKP 2014, maka diadakan pertemuan internal dua pihak (bilateral meeting) antara Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan dan Direktorat di Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah pada tanggal 5 Maret 2013. Pada pertemuan tersebut disampaikan arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional Tahun 2014 kedeputian serta penyepakatan mengenai baseline untuk rancangan awal RKP 2014. Arah kebijakan prioritas pembangunan nasional Tahun 2014 sesuai dengan tema RKP 2014 yang telah ditetapkan adalah Pemantapan Perekonomian Nasional, Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Pemeliharaan Stabilitas Sosial dan Politik.

Sedangkan isu dan langkah strategis Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Tahun 2014 adalah sebagai berikut:

ISU STRATEGIS LANGKAH STRATEGIS

Kesiapan infrastruktur dan

kelembagaan penanganan bencana-mitigasi bencana

1. Pembangunan shelter bencana alam (tempat evakuasi sementara)

2. Pembangunan sirine peringatan dini gempa 3. Pembangunan desa tangguh

4. Peningkatan koordinasi oleh BNPB dengan kementerian/lembaga terkait

(10)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 10

ISU STRATEGIS LANGKAH STRATEGIS

pengendali lahar

6. Pengelolaan DAS secara terpadu pada DAS Prioritas 7. Percepatan proses alih status kawasan

8. Penyelesaian RTRW Provinsi

Percepatan pembangunan

infrastruktur di Provinsi Papua dan Papua Barat

1. Pemantapan program Kementerian Perindustrian terkait pengembangan industri sagu di kabupaten/kota

2. Inisiasi program pemberdayaan pasar tradisional yang melibatkan OAP

3. Koordinasi keberlanjutan pembangunan sekolah berasrama yang menjangkau daerah pegunungan tengah

4. Strategi pembangunan jalan strategis Papua sepanjang 3.488 km (80 ruas jalan) untuk membuka keterisolasian

5. Peningkatan status kelas rumah sakit dan jumlah klinik bergerak

6. Konsolidasi antara Pemda dengan Kemenhan, TNI, Polri, maupun Kemendiknas untuk pemberian kuota bagi siswa berprestasi

Sumber: Laporan Koordinasi RKP 2013

3. Pagu Indikatif RKP 2014 dan Penyelenggaraan Rakorbangpus

Penyelenggaraan Rakorbangpus merupakan salah satu bagian dari proses perencanaan pembangunan nasional dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2014 yang bertujuan untuk mensosialisasikan Rancangan Awal RKP 2014 dan Pagu Indikatif 2014 setiap Kementerian/Lembaga. Penyelenggaraan Rakorbangpus dilakukan di Kantor Kementerian PPN/Bappenas pada tanggal 8 April 2013. Pada acara tersebut disampaikan beberapa arahan kepada perwakilan Kementerian/Lembaga yang hadir untuk penyusunan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) guna menyempurnakan rancangan awal RKP Tahun 2014. Beberapa arahan yang disampaikan antara lain sebagai berikut:

 Pagu Indikatif yang telah ditetapkan melalui Surat Bersama ini merupakan batas atas yang tidak dapat dilampaui, dan dapat berkurang berdasarkan hasil pembahasan dalam trilateral meetings.

 Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasionai yang memuat isu dan langkah strategis pada tahun 2014 yang difokuskan pada:

o Pemantapan Perekonomian Nasional:

- Pencapaian surplus beras 10 juta ton dan peningkatan produksi jagung kedelai dan gula;

- Konektivitas untuk menjamin tumbuhnya pusat-pusat perdagangan dan industri dalam rangka dukungan MP3EI;

- Perkuatan kelembagaan hubungan industrial; - Diversifikasi pemanfaatan energi;

- Peningkatan kemampuan Iptek dalam rangka mendukung percepatan dan periuasan ekonomi nasional;

- Percepatan pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat; o Peningkatan Kesejahteraan Rakyat:

- Pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan; - Penurunan angka kematian ibu dan bayi;

(11)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 11 - Perluasan Program Keluarga Harapan;

- Pengembangan penghidupan penduduk miskin dan rentan (MP3KI);

- Mitigasi Bencana (infrastruktur shelter perlindungan dan penanganan banjir); o Pemeliharaan Stabilitas Sosial dan Politik:

- Percepatan pembangunan Minimum Essential Force;

- Pemantapan keamanan dalam negeri dan pemberantasan terorisme; - Pelaksanaan Pemilu 2014.

 Arah kebijakan fiskal yang dijabarkan dalam rencana tindak sebagai berikut:

o Menetapkan baseline belanja pegawai dan menggunakan prinsip flat policy untuk penghitungan belanja barang operasional/pemeliharaan perkantoran yaitu:

- Belanja pegawai ditetapkan berdasarkan realisasi tahun 2012 yang diproyeksikan atas Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) tahun 2013, dengan mempertimbangkan database pegawai, kenaikan gaji berkala, moratorium PNS, dan pemotongan belanja pegawai transito dan tunjangan kinerja bagi K/L yang sampai tahun 2012 telah melaksanakan reformasi birokrasi; - Belanja barang operasional/pemeliharaan perkantoran ditetapkan turun dari alokasinya dalam

RABPP tahun 2013, setelah memperhitungkan perkiraan kinerja daya serap anggaran di tahun 2013.

o Kebutuhan baseline belanja non operasional (selain belanja pegawai dan barang operasional), ditetapkan berdasarkan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) 2014 yang tercantum dalam RABPP 2013, dengan memperhitungkan perkiraan kinerja daya serap anggaran di tahun 2013 serta efisiensi belanja perjalanan dinas, seminar, konsiyering, workshop, dan honorarium tim, yang dialokasikan sesuai kebutuhan dan tugas fungsi masing-masing K/L;

o Mendukung upaya pengembangan infrastruktur, termasuk upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai aset negara, melalui peningkatan alokasi belanja modal (termasuk belanja barang dan bantuan sosial yangberkarakteristik belanja modal, yang akan dipindahtangankan ke pihak ke-3),

o Alokasi bantuan sosial difokuskan untuk pencapaian sasaran-sasaran prioritas bantuan sosial yang mengacu pada kegiatan-kegiatan dalam 4 klaster pengurangan kemiskinan, dan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan;

o Kebutuhan dana pendamping untuk kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan pinjaman/hibah luar negeri;

o Kebutuhan anggaran untuk kegiatan lanjutan yang bersifat tahun jamak (multiyears)

o Penyediaan dana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan; serta

o Untuk menjaga kesesuaian dengan postur APBN, K/L diminta untuk memperhatikan rincian sumber dana dan jenis belanja.

 Prioritas-prioritas pembangunan nasional yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 adalah sebagaimana tersebut pada Lampiran II (Buku I Rancangan Awal RKP Tahun 2014). Kementerian Negara/Lembaga yang mempunyai program dan kegiatan prioritas yang terkait dengan Prioritas Pembangunan Nasional diminta untuk memberikan konfirmasi atau mengusulkan perubahan/penyempurnaan terhadap kegiatan prioritas dan/atau alokasi anggaran yang tercantum dalam Buku I Rancangan Awal RKP Tahun 2014, dengan memperhatikan komitmen pelaksanaan kegiatan prioritas yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Usulan perubahan atau konfirmasi tersebut dituangkan dalam masing-masing Renja K/L.

