• Tidak ada hasil yang ditemukan

Index of /ProdukHukum/kehutanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Index of /ProdukHukum/kehutanan"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

No. Program/Kegiatan Pokok Kegiatan Kehutanan 2005 Sasaran/Keluaran Indikator Instansi Pelaksana

1 2 3 4 5 6

Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara

1. Pembinaan dan pengawasan aparatur Pembinaan wilayah Terlaksananya kegiatan pembinaan wilayah

Tercapainya peningkatan kinerja obrik Itjen

2. Pengawasan komprehensif pelaksanaan kebijakan prioritas

1. Pemeriksaan sesuai PKPT 2. Pemeriksaan terhadap kebijakan

prioritas

3. Pemerikasaan khusus

4. Pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut

- Terlaksananya pemeriksanaan komprehensif/operasiona. - Terlaksananya pemeriksaan

pendahuluan

- Terlaksananya pemeriksaan khusus. - Terlaksananya pemeriksanaan

pemantauan TL

- Tertib administrasi umum dan pembangunan pada 180 obrik meningkat.

- Teridentifikasinya temuan awal pada 180 obrik

- Tercapainya peningkatan kinerja obrik - Penyelesaian hasil temuan meningkat

sesuai ketentuan.

Itjen

3. Pengembangan sarana dan prasarana pengawasan

Pengadaan sarpras Terlaksananya pengadaan sarpras sesuai ketentuan yang berlaku.

Tersedainya sarpras yang memadai untuk tercapainya keberhasilan audit

Itjen

4. Pengembangan dan peningkatan kapasitas tenaga auditor

1. Peningkatan SDM auditor Itjen 2. Bimbingan teknis bagi aparat Bawasda

Prov/Kab/Kota

- Terselenggaranya peningkatan SDM. - Terlaksananya kegiatan Bintek ke

Bawasda Prov/Kab/Kota

- Meningkatnya kualitas auditor sebanyak 60 auditor

- Meningkatnya kualitas auditor Bawasda Prov/Kab/Kota

Itjen

No. Program/Kegiatan Pokok Kegiatan Kehutanan 2005 Sasaran/Keluaran Indikator Instansi

Pelaksana

1 2 3 4 5 6

Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan 1. Pendayagunaan adminitrasi

kepegawaian

1. Penyusunan dan penyempurnaan sistem administrasi kepegawaian;

- Tersusunnya standar sistem tata naskah pegawai, standar pelayanan minimal, rencana program dan monev, statistik kepegawaian

- Terlaksananya pemutahiran data PNS, dan penyegaran operator SIMPEG.

- Pelayanan kepegawaian kepada masyarakat meningkat.

Setjen, Eselon I

2. Penyusunan dan penyempurnaan sistem perencanaan dan penataan pegawai (PNS)

- Tersusunnya peta jabatan, dan kebutuhan pegawai.

- Terselenggaranya proses pengadaan pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi

(2)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

3. Pembentukan personel assessment centre (PAC) Dephut

- Tersusunnya sofware dan hardware sistem informasi pegawai,

- Tersedianya sistem assessment

pegawai (termasuk alat uji, assessor, dll dlm sistem).

4. Penyusunan perencanaan pengadaan calon PNS 2005

- Tersusunnya sistem pengadaan pegawai yang lebih profesional - Terselenggaranya pengadaan CPNS.

- Tersedianya PNS yang memiliki kualifikasi 4 kriteria berkompetensi dibidangnya

5. Penyempurnaan sistem perencanaan, pembinaan dan penataan pegawai.

- Tersusunnya standar kompetensi jabatan, pola karier pegawai, analisis pengembangan karies PNS S2 dan S3.

- Pengelolaan pola karier pegawai dilaksanakan lebih optimal .

- Terlaksananya penyempurnaan sistem rektuitment dan penempatan CPNS, seleksi calon pejabat struktural, pemindahan dan pemberhentian PNS, serta penataan dan relokasi PNS pasca pelimpahan

6. Pelaksanaan pembinaan pegawai Terlaksananya tindak lanjut proses sanksi, proses kenaikan pangkat, dan proses pemilihan dan penghargaan bagi PNS berprestasi.

Terwujudnya peningkatan pelayanan kepada masyarakat

7. Pengembangan jabatan fungsional - Tersedianya pedoman seleksi, penentuan angka kredit, bahan diklat, sistem informasi bagi widyaiswara, dan data pejabat fungsional.

- Pelayanan administrasi angka kredit jabatan fungsional lebih tepat dan optimal.

- Terlaksananya penyegaran tim penilai jabatan fungsional

8. Pelaksanaan peningkatan dan pemantapan profesionalitas pegawai

- Tersusunnya pola diklat, kebutuhan Diklat, evaluasi paska diklat pegawai. - Terlaksananya ujian dinas dan

penyesuaian ijazah/pencantuman gelar.

Terwujudnya Diklat Kehutanan yang memadai

2. Pembinaan, perencanaan dan pengelolaan pembangunan kehutanan

1. Penyusunan nota keuangan dan RAPBN tahun 2006

Tersusunnya buku nota keuangan dan RAPBN Dephut tahun 2006.

Tersedianya dokumen nota keuangan RAPBN Dephut tahun 2006 yang disahkan Menhut.

Setjen

2. Penyusunan RAPBN dan dokumen anggaran Dephut tahun 2006.

Tersusunnya dokumen RAPBN Dephut tahun 2006, dan dokumen anggaran APBN tahun 2006.

(3)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

3. Penyusunan dokumen anggaran (SKORR DR) tahun 2006

Tersusunnya dokumen anggaran SKO-R DR tahun 2006.

Tersedianya dokumen anggaran SKO-R DR tahun 2006 (Program GERHAN) yang telah disetujui Departemen Keuangan.

4. Evaluasi pelaksanaan APBN semester I Tersusunnya hasil evaluasi pelaksanaan APBN Semester I.

Tersedianya langkah-langkah/ arahan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran. 5. Pembinaan pelaksanaan anggaran

tahun 2005.

Terlaksananya pembinaan pelaksanaan anggaran pada seluruh UPT Dephut (Pusat dan daerah).

Efektivitas dan efisiensi Pelaksanaan anggaran oleh pelaksana meningkat.

6. Penyusunan revisi APBN Tahun 2005. Tersusunnya dokumen rencana revisi APBN tahun 2005.

Tersedianya dokumen anggaran hasil revisi APBN tahun 2005.

7. Penyusunan dan penyempurnaan standar biaya dan kegiatan.

Tersusunnya buku standar biaya dan kegiatan Dephut .

Struktur pembiayaan kegiatan lebih efektif dan efisien.

8. Penyusunan RKA-KL Tahun 2006. Tersusunnya dukumen RKA-KL Dephut tahun 2006.

Penyusunan dokumen anggaran tahun 2006 lebih terkontrol dan terkendali. 9. Penyusunan dan penyempurnaan

pedoman umum penggunaan dana bagi hasil DR.

Tersusunnya buku pedoman umum penggunaan dana bagi hasil DR untuk kegiatan RHL.

Penggunaan dana DR untuk kegiatan RHL dapat dilaksanakan sesuai sasaran yang telah ditetapkan.

10. Penyelenggaraan forum koordinasi perencanaan pembangunan kehutanan (program dan anggaran)..

Terlaksananya rapat konsultasi dan koordinasi penyusunan rencana anggaran tahun 2006.

Penyusunan rencana kerja bagi penyusunan anggaran tahun 2006 lebih terah, sesuai dengan kebijakan prioritas. 11. Penyusunan bahan koordinasi program

dan anggaran

Tersusunnya data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan program dan anggaran.

Terpenuhinya data dan informasi bagi penyusunan program dan anggaran sesuai jadwal waktu dan target substansi yang diharapkan.

12. Penyiapan materi Rakernas Dephut. Tersusunnya materi Rakernas Dephut tahun 2005.

Dokumen permasalahan pelaksanaan pembangunan kehutanan dan rencana tindak yang akan dilaksanakan tersedia tepat waktu untuk kepentingan Rakernas Dephut tahun 2005.

13. Penyiapan bahan pengujian keuangan dan pemerintah pembayaran.

Terpenuhinya bahan-bahan pengujian dan perintah pembayaran.

Bahan-bahan cetakan, komputer supplies, dll untuk pengujian & perintah pembayaran tersedia dan terpenuhi. 14. Penyusunan panduan pengujian

keuangan dan perintah pembayaran.

Tersusunnya panduan pengujian dan perintah pembayaran.

(4)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

15. Penyusunan laporan pengujian dan perintah pembayaran.

Tersusunnya laporan kegiatan pengujian dan perintah pembayaran Triwulan I, Semester I, Triwulan III, dan Akhir Tahun 2005.

Tersedianya laporan kegiatan pengujian dan perintah pembayaran Triwulan I, Semester I, Triwulan III, dan Akhir Tahun 2005 tepat waktu..

16. Pembinaan pengujian dan perintah pembayaran dan sosialisasi Juknis Pengujian Keuangan dan perintah pembayaran.

Terlaksananya kegiatan pembinaan dan sosialisasi juknis pengujian keuangan dan perintah pembayaran lingkup Dephut.

Pelaksanaan pengujian keuangan dan perintah pembayaran semakin meningkat dan dilaksanakan sesuai dengan juknis dan ketentuan yang berlaku.

17. Penyusunan dan penyempurnaan laporan keuangan.

- Tersusunnya laporan keuangan, dan ralat konsolidasi tingkat Dephut tahun 2004, serta laporan keuangan konsolidasi tingkat Dephut Triwulan I, Semester I, Triwulan III, dan ahir tahun 2005.

- Laporan keuangan yang terdiri dari laporan Realisasi APBN, Neraca dan Catatan atas laporan keuangan tahun 2004 telah ditandatangani Menhut sesuai jadwal waktu yang ditetapkan. - Laporan keuangan yang terdiri dari

laporan Realisasi APBN, Neraca dan Catatan atas laporan keuangan Triwulan I, Semester I, Triwulan III dan Ahit tahun tahun 2005 telah

ditandatangani Menhut sesuai jadwal yang ditetapkan.

