• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKIBAT HUKUM PERKAWINAN TIDAK TERCATAT TERHADAP KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN

Tenggar Nur Addin

Academic year: 2024

Membagikan "AKIBAT HUKUM PERKAWINAN TIDAK TERCATAT TERHADAP KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

Tesis

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Pada Fakultas Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

OLEH:

NAMA : TENGGAR NUR ADDIN NIM : 7773190068

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM MAGISTER HUKUM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

TAHUN 2021

(2)

ii NIM : 7773190068

Alamat : Perum. Taman Ciruas Permai Blok G2 No 12 Serang - Banten Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis yang berjudul “Akibat Hukum Perkawinan Tidak Tercatat Terhadap Kedudukan Harta Bersama Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Undang-Undang Perkawinan” adalah benar karya saya, bukan plagiat dari hasil karya orang lain, adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan Tesis yang saya kutip dari karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan Norma, kaidah dan etika penulisan karya ilmiah serta tidak melakukan plagiat dan penjiplakan karya orang lain. Apabila terbukti pernyataan saya tersebut di atas tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku termasuk pencabutan gelar.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sehat dan sadar tidak ada paksaan dari siapapun dan untuk apapun.

Serang, November 2021

Tenggar Nur Addin

(3)

iii

DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Tesis ini siap diuji dihadapan penguji

Tanggal, November 2021 Tanggal, November 2021

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Agus Prihartono PS. S.H., M.H NIP. 197904192002121002

Dr. Anne Gunawati. S.H., M.Hum NIP. 197304202010122001

Diketahui

Tanggal, Tanggal,

Wakil Direktur I Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum

Prof. Dr. Ir. Hj. Kartina A.M., M.P NIP. 196707042002122001

Dr. Azmi Polem, S.Ag., S.H., M.H NIP. 1974022822005011003

(4)

iv

ْمُهْىِّم ٍةَقْسِف ِّلُك ْهِم َسَفَو اَلْىَلَف ًۗ ةَّفۤاَك اْوُسِفْىَيِل َنْىُىِمْؤُمْلا َناَك اَمَو اَذِا ْمُهَمْىَق اْوُزِرْىُيِلَو ِهْيِّدلا ًِف اْىُهَّقَفَتَيِّل ٌةَفِ يۤاَط

َنْوُزَرْحَي ْمُهَّلَعَل ْمِهْيَلِا آْْىُعَجَز

ࣖ - ٢١١

Artinya : Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (At-Taubah : 122)

سو هي ل ع للها ىل ص يب ن لا نأ :هن ع للها يض ر ةر يره ي بأ نع ا ن ا ث ا : ل ه ل ع ي ل ص ل و و أ ه ب ن ي ل ع و أ ت ي ر ت ص ن : ت ن ه ل ع

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya."

(HR Muslim).

“Waktu Adalah Guru Terbesar Dalam Hidup Sedetik Saja Menyianyiakan Waktu Maka Sedetik Pula Membuat Hidup Menjadi Rugi”

(Tenggar Nur Addin)

(5)

v

AKIBAT HUKUM PERKAWINAN TIDAK TERCATAT TERHADAP KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN

Tujuan Penelitian ini adalah untuk: 1) Bagaimana konsep Perkawinan Siri (Tidak Dicatatkan) menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan? 2) Bagaimana akibat hukum Perkawinan Siri terhadap kedudukan harta Bersama?

Dalam menjawab hal tersebut penulis menggunakan metode penelitian pustaka atau library reseach dengan pendekatan yang digunakan adalah hukum normative serta perbandingan hukum. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelusuran berbagai literatur atau refrensi baik dari buku maupun media online.

Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu Reduksi Data, Penyajian, dan Pengambilan kesimpulan. Setelah mengadakan beberapa kajian terhadap Akibat Hukum Perkawinan Siri (Tidak Dicatat) Terhadap Kedudukan Harta Bersama Ditinjau dari Hukum Islam dan Undang- Undang Perkawinan dapat disimpulkan menjadi: 1) Perkawinan Siri (Tidak Dicatatkan) menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan, dalam hukum Islam kawin siri tetap sah dimata agama apa bila syarat dan rukun terpenuhi diantara kedua bela pihak. Lain halnya dengan Undang-Undang Perkawinan yang secara jelas telah mengatur aturan pernikahan dalam artian pencatatan pernikahan dan secara hukum positif/Undang-Undang perkawinan, kawin siri tidak sah karena tidak terdaftar dalam pencatatan perkawinan/pernikahan, 2) Akibat hukum perkawinan siri terhadap kedudukan harta bersama, Jika dilihat dari RUU nikah siri atau Rancangan Undang-Undang Hukum Materil oleh Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang akan memidanakan pernikahan tanpa dokumen resmi atau biasa disebut dengan kawin siri, sehingga dalam kedudukan harta bersama Negara tidak berhak mengatur pembagiannya dikarenakan tidak tercatatnya dalam pencatatan pernikahan, namun dalam pembagian harta bersama tetap bisa terlaksana dengan syarat membuat kesepakatan dalam pembagiannya hartanya. Implikasi penelitian ini adalah: 1) Menghendaki adanya pengawasan terhadap perkawinan sehingga tidak terlalu banyak terjadinya perkawinan siri, meskipun dalam hukum Islam di pandang tetap pernikahan yang sah namun di mata hukum kita tidak sah, 2) Penelitian ini diharapkan dapat berdampak pada masyarakat agar mengerti betapa pentingnya pernikahan yang secara legal sebab akan berdampak pada masa depan mereka yang akan menikah/kawin nantinya

Kata Kunci : Perkawinan, Perkawinan Siri (Tidak Tercatat), Harta Bersama

(6)

vi

DUE TO UNRECORDED MARRIAGE LAW ON JOINT PROPERTY POSITION REVIEWING FROM ISLAMIC LAW AND MARRIAGE LAW The objectives of this study are to: 1) What is the concept of Siri (Unregistered) Marriage according to Islamic Law and Marriage Law? 2) What is the legal effect of Siri's marriage on the position of joint property? In answering these authors use a library orresearch method libraryreseach with the approach usedis normative law and comparative law. The data collection method used is a search of various literatures or references from both books and online media. Data processing and analysis techniques are carried out through three stages, namely Data Reduction, Presentation, and Conclusions. After conducting several studies on the legal consequences of Siri (Unrecorded) Marriages on the Position of Joint Assets Judging from Islamic Law and Marriage Law, it can be concluded as follows: 1) Siri (Unregistered) Marriages according to Islamic Law and Marriage Law, in Islamic law Unregistered marriage is still valid in the eyes of any religion if the conditions and pillars are met between the two parties. It is different with the Marriage Law which clearly regulates the rules of marriage in terms of registration of marriage and is legally positive/marriage law, unregistered marriage is invalid because it is not registered in the marriage/marriage registration, 2) The legal consequences of unregistered marriage on property position together, if it is seen from the Bill on unregistered marriage or the Draft Law on Material Law by the Religious Courts for Marriage which will criminalize marriages without official documents or commonly referred to as unregistered marriages, so that in the position of joint property the State has no right to regulate the distribution because it is not recorded in the marriage registry.

