MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 120/PMK.05/2008
TENTANG
PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA YANG BERSUMBER DARI PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI, REKENING DANA INVESTASI,
DAN REKENING PEMBANGUNAN DAERAH PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM
MENTERI KEUANGAN,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perbendaharaan Negara, piutang negara/daerah dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari pembukuan, kecuali mengenai piutang negara/daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam undang-undang;
b. bahwa pedoman penghapusan piutang negara/daerah tersebut, telah
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah;
c. bahwa untuk mendukung pelayanan air minum dan kebutuhan air
bersih sebagai salah satu program Millenium Development Goals yang
dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa, perlu meningkatkan kualitas pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum sebagai institusi penyedia air bersih dan air minum;
d. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan oleh
Perusahaan Daerah Air Minum, dan memperhatikan Rapat Koordinasi Terbatas tanggal 18 April 2008 dan tanggal 29 Mei 2008 yang dipimpin oleh Wakil Presiden, diperlukan peran serta Pemerintah untuk mewujudkan Perusahaan Daerah Air Minum yang sehat, dengan membantu melakukan penyelesaian atas piutang negara pada Perusahaan Daerah Air Minum;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf
a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi, Dan Rekening Pembangunan Daerah Pada Perusahaan Daerah Air Minum;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
-2-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Antara Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 33);
6. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;
7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 347a/KMK.017/2000 tentang Pengelolaan Rekening Pembangunan Daerah (RPD) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 221/PMK.05/2007;
8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 346/KMK.017/2000 tentang Pengelolaan Rekening Dana Investasi;
9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 82/PMK.06/2005 tentang Tambahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 346/KMK.017/2000 tentang Pengelolaan Rekening Dana Investasi;
10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 131/KMK.01/2006 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK.01/2007;
MEMUTUSKAN:
-3-
Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini, yang dimaksud dengan:
1. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
2. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perbendaharaan,
Departemen Keuangan.
3. Kepala Daerah adalah Gubernur bagi Pemerintah Provinsi, Bupati bagi
Pemerintah Kabupaten, dan Walikota bagi Pemerintah Kota.
4. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah unit pengelola dan
pelayanan air minum kepada masyarakat milik Pemerintah Daerah.
5. Piutang Negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada
Pemerintah Pusat dan/atau hak Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian/akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau akibat lainnya yang sah.
6. Pokok adalah jumlah pinjaman/penerusan pinjaman yang telah ditarik
dan/atau ditambah bunga atau biaya administrasi masa tenggang yang dikapitalisasi.
7. Bunga atau Biaya Administrasi (khusus untuk perjanjian pinjaman RDI
dan RPD), yang selanjutnya disebut Bunga adalah beban yang timbul sebagai akibat atas penarikan pokok pinjaman sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian pinjaman.
8. Denda adalah beban yang timbul akibat keterlambatan dan/atau
kekurangan pembayaran.
9. Tunggakan Pokok adalah piutang negara berupa pokok yang tidak
dibayar pada tanggal jatuh tempo.
10.Tunggakan Non-Pokok adalah piutang negara berupa bunga, biaya
komitmen, dan denda yang tidak dibayar pada tanggal jatuh tempo.
11.Kapasitas Fiskal adalah Gambaran kemampuan keuangan daerah,
-4-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
12.Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
13.Cut-off Date adalah tanggal yang ditentukan sebagai dasar perhitungan kewajiban utang dalam rangka penyelesaian piutang negara.
14.Penghapusan Secara Bersyarat adalah penghapusan kewajiban bunga
dan denda atas Piutang Negara pada PDAM yang tertunggak sampai dengan Cut-Off Date.
15.Business Plan adalah dokumen yang disusun oleh PDAM berisi rencana perbaikan kinerja PDAM yang terdiri dari aspek teknis, manajemen, dan keuangan.
16.Tarif adalah tarif rata-rata sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perusahaan Daerah Air Minum.
17.Biaya Dasar adalah biaya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perusahaan Daerah Air Minum.