- Ralat laporan keuangan yang terdiri dari laporan Realisasi APBN, Neraca dan Catatan atas laporan keuangan tahun 2004, sesuai hasil pemeriksaan Itjen dan BPK, dan telah

ditandatangani Menhut sesuai jadwal waktu yang ditetapkan

18. Pembinaan akuntansi laporan keuangan.

Terlaksananya kegiatan pelatihan SAI di seluruh UPT Dephut, dan kegiatan-kegiatan : in-house training penyusunan laporan keuangan, in-house trainingg Balansheet, serta sosialisasi pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP).

Pelayanan dan Pelaksanaan kegiatan akuntansi dan laporan keuangan pada setiap satker lingkup Dephut meningkat.

19. Penyusunan bahan kebijakan pimpinan Dephut atas BUMN

- Terlaksananya kegiatan penyiapan bahan kebijakan BUMN lingkup Dephut.

(5)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Terselenggaranya kegiatan evaluasi pelaksanaan RKAP BUMN lingkup Dephut.

20. Evaluasi pelaksanaan indikator Renstra kehutanan tahun 2005-2009 tahun 2005.

Tersusunnya buku evaluasi indikator pelaksanaan Renstra Dephut untuk tahun 2005.

Tersedianya data dan informasi

pelaksanaan Renstra Dephut pada tahun 2005.

21. Monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan perencanaan dan pelaksanaan anggaran Dephut (Pusat dan daerah)

- Tersusunnya dokumen-dokumen : laporan pelaksanaan anggaran tahun 2004 Dephut, evaluasi hasil perencanaan anggaran tahun 2005, buku perkembangan pelaksanaan anggaran bulanan dan

permasalahannya tahun 2005. - Terlaksananya kegiatan monitoring

dan evaluasi kegiatan pembangunan tahun 2005.

- Tersedianya dokumen-dokumen hasil monitoring, evaluasi dan laporan pelaksanaan perencanaan anggaran Dephut tahun 2004 dan 2005 yang tepat waktu dan digunakan untuk keperluan perencanaan.

- Tersedianya data dan informasi yang lebih berkualitas hasil monitoring dan evaluasi implementasi perencanaan kegiatan pembangunan tahun 2005. 22. Penyusunan dan penyempurnaan

pedoman pelaporan Dephut.

Tersusunnya pedoman pelaporan Departemen Kehutanan.

Laporan kegiatan dan anggaran tertata dengan baik.

23. Penyusunan laporan pelaksanaan anggaran Setjen.

Tersusunnya dokumen laporan pelaksanaan anggaran tahun 2004 Setjen, & buku perkembangan pelaksana-an pelaksana-anggarpelaksana-an setiap bulpelaksana-an & permasa-lahannya tahun 2005 lingkup Setjen.

Tersedianya dokumen laporan ahir pelaksanaan anggraan Setjen tahun 2004 dan 2005

24. Evaluasi perencanaan dan pelaksanaan anggaran GERHAN di 30 Propinsi 60 kabupaten.

Tersusunnya dokumen evaluasi perencanaan dan pelaksanaan anggaran GERHAN

Tersedianya bahan evaluasi kebijakan dan perencanaan GERHAN tahun 2006.

25. Penyusunan indikator dan evaluasi kinerja kegiatan pembangunan, serta LAKIP Departemen Kehutanan.

Tersusunnya indikator dan evaluasi kinerja kegiatan pembangunan, dan LAKIP Dephut

Tersedianya indikator dan hasil evaluasi kinerja, serta LAKIP Departemen Kehutanan.

26. Monitoring dan evaluasi implementasi perencanaan kegiatan-kegiatan : pemberantasan penebangan liar; penanggulangan kebakaran hutan; konservasi SDA; Rehabilitasi hutan; revitalisasi industri sektor kehutanan; desentralisasi sektor kehutanan .

Terlaksananya kegiatan monitoring dan evaluasi implementasi perencanaan kegiatan-kegiatan : penanggulangan kebakaran hutan, kegiatan KSDA, kegiatan RHL, revitalisasi industri kehutanan, dan desentralisasi sektor kehutanan.

(6)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

27. Penyusunan Renstra Sekretariat Jenderal Dephut.

Tersusunnya RENSTRA Sekretariat Jenderal Dephut.

Tersedianya RENSTRA Setjen tepat waktu dan tepat sasaran.

28 Monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan di daerah tertinggal.

Terlaksananya kegiatan monitoring dan evaluasi implementasi perencanaan kehutanan di daerah tertinggal.

Tersedianya data dan informasi yang lebih berkualitas di daerah tertinggal untuk perencanaan.

29. Penyusunan bahan sidang kabinet dan Rakor Mnehut.

Tersusunnya bahan sidang Kabinet Dephut, dan bahan Rakor Menhut.

Tersedianya bahan sidang kabinet Dephut dan bahan Rakor Menhut. 30. Koordinasi dan penyiapan bahan rapat

pimpinan.

Tersusunnya bahan koordinasi dan bahan bahan rapat pimpinan (Menhut, Sekjen).

Tersedianya bahan koordninasi dan bahan rapat pimpinan (Menhut, Sekjen).

31. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran BLN.

Tersusunnya hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran BLN.

Tersedianya hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran BLN. 32. Penyusunan hasil-hasil implementasi

komitmen intrenasional bidang kehutanan.

Tersusunnya buku tentang pelaksanaan komitmen internasional bidang

kehutanan.

Tersedianya bahan pelaksanaan komitmen internasional di Departemen Kehutanan.

33. Pengadaan peralatan dan mesin Terlaksananya pengadaan peralatan dan mesin.

Pelaksanaan tugas lebih efektif, efisien dan optimal.

34. Penyusunan pedoman/juklak, dan sosialisasi penyelesaian kerugian negara TP/TGR; pengurusan piutang macet; dan pedoman pengurusan keuangan.

- Tersusunnya Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Kasus kerugian negara melalui TP/TGR lingkup Departemen Kehutanan;

- Tersusunnya bahan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan Penyelesaian kasus kerugian negara lingkup Dep. Kehutanan;

- Tersusunannya bahan sosialisasi Petunjuk Pengurusan Piutang Negara yang macet lingkup Dep. Kehutanan; - Tersedianya Pedoman Pengurusan

Keuangan lingkup Dep. Kehutanan sesuai perubahan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku; - Tersedianya bahan sosialisasi

peraturan pengurusan keuangan;

- Penyelesaian kasus kerugian negara lingkup Dep. Kehutanan dilakukan dengan tertib;

- Peningkatan pemahaman tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian kasus kerugian negara di masing-masing satuan kerja/ UPT;

- Ketaatan instansi/ unit kerja terhadap peraturan yang berlaku;

- Tercapainya pengelolaan keuangan yang taat pada aturan-aturan yang berlaku (UU No. 17, UU No. 11, dan sesuai Keppres 42, Keppres 80); - Ketaatan para pengelola keuangan

(7)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Tersusunnya bahan sosialisasi pelimpahan sebagian kewenangan Menhut di bidang Anggaran kepada Koordinator;

- Tercapainya pemahaman yang memadai oleh Koordinator dalam rangka pelimpahan sebagian kewenangan Menhut di Bidang Anggaran kepada Koordinator; 35. Penyusunan laporan-laporan : kasus

kerugian negara; tungkakan PSDH; DR; dan LHP.

- Tersusunnya dokumen laporan kasus kerugian negara lingkup Dep. Kehutanan dengan instansi terkait (BPK RI, Ditjen PLN, dan Ditjen Perbendaharaan);

- Tersusunnya laporan tunggakan PSDH yang telah di PSDTdan DR dengan instansi terkait (BPK RI, DJ PLN, dan Ditjen BPK Dep. Kehutanan);

- Tersusunnya data dan laporan Hasil Pemeriksa (LHP) Itjen, BPK RI di lingkungan Setjen Dep. Kehutanan;

- Tersedianya dokumen laporan Bulanan, Triwulan dan Tahunan dengan instansi terkait BPK RI, DJ PLN, dan Ditjen Perbendaharaan);

- Tersedianya dokumen tentang tunggakan PSDH dan DR yang telah di PSDT dengan instansi terkait;

- Percepatan penyelesaian tindak lanjut LHP Itjen, BPK RI oleh Obrik;

36. Monitoring dan evaluasi penyelesaian kasus kerugian negara dengan BPK, Ditjen PLN, Ditjen Perbendaharaan; tunggakan PSDH; tunggakan DR.

- Tersusunnya data yang akurat dan vailid kasus kerugian negara lingkup Dep. Kehutanan;

- Tersedianya data kasus kerugian negara yang diusulkan penghapus bukuan oleh Ditjen Perbendaharaan; - Tersedianya data tunggakan PSDH

yang telah di PSDT dan DR lingkup Departemen Kehutanan;

- Tersedianya data laporan yang akurat disampaikan pada instansi terkait;

- Percepatan penghapus bukuan kasus kerugian negara oleh Ditjen Perbendaharaan;

- Percepatan penyelesaian tunggakan PSDH dan DR yang telah di PSDT dengan instansi terkait (DJ PLN, BPK RI dan Diitjen Perbendaharaan); 37. Penyelesaian dan tindak lanjut

kasus-kasus kerugian negara (LHP BPK, Itjen).

Tersedianya dokumen kasus kerugian negara yang akan diajukan pada instansi terkait (BPK RI, Ditjen PLN dan Ditjen Perbendaharaan)

Percepatan penyelesaian kasus kerugian negara dengan instansi terkait (BPK RI, Ditjen PLN dan Ditjen Perbendaharaan)

38. Pelaksanaan pembinaan administrasi keuangan dan personel keuangan.

- Tersusunnya bahan pembinaan Administrasi Keuangan lingkup Dep. Kehutanan;

(8)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Tersusunnya data personil pengelola keuangan awal dan yang di revisi (ALB dan Bendaharawan) lingkup Dep. Kehutanan;

- Tersedianya para pengelola

proyek/kegiatan, dan tenaga/ personil keuangan yang siap pakai dan handal;

- Tersedianya data personil pengelola keuangan (ALB dan Bendaharawan) yang akan di revisi;

- Penyelenggaraan keuangan oleh ALB dan Bendaharawan yang taat peraturan dan perundang-undangan yang berlaku;

39. Monittoring pengembalian DR; asset jaminan fidusia, recoveries

pengembalian KUK-DAS, KUPA, dan KHR.

