KARTANEGARA
Oleh :
RISKA DEWI
NIM. 130500132
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill. Kembang Janggut Kutai Kartanegara dari tanggal 12 Maret 2016 sampai dengan 10 Mei 2016.
Menyetujui,
Pembimbing,
Elisa Ginsel Popang. S.TP., M.Sc.
NIP. 197012292003121001 Penguji,
Khusnul Khotimah, S.TP, M. Sc.
NIP. 1979102520006042002
Mengesahkan
Ketua Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Muh.Yamin, S.TP., M.Si. NIP. 197408132002121001
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan yang dilakukan selama 2 bulan terhitung dari tanggal 12 Maret sampai 10 Mei 2016 di pabrik kelapa sawit Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill di Desa Gunung Sari Kec. Kembang Janggut. Kab Kutai Kartanegara. Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Arbids yah selaku Mill Manager di PT. Sasana Yudha Bhakti, Satria Oil Mill
2. Bapak Muh. Yamin, S.TP.,M.Si selaku Ketua Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan.
3. Elisa Ginsel Popang, S.TP.,M.Sc selaku Dosen Pembimbing. 4. Khusnul Khotimah, S.TP.,M.Sc selaku Dosen Penguji.
5. Seluruh teman-teman yang membantu dalam menyelesaikan laporan praktek kerja lapang ini.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan dalam kegiatan praktek kerja lapang dan penyelesaian laporan ini, mendapat balasan yang setimpal dari Allah
a. Amin. Penulis berharap informasi yang tersaji di dalam
laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya untuk kemajuan perkembangan dibidang teknologi pengolahan hasil perkebunan.
Samarinda, 09 Agustus 2016
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... . iii
DAFTAR IS ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 2
C. Manfaat Praktek Kerja Lapang ... 3
D. Metode Praktek Kerja Lapang ... 3
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN ... 5
III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG ... 7
A. Pengolahan Minyak Sawit ... 7
1. VEBEWE ... 7
2. Penimbangan ... 9
3. Sortasi Buah dan Grading ... 11
4. Penimbangan TBS di Loading Ramp ... 16
5. Perebusan Buah... 18
6. Penumpahan Buah (Tippler)... 20
7. Penebahan Buah... 21
8. Pelumatan dan Pengepressan ... 24
9. Oil Room ... 28
B. Pengolahan Inti Sawit ... 32
1. Pemisahan Biji dan Ampas ... 32
2. Proses Pemecahan Biji ... 35
3. Pemisahan Inti dan Cangkang ... 36
4. Pengolahan Inti ... 39
C. Analisis Minyak Kelapa Sawit ... 42
1. Pengambilan Contoh ... 42 2. Pengujian ... 42 IV. KESIMPULAN ... 55 A. Kesimpulan ... 55 B. Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN 58
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Grading dan Sortasi ... 58
2. Stasiun Loading Ramp ... 58
3. Lori Yang Berisi TBS ... 59
4. Horizontal Sterilizer ... 59 5. Tippler ... 60 6. Drum Threser ... 60 7. Digester... 61 8. Alat Press ... 61 9. Vibrating Screen ... 62
10. Crude Oil Tank (COT) ... 62
11. Continous Settling Tank (CST) ... 63
12. Oil Tank... 63
13. Vacum Drier ... 64
14. Sludge Centrifuge ... 64
15. Fat Fit ... 65
16. Cake Breaker Conveyor (CBC) ... 66
17. Nut Polishing Drum ... 66
18. Ripple Mill ... 67
19. LTDS 1-4 ... 67
20. Hydro Cyclone ... 68
21. Bulk Silo ... 68
22. Hopper Press Stage 1 ... 69
24. Alat Press Kernel ... 70 25. Leaf Filter ... 70 26. Oil Tank... 71
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis yang tergolong dalam Famili Palmae. Tanaman ini berasal darii dataran Afrika dan mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1848. Tanaman kelapa sawit sebagai tanaman industri mulai diusahakan secara komersil di Indonesia sejak 1991.
Kelapa sawit adalah tanaman komoditas utama perkebunan Indonesia, dikarenakan nilai ekonomi yang tinggi dan kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati terbanyak diantara tanaman penghasil minyak nabati yang lainnya (kedelai, zaitun, kelapa, dan bunga matahari). Kelapa sawit dapat menghasilkan minyak nabati sebanyak 6 ton/ha, sedangkan tanaman yang lainnya hanya menghasilkan minyak nabat ii sebanyak 4 - 4,5 ton/ha (Sunarko, 2007).
Sekarang ini prospek dari kelapa sawit sangat menguntungkan hal ini disebabkan karena hasil akhir dari pengolahan kelapa sawit seperti minyak goreng memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Oleh karena itu sangatlah baik jika mahasiswa pertanian melakukan praktek kerja lapangan di perusahaan yang memiliki pabrik kelapa sawit dan salah satu perusahaan tersebut adalah PT. Sasana Yudha Bhakti yang terletak di Desa Gunung Sari Kec. Tabang Kab. Kutai Kartanegara. Kesempatan untuk memperoleh suatu pekerjaan selain ditentukan oleh pengetahuan berupa teori yang diberikan di bangku perkuliahan, juga harus didukung oleh banyaknya pengalaman di lapangan. Perkuliahan yang dilaksanakan hanyalah merupakan rangkaian kegiatan proses belajar yang berupa materi-materi,
keterangan dan penjelasan tanpa adanya pengalaman langsung tentang apa dan bagaimana sesungguhnya kegiatan yang berlangsung di lapangan. Oleh karena itu diperlukan adanya PKL yang bertujuan untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan gambaran kepada mahasiswa tentang bagaimana sesungguhnya realita dunia kerja yang akan dimasuki setelah lulus sarjana. Dengan adanya Peraktek Kerja Lapang (PKL) ini diharapkan nantinya para lulusan sarjana dapat menciptakan usahanya sendiri dan tidak sekedar melamar atau mencari pekerjaan.
B. Tujuan Praktek Kerja Lapang 1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui produk apa saja yang dihasilkan di PKS
b. Untuk mengetahui standar mutu minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit.
c. Mampu melihat hubungan antara teori dan aplikasi di lapangan dengan segala faktor yang mempengaruhinya.
2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh pengetahuan tentang pengolahan kelapa sawit di pabrik PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB).
b. Mengetahui persoalan yang timbul di lapangan mengenai proses pengolahan kelapa sawit
c. Mengetahui atau memahami pelaksanaan setiap tahapan proses dan pengenalan peralatan yang digunakan.
C. Manfaat Praktek Kerja Lapang 1. Bagi Mahasiswa
a. Membekali mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja.
b. Kesempatan mendapat pengalaman, khususnya dalam bidang perkebunan dan memahami profesi dalam model yang nyata bagi calon sarjana.
2. Bagi Perusahaan
a. Mahasiswa diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya produktifitas perusahaan atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi perusahaan.
D. Metode Praktek Kerja Lapang
Dalam melaksanakan kegiatan praktek ini digunakan beberapa metode, pendekatan yaitu :
1. Metode Observasi
Mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk mengamati serta melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan di lapangan.
2. Metode Wawancara
Mahasiswa melakukan dialog dan bertanya langsung dengan pihak terkait yang ada di lapangan serta orang-orang orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan di lapangan dan bertanggung jawab terhadap semua masalah tek nis di lapangan.
3. Studi Pustaka
Penulis menggunakan berbagai literatur yang bisa memperkuat isi tulisan seperti, buku, jurnal dan berbagai literatur lain yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan tentang kelapa sawit
4. Dokumentasi
Selama melaksanakan kegiatan di lapangan mahasiswa menggunakan foto atau gambar untuk memperkuat isi laporan yang akan disusun
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjuan Umum PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB)
PT.SASANA YUDHA BHAKTI adalah sebuah perusahaan yang tergabung dalam group PT. Rea Kaltim Plantation. PT. Sasana Yudha Bhakti berlokasi di Desa Gunung Sari Kec. Tabang Kab. Kutai Kartanegara
PT. Rea Kaltim Plantations (REA) adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit PMA yang telah beroperasi sejak tahun 1994 di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rea Kaltim Plantation telah memiliki luas kebun yang tertanam sekitar 32.000 ha dan memilki 3 PKS yang tersebar di Kalimantan timur (Kabupaten Kutai Kartanegara). Group perusahaan Rea Kaltim Plantation masuk ke Indonesia pada tahun 1994.