(12)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 12

 Prioritas-prioritas pembangunan bidang yang akan diiaksanakan pada tahun 2014 adalah sebagaimana tersebut pada Lampiran III (Buku II Rancangan Awal RKP Tahun 2014). Kementerian Negara/Lembaga yang mempunyai program dan kegiatan prioritas yang terkait dengan prioritas pembangunan bidang diminta untuk memberikan konfirmasi atau mengusulkan perubahan/penyempurnaan terhadap kegiatan prioritas dan/atau alokasi anggaran yang tercantum dalam Buku II Rancangan Awal RKP Tahun 2014, dengan memperhatikan komitmen pelaksanaan kegiatan prioritas yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Usulan perubahan atau konfimasi tersebut agar dituangkan dalam masing-rnasing Renja K/L.

 Prioritas-prioritas pembangunan daerah (dimensi kewilayahan) yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 adalah sebagaimana tersebut pada Lampiran IV (Buku III Rancangan Awal RKP Tahun 2014). Kementerian Negara/Lembaga yang mempunyai program dan kegiatan prioritas yang dilaksanakan di daerah diminta untuk memberikan rincian program dan kegiatan prioritas beserta alokasi anggaran sesuai dengan format yang tercantum dalam Buku III Rancangan Awal RKP Tahun 2014. Usulan tersebut agar dituangkan dalam masing-masing Renja K/L.

 Renja K/L disusun dengan pendekatan berbasis kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah, dan penganggaran terpadu yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan, termasuk untuk subsidi.

Public Service Obligation(PSO), dan belanja lain yang bersifat khusus yang merupakan satu kesatuan

yang utuh dari kebijakan K/L tersebut.

 Efektifitas dan efisiensi pencapaian sasaran pembangunan K/L antara lain melalui:

o Mengkaji kembali kinerja program (outcome) dan kegiatan (output) untuk lebih difokuskan (refocusing) pada kinerja utama Kementerian Negara/Lembaga:

o Mengkaji ulang pembangunan gedung kantor baru dan menundanya apabila tidak sangat mendesak. Apabila rencana pembangunan gedung baru tetap akan dilakukan, harus menggunakan spesifikasi dan standar sesuai Peraturan Presiden No. 73 Tahun 2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

o Membatasi/mengurangi komponen pendukung pencapaian output yang tidak terkait langsung dengan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, antara lain: (i) perjalanan dinas dalam dan luar negeri; (ii) rapat dan konsinyering di luar kantor; (iii) honorarium tim; (iv) pembangunan gedung baru yang sifatnya tidak langsung menunjang tugas dan fungsi Kementerian Negara/Lembaga (mess, wisma, rumah dinas, rumah jabatan, gedung pertemuan); (v) pengadaan kendaraan bermotor (kecuali pengadaan kendaraan fungsional seperti ambulan untuk rumah sakit, kendaraan untuk tahanan, kendaraan roda dua untuk penyuluh, dan penggantian kendaraan rusak berat); (vi) pemasangan iklan yang tidak terkait secara langsung dengan layanan K/L pada media massa dan media elektronik; dan (vii) kegiatan lain yang sejenis atau serupa.

 Sinergi pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui:

o memilih kegiatan yang akan didanai oleh K/L dengan berpedoman pada pembagian urusan dan kewenangan sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan;

o menentukan distribusi alokasi anggaran K/L untuk kegiatan yang akan dilaksanakan di daerah dengan mempertimbangkan kebutuhan daerah dalam kerangka pencapaian prioritas nasional; o mengupayakan sinkronisasi kegiatan dalam Renja K/L dengan kegiatan-kegiatan daerah yang

dibiayai dari dana perimbangan dan dana otonomi khusus;

 Dalam rangka klasifikasi belanja negara menurut fungsi, Kementerian Negara/Lembaga diminta melaksanakan pencatatan sesuai Peraturan Pemerintah No. 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan

(13)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 13 Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Sebagai contoh, Kementerian Negara/Lembaga yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan diminta mencantumkan kegiatan pendidikan tersebut dalam klasifikasi fungsi pendidikan.

 Dalam proses penyusunan Renja K/L, dilakukan Pertemuan Tiga Pihak antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Negara/Lembaga sebagaimana diatur dalam Lampiran V tentang buku Petunjuk Pertemuan Tiga Pihak.

 Terkait Inisiatif Baru Tahun Anggaran 2014:

o Alokasi anggaran Inisiatif Baru yang sudah dialokasikan dalam surat ini tidak dapat berkurang dan pemanfaatannya tidak dapat digunakan (dialihkan) untuk membiayai kegiatan lainnya;

o Dalam penilaian Inisiatif Baru yang telah mendapatkan alokasi dalam surat ini, diperlukan TOR dan RAB yang harus disiapkan oleh K/L pengusul untuk dibahas dalam Pertemuan Tiga Pihak (trilateral meeting);

o K/L yang tidak dapat memenuhi kelengkapan TOR dan RAB, maka alokasi anggaran K/L yang bersangkutan akan mengalami pengurangan;

o K/L yang mendapatkan tambahan alokasi anggaran untuk Inisiatif Baru berdasarkan Direktif Presiden tetapi belum mengajukan proposal Inisiatif Baru. maka diharapkan dapat segera mengajukan proposal Inisiatif Baru sebelum ditetapkannya pagu anggaran K/L.

4. Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting)

Setelah Rakorbangpus, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas menyelenggarakan forum

trilateral meeting antara mitra K/L, Kementerian Keuangan dan Bappenas. Rapat dengan BPN

dilaksanakan pada tanggal 12 April 2013, sementara dengan DJPR PU pada tanggal 15 April 2013 dengan tujuan: (1) koordinasi dan kesepahaman pencapaian sasaran prioritas pembangunan; (2) menjaga konsistensi kebijakan antara dokumen perencanaan dengan dokumen penganggaran terutama antara RKP, Renja K/L dan RKA-KL; (3) mendapatkan komitmen bersama atas penyempurnaan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (kegiatan prioritas dan pendanaannya), serta (4) sebagai dasar bagi K/L untuk merumuskan dokumen kesepakatan bersama yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan masukan oleh K/L dalam penyusunan Renja K/L.

Untuk Ditjen Penataan Ruang (DJPR), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), hasil dari pertemuan

trilateral ini adalah dokumen kesepakatan pertemuan tiga pihak yang ditanda tangani oleh Kementerian

PPN/Bappenas (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan), Kementerian Keuangan (Direktur Anggaran I) dan DJPR PU (Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri dan Direktur Bina Program dan Kemitraan). Sementara itu untuk BPN, hasil dari pertemuan trilateral ini adalah dokumen kesepakatan pertemuan tiga pihak yang ditanda tangani oleh Kementerian PPN/Bappenas (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan), Kementerian Keuangan (Direktur Anggaran IIC) dan BPN (Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri).

Dokumen kesepakatan ini berisi antara lain yaitu: kesepakatan atas kegiatan prioritas, kegiatan non prioritas, inisiatif baru beserta keluaran dan besaran anggarannya; kesepakatan atas perubahan alokasi anggaran antarprogram dan antarkegiatan. Hasil kesepakatan ini menjadi pegangan bagi BPN dalam menyusun Renja K/L yang harus diserahkan kepada Kementerian Keuangan dan Bappenas.

(14)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 14 Beberapa hasil kesepakatan trilateral meeting antara lain:

 Perubahan/Realokasi anggaran antar-program dimungkinkan dengan syarat tidak melebihi Pagu Total K/L;

 Usulan inisiatif baru BPN terkait pemetaan Tanah Ulayat di Papua dan Papua Barat penting dilakukan sesuai 15 Isu Strategis 2014 namun perlu dilengkapi TOR dan RAB;

 Terdapat kegiatan yang mengalokasikan Anggaran Responsif Gender (ARG) seperti penerimaan pegawai di BPN sebanyak 60% adalah wanita;

 Alokasi anggaran pendidikan STPN Tahun 2014 akan dikeluarkan dari jenis data pendidikan;

 Alokasi PNBP di BPN sudah sesuai dengan target PNBP;

 Beberapa rancangan target di TA 2014 sulit tercapai seperti kegiatan Redistribusi Tanah karena secara konvensional tanah sumbernya sudah terbatas. Namun, ada kemungkinan target Redistribusi Tanah akan meningkat karena ada banyak tanah terlantar yang sudah di-SK-kan oleh Kepala BPN;

 Alokasi pagu indikatif BPN tahun 2014 sudah memperhitungkan alokasi untuk satker baru, sehingga tidak diperlukan penambahan anggaran on-top; dan

 Lanjutan pembangunan gedung pusat pendidikan dan pelatihan memerlukan tambahan sebesar Rp.250.000.000.000,-.

5. Penyusunan Renja K/L 2014 dan Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2013

Musrenbangnas dilaksanakan pada tanggal 30 April 2013 dengan tujuan untuk menciptakan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pencapaian agenda dan prioritas pembangunan nasional tahun 2014. Kegiatan Musrenbangnas ini dihadiri oleh kementerian dan lembaga di pusat, direktorat teknis di Bappenas yang menjadi mitra kerja kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah provinsi (Bappeda). Secara teknis, forum ini mencoba melakukan sinkronisasi program yang diusulkan oleh Pemerintah Pusat dengan program di daerah. Tujuan dari pelaksanaan Musrenbang Nasional ini adalah menyelaraskan RKP dan Renja KL dengan RKPD dan Renja SKPD dalam rangka pemantapan program dan aktivitas untuk pencapaian agenda dan prioritas nasional pada tahun 2014. Hasil Musrenbang Nasional ini menjadi masukan bagi finalisasi RKP tahun 2014 yang kemudian diolah menjadi Pagu Anggaran.

Format pembahasan dalam Musrenbangnas ini adalah trilateral desk yaitu model pembahasan tiga pihak antara K/L, Bappenas, Bappeda Propinsi dengan materi pembahasan usulan daerah (UKPPD) yang terkait dengan target, lokasi dan alokasi. Pembahasan ini merupakan pembahasan dana dekonsentrasi ke 32 provinsi (diluar DKI Jakarta) dan membahas besaran alokasi dana bagi daerah, penyesuaian target dan lokasi antara usulan daerah yang diajukan dalam UKPPD dengan apa yang sudah ada dalam Renja KL pada daerah tersebut. Hasil dari musrenbang ini akan dijadikan masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RKP 2014.

Dikarenakan BPN tidak memiliki dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan serta merupakan lembaga/badan yang sifatnya vertikal sehingga pembahasan tidak pada besaran alokasi dana bagi daerah akan tetapi pembahasan lebih diarahkan pada penyesuaian target dan lokasi antara usulan daerah yang diajukan dalam Usulan Kegiatan dan Pendanaan Pembangunan Daerah(UKPPD) dengan

(15)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 15 apa yang sudah ada dalam Renja BPN pada daerah tersebut. Hasil dari musrenbang ini akan dijadikan masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RKP 2014.

Beberapa provinsi yang menyampaikan kebutuhan program dan kegiatan bidang pertanahan yaitu provinsi Papua Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, provinsi Kalimantan Timur, provinsi Sumatera Barat, provinsi Sulawesi Barat, provinsi Sulawesi Selatan, provinsi Bangka Belitung, provinsi Gorontalo, provinsi Sulawesi Utara. Beberapa isu yang dibahas dalam forum trilateral desk pra musrenbangnas antara lain sebagai berikut:

 Percepatan kegiatan legalisasi aset (sertifikat tanah) dan pembuatan peta dasar pertanahan;

 Usulan kegiatan Program Agraria Daerah (PRODA);

 Sosialisasi pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum;

 Permasalahan penyelesaian tanah adat dan ulayat;

 Perlunya program konsolidasi tanah untuk wilayah perkotaan.

6. Pameran Perencanaan Pembangunan Nasional 2013

Pelaksanaan pameran dilaksanakan pada tanggal 29– 30 April 2013. Tema pameran tahun ini adalah “Menuju Indonesia Sejahtera: Entaskan Kemiskinan”. Pameran ini ditinjau oleh Bapak Presiden Republik Indonesia. Adapun peserta pameran meliputi: (i) K/L; (ii) Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota; (iii) Organisasi Masyarakat Sipil; (iv) BUMN; dan (v) Kementerian PPN/Bappenas. Pameran dibuka oleh Menteri PPN/Bappenas sekaligus melakukan kunjungan ke stand peserta Pameran Perencanaan Pembangunan 2013.

Secara keseluruhan terdapat 33 stand (booth) dengan peserta pameran terdiri dari:

 Pemerintah provinsi: Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat

 Pemerintah Kabupaten/Kota: Kabupaten Pati, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Bantul

 Kementerian Lembaga (K/L): Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kemenko Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kemenko Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian PU, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Urusan Logistik, Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Kelautan dan Perikanan

 Badan Usaha Milik Negara: BRI dan Pertamina

 Organisasi Masyarakat Sipil: LSM IBEKA

 Unit kerja internal Bappenas: Pusbindiklatren Beberapa hal penting dari pameran ini adalah:

 Pelaksanaan Pameran 2013 dikoordinasikan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan untuk mempermudah komunikasi dan penentuan tema pameran dalam satu kesatuan dan menjadi

central-point pengunjung pameran.

 Kegiatan pameran pada hari pertama berjalan lancar dan cukup ramai oleh pengunjung. Hal ini ditambah dengan adanya konsep alur cerita yang saling terkait dalam pelaksanaan pengentasan kemiskinan.

(16)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 16

 Pengunjung diperbolehkan membawa buah tangan yang diberikan oleh para peserta pameran sehingga mampu menarik pengunjung pameran untuk datang.

 Kunjungan Bapak Presiden RI dan rombongan ke ruangan Pameran pada pelaksanaan pameran hari kedua untuk mengunjungi beberapa stand pameran.