However, the distribution of joint property can still be carried out on condition that an agreement is made in the distribution of the assets. The implications of this research are: 1) Requires supervision of marriages so that there are not too many unregistered marriages, even though in Islamic law it is considered legal marriages but in the eyes of our law it is not legal, 2) This research is expected to have an impact on the community so that they understand how the importance of legal marriage because it will have an impact on the future of those who will marry/marry later

Keywords: Marriage, Siri Marriage (Unregistered), Joint Assets

(7)

vii

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'alla yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, serta nikmat Iman Islam dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian tesis ini, dengan judul “Akibat Hukum Perkawinan Tidak Tercatat Terhadap Kedudukan Harta Bersama Ditinjau dari Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan”.

Shalawat dan salam tidak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Besar, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dan juga kepada keluarganya, para sahabatnya, pengikutnya dan semoga kita semua diakui sebagai umatnya sehingga mendapat syafaatnya di hari akhir kelak, Aamiin Allahuma Aamiin.

Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik tak lepas dari sumber-sumber yang terkait serta kontribusi yang sangat besar dari berbagai pihak. Penulis menyadari bahwa usulan penelitian Tesis ini masih jauh dari kata sempurna.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Kedua Orang tuaku H. Edi Santosa dan Yuni Nurmaulati yang telah membesarkan ku dengan cinta dan kasih sayang serta tim pembimbing; Dr. Agus Prihartono PS, SH., MH sebagai Pembimbing I dan Dr. Anne Gunawati, SH., M.Hum sebagai Pembimbing II yang telah menyediakan waktu membimbing penulis memberi arahan dan masukan sehingga mampu menulis usulan penelitian tesis ini, serta tim penguji; Prof Dr. H. Suparman Usman, S.H; Dr. Fatkhul Mu’in, SH., LL.M, Dr. Itang S.Ag., M.Ag. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

(8)

viii

1. Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman ST, MT., sebagai Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

2. Dr. H. Aan Asphianto, S.Si., SH., MH., sebagai Direktur Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

3. Prof. Dr. Ir. Hj. Kartina AM., MP., sebagai Wakil Direktur I Bidang Akademik Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

4. Dr.H. Helmi Yazid SE., M.Si., AK.,CA., sebagai Wakil Direktur II Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

5. Prof. Alfirano, ST., MT., Ph.D., sebagai Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

6. Dr Azmi, S.Ag., SH., MH., sebagai Ketua Program Studi Ilmu Hukum Magister Hukum Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

7. Dr. Fatkhul Muin SH., LL.M., sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum Magister Hukum Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

8. Seluruh Dosen Pengajar pada Program Studi Ilmu Hukum Magister Hukum Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

9. Segenap Tenaga Kependidikan pada Program Studi Ilmu Hukum Magister Hukum Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;

10. Terimakasih kepada Adik Galih Anjarwati yang telah memberikan support terhadap penulisan tesis ini;

11. Sahabat-sahabat seperjuangan Program Studi Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang selalu bersama-sama dalam

(9)

ix

menempuh Pendidikan di Pasca Sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa khususnya teman-teman konsentrasi Hukum Perdata.

Semoga Tesis ini dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan baik bagi penulis maupun bagi setiap yang membacanya.

Serang, November 2021

Tenggar Nur Addin

(10)

x DAFTAR ISI

Hlm

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

ABSTRAK ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Kegunaan Penelitian ... 15

E. Kerangka Pemikiran ... 15

F. Metode Penelitian ... 17

G. Sistematika Penulisan ... 20

BAB II TINJAUAN TEORI MENGENAI HARTA BERSAMA DAN PERKAWINAN ... 24

A. Tinjauan Teori Tentang Perkawinan ... 24

1. Pengertian Menurut Hukum Islam ... 24

2. Pengertian Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ... 27

3. Pengertian Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ... 28

4. Hukum Melangsungkan Perkawinan ... 36

5. Sysrat dan Rukun Perkawinan ... 39

6. Asas Perkawinan ... 41

7. Tujuan Perkawinan ... 44

B. Harta Bersama ... 48

C. Pencatatan Perkawinan ... 58

(11)

xi

D. Perkawinan Tidak Tercatat ... 60

1. Perkawinan Tidak Tercatat Menurut Prespektif Hukum Islam ... 61

2. Pernikahan Tidak Tercatat Menurut Prespektif Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam ... 63

BAB III KONSEP PERKAWINAN TIDAK TERCATAT DI INDONESIA... 67

A. Perkawinan Tidak Tercatat Menurut Hukum Islam ... 67

B. Perkawinan Tidak Tercatat Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ... 71

BAB IV AKIBAT HUKUM PERNIKAHAN TIDAK TERCATAT DAN KEDUDUKAN HARTA BERSAMA ... 77

A. Akibat hukum Perkawinan Tidak Tercatat ... 77

B. Kedudukan Harta Bersama Pernikahan Tidak Tercatat ... 81

BAB V PENUTUP ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai etnis, suku, agama dan golongan. Sebagai salah satu negara terbesar di dunia, Indonesia merupakan negara yang kompleks dan plural. Berbagai masyarakat ada di sini. Namun Indonesia dikenal sebagai negara yang memegang teguh adat ketimuran yang terkenal sopan dan sifat kekeluargaan yang tinggi, dengan bergulirnya zaman dan peradaban, kehidupan masyarakat kini semakin kompleks dan rumit.1

Indonesia sebagai negara hukum, maka yang menjadi konsekuensi dari keadaan ini ialah bahwa negara mengatur setiap bidang kehidupan masyarakatnya melalui peraturan-peraturan sebagai produk dari hukum itu sendiri. Hukum di Indonesia sangat beragam karena dipengaruhi oleh kondisi masyarakatnya yang majemuk. Kemudian, masyarakat yang majemuk sendiri merupakan istilah yang mempunyai arti yang sama dengan istilah masyarakat plural atau pluralistik. Biasanya hal ini diartikan sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa atau masyarakat yang berbhinneka.2

Setiap negara memiliki sistem hukum yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena kebutuhan setiap masyarakatnya pun berbeda-beda,

1 Ria Desviatanti, Perlindungan Hukum Terhadap Harta Dalam Perkawinan Dengan Pembuatan Akta Perjanjian Kawin, Tesis Program Magister Kenotariatan Pascasarjana, UNDIP, Semarang, 2010, hlm. 1

2 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm. 12

(13)

sebagaimana Rudolf Stammler berpendirian bahwa adanya kebenaran hukum itu selalu bergantung pada keadaan, waktu, dan tempat, yang didasari oleh suatu kenyataan bahwa adanya hukum adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu masyarakat dan kebutuhan manusia dalam masyarakat yang satu tidak sama dengan yang lain.3 Selain itu, Prof. R. Subekti pun berpendapat bahwa hukum merupakan budaya suatu bangsa, sesuai dengan ciri atau sifat suatu budaya, maka akan memberikan ciri adanya perbedaan budaya antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, di samping dapat ditemukan adanya unsur-unsur persamaan.4 Berbagai macam sistem hukum yang kita kenal dikelompokkan menjadi suatu kelompok keluarga hukum oleh para sarjana, antara lain oleh Rhene David, yakni :

1. Keluarga Hukum Romano Germania (Romawi Jerman);

2. Keluarga Hukum Common Law;

3. Keluarga Hukum Sosialis;

4. Keluarga Hukum Agama atau Kepercayaan dan Tradisi (Hukum Adat).5

Selama ada masyarakat, masyarakat besar maupun kecil, maka terdapat pula hukum di dalamnya. Sebagaimana Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah “zoon politicon” makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat dan tercipta suatu hubungan antara satu dengan yang lain,

3 R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, cet. 2, Jakarta, Sinar Grafika, 1993, hlm. 72.

4 Wahyono Darmabrata, Perbandingan Hukum Perdata, cet. 4, Jakarta, CV. Gitama Jaya, 2006, hlm. 100.

5 Dikemukakan oleh Rhene David dalam bukunya berjudul “Major Legal Systems in the World Today”. Lihat : H.R. Sardjono dan Ny. Hj. Frieda Husni Hasbullah, Bunga Rampai Perbandingan Hukum Perdata, cet. 2, Jakarta, IND-HILL-CO, 2003, hlm. 45.