B. Manajemen Perusahaan
Manajemen PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill memiliki struktur organisasi sebagai berikut :
1. Mill Manager yaitu Bapak Arbidsyah bertugas sebagai penanggung jawab semua kegiatan ada di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill. 2. Asisten Kepala yaitu Bapak Sudarto bertugas mengawasi segala bentuk
kegiatan yang dilakukan di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill. 3. Office Administrator yaitu Bapak Edy Parwoto bertugas sebagai office
administrator di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
4. Asisten proses yaitu Bapak Roliyansyah dan Toni Edward S. Keleko bertugas mengawasi kegiatan yang dilakukan selama proses pengolahan kelapa sawit di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
5. Asisten Maintenance & Repair yaitu Bapak Safrizal Siagian bertugas mengawasi segala bentuk kerusakan di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
6. Asisten Electrical yaitu Bapak Anjar Wiyono bertanggung jawab terhadap elektrik yang berada di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
7. Asisten Laboratorium yaitu Ibu Defi Y. Sitorus dan Novi Setyawati bertanggung jawab terhadap grading dan laboratorium di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
8. Asisten Environment yaitu Bapak Hermawan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan safety di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
9. Asisten proses KCP yaitu Bapak Antonius K. Fernandez dan Juni P. Malau bertugas mengawasi kegiatan KCP selama proses pengolahan kernel di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG
Pabrik kelapa sawit (PKS) dioperasikan dalam suatu rangkaian proses yang kontinu, dimana hasil proses dari suat u instalasi akan dilanjutkan oleh instalasi berikutnya dengan mempertahankan mutu. Kesalahan yang terjadi pada tahapan proses tertentu tidak dapat diperbaiki pada proses berikutnya.
Atas dasar tersebut maka dibutuhkan tindakan/perlakuan yang benar untuk setiap tahapan proses sehingga hasil akhir yang diperoleh akan maksimal. Mengolah bahan baku TBS menjadi CPO dan CPKO dilakukan dengan prinsip proses pemisahan dari bahan yang sudah tersedia atau tanpa merubahnya.
Salah satu faktor yang menentukan untuk mendapatkan rendemen yang optimal, maka hasil produksi yang baik dan efisiensi yang tinggi dari suatu pabrik adalah mutu bahan baku atau TBS yang akan diolah. TBS yang mentah atau kurang memenuhi standar matang tidak dapat menghasilkan rendemen minyak sawit yang optimal. Yang termasuk TBS mentah adalah TBS yang jumlah brondolannya belum mencapai standar.
Faktor lain yang menentukan pencapaian rendemen dan efisiensi pabrik adalah peralatan yang harus dalam kondisi standar, baik kualitas maupun kuantitasnya dari setiap stasiun. Kapasitas dari stasiun yang satu harus sinkron dengan kapasitas stasiun lainnya. Selanjutnya cara pengoperasian dari se tiap stasiun juga merupakan faktor yang menentukan dari kinerja suatu PKS.
A. Pengolahan Minyak Sawit
a. VEBEWE (Verification Before Weightbridge) 1. Tujuan
1) Memverifikasi buah sebelum ditimbang PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2) Memperkecil terjadinya pencurian buah PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2. Dasar teori
Vebewe berfungsi sebagai memverifikasi buah yang masuk ke dalam pabrik. Di vebewe, mobil yang masuk diperiksa dengan menggunakan tablet/ipad Samsung Galaxy note 5 yang tersambung dengan kantor dan mobil diperiksa berupa tahun tanam sawit, ID pemilik lahan, Plat nomor kendaraan, serta nama pengemudi. Adapun tujuan yang lebih utama ialah untuk memperkecil terjadinya pencurian buah (Anonim, 2016).
3. Alat dan Bahan 1) Alat
a. Tablet/Ipad Samsung Galaxy note 5 b. Wifi
c. Kertas verifikasi 2) Bahan
4. Prosedur kerja
1) Mula-mula truk pengangkut TBS memverifikasi terlebih dahulu 2) Setelah data cocok maka truk pengangkut TBS bisa langsung di
timbang. 5. Hasil
Untuk mengurangi terjadinya pencurian buah. 6. Pembahasan
Hasil dari vebewe ini dapat memberikan informasi buah masuk dari mana saja dan ini hanya berlaku untuk buah dari koperasi.
b. Penimbangan 1. Tujuan
1) Mengetahui proses penimbangan pada PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2) Mengetahui tonase TBS yang diterima PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
3) Menimbang seluruh hasil produksi CPO dan CPKO yang akan dikirim keluar PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2. Dasar teori
Penimbangan dilakukan dua kali untuk setiap angkutan TBS yang masuk ke pabrik, yaitu pada saat masuk (berat truk dan TBS) serta pada saat keluar (berat truk). Selisih timbangan saat truk masuk dan keluar, diperoleh berat bersih TBS yang masuk ke pabrik. Umumnya jembatan timbang yang digunakan PKS berkapasitas 30-40 ton (Pahan, 2008).
Selain itu dijembatan timbang ini untuk meng etahui tonase kernel masuk dan jankos yang dikeluarkan pabrik serta untuk mengetahui bahan bakar seperti solar dan lainnya.
Adapun tujuan dari penimbangan adalah : 1) Mengetahui berat angkutan TBS yang masuk. 2) Sebagai acuan pembayaran pada pihak ke-3.
3) Menimbang seluruh hasil produksi CPO dan CPKO yang akan dikirim keluar pabrik.
4) Untuk memberikan data TBS yang diterima pabrik ke kebun penyuplai.
3. Alat dan bahan 1) Alat
a) Jembatan timbang b) Truk
c) Komputer kontrol timbang 2) Bahan a) TBS b) Kernel c) CPO d) CPKO e) Kompos f) Janjangan kosong g) Cake
4. Prosedur kerja
1) Penampang timbangan harus selalu bersih dari brondolan, lumpur dan sampah
2) Truk yang akan ditimbang masuk ke jembatan timbang secara perlahan lahan
3) Truk berhenti di tengah-tengah jembatan timbang dan sopir turun dari truk selanjutnya truk ditimbang dengan catatan truk di depannya telah melewati jembatan timbang
4) Supir memberikan surat DO dari kebun ke operator timbang. 5) Penimbangan selesai apabila sopir membawa keluar truk dari
jembatan timbang untuk masuk atau keluar dari lokasi pabrik. 5. Hasil
Dari hasil pengamatan dalam kerja praktek diketahui bahwa rata-rata truk membawa sekitar 7-8 ton/truk TBS dari kebun. PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill rata-rata menerima TBS sebanyak 300- 400 ton TBS/hari.
Penimbangan di PKS Satria Oil Mill dioperasikan secara elektronis yang berkapasitas 30-40 ton dan dioperasikan oleh satu orang yang bertugas menginput data yang diperoleh di timbangan ke dalam laporan harian penimbangan PPKS Satria Oil Mill. Rata-rata TBS yang diterima pabrik Satria Oil Mill adalah 9000-12000 ton TBS/bulan, yang mampu menghasilkan 1800-270 ton CPO/bulan. 6. Pembahasan
Hasil dari penimbangan ini dapat memberikan informasi kepada perusahaan tentang jumlah TBS yang masuk. Hasil penimbangan ini
juga merupakan salah satu dalam pembayaran terhadap TBS yang dikirim oleh kebun plasma milik masyarakat dan juga dari kebun milik perusahaan. Selain CPO dan CPKO yang telah dikirim oleh pabrik. c. Sortasi Buah dan Grading
1. Tujuan
1. Memberikan estimasi mutu TBS harian, bulanan dan todate dari setiap divisi untuk masing-masing estate dan perusahaan lain yang mengirim TBS ke PKS.
2. Memberikan estimasi mutu rata-rata TBS harian, bulanan dan
todate yang masuk ke PKS.
3. Counter check terhadap grading TPH 2. Dasar teori
Untuk mengetahui rendemen dan penilaian mutu perlu diketahui keadaan TBS yang masuk ke dalam pabrik. Karena itu, perlu dilakukan sortasi. Sortasi dilakukan pada setiap kebun dengan menentukan satu truk yang dianggap mewakili seluruh kebun asal, baik dari keb un sendiri maupun dari kebun pihak ketiga (Sunarko, 2007).
Fungsi dari sortasi adalah sebagai berikut : 1) Feedback kepada kebun mengenai mutu TBS 2) Counter check terhadap sortasi TPH
3) Gambaran mutu rata-rata TBS untuk pengendalian proses 4) Patokan pembayaran pada pihak ketiga
5) Penentu bahan baku olah pabrik
Grading atau sortasi adalah memilih TBS berdasarkan kriteria buah
Standar hasil panen :
1) Buah yang dipanen harus matang dan tidak ada yang mentah 2) Buah yang busuk harus dibanting dan hanya diambil
brondolannya saja 3. Klasifikasi Buah
Untuk keperluan ini maka diperlukan sortasi sesuai dengan kriteria-kriteria panen sebagai berikut :
Buah Normal :
Apabila brondolan lepas lebih kecil dari > 5 brondolan dalam satu janjang sesuai dengan kuat per janjang.