18.Komite adalah tim yang dibentuk oleh Menteri Keuangan yang terdiri
dari Komite Kebijakan dan Komite Teknis dan beranggotakan para pejabat Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP).
Pasal 2
Penyelesaian Piutang Negara yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini meliputi Piutang Negara yang bersumber dari Penerusan
Pinjaman Luar Negeri (Subsidiary Loan Agreement/SLA), Pinjaman
Rekening Dana Investasi (RDI), dan Pinjaman Rekening Pembangunan Daerah (RPD), yang disalurkan pada PDAM.
Pasal 3
Penyelesaian Piutang Negara pada PDAM bertujuan untuk:
a. mengurangi beban keuangan PDAM;
b. memperbaiki manajemen PDAM; dan
c. membantu PDAM untuk mendapatkan sumber pembiayaan untuk
-5-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BAB II
PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA
Pasal 4
(1) Penyelesaian Piutang Negara pada PDAM didasarkan atas kinerja
PDAM dan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Penghapusan atas seluruh Tunggakan Non-Pokok, atau kombinasi
antara penghapusan atas sebagian Tunggakan Non-Pokok dan
penghapusan melalui mekanisme Debt Swap to Investment; dan
b. Penjadualan kembali atas seluruh Tunggakan Pokok.
(2) Debt Swap to Investment sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah penghapusan utang yang dilakukan dengan mekanisme pertukaran sebagian Tunggakan Non-Pokok dengan kegiatan/proyek investasi yang dibiayai dari dana PDAM dan/atau APBD.
Pasal 5
(1) Penghapusan Piutang Negara pada PDAM diberlakukan terhadap
seluruh Tunggakan Non-Pokok.
(2) Penghapusan Piutang Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap yaitu Penghapusan Secara Bersyarat dan penghapusan secara mutlak.
Pasal 6
PDAM yang menunjukkan kinerja sakit atau kurang sehat berdasarkan laporan hasil audit kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b memperoleh penghapusan terhadap seluruh Tunggakan Non-Pokok.
Pasal 7
(1) PDAM yang menunjukkan kinerja sehat berdasarkan laporan hasil
audit kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b diberikan kombinasi antara penghapusan atas sebagian Tunggakan
Non-Pokok dan penghapusan melalui mekanisme Debt Swap to
Investment.
(2) Kombinasi antara penghapusan atas sebagian Tunggakan Non-Pokok
dan penghapusan melalui mekanisme Debt Swap to Investment
-6-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
a. PDAM dengan Kapasitas Fiskal Pemerintah Daerah Tinggi
diberikan penghapusan sebesar 40% (empat puluh per seratus) dan Debt Swap to Investment sebesar 60% (enam puluh per seratus) dari keseluruhan Tunggakan Non-Pokok;
b. PDAM dengan Kapasitas Fiskal Pemerintah Daerah Sedang
diberikan penghapusan sebesar 50% (lima puluh per seratus) dan Debt Swap to Investment sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari keseluruhan Tunggakan Non-Pokok;
c. PDAM dengan Kapasitas Fiskal Pemerintah Daerah Rendah
diberikan penghapusan sebesar 60% (enam puluh per seratus) dan Debt Swap to Investment sebesar 40% (empat puluh per seratus) dari keseluruhan Tunggakan Non-Pokok.
Pasal 8
Dalam rangka penyelesaian Piutang Negara, PDAM diwajibkan memenuhi pra kondisi sebagai berikut:
a. Ditetapkan tarif lebih besar dari biaya dasar;
b. Pengangkatan direksi dilakukan melalui fit and proper test oleh
Gubernur/Bupati/Walikota berdasarkan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini; dan
c. Business Plan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini, untuk periode selama 5 (lima) tahun (tahun 2008 sampai dengan tahun 2012) yang disusun oleh PDAM dan disahkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota.
Pasal 9
Penjadualan kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf
b berlaku terhadap seluruh Tunggakan Pokok per Cut- off Date.