Gambar 3. Pameran Perencanaan Pembangunan Nasional 2013

7. Paska Musrenbangnas – Finalisasi RKP 2014 dan Penetapan Pagu Definitif

Penyempurnaan draf rancangan akhir (rancangan interim) RKP 2014 dilakukan setelah Musrenbangnas pada Bulan Mei 2013, yang juga menjadi bahan untuk penentuan pagu anggaran 2014. Rancangan akhir RKP 2014 selanjutnya dibawa dalam pembahasan sidang kabinet dan setelah disempurnakan, kemudian ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014. Selanjutnya proses penetapan Pagu Definitif dilakukan melalui serangkaian pembahasan antara Pemerintah dengan DPR. Setelah ada kesepakatan, diterbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2014. Dalam proses finalisasi RKP 2014, terjadi perubahan dari pagu indikatif untuk DJPR PU sebesar Rp. 997.047,8, menjadi pagu alokasi anggaran Rp. 1.200.000,0. Matriks rangkuman perubahan pagu anggaran pada tiap tahap, dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel1. Perkembangan Pagu DJPR PU Tahun 2014 (dalam juta)

Pagu Indikatif2014 Pagu Anggaran 2014 Alokasi Anggaran2014

997.047,8 997.047,8 1.200.000,0

Sumber: Laporan Koordinasi RKP 2013

Sementara itu, untuk BPN terjadi perubahan dari pagu indikatif sebesar Rp. 4.142.926,5, menjadipagu alokasi anggaran Rp. 4.321.890,9. Matriks rangkuman perubahan pagu anggaran pada tiap tahap, dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

(17)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 17

Tabel 2. Perkembangan Pagu BPN Tahun 2014 (dalam juta)

Pagu Indikatif2014 Pagu Anggaran2014 Alokasi Anggaran2014

4.142.926,5 4.142.926,5 4.321.890,9 Sumber: Laporan Koordinasi RKP 2013

8. FGD Pemetaan Indikasi Program dalam RTRWN dan RTR Pulau/Kepulauan dengan RPJMN 2010-2014

Pelaksanaan FGD pada tanggal 31 Oktober 2013 bertempat di Hotel Morrissey Jakarta, yang bertujuan untuk menjaring informasi pemetaan yang telah dilakukan oleh mitra kerja K/L di Bappenas untuk indikasi program dalam RTRWN dan RTR Pulau/Kepulauan dengan RPJMN 2010-2014.

Beberapa hasil yang diperoleh dari hasil FGD, adalah:

 RTRWN, terutama RTR Pulau/kepulauan tidak cukup dikenal di kalangan Bappenas, baik secara peran maupun substansi.

 RTRWN, terutama RTR Pulau/Kepulauan belum dijadikan acuan dalam penyusunan program di K/L.Salahsatu penyebabnya adalah adanya MP3EI, serta indikasi program masih bersifat umum dan tidak terukur sehingga membingungkan.

 Pembangunan cenderung dilaksanakan berdasarkan potensi atau kondisi eksisting yang ada, bukan dikarenakan arahan tata ruang.

 Bappenas sebagai mitra K/L belum mampu mempengaruhi K/L sebagai regulator dalam pengambilan keputusan.

 Keterlibatan swasta dalam perubahan rencana struktur ruang (dalam hal ini pelabuhan) cukup memberikan pengaruh yang besar.

 Terjadinya tumpah tindih peraturan mengenai rencana pembangunan, terutama dalam hal lokasi dan tingkat kewenangan, menjadi salah satu masalah dalam tidak terimplementasinya RTRWN, sehingga terjadi pula perbedaan nomenklatur.

 Beberapa hal yang menghambat implementasi program, antara lain: 1) lahan dan sosial; 2) kurang mantapnya perencanaan karena tidak mengidentifikasi hambatan yang akan muncul; 3) target 5 tahun RPJMN dianggap terlalu tinggi sehingga diusulkan adanya fokus/prioritas dalam RPJMN.

 Instrumen dalam RPJMN dianggap tidak jelas.

 Penyusunan RKP tidak matang (musrenbang).

 Beberapa program-program dari pusat disamaratakan, tidak memperhatikan kebutuhan/usulan daerah.

 Program yang dananya berasal dari APBN dan APBD tidak jelas. Beberapa rekomendasi yang diperoleh dari hasil FGD antara lain:

Forum trilateral meeting dapat dijadikan momen untuk penguatan peran RTRWN dan RTR Pulau/Kepulauan.

 Penyamaan nomenklatur di bidang tata ruang.

 Perlu diadakan pertemuan bersama internal Bappenas yang membahas capaian per tahun untuk dilakukan evaluasi.

(18)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 18 Gambar4.Kegiatan FGD Pemetaan Indikasi Program dalam RTRWN dan

RTR Pulau/Kepulauan dengan RPJMN 2010-2014

9. Pemantauan Pelaksanaan Pembangunan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Pelaksanaan kegiatan pemantauan pada tanggal 11 – 14 November 2013.Kegiatan yang dipantau adalah kegiatan prioritas berupa Prioritas Nasional untuk Bidang Tata Ruang, yaitu kegiatan Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah yang dilaksanakan oleh Ditjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum. Kegiatan ini adalah kegiatan dekonsentrasi dengan sasaran sinkronisasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan dan antarrencana tata ruang. Sedangkan untuk bidang pertanahan, yang dipantau adalah kegiatan prioritas nasional yang termasuk dalam program pengelolaan pertanahan nasional. Pelaksanaan wawancara dan survei lapangan kegiatan pemantauan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan dilakukan di dua provinsi yaitu: Sulawesi Utara dan Papua Barat. a. Pemantauan Bidang Tata Ruang

 Provinsi Sulawesi Utara

Beberapa isu bidang tata ruang yang teridentifikasi di Provinsi Sulawesi Utara adalah sebagai berikut: o Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Utara telah dibahas di forum BKPRN pada tanggal 12 Mei 2011, telah mendapat surat persetujuan substansi Menteri PU No.HK.01 03/Mn/212pada tanggal 12 Mei 2011 dan telah dievaluasi di Kementerian Dalam Negeri pada tanggal 19 November 2013.

o Dari aspek kehutanan, dalam aspek perubahan peruntukan dan perubahan fungsi kawasan hutan, telah diterbitkan SK Menteri Kehutanan untuk kawasan hutan non-DPCLS (Daerah Penting, Cakupan Luas dan Strategis). Namun masih terdapat juga kawasan hutan DPCLS, dimana kondisi eksisting sudah berupa pemukiman. Salah satu kawasan permukiman yang masih termasuk kawasan hutan dan berstatus Holding Zoneadalah di Desa Pinilih, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Berdasarkan kunjungan lapangan, diperoleh informasi bahwa di desa tersebut sudah menjadi permukiman secara turun-temurun dari tahun 1928.

o Daerah mengharapkan agar proses pembahasan rencana rinci tata ruang tidak serumit RTRW. Daerah mengharapkan agar apabila memungkinkan diberi bantuan insentif dari pusat.

o Terkait dengan kelembagaan, masih ada permasalahan dalam hal koordinasi dalam penataan ruang, mengingat saat ini kelembagaan yang memiliki tupoksi bidang tata ruang hanya setingkat bidang (eselon 3) di Dinas PU, sehingga belum memiliki posisi yang cukup kuat. Selain itu diusulkan agar Sekretaris Daerah Provinsi sebagai Ketua Badan Koordinasi Penataan Ruang

(19)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 19 Daerah (BKPRD) harus diperkuat dengan pemahaman bidang tata ruang yang dimilikinya, karena saat ini banyak juga Sekda yang kurang paham tata ruang.

o Terkait dengan Penyidik Pegawai Negeri (PPNS) bidang tata ruang, Jumlah PPNS masih terbatas di tingkat provinsi maupun kab/kota.

o Daerah perlu dukungan untuk sinkronisasi RPJPD, RPJMD, RTRW, karena akan terdapat penyusunan RPJMD tahap 3 (tahun 2015-2019).