Buah Mentah :
Dalam satu janjang tidak ada yang membrondol, warna biru hitam atau hijau. Bila dipotong daging buah warna putih atau kuning keputih-putihan.
Buah kurang matang/mengkal : Berdasarkan tahun tanam
Tahun tanam 94-98, berondolan 0-5 kategori buah mengkal. Tahun tanam diatas 98, berondolan 0-1 kategori buah mengkal.
Buah matang :
Berdasarkan tahun tanam
Tahun tanam 94-98, berondolan >5. Tahun tanam diatas 98, berondolan 2-5.
Buah over ripe :
Brondolan lepas dari janjangan lebih dari 50-75% brondolan lepas dari janjangan.
Buah janjangan kosong :
Brondolan tinggal dalam janjangan tersisa hanya 25%-0% per janjang.
Buah abnormal :
Buah Partenocarpic yaitu brondolan kecil-kecil (buah cengkeh) yaitu 50% dari satu janjang.
Buah keras/batu yaitu ujung brondolan warna hitam-hitam dan pecah-pecah.
4. Alat dan bahan
1. Alat a) Tojok b) Skop c) Sarung tangan d) Counter e) Alat tulis 2. Bahan a) TBS b) Brondolan 5. Prosedur kerja
1) Unit sampling adalah total TBS dalam truk
2) Sampling harus berkesinambungan selama waktu penerimaan TBS harian
3) Sampel yang harus diambil minimun 10% dari TBS masuk perhari atau minimal 1 sampel truk per divisi
4) Metode pemilihan sampel sebagai berikut :
a) Separuh muatan dari truk pengiriman TBS yang dimaksudkan untuk disortasi harus dibongkar diatas lantai loading ramp. b) Dipilih secara acak sebanyak 100 tandan dari 3 tumpukan TBS,
dimana 40 tandan dari tumpukan depan, 30 tandan dari tumpukan sebelah kiri, dan 30 tandan dari tumpukan sebelah kanan.
c) Lakukan sortasi tandan sesuai dengan klasifikasi tandan. d) Grader harus menyortir setiap tumpukan secara bersama-sama
sebelum melakukan sortasi ketumpukan yang lain.
e) Grader tidak boleh menginjak dan melukai brondolan secara sembarangan selama penyortiran.
6. Hasil
Setelah melakukan sortasi maka dapat diketahui kondisi fisik TBS yang diterima PKS Satria Oil Mill yaitu buah matang dan buah kurang matang dengan persentase buah kurang matang 3%, tangkai panjang 1%. Setelah melakukan pengamatan di PKS Satria Oil Mill ternyata hasil sortasi belum memenuhi standar yang telah ditentukan, yaitu masih banyak terdapat buah kurang matang, dan tandan tangkai panjang.
Hasil yang diharapkan dari sortasi dan grading ini ialah untuk mendapatkan buah yang matang dan bagus untuk diolah sesuai dengan kriteria pabrik. Namun pada kenyataannya, hasil sortasi ini
tidak memenuhi standar yang telah ditentukan oleh pabrik dikarenakan buah yang masuk tidak hanya dari kebun inti saja tetapi kebun dari masyarakat atau koperasi juga. Hal tersebut terbukti dari hasil sortasi dan grading dari masyarakat atau koperasi masih terdapat TBS yang tidak diharapkan dengan rata-rata buah kurang matang 4%, dan tangkai panjang 5%.
7. Pembahasan
Mandor sortasi bertugas merekap hasil sortasi untuk kemudian diberikan kepada asisten laboratorium sebagai laporan tentang TBS yang diterima pabrik dan yang dihasilkan oleh kebun inti. Dengan demikian dapat diketahui mutu dari TBS yang diterima oleh pabrik. Hasil rekap ini juga bertujuan untuk memberikan feedback kepada kebun inti tentang kondisi buah yang telah diterima oleh pabrik.
d. Penimbunan TBS di Loading Ramp 1. Tujuan
1) Menampung sementara TBS yang diterima oleh pabrik
2) Memindahkan TBS ke conveyor untuk dibawa ke stasiun perebusan 2. Dasar teori
TBS yang telah ditimbang di jembatan timbang selanjutnya dibongkar di loading ramp dengan menuang (dump) langsung dari truk.
loading ramp merupakan suatu bangunan dengan lantai berupa
kisi-kisi pelat besi berjarak 10 cm dengan kemiringan 45o. Kisi-kisi tersebut berfungsi untuk memisahkan kotoran berupa pasir, kerikil, dan sampah yang terikut dalam TBS. kotoran yang jatuh melalui kisi-kisi ditampung oleh dirt conveyor sehingga memudahkan dalam pembangunannya.
Loading ramp dilengkapi dengan pintu-pintu keluaran yang digerakkan
secara hidrolis sehingga memudahkan dalam pengisian TBS ke dalam lori untuk proses selanjutnya. Setiap lori dimuat dengan 2,50-2,75 ton TBS (lori kecil) dan 4,50 ton TBS (lori besar) (Pahan, 2008).
3. Alat dan bahan 1) Alat a) Loading ramp b) Pintu hidrolik c) Conveyor d) Gancu 2) Bahan a) TBS b) Brondolan 4. Prosedur kerja
1) Pengisian loading ramp dilakukan secara berurutan. 2) Buka pintu hidrolik untuk mengisi conveyor.
3) Atur jumlah TBS yang dibawa oleh conveyor untuk menghindari trip.
4) Conveyor akan membawa TBS menuju ke lori, dan dari lori masuk ke stasiun perebusan.
5. Hasil
PKS Satria Oil Mill memiliki 2 line loading ramp yang masing-masing loading ramp memiliki 15-18 pintu. Kapasitas dari conveyor sendiri rata-rata 60 kg TBS, operator juga bertugas untuk
membersihkan kotoran seperti karung, batu, pelepah, dan benda-benda asing yang terikut dalam conveyor.
Dengan adanya loading ramp maka pengolahan TBS dengan sistem FIFO (First In First Out) dapat diterapkan dengan baik dan pengisian TBS ke conveyor dapat berjalan dengan lancar.
Setelah mengamati stasiun loading ramp diketahui bahwa sering terjadi penumpukan TBS di dalam FFB conveyor sehingga terjadi trip. 6. Pembahasan
Dampak dari penimbunan TBS yang melebihi kapasitas penampungan dan terlalu lamanya penampungan di loading ramp, TBS akan rusak sehingga saat TBS dilarang masuk ke bidang luncur dengan menggunakan alat berat seperti whell loader banyak brondolan yang tergilas roda dan akan menjadi memar yang berakibat mempercepat laju kenaikkan asam lemak bebas.
e. Perebusan Buah 1. Tujuan
1) Menonaktifkan enzim lipase. 2) Melunakkan daging buah.
3) Memudahkan proses penebahan/pelapasan berondolan dari tandannya.
4) Mengurangi kadar air. 2. Dasar teori
Setiap PKS tentu ingin menghasilkan minyak dengan kualitas yang baik, tingkat keasaman yang rendah, dengan minyak yang mudah dipucatkan (bleaching). Proses perebusan sangat
menentukan kualitas hasil pengolahan pabrik kelapa sawit. Tujuan dari proses perebusan TBS yaitu untuk menghentikan perkembangan asam lemak bebas (ALB) atau free fatty acid (FFA), memudahkan pemipilan, penyempurnaan dalam pengolahan, serta penyempurnaan dalam proses pengolahan inti sawit (Pahan, 2008).
3. Alat dan Bahan 1) Alat a) Horizontal stelirizer b) Injekser c) Lori d) Transfer carriage e) Panel kontrol 2) Bahan a) TBS b) Brondolan 4. Prosedur Kerja
1) TBS dibawa oleh conveyor ke dalam lori digerakan dengan panel control.
2) Lalu lori digerakan dengan menggunakan injekser lalu dipindahkan dengan menggunakan transfer carriage ke sterilizer. 3) TBS direbus dengan lama waktu perebusan 90 menit.
4) Setelah selesai direbus lori dipindahkan dengan menggunakan
5. Hasil
Di PT. Sasana Yudha Bhakti memiliki 2 line loading ramp untuk menyuplai TBS ke sterilizer, untuk kapasitas per sterilizer adalah 30 ton TBS dengan sistem perubusan menggunakan sistem perebusan secara auto. Sistem perebusan ini menggunakan sistem triple peak dengan tekanan maksimal 3 bar.