- Laporan perkembangan kredit;

- Tersedianya data asset-asset PHTI yang dijaminkan untuk pinjaman DR;

- Laporan realisasi angsuran Recoveries kredit;

- Laporan realisasi pengembalian kredit

- Diketahuinya hambatan dan masalah PHTI tidak dapat mengangsur sesuai jadual dalam PK;

- Pinjaman DR dijamin dalam bentuk Fidusia dan didaftarkan di Departemen Kehakiman;

- Tersedianya data angsuran pengembalian kredit pasca penyelesaian klaim; - Tersedianya data angsuran

pengembalian kredit; 40. Perhitungan jumlah kewajiban

pinjaman DR; klaim kredit macet KUK-DAS.

- Perhitungan tingkat suku bunga pinjamanDR komersial setiap semester yang selanjutnya ditetapkan kepada Bank penyalur;

- Laporan realisasi pengembalian pinjaman '(Pokok, bunga dan denda); - Keputusan Menhut mengenai

penolakan/ persetujuan penjadualan kembali angsuran pengembalian pinjaman DR oleh PHTI dan BUMN;

- Ditetapkan suku bunga pinjaman DR untuk periode enam bulanan;

- Diketahuinya angsuran pengembalian pinjaman DR, tunggakan;

- Terlaksananya penilaian atas

permohonan penjadualan pinjaman DR dan tersusunnya Addendum Perjanjian Kredit;

41. Penyiapan peraturan mengenai administrasi dan kerjasama keuangan.

- Tersedianya Peraturan tentang Pengurusan Piutang yang macet di lingkungan Dep. Kehutanan; - Tersusunnya Keputusan MenHut

tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Menhut di Bidang Anggaran kepada Koordinator;

- Ketaatan instansi /Unit kerja terhadap Peraturan yang berlaku;

(9)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Tersedianya Surat Perjanjian Kerjasama yang telah diperbaharui;

- Surat Keputusan Bersama yang telah diperbaharui;

- Tersedianya Kepmenhut mengenai mekanisme penjualan saham BUMN Kehutanan pada perusahaan patungan;

- Tersusunnya Surat Perjanjian

Kerjasama disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan;

- Tersusunnya Surat Keputusan Bersama disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan;

- Tersusunnya tata cara penilaian saham yang akan dijual dan penyetoran hasil penjualan saham;

42. Perhitungan dan pembayaran handling fee tahun 2004; pencairan jaminan kredit macet; penyelesaian pertanggung jawaban dana operasional pimpinan.

- Kewajiban Handling Fee kepada bank penyalur pinjaman DR;

- Tersusunnya data perhitungan jumlah kewajiban pembayaran DR;

- Hasil perhitungan jumlah kredit macet yang di klaim oleh BPD;

- Pencairan bilyet Deposito beku sebagai jaminan kredit macet;

- Tertibnya administrasi pertanggung jawaban keuangan Dana Operasional Pimpinan;

- Tersedianyan biaya pembayaran HF sebagai jasa pengelolaan administrasi pinjaman DR;

- Diketahuinya jumlah kewajiban pembayaran DR untuk masa satu tahun;

- Tersedianyan data jumlah kredit macet yang menjadi beban Dephut pada setiap klaim kredit;

- Terselesaikannya pembayaran klaim kredit macet sebagai dasar

pembukuan pengeluaran Dep. Kehutanan;

- Tersusunnya laporan bulanan dan laporan pertanggung jawaban penggunaan Dana Operasional Pimpinan;

43. Pengumpulan dan penyusunan data perhitungan perimbangan keuangan pusat dan daerah; saldo DR; PSDH; dan IUPH.

- Kertas kerja pencocokan data perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dengan Dinas Kehutanan Provinsi;

- Perhitungan DR, PSDH dan IIUPH bagian Daerah yang belum dapat disalurkan pada tahun berjalan;

- Tersedianya dokumen perimbangan keuangan Pusat dan Daerah; - Tersedianya data penerimaan DR,

PSDH dan IIUPH bagian

(10)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

44. Rekonsiliasi penerimaan DR; PSDH; dan IUPHH; dan PNBP.

- Hasil rekonsiliasi DR, sebagai dasar penyaluran DAK DR/bagi hasil DR; - Peningkatan penerimaan negara; - Hasil rekonsiliasi PNBP lainnya ;

- Tersedianya data penerimaan DR Kabupaten/Kota penghasil seluruh Indonesia sebagai dokumen penyaluran dana bagian

Daerah/Kabupaten/Kota penghasil; - Wajib bayar DR dan PSDH mengakui

bahwa setoran DR dan PSDH yang disetor kepada Negara (Dep. Kehutanan) adalah fiktip dan sanggup membayar sejumlah setoran fiktip tersebut ditambah dendanya;

- Kepatuhan Wajib Bayar DR dan PSDH memenuhi kewajiban membayar DR dan PSDH kepada Negara

(Departemen Kehutanan); - Perhitungan Anggaran Penerimaan

PNBP lainnya (PUPA, IUPA, DPEH, IMMMSL) dan lain-lainnya; 45. Penyusunan laporan keuangan DR,

BDR

Hasil monitoring dan evaluasi penyaluran dana bagi hasil PSDH dan IIUPH Kabupaten penghasil atau monitoring dan evaluasi DR dan PSDH yang ditahan di Kabupaten Penghasil tidak disetor ke rekening Dephut/Kas Negara;

Penyaluran dana DR, PSDH dan IIUPH ke Daerah tepat waktu dan kepatuhan Kabupaten penghasil menyetor dana DR, PSDH dan IIUPH sesuai ketentuan yang berlaku;

46. Pembinaan penatausahaan penerimaan dan pelaporan PNBP; dan sosialisasi tata cara pembayaran DR dan PSDH.

- Laporan keuangan DR dan BDR dan bunga DR;

- Tertib administrasi keuangan dalam hal penatausahaan penerimaan PNBP;

- Peningkatan PNBP Departemen Kehutanan;

- Tersedianya dokumen laporan keuangan DR dan BDR dan bunga DR;

- Penatausahaan penerimaan PNBP tertib dalam mengadministrasikan dan melaporkan PNBP Departemen Kehutanan sesuai ketentuan yang berlaku;

(11)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Dipahaminya cara menyetor DR dan PSDH sesuai ketentuan yang berlaku.

- Kepatuhan Wajib Bayar DR, PSDH dan IIUPH menyetor kewajiban DR, PSDH dan IIUPH sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tepat sasaran pembayaran.

47. Monitoring penerimaan kabupaten/kota penghasil.

Hasil rekonsiliasi PSDH dan IIUPH sebagai dasar penyaluran dana bagi hasil PSDH dan IIUPH bagian Daerah;

Tersedianya data penerimaan PSDH dan IIUPH Kabupaten/Kota penghasil seluruh Indonesia, sebagai dokumen penyaluran dana, bagian Daerah/ Kabupaten/Kota penghasil;

48. Pengadaan sarana dan prasarana penunjang

Terlaksananya pengadaan sarana Laptop, komputer dan infocus

Tersedianya alat dan bahan untuk memperlancar pelaksanaan tugas bidang keuangan secara efektif.

3. Pengembangan dan pengelolaan sarana prasarana Departemen Kehutanan

1. Pemeliharaan dan biaya operasional Pemeliharaan, pengamanan,

pembayaran langganan daya dan jasa gedung kantor, rumah jabatan, rumah dinas dan bangunan kedinasan serta perawatan kendaraan operasional dalam waktu 1 tahun.

Terlaksananya kegiatan pemeliharaan dan pengamanan sarpras

Setjen

2 Pemenuhan kebutuhan sarpras penunjang pembangunan kehutanan

Penggandaan dokumen naskah, pengelolaan surat-surat dan arsip serta pelaksanaan keprotokolan

Terlaksananya kegiatan tat persuratan

3. Tata usaha dan rumah tangga Departemen

Tertatanya pelaksanaan tata

usaha/administrasi dan RT Departemen

Terselenggaranya pelaksanaan tata usaha/administrasi dan RT Departemen 4. Pemantapan Desentralisasi

Kehutanan

Koordinasi penyusunan rencana kehutanan dan rencana pengelolaan hutan:

1. Penyusunan Rencana Pembangunan Kehutanan Regional I, II, III, IV). Catatan: Reg I = P. Sumatera; Reg II = Jawa, bali, Nusa Tenggara, Reg III = P. Kalimantan; Reg IV = Sulawesi, Maluku dan Papua.

2. Koordinasi dan sinkronisasi rencana pembangunan kehutanan tingkat propinsi seluruh Indonesia

- Tersusunnya rencana Pembangunan Kehutanan regional I, II, III, IV

- Terwujudnya rencana pembangunan kehutanan yang sinergis antar Pusat – Propinsi dan antar propinsi

- Terwujudnya dokumen rencana pembangunan kehutanan regional P. Sumatera, P. Kalimantan, Jawa-Bali-Nusa Tenggara,Sulawesi-Maluku-Papua

- Sinkronnya rencana pembangunan kehutanan di Propinsi-propinsi Regional I, II, III, IV

(12)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

3. Koordinasi dan sinkronisasi rencana pengelolaan hutan; rehabilitasi DAS, KSA, KPA, dan TB; rehabilitasi hutan, pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar dan penertiban hasil hutan.

4. Sinkronisasi rencana stratejik pembangunan kehutanan dengan rencana pembangunan kehutanan propinsi

- Terwujudnya sinkronisasi pengelolaan hutan; rehabilitasi DAS, KSA, KPA, dan TB; rehabilitasi lahan,

pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar & penertiban hasil hutan di tingkat regional di Propinsi-propinsi seluruh Indonesia

- Terwujudnya sinkronisasi rencana stratejik pembangunan kehutanan dengan rencana pembangunan kehutanan propinsi .