(14)

maka manusia akan saling berinteraksi satu sama lain dan menciptakan suatu hubungan. Hubungan tersebut dapat tercipta karena setiap manusia adalah pendukung atau penyandang kepentingan. Kepentingan merupakan suatu tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi dan dengan adanya hubungan tersebut, maka timbulah hak dan kewajiban yang disebabkan karena kepentingan yang berbeda antara satu individu dengan individu lain yang tidak jarang akan saling berhadapan atau berlawanan, jika terjadi hal lebih buruk, akan menimbulkan pertentangan atau konflik. Adanya konflik tersebut menyebabkan diperlukannya suatu Norma atau kaedah sosial yang akan menjadi pedoman, patokan atau ukuran untuk berperilaku dalam kehidupan bersama.6

Norma atau kaedah yang ada dalam masyarakat, kemudian Norma tersebut berfungsi untuk mengatur dan melindungi kepentingan masing- masing agar tercipta masyarakat yang dapat hidup damai, aman, tenteram, adil, dan makmur. Norma atau kaedah sosial tersebut terdiri dari kaedah kepercayaan, kaedah kesusilaan dan kaedah sopan santun. Ketiga kaedah tersebut memberikan kewajiban bagi setiap manusia untuk mencapai suatu penyempurnaan sehingga setiap manusia dapat berkelakuan baik. Namun, dari ketiga kaedah tersebut, sanksi yang diberlakukan bukan merupakan sanksi hukuman. Sehingga diperlukanlah satu kaedah yang dapat memberikan perlindungan dengan tegas dan memberikan sanksi berupa hukuman apabila kaedah tersebut tidak dijalankan dengan semestinya. Kaedah yang dapat

6 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, cet. 1, Yogyakarta, Liberty, 2003, hlm. 2.

(15)

melindungi kepentingan manusia yang sudah mendapat perlindungan dari ketiga kaedah lainnya dan melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang belum mendapatkan perlindungan dari ketiga kaedah lainnya adalah kaedah hukum.7

Manusia sebagai individu mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena manusia sejak lahir, hidup berkembang dan meninggal dunia selalu di dalam lingkungan masyarakat dan menjadi kodrat manusia untuk hidup berdampingan dengan sesama manusia dan berusaha untuk meneruskan keturunan dengan melangsungkan perkawinan.

Suatu perkawinan, dimaksud dengan ikatan lahir batin adalah bahwa perkawinan yang dilakukan tersebut tidak cukup hanya dengan adanya ikatan lahir saja atau ikatan batin saja. Akan tetapi hal tersebut harus ada kedua- duanya, sehingga akan terjalin ikatan lahir dan ikatan batin yang merupakan pondasi yang kuat dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal.8 Pada prinsipnya untuk pembentukan keluarga yang bahagia, tenteram, damai dan kekal untuk selama-lamanya itu haruslah berpegang teguh atau berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana sesuai dengan bunyi azas pertama dalam Pancasila.9

Perkawinan itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang mengandung aspek-aspek agama, sosial, dan hukum. Agama secara garis besar

7 Ibid., hlm. 12.

8 Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, Azas-azas Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta, PT Bina Aksara, 1987, hlm. 4.

9 Ibid.

(16)

memandang perkawinan sebagai suatu lembaga yang suci dimana suami istri dapat hidup tentram, saling mencintai, santun-menyantuni dan kasih mengasihi antara satu terhadap yang lain dengan tujuan mengembangkan keturunan. Dari aspek sosial, orang-orang yang telah berkeluarga dianggap telah memenuhi salah satu bagian syarat dari kehendak masyarakat, serta mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih dihargai dari mereka yang belum menikah.10 Sementara itu, dari aspek hukum, perkawinan dapat dikatakan merupakan pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang hidup bersama dan yang tujuannya membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan, serta mencegah perzinahan dan menjaga ketentraman jiwa atau batin.11 Pertalian atau perikatan ini dapat diartikan sebagai sebuah janji, dimana janji adalah suatu hal yang sangat penting dalam Hukum Perdata. Janji dianggap penting karena setiap orang yang mengadakan perjanjian sejak semula mengharapkan supaya janji itu tidak putus di tengah jalan. Jika janji tersebut pada akhirnya harus diputuskan atau terpaksa diputuskan, maka harus disebabkan oleh hal-hal yang dapat diterima oleh akal. Oleh karena hal ini berlaku pula dalam perkawinan, maka sebagaimana yang tercantum di dalam ketentuan undang-undang, sebuah perkawinan pun harus memiliki sebab-sebab yang masuk akal apabila perkawinan tersebut hendak berakhir.

10 M. Idris Ramulyo, Beberapa Masalah Tentang Hukum Acara Perdata Peradilan Agama, cet. 2, Jakarta, Ind-Hill. Co, 1991, hlm. 172-73.

11 Haji Abdullah Siddik, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta, Tintamas Indonesia, 1983, hlm.

25

(17)

Karena pentingnya suatu perkawinan, maka masing-masing negara memiliki pengaturan yang meliputi berbagai segi mengenai perkawinan.

Dalam hukum nasional Indonesia, hukum positif yang berlaku pada saat ini mengenai perkawinan diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (selanjutnya disebut sebagai Undang-Undang Perkawinan) dan mendefinisikan Perkawinan sebagai “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri yang bertujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Lebih lanjut, peraturan hukum mengenai perkawinan tidak saja hanya diatur dalam Undang-Undang Perkawinan, tetapi juga dalam Peraturan Pelaksanaannya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Jika semula hukum perkawinan di Indonesia bersifat pluralistis karena memiliki beberapa sumber hukum seperti hukum adat, dan Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, maka Undang-Undang Perkawinan merupakan jawaban atas usaha unifikasi hukum dalam bidang hukum keluarga di sistem hukum nasional Indonesia dan dibuat untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan menampung unsur-unsur dan ketentuan-ketentuan hukum agamanya serta kepercayaannya dari yang bersangkutan.

Akan tetapi, perumusan Pasal 66 Undang-Undang Perkawinan menyiratkan bahwa Undang-Undang Perkawinan tidak menghapuskan secara

(18)

keseluruhan peraturan perundang-undangan perkawinan Hindia-Belanda, dikarenakan ketentuan hukum yang dihapuskan hanyalah ketentuan hukum yang oleh karena telah ada dalam Undang-Undang Perkawinan, peraturan tersebut masalahnya telah diatur. Jadi, mengenai hal-hal yang belum diatur dalam Undang-Undang Perkawinan tersebut masih diberlakukan peraturan perundang-undangan yang lama. Hal ini menunjukan bahwa tidak berarti semua peraturan perundang-undangan lama mengenai perkawinan hapus sama sekali.