Sementara itu, untuk kegiatan dekonsentrasidititikberatkan pada proses percepatan penyusunan dokumen penataan ruang seperti RTRW dan RDTR, dan pembuatan RTH. Selain itu juga Provinsi Sulawesi Utara masih membutuhkannya untukmembangun kapasitas kelembagaan di daerah, memperkuat sinergi pusat-daerah dan meningkatkan kapasitas SDM maupun database bidang tata ruang.

 Provinsi Papua Barat

Hasil wawancara dengan Bappeda Provinsi Papua Barat dan Dinas PU Provinsi Papua Barat terkait Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah sebagai berikut:

o RTRW Provinsi Papua Barat telah ditetapkan melalui Perda Nomor 2 Tahun 2013. Penyelesaian masalah kawasan hutan yang menjadi kendala penyelesaian RTRW Provinsi ini, diselesaikan melalui mekanisme Holding Zone (HZ). Untuk RTRW Kabupaten/kota yang telah diperdakan sebelum adanya keputusan HZ,akan dilakukan penyesuaian berdasarkan hasil HZ melalui peraturan gubernur (Pergub).

o Terkait kegiatan BKPRD yang telah dilakukan, Bappeda Prov. Papua Barat melalui Gubernur ingin melaporkan kepada BKPRN secara berkala (semester/tahunan). Untuk itu, diharapkan BKPRN menyusun format laporan dan mensosialisasikannya kepada BKPRD.

o Pada tahun 2013, Provinsi Papua Barat tidak memiliki PPNS. Hal ini dikarenakan, satu-satunya PPNS yang ada, dipindahkan keluar kota.

o Provinsi Papua Barat belum memiliki kegiatan sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan. Untuk itu, diusulkan oleh Bappeda Provinsi, perlu dilakukan Bimbingan Teknis (Bintek) dan sosialisai terkait sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan.

o Prioritas penyusunan RDTR untuk Kawasan Strategis Nasional (KSN) di provinsi Papua Barat tahun 2013 meliputi KSN kawasan perbatasan dan KSN Konservasi Keanekaragaman Hayati Raja Ampat. b. Pemantauan Bidang Pertanahan

 Provinsi Sulawesi Utara

Beberapa isu bidang pertanahan yang diperoleh dari kunjungan kegiatan pemantauan pelaksanaan RKP 2013 di Kanwil BPN Provinsi Sulawesi Utara sebagai berikut:

o Untuk mendukung pembangunan wilayah, BPN Kanwil telah memiliki neraca penatagunaan tanah. Neraca ini pada dasarnya dapat digunakan sebagai salah satu instrumen pengendali penataan ruang.

o Belum sinkronnya data luas kawasan pertanian di Provinsi Sulawesi Utara oleh 3 instansi (Dinas Pertanian, Dinas PU, dan BPN Kanwil) terkait dengan isu ketahanan pangan daerah. Data Dinas Pertanian selalu menunjukkan luas wilayah pertanian yang lebih besar, karena dihitung berdasarkan masa tanam. Adapun data Dinas PU selalu mempertimbangkan wilayah pertanian berdasarkan fungsinya, termasuk didalamnya sarana prasarana irigasi. Sedangkan data BPN

(20)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 20 mengacu pada neraca penatagunaan tanah. Saat ini 3 instansi tersebut telah melakukan beberapa pertemuan untuk memperoleh data akhir, sehingga selanjutnya BPN dapat melakukan pengendalian pada kawasan pertanian–LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) yang telah ditetapkan oleh Dinas Pertanian, melalui instrumen penerbitan sertipikat dengan fungsi tetap LP2B.

o Terdapat sengketa tanah ulayat yang berkepanjangan di Pulau Lembeh (Kecamatan Lembeh Utara dan Lembeh Selatan). Pada tahun 1984, Mendagri pernah mengeluarkan SK bahwa dari total 5.400 ha luas wilayah pulau Lembeh, 300 ha diantaranya merupakan merupakan tanah ulayat. Hanya yang kemudian menjadi masalah penetapan 300 hektar tanah ulayat ini sama sekali tidak didukung dengan keterangan batas-batas tanahnya, sehingga menjadikannya tidak jelas dan simpang siur. Bahkan BPN pun ternyata pernah mengeluarkan SK Redistribusi pada wilayah tersebut. Di sisi lain sebelumnya sudah terdapat beberapa rencana pembangunan berskala nasional di Pulau Lembeh, seperti rencana pengembangan pelabuhan petikemas internasional. Sehingga untuk mengantisipasi hal yang lebih buruk, pada tahun 2005 Kepala Kanwil BPN memutuskan untuk menghentikan segala bentuk pelayanan pertanahan di Pulau Lembeh. Terakhir pada awal November 2013, Kepala BPN melakukan kunjungan khusus ke Kota Bitung untuk meninjau serta menginstruksikan penyelesaian sengketa pertanahan di Pulau Lembeh tersebut.

 Provinsi Papua Barat

Beberapa isu bidang pertanahan yang diperoleh dari kunjungan kegiatan pemantauan pelaksanaan RKP 2013 di Kanwil BPN Provinsi Papua Barat sebagai berikut:

o Pemetaan Tanah Adat/Ulayat

- Perlu sosialisasi Peraturan Menteri Agraria No. 5/1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan mendorong Pemda agar melakukan penelitian terkait keberadaan tanah adat/ulayat di daerah tersebut.Selain itu perlu sosialisasi mengenai pentingnya pemetaan tanah adat/ulayat kepada masyarakat hukum adat.

- Provinsi Papua Barat belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) khusus yang mengatur mengenai pengelolaan tanah ulayat/adat di daerah tersebut. Berdasarkan amanat dari Peraturan Menteri Agraria No. 5 tahun 1999 tentang Tata Cara Penyelesaian Tanah Adat/Ulayat mengamanatkan agar pemda menetapkan peraturan daerah mengenai pengaturan tanah adat/ulayat. Pengaturan tersebut diperlukan sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tanah adat/ulayat di setiap provinsi.

o Perlu dilakukan penataan batas tanah adat/ulayat yang melibatkan ketua adat di daerah tersebut kemudian dituangkan dalam peta tanah adat/ulayat.

o Penanganan Kasus Pertanahan

- Kasus pertanahan yang sering muncul di Papua Barat terkait dengan pengelolaan tanah adat/ulayat selama ini dibawa ke peradilan umum. Namun secara hukum peradilan umum tidak berwenang menangani kasus adat.

o Pemetaan Kawasan hutan dan non hutan

- Perlu mendorong agar dilakukan pemetaan kawasan hutan dan non hutan, karena di lapangan batas kawasan hutan tidak diketahui dengan jelas sehingga menyulitkan penerbitan sertifikat tanah.

(21)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 21

10. FGD Kajian Background Study RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Pelaksanaan kegiatan FGD pada tanggal 28 November 2013 bertempat di Hotel Cemara Jakarta, yang bertujuan menyampaikan hasil kajian Background Study RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan kepada unit kerja di Bappenas.