- Sinkronnya rencana pengelolaan hutan di Propinsi-propinsi seluruh Indonesia

- Sinkronnya rencana stratejik pembangunan kehutanan dengan rencana kehutanan propinsi

5. Pengembangan penyuluhan 1. Pengembangan kelembagaan, jaringan kerja dan kemitraan penyuluhan kehutanan

Mantapnya kelembagaan penyuluhan kehutanan di Pusat, Provinsi dan Kab/Kota

- Penyuluhan kehutanan di Pusat, Prov, kab/Kota, dunia usaha dan

masyarakat terstruktur

- Forum-forum penyuluhan kehutanan di setiap tingkatan perkembangan.

Setjen

2. Pemberdayaan masyarakat sasaran penyuluhan kehutanan

Meningkatnya dukungan, peran aktif, kemampuan dan keswadajaan masyarakat sasaran dalam pembangunan kehutanan

- Masyarakat dan petugas yang berprestasi dalam bidang pembangunan kehutanan dapat teridentifikasi dan meningkat kapasitasnya.

- Model-model pemberdayaan masyarakat berkembang. - Kelompok masyarakat produktif

mandiri (KMPM), Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dan Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) berkembang dan meningkat kapasitasnya.

6. Pengembangan kehumasan dan penyebar luasan informasi pembangunan kehutanan

1. Pengembangan kehumasan - Pemberitaan dan publikasi setiap kegiatan pimpinan baik di pusat maupun di daerah

- Kebijakan Dephut dipahami oleh seluruh stakeholder

- Frekuensi liputan intern maupun ekstern

- Frekuensi pemberiataan di media massa terhadap kegiatan pimpinan

Setjen

2. Pembangunan pusat informasi pembangunan kehutanan

- Tersedianya data dan informasi cetak dan elektronik secara komprehensif

- Data informasi komprehensif mudah didapat dan cepat

(13)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Tersebarnya data dan infromasi kehutanan ke seluruh stakeholder

- Stakeholder memiliki data dan informasi kehutanan yang diperlukan - Stakeholder mudah dan cepat

memperoleh data informasi faktual dan aktual yang diperlukan

7. Pemantapan dan Pengembangan Kerjasama Luar Negeri

1. Iuran membership pada organisasi International.

Terpeliharanya kepemilikan hak-hak keanggotaan pada orgnisasi internasional.

Terealisasikannya pembayaran iuran keanggotaan pada organisasi internasional tepat waktu.

Setjen.

2. Pengelolaan Kerjasama bilateral dan regional

- Terwujudnya pertemuan bilateral, regional dan sub-regional bidang kehutanan.

- Terwujudnya pertukaran informasi di bidang kehutanan dalam kerangka kerjasama bilateral, regional dan sub-regional.

- Terwujudnya hubungan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat di kawasan Asia Pasifik, Afrika, Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.

- Meningkatnya hubungan dan kerjasama bilateral dan regional dengan negara-negara sahabat. - Ditandatanganinya kesepakatan/

agreement penanggulangan kejahatan lintas batas di bidang kehutanan (pencurian kayu, dan perdagangan kayu illegal).

- Terwujudnya kesepakatan untuk peningkatan kerjasama ekonomi di kawasan perbatasan.

3. Pengelolaan kerjasama multilateral - Terwujudnya pengakuan posisi Indonesia pada sidang-sidang dibawah organisasi PBB, Non PBB, dan NGO. - Terselenggarakannya persiapan

bersama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka kerjasama multilateral. - Terlaksananya persiapan dan tindak

lanjut hasil-hasil sidang/ konvensi kehutanan.

- Keterwakilan berbagai kepentingan Indonesia terkait dengan kepentingan kehutanan pada sidang-sidang internasional semakin meningkat. - Tersedianya bahan-bahan dalam

rangka kerjasama multilateral. - Penyiapan dan penyampaian materi

konvensi nasional dan iinternasional bidang kehutanan tersusun tepat waktu.

4. Penyiapan kemampuan diplomasi tenaga negosiator, dan tenaga penyusun proposal bantuan luar negeri.

- Tercapainya kapasitas anggora DELRI dalam melakukan negosiasi pada perundingan kehutanan internasional, dan penyusunan proposal proyek-proyek bantuan lembaga internasional.

- Kemampuan tenaga negosiator dan penyusun proposal bantuan lembaga internasional meningkat.

(14)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Terwujudnya penempatan tanaga ahli kehutanan indonesia pada organisasi internasional untuk mencari bantuan dan dukungan upaya penerapan SFM di Indonesia

5. Penyelenggaraan Promosi investasi dan perdagangan internasional

Terlaksananya promosi investasi bidang kehutanan di dalam dan luar neger i melalui proses sinerji kemitraan dalam pelaksanaan promosi investasi dengan negara sahabat.

- Tersedianya kerangka kerjasama dan kemitraan dibidang investasi, UKM, Perdagangan dgn negara-negara lain. - Tersedianya prosedur investasi, daftar

TEL dan SEL komoditas kehutanan terbaru, dan tersedianya buku tarif bea masuk Indonesia sektor kehutanan tahun 2005.

- Peluang pasar baru bagi 4 komoditas HHBK semakin bartambah.

- Kemampuan indonseia dalam menghadapi sidang-sidang perdagangan internasional bidang kehutanan semakin meningkat. 6. Pengembangan kerjasama teknik. - Tercapainya proses kemitraan

pengelolaan evaluasi dan monitoring SDAHE dengan masyarakat (LSM lokal, nasional, dan internasional)

- Fasilitasi inisiatif/usulan kemitraan dari masyarakat di dalam & sekitar hutan kepada donor, serta komitmen kerja-sama dengan kehutanan semakin meningkat.

- Tersusunnya evaluasi pelaksanaan kerjasama kehutanan dengan institusi lain terkait, serta dengan jaringan NGO.

- Tersedianya hasil evaluasi pelaksanaan kerjasama kehutanan dengan institusi lain terkait, serta dengan jaringan NGO.

- Fasilitasi proses pertukaran

pengalaman dan pengetahuan (share learned) tentang KSDAHE semakin meningkat.

- Terwujudnya koordinasi program-program kerjasama bidang kehutanan dengan instasi terkait.

- Forum-forum koordinasi untuk peningkatan kerjasama dibidang kehutanan semakin berkembang. - Terwujudnya kelancaran

penyelenggaraan administrasi atase kehutanan Tokyo.

(15)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

8. Pengembangn ketatalaksanaan dan organisasin Dephut.

1. Evaluasi organisasi Dephut dalam rangka INPRESS No. 13 tahun 1998.

Tersusunnya penyempurnaan organisasi dan tata kerja Dephut.

Tersedianya Kepmenhut penyempurnaan organisasi dan tata kerja Dephut yang lebih efektif.

Setjen

2. Penyusunan uraian tugas jabatan organisasi pusat dan UPT

Tersusunnya uraian jabatan struktural dan non struktural organisasi Dephut Pusat dan UPT.

Tersedianya uraian jabatan struktural dan non struktural organisasi Dephut (Pusat dan UPT) yang lebih efektif. 3. Penyempurnaan pedoman sistem dan

prosedur kerja.

Tersusunnya pedoman sistem prosedur kerja lingkup Dephut.

Tersedianya Keputusan Menhut tentang pedoman sistem prosedur kerja lingkup Dephut.

4. Evaluasi dan penyempurnaan

pembakuan sarana dan prasarana kerja lingkup Dephut.

Tersusunnya pedoman penyempurnaan pembakuan sarana dan prasarana kerja lingkup Dephut.

Tersedianya Keputusan Menhut tentang pembakuan sarana dan prasarana kerja lingkup Dephut.

5. Penyusunan tata hubungan kerja Dephut.

Tersusunnya tata hubungan kerja (TAHUBJA) Dephut.

Tersedianya Keputusan Menhut tentang tata hubungan kerja (TAHUBJA) Dephut. 6. Workshop dan Penyusunan pedoman

penilaian kinerja organisasi.

- Terselenggaranya workshop pembahasan pedoman penilaian kinerja organisasi.

- Tersusunnya pedoman penilaian kinerja organisasi.

- Tersidianya masukan dan materi bagi penyusunan pedoman penilaian kinerja organisasi dari para pihak. - Tersedianya Keputusan Menhut

tentang pedoman penilaian kinerja organisasi.

7. Penyegaran perubahan budaya kerja organisasi.

Tercapainya perubahan perilaku aparatur sebagai pelayan masyarakat.

Meningkatnya peran dan posisi aparatur sebagai pelayan masyarakat.

8. Penyusunan kamus jabatan instansi kehutanan pusat dan UPT.

Terhimpunnya data dan informasi jabatan struktural lingkup Deput (Pusat dan daerah)

Buku data dan informasi jabatan struktural lingkup Dephut lebih mutahir.

9. Kajian penataan batas yurisdiksi (wilayah kerja) organisasi.

Tersusunnya kepastian kewenangan penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi.

Duplikasi tugas dan fungsi organisasi semakin tidak terjadi.

10. Pelaksanaan Tata Usaha Biro Terselenggaranya pelayanan administrasi/tata usaha Biro

Pelayanan administrasi/TU Biro semakin baik (optimal).

11. Penyebar-luasan informasi peraturan perpundangan dan dokumentasi hukum di bidang kehutanan.

Tersebar-luaskannya peraturan perundangan kehutanan.

Kesadaran hukum aparat kehutanan dan mesyarakat meningkat.

12. Pemberian bantuan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana kehutanan.

Terselenggaranya bantuan hukum terhadap perkara tindak pidana kehutanan.

(16)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

13. Penyelesaian pemulihan hak-hak (iuran) negara dibidang kehutanan

Terlaksananya penagihan hak-hak (iuran) negara bidang kehutanan.

Menurunnya tunggakan iuran kehutanan (DR/PSDH).