Sementara itu dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, tidak diberikan pengertian perkawinan secara rinci. Menurut Pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dikatakan, “undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan perdata” dan dalam Pasal 81 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dikatakan bahwa “tidak ada upacara keagamaan yang boleh diselenggarakan sebelum kedua pihak membuktikan kepada pejabat agama mereka, bahwa perkawinan di hadapan pegawai pencatatan sipil telah berlangsung”.

Akibat dari adanya suatu perkawinan yang sah salah satunya adalah persatuan harta benda yang ada sejak setelah melakukan perkawinan tersebut.

Hal itu berarti bahwa dengan perkawinan antara suami dengan istri, maka harta mereka dilebur menjadi satu. Dengan demikian di dalam suatu keluarga, terdapat satu kekayaan harta milik bersama atau yang sering disebut dengan harta bersama.12 Kehidupan suatu keluarga atau rumah tangga disamping

12 J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1991, hlm. 38.

(19)

masalah hak dan kewajiban sebagai suami-isteri, maka masalah mengenai harta benda bisa juga merupakan pokok pangkal yang menjadi sebab timbulnya berbagai perselisihan atau ketegangan dalam hidup suatu perkawinan, karena harta bendalah yang menjadi dasar materiil kehidupan keluarga. Sehingga jika terjadi masalah yang menyangkut harta benda, mungkin akan bisa menghilangkan kerukunan antara suami dengan isteri dalam kehidupan rumah tangganya.13

Perkawinan yang terjadi antara seorang pria dengan seorang wanita, akan menimbulkan akibat lahir maupun batin di antara mereka, terhadap masyarakat dan juga hubungannya dengan harta kekayaan yang diperoleh di antara mereka baik sebelum dan selama perkawinan. Ikatan perkawinan menimbulkan adanya harta bersama (gono-gini). Harta bersama (gono-gini) merupakan harta yang dihasilkan oleh pasangan suami isteri secara bersama- sama selama perkawinan masih berlangsung. Harta yang tidak termasuk dalam klasifikasi harta bersama adalah harta yang diperoleh atau dihasilkan sebelum masa perkawinan yang biasa disebut harta bawaan yaitu harta benda milik masing-masing suami/isteri yang diperoleh sebelum terjadinya perkawinan atau yang diperoleh sebagai warisan atau hadiah, dan harta perolehan yaitu harta benda yang hanya dimiliki secara pribadi oleh masing- masing pasangan suami/isteri setelah terjadi ikatan perkawinan.14

Akibat perkawinan terhadap harta benda suami isteri dalam KUHPerdata adalah harta campuran bulat dalam Pasal 119 KUHPerdata harta

13 Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, Op.Cit., hlm. 166.

14 Martiman Prodjohamidjodjo, Tanya Jawab Mengenai Undang-Undang Perkawinan dan Peraturan Pelaksanaan, Jakarta, Pradnya Paramita,1991, hlm.34.

(20)

benda yang diperoleh sepanjang perkawinan menjadi harta bersama. Meliputi seluruh harta perkawinan yaitu harta yang sudah ada pada waktu perkawinan dan harta yang diperoleh sepanjang perkawinan. Namun, ada pengecualian bahwa harta tersebut bukan harta campuran bulat yaitu apabila terdapat perjanjian kawin atau ada hibah/warisan, yang ditetapkan oleh pewaris Pasal 120 KUHPerdata. Dalam ketentuan Pasal 35 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 sebagai berikut:

1. Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh sepanjang perkawinan;

2. Menetapkan bahwa harta bawaan adalah harta yang dibawa masuk ke dalam suatu perkawinan.15

Membahas mengenai harta bersama (gono-gini) sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Masalah ini biasa menyangkut pengurusan, penggunaan dan pembagian harta bersama (gono-gini) jika ternyata hubungan perkawinan, pasangan suami isteri itu “Putus” baik karena perceraian maupun kematian. Dalam hal terjadinya perceraian, masalah pembagian harta bersama yang lebih dikenal dengan istilah harta gono-gini terkenal sangat rumit.

Bahkan keributan ini selalu berujung pada semakin menghambat jalannya sidang perceraian, dipengadilan masing-masing pihak saling menganggap bahwa dirinya yang berhak mendapatkan jatah harta bersama (gono-gini) lebih besar dibandingkan pasangannya.16 Pada dasarnya ada bermacam- macam sistem hukum harta kekayaan perkawinan, hal ini karena tiap-tiap

15 C.S.T. Kansil, Asas-asas Hukum Perdata, Jakarta, Pradnya Paramita,2004, hlm.127.

16 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung, Mandar Maju, 2007, hlm.114.

(21)

sistem hukum mempunyai peraturan-peraturannya sendiri yang mengatur mengenai harta benda suami isteri. Hal tersebut sebagaimana diatur di dalam Hukum Adat, Hukum Islam, dan KUH Perdata.

Sementara itu Undang-undang Perkawinan juga mengatur mengenai harta benda perkawinan, namun ketentuan tersebut belum diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaannya. Dalam hal inilah yang kemudian menimbulkan persoalan dalam praktek apakah ketentuan harta benda perkawinan yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan telah dapat diberlakukan.

Berdasarkan hukum positif yang berlaku di Indonesia harta bersama (gono-gini) ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pengaturan harta bersama (gono-gini) ini diakui secara hukum, termasuk dalam hal pengurusan, penggunaan dan pembagiannya. Meskipun pembagian harta besama (gono-gini) diatur jelas di dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), tetapi pada kenyataannya pelaksanaannya masih belum memadai bahkan harta bersama (gono-gini) sering kali dipermasalahkan bagi pihak yang akan bercerai, Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam dijelaskan:

(22)

Bahwa janda atau duda yang bercerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian kawin.”17

Tidaklah mustahil jika dalam masyarakat dijumpai bahwa kehidupan perkawinan terkadang dengan suatu sebab atau beberapa sebab keadaan rumah tangganya menjadi buruk atau tidak harmonis lagi. Dengan keadaan yang seperti itulah menjadi alasan pokok setiap pasangan suami-isteri memutuskan untuk mengakhiri hubungan perkawinannya dan memilih untuk melakukan perceraian.18 Perceraian adalah putusnya hubungan suatu perkawinan antara suami-istri dengan adanya putusan Hakim atas tuntutan salah satu pihak yang didasarkan alasan-alasan yang sah yang telah disebutkan dalam peraturan perundang-undangan.19

Pembagian harta bersama dalam perkawinan senantiasa merupakan suatu hal yang krusial dari akibat perceraian, karena baik suami dengan isteri akan mempermasalahkan mengenai pembagian harta bersama yang dimiliki selama perkawinan berlangsung, baik suami dan isteri saling menganggap memiliki hak atas harta kekayaan yang ada dalam perkawinan. Untuk menghindari terjadi permasalahan mengenai harta antara pasangan yang telah bercerai maka telah terlebih dahulu diadakan perjanjian kawin. Dengan adanya perjanjian kawin, pembagian harta bersama (gono-gini) akan lebih mudah karena dapat dipisahkan mana yang merupakan harta bersama dan

17 Anshary MK, Hukum Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010, hlm.

146-147.

18 H. M. Djamil Latif, Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982, hlm. 29.

19 Ibid.

(23)

mana merupakan harta bawaan dengan demikian, perjanjian perkawinan berfungsi sebagai “pengendali masalah dikemudian hari”.

