SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan
Program Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Oleh: Juwita Tiara Asri
NIM. D91212166
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Keyword: Guru Pendidikan Agama Islam, Pengembangan Emosi
Dalam Islam guru atau pendidik pada prinsipya tidak hanya mereka yang mempunyai kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh dari bangku perguruan tinggi, melainkan yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi tertentu dan dapat menjadikan orang lai pandai dalam segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam pendidikan, guru mempunyai tiga tugas pokok yang bisa dilaksanakan yaitu tugas profesional, tugas kemasyarakatan dan tugas manusiawi. Tugas profesional adalah tugas yang berhubungan dengan profesinya yaitu guru, meliputi tugas untuk mendidik, mengajar, dan melatih. Tugas manusiawi merupakan tugas sebagai seorang manusia. Guru harus bisa menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua bagi peserta didiknya. Dan tugas kemasyarakatan adalah tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang berfungsi sebagai pencipta masa depan dan penggerak kemampuan.
Fokus dalam skripsi ini adalah bagaimana peranan guru khususnya guru Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan emosi peserta didiknya, bagaimana cara guru membimbing, mengarahkan, mendampingi agar emosi para siswa stabil dan bisa mengarahkan emosi kedalam hal yang positif.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dalam skripsi ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan metode reduksi data, penyajian data, dan verivikasi data.
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Pembatasan Masalah ... 4
C.Rumusan Masalah ... 5
D.Tujuan Penelitian ... 5
E. Kegunaan Penelitian ... 5
F. Definisi Operasional ... 5
G.Sistematika Pembahasan ... 7
BAB II KAJIAN TEORI A.Konsep Guru Dalam Pendidikan Islam ... 9
1. Kedudukan Guru Dalam Pandangan Islam ... 13
ii
3. Profesionalisme Guru ... 15
B.Konsep Perkembangan Emosi ... 18
1. Pengertian Perkembangan ... 18
2. Pengertian Emosi ... 20
3. Bentuk-bentuk Emosi ... 21
4. Karakteristik Perkembangan Emosi ... 23
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi 29
6. Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku ... 32
7. Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja ... 33
8. Implikasi Perkembangan Emosi Remaja Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan ... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 39
B. Sumber Data ... 40
C. Sampel ... 41
D. Teknik pengumpulan Data ... 41
E. Teknik Pengolahan Data ... 43
F. Analisis Data ... 44
iii
BAB IV HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMP Islam Sidoarjo ... 46
1. Sejarah Berdirinya SMP Islam Sidoarjo ... 46
2. Visi ... 49
3. Misi ... 49
4. Keadaan Siswa ... 50
5. Keadaan Guru ... 51
6. Sarana Prasarana ... 54
B. Paparan Hasil Penelitian ... 65
1. Kondisi Perkembangan Emosi Peserta Didik Di SMP Islam Sidoarjo .. 65
2. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pengembangan Emosi Peserta Didik di SMP Islam Sidoarjo ... 68
C. Analisis Data ... 73
1. Kondisi Perkembangan Emosi Peserta Didik Di SMP Islam Sidoarjo ... 73
2. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pengembangan Emosi Peserta Didik di SMP Islam Sidoarjo ... 77
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 81
B.Saran ... 83
iv PERNYATAAN KEABSAHAN
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Guru sebagai pelaku utama dalam implementasi atau penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam hal ini guru dipandang sebagai faktor determinan terhadap pencapaian mutu prestasi belajar siswa. Mengingat peranannya yang begitu penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan secara komprehensif tentang kompetensinya sebagai pendidik.1
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah yang berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan.2
Pendidikan agama islam merupakan suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam rangka meningkatkan penghayatan dan pengalaman agama dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.
1
Syamsu Yusuf L.N, Nani M. Sugandhi, Pengembangan Peserta didik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 139
2
Peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam menjadikan peserta didiknya agar mempunyai kemantapan hati agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merugikan, Guru PAI juga dapat membantu proses perubahan pengetahuan di kepala peserta didik melalui bimbimngannya sehingga siswa dapat mencapai pemahaman yang lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan sebelumnya.
guru memiliki peran yang bersifat multifungsi, lebih dari sekedar yang tertuang pada produk hukum tentang guru, seperti UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dan PP No. 74 tentang guru.3 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1)
menyatakan bahwa “Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi”.
Jika dilihat dari tiga ranah yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, emosi termasuk kedalam ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan tanggapan, pemikiran dan kehendak. Individu akan mampu melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang positif. Sebaliknya, individu akan melakukan pengamatan dan tanggapan negatif terhadap sesuatu objek, jika disertai oleh emosi yang negatif terhadap objek tersebut.
3
Dalam penelitian ini penulis akan membahas tentang pengembangan emosi siswa SMP. Aristoteles menggambarkan pengembangan individu, sejak anak sampai dewasa itu ke dalam tiga tahapan. Setiap tahapan lamanya tujuh tahun, yaitu; dari 0,0 sampai 7,0 tahun (masa anak kecil atau masa bermain, dari 7,0 sampai 14,0 tahun (masa anak, masa sekolah rendah), dari 14,0 sampai 21,0 tahun (masa remaja/pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa).4
Kehidupan anak penuh dengan dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Banyak sekali dorongan dan minat seseorang itu mendasari pengalaman emosionanlnya, apabila dorongan, atau minatnya dapat terpenuhi, anak cenderung memiliki pekembangan afeksi atau emosi yang sehat dan stabil. Dengan demikian, ia dapat menikmati dan mengembangkan kehidupan sosialnya secara sehat pula. Selain itu, ia tidak akan terhambat oleh gejala gangguan emosi. Sebaliknya, jika dorongan dan keinginannya tidak dapat terpenuhi, disebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhinya ataupun karena kondisi lingkungan yang kurang menunjang, sangat dimungkinkan pengembangan emosionalnya itu akan mengalami gangguan.5
Oleh karena itu, untuk memahami remaja, kita perlu mengetahui apa yang remaja lakukan, inginkan, pikirkan dan apa yang mereka rasakan. Gejala-gejala emosional seperti rasa kecewa, marah, takut, bangga, malu, cinta, dan benci,
4
Syamsu Yusuf, Psikologi Pengembangan anak & remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 20
5
harapan-harapan dan rasa putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik oleh orang tua dan guru.
Peserta didik SMP memasuki usia remaja, di mana pada usia ini sering terjadi semacam konflik batin. Jiwa remaja yang masih labil itu seringkali terumbang-ambing oleh berbagai pengaruh pertumbuhan yang bersumber dari dalam dirinya, maupun pengaruh dari luar dirinya. Mereka belum mencapai tingkat kematangan batin.6 Untuk itu adanya pelajaran Pendidikan Agama Islam semestinya berdampak pada kemantapan jiwa peserta didik.
Hal tersebut dialami oleh peserta didik di SMP Islam sidoarjo, mereka mengalami kebingungan dalam mencari jati diri mereka, jiwa remaja yang labil menjadi salah satu faktor terjadinya konflik batin peserta didik di SMP Islam Sidoarjo, oleh karenanya mereka mudah terpegaruh oleh hal-hal yang baru, selain itu siswa terbawa dalam perasaannya sendiri sehingga mereka murung, tidak semangat belajar, tidak mempedulikan hal-hal sekitarnya yang akhirnya mereka mengalami kesulitan belajar.
Sehingga hal tersebut yang membuat peneliti ingin membahas “Peranan guru PAI dalam Pengembangan Emosi Peserta didik di SMP Islam Sidoarjo”. B. Pembatasan Masalah
Peneliti disini membatasi masalah dalam Peranan Guru PAI dalam Pengembangan Emosi Peserta didik, dengan mengambil sumber dari beberapa siswa dan guru PAI di SMP Islam Sidoarjo.
6
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi Perkembangan emosi Peserta didik di SMP Islam Sidoarjo ?
2. Bagaimana PeranGuru PAI dalam Pengembangan emosi peserta didik di SMP Islam Sidoarjo ?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kondisi Perkembangan emosi SMP Islam Sidoarjo 2. Untuk mengetahui peran guru PAI dalam pengembangan emosi peserta
didik di SMP Islam Sidoarjo E. Kegunaan Penelitian
penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan di sekolah. Pengembangan tersebut berkaitan dengan peranan guru pendidikan agama Islam dalam pengembangan emosi peserta didik agar menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan bermakna bagi peserta didik dan guru. penelitian ini juga disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan jenjang Strata satu (SI).
F. Definisi Operasional
Peranan Guru : Guru sebagai pelaku utama dalam implementasi atau penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam hal ini guru dipandang sebagai faktor determinan terhadap pencapaian mutu prestasi belajar siswa. Mengingat peranannya yang begitu penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan secara komprehensif tentang kompetensinya sebagai pendidik. Pendidikan
Agama Islam
Perkembangan Emosi
: Chaplin (1989) dalam Dictionary of Psychology mendefinisikan emosi sebagia suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.7 Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi tertentu. Contohnya, gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya.
G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami maksud yang dikehendaki, sistematika penulisan penelitian ini sengaja disusun sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan permulaan dari pembahasan ini, yang didalamnya mengulas tentang : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan pembahasan, serta sistematika pembahasan.
7
BAB II : KAJIAN TEORI
Bab ini berisi kajian teori tentang: konsep guru dalam pendidikan islam, konsep perkembangan emosi, konsep remaja, dan peranan guru PAI dalam pengembangan emosi.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang: jenis dan pendekatan penelitian, jenis dan sumber data, tehnik pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, dan tehnik analisis data.
BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN
Pada bab empat berisi tentang profil SMP Islam Sidoarjo, kondisi lapangan, dan analisis terhadap guru PAI dalam pengembangan emosi peserta didik.
BAB V : PENUTUP
9
A. KONSEP GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM 1. Pengertian Guru Dalam Pendidikan Islam
Secara etimologis istilah guru berasal dari bahasa India yang artinya “
orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” (Shambuan,
republika, 25 November 1997). Dalam tradisi agama hindu, guru dikenal sebagai Maharesi guru yakni para pengajar yang bertugas untuk mendidik para calon biksu di Bhinaya Panti (tempat pendidikan bagi para biksu). Rabindranath Tagore (1861-1941), menggunakan istilah Shanti Nikaten atau Rumah Damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa India (spiritual intelligence). Dalam bahasa Arab, guru dikenal dengan al-Mu’alim atau al-Ustadz yang
bertugas memberikan ilmu dlam majelis ta’lim.
Guru adalah semua orang yang berwenang dan betanggungjawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individu maupun klasikal, di sekolah maupun diluar sekolah.1
Dengan demikian, al-Mu’alim atau al-Ustadz dalam hal ini juga mempunyai pengertian orang yang mempunyai tugas untuk membangun
1
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
aspek spiritualitas manusia. Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya sebatas dalam keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik jasmaniah, seperti guru tari, guru olahraga, guru senam, dan guru musik. Semua kecerdasan itu pada hakikatnya juga menjadi bagian dari kecerdasan ganda sebagaimana dijelaskan oleh pakar psikolog terkenal Howard Gardner (Suparlan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dari konsepsi sampai dengan implementasi, 2004, 36). Dengan demikian guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya.
اًران ْمكيلْهأو ْمكسفْنأ اوق
“peliharalah dirimu dan anggota keluargamu dari ancaman neraka”.
(Q.S At-Tahrim: 6)
Yang diperintahkan dalam ayat itu adalah orang tua anak tersebut,
yaitu ayah dan ibu “anggota keluarga” dalam ayat ini adalah terutama
anak-anaknya.
Menurut Ramayulis (2002), hakikat pendidik dalam al-Qur’an adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi mereka, baik afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Lebih lanjut, Zayadi (2006) mengatakan bahwa secara formal, selain mengupayakan seluruh potensi peserta didik, mereka juga bertanggung jawab untuk memberi pertolongan pada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan sebagai pribadi yang dapat memenuhi tugasnya sebagai
‘Abdullah dan Khalifatullah.2
Sama dengan teori pendidikan Barat, tugas pendidik dalam pandangan Islam secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun afektif. Potensi itu harus dikembangkan secara seimbang.3
2
Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 164
3
2. Kedudukan Guru Dalam Pandangan Islam
Salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. Mengapa demikian? Karena guru selalu terkait dengan ilmu (pengetahuan), sedangkan Islam amat menghargai pengetahuan. Penghargaan Islam terhadap ilmu tergambar dalam hadits-hadits yang artinya sebagai berikut
a) Tinta ulama lebih berharga daripada darah syuhada.
b) Orang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadat, yang berpuasa dan menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan shalat, bahkan melebihi kebaikan orang yang berpegang di jalan Allah.
c) Apabila meninggal seorang yang alim, maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh seseorang alim yang lain.
langit, dia seperti matahari yang menerangi alam, ia mempunyai cahaya dalam dirinya, seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi.
Sebenernya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan-pengetahuan itu di dapat dari belajar dan mengajar, yang belajar adalah calon guru, yang mengajar adalah guru. karena Islam adalah agama, maka pandangan tentang guru dan kedudukannya, tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan. Lengkaplah sudah syarat-syarat untuk menempatkan kedudukan tinggi bagi guru dalam Islam alasan duniawi dan alasan ukhrawi, atau alasan bumi dan alasan langit.
Ada penyebab khas mengapa Islam amat menghargai guru, yaitu pandangan bahwa ilmu (pengetahuan) itu semua bersumber pada Tuhan.
Guru pertama adalah Tuhan, pandangan yang menembus langit ini telah melahirkan sikap pada muslim bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah, maka kedudukan guru sangat tinggi dalam Islam.
3. Tugas Guru Dalam Islam
Secara teoritis, menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru, sehingga menjadi guru berarti menerima tanggungjawab untuk menjadi teladan. Dengan kata lain, guru yang baik adalah guru yang sadar diri, menyadari kelebihan dan kekurangannya.4
Dalam pendidikan di sekolah, tugas guru sebagian besar adalah mendidik dengan cara mengajar. Tugas pendidik didalam rumah tangga sebagian besar, bahkan mungkin seluruhnya, berupa membiasakan, memberi contoh yang baik, memberikan pujian, dorongan, dan lain-lain yang diperkirakan menghasilkan pengaruh positif bagi pendewasaan anak. Jadi, secara umum mengajar hanyalah sebagian dari tugas pendidik. 4. Profesionalisme Guru
Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artiya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi yang di artikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan ketrerampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989). Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat di pegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan
4
pelatihan secara khusus. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomer 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen).
Profesi menunjukkan lapangan yang khusus dan mensyaratkan studi dan penguasaan pengetahuan khusus yang mendalam, seperti bidang hukum, militer, keperawatan, kependidikan, dan sebagainya. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka karena tidak dapat memeperoleh pekerjaan lain (Nana Sudjana. 1988 dalam Usman, 2005). Profesi seseorang yang mendalami hukum adalah ahli hukum, seperti jaksa, hakim, dan pengacara. Profesi seseorang yang mendalami keperawatan adalah perawat. Sementara itu, seseorang yang menggeluti dunia pendidikan (mendidik dan mengajar) adalah guru, dan berbagai profesi lainya.
keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlin dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efesien seta berhasil guna.
Menurut Surya (2005), guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tenggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya.5
B. KONSEP PERKEMBANGAN EMOSI
1. Pengertian Perkembangan
Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistemastik tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi (perubahan ovum oleh sperma), dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologi individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial dan moral.
Perkembagnga dapat diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, sampai masa dewasa. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai perubahan- perubahan yanga dialami individu atau organisme menuju ketingkat dewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara
5
sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).6
Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan berkesinambungan itu adalah sebagai berikut :
a) Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh prinsip ini, seperti kemampuan berjalan kaki seiring dengan matangnya otot-otot kaki, atau berkembanganya minat untuk memerhatikan lawan jenis seiring dengan matangnya hormon seksual.
b) Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, mendalam atau meluas, baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Contohnya, seperti terjadinya perubahan proporsi dan ukuran fisik anak (dari pendek menjadi tinggi, dari kecil menjadi besar), dan perubahan pengetahuan anak, dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf dan angka sampai kepada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung).
6
Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan anak & remaja. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012).
c) Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beruntun atau berurutan, tidak terjadi secara kebetulan atau loncat-loncat. Contoh, untuk dapat berjalan, seorang anak harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu telentang, tengkurap, duduk, merangkak, dan berdiri. Untuk mampu berbicara, anak harus melalui tahapan meraban, atau untuk mencapai masa dewasa, individu harus melalui masa remaja, anak, kanak-kanak, bayi, dan masa konsepsi 2. Pengertian Emosi
Perilaku kita sehari-hari umumnya diwarnai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, sedih dan gembira. Perasaan yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut sebagai warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang lemah. Apabila warna afektif tersebut kuat, perasaan seperti itu dinamakan emosi.7 Beberapa contoh emosi lainnya adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, malu, kecewa, dan benci.
Emosi dan perasaan adalah dua konsep yang berbeda, tetapi perbedaan keduanya tidak dapat dinyatakan secara tegas. Emosi dan perasaan merupakan gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat, warna afektif dapat dikatakan
7
sebagai perasaan, tetapi dapat juga di dapat juga dikatakan sebagai emosi. Misalnya, marah yang ditunjukkan dalam bentuk diam. Oleh karena itu, emosi dan perasaan tidak mudah untuk dibedakan.
Pada saat emosi, sering terjadi perubahan-perubahan pada fisik seseorang, seperti:
a) Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona b) Peredaaran darah bertambah cepat bila marah c) Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut d) Bernapas panjang bila kecawa
e) Pupil mata membesar bila marah
f) Air liur mengering bila takut atau tegang g) Bulu roma berdiri saat takut
h) Pencernaan terganggu, otot-otot menegang atau bergetar (tremor) 3. Bentuk-Bentuk Emosi
Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman (1995) mengidentifikasikan sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut:8
a) Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang,
8
tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patologis.
b) Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, di tolak, putus asa, dan depresi.
c) Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was was, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan fobia.
d) Kenikmatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania. e) Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan,
kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
f) Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana. g) Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak
suka, dan mau muntah.
h) Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hancur lebur.
ternyata ada bahasa emosi yang dikenal oleh bangsa-bangsa di dunia, yaitu emosi yang diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih, dan senang. Ekspresi wajah yang seperti itu benar-benar dikenali oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia meskipun memiliki budaya yang berbeda-beda, bahkan bangsa-bangsa yang buta huruf, tidak terpengaruh oleh film, dan siaran televisi. Dengan demikian, ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu memiliki universalitas tentang perasaan emosi tersebut. Kesimpulan ini di ambil setelah Paul Ekman melakukan penelitian dengan cara memperlihatkan foto-foto wajah yang menggambarkan ekspresi-ekspresi emosi tersebut di atas kepada orang-orang yang memiliki keterpencilan budaya, yaitu suku fore di Papua Nugini, suku terpencil kebudayaan Zaman Batu di daratan tinggi terasing. Hasilnya ternyata mereka semua mengenali emosi yang tergambar pada ekspresi wajah dalam foto-foto tersebut.
4. Karakteristik Perkembangan Emosi
Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa saat keteganggan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar.9 Meningginya emosi disebabkan remaja berada dibawah tekanan sosial, dan selama masa kanak-kanak, ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan
9
tekanan. Sebagian dari mereka memang mengalami masa ketidakstabilan emosi sebagai dampak dari penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Reed Larson dan Maryse Richards (1994) menemukan bahwa remaja melaporkan emosi yang lebih ekstrem dan lebih berubah-ubah dibandingkan dengan orang tua mereka. Sebagai contoh, seorang remaja
lima kali lebih mungkin untuk menyatakan dirinya “sangat bahagia” dan
tiga kali lebih mungkin untuk menyatakan “sangat sedih” jika
dibandingkan dengan orang tua mereka.
Fluktasi emosi pada masa remaja awal mungkin berhubungan dengan hormonal pada masa ini. Masa puber ditandai dengan perubahan hormonal yang signifikan. Puber juga diasosiasikan dengan peningkatan emosi negatif (Archibald, Graber, & Brooks-Gunn, 2003; Williamson, & Ryan, 2002). Mood akan menjadi lebih tidak ekstrem seiring dengan beralihnya remaja menjadi orang dewasa, dan penurunan ini bisa saja berhubungan dengan adanya adaptasi terhadap kadar hormon yang ada dalam tubuh. Meskipun begitu, kebanyakan peneliti menyimpulkan bahwa hormon hanya memilki peranan kecil. Biasanya aspek ini berasosiasi dengan faktor-faktor lain seperti stres, pola makan, aktivitas seksual, dan hubungan sosial (Rosenblum & Lewis, 2003).
perubahan hormonal. Sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa faktor sosial menyumbangkan 2 sampai 4 kali lebih besar dibandingkan dengan faktor hormonal terhadap kemarahan dan depresi pada remaja putri, dapat disimpulkan bahwa perubahan hormonal dan pengalaman dari lingkungan sama-sama berpengaruh terhadap keadaan emosi dari seorang remaja.10
Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal sering dialami remaja adalah kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cinta, cemburu, kecewa, sedih dan lain-lain. Perbedaannya teletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosi dan pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap emosinya.
Berikut ini akan diuraikan beberapa kondisi emosional pada remaja, seperti cinta atau kasih sayang, gembira, kemarahan, dan permusuhan, ketakutan dan kecemasan.
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur 13 tahun sampai 18 tahun, yaitu masa anak duduk dibangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dikenal dengan masa sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga, atau lingkungannya.
10
Karena berada pada masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa, status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Conny Semiawan (1989) mengibaratkan: terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja karena sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya memiliki energi besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
Secara garis besar remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu periode praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik utuk setiap periode adalah sebagaimana dipaparkan sebagai berikut.
1) Periode Praremaja
2) Periode Remaja Awal
Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin, karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja sering mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk menyakitkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terdiri karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.
3) Periode Remaja Tengah
tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik dan buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka.
4) Periode Remaja Akhir
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat.11
11
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi pekembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan berpikir kritis untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dan menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menghapal mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian, remaja menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi meraka pada usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi remaja. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain sebagai berikut:
a. Belajar dengan coba-coba b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara menyamakan diri d. Belajar dengan cara pengondisian
e. Belajar di bawah bimbimbingan dan pengawasan
Anak memperluas ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak ke masa remaja. Peralihan pernyataan emosi yang bersifat umum ke emosinya sendiri yang bersifat individual ini dan memperhalus perasaan merupakan petunjuk adanya pengaruh yang bertahap dari latihan serta pengendalian terhadap perilaku emosional.
Mendekati berakhirnya usia remaja berarti telah melewati banyak badai emosional, sehingga ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya. Ia juga telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Hal ini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang secara spontan dan terbuka ia tampakkan, tetapi perlu berusaha mengerti emosi yang disembunyikannya.
menunjukkan kemarahan, dan seorang yang hatinya terluka, tetapi ia malah tertawa seperti merasa senang.
Semua remaja, sejak masa kanak-kanak, telah mengetahui rasa marah karena tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa marah. Remaja juga tahu bahwa ada bahasa untuk menunjukkan kemarahan secara terbuka. Di sini, ia harus diajarkan untuk tidak hanya menyembunyikan kemarahan, tetapi juga perlu takut terhadap rasa marah dan merasa bersalah apabila marah. Remaja telah mengalami rasa dicintai dan mencintai, tetapi banyak di antara mereka telah mengetahui cara menyembuyikan perasaan-perasaan tersebut.
6. Pegaruh Emosi terhadap Tingkah Laku
Perasaan takut atau marah dapat menyebabkan seseorang menjadi gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, jangtung berdetak cepat, tekanan darah deras sehingga sistem pencernaan terganggu. Cairan pencernaan atau getah lambung terpengaruh oleh gangguan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu mencerna, sedangkan perasaan tidak enak atau tertekan menghambat atau mengganggu pencernaan.
Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. Keteganggan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Seseorang yang gagap sering dapat normal berbicara jika dalam keadaan relaks atau senang. Namun, jiak dia dihadapkan pada situasi-situsi yang menyebabkan kebingungan maka akan menunjukkan kegagapan.
kegiatan yang lebih buruk lagi, yaitu melarikan diri dari orang tua, guru, atau dari otoritas lainnya.
Dengan demikian, gangguan emosional dan frustasi mempengaruhi efektifitas belajar seseorang. Seorang anak disekolah akan belajar lebih giat dan efektif apabila ia termotivasi, selanjutnya ia akan mengembangkan usahanya untuk menguasai materi yang dipelajari. Rasa sengan kerena berhasil mencpai prestasi akan mngurangi rasa takut dan kelelahan. Karena reaksi setiap siswa tidak sama, rangsangan untuk belajar yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi emosional anak. Rangsangan-rangsangan yang mebghasilkan perasaan yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan sebaliknya rangsangan yang meghasilkan perasaan menyenangkan sakan mempermudah dan menigkatkan motivasi belajar.
7. Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja
tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Pada vase itu, remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis, terutama emosi. Masa pubertas berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga adanya kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya.
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, sepertir lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
Adapun Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi, kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, Howes dan Herald (1999) mengatakan, pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensai emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).
Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya, perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan disekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat.
Goleman mengungkapkan lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari.
1) Mengenali emosi diri 2) Mengelola emosi 3) Memotivasi diri
4) Mengenali emosi orang lain
5) Membina hubungan dengan orang lain
8. Implikasi Pengembangan Emosi Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
bertigkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga mereka menjadi lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Apabila ada ledekan-ledekan yang memancing kemarahan sebaiknya guru memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan siswa tidak juga reda, guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan penyuluhan. Dalam diskusi kelas, tekanan pentingnya memperhatikan pandangan orang lain dalam mengembangkan dan meningkatkan pandangan sendiri. Guru hendaknya waspada terhadap siswa yang sangat ambisius, berpendirian keras, dan bersikap kaku yang suka mengintimidasi kelasnya, sehingga tidak ada orang yang berani menentangnya.
Reaksi yang sering terjadi pada diri terhadap temuan-temuan mereka bahwa kesalahan orang dewasa merupakan tantangan terhadap otoritas orang dewasa. Guru-guru di SMP dan SMA terperangkap dalam kemampuan siswa yang baru dalam menemukan dan mengangkat ke permukaan kelemahan-kelemahan orang dewasa. Bertambahnya
kebebasan pada para remaja bagaikan menambah “bahan bakar pada api”,
menulis perasaan-perasaan mereka yang negatif. Meskipun penting memahami alasan-alasan pemberintakannya, guru harus menekankan pentingnya bagi remaja untuk mengendalikan dirinya karena hidup dimasyarakat harus menghormati dan menghargai keterbatasan-keterbatasan dan kebebasan individual.
Untuk menunjukkan kematangannya, remaja terutama laki-laki sering terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Seorang guru di SMP atau SMA akan dianggap dalam posisi otoritas, sehigga terget dari pemberontakan mereka. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah pertama, mencoba untuk mengerti mereka, dan kedua, melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan. Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut dalam diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan siswa di kelas akan dapat dikurangi.
Hal itu memicu terjadinya konflik dengan orang tua. Apabila terjadi friksi semacam ini, para remaja mungkin merasa bersalah, yang selanjutnya dapat memperbesar jurang pemisah dia dan orang tuanya.
Seorang siswa yang merasa bingung terhadap kondisi tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk rahasia-rahasia pribadinya kepada orang lain. Oleh karena itu, seorang guru pembimbing hendaknya tampil berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang bersimpatik.
39
METODOLOGI PENELITIAN
Agar penelitian berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang dapat dipertanggung jawabkan maka penelitian ini memerlukan suatu metode tertentu. Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan ini adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan berparagdigma deskriptif kualitatif,
Bogdan dan Taylor, “metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang diamati.” Menurut mereka, pendekatan ini, diarahkan pada latar dan
individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau oraganisasi ke dalam variabel atau hipotetis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. 1
Deskriptif Kualitatif adalah penelitian yang data-datanya berupa kata-kata (berupa angka-angka, yang berasal dari wawancara, catatan laporan, dokumen, dll) atau penelitian yang didalamnya megutamakan untuk pendikripsian secara analisis suatu peristiwa atau proses sebagaimana adanya dalam lingkungan yang alami untuk memperoleh makna yang mendalam dari hakekat proses tersebut.2
Sedangkan jenis penelitiannya adalah menggunakan studi kasus. Gempur Santoso mengatakan bahwa studi kasus adalah penelitian yang pada umumnya bertujuan untuk mempelajari secara mendalam terhadap suatu individu, kelompok, lembaga,
1
Lexy Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), 5
2
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin mengetahui bagaimana peran guru Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan emosi peserta didik di SMP Islam Sidoarjo. Dari rumusan masalah tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan bagaimana itu memerlukan jawaban yang deskriptif panjang. Maka, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.
2. Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Sumber data primer
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.4 Dalam penelitian ini , data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah: hasil wawancara dengan siswa kelas VIII, guru Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Sidoarjo.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data mengenai produktivitas suatu perguruan tinggi, data mengenai persediaan pagan di suatu daerah, dan sebagainya.5
3
Gempur Santoso, Fundamental, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2005), 30
4
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: PT Bima Karya, 1989), 102
5
yang relevan dengan pembahasan. 3. Sampel
Sampel dalam penelitian kualitatif adalah semua orang, dokumentasi dan peristiwa-peristiwa atau suatu keadaan budaya serta agama yang diterapkan oleh peneliti untuk observasi, diteliti, diwawancarai sebagai sumber informasi yang dianggap ada hubungannya dengan masalah penelitian. Oleh karena itu penelitian kualitatif akan dihadapkan pada pilihan untuk menentukan orang yang akan dijadikan informan. Informan yang ditetapkan adalah informan yang sesuai dengan suatu kategori penelitian (unit analisis). Oleh karena itu langkah yang ditentukan dalam pengambilan sempel adalah purposive sampling.6 purposive sampling sendiri merupakan teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan atau tujuan tertentu. Pertimbangan terhadap informan atau responden tersebut dinilai dari informan yang dianggap paling tahu dan menguasai tentang apa yang akan diungkap dalam penelitian.7
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data, yaitu:
6
Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Interdisipliner, (Yogyakarta: Paradigma, 2012), h. 7
7
sistematik tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala yang muncul pada objek penelitian.8
Observasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis (berkerangka) mulai dari metode yang digunakan dalam observasi sampai cara-cara pencatatan nya,9 dilengkapi dengan format/blangko pengamatan sebagai instrument yang berisi item-item tentang kejadian yang digambarkan akan terjadi, sehingga penulis tinggal memberikan tanda terhadap kejadian yang muncul.
Dalam hal ini peneliti mengamati pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas IX SMP Islam Sidoarjo.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang digunakan penulis untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui proses Tanya-jawab antara Information Hunter dengan Information Supplyer.10
Dalam wawancara ini penulis akan menggunakan bentuk semi structured. Tekniknya mula-mula penulis menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam untuk mengorek keterangan lebih lanjut.
8
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Cet .VI, Jakarta, Bumi Aksara,2003, hlm. 63
9
Sutrisno Hadi, Metodologi Research 2, Cet. XIV, Yogyakatra, Yayasan Fak.Psikologi,UGM,1992, hlm. 147
10
Agama Islam dalam pengembangan emosi peserta didik. c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah metode pengumpul data yang bersumber pada dokumen atau catatan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.11 Dalam penelitian ini penulis menggunakan dokumentasi jenis chek list, dimana penulis tinggal memberikan tanda atau tally terhadap pemunculan data yang penulis kumpulkan.
Metode dokumentasi diperlukan sebagai metode pendukung untuk mengumpulkan data, karena dalam metode ini dapat diperoleh data-data histories, seperti sejarah berdirinya SMP Islam Sidoarjo, visi dan misi sekolah, daftar guru PAI, daftar siswa, dokumen seperti jurnal, agenda, serta data lain yang mendukung penelitian ini.
5. Teknik Pengolahan Data
Untuk mengolah data yang terkumpul, penulis menggunakan berbagai teknik, yaitu:
a. Editing
Teknik ini digunakan untuk mengecek kembali kelengkapan jawaban yang diberikan oleh responden.
b. Klasifikasi
11
6. Analisis Data
Dalam penelitian ini yang digunakan dalam menganalisa data yang sudah diperoleh adalah dengan cara deskriptif (non statistik), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan untuk memperoleh kesimpulan. Yang bermaksud mengatahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya.12
Dalam hal ini penulis menggunakan deskriptif yang bersifat eksploratif, yaitu dengan menggambarkan keadaan atau status fenomena. Peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu. 13Dengan berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam rumusan masalah dan menganalisa data-data yang diperoleh dengan mnggunakan pendekatan sosiologis.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Setelah data telah didapat kesimpulan, maka tidak berhenti sampai disini saja, namun peneliti akan melanjutkan pengecekan kevalidan data, hal ini dimaksud agar hasil dari data-data yang diolah bisa lebih kuat lagi kebenarannya dan menghindarkan dari kecerobohan karena kurang telitinya hasil di lapangan.
Pada tahap pengecekan keabsahan data dapat dilakukan dengan mengadakan bervariasi macam uji, antara lain uji kredibilitas data (validasi internal), uji
12
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: PT Bima Karya, 2002), 30
13
perpanjangan pengamatan dilapangan (SMP ISWADA Sidoarjo) dan trianggulasi data melalui para pengajar pendidikan agama Islam, peserta didik di SMP ISWADA Sidoarjo.
Ada tiga cara trianggulasi yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah teknik pemeriksaan yang memanfaatkan sumber data, metode dan teori.15
a) Trianggulasi dengan sumber data
Cara yang dilakukan peneliti adalah membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda. Yakni pertama membandingkan data hasil observasi dengan wawancara serta dengan hasil dokumentasi, kedua membandingkan perspektif peserta didik dan guru pendidikan agama islam. Sehingga terdapat penilaian hasil penelitian dilakukan oleh informan dan memasukkan informan dalam kancah penelitian.
b) Trianggulasi dengan metode
Pada teknik trianggulasi dengan metode, peneliti melakukan pengecekan terhadap penggunaan metode pengumpulan data. Cara yang dilakukan peneliti adalah mencermati kesesuaian informasi yang didapatkan dari observasi, wawancara dan dokumentasi.
14
Sugiyono, Metode Penenlitian Pendidikan, (bandung: alfabeta, 2013), hal 402. 15
tahapan lainnya untuk mengorganisasikan data yang barangkali mengarahkan pada upaya penelitian lainnya. Secara logis, peneliti memikirkan kemungkinan hasil penemuan lainnya yang ditunjang data lain dengan maksud membandingkannya.
46
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM SMP ISLAM SIDOARJO 1. Sejarah Berdinya SMP Islam Sidoarjo
SMP berdiri pada tanggal 5 Januari 1976 oleh Drs. L. Murtafik. (1976
– 1978). SMP ISLAM Sidoarjo merupakan Kelanjutan dari Madrasah
Mu’alimin Sidoarjo yang berdiri tahun 1958. Dengan tujuan:
a. Semua siswa melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai agama secara optimal.
b. Meningkatkan profesionalisme guru. c. Melaksanakan inovasi pembelajaran.
d. Menyusun bahan ajar semua tingkat dan setiap mata pelajaran yang berkualitas.
e. Melaksanakan pelatihan ketatausahaan.
f. Melaksanakan managemen berbasis MBS secara optimal. g. Mengoptimalkan peran masyarakat dalam mewujudkan MBS. h. Melaksanakan pengadaan media pembelajaran yang relevan untuk
meningkatkankan kualitas pembelajaran.
j. Melaksanakan pembinaan siswa berprestasi non akademik secara optimal.
a. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SMP ISLAM SIDOARJO NPSN / NSS : 20539974 / 204050201017 Jenjang Pendidikan : SMP
Status Sekolah : Swasta
b. Lokasi Sekolah
Alamat : Jl. Pahlawan III Sidoarjo
RT/RW : 30/6
Nama Dusun : DAYU
Desa/Kelurahan : Sidokumpul
Kode pos : 61213
Kecamatan : Kec. Sidoarjo
Lintang/Bujur : -7.4515000/112.7113000
c. Data Pelengkap Sekolah
Kebutuhan Khusus : -
SK Pendirian Sekolah : 1231/PP/PMU/7610/77 Tgl SK Pendirian : 1977-12-27
SK Izin Operasional : 421.3/3404/404.3.1/2010 Tgl SK Izin Operasional : 2010-11-10
SK Akreditasi : 326.63.06 Tgl SK Akreditasi : 2007-01-09 No Rekening BOS : 0262713822
Nama Bank : JATIM
Cabang / KCP Unit : Sidoarjo Kota Rekening Atas Nama : SMP Islam Sidoarjo
MBS : Ya
Luas Tanah Milik : 2200 m2 Luas Tanah Bukan Milik : 500 m2
d. Kontak Sekolah
Nomor Telepon : (031) 895339
Nomor Fax : (031) 895339
Email : [email protected]
Website :
e. Data Periodik
Kategori Wilayah :
Daya Listrik : 33000
Akreditasi : A Waktu Penyelenggaraan : Pagi
Sumber Listrik : PLN
Sertifikasi ISO : Belum Bersertifikat 2. VISI SMP Islam Sidoarjo
Visi ini menjiwai warga sekolah kami untuk selalu mewujudkan setiap saat dan berkelanjutan mencapai tujuan sekolah. Visi kami yaitu “Berprestasi, terampil dan berakhlak mulia”.
3. MISI SMP Islam Sidoarjo
Misi dari SMP Islam Sidoarjo adalah :
a. Melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai agama secara optimal. b. Meningkatkan profesionalisme guru.
c. Melaksanakan inovasi pembelajaran.
d. Menyusun bahan ajar semua tingkat dan setiap mata pelajaran yang berkualitas.
e. Melaksanakan pelatihan ketatausahaan.
f. Melaksanakan managemen berbasis MBS secara optimal. g. Mengoptimalkan peran masyarakat dalam mewujudkan MBS. h. Melaksanakan pengadaan media pembelajaran yang relevan
i. Menyusun instrumen penilaian secara lengkap dan melaksanakannya.
j. Melaksanakan pembinaan siswa berprestasi non akademik secara optimal.
k. Mengalang kerjasama dengan pihak luar.
l. Melaksanakan penerapan aqidah dan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
[image:60.612.111.538.138.699.2]4. Keadaan Siswa
Tabel I
Jumlah Siswa SMP Islam Sidoarjo Data siswa dalam 4 (empat) tahun terakhir
Tahun Ajaran
Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah
Jmlh siswa Jmlh Romb Kelas Jmlh siswa Jmlh Romb Kelas Jmlh siswa Jmlh Romb Kelas Jmlh siswa Jmlh Romb Kelas Th. 2013/2014
75 3 124 4 69 2 268 9
Th.
2014/2015
Th.
2015/2016
81 3 73 3 76 3 230 9
[image:61.612.108.534.164.711.2]5. Keadaan Guru
Tabel 2
Data Guru SMP Islam Sidoarjo
Tahun Pelajaran 2015/2016
NO NAMA JABATAN
PEND. AKHIR
MATA
PELAJARAN 1 H.D. SURYANTO,
S.Pd,M.Pd.MM
Kepala Sekolah
S2 - Matematika
2 SITI HANIFAH, S.Pd, MM.
Wakakur S2 - IPS
3 ZUHRO MUKHLISA, S.Pd
Wakasis S1 - B.Inggris
4 Drs. HARI BUDIYONO Waka Humas S1 - B. Indonesia 5 SUYANTO, S. Kom Waka.Sarana S1 - TI/Prakarya
8 KHOIRUN NISA', SE Guru S1 - IPS 9 WINDA PUSPITASARI,
S.Pd
Guru S1 - B.Inggris
10 Dra. MARMI EKO P, M.Pd Guru S2 - PKn
11 FATIM CHAMAMA, S.Pd Guru S1 - Matematika 12 Drs. BUDIONO, M.Pd Guru S2 - Matematika 13 HADI UTOMO, S.Ag Guru S1 - PAI
14 SUTRISNO, S.Pd Guru S1 - Seni Budaya 15 ACH. NUR SALIM, S.Pd Guru S1 - Bahasa Daerah 16 MUKHLIS
ROKHMANSYAH, S.Or
Guru S1 - Penjaskes
17 NUR M SHOLICHUDDIN, S.Ag, M.Pd
Guru S1 - PAI
18 INDAH NOVITASARI, S.Pd
BK S1 - BP/BK
19 SITDIYAH, S.Pd, Gr BK S1 - BP/BK 20 LUDYANINGRUM, S.Pd Guru S1 - B. Indonesia 21 NURUL YAKIN, S.H.I BTQ S1 - BTQ
22 MAKHRUS ALI S BTQ MA BTQ
S.H.I, M.H.I
25 SLAMET EDI, SS, M.PdI BTQ S1 - BTQ
26 M. HABIBI, S.H.I BTQ S1 - BTQ
27 LATIFATIN ASMAUL K, S.Pd
BTQ S1 - BTQ
28 CHOIROTUL ARMALAH, S.Pd
BTQ S1 BTQ
29 FATKHUR ROJI , S.Pd Ka. TU S1 30 Hj. WIWIK HIDAYATI Bendahara MA
31
JAINUL ARIFIN
Staff
Administrasi
SMK
32 SUHARTONO , S.Pd Staff Sarana S1 33
DINDA WIDYARISTA
Staff Kesiswaan
SMA
34 ISWANTO SATPAM SD
35 SUKARDI Pesuruh SMA
36
SURYONO
Tukang Kebun
6. Sarana dan Prasarana
Tabel 3
Data Sarana
No Jenis Sarana Jumlah Letak Keterangan
1 Tempat Sampah 1 Musholla Laik
2 Pengeras Suara 1 Musholla Laik
3 Papan Panjang 1 Musholla Laik
4 Perlengkapan Ibadah 5 Musholla Laik
5 Cermin 1 Musholla Laik
6 Jam Dinding 1 Musholla Laik
7 Tiang Bendera 1 Ruang Perpustakaan Laik 8 Meja Kerja / sirkulasi 2 Ruang Perpustakaan Laik
9
Lemari / Filling Cabinet
5 Ruang Perpustakaan Laik
10 Jam Dinding 1 Ruang Perpustakaan Laik 11 Kursi Baca 20 Ruang Perpustakaan Laik 12 Rak Majalah 2 Ruang Perpustakaan Laik 13 Meja Baca 8 Ruang Perpustakaan Laik 14 Pengeras Suara 1 Ruang Perpustakaan Laik
16 Tempat Sampah 1 Ruang Perpustakaan Laik 17 Rak Buku 5 Ruang Perpustakaan Laik
18 Meja Siswa 15 Ruang 8-2 Laik
19 Papan Tulis 1 Ruang 8-2 Laik
20 Kursi Guru 1 Ruang 8-2 Laik
21 Tempat Sampah 1 Ruang 8-2 Laik
22 Rak Buku 1 Ruang 8-2 Laik
23 Pengeras Suara 1 Ruang 8-2 Laik
24 Jam Dinding 1 Ruang 8-2 Laik
25 Kursi Siswa 30 Ruang 8-2 Laik
26 Meja Guru 1 Ruang 8-2 Laik
27 Meja Siswa 10
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
28 Printer 1
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
29 Kursi Siswa 20
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
30 Meja Multimedia 1
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
31 Proyektor 1
Ruang Laboratorium Komputer
32 Jam Dinding 1
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
33 Komputer 20
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
34
Lemari / Filling Cabinet
1
Ruang Laboratorium Komputer
Laik
35 Termometer Badan 1 Ruang UKS Laik
36 Meja UKS 1 Ruang UKS Laik
37 Kursi Siswa 1 Ruang UKS Laik
38 Kursi UKS 1 Ruang UKS Laik
39 Meja Guru 1 Ruang UKS Laik
40 Rak Buku 2 Ruang UKS Laik
41 Meja Siswa 1 Ruang UKS Laik
42 Jam Dinding 1 Ruang UKS Laik
43 Tempat Sampah 1 Ruang UKS Laik
44
Pengukur Tinggi Badan
1 Ruang UKS Laik
45 Kursi Guru 1 Ruang UKS Laik
46 Papan pengumuman 1 Ruang UKS Laik
47 Papan Tulis 1 Ruang UKS Laik
49
Lemari / Filling Cabinet
2 Ruang Kepala Sekolah Laik
50 Tiang Bendera 3 Ruang Kepala Sekolah Laik 51 Jam Dinding 1 Ruang Kepala Sekolah Laik
52 Papan pengumuman 1 Ruang Kepala Sekolah Laik 53 Bendera 3 Ruang Kepala Sekolah Laik 54 Kursi Pimpinan 1 Ruang Kepala Sekolah Laik 55 Meja Pimpinan 1 Ruang Kepala Sekolah Laik
56 Meja Siswa 15 Ruang 7-2 Laik
57 Kursi Guru 1 Ruang 7-2 Laik
58 Proyektor 1 Ruang 7-2 Laik
59 Papan Tulis 1 Ruang 7-2 Laik
60 Jam Dinding 1 Ruang 7-2 Laik
61 Meja Guru 1 Ruang 7-2 Laik
62 Pengeras Suara 1 Ruang 7-2 Laik
63 Tempat Sampah 1 Ruang 7-2 Laik
64 Kursi Siswa 30 Ruang 7-2 Laik
65 Papan Tulis 1 Ruang 9-2 Laik
66 Tempat Sampah 1 Ruang 9-2 Laik
67 Meja Siswa 15 Ruang 9-2 Laik
69 Meja Guru 1 Ruang 9-2 Laik
70 Kursi Siswa 30 Ruang 9-2 Laik
71 Rak Buku 1 Ruang 9-2 Laik
72 Jam Dinding 1 Ruang 9-2 Laik
73
Lemari / Filling Cabinet
1 Ruang 8-3 Laik
74 Rak Buku 1 Ruang 8-3 Laik
75 Tempat Sampah 1 Ruang 8-3 Laik
76 Meja Guru 1 Ruang 8-3 Laik
77 Jam Dinding 1 Ruang 8-3 Laik
78 Kursi Siswa 30 Ruang 8-3 Laik
79 Kursi Guru 1 Ruang 8-3 Laik
80 Meja Siswa 15 Ruang 8-3 Laik
81 Papan Panjang 1 Ruang 8-3 Laik
82 Tempat Sampah 1 Ruang 7-3 Laik
83 Meja Siswa 15 Ruang 7-3 Laik
84 Kursi Siswa 30 Ruang 7-3 Laik
85 Meja Guru 1 Ruang 7-3 Laik
86 Papan Tulis 1 Ruang 7-3 Laik
87 Kursi Guru 1 Ruang 7-3 Laik
89 Jam Dinding 1 Ruang 7-3 Laik
90 Gantungan Pakaian 2
Ruang Kamar Mandi Laki-laki
Laik
91 Tempat Air (Bak) 2
Ruang Kamar Mandi Laki-laki
Laik
92 Kloset Jongkok 1
Ruang Kamar Mandi Laki-laki
Laik
93 Gayung 2
Ruang Kamar Mandi Laki-laki
Laik
94 Tempat cuci tangan 2 Koperasi Laik
95 Tempat Sampah 1 Koperasi Laik
96 Meja Kerja / sirkulasi 3 Koperasi Laik
97 Jam Dinding 1 Koperasi Laik
98 Lemari Katalog 2 Koperasi Laik
99 Meja Siswa 15 Ruang 8-1 Laik
100 Kursi Siswa 30 Ruang 8-1 Laik
101 Kursi Guru 1 Ruang 8-1 Laik
102 Pengeras Suara 1 Ruang 8-1 Laik
103 Tempat Sampah 1 Ruang 8-1 Laik
104 Jam Dinding 1 Ruang 8-1 Laik
106 Papan Tulis 1 Ruang 8-1 Laik
107
Rak hasil karya peserta didik
1 Ruang OSIS Laik
108 Papan Panjang 1 Ruang OSIS Laik
109 Papan pengumuman 1 Ruang OSIS Laik
110
Lemari / Filling Cabinet
1 Ruang OSIS Laik
111 Kursi Guru 1 Ruang 9-3 Laik
112 Tempat Sampah 1 Ruang 9-3 Laik
113 Meja Siswa 15 Ruang 9-3 Laik
114 Kursi Siswa 30 Ruang 9-3 Laik
115 Papan Tulis 1 Ruang 9-3 Laik
116 Rak Buku 1 Ruang 9-3 Laik
117 Jam Dinding 1 Ruang 9-3 Laik
118 Meja Guru 1 Ruang 9-3 Laik
119 Jam Dinding 1 Ruang Guru Laik
120 Kursi Guru 20 Ruang Guru Laik
121 Tempat Sampah 1 Ruang Guru Laik
122 Printer 3 Ruang Guru Laik
123 Rak Buku 3 Ruang Guru Laik
125 Bendera 1 Ruang Guru Laik
126 Kotak kontak 1 Ruang Guru Laik
127 Komputer 2 Ruang Guru Laik
128 Pengeras Suara 1 Ruang Guru Laik
129 Tiang Bendera 1 Ruang Guru Laik
130 Meja Guru 20 Ruang Guru Laik
131 Tempat Air (Bak) 5
Ruang Kamar Mandi Perempuan
Laik
132 Gantungan Pakaian 5
Ruang Kamar Mandi Perempuan
Laik
133 Kloset Jongkok 3
Ruang Kamar Mandi Perempuan
Laik
134 Gayung 5
Ruang Kamar Mandi Perempuan
Laik
135 Jam Dinding 1 Ruang BP/BK Laik
136
Lemari / Filling Cabinet
2 Ruang BP/BK Laik
137 Kursi Siswa 4 Ruang BP/BK Laik
138 Kursi Guru 2 Ruang BP/BK Laik
139 Meja Guru 2 Ruang BP/BK Laik
Siswa
141 Instrumen konseling 1 Ruang BP/BK Laik
142
Buku catatan pribadi siswa
150 Ruang BP/BK Laik
143 Buku program latihan 50 Ruang BP/BK Laik
144 Meja Guru 1 Ruang 7-1 Laik
145 Kursi Guru 1 Ruang 7-1 Laik
146 Jam Dinding 1 Ruang 7-1 Laik
147 Papan Tulis 1 Ruang 7-1 Laik
148 Rak Buku 1 Ruang 7-1 Laik
149 Kursi Siswa 30 Ruang 7-1 Laik
150 Tempat Sampah 1 Ruang 7-1 Laik
151 Meja Siswa 15 Ruang 7-1 Laik
152 Papan Tulis 1 Ruang 9-1 Laik
153 Tempat Sampah 1 Ruang 9-1 Laik
154 Rak Buku 1 Ruang 9-1 Laik
155 Kursi Siswa 30 Ruang 9-1 Laik
156 Meja Siswa 15 Ruang 9-1 Laik
157 Jam Dinding 1 Ruang 9-1 Laik
158 Meja Guru 1 Ruang 9-1 Laik
160
Lemari / Filling Cabinet
2 Ruang TU Laik
161 Printer TU 2 Ruang TU Laik
162 Proyektor 3 Ruang TU Laik
163 Kursi TU 4 Ruang TU Laik
164 Komputer TU 2 Ruang TU Laik
165 Meja TU 4 Ruang TU Laik
[image:73.612.108.535.109.707.2]Total 1073
Tabel 4
Data Prasarana
No Nama Prasarana Panjang (m) Lebar (m)
Status Kepemilikan
1 Koperasi 8 8 Milik
2 Musholla 8 8 Milik
3 Ruang 7-1 9 8 Milik
4 Ruang 7-2 9 8 Milik
5 Ruang 7-3 9 8 Milik
6 Ruang 8-1 9 8 Milik
8 Ruang 8-3 9 8 Milik
9 Ruang 9-1 9 8 Milik
10 Ruang 9-2 9 8 Milik
11 Ruang 9-3 9 8 Milik
12 Ruang BP/BK 5 7 Milik
13 Ruang Guru 6 8 Milik
14
Ruang Kamar Mandi Laki-laki
2 2 Milik
15
Ruang Kamar Mandi Perempuan
2 2 Milik
16 Ruang Kepala Sekolah 7 5 Milik
17
Ruang Laboratorium Komputer