Pasal 10
Penentuan jangka waktu penjadualan kembali dan besaran angsuran pengembalian Tunggakan Pokok yang dijadualkan, didasarkan atas
penilaian Komite terhadap laporan keuangan, kinerja, dan Business Plan
-7-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BAB III
TATA CARA PENGHAPUSAN TUNGGAKAN NON-POKOK DAN PENJADUALAN TUNGGAKAN POKOK
Pasal 11
(1) PDAM menyampaikan permohonan penghapusan Tunggakan Non-Pokok dan penjadualan kembali Tunggakan Non-Pokok kepada Menteri melalui Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Daerah dan DPRD.
(2) Permohonan penghapusan Tunggakan Non-Pokok dan penjadualan kembali Tunggakan Pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan melampirkan dokumen pendukung sebagai berikut:
a. Laporan keuangan perusahaan 1 (satu) tahun terakhir yang telah
diaudit oleh auditor, tidak diperkenankan yang menunjukkan opini
tidak wajar (adverse) atau tidak memberikan pendapat (disclaimer),
kecuali opini disclaimer yang disebabkan oleh ketidakpastian
kelangsungan operasional (going concern);
b. Laporan hasil audit kinerja PDAM yang dilakukan oleh auditor
dalam hal ini BPKP dan/atau BPK;
c. Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana
Anggaran Biaya (RAB) PDAM 1 (satu) tahun terakhir;
d. Business Plansebagaimana dimaksud pada Pasal 8 huruf c; dan
e. Surat Pernyataan Kesanggupan Gubernur/Bupati/Walikota yang
berisi kesediaan Pemda selaku pemilik untuk memberikan tambahan bantuan dana kepada PDAM sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan keuangan daerah yang dapat mendorong PDAM untuk memenuhi kewajibannya sesuai contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan ini.
Pasal 12
(1) Atas dasar permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Komite melakukan analisis dan evaluasi.
-8-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
(3) Dalam hal berdasarkan hasil analisis dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan bahwa permohonan penghapusan Tunggakan Non-Pokok dan penjadualan kembali Tunggakan Pokok tidak dapat disetujui, maka Direktur Jenderal atas nama Menteri memberitahukan penolakan penghapusan Tunggakan Non-Pokok dan penjadualan kembali Tunggakan Pokok disertai dengan alasan penolakannya.
Pasal 13
Berdasarkan penetapan persetujuan penyelesaian Piutang Negara pada PDAM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), ditetapkan persetujuan Penghapusan Secara Bersyarat sesuai dengan kewenangan penetapan penghapusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.
Pasal 14
Dalam hal persetujuan Penghapusan Secara Bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 telah ditetapkan, dilakukan perubahan perjanjian pinjaman dan/atau perubahan perjanjian penerusan pinjaman antara Direktur/Direktur Utama PDAM dengan Direktur Jenderal.
Pasal 15
Penghapusan secara mutlak atas Tunggakan Non-Pokok ditetapkan paling cepat 2 (dua) tahun sejak tanggal ditetapkannya Penghapusan Secara Bersyarat, setelah terlebih dahulu dilakukan penilaian terhadap
realisasi Business Plan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf (c).
BAB IV
KEWENANGAN PENETAPAN PENGHAPUSAN
Pasal 16
Penghapusan Secara Bersyarat dan penghapusan secara mutlak atas Piutang Negara pada PDAM dilakukan oleh:
a. Menteri untuk jumlah sampai dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah);
b. Presiden untuk jumlah lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah) sampai dengan Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah); dan
c. Presiden dengan persetujuan DPR untuk jumlah lebih dari
-9-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Pasal 17
Dalam hal Piutang Negara dalam satuan mata uang asing, nilai piutang yang dihapuskan secara bersyarat dan secara mutlak adalah nilai yang
setara dengan nilai kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada Cut-off
Date.