Waktu perebusan yang diperlukan di PT. Sasana Yudha Bhakti rata-rata adalah 90 menit/sterilizer. Untuk memenuhi kapasitas pabrik yang sebesar 45 ton/jam maka dibutuhkan 2 unit sterilizer yang beroperasi.
6. Pembahasan
Kendala yang sering terjadi dalam proses perebusan ini adalah steam yang dikeluarkan oleh boiler, pada saat PKL boiler sering mengalami kerusakan dan juga jumlah buah yang kurang.
Akibat dari kerusakan dan kurangnya buah tersebut adalah target pengolahan pabrik yang sebesar 45 ton/jam sulit untuk dicapai karena waktu proses terpotong oleh waktu perbaikan dan hasil CPO berkurang.
f. Penumpahan Buah (Tippler) 1. Tujuan
Untuk menumpahkan buah yang telah direbus ke proses selanjutnya.
2. Dasar teori
Tippler adalah sebagai pengganti hoist crane untuk membalikkan lori, hanya saja kapasitas lori yang digunakan pada sistem ini antara
5-10 TBS. Guna pembalikkan ini adalah untuk menuangkan lori agar
cook fruit bunch diangkut dengan cook fruit bunch segar menuju atas drum threser. Kemudian langsung drum stripper (Anonim, 2016).
3. Alat dan Bahan 1) Alat
a) Mesin tippler 2) Bahan
a) Tandan Buah 4. Prosedur kerja
1) Lori yang keluar dari sterilizer dibawa oleh transfer carriage ke mesin tippler dengan bantuan injekser.
2) Setelah lori masuk ke dalam mesin tippler lori di putar hingga 1800 untuk menumpahkan buah.
5. Hasil
Tandan buah yang ditumpah tadi jatuh ke conveyor lalu dibawa ke proses selanjutnya. Hambatan yang sering mengganggu waktu pengoperasiannya adalah pada saat pengoperasian tippler untuk melakukan pembalikan lori. Dimana pada saat penuangan cook fruit
scraper tidak dilakukan dengan perlahan maka tumpukkan akan
terjadi, sehingga overload pada scraper dan mengakibatkan sering putusnya chain.
6. Pembahasan
Pada prinsipnya sistem tippler sederhana bila ditinjau dari konstruksi bangunannya maupun operasi serta maintenancenya lebih
murah. Juga jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit dibanding sistem hoist crane.
g. Penebahan Buah 1. Tujuan
Untuk melepaskan brondolan dan buah dari tandannya dan memudahkan proses pelumatan dan pengepresan pada stasiun pressing.
2. Dasar Teori
Tandan buah yang telah direbus dimasukkan ke dalam mesin pelepas buah (thresher). Mesin pelepas buah ini berbentuk drum berdiameter 2 m, panjang 3,25-4,25 m, dan berputar maksimal 21-23 putaran per menit tandan buah akan terbanting ke dinding sehingga terlepas dari mesin melalui kisi-kisi, kemudian jatuh ke screw
conveyor yang akan membawanya ke stasiun pengadukan digester
(Setyamidjaja, 2006).
3. Alat dan Bahan a. Alat
a) Mesin thresher b) Conveyor c) Fruit elevator b. Bahan
a) TBS yang telah direbus 4. Prosedur Kerja
1) TBS yang telah direbus dan ditumpahkan oleh tippler dibawa oleh conveyor masuk ke dalam mesin thresher.
2) Mesin thresher akan memisahkan brondolan dengan tandan dengan cara membanting buah dengan kecepatan putar 21-23 rpm.
3) Brondolan jatuh ke bottom fruit conveyor dan jankos akan menuju ke empty bunch conveyor.
4) Brondolan akan dibawa oleh feeding digester conveyor untuk diumpankan ke mesin digester.
5) Jankos akan dijadikan pupuk untuk kebun. 5. Hasil
Di PKS Satria Oil Mill menggunakan double drum thresher karena thresher ini lebih menguntungkan karena akan meminimalisir dari persentase unstripped bunch (USB) jika masih ada janjangan yang berasal dari thresher nomor satu terdapat brondolan yang masih melekat akan masuk ke bunch crusher dan akan diteruskan ke
thresher nomor dua, disini akan dilakukan pembantingan lagi, maka
nilai dari persentase USB akan menurun dibanding dari USB thresher nomor satu. Hasil dari stasiun ini didapatkan pemisahan antara brondolan dengan tandannya dengan cara membanting TBS pada drum di dalam mesin thresher dengan putaran 21-23 rpm.
Buah yang telah masuk dalam thresher akan diputar dan dibanting sehingga brondolan lepas dari tandannya dan brondolan jatuh ke fruit elevator sedangkan janjangan jatuh ke EBC (empty
bunch conveyor) untuk didistribusikan ke penampungan empty bunch. Berondolan akan dikirim melalui fruit elevator ke digester
untuk dilumatkan kemudian ke stasiun press untuk mengeluarkan minyaknya.
6. Pembahasan
Stasiun threshing terdiri dari beberapa bagian alat atau mesin dan dalam proses pengoperasiannya sangat berkaitan satu sama lain. Maksud dan tujuan desain dari dari pada stasiun ini adalah sebagai berikut :
1) Untuk melepaskan buah (TBS yang sudah direbus) dengan tandannya dengan sistem bantingan.
2) Untuk menjaga kestabilan/pemerataan secara kontinu agar kapasitas pengolahan TBS dapat tercapai sesuai desain pabrik dengan pengoperasian hoistcycle, auto feeder, maupun
supervise yang benar.
3) Menjaga oil loss maupun kernel loss seoptimal mungkin agar berada dibawah target/parameter yang sudah disepakati perusahaan.
Jadi, kapasitas desain saja tidaklah cukup untuk mendapatkan tujuan di atas tanpa kesatuan sistem pengoperasian alat yang benar pada stasiun ini maupun dukungan dari stasiun-stasiun lainnya. h. Pelumatan dan Pengepresan
1. Tujuan
1) Untuk mengetahui proses pengadukan buah di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2) Untuk mengetahui proses pengepressan di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
2. Dasar teori
Alat yang digunakan untuk pengadukan/pencacahan berupa sebuah tangki vertikal yang dilengkapi dengan lengan-lengan pencacah dibagian dalamnya. Lengan-lengan pencacah ini diputar oleh motor listrik yang dipasang di bagian atas alat pencacah. Putaran lengan-lengan pengadukan berkisar 25-26 rpm. Tujuan utama dari proses digesting yaitu mempersiapkan daging buah untuk pengempaan (pressing) sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan kerugian sekecil-kecilnya (Pahan, 2008).
Pengempaan dilakukan untuk mengambil minyak dari masa adukan buah di dalam mesin pengempaan secara bertahap dengan bantuan pisau-pisau pelempar dari ketel adukan. Minyak yang keluar ditampung di sebuah talang dan dialirkan ke sand trap tank lalu menuju vibrating screen dan dialirkan ke crude oil tank (Sunarko, 2007).
Di stasiun pengaduk dan pengempa ini juga terdapat alat-alat utama dan bantu seperti :
3. Digester
Ketel adukan (digester) berfungsi untuk melumatkan buah masak sehingga daging buah terpisah dari biji. Digester merupakan alat pengaduk brondolan dari thresher sampai homogen. Screw press merupakan alat pengempa terhadap brondolan yang homogen untuk mendapatkan rendemen yang maksimal dan nut yang pecah minimal.
Digester terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang di
dalamnya dipasang pisau pisau pengaduk (stirring arms) sebanyak enam tingkatan yang diikatkan pada poros dan digerakkan oleh motor listrik. Lima tingkat pisau di bagian atas digunakan untuk mengaduk dan melumatkan sedangkan pisau bagian bawah disamping sebagai pengaduk juga digunakan untuk mendorong brondolan keluar dari
digester.
Buah yang masuk ke dalam digester diaduk sedemikian rupa sehingga sebagian daging buah telah terlepas dari dagingnya (Anonim, 2016)
4. Screw Press
Alat pengempa (screw press) berfungsi untuk memisahkan minyak kasar (cruide oil) dari daging buah (mesocarp) dan biji (nut). Alat pengempa ini terdiri dari sebuah silinder (press cylinder) yang berlubang lubang dan di dalamnya terdapat dua ulir (screw) yang berputar berlawanan arah, tekanan kempa di atur oleh dua buah konus (cones) yang berada pada bagian ujung pengempa, yang dapat digerakkan maju mundur secara hidrolik. Pressan dengan
double screw press berputar berlawanan arah dengan kecepatan ±
8-11 rpm. Dari proses pengepresan ini akan keluar minyak kotor dan ampas press. Press memiliki tahanan antara 50 60 ampere, agar diperoleh broken nut maksimal 15% dan oil dry basis < 7,5%.