14. Penanganan perkara gugatan TUN, dan perkara gugatan perdata.

Terselesaikannya perkara-perkara gugatan TUN dan perkara-perkara gugatan perdata.

Kepastian hukum di bidang kehutanan meningkat.

9. Penyusunan peraturan perundangan bidang kehutanan dan konservasi hayati.

1. Menyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangan bidang kehutanan dan konservasi hayati.

- Tersusunnya RUU tentang Konservasi Tanah dan Air.

- Tersusunnya penyempurnaan 6 RPP dan 1 Keppres pelaksanaan UU No. 41 tahun 1999

- Tersusunnya draft RPP tentang Penanggulangan Pencurian Kayu. - Tersusunnya draft KepMenhut

tentang Penataan & Penetapan Kawasan Htn.

- Tersusunnya 5 (lima) draf KepMenhut pelaksanaan PP No. 44/2004, 5 (lima) draft KepMenhut pelaksanaan PP No. 45/2004; 19 (sembilan belas) draft KepMenhut pelaksanaan PP No. 34/2002; dan 4 (empat) draft Kepmenhut

pelaksanaan PP No. 5/1990.

- Proses penetapan UU tentang Konservasi Tanah dan Air dapat dipercepat.

- Tersedianya penyempurnaan 6 RPP dan 1 Keppres pelaksanaan UU No. 41 tahun 1999 untuk disahkan.

- Tersedianya draft RPP tentang penanggulangan pencurian kayu. - Penetapan penataan dan penetapan

kawasan hutan meningkat. - Penetapan KepMenhut mengenai

pengaturan pelaksanaan PP No. 44 dan 45 Tahun 2004, PP No. 34/2002, dan PP No. 5/1990 meningkat.

Setjen

2. Peneympurnaan/revisi peraturan perungdangan yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

- Tersusunnya naska akademis, dan draft penyempurnaan UU No. 5/1990. - Tersusunnya draft penyempurnaan

PP No. 18/1994, dan draft PP No. 68/1998

- Tersedianya draft akademis, dan draft penyempurnaan UU No. 5/1990. - Tersedianya draft penyempurnaan PP

No. 18/1994 dan draft penyempurnaan PP No. 68/1998.

3. Penyusunan tanggapan atas peraturan perundangan sektor lain terkait.

Tersusunnya tanggapan 22 RUU, 14 RPP.

(17)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

4. Penyusunan kajian hukum di bidang kehutanan.

Tersusunnya kajian-kajian tentang : hutan desa; naskah akademis dan arahan kebijakan penangagulangan tindak pidana penebangan pohon; naskah akademis pengelolaan taman buru; penerapan hukum pengelolaan kawasan hutan konservasi; penerapan hukum pinjam pakai kawasan hutan; serta penerapan hukum tukar-menukar kawasan hutan.

Masalah-masalah dan opsi-opsi pengembangan terkait dengan hutan desa; penanggulangan tindak pidana penebangan pohon, taman buru; penerapan hukum pengelolaan kawasan konservasi, pinjam pakai kawasan hutan, dan tukar menukar kawasan hutan dapat diselesaikan danopsi tersedia lebih tepat.

5.Penelaahan hukum kegiatan-kegiatan :

pemberian/ perpanjangan IUPHHK; pelanggaran pemegang IUPHHK; penerapan sistim silvikultur dan

kerjasama pemegang IUPHHK; tumpang tindih areal IUPHHK; Iuran kehutanan; penataan batas IUPHHK; penggunaan peralatan dan pembuatan koridor bagi pemegang IUHHK; serta perlindungan areal IUHHK..

Tersusunnya hasi-hasil telaahan hukum mengenai : : pemberian/ perpanjangan IUPHHK; pelanggaran pemegang IUPHHK; penerapan sistim silvikultur dan kerjasama pemegang IUPHHK; tumpang tindih areal IUPHHK; iuran kehutanan; penataan batas IUPHHK; penggunaan peralatan dan pembuatan koridor bagi pemegang IUHHK; serta perlindungan areal IUHHK.

Masalah-masalah hukum dan opsi-opsi kebijakan mengenai : pemberian/ perpanjangan IUPHHK; pelanggaran pemegang IUPHHK; penerapan sistim silvikultur dan kerjasama pemegang IUPHHK; tumpang tindih areal IUPHHK; iuran kehutanan; penataan batas IUPHHK; penggunaan peralatan dan pembuatan koridor bagi pemegang IUHHK, serta perlindungan areal IUHHK dapat diselesaikan dan tersedia lebih optimal.

Setjen

6. Penelaahan hukum kegiatan-kegiatan : ijn usaha pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu pada HP; industri kehutanan; HKm;dan RH.L.

Tersusunnya hasil-hasil telaahan mengenai : ijn usaha pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu pada HP; industri kehutanan; HKm;dan RH.L.

Masalah-masalah hukum dan opsi kebijakan mengenai : ijn usaha pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu pada HP; industri kehutanan; HKm;dan RH.L dapat diselesaikan dan tersedia opsi pengembangan yang lebih optimal.

7. Penelaahan hukum mengenai

kegiatan-kegiatan : pelepasan kawasan hutan di wilayah Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tenggara; Perubahan status dan fungsi kawasan hutan; inventarisasi kehutanan; tumpang tindih pemanfaatan kawasan hutan; pengukuhan kawasan hutan, dan perambahan kawasan hutan.

Tersusunnya hasil-hasil kajian mengenai : pelepasan kawasan hutan di wilayah Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tenggara; Perubahan status dan fungsi kawasan hutan; inventarisasi kehutanan; tumpang tindih pemanfaatan kawasan hutan; pengukuhan kawasan hutan, dan perambahan kawasan hutan.

(18)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

dapat diselesaikan dan opsi kebijakan lebih optimal..

8. Penelaahan hukum kegiatan-kegiatan :

litbang kehutanan, diklat kehutanan, penyuluhan kehutanan, pariwisata dan jasa lingkungan, penagkaran dan perburuan satwa liar, perlindungan dan konservasi kawasan, penaggulangan kebakaran hutan, pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

Tersusunnya hasil-hasil kajian mengenai kegiatan-kegiatan : litbang kehutanan, diklat kehutanan, penyuluhan kehutanan, pariwisata dan jasa lingkungan,

penagkaran dan perburuan satwa liar, perlindungan dan konservasi kawasan, penaggulangan kebakaran hutan, pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

Masalah-masalah hukum dan opsi kebijakan mengenai : litbang kehutanan, diklat kehutanan, penyuluhan kehutanan, pariwisata dan jasa lingkungan,

penagkaran dan perburuan satwa liar, perlindungan dan konservasi kawasan, penaggulangan kebakaran hutan, pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, dapat diselesaikan dan opsi kebijakan lebih optimal. 9. Melaksanakan hormonisasi peraturan

perundangan bidang rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial.

Tersusunnya rekomendasi dalam rangka penyempurnaan peraturan perundangan dibidang rehabilitasi lahan dan

perhutanan sosial.

Tersedianya kajian yuridis bidang rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial yang lebih dapat dipertanggung jawabkan.

10. Pengembangan standarisasi dan sertifikasi serta pengendalian kerusakan lingkungan

1. Pengembangan standarisasi dan sertifikasi bidang kehutanan

- Terlaksananya pengembangan standarisasi untuk meningkatkan mutu hasil hutan melalui perumusan SNI - Terlaksananya pengembangan

sertifikasi bidang kehutanan dalam rangka mencapai hutan lestari (SPHL)

- Terlaksananya kegiatan orientasi produk/proses di 15 prop - Terlaksananya penyusunan RSNI

pembahasan konsep standar dan konsensus

- Tersedianya standar nasional regional dan regional dan internasional bidang kehutanan

- Tercapainya pemantauan dan evaluasi penerapan standar hasil hutan di 10 prop

- Terlaksananya evaluasi

Setjen

2. Pengendalian kerusakan lingkungan Terwujudnya pengendalian kerusakan lingkungan

- Terlaksananya koordinasi dalam rangka evaluasi kerusakan lingkungan

- Terlaksananya kegiatan evaluasi kerusakan lingkungan

3. Peningkatan sadar mutu dan lingkungan Terlaksananya peningkatan sadar mutu dan lingkungan

(19)

1 2 3 4 5 6 Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan

- Terwujudnya pemasyarakatan pelaksanaan sistem standarisasi dan sertifikasi

No. Program/Kegiatan Pokok Kegiatan Kehutanan 2005 Sasaran/Keluaran Indikator Instansi

Pelaksana

1 2 3 4 5 6

Program Pembinaan Produksi Kehutanan 1. Pembinaan, perencanaan dan

pengelolaan pembangunan kehutanan

1.Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan kehutanan di tingkat regional I, II, III dan IV

2.Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pemantapan kawasan hutan di tingkat regional I, II,. III dan IV

3.Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengamanan dan peredaran hasil hutan di tingkat regional I, II, III dan IV.

4.Monitoring pelaksanaan kebijakan kehutanan di daerah

5.Evaluasi kinerja pelaksana

pembangunan kehutanan di daerah

- Termonitor dan terevaluasinya pelaksanaan pembangunan kehutanan di propinsi seluruh Indonesia

- Termonitor dan terevaluasinya pelaksanaan pemantapan kawasan hutan di propinsi-propinsi seluruh Indonesia

- Termonitor dan terevaluasinya pelaksanaan pengamanan dan peredaran hasil hutan di seluruh propinsi di Indonesia

- Terwujudnya sinergi kebijakan pembangunan kehutanan antara Pusat-Daerah dan antar daerah di tingkat regional.

- Terlaksananyaevaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan kehutanan di daerah

- Mingkatnya pencapaian kegiatan sesuai tolok ukur yang ditetapkan ; teratasinya kendala dan hambatan dalam pembangunan kehutanan - Terarahnya kegiatan pengukuhan

hutan di seluruh Indonesia

- Menurunnya tindak pelanggaran terhadap SDH dan hasil hutan di seluruh Indonesia

- Kebijakan kehutanan di daerah yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku di seluruh Indonesia menurun

- Terwujudnya penyelenggaraan pembangunan kehutanan yang akuntabel di seluruh Indonesia.