Secara umum perjanjian perkawinan berisi tentang pengaturan harta kekayaan calon suami isteri. Harta bersama (gono-gini) dan perjanjian perkawinan sering luput dari perhatian masyarakat karena masyarakat sering menganggap bahwa perkawinan adalah suatu perbuatan suci sehingga tidak sepantasnya membicarakan masalah harta benda. Masalah harta bersama diatur dalam Pasal 35 sampai dengan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang secara garis besar menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, sedangkan harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Akibat hukum dari perceraian terhadap pembagian harta bersama menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dalam Pasal 37 telah disebutkan bahwa “Bila perkawinan putus karena perceraian, harta benda diatur menurut hukumnya masing-masing”. Yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing yaitu hukum agama, hukum adat, atau hukum yang berlaku lainnya. Dalam Undang-Undang Perkawinan tersebut tidak ditetapkan secara tegas mengenai berapa bagian masing-masing dari suami- isteri terhadap harta bersama tersebut. Namun dalam Undang-Undang Perkawinan ini rupanya memberikan kelonggaran dengan menyerahkan kepada pihak suami-isteri yang bercerai tentang hukum mana dan hukum apa

(24)

yang akan diberlakukan dalam menyelesaikan sengketa pembagian harta bersama tersebut dan jika ternyata tidak ada kesepakatan, maka Hakim dapat mempertimbangkan menurut rasa keadilan yang sewajarnya.20

Terdapatnya ketidakjelasan dalam pembagian harta bersama yang diatur di Indonesia apabila terdapat suatu kondisi dimana adanya istri yang lebih aktif bekerja atau berusaha dalam proses mendapatkan harta bersama.

Sedangkan suami hanya bersifat membantu. Sering kita dengar bahwa perempuan menanggung kerja lebih lama dan tidak dihargai sebagai domestic worker (Pekerjaan rumah tangga yang tidak mengenal titik (tidak ada hentinya).21 Beban tersebut tentu bertambah berat, jika istri juga bekerja mencari nafkah. Jika dikalkulasi beban istri adalah reproduksi, pekerjaan domestik dan mencari nafkah. Sedangkan suami, karena diposisikan sebagai kepala keluarga, untuk keperluannya sendiri saja harus dilayani istri.

Sehingga menimbulkan suatu persepsi apakah ketika terjadinya perceraian diantara mereka dalam hal harta bersama akan dibagi seperdua (½ ) untuk suami dan seperdua (½) untuk istri, ataukah terdapat suatu keadilan lain yang dapat diciptakan guna menegakkan prinsip keadilan yang dijunjung tinggi dimata hukum.

Pasal 119 ayat (1) KUHPerdata mengatur bahwa “mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan istri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin pendaftaran diadakan ketentuan lain”. Menurut KUHPerdata, apabila

20 Hilman Hadikusuma, Op. Cit. hlm. 189.

21Tutik Hamidah, Fiqih Perempuan; Berwawasan Keadilan Gender, Malang, UIN Maliki Press, 2011. cet.I, hlm. 141

(25)

suami dan isteri pada waktu akan melakukan pernikahan tidak mengadakan perjanjian pisah harta diantara mereka maka akibat dari perkawinan itu ialah pencampuran kekayaan suami dan isteri menjadi satu milik orang berdua bersama-sama dan bagian masing-masing dalam kekayaan bersama itu adalah separuh.22

Pasal 120 jo 121 KUHPerdata diatur bahwa persatuan bulat itu meliputi :23

1. Benda bergerak dan tidak bergerak baik yang dimiliki sekarang maupun kemudian hari;

2. Hasil perkawinan dan keuntungan yang diperoleh selama perkawinan;

3. Utang-utang suami / istri sebelum dan sesudah perkawinan;

4. Kerugian-kerugian yang dialami selama perkawinan.

Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan dua belah pihak, sedangkan mengenai harta bawaan masing- masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Akan tetapi apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing- masing.24 Hal ini mengindikasikan bahwa ketika terjadi perceraian, harta bersama yang diperoleh oleh pasangan suami isteri selama perkawinan dapat diatur, pembagian harta bersama terkadang jauh lebih rumit dari proses

22 Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Abadi, 2002, hlm.38- 39.

23 Djaja B. Meliala, Hukum Perdata Dalam Perspektif BW, Bandung, Nuansa Aulia, 2014, hlm. 64.

24 Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia; Akar Sejarah, Hambatan dan Prospeknya, Jakarta, Gema Insani Press, 1996, hlm.33

(26)

perceraian itu sendiri. Terlebih jika telah terjadi percampuran antara harta yang diperoleh dalam masa perkawinan dengan harta bawaan masing-masing suami isteri.

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 2 menyatakan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan atau akad yang sangat kuat atau mitsaqan galidzan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.25 Jadi dapat dikatakan Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada pasangan suami-isteri yang mampu untuk segera melaksanakannya, jalan yang dipilih oleh Allah SWT agar pasangan suami-isteri dapat bekerja sama, tanggung jawab, serta melestarikan keturunan (anak-cucu) dan bertujuan agar bisa terbangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahma, karena perkawinan dapat mengurangi kemaksiatan, baik dalam bentuk penglihatan maupun dalam bentuk perzinahan.26

Perkawinan yang sah adalah Perkawinan yang dicatatkan, Undang- Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menurut Pasal 2 ayat 2 menyatakan bahwa “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Pencatatan perkawinan itu berfungsi sangat penting sebagai alat bukti tertulis yang sah untuk memperkarakan

25 Amiur Nurddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia : Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU Nomor. 1/1974 sampai KHI, Jakarta Kencana, 2004, hlm. 43

26 Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2006, hlm.7

(27)

persoalan rumah tangga secara hukum di Pengadilan Agama. Disamping itu, juga untuk urusan-urusan administratif suami isteri dan anak-anaknya.27

Berdasarkan penjelasan umum Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, pencatatan kelahiran, pencatatan kematian, demikian pula pencatatan perkawinan dipandang sebagai suatu peristiwa penting, bukan suatu peristiwa hukum. Akta nikah/Buku Nikah dan pencatatan perkawinan bukan merupakan satu-satunya alat bukti mengenai adanya perkawinan atau keabsahan perkawinan, karena akta nikah dan pencatatan perkawinan adalah sebagai alat bukti tetapi bukan alat bukti yang menentukan. Karena yang menentukan keabsahannya suatu perkawinan adalah menurut agama.

Akibat hukum perkawinan yang tidak dicatatkan, walaupun secara agama atau kepercayaan dianggap sah, namun perkawinan yang dilakukan diluar pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatatan nikah tidak memiliki kekuatan hukum yang tetap dan dianggap tidak sah dimata hukum Negara.

Akibat perkawinan tersebut berdampak sangat merugi bagi isteri dan perempuan umumnya, baik secara hukum maupun sosial, serta bagi anak yang dilahirkan.

Berdasarkan permasalahan yang sudah dijelaskan penulis diatas maka penulis tertarik untuk membahas hak waris anak terhadap harta peninggalan orang tuanya. Hal ini juga yang mendorong penulis dalam penulisan tesisnya yang berjudul “AKIBAT HUKUM PERKAWINAN TIDAK TERCATAT

27 Regina Hutabarat, Asas asas Dalam Perkawinan di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perjanjian perkawinan, Jakarta, Pustaka Ilmu, 1986, hlm. 58

(28)

TERHADAP KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN”

B. Idenstifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah di uraikan, terdapat suatu masalah yang di rumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep Perkawinan Tidak tercatat menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan?