5. Alat dan bahan 1) Alat
a) Pelumatan buah (Digester) b) Feeding digester conveyor c) Screw press
d) Fruit elevator
e) Bottom cross conveyor f) Top cross conveyor 2) Bahan
a) Brondolan
b) Serat dan biji sawit
c) Crude oil
6. Prosedur Kerja
1) Brondolan dari stasiun threser dibawa oleh bottom cross
conveyor naik menggunakan fruit elevator kemudian diteruskan
ke top cross conveyor dan masuk ke digester fedding conveyor. Brondolan dari digester feeding conveyor akan masuk kedalam
digester.
2) Di dalam digester buah atau brondolan tersebut dilumatkan dengan suhu 80ºC-900C. Di dalam digester brondolan akan dilumatkan oleh pisau-pisau yang berputar di dalam mesin
digester.
3) Out put yang keluar dari digester kemudian akan dipress berkapasitas 15ton/jam untuk 1 mesin screw press. Tekanan pada screw press 50-55bar dengan menggunakan suhu 900C,
yang berputar dengan kecepatan 25 rpm dari pengempaan ini akan diperoleh minyak kasar yang mengandung air serta sedikit kotoran dan juga ampas. Minyak kasar tersebut akan melewati
sand trap tank, kemudian menuju vibrating screen, dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank dan di pompa ke stasiun
klarifikasi menggunakan crude oil pump.
4) Sedangkan biji dan serabut yang berbentuk gumpalan-gumpalan diteruskan ke cake breaker conveyor dan kemudian dibawa ke stasiun kernel.
7. Hasil
Di PT. Sasana Yudha Bakti (SYB) Satria Oil Mill memiliki 4 unit mesin digester dan untuk pemakaian hanya 3 unit digester yang digunakan. Agar memenuhi kapasitas olah pabrik 45 ton/jam maka 3 unit mesin digester tersebut harus berjalan dengan baik. Digester menghasilkan brondolan yang telah hancur/dicacah. Brondolan dalam digester dilumatkan dengan sistem cacahan dari pisau yang berputar.
Untuk mesin screw press pada PT. Sasana Yudha Bakti (SYB) Satria Oil Mill memiliki 4 unit dengan kapasitas press masing-masing
screw press 15 ton/jam, sama halnya seperti digester hanya 3 unit screw press yang digunakan untuk memenuhi kapasitas olah pabrik
45 ton/jam. Out put dari mesin screw press ini yaitu minyak kasar
8. Pembahasan
Hasil dari press yang ada pada pabrik PT. Sasana Yudha Bakti (SYB) Satria Oil Mill masih banyak mengandung banyak minyak, itu dapat diatasi dengan cara menaikan tekanan cone dengan memperhatikan persentase nut breakage (maks 15%).
i. Oil Room 1. Tujuan
1) Untuk mengetahui proses klarifikasi CPO di PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill.
2) Untuk mengetahui CPO yang dihasilkan PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill.
2. Dasar teori
Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan perlu dibersihkan dari kotoran, baik yang berupa padatan (solid), lumpur
(sludge), maupun air. Tujuan dari pembersihan/pemurnian minyak
kasar yaitu agar diperoleh minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dipasarkan dengan harga yang layak.
Di clarifier tank, minyak kasar terpisah menjadi minyak dan
sludge karena proses pengendapan. Minyak dari clarifier tank,
sedangkan sludge dikirim ke sludge tank. Sludge merupakan fase campuran yang masih mengandung minyak. Di PKS sludge diolah untuk dikutip kembali pada minyak yang masih terkandung di dalamnya (Pahan, 2008)
3. Alat dan Bahan 1) Alat
a) Sand trap tank b) Vibrating screen c) Crude oil tank (COT) d) CST e) Sludge tank f) Brush strainer g) Sand cyclone h) Buffer tank i) Sand tank j) Vacum drier k) Storage tank l) Fat fit
m) Separator dan centrifuge n) Reclaimed oil tank o) Sludge drain tank 2) Bahan
a) Crude oil b) Sludge 4. Prosedur Kerja
1) Minyak hasil pressan masuk ke sand trap tank tangki ini berfungsi untuk mengendapan pasir dan kotoran halus setelah sebelumnya melalui tahap pengolahan di digester dan screw
2) Minyak yang berada pada sand trap tank dipompa ke vibrating
screen untuk memisahkan antara minyak dan kotoran yang
masih terikut dengan ukuran saringan pertama 20 mesh dan saringan kedua 30 mesh.
3) Setelah dari vibrating screen minyak yang masih mengandung
sludge masuk crude oil tank untuk penampungan sementara,
adapun fungsi lainnya untuk mengendapkan sludge yang masih terdapat pada minyak.
4) Minyak dari crude oil tank dipompa menuju ke continous settling
tank berfungsi sebagai tempat pemisahan minyak, sludge serta
benda lain yang terikut ke dalam crude oil tank. Prinsip kerjanya berdasarkan perbedaan berat jenis.
5) Dari continous settling tank akan menghasilkan minyak dan
sludge, minyak masuk ke oil tank sedangkan sludge masuk ke sludge tank untuk proses selanjutnya.
6) Dari oil tank minyak masuk ke vacum drier sedangkan sludge menuju ke brush strainer yang berfungsi untuk membersihkan
sludge dari serabut-serabut yang masih terikut.
7) Setelah itu sludge menuju ke sand cyclone untuk memisahkan antara sludge dengan minyak yang masih terdapat di sludge. Minyak menuju buffer t ank sedangkan slugde menuju sand tank. 8) Di buffer tank, minyak akan di tampung sementara setelah itu
minyak menuju ke seperator untuk memisahkan kembali antara minyak dan sludge yang masih terbawa dengan sistem perputaran. Sludge menuju ke fat fit sedangkan minyak menuju
ke rekclaimed oil tank untuk menampung minyak kemudian dipompa lagi ke oil tank lalu menuju ke vacum dri er.
9) Vacum drier berfungsi untuk mengurangi kadar air pada minyak. 10) Setelah dari vacum drier langsung menuju ke storage tank. 5. Hasil
Crude oil ( minyak kasar) adalah hasil pengepressan daging
buah yang biasanya langsung diproses tanpa pencucian. Dimana
crude oil hasil pengepressan tersebut terdiri dari beberapa unsur
yang harus dipisah sehinga crude oil berubah menjadi minyak murni yang disebut dengan crude palm oil yang siap untuk dipasarkan.
Dilihat dari konsepnya, crude oil terdiri dari 2 jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Campuran unsur-unsurnya ( air dan minyak ) terbagi tidak terlalu halus, sehinga dengan mudah campuran ini dapat dipisahkan dan campuran dapat disebut dengan minyak bebas, karena tidak terikat dengan air yang mengelilinginya.
2) Campuran homogen antara air dan minyak merupakan emulasi yang sangat stabil yang disebut dengan sludge.
Kedua campuran ini ialah yang dipompa dari crude oil tank (tangki minyak kasar) hasil pengepressan. Dari pressing station kemudian dipompakan ke continous settling tank yang sebelum melalui sand trap tank dan vibrating screen.
6. Pembahasan
Besarnya oil losses pada PKS. Satria Oil Mill dipengaruhi oleh penurunan minyak yang kurang maksimal pada alat sand trap tank
dikarenakan steam yang ada di dalam tidak mencapai suhu yang diharapkan, yaitu 90-950C, sehingga sludge tidak terlalu encer dan susah untuk berpisah antara oil, sludge, dan air.
Steam di dalam sand trap tank tidak bisa mencapai 90-950C karena pemanasan logam heater tidak sempurna, hal tersebut dikarenakan terdapatnya endapan-endapan pasir di bagian bawah
sand trap tank yang kurang diperhatikan.
B. Pengolahan Inti Sawit
1. Pemisahan Bji dan Ampas a. Tujuan
Untuk menghasilkan inti sawit sebelum diolah menjadi minyak inti sawit (CPKO) serta untuk mengolah ampas yang terdiri dari serabut dan biji.
b. Dasar Teori
Proses pemisahan biji-serabut dari ampas pengempaan bertujuan terutama untuk memperoleh biji sebersih mungkin. Kemudian dari biji tersebut harus menghasilkan inti sawit secara rasional, yakni kerugian yang sekecil-kecilnya dengan hasil inti sawit yang setinggi-tingginya. Pemisahan biji dari gumpalan ampas pengempaan sangat dipengaruhi oleh segi teknis dari proses yang mendahuluinya (Pahan, 2008) c. Alat dan Bahan
1) Alat
a) Cake breaker conveyor b) Fiber cyclone
d) Inclined nut conveyor e) Destoner
2) Bahan
a) Bahan yang digunakan adalah fiber dan nut hasil pressan
d. Cara Kerja
1) Ampas hasil pressan yang berupa fiber dan nut yang masih bercampur masuk ke dalam cake breaker conveyor
2) Fiber dan nut yang masih bersatu dicacah untuk memisahkan fiber dan nut.
