!
BIARKAN HUKUM MENGALIR
Catatan Kritis Tentang Pergulatan Manusia Dan Hukum Oleh : Yulita Kuntari, S.H.*)
Ditulis oleh Guru Besar Sosiologi Hukum di Universitas Diponegoro Semarang Prof. Dr. Satjipto Rahardjo SH, buku ini menjadi salah satu bacaan yang penting untuk dibaca oleh para praktisi hukum, mahasiwa, peneliti sosial politik, dan terutama para legislator. Ditulis dalam 10 bab dan dituangkan dalam bahasa yang ringan, buku ini menggambarkan pandangan penulis mengenai hukum yang humanis, hukum yang tidak meninggalkan tradisi dan nilai-nilai lokal yang ada dalam masyarakat. Penulis dengan gamblang mengulas tentang hukum modern, kepastian hukum, serta dinamika hukum.
Bagian awal buku ini menyoroti mengenai kegelisahan penulis terhadap hukum modern. Hukum dengan bentuk formal yang dimaknai sebagai peraturan atau prosedur dan birokrasi semata. Hukum menjadi institusi artifisial yang menjauh dari masyarakat. Proses hukum menjadi “proses peraturan” dan bukan lagi sebagai “proses perilaku” antar manusia.
Munculnya hukum modern
mengguncang ketertiban dalam masyarakat. Hukum yang seyogianya dibutuhkan untuk menciptakan atau menata ketertiban masyarakat pada praktiknya seringkali justru meminggirkan ketertiban yang telah ada dalam mayarakat lokal atau masyarakat adat. Hukum adat bukan lagi menjadi landasan hukum nasional, melainkan dikalahkan oleh hukum nasional, yang diumpamakan dengan “memasukkan kambing dan harimau dalam satu
kandang”. Hukum modern
meminggirkan kehidupan dalam tatanan lokal dan kaidah-kaidah sosial yang menata ketertiban di masyarakat.
Berbicara tentang hukum tidak dapat dilepaskan dari kepastian hukum. Begitu adanya hukum, terciptalah kepastian hukum. Hal itu merupakan beban yang berlebihan yang diletakkkan di pundak hukum. Kepastian hukum didewakan menjadi ideologi dalam hukum. Dalam pandangan Penulis, hukum tidak serta merta menciptakan kepastian hukum, yang mutlak adalah hukum menciptakan kepastian peraturan, dalam arti adanya peraturan seperti Undang-Undang. Apabila diproyeksikan kepada tuntutan keadilan dan kemanfaatan, maka
__________________________________________
" kepastian hukum akan menjadi penghambat. Maka menjalankan hukum tidak dapat dilaksanakan secara matematis dengan “ mengeja pasal-pasal Undang-Undang”, melainkan harus menggunakan logika sosial dan filosofis. Apabila hukum memang tidak berubah dan diubah, kendati substansi sudah mengalami perubahan, maka faktor kemanfaatan sosial harus dikedepankan, sejalan dengan pandangan bahwa hukum tidak ada untuk dirinya sendiri melainkan untuk manusia dan masyarakat
Dalam melihat dinamika hukum, Penulis mencoba mengupas dinamika di luar hukum negara dan cara bangsa-bangsa berhukum, dengan mengambil ilustrasi kecelakaan pesawat. ”Pada tanggal 2 Agustus 1985, sebuah jumbo jet Delta Airlines jatuh di Dallas dan menewaskan 137 orang. Segera sesudah malapetaka tersebut, para lawyers dari kedua belah pihak, yaitu dari pihak korban dan perusahaan penerbangan, terjun ke lapangan dengan begitu cepat dan agresif. Suatu peperangan sengit dengan saling menuduh secara pahit dan amoral merupakan pemandangan yang menyusul tahun-tahun berikutnya. Itulah ilustrasi tentang cara berhukum di Amerika Serikat. Sepuluh hari sesudah peristiwa di Dallas tersebut, sebuah jumbo jet milik Japan Airlines jatuh di gunung Ogura di Kepulauan Honsu. Tidak ada lawyers yang dengan agresif turun ke tempat kejadian, bagaikan
burung gagak melihat bangkai. Hari-hari yang menyusul hanya diisi dengan suasana duka yang mendalam. Perusahaan Japan Airlines, secara penuh berusaha mengevakuasi dan menolong, baik korban maupun keluarganya. Sesudah semua beres, presiden Japan Airlines menghadap kepada deretan korban dan keluarganya, membungkuk dalam-dalam, meminta maaf dan akhirnya mengundurkan diri dari jabatan. Anak-anak dari korban juga mendapat beasiswa dari perusahaan penerbangan tersebut. Itulah potret cara berhukum di Jepang.”
Tidak ada cara berhukum yang sama secara total di dunia ini. Amerika dan Jepang memilih dan mempertahankan cara berhukum masing-masing menurut modal sosial yang dimiliki. Apabila cara atau model berhukum itu dipaksakan untuk sama di dunia menurut standar tertentu, maka sungguh itu bertentangan dengan hak-hak bangsa, dan hanya akan membuat bangsa-bangsa yang dipaksa menjadi tidak bahagia. Indonesia juga mempunyai hak untuk berhukum menurut cara yang dipandang cocok, tanpa menafikan tatanan-tatanan lokal yang telah terbentuk.
# memberikan kesempatan untuk melakukan pembebasan dari hukum formal, serta memberikan perhatian besar terhadap peranan perilaku manusia dalam hukum. Hukum diberi ruang untuk melakukan pembebasan, baik dalam cara berpikir maupun bertindak dalam hukum, sehingga mampu membiarkan hukum itu mengalir untuk menuntaskan tugasnya mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan.
Tulisan-tulisan dalam buku ini memang memberi gambaran mengenai “hukum
yang ideal”. Namun demikian, di Indonesia, hal tersebut masih ada dalam tataran angan-angan yang masih sulit untuk diwujudkan.