Keprihatinan Aisyiyah Terhadap
Perkembangan Bangsa
Perkembangan bangsa saat ini memprihatinkan. Paling tidak penilaian ini dilakukan oleh Aisyiyah. Hal ini terungkap dalam pidato iftitah yang disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Prof Dr Hj Siti Chamamah Soeratno dalam Sidang Tanwir Aisyiyah yang berlangsung akhir tahun lalu di Yogyakarta,
Betapa kericuhan dalam berbagai bidang berkembang dari hari ke hari. Fenomena yang makin jelas terlihat, menurut Siti Chamamah, adalah kemiskinan yang makin membengkak dan yang berdampak luas pada situasi bangsa sehingga wajah keterpurukan bangsa makin mencuat ke permukaan yang makin terpuruk. Betapa makin banyak tindak kriminal, tindak melanggar hukum demi mengatasi kehidupan sehari-hari. Apabila angka kemiskinan merangkak naik sehingga menjangkau bilangan 40 juta jiwa dapat dipahami terbuka untuk berdampak luas pada segala bidang kehidupan.
Dalam bidang pendidikan dapat disaksikan betapa makin banyak anak didik yang tidak dapat melanjutkan pendidikan baik informal maupun formal dari satu tingkat pendidikan ke tingkat pendidikan yang lain. Hasil penelitian yang dilakukan bersama UNICEF memperlihatkan data konkret yang dihadapi perkembangan keterdidikan yang makin memprihatinkan generasi muda bangsa Indonesia, generasi yang akan meneruskan kehidupan kita bangsa Indonesia.
kehidupan yang rendah. Dalam jajaran bangsa di Asia Tenggara, di Asia, dan di dunia internasional, Indonesia menempati tingkat yang sangat rendah. Sementara itu, duri, noda, dan cela mental bangsa yang bermuara pada kebejatan moral suatu bangsa menempati tingkat yang tinggi. Apabila 5-10 tahun lalu kebejatan moral ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima, yang setiap insan muslim berusaha keras untuk menjalankannya. Namun mereka harus menghadapi situasi yang mengecewakan.
Dalam bidang hukum, berkembang berbagai tindak aniaya, kekerasan, dan eksploitasi sejak dari yang legal formal sampai pada yang popular informal. Kalau istilah ‘kejahatan kerah putih’ telah kita dengar sekurang-kurangnya sepuluh tahun yang lalu, saat ini, saat jumlah masyarakat miskin makin membengkak, kejahatan itu terus berlangsung bahkan makin canggih. Tampaknya, daya kreasi bangsa yang memang selalu diundangkan menjangkau juga tindak negatif yang justru lebih menterpurukkan bangsa. Daya kreasi, inovasi, dengan kerja yang efisien, efektif, dan professional selama ini ikut berlomba untuk menaikkan kadar keterpurukkan bangsa.
Krisis kompleks, multikompleks, dan multidimensi yang jelas-jelas muncul antara lain dalam bidang keuangan, politik, hukum yang dialami oleh bangsa Indonesia tersebut dari hari ke hari terus berlangsung dan berkepanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa krisis ini telah berlangsung dalam proses yang saling terkait antara berbagai bidang kehidupan di dalam masyarakat, dan sampai saat ini sulit untuk diprediksi ujungnya. Sampai kapankah krisis ini akan berakhir. Krisis yang berkembang merayap menjangkau segenap lapisan masyarakat dengan berbagai bentuk kreativitas dan inovatifnya telah menghuni masa kehidupan bangsa sepanjang perjalanan waktu sampai sekarang.
Situasi krisis multidimensi ini, menurut Ketua PP Aisyiyah, bagi Aisyiyah yang selama ini telah mendapat kenikmatan dengan berbagai macam amal usahanya, mempunyai kesempatan untuk menghadapi isu krisis tersebut dengan langkah-langkah konkrit. Mencermati situasi tersebut perlu diingat kembali bahwa periode kepenguruan Aisyiyah kali ini merupakan periode kualifikasi kedudukan sebagai gerakan social secara utuh. Dalam arti, kegiatannya meliputi segenap aspek kehidupan, tidak lagi dibatasi sebagaimana periode-periode yang lalu.
Konsekuensi dari pilihan gerakan ini, menurut Ketua PP Aisyiyah, adalah peningkatan perhatian pada kualitas diri Sumber Daya Manusia (SDM) baik pimpinan maupun segenap warganya, peningkatan kualitas kegiatan, dan kualitas tampilan Organisasi. Ini menuntut kepedulian dan kepekaan Aisyiyah terhadap isu-isu sosial dalam segenap aspek kehidupan. Isu-isu-isu yang berkembang dalam masyarakat yang tampak dari fenomena-fenomena sosial menjadi sasaran garap Aisyiyah. Di antaranya adalah ekonomi, bidang yang fenomenal, terutama dalam kondisi sosial yang disemarakkan oleh meningkatnya derajat kualitas dan kuantitas kemiskinan yang berdampak pada berbagai sisi kehidupan bangsa, seperti TKI/TKW, perdagangan wanita.
Beasiswa. Bagaimanakah kalau Aisyiyah mengubah bidang kerja TKI/TKW dan PRT menjadi tenaga ahli. Untuk ini, menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya ini, Aisyiyah mempunyai potensi untuk menyelenggarakannya. Demikian pula bidang pendidikan, seperti TK, SD dan tingkat-tingkat pendidikan formal. Mampukah Aisyiyah menyelenggarakan sekolah unggulan. Dalam masalah pendidikan ini, program beasiswa menjadi masalah yang penting. Program beasiswa dalam hal ini merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan. Hal inilah pula, menurut Ketua PP Aisyiyah, Pimpinan Pusat Aisyiyah mempunyai program dalam Sidang Tanwir 2003 ini memberikan beasiswa bagi anak-anak yang memerlukan keberlanjutan studi. Kali ini disediakan beasiswa untuk sejumlah 300 siswa di berbagai wilayah Indonesia, yang dibagikan saat rapat akbar. Dana beasiswa dari Ketua MPR RI Prof Dr HM Amien Rais untuk tiap wilayah Rp.10 juta sedangkan dari PP Aisyiyah untuk tiap wilayah Rp.1 juta. Uang sebanyak itu telah diterima 33 Wilayah Aisyiyah yang tersebar seluruh Indonesia.
menyelenggarakan lembaga seperti Crisis Centre yang akan menghadapi berbagai macam kekerasan.
Isu bidang kesehatan, antara lain perhatian bidang reproduksi. Isu bidang pendidikan, khususnya bidang penyelenggaraan sekolah unggulan tingkat perguruan tinggi, terutama pasca sisdiknas, selera masyarakat dalam mencapai kualitas unggulan. Dalam kehidupan beragama, akhir-akhir ini kita dihadapkan pada persoalan bunga bank, ibadah haji pada birokrasi yang tidak melancarlan pelaksanaan ibadah. Apa yang telah dibuat Aisyiyah? Tentu harus Aisyiyah sendiri yang menjawab dengan langkah konkrit. (tulisan eff, bahan ton dan lut).
Sumber: