• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQs)

GIRO WAJIB MINIMUM DALAM RUPIAH

(3 September 2010)

1. Apa latar belakang dan tujuan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) dalam Rupiah?

a. Kinerja ekonomi domestik yang secara umum membaik namun tekanan inflasi

cenderung meningkat. Sementara itu di sektor perbankan mengalami ekses likuiditas

yang persisten tinggi.

b. Ekses likuiditas tersebut perlu dikelola secara optimal sehingga mencerminkan concern

Bank Indonesia dalam merespon tekanan inflasi namun tidak mengurangi kemampuan

ekspansi kredit sesuai rencana bisnis bank.

2. Apakah pokok-pokok kebijakan GWM dalam Rupiah tersebut?

GWM dalam Rupiah = GWM Primer 8% + GWM Sekunder 2,5% + GWM LDR

a. GWM Primer sebesar 8% DPK rupiah:

• Penyesuaian GWM Primer dalam rupiah dari 5% menjadi 8% dari DPK rupiah.

• Terhadap pemenuhan tambahan GWM Primer dalam rupiah sebesar 3% dari DPK rupiah akan diberikan jasa giro sebesar 2,5% p.a.

• Jasa giro tidak akan diberikan pada bank yang memiliki GWM Primer di bawah 8%.

b. GWM Sekunder dalam rupiah sebesar 2,5% DPK rupiah tetap berlaku.

c. GWM LDR dalam rupiah ditetapkan dalam suatu kisaran yang dipandang mampu

mendorong fungsi intermediasi perbankan namun tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Berdasarkan tujuan tersebut, GWM LDR ditetapkan dengan pokok-pokok sebagai

berikut:

• Kisaran target LDR ditetapkan dengan batas bawah 78% dan batas atas 100%.

• Bank-bank dengan LDR di luar kisaran tersebut akan dikenakan disinsentif dengan ketentuan sebagai berikut:

- Untuk bank yang memiliki LDR lebih rendah dari batas bawah target LDR dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM sebesar 0,1 dari DPK rupiah

(2)

2 - Untuk bank yang memiliki LDR lebih tinggi dari batas atas target LDR dan memiliki CAR di bawah 14% dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM

sebesar 0,2 dari DPK rupiah untuk setiap 1% kelebihan LDR.

- Untuk bank yang memiliki LDR lebih dari batas atas target LDR namun memiliki CAR 14% atau lebih tidak dikenakan tambahan GWM.

• Target LDR dan parameter disinsentif sebagaimana dimaksud di atas akan dievaluasi oleh Bank Indonesia sewaktu-waktu diperlukan.

3. Kapan kebijakan GWM dalam Rupiah diberlakukan?

a. Penyesuaian GWM Primer mulai berlaku sejak 1 November 2010, atau dengan masa

transisi sekitar 2 bulan.

b. GWM Sekunder sebesar 2,5% DPK tetap berlaku.

c. Penerapan GWM LDR mulai berlaku sejak 1 Maret 2011, atau dengan masa transisi 6

bulan.

4. Mengapa dibedakan masa transisi GMW Primer dan GWM LDR ?

a. GWM Primer diberikan masa transisi sekitar 2 bulan untuk memberikan waktu bagi bank

menyesuaikan portofolio likuiditasnya. Saat ini kondisi likuiditas bank ditandai oleh

permintaan likuiditas yang tinggi di periode lebaran. Seiring dengan berakhirnya

perayaan Ramadhan dan Lebaran, likuiditas perbankan akan kembali normal. Di

samping itu, likuiditas perbankan akan semakin meningkat sejalan dengan ekspansi

Rekening Pemerintah yang tinggi di triwulan IV.

b. Masa transisi untuk GWM LDR 6 bulan atau lebih lama dibandingkan GWM Primer

ditujukan agar bank mampu melakukan penyesuaian ALMA (Asset Liability

Management) untuk memenuhi ketentuan GWM.