Setjen

2. Pengembangan dan pengelolaan sarana prasarana Departemen Kehutanan

1. Pengembangan sistem IKMN Terwujudnya Program komputerisasi IKMN

Barang milik negara lingkup Dephut terinventarisir dengan baik

Setjen

2. Pemenuhan kebutuhan sarpras penunjang pembangunan kehutanan

Terealisasikannya Pengadaan sarpras penunjang pembangunan kehutanan

(20)

1 2 3 4 5 6 Program Pembinaan Produksi Kehutanan

3. Pemeliharaan asset Dephut Terselenggaranya pemeliharaan Sarpras Dephut

Sarpras Dephut berfungsi optimal

3. Pemantapan Desentralisasi Kehutanan

1. Penataan dan sosialisasi kewenangan kehutanan sebagai pelaksanaan UU No. 32/2004.

Tersusunnya kewenangan

penyelenggaraan urusan kehutanan Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota.

Pembagian kewenangan kehutanan di tingkat pusat, provinsi, & kabupaten/kota tersebar-luaskan dan dipatuhi para pihak.

Setjen, Baplan.

2. Pelaksanaan Workshop desentralisasi sektor kehutanan.

Teridentifikasi data, informasi, dan masalah desentralisasi sektor kehutanan di Indonesia.

Mekanisme dan Proses desentralisasi sektor kehutanan dapat berjalan lebih baik.

4. Pengembangan penyuluhan kehutanan

1. Pengembangan metoda dan materi penyuluhan

Tersusun dan tersedianya metode dan materi penyuluhan kehutanan, dlm bentuk bahan cetakan dan bahan elektronik.

- Alternatif metode penyuluhan kehutanan sebagai acuan para penyuluh kehutanan tersedia - Bahan suluhan terdokumentasikan

dalam bentuk booklet, leaflet, poster, buku dan bahan elektronik

- Penyuluh kehutanan dan masyarakat dapat memperoleh informasi dari bahan suluhan yang terdistribusikan

Setjen

2. Pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan

Tersedianya sarana dan prasarana dan alat bantu penyuluhan kehutanan yang memadai

Persyaratan minimal sarana, prasarana dan alat bantu penyuluhan kehutanan terpenuhi

3. Pengembangan tenaga penyuluhan Meningkatnya kapasitas tenaga penyuluhan kehutanan, terutama dalam pempingan masyarakat.

- Angka kredit penyuluh kehutanan dapat dinilai dan ditetapkan - Kapasitas penyuluhan dan tenaga

penyuluh kehutanan meningkat. 5. Pengembangan kehumasan dan

penyebarluasan informasi pembangunan kehutanan

1. Pengembangan sistem informasi pembangunan kehutanan

Tersusunnya data informasi yang aktual dan faktual baik secara komprehensif maupun per Eselon I baik cetak maupun elektronik

- Tersedianya data elektronik dan cetak komprehensif dan per Eselon I - Data yang tersedia faktual dan aktual

yang mudah dan cepat didapat

Setjen

2. Pengembangan networking sumber informasi

- Tersusunnya sistem pengumpulan, pengolahan, penyajian data dan informasi yang komprehensid per Eselon I

- Update & verifikasi data mudah & cepat

- Data yang tersedia baik elektronik maupun cetak selalu aktual dan faktual serta mudah dan cepat didapat - Terbangunnya kerjasama data dan

informasi dengan para stakeholder

(21)

1 2 3 4 5 6 Program Pembinaan Produksi Kehutanan

6. Penyiapan prakondisi dan pembentukan unit pengelolaan

1. Melakukan redesign/penataan hutan produksi

Terlaksananya redesain/penataan hutan produksi seluas 5 juta hektar

Tertatanya areal hutan produksi untuk pemanfaatan usaha kehutanan dan non kehutanan

Ditjen BPK

2. Melaksanakan pelelangan areal IUPHHK Hutan Alam dan Hutan Tanaman

Terlaksananya penyiapan pelelangan areal areal IUPHHK Hutan alam dan tanaman sebanyak 20 unit

Tersedianya data calon lokasi IUPHHK Hutan Alam dan Hutan Tanaman

7. Pembinaan kelembagaan usaha pemanfaatan hutan

1. Melaksanakan penilaian/audit kinerja PHPL pada unit manajemen

Terlaksananya penilaian 60 unit IUPHHK Hutan Alam definitif dan 40 unit IUPHHK Hutan Tanaman (definitif, pencadangan dan SK. Sementara)

Tersedianya rekomendasi hasil penilaian kinerja IUPHHK pada unit manajemen

Ditjen BPK

2. Melaksanakan pengembangan perencanaan dan kelembagaan usaha pemanfaatan hutan produksi

Pengembangan perencanaan dan kelembagaan di 30 Provinsi

Terselenggaranya restrukturisasi usaha kehutanan

3. Melakukan pembinaan dan pengendalian pengelolaan hutan dan produksi hasil hutan

Pembinaan dan pengendalian pengelolaan hutan dan produksi hasil hutan di 30 Provinsi

Terselenggaranya pembinaan dan pengendalian pengelolaan hutan dan produksi hasil hutan

8. Pengembangan hutan tanaman 1. Membangun model unit manajemen hutan Meranti

Pengembangan model unit manajemen hutan Meranti, 2.000 hektar/5 unit

Terbangunnya unit manajemen hutan tanaman Meranti dan diperolehnya pengetahuan yang komprehensif tentang pembangunan HTM

Ditjen BPK

2. Merencanakan dan mengevaluasi pembangunan hutan tanaman

Terlaksananya rencana dan evaluasi pembangunan hutan tanaman pada 17 Provinsi

Tersedianya rencana rehabilitasi HP yang tidak produktif dan data realisasi pembangunan hutan tanaman 3. Membangun hutan tanaman jenis

unggulan lokal

Terlaksananya pembangunan hutan tanaman unggulan lokal seluas 12.000 hektar di 16 Provinsi

Terbangunnya hutan tanaman jenis unggulan lokal

9. Pengembangan pemasaran dan pengendalian peredaran

1. Menyusun renstra produk hasil hutan Tersusunnya 1 paket Renstra produk hasil hutan

Tersusunnya kebijakan pemasaran HH kayu dan non kayu serta meningkatnya nilai eksport produksi HH yang bernilai tambah tinggi.

Ditjen BPK

2. Mengembangkan sistem pengawasan peredaran hasil hutan

Tersusunnya 1 paket sistem pengawasan peredaran hasil hutan.

Terpantaunya peredaran HH dan lalu lintas dokumen hasil hutan

10. Pembinaan dan penertiban industri hasil hutan

1. Penertiban IPHHK illegal dan

pengembangan pemasaran hasil hutan

Tersusunnya pemolaan dan

pengendalian industri/pemasaran hasil hutan di 30 Provinsi

Tertibnya IPHHK dan berkurangnya pengolahan kayu illegal serta terbangunnya jaringan informasi hasil hutan

(22)

1 2 3 4 5 6 Program Pembinaan Produksi Kehutanan

2. Pelaksanaan penilaian kinerja IPHHK > 6.000 m3/thn melalui evaluasi dan pemeriksaan oleh Tim Gabungan dan LPI Mampu

Terlaksananya penilaian kinerja dan evaluasi/penertiban IPHHK, 30 unit

Meningkatnya kinerja IPHHK dan penurunan kapasitas izin bagi IPHHK yang mempunyai kinerja kurang/buruk dan yang tdk ada pasokan jaminan bahan baku yang berkelanjutan. 11. Pengembangan hasil hutan non kayu 1. Pengembangan unit-unit usaha ekonomi

masyarakat sekitar hutan produksi

Terlaksananya peningkatan usaha masyarakat sekitar hutan produksi di 30 Provinsi

Berkembangnya unit-unit usaha ekonomi masyarakat yang memanfaatkan hasil hutan non kayu sekitar hutan produksi, sehingga mengurangi penebangan liar dan meningkatnya kesadaran

masyarakat tentang arti dan fungsi hutan.

Ditjen BPK

2. Membangun model-model Social Forestry pada kawasan hutan produksi

Terlaksananya pengembangan Social Forestry di 7 lokasi

Terbangunnya model unit manajemen SF pada kawasan hutan produksi

3. Membangun model-model pengelolaan hutan produksi bersama masyarakat

Terlaksananya pembuatan model pengelolaan hutan produksi bersama masyarakat di 13 lokasi

Terbangunnya model pengelolaan hutan bersama masyarakat

12. Optimalisasi penerimaan Negara bukan pajak

1. Mengupayakan penyelesaian tunggakan dan intensifikasi iuran kehutanan PSDH/DR

Terselesaikannya tunggakan dan intensifikasi iuran kehutanan PSDH/DR dengan instansi terkait di 16 Provinsi

Meningkatnya penerimaan PSDH/DR sesuai rencana dan tepat waktu

Ditjen BPK

2. Menyusun dan membahas RPP dana jaminan kinerja dan dana investasi pengelolaan hutan lestari

Tersusunnya kebijakan dana jaminan kinerja dan dana investasi pelestarian hutan, 1 paket

Terbitnya Peraturan Pemerintah di bidang DJK dan DIPH

13. Pembinaan dan pengendalian kualitas pengelolaan hutan lestari dan produksi hasil hutan

1. Melakukan pengembangan sistem informasi manajemen hutan lestari dan peredaran hasil hutan

Terbentuknya pengembangan sistem informasi manajemen hutan lestari dan peredaran hasil hutan di 17 BSPHH

Terpantaunya peredaran hasil hutan dan lalu lintas dokumen hasil hutan

Ditjen BPK

2. Melakukan pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan

- Terlaksananya pengembangan sertifikasi dan pengujian hasil hutan di 17 BSPHH

- Terwujudnya sistem standardisasi sertifikasi pengujian hasil hutan

- Terpenuhinya belanja non pegawai di 18 satker Pusat dan UPT BSPHH

- Tersedianya dana untuk kelancaran tugas sertifikasi dan pengujian hasil hutan.