2. Bagaimana akibat hukum Perkawinan Tidak Tercatat terhadap kedudukan harta Bersama?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penulis tugas akhir yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Menganalisis konsep Perkawinan Tidak tercatat menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan.

2. Menganalisis akibat hukum Perkawinan Tidak Tercatat terhadap kedudukan harta Bersama.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan kegunaan yang bersifat teoritis dan praktis, yakni diantaranya:

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam pengembangan ilmu hukum khususnya ilmu hukum perdata yang

(29)

berhubungan dengan hak waris bagi penerima ahliwaris yang tidak memperoleh hak warisannya secara keseluuhan.

2. Kegunaan Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi penulis maupun pihak-pihak yang terkait. Selain itu juga dapat bermanfaat dalam memberikan informasi yang dapat disumbangkan pada masyarakat terkait permasalahan harta warisan yang tidak diberikan kepada ahliwaris melainkan dikuasasai oleh orang lain yang bukan ahliwaris.

E. Kerangka Pemikiran

Untuk lebih mudah mengulas permasalahan yang akan dijabarkan dalam penulisan ini maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu makna kata yang terkandung dalam variable judul antara lain ; hukum dalam kamus bahasa Indonesia memiliki arti :28

Peraturan yg dibuat oleh penguasa (pemerintah) atau adat yg berlaku bagi semua orang dalam suatu masyarakat (negara); 2 undang-undang, peraturan, dsb untuk mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat; 3 patokan (kaidah, ketentuan) mengenai suatu peristiwa (alam dsb) yg tertentu; 4 keputusan (pertimbangan) yg ditetapkan oleh hakim (dl pengadilan) vonis.

28 Tim Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Jakarta, 2008, hlm. 531

(30)

Perkembangan ilmu hukum selalu didukung oleh adanya teori hukum sebagai landasannya dan tugas dari teori hukum tersebut adalah untuk menjelaskan dan menjabarkan tentang nilai hukum, sehingga mencapai dasar- dasar filsafahnya yang paling dalam, penulisan tesis ini penulis memilih menggunakan dua teori kepastian hukum dan perlindungan hukum, karena didalam kepemilikan atas tanah haruslah terdapat kepastian dan perlindungan hukum bagi anak yang berhak mendapatkan hak waris atas peninggalan harta dari orangtua.

1. Teori Kepastian Hukum

Teori ini sering disebut dengan yuridis formal. Teori kepastian hukum adalah teori yang bertujuan menjaga kepentingan setiap orang atau manusia sehingga tidak dapat diganggu gugat. Sedangkan Kepastian Hukum yang dimaksud adalah hukum yang resmi diundangkan dan dilaksanakan dengan pasti oleh negara jadi, kepastian hukum berarti bahwa setiap orang dapat menuntutagar hukum dilaksanakan dan tuntunan itu harus dipenuhi.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja menyatakan bahwa untuk mencapainya ketertiban diusahakan adanya kepastian hukum dalam pergaulan manusia di masyarakat, karena tidak mungkin manusia dapat mengembangan bakat dan kemampuan yang diberikan Tuhan

(31)

kepadanya secara optimal tanpa adanya kepastian hukum dan ketertiban hukum.29

2. Teori Perlindungan Hukum

Perlindungan berasal dari kata lindung yang berarti bernaung, bersembunyi. Perlindungan berarti tempat berlindung30 dalam Black's Law Dictionary memberikan pengertian protection sebagai: (1) tindakan melindungi (the act of protecting), (2) proteksionisme (protecsionism), (3) menutupi (coverge), (4) suatu dokumen yang diberikan oleh seorang Notaris kepada pelaut atau orang lain yang melakukan perjalanan ke luar negeri, yang menegaskan pemegangnya adalah warga Negara AS (a document given by a Notary public to sailors and other persons who travel abroad, certifying that the bearer is U.S.citizen).

Menurut Sajipto Raharjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberkan oleh hukum.31

Menurut Friedrich Julius Stahl32 seorang pelapor hukum Eropa Konentinal, ciri sebuah Negara hukum antara lain adalah adanya perlindungan terhadap hak asasi manusia, adanya pemisahan atau

29 Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum Perspektif Historis,Nuansa dan Nusamedia, Bandung, 2004, hlm. 239.

30 Peter Salim, Yeni Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer. 2008.

31 Satjipto Raharjo, ilmu hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung , 2000, h. 54.

32 Ibid. hlm. 210

(32)

pembagian kekuasaan, pemerintah bedasarkan peraturan perundangundangan (wetmatigheid van bestuur) serta perlindungan administrasi dalam perselisihan. Konsep Negara hukum disamping mencakup perihal kesejahteraan sosial (wlfare state), kini juga bergerak kearah dimuatnya ketentuan perlindungan hak asasi manusia dalam konstitusi tertulis satu negara. Bedasarkan hal tersebut Negara disamping bertugas unutk mensejahterakan masyarakat dan memberikan keadilan sosial maka Negara juga harus memberikan perlindungan hukum terhadap hak asasi manusia yang saat ini diatur dalam Pasal 28 I ayat (5) Undang-undang Dasar 1945 dikenal dengan Prinsip Negara Hukum yang Demokratis.33

F. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah pendekatan yuridis Normatif dan yuridis empiris. Penelitian ini mempergunakan metode yuridis Normatif, dengan pendekatan yang bersifat kualitatif. Metode penelitian yuridis Normatif adalah metode penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.34 Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Dalam penelitian yuridis Normatif yang dipergunakan adalah merujuk pada sumber bahan hukum,

33 Lili Rasdjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, h. 68.

34 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Nomorrmatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm.14.

(33)

yakni penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam berbagai perangkat hukum.

Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan dengan tepat, akurat, dan sistematis terkait gejala- gejala hukum mengenai hak waris bagi anak yang tidak mendapatkan hak warisannya berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang hukum waris.

Penulis dalam melakukan penelitian menggunakan beberapa sumber data untuk menunjang penelitian ini mendapatkan hasil yang maksimal dengan Data Primer yang diperoleh yaitu dari wawancara dengan pihak-pihak terkait dan Data sekunder adalah jenis data yang diperoleh dari studi kepustakaan dan mempunyai kekuatan hukum mengikat, terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.35 Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini terlebih dahulu dengan melakukan studi kepustakaan untuk menginventarisir data-data sekunder, yang terdiri dari :

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat.

Bahan hukum primer terdiri dari Norma atau kaedah dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan seperti hukum adat, yurisprudensi, traktat dan bahan hukum dari zaman penjajahan yang kini masih berlaku,36 yaitu:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;

35 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Surabaya, 2005 hlm. 23.

36 Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudi, Penelitian Hukum Nomorrmatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm 52.

(34)

b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan;

c. Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam;

d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi kependudukan;

e. Fatwa MUI Nomor 10 tahun 2008 Tentang Nikah Di Bawah Tangan

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder meliputi literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian penulis mengenai hukum waris. Dalam arti sempit bahan hukum sekunder pada umumnya berupa buku-buku hukum yang berisi ajaran atau doktrin atau treatises, terbitan berkala berupa artikel-artikel tentang ulasan hukum atau law review, dan narasi tentang arti, istilah, konsep, Phase, berupa kamus hukum atau ensiklopedia hukum. Dalam arti luas bahan hukum yang tidak tergolong bahan hukum primer atau termasuk segala karya ilmiah hukum yang tidak dipublikasikan atau yang dimuat dikoran atau majalah populer.37

3. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

37 I Made Pasek Diantha, Metodologi Penelitian Hukum Nomorrmatif dalam Justifikasi Teori Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2016, hlm 145.