BAB V
PELAPORAN
Pasal 18
(1) Selama periode penyelesaian piutang, PDAM wajib menyampaikan dokumen sebagai berikut:
a. Laporan Pelaksanaan Business Plan;
b. Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja yang telah diaudit; dan
c. Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana
Anggaran Biaya (RAB) PDAM yang telah disahkan Gubernur/Bupati/ Walikota/Badan Pengawas.
(2) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b disampaikan kepada Menteri c.q Direktur Jenderal paling lambat pada tanggal 31 Juli untuk dokumen tahun sebelumnya.
(3) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disampaikan kepada Menteri c.q Direktur Jenderal paling lambat pada tanggal 1 Maret tahun berjalan.
BAB VI
EVALUASI DAN PEMANTAUAN
Pasal 19
(1) Komite melakukan evaluasi dan pemantauan pelaksanaan Business
Plan secara periodik selama 5 (lima) tahun, yaitu paling sedikit 2 (dua) kali dalam tahun pertama dan kedua serta 1 (satu) kali dalam tahun ketiga dan tahun selanjutnya.
(2) Dalam hal hasil evaluasi dari pemantauan mengindikasikan
penyimpangan pelaksanaan Business Plan, Komite menyampaikan
-10-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BAB VII
REVISI BUSINESS PLAN
Pasal 20
Revisi Business Plan dapat dilakukan oleh PDAM dengan persetujuan
Direktur Jenderal dalam hal asumsi-asumsi dalam Business Plan tidak
dapat terlaksana karena di luar kontrol direksi termasuk hal-hal yang
dianggap sebagai keadaan kahar (force majeure).
BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 21
Tanggal ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku sebagai Cut-off Date perhitungan Piutang Negara.
Pasal 22
(1) Terhadap kewajiban pembayaran Tunggakan Pokok yang dijadualkan
serta utang pokok yang belum jatuh tempo sampai dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, berlaku tingkat Bunga sebagaimana ditetapkan dalam masing-masing perjanjian pinjaman/penerusan pinjaman.
(2) PDAM yang melakukan percepatan pelunasan seluruh pinjaman
terhitung sejak terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.06/2005 tentang Optimalisasi Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi, Dan Rekening Pembangunan Daerah sampai dengan tanggal ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, diberikan insentif yang pengaturannya akan ditetapkan tersendiri.
(3) PDAM kategori kondisi pinjaman lancar yaitu yang melakukan
pembayaran tepat jumlah dan tepat waktu, terhitung mulai tanggal diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.06/2005 tentang Optimalisasi Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi, Dan Rekening Pembangunan Daerah sampai dengan tanggal ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, diberikan insentif sebagai berikut:
a. Penurunan sebanyak 2% (dua per seratus) dari tingkat Bunga yang
ditetapkan dalam perjanjian pinjaman/perjanjian penerusan pinjaman; dan/atau
b. Bantuan program dan bantuan teknis,
-11-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
(4) Penurunan tingkat bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a
berlaku sejak tanggal ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini sampai dengan masa pinjaman berakhir.
Pasal 23
(1) PDAM yang melakukan kerjasama dengan pihak swasta asing
maupun swasta dalam negeri tidak diperkenankan mengikuti penyelesaian Piutang Negara sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.
(2) Ketentuan mengenai penyelesaian Piutang Negara pada PDAM yang
melakukan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal setelah berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 24
Terhadap usulan penyelesaian Piutang Negara yang sedang dalam proses penilaian sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini pemrosesannya mengikuti ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
-12-
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Pasal 26
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 19 Agustus 2008
MENTERI KEUANGAN,
TTD
M ENTERI KEUA A N REPUBLIK INDO NESIA
NG
LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 1202/PMK.05/2008 TANGGAL 19
AGUSTUS 2008 TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA YANG BERSUMBER DARI PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI, REKENING DANA INVESTASI, DAN REKENING PEMBANGUNAN DAERAH PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM
KRITERIA PENGANGKATAN DIREKSI PDAM
1. Proses Pelaksanaan Fit & Proper Test di dan oleh Daerah:
1.1.Dilakukan oleh tim independen dapat berupa:
1.1.1. Tim yang dibentuk oleh Pimpinan Daerah
1.1.2. Pihak ketiga yang ditugasi oleh Pimpinan Daerah
1.1.3. Gabungan ke dua Tim di atas.
1.2.Tim independen yang dibentuk oleh Pimpinan Daerah paling tidak terdiri dari
unsur-unsur: Pemda dan Dewan Pengawas PDAM.