5. Apakah kebijakan peningkatan GWM Primer bertentangan kebijakan GWM LDR dan

upaya mendorong ekspansi kredit ?

a. Dalam kondisi saat ini, kedua kebijakan GWM tidak saling bertentangan, namun justru

secara bersama-sama dapat memperkuat stabilitas moneter dan stabilitas sektor

(3)

3 b. Penyesuaian GWM Primer akan berdampak pada penyerapan sebagian ekses likuiditas

perbankan yang belum terserap di sektor riil yang selama ini ditempatkan dalam

instrumen moneter seperti SBI.

c. Seiring dengan tingginya ekses likuiditas yang dimiliki oleh perbankan, penyesuaian

GWM Primer tersebut diperkirakan tidak akan mengganggu ekspansi kredit perbankan.

d. Sementara itu, penerapan GWM LDR bertujuan agar bank mengoptimalkan penyaluran

kreditnya kepada sektor riil namun dengan tetap mengacu pada prinsip kehati-hatian.

6. Bagaimana perkiraan dampak kebijakan GWM dalam Rupiah terhadap suku bunga

kredit perbankan?

a. Dampak kebijakan GWM terhadap base lending rate (BLR) atau suku bunga dasar

kredit (SBDK) relatif minimal.

b. Berdasarkan pengamatan, pada perubahan kebijakan GWM sebelumnya (tahun 2004

s.d 2008) perubahan GWM tidak selalu direspon searah. Bahkan, pelonggaran GWM

tahun 2008 tidak diikuti oleh penurunan suku bunga. Hal ini juga terkait dengan

tingginya ekses likuiditas perbankan.

c. Spread antara suku bunga simpanan dan kredit saat ini masih tinggi sekitar 5% s.d 8%.

7. Apa perbedaan antara GWM LDR ini dengan GWM LDR sebelumnya (Oktober 2008) ?

a. GWM LDR sebelumnya hanya memiliki instrumen yang memberikan insentif bagi bank

untuk meningkatkan LDR namun tidak memiliki mekanisme yang memberikan disinsentif

jika LDR sudah dipandang terlalu tinggi.

b. GWM LDR saat ini memiliki LDR target yang berupa kisaran (mempunyai batas bawah

dan batas atas). Apabila LDR sebuah bank berada di bawah target, maka terdapat

insentif bagi bank tersebut untuk meningkatkan LDR. Jika LDR sebuah bank berada di

atas target, maka akan ada insentif bagi bank tersebut untuk memperhatikan risiko

likuiditas dengan cara menyesuaikan LDR. Dengan demikian, akan ada suatu

self-correction mechanism bagi bank untuk tidak terlalu ekspansif di dalam pemberian kredit (mikro-prudensial). Bank didorong mencapai LDR sesuai dengan targetnya.

8. Bagaimana perhitungan GWM LDR?

a. Jika LDR < batas bawah (78%), bank dikenakan tambahan GWM sebesar

(4)

4 b. Jika LDR > batas atas (100%) & CAR < 14%, bank dikenakan tambahan GWM sebesar

0,2 x (LDR – 100)% x DPK Rupiah

c. Jika LDR > batas atas (100%) & CAR >= 14%, bank tidak dikenakan tambahan GWM.

9. Bagaimana LDR target ditetapkan ?

a. LDR target ditetapkan berdasarkan tujuan makro ekonomi maupun mikro perbankan.

b. Secara makro; LDR target adalah cerminan kebutuhan kredit yang diperlukan untuk

menopang target pertumbuhan ekonomi.

c. Secara mikro; LDR target ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan

LDR perbankan.

10. Mengapa terdapat pembatasan LDR (untuk batas atas LDR target) ?

a. Untuk menjaga ketahanan modal dan likuiditas perbankan.

b. Namun, bank masih dapat meningkatkan penyaluran kredit di atas batas atas target

LDR sepanjang diikuti oleh ketahanan modal yang memadai.