3) Fiber dan nut yang telah tercacah masuk ke dalam fiber cyclone.
4) Di dalam akan dihisap oleh fiber cyclone menuju fiber conveyor yang menuju ke boiler.
5) Sementara nut akan jatuh ke dalam polishing drum untuk memisahkan dari fiber dan kotoran yang masih terbawa
6) Nut akan jatuh ke inclined nut conveyor dan selanjutnya masuk ke
destoner untuk memisahkan nut dari batu dan fiber halus kembali.
e. Hasil
Ampas hasil pressan akan diaduk secara kontinu dengan piringan berongga pada cake breaker conveyor sehingga fiber dan nut terpisah untuk memudahkan dalam proses pemisahan.
Biji dan serat yang terpisah akan masuk ke primary depericarper untuk memisahkan antara nut dan fiber menggunakan prinsip perbedaan berat jenis.
f. Pembahasan
Proses pemisahan fiber dan nut dari ampas pengempaan bertujuan untuk memperoleh nut yang bersih dari kotoran dan fiber. Pemisahan nut dari gumpalan ampas pengempaan sangat dipengaruhi oleh proses sebelumnya. Jika proses pemisahan fiber tidak menghasilan nut yang bersih dapat disebabkan oleh hal-hal berikut : 1) Perebusan kurang matang sehingga masih ada nut yang
berserabut
2) Proses pencacahan pada cake breaker conveyor yang kurang maksimal
3) Daya hisap dari fibre cyclone yang kurang 2. Proses Pemecahan Biji
a. Tujuan
Memecahkan nut sehingga terpisah antara inti atau kernel dengan cangkang sehingga mempermudah dalam mendapatkan kernel. b. Dasar teori
Biji yang telah dipilih selanjutnya diumpankan ke alat pemecah biji. Saat ini ada dua jenis alat pemecah biji yang digunakan oleh PKS, yaitu nut cracker model rotor vertikal dan nut cracker model rotor horizontal (ripple mill).
Nut cracker rotor vertikal bekerja dengan prinsip pemecahan biji
dengan melemparkan ke dinding penahan. Biji masuk dari bagian tengah rotor melalui suatu lorong. Melalui suatu gerak putar, biji akan terlempar akibat gaya sentrifugal (Pahan, 2008).
c. Alat dan Bahan 1) Alat
a) Nut elevator b) Ripple mill 2) Bahan
a) Bahan yang digunakan adalah nut d. Cara Kerja
1) Nut yang telah bersih dibawa oleh nut conveyor menuju top nut
conveyor sebagai umpan untuk nut grading drum.
2) Setelah nut melewati nut grading maka akan jatuh ke dalam nut
hopper sebagai wadah sementara.
3) Nut yang telah ditampung didalam nut hopper akan masuk ke dalam
ripple mill melalui nut feeding untuk mengatur umpan yang masuk
ke dalam ripple mill untuk dipecahkan. PT Sasana Yudha Bhakti menggunakan 4 unit ripple mill.
4) Nut yang telah dipecahkan jatuh ke dalam cracked mixtured
conveyor.
e. Hasil
Proses pemecahan biji akan menghasilkan kernel yang telah terpisah dengan cangkangnya sehingga akan memudahkan dalam proses selanjutnya.
f. Pembahasan
Hasil pemecahan ripple mill di PT. Sasana Yudha Bhakti maksimal dengan efisiensi 95% dikarenakan pada saat proses perebusan yang bagus.
g. Pemisahan Inti dan Cangkang 1. Tujuan
Untuk mendapatkan inti atau kernel dari nut dan memisahkan kernel dari cangkang.
2. Dasar teori
Hasil pemecahan dari nut cracker berupa campuran kernel, cangkang, dan kotoran halus selanjutnya dibawa dengan conveyor ke bagian pemisahan. Ada dua sistem atau metode pemisahan kernel dan cangkang, yaitu sistem pemisahan kering dan pemisahan basah. PKS di perkebunan besar umunya menggunakan gabungan kedua sistem pemisahan tersebut (Pahan, 2008).
3. Alat dan Bahan 1) Alat
a) Craked mixer elevator b) LTDS 1 c) LTDS 2 d) LTDS 3 e) LTDS 4 f) Drier/nut silo g) Hopper boiler h) Hydro cyclone 2) Bahan
4. Cara Kerja
1) Nut yang telah pecah ditransfer menggunakan craked mixer
elevator dan masuk ke dalam LTDS, disini akan terpisah antara
kernel utuh dengan kernel pecah besar, kernel pecah kecil dan cangkang karena adanya perbedaan berat jenis, yang mana
shell dengan berat jenis rendah akan terbawa hisapan airlock
LTDS 1.
2) Di LTDS 1 benda yang ringan akan terisap dan masuk ke
hopper boiler berupa cangkang halus dan benda yang berat
akan masuk ke LTDS 2 berupa kernel pecah, kernel utuh, dan cangkang.
3) Di LTDS 2 benda yang berat masuk ke drier/nut silo berupa kernel utuh sedangkan benda yang lebih ringan masuk ke LTDS 3.
4) Di LTDS 3 benda yang agak berat masuk ke drier berupa kernel pecah sedangkan sisa-sisa kernel pecah dan cangkang yang lebih ringan masuk ke LTDS 4.
5) Di LTDS 4 yang ringan masuk ke hopper boiler untuk dijadikan bahan bakar boiler nantinya sedangkan sisanya seperti sisa kernel pecah dan cangkang masuk ke hydro cyclone.
6) Di hydro cyclone ada sistem dengan menggunakan metode air sehingga benda yang lebih ringan seperti sisa cangkang akan mengambang dan masuk ke hopper boiler sedangkan kernel pecah yang masuk ke drier/ nut silo.
5. Hasil
Pada PKS Satria Oil Mill pengolahan kernel dilakukan sampai mendapatkan kernel sampai dengan mengekstraksi kernel menjadi minyak CPKO hasil produksi kernel mencapai 15-21 ton/hari.
Proses pemisahan fiber dan nut dari ampas pengempaan bertujuan untuk memperoleh nut yang bersih dari kotoran dan
fiber. Pemisahan nut dari gumpalan ampas pengempaan sangat
dipengaruhi oleh proses sebelumnya. Jika proses pemisahan fiber tidak menghasilan nut yang bersih, dapat disebabkan oleh hal-hal berikut :
1) Perebusan kurang matang sehingga masih ada nut yang berserabut.
2) Proses pencacahan pada cake braker conveyor yang kurang maksimal.
3) Daya hisap dari fibre cyclone yang kurang.
Setelah melalui beberapa tahapan mulai dari LTDS 1, LTDS 2, LTDS 3, LTDS 4 dan hydro cyclone akan menghasilkan kernel dengan kadar kotoran 6,0%. Untuk pengeringan itu sendiri menggunakan pengeringan sistem kering yaitu 70°C, 60°C, dan 50°C secara bertingkat yang berfungsi untuk mengurangi kadar air pada nut.
6. Pembahasan
Pada LTDS 1 cangkang halus akan langsung terhisap dan menuju ke shell silo sedangkan kernel utuh dan cangkang besar
akan terbawa ke LTDS 2 untuk tahap pemisahan kedua. Pada tahap pemisahan tahap kedua ini kernel besar menuju ke dri er akan terpisah dengan kernel yang lebih kecil, kernel kecil dan cangkang yang masuk ke LTDS 3. Pada tahap ketiga ini kernel masuk ke drier sedangkan kenel pecah dan cangkang masuk ke LTDS 4 yang dimana di LTDS 4 cangkang kecil terhisap dan menuju ke shell silo sedangkan cangkang yang sama beratnya dengan kernel pecah masuk ke hydro cyclone.
Dalam hydro cyclone kernel dan cangkang dipisahkan dengan sistem berat jenis melalui bantuan air sehingga kernel yang masa jenisnya lebih rendah akan terapung dan cangkang akan tenggelam. Pada kernel silo juga digunakan pemanasan secara bertingkat dengan suhu 700C, 600C, dan 500C.
h. Pengolahan inti 1. Tujuan
1) Menampung sementara produksi kernel dan mengolahnya 2) Melakukan proses pembuatan minyak CPKO.
2. Dasar Teori
Inti sawit dapat tahan lama disimpan selama enam bulan. Sedangkan inti sawit pecah menunjukkan kecepatan reaksi pembentukan ALB yang lebih cepat. Oleh sebab itu dengan kandungan air 7% dan terdapat inti pecah 15% menunjukkan kecepatan pembentukan asam lemak (Naibaho, 1998).
3. Alat dan Bahan 1) Alat a) Bulk silo b) Hopper 1 c) Hopper 2 d) Press 1 e) Press 2 f) Primary cake g) Sediment scoop h) Cake bin i) Leaf filter j) Oil tank k) Storage tank 2) Bahan
a) Bahan yang digunakan adalah kernel yang telah kering 4. Cara Kerja
1) Kernel yang telah kering disimpan di bulk silo sebagai penampungan sementara.
2) Setelah dari bulk silo kernel kering dibawa oleh conveyor menuju ke hopper 1, di hopper 1 bertujuan untuk menampung kernel sebelum dipress.
3) Kernel dipress dengan press 1 dan mengasilkan minyak dan
cake. Minyaknya menuju sediment scoop sedangkan cake
4) Sediment scoop ini bertujuan untuk memisahkan minyak dengan cara pengendapan, kemudian minyak disaring menggunakan elevator scoop dan cake masuk ke primary
elevator cake untuk dipress lagi.
5) Cake yang masih mengandung minyak dipress kembali menggunakan press 2, cake diangkat ke hopper 2 menggunakan primary elevator cake lalu dipress kembali. 6) Cake menuju cake bin sedangkan minyak menuju sediment
scoop.
7) Dari sediment scoop minyak dipompa menuju leaf filter yang berfungsi sebagai pengendapan/pemurnian minyak dari sisa-sisa cake yang masih terikut.
8) Dari leaf filter minyak menuju oil tank sebagai penampungan minyak sementara, setelah itu dikirim ke storage tank.
5. Hasil
Dalam proses pengolahan inti sawit menjadi minyak CPKO terdapat dua stage, stage pertama dilakukan pengepressan untuk menghasilkan minyak dan cake. Kemudian cake dipress kembali pada stage kedua dengan tujuan yang sama yaitu untuk menghasilkan minyak, cake sisa dari pressan stage kedua tersebut masuk ke cake bin untuk diaplikasikan kembali di kebun sebagai pupuk.
Di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill sendiri memiliki standar mutu losis pada stage satu 12% dan stage dua 7% dan untuk standar mutu minyak CPKO itu sendiri FFA 1-2%, moisture
0,20%, dan dirt 0,20%, sedangkan untuk rendemen didapatkan rata-ratanya 40%.
6. Pembahasan
Dalam penyimpanan kernel perlu diperhatikan design ruang atau tempat. Gudang penyimpanan yang terbuka akan sangat dipengaruhi lingkungan, kadar air dalam udara akan masuk ke dalam inti sehingga jamur akan mudah tumbuh dan menyebabkan tingginya asam lemak bebas.
C. Analisa Minyak Kelapa Sawit
Analisis minyak sawit di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill meliputi beberapa proses antara lain :
1. Pengambilan contoh
Untuk menguji mutu ALB minyak yang dihasilkan, titik pengambilan sampel biasa dilakukan dari crude oil tank, storage tank, sludge
underflow clarifier, umpan sludge sentrifuge. Minyak umpan purifier,
minyak setelah purifier, minyak produksi, sludge sebelum recovery,
sudge setelah recovery, final effluent, dan pengiriman minyak.
2. Pengujian
a) Analisa Asam Lemak Bebas a. Tujuan
Mengukur kandungan ALB pada CPO yang dihasilkan. b. Dasar teori
Asam lemak bebas adalah proses hidrolisis otokatalitik dan liposis oleh enzim lipolitik dalam minyak. ALB yang tinggi adalah
suatu ukuran tentang ketidakberesan dalam panen dan pengolahan (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008)
c. Alat dan bahan 1) Alat a) Erlenmeyer 250 ml b) Neraca analitik c) Alat titrasi 2) Bahan a) CPO b) alkohol 99% c) Indikator PP d) NaOH 0,01 N d. Cara kerja 1) Timbang erlenmeyer, 2) Masuk an minyak + 5 gram. 3) Tambahkan alkohol 50 ml 4) Tambahkan 5 tetes indikator PP
5) Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna berubah menjadi merah jingga
6) Perhitungan asam lemak bebas Perhitungan :
e. Hasil
Misalkan berat titrasi NaOH yang terpakai adalah 6.19 ml dan berat sampel adalah 5.4646 gram.
ALB = 3.14% f. Pembahasan
Hasil pengujian ALB yang didapat dari sampel CPO di atas didapatkan sebesar 3.14% standar mutu ALB yang ditetapkan oleh PKS 3%. Sedangkan Standarisasi Nasional SNI dengan batasan mutu ALB maksimal 5%. Hasil pengujian Sampel CPO yang didapatkan diatas sudah memenuhi standar yang di tetapkan PKS dan SNI. Adapun pengujian ALB ini dilakukan setiap hari untuk mengetahui kandungan ALB CPO yang telah diproduksi.
b) Analisa Kadar Air a. Tujuan
Untuk mengetahui kandungan air dalam CPO yang dihasilkan PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
b. Dasar teori
Air dalam minyak terjadi karena proses alami pada saat pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta di penimbunan. Pada dasarnya air yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara penguapan dalam alat pengering pada suhu 1030C.
Air dalam minyak hanya jumlah kecil, hal ini dapat terjadi karena proses alami sewaktu pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta penimbunan. Air yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara penguapan dalam alat pengering. Standar kadar air adalah 0.1% (Naibaho, 1998).
c. Alat dan Bahan 1) Alat a) Kock b) Neraca analitik c) Oven d) Gelas beaker e) Desikator 2) Bahan a) CPO d. Cara kerja
1) Gelas beaker yang telah bersih dikeringkan menggunakan oven selama 15 menit dengan suhu 1050C, kemudian dinginkan selama 15 menit.
2) Gelas beaker yang sudah kering lalu ditimbang.
3) Sampel ditimbang sebanyak 20 gram ke dalam gelas beaker. 4) Gelas beaker yang telah berisi sampel dimasukkan ke dalam oven
selama 2 x 5 menit interval 3 menit.
5) Setelah dioven, dinginkan selama 15 menit.
Perhitungan:
e. Hasil
Misalkan berat wadah dan sampel 121.576 gram, dan berat sampel kering adalah 121.5335 gram dan berat sampel 20.1003 gram maka kandungan airnya.
Moist = 0.21% f. Pembahasan
PKS PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oill Mill memiliki standar mutu kadar air yaitu 0.20%, dari hasil yang didapat yaitu sebesar 0.21% dan ini tidak memenuhi standar pabrik yang telah ditentukan. Penyebab dari tingginya kadar air di PKS disebabkan oleh tingginya ALB dikarenakan buah yang masuk dalam keadaan rusak atau busuk. Semakin tinggi kadar air maka semakin rendah mutu CPO, kadar air yang tinggi menyebabkan hidrolisis yang akan merubah minyak menjadi asam lemak bebas sehingga dapat menyebabkan ketengikan pada CPO.
c) Analisa Kadar Kotoran a. Tujuan
Untuk mengetahui kadar kotoran yang terdapat dalam CPO. b. Dasar teori
Kotoran yang terdapat dalam minyak ini adalah kotoran yang tidak dapat larut dalam n-Heksane dan petroleum ether. Kadar
kotoran yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara menimbang residu kering setelah dipisahkan dari contoh dengan menggunakan pelarut (Naibaho, 1998).
c. Alat Dan Bahan
1) Alat a) Gooch crucible b) Hot plate c) Oven d) Beaker glass e) vacum pump f) Neraca analitik. 2) Bahan a) CPO b) N-Heksan d. Prosedur Kerja
1) Timbang gooch crucible yang sudah dioven (W1)
2) Timbang sampel sebanyak 20 ml ke dalam beaker glass (W2) 3) Tambahkan 100 ml N-hexane
4) Tuangkan cairan ke dalam gooch crucible dan dihisap menggunakan vacum pump
5) Bilas menggunakan N-Heksan sampai CPO tidak menempel pada gooch crucible
6) Angkat gooch crucible dan usap bagian luarnya dengan kertas tisu yang bersih
8) Dingingkan gooch crucible dan timbang (W3) Perhitunggan :
e. Hasil
Misalkan berat gooch cruicible 41.5103, berat sampel 20.7814, dan berat gooch cruicible yang sudah kering 41.5148 maka kadar kotoran yang didapat 0.021%
f. Pembahasaan
Standar mutu CPO yang ditetapkan oleh pabrik menyebutkan bahwa nilai kadar kotoran adalah 0.20% dari hasil analisa CPO yang dihasilkan memiliki kadar kotoran yaitu 0.21%. Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa CPO yang dihasilkan tidak memenuhi standar mutu di PKS Satria Oil Mill. Pengujian kadar kotoran ini dilakukan setiap hari untuk mengetahui kandungan kadar air minyak CPO yang telah diproduksi.