1.3.Pihak ketiga yang ditugasi oleh Pimpinan Daerah dipilih berdasarkan proses
yang transparan dan kompetitif.
1.4.Pimpinan Daerah menetapkan kriteria penilaian sesuai Kriteria Penilaian
Umum yang ditetapkan berdasarkan PMK ini serta kriteria lain berdasarkan kondisi masing-masing daerah dan permasalahan dan tantangan spesifik yang dihadapi PDAM bersangkutan.
1.5.Kesempatan untuk mengikuti fit & proper test diumumkan secara terbuka,
paling tidak diumumkan di surat kabar daerah, lengkap dengan kriteria umum yang dibutuhkan dan tahapan yang harus dilakukan oleh peserta fit & proper test.
1.6.Pengumuman untuk mengikuti fit & proper test dilakukan dalam waktu 1 (satu)
bulan untuk para peminat melakukan proses pendaftaran, termasuk melengkapi dokumen sesuai persyaraan umum yang diumumkan.
1.7.Hasil penilaian Tim Independen diumumkan secara terbuka kepada publik,
setelah mendapat persetujuan dari pemberi tugas.
1.8.Tanggapan keberatan atas pengumuman tersebut dapat diajukan Selama 2 (dua)
minggu setelah diumumkan sebelum ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.
1.9.Keseluruhan proses fit & proper test sampai dengan penetapan oleh Kepala
M ENTERI KEUA NG A N REPUBLIK INDO NESIA
-2-
2. Kualifikasi Calon Direksi
2.1.Usia maksimum pada saat pendaftaran adalah 50 tahun.
2.2.Berpengalaman dalam bidang manajemen perusahaan selama minimal 5 tahun.
2.3.Latar belakang pendidikan minimum S1
2.4.Mampu menjelaskan Visi & Misi yang tepat dalam mengembangkan pelayanan
air minum pada PDAM yang bersangkutan
2.5.Mampu menjabarkan strategi pelaksanaan Business Plan PDAM yang
bersangkutan secara efektif dan efisien.
2.6.Mampu bekerjasama dengan jajaran direksi lain dalam mencapai tujuan
pelayanan PDAM sesuai Visi, Misi, dan menyatakan mampu melakukan Business Plan Perusahaan.
2.7.Diutamakan yang memiliki pengalaman terkait manajemen air minum.
3. Tata Kerja
3.1.Bersedia menandatangani kontrak untuk melaksanakan Business Plan yang
sudah disahkan oleh Gubernur/Walikota/Bupati.
3.2.Bersedia menandatangani kontrak berbasis kinerja dengan Pemda yang
bersangkutan dalam memimpin operasi pelayanan air minum dengan rincian penghargaan (insentif) dan konsekuensi (penalti) yang jelas, lengkap, dan disetujui antara Pemda dengan Direksi yang terpilih.
______________________________________________________________________________
MENTERI KEUANGAN,
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 120/PMK.05/2008 TANGGAL 19 AGUSTUS 2008 TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA YANG BERSUMBER DARI PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI, REKENING DANA INVESTASI, DAN REKENING PEMBANGUNAN DAERAH PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM
BUSINESS PLAN
PDAM PROPINSI/KABUPATEN/KOTA
………
MENTERI KEUANGAN LIK INDONESIA REPUB
-2-
Daftar Isi
I. Kondisi Saat Ini ... Hal ... 1.1 Data Umum ... Hal ... 1.2 Aspek Teknis ... Hal ... 1.3 Aspek Manajemen ... Hal ... 1.4 Aspek Keuangan ... Hal ... II. Permasalahan, Penyebab Masalah, dan Rencana Tindak
Perbaikan Hal ...