Pada FGD tersebut, telah berhasil disosialisasikan Background Study RPJMN 2015 – 2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan dan terjaring masukan dan tanggapan terhadap Background Study RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan. Beberapa hal penting yang didiskusikan dalam rapat antara lain, sebagai berikut:

 Perlu dikaji secara mendalam apakah regulasi bidang tata ruang dan pertanahan sudah disusun semua dan bagaimana keterkaitan antarregulasi tersebut. Selain itu perlu dipastikan peraturan perundangan yang disusun tidak saling ‘bertabrakan’;

 Peran dan fungsi Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah perlu diperkuat untuk mengatasi permasalahan pemanfaatan ruang di daerah. Selain itu, perlu peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) perlu dirumuskan dengan lebih seksama;

 Penyusunan RTRW perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan anggota masyarakat rentan seperti anak dan lansia;

 Komunikasi lintas sektor perlu dibuka untuk kegiatan lintas sektor seperti redistribusi tanah dan

access reform;

 Perlu dilakukan kajian komprehensif untuk perubahan sistem publikasi menjadi sistem publikasi positif;

 Pembentukan pengadilan khusus pertanahan lebih baik menjadi bagian dari peradilan umum namun sistemnya dibuat bagian khusus atau ‘kamar khusus’ yang hanya diperuntukan mengadili kasus pertanahan. Implikasinya perlu meningkatkan kemampuan penegak hukum termasuk polisi, jaksa dan hakim dalam Bidang Pertanahan.

 Percepatan penyediaan peta pertanahan secara digital dengan sistem koordinat yang pasti untuk menyediakan sistem informasi pertanahan yang lebih baik sehingga dapat mengurangi konflik pertanahan di dalam kawasan non-hutan maupun antara kawasan hutan dan non-hutan.

Gambar 5. Kegiatan FGD Kajian Background Study RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

(22)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 22

B. Kegiatan Pendukung

1. Rapat Koordinasi Konsolidasi Awal Koordinasi Reforma Agraria

Pelaksanaan Rakor Konsolidasi Awal Koordinasi Reforma Agraria diselenggarakan pada tanggal27 Maret 2013 bertempat di Ruang SG-5 Bappenas, yangbertujuan untuk mensosialisasikan Kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional sebagaimana telah ditetapkannya Surat Keputusan Menteri PPN/Bappenas Nomor Kep.55/M.PPN/HK/03/2013 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional.

Beberapa hal penting yang disampaikan oleh Direktur Tata Ruang Pertanahan, antara lain adalah :

 Latar belakang dari pembentukan Tim Koordinasi Reforma Agraria Nasional, antara lain: (i) maraknya kasus pertanahan, terutama pada awal Tahun 2012; (ii) arahan Menteri PPN agar segera dilakukan

Rapid Assessment unbtuk menemukenali akar permasalahan dan antisipasi intervensi kebijakan yang

diperlukan; dan (iii) kebutuhan aktual berupa pelaksanaan Reforma Agraria baik dalam pengertian Redistribusi Tanah maupun Penyempurnaan Sistem Pengelolaan Pertanahan Nasional yang dalam pelaksanaannya melibatkan kewenangan lain di luar wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) sehingga membutuhkan koordinasi strategis lintas kementerian lembaga (sektor).

 Tujuan dari pembentukan Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional adalah : (i) melaksanakan pengkajian, perumusan dan pengembangan kebijakan pertanahan nasional yang mendukung pelaksanaan reforma agraria; (ii) melaksanakan koordinasi penyusunan rencana, program, dan kebijakan (RPK) terkait reforma agraria nasional serta pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan RPK tersebut; dan (iii) melaksanakan diseminasi kebijakan pertanahan, membangun konsensus, dan mendapatkan dukungan dari institusi dan pelaku terkait pelaksanaan reforma agraria nasional.

 Koordinasi strategis reforma agraria nasional diharapkan dapat menghasilkan: (i) kebijakan penyempurnaan sistem pengelolaan pertanahan nasional; (ii) strategi, rencana, program, dan kegiatan (roadmap) pelaksanaan reforma agraria untuk jangka waktu 2013 – 2019; dan (iii) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan reforma agraria.

 Ruang lingkup kegiatan koordinasi strategis reforma agraria nasional meliputi 3 komponen utama, yaitu: (i) Redistribusi Tanah dan Access Reform; (ii)Identifikasi Cakupan Peta Dasar Pertanahan dan Wilayah yang Bersertifikat; dan (iii) Penyempurnaan Sistem Pengelolaan Pertanahan Nasional.

 Pada Tahun Anggaran 2013, kegiatan utama yang dilakukan terdiri dari : (i) penyusunan rencana pencapaian target 80% cakupan tanah bersertipikat dan peta dasar pertanahan; (ii) penyusunan rencana jangka menengah penyempurnaan sistem pengelolaan pertanahan; (iii) penyusunan TOR

pilot project registrasi wilayah hutan; dan (iv) penyusunan TOR studi pembentukan pengadilan

khusus pertanahan.

Beberapa hal penting yang disampaikan oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, BPN, antara lain adalah :

 Pada tahun 2007, jumlah kasus yang tercatat di BPN meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu mencapai 4.581 (BPN,2009). Sedangkan data terahir 2012 juga menunjukan peningkatan yang significant yaitu tercatat sejumlah 8.307 kasus.

Reforma agraria yang selama ini dilaksanakan di BPN terdiri dari Asset Reform dan Access Reform. Dalam implementasinya, pelaksanaan reforma agraria mengalami pasang surut karena stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.

(23)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 23

 Tanah objek reforma agraria terdiri dari : (i) tanah negara bekas kawasan hutan yang dilepaskan oleh Kementerian Kehutanan; (ii) tanah-tanah negara bekas HGU atau HGB/HP yang sudah berahir jangka waktu berlakukanya hak atas tanah dan tidah diperpanjang lagi atau diperpanjang sebagian; (iii)tanah-tanah bekas tanah hak (HGU atau HGB/HP yang diterlantarkan; dan (iv) tanah negara

Legalisasi asset dapat dilakukan melalui PRONA, UKM, Tanah Petani, Tanah Nelayan, Tanah Transmigrasi, Tanah MBR-Menpera.

Sedangkan penyelenggaraan access reform merupakan kegiatan pemberdayaan guna meningkatkan pemanfaatan tanah dengan sumber pendanaan yang dapat berasal dari APBD/APBN, CSR, dan kredit perbankan.

 Kegiatan reforma agraria menurut BPN lebih baik dikonsentrasikan terhadap Access Reform sebagai bentuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pelaksanaan refoma agraria dalam kaitannya dengan access reform, perlu pelibatan dari BI sebagai lembaga keuangan.

Gambar 6.Rapat Koordinasi Konsolidasi Awal Koordinasi Reforma Agraria

2. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BKPRD Tahun 2013

Rakornas Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Tahun 2013 dilaksanakan pada tanggal 10-12 April 2013 di Padang, Sumatera Barat, dengan mengangkat tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi BKPRD dalam rangka Mewujudkan Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah yang Berkualitas”.Tujuan Rakornas ini adalah melakukan pembinaan dan pengawasan kelembagaan penataan ruang yang mandiri, dinamis, dan progresif dalam rangka penguatan kelembagaan penataan ruang daerah yang berkelanjutan.

Sementara itu, sasaran yang ingin dicapai adalah terumuskannya isu-isu strategis kelembagaan penataan ruang daerah sebagai masukan bagi penyelenggaraan penataan ruang daerah yang berkualitas, diantaranya:

 Mekanisme dan tata kerja BKPRD

 Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bidang penataan ruang, dan

 Penguatan peran dan fungsi BKPRD sebagai wadah koordinasi penataan ruang daerah dan dalam pengendalian pemanfaatan ruang daerah.

Hasil Rakornas BKPRD ini akan menjadi salah satu input bahan bagi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BKPRN Tahun 2013.

(24)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 24 Gambar 7. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BKPRD Tahun 2013

3. Konsinyering Pembahasan White PaperKebijakan Pertanahan

Pelaksanaan konsinyering pembahasan White PaperKebijakan Pertanahan ini diselenggarakan pada tanggal 21 Mei 2013 bertempat di Hotel Morrissey Jakarta.

Hal-hal yang disampaikan dalam pembukaan konsinyering Direktorat Tata Ruang Pertanahan, Bappenas adalah mengenai penyusunan white paper dilakukan oleh staf sub direktorat pertanahan, dibantu oleh staf pengajar STPN Yogyakarta dan BPN yang memiliki keahlian dan kompetensi dalam bidang pertanahan. Namun dalam perjalannya penyusunan white paper diselesaikan secara sepihak oleh staf sub direktorat pertanahan karena waktu yang semakin terbatas dan keterbatasan waktu staf pengajar STPN Yogyakarta.

Latar belakang penyusunan white paper ini adalah: banyaknya kasus-kasus pertanahan yang terjadi saat ini. Akar permasalahan kasus pertanahan adalah: (i) normatif, terkait dengan kesejahteraan dan kepastian hukum hak atas tanah; (ii) teknis pengelolaan pertanahan nasional (sistem pendaftaran tanah stelsel negatif, belum adanya bank tanah dan pengadilan tanah); (iii) perbedaan cara pandang hukum pertanahan yang ada di masyarakat.

Usulan kebijakan yang perlu diambil dalam upaya perbaikan pengelolaan pertanahan nasional antara lain adalah: (i) kebijakan sistem pendaftaran tanah; (ii) kebijakan pencadangan dan pembentukan bank tanah; (iii) penyelesaian kasus pertanahan dan pembentukan pengadilan tanah; (iv) redistribusi tanah dan kebijakan access reform; dan (v) sumber daya manusia di bidang pertanahan.

(25)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 25

4. Rapat Kerja Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (Raker I)

Pelaksanaan Raker Tim Koordinasi Reforma Agraria Nasional ini diselenggarakan pada tanggal 11 Juni 2013 bertempat di Ruang SS-4 Bappenas, yang bertujuan untuk melakukan finalisasi terhadap draft Rencana Kerja Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional Tahun Anggaran 2013.

Rapat kerja ini merupakan kick-off pelaksanaan kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional Tahun 2013 dan memiliki tujuan untuk menyepakati rencana kerja Tim Koordinasi Strategis RAN Tahun 2013.

Beberapa hal penting yang mengemuka, yaitu:

 Perbaikan sistem pengelolaan pertanahan nasional memerlukan koordinasi lintas sektor, dengan memperhatikan tupoksi Bappenas yang mengemban fungsi koordinasi maka pada tahun 2013 dibentuk Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional melalui Surat Keputusan Menteri PPN/Bappenas Nomor Kep.55/M.PPN/HK/03/2013 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional.

Terdapat 4 kegiatan prioritas nasional di BPN berdasarkan review RPJMN dan RKP yaitu kegiatan redistribusi tanah, kegiatan inventarisasi penguasaan, pemilikan, pemanfaatan, dan penggunaan tanah (P4T), kegiatan penyusunan peta pertanahan, dan kegiatan legalisasi aset tanah. Dari empat indikator kegiatan strategis tersebut, dua diantaranya perlu perhatian khusus karena Trend Pencapaian RKP di bawah Trend Pencapaian RPJMN, yaitu Redistribusi Tanah dan Legalisasi Aset (Sertipikasi).

 Tim Koordinasi RAN diharapkan dapat memberikan masukan dan menyusun rumusan kebijakan yang diperlukan dalam pelaksanaan reforma agraria nasional.

 Perlu ada intervensi kebijakan pengelolaan pertanahan nasional, yaitu: (i) perubahan sistem pendaftaran tanah; (ii) kebijakan redistribusi tanah dan access reform; (iii) pembentukan pengadilan khusus pertanahan; (iv) pembentukan bank tanah; dan (v) kebijakan perbaikan proposi SDM bidang pertanahan.

 Pokok-pokok rencana kerja tahun anggaran 2013 terdiri dari: (i) identifikasi cakupan wilayah nasional yang sudah di petakan serta perlu dilakukan register dan publikasi wilayah hutan sehingga dapat mengurangi konflik pertanahan di buffer zone; (ii) penyusunan buku pedoman dalam pelaksanaan kegiatan redistribusi tanah dan access reform, selain itu diperlukan pula pemetaan lokasi wilayah yang sudah diredistribusi, sehingga dapat melakukan kerjasama dengan K/L terkait dalam pelaksanaan access reform seperti misalnya pada Kementerian Pertanian untuk kegiatan pupuk gratis; (iii) pembentukan pengadilan khusus pertanahan. Saat ini kasus pertanahan dapat masuk kedalam tiga pengadilan yang berbeda dan dapat menghasilkan keputusan yang berbeda pula sehingga hal tersebut tidak menjamin kepastian hukum; (iv) pembentukan bank tanah. Kegiatan yang akan dilakukan di tahun ini yaitu mengidentifikasikan model bank tanah di negara lain, untuk selanjutnya dibentuk kesepahaman mengenai model yang sesuai dengan kondisi Indonesia; (v) kebijakan SDM bidang pertanahan. Kegiatan yang dilakukan di tahun ini yaitu menentukan kebutuhan ideal terutama juru ukur dan bagaimana cara penyediaannya misalnya melalui pihak swasta.

 Selain pokok rencana kerja, terdapat juga kegiatan tim yang melibatkan koordinasi lintas sektor dan daerah, meliputi: (i) pengelolaan tanah ulayat Papua (termasuk identifikasi dan penetapan suku-suku); (ii) sertipikasi tanah transmigrasi yang memiliki masalah besar (proses sertipikasi dapat

(26)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 26 dipercepat untuk tanah program transmigrasi sebelum tahun 1998); (iii) program Agraria Daerah (PRODA) di Kaltim, kemungkinan disebabkan oleh miss komunikasi antara BPN dengan pemda karena sebenarnya telah ada alokasi dari pemda namun tidak ditanggapi oleh BPN.

Gambar 9. Rapat Kerja Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (Raker I)

5. Rapat Kerja Tim Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (Raker II)

Pelaksanaan Raker Tim Koordinasi Reforma Agraria Nasional ini diselenggarakan pada tanggal 26 Juni 2013 bertempat di Ruang Rapat 203 Gedung Madiun Bappenas, yang bertujuan untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan bentuk kerjasama yang mungkin dilakukan untuk dapat menjalankan kembali maupun merumuskan model baku kegiatan Access Reform, serta mempersiapkan rapat kerja Tim Koordinasi Strategis RAN di Provinsi Kalimantan Timur terkait dengan PRODA diantaranya : (i) mengidentifikasi

stakeholder yang terlibat; (ii) mengidentifikasi pokok pembahasan rapat kerja; dan (iii) mengidentifikasi

bentuk kesepahaman yang diharapkan. Rapat ini dihadiri oleh perwakilan Eselon 3 Direktorat Pemetaan Dasar BPN, Perwakilan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri BPN, perwakilan Kementerian Kehutanan, dan staf di lingkungan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan.