14 Pengembangan standarisasi dan sertifikasi serta pengendalian kerusakan lingkungan

1. Pengembangan standarisasi dan sertifikasi bidang kehutanan

- Terlaksananya pengembangan standarisasi untuk meningkatkan mutu hasil hutan melalui perumusan SNI - Terlaksananya pengembangan

sertifikasi bidang kehutanan dalam rangka mencapai hutan lestari

- Terlaksananya penyusunan RSNI, pembahasan konsep standar dan konsensus

(23)

1 2 3 4 5 6 Program Pembinaan Produksi Kehutanan

- Tercapainya pemantauan dan evaluasi penerapan standar hasil hutan 5 propinsi

- Terlaksananya evaluasi kesiapan Unit Manajemen SPHL

2. Pengendalian kerusakan lingkungan Terwujudnya pengendalian kerusakan lingkungan

- Tersusunnya pedoman penyusunan laporan pelaksanaan RKL & RPL, evaluasi pelaksanaan RKL & RPL, evaluasi aspel lingkungan pada UPHHK

- Terpantaunya kualitas lingkungan kehutanan

- Terlaksananya monitoring & koordinasi pengendalian kerusakan lingkungan

Peningkatan sadar mutu dan lingkungan Terlaksananya peningkatan sadar mutu dan lingkungan

- Masyarakat mengetahui konsep pengelolaan lingkungan kehutanan, pelaksanaan standarisasi dan sertifikasi

- Terwujudnya akreditasi laboratorium melalui pelatihan ISO 17025

- Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan SDM kehutanan melalui diklat/kursus, seminar

No. Program/Kegiatan Pokok Kegiatan Kehutanan 2005 Sasaran/Keluaran Indikator Instansi

Pelaksana

1 2 3 4 5 6

Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan 1. Perencanaan dan evaluasi

perencanaan pembangunan kehutanan

1.Koordinasi, penyusunan dan evaluasi rencana dan program pembangunan kehutanan.

- Tersusunnya buku Rencana Kerja Badan Planologi tahun 2006

- Keputusan Kepala Badan Planologi Kehutanan tentang Renja-Badan Planologi Kehutanan tahun 2006

(24)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Tersusunnya buku Rencana Strategis (Renstra) Badan Planologi Kehutanan tahun 2005-2009

- Keputusan Kepala Badan Planologi Kehutanan tentang Rencana Strategis Badan Planologi Kehutanan th 2005-2010

- Terlaksananya evaluasi kegiatan dan kinerja lingkup Badan Planologi Kehutanan

- Tersedianya satu rekomendasi untuk peningkatan pelaksanaan kegiatan dan kinerja lingkup Badan Planologi Kehutanan.

- Tersedianya data dan informasi perkembangan pelaksanaan kegiatan Badan Planologi Kehutanan.

- Terkoordinasinya penyusunan perencanaan, dan kegiatan pengelolaan tata usaha.

- Dicapainya kesamaan dan keterpaduan perencanaan bidang planologi kehutanan dengan bidang lainnya

- Tersusunnya buku perencanaan penganggaran th 2006

- Tersedianya dokumen rencana, anggaran, dan kegiatan tahun 2006 - Konsolidasi, sosialisasi, dan koordinasi

pelaksanaan rencana dan kebijakan kehutanan (Pusat dan daerah).

- Tersedianya satu rekomendasi langkah peningkatan koordinasi rencana dan kebijakan kehutanan

- Terselenggaranya bimbingan teknis

dan pembinaan penyusunan rencana, program, dan anggraan.

- Penyusunan rencana, program, dan anggaran pembangunan kehutanan lebih optimal.

2. Penyusunan, penyempurnaan dan evaluasi rencana – rencana kehutanan.

- Tersusunnya Rencana Pembangunan Kehutanan jangka pendek (Renja-KL) Departemen Kehutanan 2006

- KepMenhut tentang Renja-KL Dephut tahun 2006.

- Tersusunnya Rencana Jangka Menengah (RENSTRA ) Dephut 2005-2009.

- KepMenhut tentang Renstra Dephut 2005-2009.

- Tersusunnya Kerangka Acuan Rencana Kehutanan Nasional Jangka Panjang (20 tahun).

- Draft Kerangka Acuan Rencana Kehutanan Nasional Jangka Panjang (2006-2026).

- Tersusunnya Rencana Makro/ Master Plan (MP) Konservasi.

- Tersedianya kerangka acuan dan konsepsi penyusunan Rencana Makro Konservasi.

- Tersusunnya Rencana Makro/ Master Plan (MP) Pemanfaatan Hutan.

(25)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Tersusunnya evaluasi pelaksanaan MP-RHL.

- Tersedianya rekomendasi bagi penyempurnaan rencana dan pelaksanaan kegiatan RHL. - Tersusunnya penyempurnaan

MP-RHL Provinsi Jateng, DIY, dan Jatim.

- Tersedianya draft perbaikan MP-RHL berupa data dan informasi untuk Provinsi Jateng, DIY, dan Jatim. - Tersosialisasikannya MP-RHL kepada

para pihak.

- Pencapaian kegiatan RHL dan pemantapan kawasan hutan meningkat.

- Tersusunnya rekomendasi hasil analisis sektor kehutanan bagi penyusunan rencana jangka panjang.

- kebijakan pokok bagi penyusunan rencana jangka panjang sektor kehutanan memilki jangkauan kedepan bagai terwujudnya pengelolaan SFM. 3. Evaluasi rencana dan kebijakan

kehutanan nasional dan daerah.

- Terlaksananya konsolidasi, koordinasi, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, serta rencana-rencana kehutanan nasional dan daerah

- Tersedianya rekomendasi langkah peningkatan pelaksanaan kebijakan prioritas Dephut.

- Tersedianya rekomendasi langkah peningkatan sinergitas rencana dan kebijakan kehutanan nasional dan daerah.

- Tersedianya rekomendasi langkah-langka peningkatan koordinasi perencanaan dan kebijakan kehutanan.

- Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan komitmen pemerintah bidang kehutanan, serta identifikasi rencana dan kebijakan kehutanan daerah.

- Tersedianya rekomendasi langkah peningkatan pelaksanaan komitmen pemerintah bidang kehutanan. - Tersedianya data dan informasi

rencana dan kebijakan kehutanan daerah.

- Terlaksananya analisis (sektor) terhadap penerapan kebijakan dan rencana kehutanan.

- Rekomendasi bagi perbaikan dan penajaman kebijakan dan rencana kehutanan lebih lanjut yang lebih tepat sasaran sesuai visi dan misi Dephut. 5. Penyusunan arahan pembangunan

kehutanan wilayah perbatasan antar negara

- Tersusunnya arahan pengelolaan hutan di wilayah perbatasan

- Terkoordininasinya kegiatan-kegiatan sektor kehutanan di wilayah

(26)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

6. Koordinasi dan bimbingan teknis antar sektor

- Terlaksananya sinkronisasi pembangunan sektor kehutanan dengan sektor lainnya.

- Tersusunnya laporan hasil fasilitasi dan koordinasi guna bahan pengambil kebijakan program sosial forestry. - Tersusunnya hasil koordinasi

penyelesaian masalah-masalah perubahan kawasan hutan.

- Terlaksananya pembinaan administrasi keuangan.

- Dipatuhinya aturan yang berlaku dalam pelaksanaan kegiatan keplanologian dan menurunnya jumlah kerugian negara

- Tercapainya sinkronisasi penyelesaian masalah kehutanan

- Keterpaduan pembangunan sektor kehutanan dengan sektor lainnya meningkat.

- Tersedianya rencana kegiatan sosial forestry antar sektor.

- Penyelesaian masalah-masalah perubahan kawasan hutan semakin optimal

- Meningkatnya tata tertib pelaksanaan administrasi keuangan negara - Meningkatnya penyelesaian tindak

lanjut LHP dan kasus kerugian negara

- Menurunnya jumlah masalah kehutanan

7. Penyusunan sistem perencanaan kehutanan

- Tersusunnya Sistem Perencanaan Kehutanan (Sisperhut),

- Tersusunnya Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan (RPH)

- Tersedianya Permenhut sebagai acuan penyusunan rencana kehutanan di pusat dan daerah, - Tersedianya Permenhut sebagai

acuan penyusunan rencana pengelolaan hutan (RPH). 8. Evaluasi rencana dan kebijakan

kehutanan nasional dan daerah.

- Terlaksananya evaluasi pelaksanaan kebijakan Dephut

- Terlaksananya evaluasi rencana-rencana kehutanan nasional dan daerah

- Terlaksananya monitoring dan evaluasi komitmen pemerintah bidang kehutanan

- Terlaksananya diskusi publik rencana dan kebijakan kehutanan

- Tersedianya beberapa rekomendasi langkah peningkatan pelaksanaan kebijakan prioritas Dephut

- Tersedianya rekomendasi guna peningkatan sinergitas rencana dan kebijakan kehutanan nasional dan daerah

- Tersedianya beberapa rekomendasi langkah peningkatan pelaksanaan komitmen

(27)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Terlaksananya identifikasi rencana dan kebijakan kehutanan daerah

- Tersedianya satu set informasi kebijakan kehutanan daerah 9.Koordinasi dan monitoring percepatan

pembangunan di wilayah Daerah Tertinggal.

Terkoordinir dan termonitornya percepatan pembagunan daerah tertinggal.

Tersedianya suatu acuan untuk

merencanakan kegiatan bagi percepatan pembangunan daerah tertinggal. 10. Pengembangan SDM dan kelembagaan - Terlaksananya pengembangan

jabatan fungsional lingkup Dephut - Terlaksananya penilaian kinerja SDM - Terlaksananya bimbingan &

pembinaan pegawai Baplan pusat dan daerah

- Terlaksananya pembinaan administrasi kepegawaian di Pusat dan Daerah

- Terlaksananya pelatihan penilaian penjenjangan jabatan fungsional PEH - Terlaksananya pelatihan penilaian

angka kredit

- Terlaksananya pemberdayaan SDM Baplan

- Terlaksananya pelatihan dan apresiasi GIS dan Remote Sensing Dasar dan Lanjutan

- Terlaksananya pelatihan pengelolaan administrasi kepegawaian bagi pegawai Baplan Pusat dan Daerah - Terlaksananya pelatihan tata

persuratan dan kearsipan lingkup pusat dan daerah

- Tersusunnya tata hubungan kerja instansi kehutanan pusat dan daerah - Terlaksananya pemantauan, evaluasi

data persuratan bidang planologi kehutanan

- Terlaksananya pengelolaan kerumahtanggaan badan planologi kehutanan

- Terciptanya jabatan fungsional yang berdaya guna

- Kinerja SDM meningkat

- Tersedianya pegawai yang dapat melaksanakan tugas sesuai

peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berdisiplin

- Tersedianya data pegawai daerah dan pusat yang “up to date” - Tersedianya 20 tenaga fungsional

yang profesional

- Tersedianya 20 tenaga fungsional yang profesional

- Tersedianya 10 tenaga fungsional yang profesional

- Tersedianya 20 tenaga yang cakap dan terampil bidang GIS diPusat dan Daerah

- Tersedianya 10 tenaga administrasi kepegawaian yang profesional - Tersedianya 10 tenaga terampil di

bidang tata persuratan dan kearsipan - Tersedianya tata hubungan kerja

organisasi Baplan di Pusat dan Daerah

- Menurunnya masalah yang ada - Tersedianya sarpras yang memadai

untuk pengembangan database persuratan & kearsipan

(28)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Terlaksananya pembekalan penyusunan rencana & evaluasi pelaksanaan rencana kehutanan - Terlaksananya analisis penguatan

desentralisasi bidang kehutanan

- Tersedianya satu set rekomendasi langkah peningkatan penguatan desentralisasi bidang kehutanan

10. Pengembangan sarana, prasarana, dan pengelolaan insentif pegawai.

- Terselenggaranya pengadaan sarana dan prasarana bagi kegiatan keplanologian.

- Terkalibrasinya peralatan GPS Geodetic dan theodolite (T0).

- Tersedianya sarana dan prasarana baru bagi peningkatan kinerja organisasi.

- Terpelihataranya dan tersedianya 3 peralatan GPS Geodetic siap pakai - Tersedianya minimal 2 lap top dan 4

komputer untuk memperlancar -pelaksanaan kegiatan

- Terlaksananya kegiatan organisasi dengan baik dan lancar.

- Operasional kegiatan berjalan secara optimal.

- Tercapainya kesejahteraan pegawai. 2. Pemantauan Sumber Daya Hutan 1. Pengadaan, penafsiran, dan analisa

citra.

- Terlaksananya kegiatan penafsiran citra resolusi tinggi dan pengecekan lapangan untuk pemantauan di wilayah perbatasan dan Taman Nasional.

- Tersedianya data dan peta hasil penafsiran citra resolusi tinggi. - Tersedianya data indikasi aktifitas

penebangan liar di beberapa TN.

- Terlaksananya kegiatan penafsiran citra resolusi rendah untuk pemantauan global.

- Tersedianya data dan peta hasil penafsiran citra resolusi rendah.

- Terlaksananya pembuatan peta secara tiga dimensi.

- Tersedianya data dan peta hasil penafsiran citra airbone radar. - Terlaksananya pemantauan

kebakaran hutan melalui data hot spot.

- Tersedianya data hot spot yang siap pakai untuk pemantauan SDH

- Terlaksananya pemantauan kegiatan rehabilitasi dan konservasi, serta penaksiran SDH dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.

- Tersedianya data pemantauan kegiatan rehabilitasi dan konservasi, serta data hasil penaksiran SDH.

- Terlaksananya pengadaan bahan dan alat pendukung kegiatan pemantauan SDH.

(29)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Tersusunnya penyempurnaan standar penafsiran.

- Tersedianya standar penafsiran yang diperbaharui.

- Terlaksananya pengembangan pengetahuan dan kemampuan SDM pemantau SDH di Daerah.

- Tersedianya SDM pemantau SDH yang berkualitas di daerah.

2. Penyusunan data potensi SDH - Tersusunnya data potensi SDH per kabupaten

- Tersedianya satu set data SDH nasional sebagai acuan dalam perencanaan pengelolaan hutan - Terlaksananya bimbingan &

pembinaan kegiatan inventarisasi SDH di daerah

- Tercapainya hasil kegiatan inventarisasi SDH yang optimal

- Terlaksananya evaluasi jatah produksi tahunan (JPT) Nasional

- Tersedianya suatu rekomendasi gambaran wilayah tentang kondisi potensi SDH

- Tersusunnya data potensi dan pertumbuhan tegakan hutan

- Tersedianya satu set data dan informasi potensi dan riap tegakan hutan

- Tersusunnya data hasil re-enumerasi PSP yang akurat

- Tesedianya kualitas data PSP yang akurat

- Tersusunnya data dan informasi potensi dan riap tegakan

- Tersedianya model “growth and yield” bagi perhitungan volume tegakan dan memiliki ketelitian yang optimal.

3. Inventarisasi hutan - Tersedianya data statistik SDH yang mencakup berbagai aspek

(lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya)

- Tersedianya satu set data dan informasi sumber daya hutan yang lengkap

- Tersusunnya program pengelolaan data hasil inventarisasi hutan multi aspek

- Tersedianya satu laporan hasil inventarisasi hutan multi aspek dengan lebih cepat

- Terlaksananya sosialisasi kriteria dan standar inventarisasi hutan di daerah

- Terbangunnya suatu persamaan persepsi dalam pelaksanaan inventarisasi hutan

- Tersusunnya data SDH secara nasional

(30)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Tersusunnya laporan NSDH Nasional - Tersedianya satu set data SDH nasional sebagai acuan dalam perencanaan pengelolaan hutan - Tersusunnya buku laporan PDRB

berwawasan lingkungan guna bahan pengambil kebijakan

- Teridentifikasinya peran sektor kehutanan dlm perekonomian nasional

4. Inventarisasi hak adat dan ulayat Tersusunnya buku hasil inventarisasi hak adat dan ulayat sebagai sumber data terbaru

Teridentifikasinya beberapa hak adat dan ulayat

5. Inventarisasi sosial budaya di 24 propinsi - Terlaksananya kegiatan inventarisasi sosial budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan secara lebih seragam

- Tersedianya minimal 20 tenaga inventarisasi sosbud di BPKH dan dinas kehutanan propinsi

- Tersusunnya Data terbaru tentang kondisi sosial budaya masyarakat di dlm & sekitar kws hutan konservasi / TN

- Tersedianya satu set data dan informasi sosial budaya masyarakat di dalam/sekitar kawasan konservasi/TN

- Tersusunnya data terbaru tentang kondisi sosial budaya masyarakat di sekitar areal kerja HPH

- Tersedianya satu set data dan informasi kondisi sosial budaya masyarakat di sekitar areal kerja HPH 3. Pemantapan Kawasan Hutan 1. Pengukuhan kawasan hutan - Terwujudnya penunjukan kawasan

hutan dan perairan propinsi sesuai dengan fungsi hutannya

- Ditetapkannya peta penunjukan kawasan hutan dan perairan propinsi dengan Keputusan Menhut.

Baplan

- Terwujudnya batas kawasan konservasi perairan

- Ditetapkannya lokasi kawasan konservasi perairan dengan Kepmenhut.

- Terselesaikannya dokumen BATB sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

- Tersedianya BATB kawasan hutan yang lengkap untuk sekurang-kurangnya 5 lokasi yang siap ditetapkan Menhut.

- Terselesaikannya penetapan min 5 kawasan hutan yang sudah selesai ditata batas temu gelang

- Terwujudnya status hukum minimal 5 lokasi kawasan hutan yang sudah ditata batas temu gelang - Tersusunnya data dan peta kawasan

hutan

(31)

1 2 3 4 5 6 Program Pembangunan dan Pembinaan Kehutanan

- Termonitornya kegiatan pengukuhan kawasan hutan yang berasal dari tanah kompensasi / tanah pengganti

- Tersedianya data tanah kompensasi/ tanah pengganti sebagai kawasan hutan di 10 lokasi

- Terselenggaranya pengelolaan kawasan hutan sesuai fungsinya

- Tumpang tindih pengelolaan kawasan hutan berkurang.

- Terciptanya kemantapan kegiatan/ pekerjaan pada kawasan hutan oleh masyarakat setempat dalam rangka rehabilitasi dan konservasi SDH

- Terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan rehabilitasi dan konservasi SDH secara berkesinambu

Referensi

Dokumen terkait

Banyumas PERAWAT RUANG PERAWATAN 1 9 3 HIDAYATUL MUKAROMAH WONOSOBO 11 JULI 1983 NEMPLAK, RT/RW 014/005 KARANGANYAR, WADASLINTANG, WONOSOBO PERAWAT RUANG PERAWATAN 1 9 4 SEPTI

yang terletak pada perairan kepulauan Natuna merupakan struktur fixed platform yang menggunakan jacket sebagai struktur penopang beban, akan tetapi letak Indonesia

Sekarang kita bisa menyaksikan sama-sama bahwa kejahatan dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh Orde Baru (beserta para pendukungnya) bukan hanya penggulingan

Hasil ini sejalan dengan penelitian terdahulu hanya saja terdapat perbedaan pada pengaruh pengungkapan CSR jangka panjang dengan return on asset hal ini dapat

Garam ini dapat diperoleh dengan cara melarutkan besi atau besi (II) sulfida dalam asam sulfat encer, sesuai dengan reaksiC. Setelah larutan disaring, kemudian diuapkan,

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, akar permasalahan tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi adalah proses pra penempatan di hulu yang belum sempurna. Masalah tenaga kerja

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perekatan sambungan menggunakan lem dengan penambahan serbuk karbon aktif tempurung kelapa 0%, 10%, 20%, 30%

Dalam penelitian ini, penilaian kinerja didasarkan pada fungsi kelompok tani sebagai aditujukan terhadap kerjasama antar anggota dalam organisasi Kelompok Wanita Tani