(35)

sekunder, misalnya berupa bahan dari media internet, kamus- kamus dan sebagainya.38

Penelitian ini menggunakan analisis dekskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dimana menurut Soerjono Soekanto menyatakan bahwa pendekatan kualitatif sebenarnya merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deksriptif.39 Penelitian ini juga dilakukan dengan membandingkan peraturan undang-undang, ketentuan-ketentuan, dan buku referensi kemudian di analisis secara kualitatif yang memberikan gambaran secara aspek hukum.

38 Op.cit, hlm 52.

39 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudi, Penelitian Hukum Nomorrmatif Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali, Jakarta, 2007, hlm. 32.

(36)

25 BAB II

TINJAUAN TEORI TENTANG PERKAWINAN DAN HARTA PERKAWINAN

A. Tinjauan Teori Tentang Perkawinan

Perkawinan adalah suatu proses menuju hidup sakina, mawwadah, dan rahmah. Melalui pernikahan manusia diharapkan dapat hidup bahagia, yang didalamnya tentu saja disertai dengan upaya saling mencintai, mengasihi, dan menghargai.40

Kata nikah berasal dari bahasa arab yang berarti “bercampur”. Dalam arti fikih, nikah adalah yang menghalalkan hubungan laki-laki dan perempuan dalam ikatan suami-isteri. Tujuan pernikahan Islam adalah keluarga bahagia yang rukun, damai, serta penuh kasih sayang untuk mendapat keturunan yang sah.41

Nikah (kawin) menurut arti asli ialah hubungan seksual tetapi menurut arti majazi (mathaporic) atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang menjadikan halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang pria dengan seorang wanita. Akad nikah berarti perjanjian suci untuk mengikatkan diri dalam perkawinan antara seorang wanita dengan seorang pria membentuk keluarga bahagia dan kekal. Suci berarti mempunyai unsur agama atau Ketuhanan Yang Maha Esa.

40 Udi Murfudin, Teologi Pernikahan, FUDPress, Serang, 2016, hlm. 1.

41 Ensiklopedia Islam, PT Ichtiiar Baru Van Hoeve, Jakarta 2005, hlm. 214.

(37)

1. Pengertian Perkawinan Menurut Hukum Islam

Menurut syari’at (hukum) Islam, hakikat perkawinan adalah akad antara calon suami istri untuk membolehkan keduanya bergaul sebagai suami istri, yaitu akad antara calon laki (suami) istri untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syari’at. Sedangkan yang dimaksud dengan akad adalah ijab dari pihak wali perempuan atau wakilnya dan kabul dari pihak calon suami atau wakilnya42. Tujuan perkawinan menurut hukum Islam adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang untuk mendapatkan keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur oleh syari’at.43 Dengan kata lain, tujuan perkawinan menurut hukum Islam ialah agar turut (tunduk kepada) perintah Allah untuk memperoleh turunan yang sah dalam masyarakat dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur.

Ungkapan akad yang sangat kuat atau miitsaqan ghalizhan merupakan penjelasan dari ungkapan ikatan lahir batin yang terdapat dalam rumusan Undang-Undang yang mengandung arti bahwa akad perkawinan itu bukanlah semata perjanjian yang bersifat keperdataan.

Disamping perkawinan itu merupakan suatu pebuatan ibadah, perempuan yang sudah menjadi isteri itu merupakan amanah Allah yang harus dijaga

42 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta, PT Hidakarya Agung, 1977, hlm.1.

43 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Yogyakarta, Liberty, 1986, hlm. 12

(38)

dan diperlakukan dengan baik. Dan ia diambil melalui prosesi keagamaan dalam akad nikah. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang berasal dari Ibnu Abbas yang berbunyi: Sesungguhnya kamu mengambilnya sebagai amanah dari Allah dan kamu menggaulinya dengan kalimat dan cara-cara yang ditetapkan Allah.44

Rukun perkawinan adalah sesuatu yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan perkawina, syarat perkawinan adalah sesuatu yang harus dipenuhi sebelum pelaksanaan perkawinan. Rukun perkawinan ada lima, yaitu:45

a) Calon suami, dengan syarat: Islam, tidak dipaksa, bukan mahramnya, tidak sedang haji atau umrah;

b) Calon istri, dengan syarat: Islam, bukan mahramnya, tidak sedang haji atau umrah, tidak sedang dalam masa iddah, tidak bersuami, mendapat izin wali;

c) Wali, dengan syarat: Islam, dewasa, sehat akalnya, tidak fasik;

d) Dua orang saksi, dengan syarat: Islam, dewasa, sehat akalnya, tidak fasik, hadir dalam akad perkawinan;

e) Ijab kabul, dengan syarat: dengan mengatakan nikah atau zawaj (kawin), ada kecocokan antara ijab dan kabul, berturut-turut (tidak dilakukan di lain waktu), tidak ada syarat yang memberatkan dalam pernikahan itu.

44 Amir Syarifuddin, Hukum Perakwinan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2007, hlm.

41.

45 Khuslan Haludhi dan Abdurrohim Sa’id, Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam, Surakarta, Tiga Serangkai,2004, hlm. 135-136.

(39)

Hukum Islam tidak secara tegas sebuah perkawinan harus dicatat dalam sebuah akta perkawinan, tetapi jika akta perkawinan itu memberikan maslahat (kebaikan) bagi para pihak, maka hukum Islam juga tidak melarang perkawinan dicatat dalam akta perkawinan, hal yang demikian itu termasuk hal yang mubah (boleh dilakukan).

2. Pengertian Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak mendefinisikan secara jelas tentang pengertian perkawinan hanya menberikan penjelasan terkait pemberlakuan peraturan tersebut yang terdapat pada Pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan “Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata”.

KUHPerdata juga mengatur terkait batas minimum dalam melakukan perkawinan yang terdapat pada Pasal 29 yaitu:

“Laki-laki yang belum mencapai umur delapan belas tahun penuh dan perempuan yang belum mencapai umur lima belas tahun penuh, tidak diperkenankan mengadakan perkawinan. Namun jika ada alasan-alasan penting, Presiden dapat menghapuskan larangan ini dengan memberikan dispensasi”

Tidak hanya mengatur terkait batas minimum perkawian KUHPerdata mengharuskan setiap perkawinan untuk dicatatkan pada Pegawai Pencatatan Sipil di tempat salah satu pihak yang melangsungkan perkawinan, hal ini dikemukan pada Pasal 50 KUHPerdata yang

(40)

menyebutkan : “Semua orang yang hendak melangsungkan perkawinan, harus memberitahukan hal itu kepada Pegawai Catatan Sipil di tempat tinggal salah satu pihak”. Bahwa sangatlah jelas KUHPerdata mengharuskan setiap setiap orang yang akan melakukan perkawinan haruslah dicatatkan untuk kepentingan administrasi kependudukan, setalah pencatatan tersebut berlangsung maka perkawinan dapat dilaksanakan oleh kedua belah pihak ditempat tinggal dimana perkawinan tersebut dicatatkan.