Beberapa hal penting yang mengemuka, yaitu:

 Koordinasi PRODA dilatarbelakangi beberapa hal sebagai berikut :

o Data BPN menunjukkan bahwa jumlah total bidang tanah di Indonesia yang telah bersertipikat hingga tahun 2012, mencapai 42.754.257 bidang tanah atau sekitar 49,23% dari total 86.845.839 bidang tanah non hutan di Indonesia.

o Keterbatasan alokasi anggaran APBN untuk BPN dalam melaksanakan sertipikasi tanah sehingga jumlah target sertipikasi setiap tahunnya masih terbatas, untuk itu inisiatif kegiatan sertipikasi PRODA yang dilakukan Pemerintah Daerah harus didukung.

o Pada kegiatan Musrenbang 2013 terdapat informasi dari Bappeda Provinsi Kalimantan Timur, bahwa kegiatan PRODA Provinsi Kalimantan Timur terhenti karena terkendala beberapa permasalahan diantaranya tidak adanya koordinasi antara pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan BPN setempat dan belum adanya pihak yang memediasi pelaksanaan PRODA sehingga menghambat target pencapaian dan output PRODA.

Sementara itu kegiatan Koordinasi Access Reform dilatarbelakangi beberapa hal sebagai berikut : o Terdapat kemungkinan pengalihan hak atas tanah yang telah diredistribusikan kepada pihak lain

karena masyarakat miskin penerima tanah tidak memiliki akses sumberdaya yang cukup untuk mengolah dan memanfaatkan tanah tersebut.

(27)

Laporan Kegiatan Tahun 2013 | 27 o Kegiatan pemberian bantuan kepada masyarakat teridentifikasi masih dilakukan secara tersebar,

sporadis, dan berdasarkan inisiatif masing-masing pihak pelaksana.

o Telah dibentuk Tim Koordinasi Reforma Agraria Nasional (RAN) melalui Kepmen PPN/Kepala Bappenas No. KEP.55/M.PPN/HK/03/2013. Salah satu rencana kerja pada tahun 2013 dalam tim koordinasi tersebut adalah terkait dengan koordinasi kegiatan Redistribusi Tanah oleh BPN dengan kegiatan pemberian bantuan kepada masyarakat oleh Pemda maupun Kementerian Lembaga (K/L).

o Kegiatan koordinasi dapat menjadi masukan bagi pelaksanaan Rencana Kebijakan Redistribusi dan

Access Reform.

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Access Reform adalah : (i) pelaksanaan kegiatan pemberian bantuan sudah tidak intensif lagi dilakukan oleh beberapa pihak yang telah teridentifikasi seperti Pemda Provinsi Jawa Tengah, Pemda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan K/L; dan (ii) belum terdapat konsep model Access Reform, sehingga belum dapat diarahkan sebagai pelengkap

Asset Reform (sertipikat tanah yang diberikan dalam kegiatan redistribusi tanah).

Koordinasi Access Reform dilakukan untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan bentuk kerjasama yang mungkin dilakukan untuk dapat menjalankan kembali maupun merumuskan konsep model pemberian bantuan pada masyarakat (Access Reform) dan teridentifikasi mekanisme perumusan konsep model Access Reform.

 Rapat koordinasi terkait kegiatan PRODA akan dilakukan tim koordinasi strategis Reforma Agraria Nasional di Kalimantan Timur pada tanggal 11 Juli 2013. Sementara itu pelaksanaan rapat koordinasi terkait access reform direncanakan antara 22-27 Juli 2013 bertempat di Bappenas dengan mengundang beberapa Kementerian/Lembaga yang memiliki program/ kegiatan yang terkait pelaksanaan access reform pada lokasi yang telah ditentukan (Provinsi Bangka Belitung dan Jawa Tengah). Dalam rapat koordinasi terkait dengan access reform di atas akan dilakukan pemaparan dari BPN mengenai kriteria clean and clear subyek dan obyek kegiatan redistribusi tanah dan access

reform. Selain itu akan diidentifikasi program/kegiatan masing-masing K/L yang terkait dengan

redistribusi tanah (Kementan, KKP, Kemenpera, Kemenkop UKM, Kemenakertrans, Kemenhut).

6. Rapat Koordinasi Program Reforma Agraria Daerah (Provinsi Kalimantan Timur)

Pelaksanaan Koordinasi Program Reforma Agraria Daerah diselenggarakan pada tanggal 11 Juli 2013 dan Jumat, 19 Juli 2013 bertempat di Provinsi Kalimantan Timur, yang bertujuan untuk mengidentifikasikan permasalahan dalam pelaksanaan PRODA Provinsi Kalimantan Timur; dan menyepakati upaya tindak lanjut pelaksanaan PRODA Kalimantan Timur. Rapat dihadiri oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Badan Pertanahan Nasional (Pusat), Bappeda Provinsi Kalimantan Timur, Kantor Wilayah BPN Kalimantan Timur, Bappeda Kabupaten/Kota terdekat (Provinsi Kalimantan Timur), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Wilayah Kalimantan Timur, Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota terdekat (Provinsi Kalimantan Timur).

Beberapa hal penting yang mengemuka, adalah:

 Secara nasional berdasarkan data BPN, pada tahun 2012 jumlah bidang tanah yang bersertipikat mencapai 42.754.257 bidang atau mencapai 49,23% dari total keseluruhan. Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan jumlah tanah bersertipikat adalah Program Agraria Nasional yang dibiayai oleh APBN untuk mensertipikatkan tanah masyarakat yang tidak mampu. Keterbatasan

Gambar

Gambar 1.Struktur Organisasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
Gambar 2.Grafik Kinerja Anggaran Direktorat Tata Ruang dan PertanahanTahun Anggaran 2013
Gambar 3. Pameran Perencanaan Pembangunan Nasional 2013
Gambar 5. Kegiatan FGD Kajian Background Study RPJMN 2015-2019  Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan Algoritma Minimax dan Algoritma Memory Enhanced Test Driver with Value f pada permainan checkers berjalan sesuai dengan alur logika algoritma yang telah

Persoalan yang hendak diketahui dalam penelitian ini adalah mencari latar belakang konsep tauhid salafi dalam buku Mulia dengan Manhaj Salaf Karya Yazid bin Abdul Qadir

Stres oksidatif pada diabetes melitus hasil dari oksigen dan nitrogen spesies reaktif berlebih (ROS / RNS) yang berasal dari jalur poliol, oksidasi glukosa, AGEs, dan

metode yang sangat baku dan simple disebut HALT, atau Burst Mode DMA, karena DMA controller memegang kontrol dari sistem bus dan mentransfer semua blok data ke atau dari memori

Rangkaian program counter (PC) dan memori instruksi mengeluarkan 16-bit alamat yang akan didistribusikan ke elemen-elemen dalam prosessor seperti control unit dan register

Sebanyak 4 orang responden menjawab sangat setuju, sebanyak 68 orang responden menjawab setuju dan 28 orang responden menjawab cukup pada partisipasi

Jika mobil sedang menanjak dan menurut asumsi pengemudi mesin tidak akan mampu melalui tanjakkan itu dalam perseneling yang digunakan, dan jangan menunggu terlalu lama

GAOL: Studi Kelayakan Ekonomi Budidaya Durian di Desa Lau Bagot, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi.. Dibawah bimbingan AGUS PURWOKO dan