1.1 Aspek Teknis Hal ...
1.2 Aspek Manajemen Hal ...
1.3 Aspek Keuangan Hal ...
1.4 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pendanaan Hal ...
III. Usulan Penjadwalan Kembali Tunggakan Pokok ……… Hal ...
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-3-
I. KONDISI SAAT INI
Gambaran kondisi PDAM Propinsi/Kabupaten/Kota ………. per 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut :
1.1.Data Umum
a. Berdasarkan data kependudukan pada tahun 2007 untuk
Propinsi/Kabupaten/Kota …….. dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan…% (rata-rata pertumbuhan penduduk tiap tahun per kabupaten/kota), dari ……jiwa pada tahun 2006 menjadi …..jiwa pada tahun 2007. Cakupan pelayanan PDAM mengalami peningkatan/penurunan dari ………% pada tahun 2006 menjadi …….% pada tahun 2007.
b. Jumlah sistem yang digunakan PDAM saat ini sebanyak ….. unit
dengan rincian seperti terlihat pada tabel berikut ini.
Kapasitas (lt/detik)
No. Lokasi Jenis Sumber
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-4-
c. Water meter induk yang digunakan PDAM saat ini sebanyak …….unit yang terdiri dari ……di unit produksi, dan …… di unit distribusi. Dari water meter yang digunakan, kondisi water meter yang masih akurat sebanyak …..unit di unit produksi dan ……unit di unit distribusi sedangkan sisanya mengalami kerusakan/tidak akurat yang disebabkan ……….
1.2.Aspek Teknik
a. Dari seluruh sistem yang ada saat ini, jumlah kapasitas terpasang
adalah …….l/detik, sedangkan jumlah kapasitas yang dioperasikan adalah sebesar …….l/detik. Besarnya selisih antara kapasitas
terpasang dengan kapasitas yang dioperasikan (idle capacity)
karena…………
b. Pada saat ini jam operasi produksi air minum berjalan selama
……jam dan operasi distribusi dilakukan selama ……jam per hari.
c. Produksi air per 31 Desember 2007 mengalami
peningkatan/penurunan sebesar ….% dibanding tahun 2006, dimana jumlah produksi pada tahun 2006 air sebesar ……… m3 menjadi …….m3 pada tahun 2007.
d. Sedangkan jumlah air yang didistribusikan mengalami
peningkatan/penurunan yaitu dari …..m3 pada tahun 2006 menjadi ……..m3 pada tahun 2007 sebesar ……….m3, karena……..
e. Selengkapnya data produksi dan distribusi dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
No. Uraian Tahun
2006
Tahun 2007 1 Kapasitas Terpasang (l/detik)
2 Kapasitas Dioperasikan (l/detik)
3 Kapasitas Menganggur / idle capacity (l/detik) 4 Operasi Produksi (Jam)
5 Operasi Distribusi (Jam) 6 Jumlah Produksi Air
- Produksi Instalasi PDAM (000 m3/tahun) - Pembelian Air dari Pihak Lain (000
m3/tahun)
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-5-
1.3.Aspek Manajemen
a. Selama 2 tahun terakhir jumlah kehilangan air (selisih produksi
dengan air terjual) mengalami penurunan/peningkatan, yaitu …….m3 pada tahun 2006 atau setara dengan ….% kemudian ……..m3 atau …….% pada tahun 2007, karena …….
b. Tarif dasar air minum saat ini adalah Rp. …………/m3 yang
ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur/Bupati/Walikota……..No…. tanggal……. dan berlaku
efektif sejak tanggal…..bulan…..tahun……….Sedangkan tarif sebelumnya adalah Rp. ……./m3 yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur/Bupati/Walikota……..No….tanggal……. Tarif tersebut …..% dibanding dengan biaya produksi.
c. Jangka waktu penagihan piutang PDAM Propinsi/Kabupaten/Kota
…… selama 2 tahun terakhir mengalami perubahan (peningkatan/penurunan)/ tidak mengalami perubahan yaitu dari …..hari pada tahun 2006 menjadi …..hari pada tahun 2007.