Berbeda dengan syarat dilangsungkannya perkawinan menurut hukum Islam, bahwa dalam hukum Islam suatu perkawinan dianggap sah apabila dilangsungkan dengan memenuhi syarat : adanya calon suami, adanya calon istri, adanya wali, adanya dua orang saksi, serta terdapat ijab kobul (janji nikah), maka setiap pernikahan yang telah memenuhi seluruh persyatan tersebut dianggap sah menurut syariat Islam akan tetapi hanya tidak dicatatkan kepada lembaga pencatatan sipil, dan ketika pernikahan yang telah dilangsungkan menurut syariat islam tersebut ingin dicatatkan maka kedua belah pihak memohon kepada Pengadilan untuk menyatakan pernikahan yang telah dilangsungkan menurut syariat Islam adalah sah dan dapat dicatatkan kepada Pegawai Pencatatan Sipil tempat mereka tinggal.

3. Pengertian Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan

(41)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mendefinisikan Perkawinan sebagai berikut :

ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri yang bertujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Terumuskan pengertian perkawinan yang di sebutkan dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan maka dapat diperhatikan dari rumusan diatas dapat dikemukakan bahwa terdapat unsur-unsur suatu perkawinan46, yakni adalah sebagai berikut:

a. Ikatan lahir dan batin;

b. Ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri;

c. Bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan bahagia;

d. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

1) Ikatan Lahir Batin

Ikatan lahir merupakan ikatan yang terlihat yang mengungkapkan adanya hubungan hukum antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri dalam suatu lembaga perkawinan, ikatan lahir ini merupakan hubungan formal yang sifatnya nyata, baik bagi yang mengikatkan dirinya

46 Wienarsih Imam Subekti dan Sri Soesilowati Mahdi, Hukum Perorangan dan Kekeluargaan Perdata Barat, (Jakarta: Gitama Jaya, 2005), hlm. 26

(42)

maupun bagi orang lain atau masyarakat.47 Sementara itu, ikatan batin merupakan hubungan non-formal, yang dapat digambarkan sebagai suatu pertalian jiwa yang terjalin karena adanya kemauan yang sama dan ikhlas antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri, atau yang dalam ketentuan UU Perkawinan disebut sebagai persetujuan para pihak sebagai simbol dari ikatan batin yang dimaksudkan dalam pengertian perkawinan.

Tahapan menjelang terjadinya perkawinan, ikatan batin diperlukan sebagai tahapan awal ditandai dengan adanya persetujuan dari calon mempelai, kemudian dilanjutkan dengan ikatan lahir saat perkawinan dilangsungkan, adanya kedua ikatan ini menjadi salah satu unsur pengertian perkawinan memperlihatkan bahwa tujuan perkawinan tidak dapat dicapai hanya melalui aspek lahiriah saja, tetapi juga membutuhkan persatuan batin antara suami istri yang ditujukan untuk membina suatu keluarga atau rumah tangga yang kekal dan bahagia bagi keduanya, serta sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

2) Ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri

Rumusan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan berlangsung antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri, hal ini menunjukan dua hal, yakni

47 Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, cet. 4, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1976, hlm. 14-15.

(43)

Undang-Undang Perkawinan tidak mengenal perkawinan sesama jenis. Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan menyatakan dengan jelas jenis kelamin dari para pihak yang terikat dalam perkawinan, yaitu antara pria dan wanita, maka dengan demikian tidak dimungkinkan dilangsungkannya perkawinan sesama jenis di Indonesia (antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita) disebabkan peraturan hukum nasional Indonesia (Undang-Undang Perkawinan) tidak mengenal perkawinan sesama jenis. Di sisi lain, berkaitan dengan asas monogami yang dianut oleh Undang-Undang Perkawinan, seorang suami diperbolehkan beristri lebih dari satu orang, hanya apabila hukum dan agamanya mengizinkan hal tersebut dengan memenuhi persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan.

Hal ini menunjukan bahwa asas monogami yang dianut oleh Undang-Undang Perkawinan tidaklah berlaku mutlak, namun perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan, hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan.

3) Bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan bahagia

Sejatinya, tujuan perkawinan untuk membentuk keluarga yang kekal dan bahagia akan tercapai apabila suami istri saling

(44)

mencintai, menghormati, dan setia, selain itu sebuah keluarga inti minimal terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Maka kehadiran keturunan dalam perkawinan merupakan sebuah unsur yang diperlukan untuk mencapai tujuan perkawinan, yakni membentuk keluarga. Pihak suami istri tidak diperkenankan membatasi perkawinan mereka dengan mengadakan perjanjian perkawinan untuk tidak memiliki keturunan selama ikatan perkawinan berlangsung. Namun, apabila ketidakhadiran seorang anak disebabkan karena kemandulan, hal ini tidak membenarkan terjadinya perceraian untuk menikah dan memiliki anak atau menikah kembali saat perkawinan berlangsung.

Perkawinan dimaksudkan untuk berlangsung selamanya, seumur hidup, dan hanya terputus karena adanya kematian, maka UU Perkawinan menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian yang diputuskan oleh Pengadilan untuk memungkinkan perceraian, maka harus ada sebab-sebab tertentu yang masuk akal.

4) Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Sebagaimana Penjelasan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi unsur batin/rohani juga mempunyai peranan yang penting. Hal ini menyiratkan arti bahwa

(45)

norma hukum masing-masing agama dan kepercayaan harus dipertimbangkan saat hendak melangsungkan perkawinan.

Undang-Undang Perkawinan memiliki prinsip-prinsip lain yang terkandung dalam ketentuan-ketentuan hukum di dalamnya, yakni sebagai berikut:

a) Di samping suatu perkawinan adalah sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya, tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan merupakan hal yang sama pentingnya dengan peristiwa-peristiwa hukum lain dalam kehidupan seseorang, seperti kelahiran dan kematian yang perlu dinyatakan dalam surat-surat keterangan (suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan).

b) Kedua calon mempelai suami istri yang akan melangsungkan perkawinan harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. Oleh karenanya, untuk mencegah adanya perkawinan antara calon suami istri yang masih dibawah umur, Undang- Undang Perkawinan telah menetapkan batas usia minimal seseorang dapat melangsungkan perkawinan. Selain itu,

Referensi

Dokumen terkait

Perjanjian perkawinan tersebut tercantum klausula antara suami isteri tidak ada persekutuan harta menurut hukum, tetapi juga percampuran untung dan rugi serta pula percampuran

1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, literatur, pendapat para ahli, artikel internet yang berhubungan dengan pembagian harta warisan dalam pernikahan poligami

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah dan ridho’Nya, sehingga skripsi dengan judul : “ Kedudukan Hukum Anak Luar Kawin Menurut

Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Bab IX Pasal 42 dan Pasal 43 bahwa status anak yang lahir di luar perkawinan (termasuk perkawinan siri ) dianggap sebagai

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dasar hukum dalam menetapkan harta bersama dalam perkawinan menurut Hukum Islam, kedudukan janda terhadap harta bersama dan harta

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam sah dan batalnya pernikahan menurut Undang-Undang Pernikahan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di atas, pernikahan

Anak luar kawin yang dapat diakui adalah anak luar kawin dalam arti sempit, yaitu anak yang terlahir dari ibu dan bapak yang tidak terikat perkawinan yang sah baik

Akibat Hukum Pernikahan Sirri ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, Nikah sirri yang tidak tercatat pada Pejabat