11. Bagaimana mekanisme perhitungan kewajiban GWM dalam Rupiah?

a. GWM Primer, GWM Sekunder, dan GWM LDR dilakukan secara harian.

b. Kewajiban GWM Primer dihitung berdasarkan 8% dari rata-rata harian jumlah DPK

dalam 1 (satu) masa laporan pada 2 (dua) masa laporan sebelumnya.

c. Kewajiban GWM Sekunder dihitung berdasarkan 2,5% dari rata-rata harian jumlah DPK

dalam 1 (satu) masa laporan pada 2 (dua) masa laporan sebelumnya.

d. Kewajiban GWM LDR dihitung berdasarkan LDR yang dimiliki dengan LDR target

dikalikan dengan parameter disinsentif setiap akhir hari dalam 1 (satu) masa laporan

terhadap rata-rata harian jumlah DPK dalam 1 (satu) masa laporan pada 2 (dua) masa

laporan sebelumnya.

12. Bagaimana cara pemenuhan GWM dalam Rupiah?

a. Pemenuhan GWM Primer dan GWM LDR dalam rupiah hanya dapat dilakukan dengan

menggunakan saldo Rekening Giro Rupiah Bank pada Bank Indonesia.

b. Pemenuhan GWM Sekunder dapat dipenuhi dengan kepemilikan SBI, SUN, SBSN,

dan/atau excess reserve (kelebihan giro perbankan di Bank Indonesia diatas kewajiban

(5)

5 Overnight (dahulu FASBI) dan Term Deposit (dahulu FTK) tidak dapat digunakan dalam pemenuhan GWM Sekunder.

13. Apakah GWM dalam Rupiah mendapatkan jasa giro?

a. Terhadap pemenuhan tambahan GWM Primer dalam rupiah sebesar 3% dari DPK

rupiah akan diberikan jasa giro sebesar 2,5% p.a.

b. Jasa giro tidak akan diberikan pada bank yang memiliki GWM Primer di bawah 8%.

c. Sementara SBI dan SBN untuk pemenuhan GWM Sekunder sudah merupakan

interest-bearing assets.

d. Pemenuhan GWM LDR tidak mendapatkan jasa giro.

e. Kebijakan dan besaran jasa giro dapat diubah setiap saat sesuai dengan kondisi

perekonomian.

14. Berapa sanksi yang dikenakan bagi Bank yang melanggar kewajiban pemenuhan

GWM dalam Rupiah?

Bank yang melanggar kewajiban pemenuhan GWM dalam Rupiah dikenakan sanksi

kewajiban membayar sebesar 125% (seratus dua puluh lima persen) dari rata-rata suku

bunga jangka waktu 1 (satu) hari overnight dari JIBOR (Jakarta Inter Bank Offered Rate)

dalam rupiah pada hari terjadinya pelanggaran, terhadap kekurangan GWM dalam

Rupiah, untuk setiap hari pelanggaran.

15. Kapan sanksi terhadap pelanggaran pemenuhan GWM dalam Rupiah mulai

dikenakan?

a. Sanksi yang terkait dengan pelanggaran pemenuhan GWM Primer dalam rupiah mulai

diberlakukan 1 November 2010.

b. Sanksi yang terkait dengan GWM Sekunder tetap berlaku.

c. Sanksi yang terkait GWM LDR mulai diberlakukan 1 Maret 2011.

d.

Sanksi dikecualikan bagi Bank yang mendapatkan insentif kelonggaran pemenuhan

GWM Rupiah sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai insentif

dalam rangka konsolidasi perbankan.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 7, Tambahan Lembaran

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843)

2) perusahaan Pemegang Saham Pengendali Bank. Yang dimaksud dengan memiliki hubungan keluarga adalah keluarga sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia tentang

For calculating CAR of the Bank on individual basis, equity participation at Subsidiary Company consolidated shall still be calculated as a capital subtracting factor as

Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/12/PBI/2000 tentang Jaminan Pinjaman Luar Negeri Antar Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara

Asing Bukan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor. 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5118),

Laporan Koreksi Profil ULN dianggap terlambat, jika disampaikan ke Bank Indonesia melebihi batas waktu 20 hari setelah penandatanganan atau penerbitan ULN dan/-atau

Adapun GWM diduga memiliki pengaruh negatif terhadap LDR karena semakin besar GWM yang ditetapkan Bank Indonesia maka kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya akan berkurang