d. Rasio karyawan PDAM per 1000 pelanggan selama 2 tahun terakhir
mengalami perubahan (peningkatan/penurunan) dari tahun 2006…….orang menjadi …….orang, pada tahun ke 2007……orang, karena…..
e. Jumlah pelanggan selama 2 tahun terakhir mengalami
peningkatan/penurunan yaitu dari ……SL pada tahun 2006 menjadi …….SL pada tahun 2007, karena ………
f. Jumlah pelanggan yang water meternya tidak berfungsi sebanyak
………. SL, karena ………
g. Jumlah penjualan air selama 2 tahun terakhir mengalami
peningkatan/ penurunan yaitu dari ………m3 pada tahun 2006 kemudian menjadi …….m3 pada tahun 2007. Penjualan air kepada pelanggan terbanyak adalah jenis pelanggan Rumah Tangga/Niaga/Industri, yaitu sebesar …..% dari jumlah air terjual.
h. Cakupan pelayanan pada tahun 2007 adalah sebesar ....% dari jumlah
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-6-
i. Selengkapnya data jumlah pelanggan dan penjualan air menurut
golongan pelanggan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
No. Uraian Tahun
2006
Tahun 2007
1 Jumlah Kehilangan Air (sesuai hasil
audit) (000 m3/tahun)
2 Tarif Air Minum
a. Tarif Dasar (Rp./m3)
b. Nomor & Tanggal Surat Keputusan c. Berlaku Efektif per tanggal
3 Jangka Waktu Penagihan Piutang
(hari)
4 Jumlah Karyawan per 1000 pelanggan
(orang)
5 a. Jumlah Pelanggan (unit)
- Sosial dan Hidran Umum - Rumah Tangga
- Instansi Pemerintah
- Niaga
- Industri
- Khusus
- Lain-lain
b. Jumlah Pelanggan Water Meter Tidak Berfungsi (unit)
6 Jumlah Air Terjual (000 m3/tahun)
- Sosial (000 m3/tahun)
- Rumah Tangga (000 m3/tahun) - Instansi Pemerintah (000 m3/tahun) - Niaga (000 m3/tahun)
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-7-
1.4.Aspek Keuangan
Kondisi keuangan PDAM selama 2 tahun terakhir adalah sebagai berikut :
a. Pendapatan penjualan air & pendapatan lain-lain
meningkat/menurun ……% dari sebesar Rp. ………… pada tahun 2006 menjadi Rp. ……..pada tahun 2007, peningkatan/penurunan tersebut terjadi karena…..
b. Biaya operasional mengalami peningkatan/penurunan ……% dari
sebesar Rp. ………… pada tahun ke-(n-3) menjadi Rp. ……..pada tahun (n-2), peningkatan/penurunan ……% dari sebesar Rp. …… pada tahun ke-(n-2) menjadi Rp. ………..pada tahun ke-(n-1), yang diakibatkan dari …………
c. Saldo Kas PDAM selama 2 tahun terakhir mengalami
peningkatan/penurunan ……% dari sebesar Rp. ………… pada tahun 2006 menjadi Rp. ……..pada tahun 2007, yang diakibatkan oleh…………
d. Posisi pinjaman pinjaman PDAM Propinsi/Kabupaten/Kota ………..
sampai dengan cut-off date berdasarkan hasil Rekonsiliasi pada
tanggal ………….. tahun ………. adalah sebagai berikut :
No. Uraian Kewajiban Pembayaran YMH
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-8-
e. Kondisi keuangan PDAM selama 2 tahun terakhir selengkapnya
dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Uraian Tahun
2006
Tahun 2007 A. LABA/RUGI
…. -- sesuaikan dengan laporan audit keuangan--
B. ARUS KAS
….. -- sesuaikan dengan laporan audit keuangan--
C. NERACA
….. -- sesuaikan dengan laporan audit keuangan--
II. PERMASALAHAN, PENYEBAB MASALAH DAN RENCANA TINDAK
PERBAIKAN PDAM
Permasalahan utama, penyabab masalah yang dihadapi PDAM dan rencana tindak perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut :
2.1Aspek Teknis
a. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
... ………
- Rencana Tindak Perbaikan :
………
b. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
... ………
- Rencana Tindak Perbaikan :
………
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-9-
2.2Aspek Manajemen
a. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
... ………
- Rencana Tindak Perbaikan :
………
b. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
... ………
- Rencana Tindak Perbaikan :
………
c. Dan seterusnya………..