D. Analisis minyak CPKO
Analisis minyak CPKO yang sudah melalui proses pengolahan dari Bulk
silo sampai leaf filter sampai pengiriman ke tangki CPKO di suatu pabrik
pengolahan kelapa sawit.
1. Analisa Asam Lemak Bebas a. Tujuan
Untuk mengetahui kandungan asam lemak bebas dalam minyak CPKO produksi PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill.
b. Dasar teori
Asam lemak bebas terbentuk karena terjadinya proses
hydrolisa minyak menjadi asam-asamnya. Asam lemak bebas
merupakan salah satu indikator mutu minyak. Asam lemak bebas dalm minyak dapat diukur dengan cara titrasi menggunakan alkali dalam larutan alkohol. Standar ALB adalah 3% (Naibaho, 1998). c. Alat dan bahan
1) Alat
a) Neraca analitik b) Erlenmeyer c) Alat titrasi 2) Bahan
a) Minyak inti sawit d. Prosedur kerja
1) Timbang erlenmeyer
2) Masukkan minyak + 5 gram 3) Tambahkan 50 ml alkohol 99% 4) Tambahkan indikator PP 5 tetes
5) Titrasi sampai warna berubah menjadi merah muda Perhitungan
e. Hasil
Misalkan berat titrasi NaOH yang terpakai adalah 0.84 ml dan berat sampel adalah 1.8315 gram.
ALB = 0.88% f. Pembahasan
Hasil pengujian ALB yang didapat dari sampel CPKO di atas didapatkan sebesar 0.88% standar mutu ALB yang ditetapkan oleh PKS Satria Oil Mill adalah 1-2%.
Hasil pengujian Sampel CP KO yang didapatkan di atas sudah memenuhi standar yang ditetapkan PKS Satria Oil Mill.
2. Analisa Kadar Air a. Tujuan
Untuk mengetahui kadar air yang terdapat dalam minyak CPKO yang dihasilkan oleh PT. Sasana Yudha Bhakti.
b. Dasar teori
Air dalam minyak terjadi karena proses alami pada saat pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta di penimbunan. Pada dasarnya air yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara penguapan dalam alat pengering pada suhu 1030C.
Air dalam minyak hanya jumlah kecil, hal ini dapat terjadi karena proses alami sewaktu pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta penimbunan. Air yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara penguapan dalam alat pengering. Standar kadar air adalah 0.1% (Naibaho, 1998).
c. Alat dan Bahan 1) Alat a) Kock b) Neraca analitik c) Oven d) Gelas beaker e) Desikator 2) Bahan
a) Minyak inti sawit d. Cara kerja
1) Gelas beaker yang telah bersih dikeringkan menggunakan oven selama 15 menit dengan suhu 1050C, kemudian dinginkan selama 15 menit.
2) Gelas beaker yang sudah kering lalu ditimbang.
3) Sampel ditimbang sebanyak 20 gram ke dalam gelas beaker. 4) Gelas beaker yang telah berisi sampel dimasukkan ke dalam
oven selama 2x5 menit interval 3 menit 5) Setelah di oven, dinginkan selama 15 menit
6) Timbang gelas beaker dan sampel yang sudah kering Perhitungan
e. Hasil
Misalkan berat wadah dan sampel 121.576 gram, dan berat sampel kering adalah 121.5351 gram dan berat sampel 20.1003 gram maka kandungan airnya
Moist= 0.20% f. Pembahasan
PKS PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oill Mill memiliki standar mutu kadar air yaitu 0.20%, dari hasil analisa yang didapat yaitu 0.20% dan ini telah memenuhi standar pabrik yang telah ditentukan. Kadar air dalam CPKO sangat berpengaruh terhadap kadar asam lemak bebas. Hal ini dapat ditandai dengan meningkatnya kadar air, maka kadar asam lemak bebasnya pun akan semakin meningkat. 3. Analisa Kadar Kotoran
a. Tujuan
Untuk mengetahui kadar kotoran dalam CPKO. b. Dasar Teori
Kotoran yang terdapat dalam minyak ini adalah kotoran yang tidak dapat larut dalam n-Heksane dan petroleum ether. Kadar kotoran yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara menimbang residu kering setelah dipisahkan dari contoh dengan menggunakan pelarut (Naibaho, 1998).
c. Alat Dan Bahan
1) Alat a) Gooch crucible b) Timbangan analitik c) Oven d) Beaker glass e) Vacum pump
2) Bahan
a) Minyak inti sawit b) N-heksane d. Prosedur kerja
1) Timbang gooch crucible yang sudah dioven (W1)
2) Timbang sampel sebanyak 20 ml ke dalam Beaker glass (W2) 3) Tambahkan 100 ml N-hexane
4) Tuangkan cairan ke dalam gooch crucible dan dihisap menggunakan vacum pump
5) Bilas menggunakan N-hexane sampai CPKO tidak menempel pada gooch crucible
6) Angkat gooch crucible dan usap bagian luarnya dengan kertas tisu yang bersih
7) Keringkan dalam oven selama 30 menit dengan suhu 1050c 8) Dingingkan gooch crucible dan timbang (W3)
Perhitungan:
e. Hasil
Misalkan berat gooch cruicible 41.5136, Berat sampel 20.0527 dan berat gooch yang sudah kering 41.5164 maka kadar kotoran yang didapatkan 0.01%
f. Pembahasan
Standar mutu CPKO yang ditetapkan oleh pabrik menyebutkan bahwa nilai kadar kotoran adalah 0.020%. Dari hasil analisa CPKO yang dihasilkan memiliki kadar kotoran yaitu 0.01%. Hasil pengujian
tersebut membuktikan bahwa CPKO yang dihasilkan telah memenuhi standar. Pengujian kadar kotoran ini dilakukan setiap hari untuk mengetahui kandungan kadar kotoran minyak CPKO yang telah diproduksi.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil PKL mulai tanggal 12 Maret sampai dengan 12 Mei 2016 didapatkan beberapa kesimpulan secara umum mengenai PT. Sasana Yudha Bhakti adalah :
1. Di PKS Satria Oil Mill mengekstraksi dua produk yaitu CPO dan CPKO. 2. Setelah melakukan PKL di PT. Sasana Yudha Bhakti dapat diketahui
bahwa teori yang diperoleh dari kampus dengan praktek yang dilakukan di PT. Sasana Yudha Bhakti ternyata ada kesamaan, karena untuk menghasilkan CPO dan CPKO dari kelapa sawit melalui beberapa proses, mulai dari vebewe, penerimaan buah di PKS, perebusan, penebahan, pengempaan, pelumatan, dan pemurnian minyak.
3. Setelah melakukan serangkaian kegiatan PKL di PT. Sasana Yudha Bhakti mahasiswa dapat mengetahui standar mutu CPO dan CPKO. CPO : FFA 3%, Moisture 0.20%. Dirt 0.020%. CPKO : FFA 1 -2%, Moisture 0.20%, Dirt 0.20%. Dengan hasil analisa yang didapat CPO : FFA 3.14%, Moisture 0.21%, Dirt 0.21%. CPKO : FFA 0.88%, Moisture 0.20%, Dirt 0.01%.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan selama melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah sebagai berikut :
1. Agar lebih memperhatikan perawatan yang sesuai dengan buku petunjuk perawatan mesin berkala.
2. Lebih melengkapi dan membenahi alat-alat yang mendukung dalam perawatan maupun perbaikan.
3. Tetap menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat proses pengolahan k elapa sawit.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2016. Standar Operasional Prosedur. Rea Kaltim, Kutai Kartanegara. Sunarko, 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya & Pengolahan Kelapa Sawit. PT.
Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan.
Pahan, I., 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta. Setyamidjaja , D., 2006. Budi Daya Kelapa Sawit. Kanisius, Yogyakarta.
Naibaho, P., 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
Mangoensoekarjo, S. dan Semangun H., 2008. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Lampiran 1. Proses Pengolahan Kelapa Sawit
1.a. Grading dan Sortasi
1.c. Lori yang berisi TBS
1.e. Tippler
1.g. Digester
1.i. Vibrating screen
1.k. Continous Setling Tank (CST)
1.m. Vacum Drier
Lampiran 2. Proses Pengolahan Inti Sawit
2.a. Cake Breaker Conveyor (CBC)
2.c. Ripple Mill
2.e. Hydro Cyclone
Lampiran 3. Proses Pengolahan Minyak Inti Sawit
3.a. Hopper Press Stage 1
3.c. Alat Press Kernel