2.3Aspek Keuangan
a. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
... ………
- Rencana Tindak Perbaikan :
………
b. Masalah :………..
- Penyebab permasalahan :
- Rencana Tindak Perbaikan :
……… c. Dan seterusnya………..
2.4Kebutuhan Investasi dan Sumber Pendanaan
Dari rencana tindak perusahaan sebagaimana disebutkan di atas, dibutuhkan dana investasi sebesar Rp. ………. dengan sumber pendanaan :
1. PDAM Rp. ……….
2. APBD Rp. ……….
3. APBN Rp. ……….
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-10-
III. USULAN PENJADWALAN KEMBALI TUNGGAKAN POKOK
Selain rencana tindak di atas, kami mengusulkan penjadwalan kembali tunggakan hutang pokok untuk memperingan beban pengeluaran kas PDAM. Adapun penjadwalan kembali tunggakan hutang pokok yang kami usulkan adalah sebagai berikut :
No. Tanggal Angsuran Angsuran
1. 2. 3. Dst..
IV. RENCANA PENCAPAIAN TARGET PER TAHUN
Adapun hasil yang akan dicapai dari rencana tindak perbaikan kinerja PDAM tiap tahun adalah sebagai berikut :
Pencapaian Pada Tahun No
2. Tingkat kehilangan air (%)
3. Cakupan pelayanan (%)
4. Jumlah pegawai per 1000
pelanggan (orang)
5. Jangka waktu penagihan
piutang (hari)
6. Rugi / Laba (Rp.)
7. Investasi (Rp.)
MENTERI KEUANGAN IK INDONESIA REPUBL
-11-
Lembar Persetujuan
Business Plan
Periode 2008 - 2012
Gubernur/Bupati/Walikota Direktur PDAM Provinsi/Kabupaten/Kota
...
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-12-
LAMPIRAN BUSINESS PLAN
Rincian permasalahan, penyebab, dan rencana tindak perbaikan
A. ASPEK TEKNIS
No. Permasalahan Penyebab Masalah Rencana Tindak Perbaikan
1. 2. 3.
dst
B. ASPEK MANAJEMEN
No. Permasalahan Penyebab Masalah Rencana Tindak Perbaikan
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
-13-
C. ASPEK KEUANGAN
No. Permasalahan Penyebab Masalah Rencana Tindak Perbaikan
1. 2. 3. dst
MENTERI KEUANGAN,
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 120432/PMK.05/2008
TANGGAL 19 AGUSTUS 2008 TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA YANG BERSUMBER DARI PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI, REKENING DANA INVESTASI, DAN REKENING PEMBANGUNAN DAERAH PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM
KOP SURAT
GUBERNUR / BUPATI /WALIKOTA ...
CONTOH SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA
Nomor:
Dalam rangka pelaksanaan penyelesaian piutang negara pada PDAM berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor:... tanggal..., dengan ini kami menyatakan bahwa dalam hal PDAM...tidak dapat melakukan pembayaran utang yang telah jatuh tempo secara tepat waktu dan tepat jumlah sebanyak 2 (dua) kali pada saat jatuh tempo kewajiban pembayaran angsuran pinjaman, maka Pemerintah Daerah... selaku pemilik bersedia untuk memberikan tambahan bantuan dana kepada PDAM sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang pengelolaan keuangan daerah yang dapat
mendorong PDAM untuk memenuhi kewajibannya.
Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.
MENGETAHUI
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH