VOLUME VI JULI 2008
Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.
Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.
D a f t a r I si
Sejumlah negara minati TKI --- 1
Upah riil buruh dipastikan akan terus tertekan --- 3
Pekerja PT Sansan Berunjuk Rasa --- 5
Pekerja PT Sansan V Unjuk Rasa ke DPRD Cimahi --- 6
Pekerja yang Tergabung Dalam PPMI, Berunjuk Rasa --- 7
260.000 Tenaga kerja ditargetkan bersertifikat --- 8
Laba Jamsostek untuk program pekerja --- 10
Karyawan PG Ngadiredjo Kembali Berunjuk Rasa --- 11
Angka KHL Lampaui UMK --- 12
Anak yang Berjuang untuk Anak --- 13
Upah Buruh Harian di Bawah Rp110.000 Bebas PPh --- 15
Buruh Pelabuhan Gelar Aksi Tuntut Kebebasan Berserikat--- 16
Pengusaha ajak pekerja bahas jam operasi --- 17
Penyelesaian kasus TKI meningkat --- 19
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur --- 20
Kisah sedih TKI di Arab Saudi --- 21
Pekerja anak ditargetkan berkurang --- 23
Semmi Laporkan Kasus TKK Ilegal --- 23
ILO Dukung Upaya Penghapusan Pekerja Anak --- 24
SPSI dan SBSI Akan Somasi Disnaker Siantar--- 25
Upah Minimum 2008 Layak Direvisi --- 26
'Buruh harus kena sanksi jika tolak SKB' --- 29
PHK membayangi karyawan hotel--- 31
Serikat Pekerja Jabar Tuntut SKB Dicabut --- 32
Pekerja setuju pengalihan jam kerja --- 33
Bursa kerja jadi andalan utama --- 34
Serikat buruh minta implementasi SKB jam kerja ditunda --- 35
Jamsostek Harus Lebih Kedepankan Pekerja --- 37
Pengalihan Jam Kerja Rugikan Buruh --- 39
Astra butuh banyak tenaga kerja--- 40
Jumlah TKI meninggal capai 84 orang --- 41
Buruh Kaltim Desak SK Revisi UMP --- 44
Serikat Pekerja Harus Proaktif --- 45
Demo Buruh Samarinda Berlanjut --- 47
Bank makin gencar pakai outsourcing --- 48
Eks Karyawan PT. IGKA Tuntut Haknya--- 50
Bisnis I ndonesia Rabu, 02 Juli 2008
Se j u m la h n e g a r a m in a t i TKI
JAKARTA: Sejumlah negara telah menyatakan minatnya terhadap tenaga kerja Indonesia untuk mengisi sejumlah lapangan pekerjaan di negara mereka.
Pemerintah Australia bahkan telah menawarkan Pemerintah Indonesia untuk menyiapkan 31.000 orang tenaga kerja untuk sepanjang tahun ini.
Selain Australia, sejumlah negara juga tengah melirik tenaga kerja Indonesia, khususnya di bidang perminyakan dan teknologi informasi. Permintaan itu datang dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, seiring dengan booming harga minyak dunia.
Untuk negara-negara di Eropa, tenaga kerja yang paling diminati berasal dari sektor kesehatan seperti perawat dan petugas rumah sakit.
Direktur Pengembangan Pasar Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Reyna Usman Ahmadi mengatakan pemerintah akan berupaya meningkatkan kualitas standar tenaga kerja di Indonesia, untuk memenuhi beragam penawaran tersebut.
"Banyak negara yang sudah melirik Australia untuk mengisi lapangan pekerjaan yang ada di sana. Namun, Indonesia memiliki peluang yang lebih besar untuk mengisi kebutuhan itu. Alasannya, selain memiliki kesamaan budaya, langkah tersebut dapat mempererat hubungan bilateral antara dua negara yang bersangkutan," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Reyna menambahkan dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap Aborigin dan hubungan bilateral dengan Indonesia, Australia membuka peluang pasar kerja di negaranya bagi tenaga kerja dari luar negeri.
Australia, ujar Reyna, telah menyatakan keinginannya agar kebutuhan tenaga kerja di negara itu bisa diserap oleh tenaga kerja asal Indonesia, kendati mereka juga membuka peluang bagi tenaga kerja dari negara lain.
Menurut Reyna, Depnakertrans akan menindaklanjuti tawaran dari Australia tersebut dengan melakukan pemetaan (mapping) pekerjaan di bidang-bidang apa saja yang dapat diisi oleh tenaga kerja asal Indonesia.
Dia optimistis tenaga kerja asal Indonesia bisa mengisi sektor ketenagakerjaan yang cukup banyak dan berkelanjutan, seiring dengan upaya pengembangan strategi kerja sama pembangunan Indonesia 2008-2013.
"Ini sangat menarik karena strategi kerja sama Indonesia-Australia berlangsung hingga 2013 nanti. Jadi kesempatan bagi Indonesia untuk menggelontorkan tenaga kerja ke negara itu semakin banyak," katanya.
Capai target
Dengan semakin banyaknya permintaan tenaga kerja Indonesia dari luar negeri, Reyna optimistis target penempatan tenaga kerja dalam dan luar negeri sebesar 2,5 juta orang sepanjang tahun ini akan tercapai.
Berkhas 2 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Rabu,02 Juli 2008
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Indonesia periode Agustus 2007-Februari 2008 berhasil ditekan menjadi 9,43 juta orang dibandingkan dengan periode sebelumnya 10,1 juta orang.
"Pemerintah menargetkan jumlah pengangguran pada tahun depan turun 5,1%," kata Reyna.
Bisnis I ndonesia Rabu, 02 Juli 2008
Up a h r iil b u r u h d ip a st ik a n a k a n t e r u s t e r t e k a n
JAKARTA: Upah riil buruh informal ataupun yang bekerja di sektor industri formal diperkirakan terus tertekan, kendati rata-rata nilai upah nominal yang mereka terima meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis kemarin menunjukkan upah riil buruh informal sepanjang Juni turun hingga 1,2% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Upah riil buruh di sejumlah sektor industri, seperti industri rokok dan batu bata, bahkan telah turun mulai kuartal IV/2007 dibandingkan dengan kuartal III/2007, dengan persentase penurunan yang mencapai 39,43%.
Secara total, upah riil buruh di sektor industri sepanjang kuartal IV/2007 memang naik 2,98% dibandingkan dengan kuartal III/2007. Namun, kenaikan tersebut hanya dinikmati buruh di sektor industri pakaian jadi.
Dari tiga sektor industri yang dicantumkan BPS, hanya upah riil buruh pada industri pakaian jadi yang membukukan kenaikan yakni sebesar 15% menjadi Rp278.564 per bulan dibandingkan dengan Rp240.392 per bulan pada Mei.
Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky mengatakan tekanan upah riil buruh di beragam sektor baik industri formal maupun informal dipastikan akan kembali terjadi, terlebih setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Mei lalu.
Tambahan insentif uang makan dan transportasi yang diberikan dengan besaran beragam oleh sejumlah perusahaan, diperkirakan tidak akan memberikan dampak besar kepada kemampuan daya beli buruh.
"Saat BBM belum dinaikkan saja, upah riil sudah turun. Apalagi ditambah dengan kenaikan BBM. Belum lagi tunjangan yang diberikan itu kan belum seragam untuk semua perusahaan dan semua sektor usaha," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Masalah daya beli
Penurunan upah riil buruh di sektor informal, menurut Yanuar, disebabkan oleh daya beli masyarakat yang semakin tertekan. Hal itu dipastikan juga akan berdampak buruk bagi upah riil buruh di sektor formal.
"Ini semua kan masalah daya beli. Kalau untuk sektor informal itu kan basis upahnya dari jumlah pelanggan. Ini juga dialami dunia usaha," katanya.
Pekerja relatif sulit memaksa pengusaha untuk menaikkan upah riil mereka karena dunia usaha juga mengalami masalah berupa daya serap pasar yang semakin rendah.
Buruh dan pengusaha, menurut Yanuar, pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama dalam menyikapi masalah daya beli tersebut.
"Kalau pengusaha tertekan, seharusnya ada insentif dari pemerintah untuk menaikkan daya beli. Bantuan langsung tunai yang diberikan sebagai insentif kenaikan BBM pada golongan ekonomi bawah sama sekali tidak berdampak pada peningkatan daya beli," ujarnya.
Berkhas 4 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Rabu, 02 Juli 2008
Upah riil buruh bangunan sepanjang Juni turun 0,96% menjadi Rp42.861 per bulan dibandingkan dengan Rp43.278 per bulan pada Mei, sedangkan upah nominal tercatat naik 1,47% menjadi Rp47.198 per bulan dari sebelumnya Rp46.515 per bulan. ([email protected])
Pikiran Rakyat Rabu, 02 Juli 2008
Pe k e r j a PT Sa n sa n Be r u n j u k Ra sa
Rabu, 02 Juli 2008 , 12:00:00CIMAHI, (PRLM).- Puluhan buruh PT Sansan V di Jalan Industri II nomer 6, Kota Cimahi, Rabu (2/7) melakukan unjuk rasa menuntut perbaikan uang makan, premi hadir dikaitkan dengan masa kerja serta menuntut uang transportasi.
Pekerja tersebut melakukan unjuk rasa di depan perusahaan, mulai pukul 07.00 hingga 10.00 dengan membawa poster yang diantaranya berbunyi tuntutan tersebut. Dalam aksinya itu, mereka meneriakan ketidakpuasannya kepada perusahaan sebari menggoyang-goyang pintu gerbang.
Suhartono, Wakil Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Cimahi mengatakan, para pekerja tersebut bukannya menolak untuk dimutasi ke bagian lain. Mereka mau saja, asalkan ada kompensasi dari perusahaan yaitu menu makan ditingkatkan, kemudian premi yang selama 5 tahun Rp 650,00/hari diminta naik menjad i Rp 1.000,00/hari. Begitu pula buruh meminta uang transportasi Rp 15.000,00/hari. Sebelumnya mereka tidak mendapatkan uang transportasi.
Pekerja menuntut adanya perundingan dengan perusahaan. Sementara itu, perwakilan personalia PT Sansan, Asep Lili sempat meminta kepada buruh untuk kembali bekerja. Permintaan itu ditolak oleh buruh. Mereka tetap menginginkan adanya perundingan.
Berkhas 6 Volume VI Juli 2008
Pikiran Rakyat Rabu, 02 Juli 2008
Pe k e r j a PT Sa n sa n V Un j u k Ra sa k e D PRD Cim a h i
Kamis, 03 Juli 2008 , 15:04:00CIMAHI, (PRLM).- Karena tidak digubris pengusaha, puluhan pekerja PT Sansan V yang tergabung dalam wadah Serikat Pekerja Nasional (SPN), berunjuk rasa ke Gedung DPRD Cimahi, Jln. Hj. Djulaeha Karmita, Cimahi, Kamis, (3/7). Mereka mendesak Komisi D DPRD Cimahi, memanggil pengusaha PT Sansan V, untuk menyelesaikan masalah mutasi pekerja berikut kompensasi yang dituntut pekerja.
Massa yang datang membawa berbagai poster berisi tuntutan perbaikan dan makian terhadap pengusaha PT Sansan V, melakukan aksi damai di Pendopo Cimahi, yang berada di depan Gedung DPRD. Petugas Satpol PP Cimahi pun hanya mengawasinya, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah sekitar satu jam menunggu, seluruh pengunjuk rasa diterima Anggota Komisi D, Angi Permana dan Kabid Pengawasan Tenaga Kerja, H. Azis Wasiun, pada Dinas Tenaga Kerja, Catatan Sipil, dan Kependudukan (Disnakercasipduk) Kota Cimahi.
Dalam perundingan kemarin, Wakil Ketua SPN Kota Cimahi Suhartono bersama Ketua Pimpinan Serikat Pekerja (PSP) SPN PT Sansan V, Siti Asiroh mengemukakan, aksi tersebut digelar sebagai buntut kekecewaan mereka terhadap pengusaha yang memutasikan pekerja ke PT Sansan I di Jln. Cibaligo Cimahi, tanpa berunding dulu.
Pikiran Rakyat Rabu, 02 Juli 2008
Pe k e r j a y a n g Te r g a b u n g D a la m PPM I , Be r u n j u k
Ra sa
Rabu, 02 Juli 2008 , 14:55:00
CIMAHI, (PRLM).- Sekitar 200 pekerja yang tergabung dalam PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia) ` 98, Rabu (2/7) berunjukrasa ke Pemkot Cimahi menuntut Dinas Tenaga Kerja menyelesaikan permasalahan industrial di PT Gemilang Inti Perkasa II.
Dalam unjukrasa tersebut, mereka menuntut pelaksanaan jaminan jamsostek, upah lembur yang belum sesuai dengan aturan, hak cuti dan haid, kenaikan uang transportasi dan makan berkaitan dengan kenaikan BBM.
Ketua PPMI ` 98 se Bandung Raya, Nazarudin mengatakan, perusahaan tersebut dinilai tidak manusiawi memperlakukan pekerja yang harus bekerja 12 jam, tanpa mendapat kompensasi kelebihan uang lembur. Mereka meminta dalam jam pertama 150% dari upah pokok dan jam ke dua 200%.
Kedatangan mereka ke Pemkot Cimahi menjadi perhatian warga setempat juga aparat pemerintah. Sebanyak 15 orang perwakilan diterima Kepala Dinas tenaga Kerja Catatan Sipil dan Kependudukan, Bambang Arie Nugroho.
Berkhas 8 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Kamis, 03 Juli 2008
2 6 0 .0 0 0 Te n a g a k e r j a d it a r g e t k a n b e r se r t ifik a t
JAKARTA: Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menargetkan 260.000 tenaga kerja Indonesia memperoleh sertifikat profesi sepanjang tahun ini, melonjak hingga empat kali lipat dibandingkan dengan jumlah sertifikat profesi yang telah dikeluarkan lembaga tersebut sejak berdiri pada 2006.
Pelaku industri juga diharapkan meningkatkan penggunaan tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi, karena hal tersebut diyakini dapat meningkatkan daya saing perusahaan.
Wakil Ketua BNSP Sumarna F. Abdurahman mengatakan penggunaan tenaga kerja yang berbasis pada kompetensi profesi mutlak dilakukan, karena ikut menunjang peningkatan daya saing.
Menurut Sumarna, tenaga kerja yang tersedia saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan pasar atau dunia usaha.
"Dengan adanya sertifikasi kompetensi, calon tenaga kerja lebih siap terjun ke dunia kerja dan dapat mengisi lowongan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh sejumlah perusahaan," katanya di sela-sela pencanangan Bulan Kompetensi 2008, kemarin.
Selama ini, lanjut Sumarna, belum semua industri menerapkan penggunaan tenaga kerja yang berbasis kompetensi atau bersertifikat profesi.
Dari sisi pencari kerja atau tenga kerja, sertifikasi profesi juga belum dianggap sebagai kebutuhan atau persyaratan mutlak untuk memasuki dunia kerja.
Sukarela
Upaya untuk memperoleh sertifikasi profesi masih bersifat sukarela atau merupakan kesadaran dari para tenaga kerja yang ingin melengkapi portofolio keahlian mereka
Kebutuhan akan sertifikasi profesi juga datang dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang mengajukan uji kompetensi kepada lembaga sertifikasi profesi (LSP) untuk para peserta didik atau pelatihan mereka. Namun, jumlahnya juga masih relatif kecil.
Saat ini terdapat tidak kurang dari 28 lembaga sertifikasi profesi di Tanah Air, yang didominasi untuk sektor jasa.
Sektor jasa merupakan sektor yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja dengan sertifikat profesi.
Namun, menurut Suwarna, belum semua industri menerapkan sertifikasi profesi tersebut. Dari sekian banyak industri bidang jasa, hanya perbankan yang telah mewajibkan penggunaan sertifikat profesi.
"Itu pun baru pada tataran direksi. Tetapi hal ini harus diapresiasi karena akan berkelanjutan terus ke tataran yang lebih rendah," katanya.
Handito Hadi Joewono, anggota BNSP, menilai penggunaan tenaga kerja yang berbasis pada sertifikasi profesi sebenarnya tidak hanya dibutuhkan oleh bidang jasa.
Bisnis I ndonesia Kamis, 03 Juli 2008
BNSP menargetkan jumlah LSP dapat ditingkatkan menjadi 45 LSP pada tahun ini, sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan penerapan sertifikasi profesi. (maria. [email protected])
Berkhas 10 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Kamis, 03 Juli 2008
La b a Ja m sost e k u n t u k p r og r a m p e k e r j a
JAKARTA: Program-program kesejahteraan buruh/pekerja yang dikelola PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) akan mendapat tambahan dana dari keuntungan perseroan yang tidak akan dibagikan dalam bentuk dividen.
Keuntungan Jamsostek yang selama ini diserahkan kepada pemerintah dalam bentuk dividen, disepakati akan dikembalikan kepada pekerja/buruh.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno mengatakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Jamsostek yang berlangsung pada 26 Juni telah menyepakati pengembalian keuntungan tersebut kepada pekerja/buruh.
Kompas Kamis, 03 Juli 2008
KERJA SAM A
Ka r y a w a n PG N g a d ir e d j o Ke m b a li Be r u n j u k Ra sa
Kamis, 3 Juli 2008 | 03:00 WIBKediri, Kompas - Ribuan karyawan PT Perkebunan Nusantara X unit kerja Pabrik Gula Ngadiredjo di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (2/7), kembali berunjuk rasa. Dalam unjuk rasa yang kelima ini, mereka lagi-lagi mengajukan dua tuntutan.
Tuntutan pertama, yakni pembatalan kerja sama operasi (KSO) antara PTPN X dan PT Kencana Gula Manis mengenai pengelolaan Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo Kediri. Kedua, pembatalan pengangkatan dua direksi baru yang dinilai tidak kompeten memimpin PTPN X.
Demikian dijelaskan koordinator pengunjuk rasa yang juga Ketua Umum Serikat Pekerja PTPN X, Joko Daryono, kemarin di Kediri.
Unjuk rasa tersebut dimulai pukul 06.00, saat massa yang seluruhnya adalah karyawan PG Ngadirejo hendak masuk kerja. Mereka berkumpul di depan pabrik, tepatnya di Jalan Raya Kediri-Tulungagung, hingga memenuhi badan jalan.
Dalam unjuk rasa itu, massa juga menghalangi ratusan truk pengangkut tebu yang akan masuk ke kawasan pabrik. Akibatnya, terjadi antrean truk sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer.
Sekitar pukul 08.00, antrean truk mulai tidak teratur. Truk yang datang belakangan menerobos ke depan. Setelah polisi bernegosiasi dengan pengunjuk rasa, barulah truk-truk tebu itu bisa masuk ke lokasi pabrik.
Menurut Joko, kemarin semua pekerja di lingkungan unit kerja PTPN X juga melakukan aksi serupa, antara lain di PG Mojopanggung Tulungagung, PG Mritjan Kediri, dan PG Pesantren Kediri.
Mogok kerja
Pantauan Kompas di Sidoarjo, kemarin ribuan karyawan PG Toelangan, PG Watoe Toelis, dan PG Kremboong juga berunjuk rasa dengan cara mogok kerja. Mereka mengajukan tuntutan serupa.
Berkhas 12 Volume VI Juli 2008
Seputar I ndonesia Minggu, 06 Juli 2008
An g k a KH L La m p a u i UM K
Sunday, 06 July 2008
SUKOHARJO (SINDO) – Pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Mei lalu, kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Sukoharjo terus merangkak naik.
Hingga Juni 2008, besaran KHL mencapai Rp688.000,sedangkan pada bulan sebelumnya Rp675.000. Angka KLH tersebut jauh melampaui upah minimum kabupaten (UMK) Sukoharjo 2008 yang hanya Rp642.500. Perhitungan KHL tersebut juga belum memasukkan instrumen kenaikan harga BBM. Kenaikan KHL tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat.
Anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Sukoharjo Sukarno mengatakan, hasil survei KHL Juni tersebut hanya menggunakan instrumen yang masih menyangkut kebutuhan pokok.”Jika instrumen kenaikan harga BBM dimasukkan, dipastikan angkanya lebih tinggi lagi. KHL dipastikan akan melonjak di atas KHL riil,”jelasnya kemarin.
Survei KHL tersebut survei bulanan yang dilakukan tim yang terdiri atas unsur pengusaha, buruh, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal (Disperindagkop dan Penmod), Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk (Disnakertrans dan Mopen),Badan Pusat Statistik (BPS), serta sejumlah unsur lain. Instrumen survei di antaranya meliputi harga kebutuhan pokok, rekreasi, biaya tempat tinggal/indekos. Selama ini, berdasarkan hasil survei KHL, tiap bulan besaran kebutuhan hidup tersebut mengalami kenaikan.
Kompas Senin, 07 Juli 2008
PEKERJA AN AK
An a k y a n g Be r j u a n g u n t u k An a k
Senin, 7 Juli 2008 | 02:02 WIBLis Dhaniati
Orang yang terluka akan melukai orang lain. (Bill Cosby dalam acara Oprah Show)
Ucapan aktor kawakan Amerika Serikat itu didasarkan fakta anak-anak kulit hitam yang bertumbuh dalam kondisi keluarga berantakan cenderung menjadi nakal bahkan sampai bertindak kriminal. Beruntung, itu tidak terjadi pada Asep Ramdani (17) yang justru giat memperjuangkan nasib anak.
Perawakannya kecil dan sekilas tampak pendiam. Namun, pelajar kelas II SMK Negeri 7 Bandung ini akan lantang jika berbicara tentang hak-hak anak. Ia juga fasih membeberkan berbagai masalah pelanggaran hak-hak anak yang lazim dianggap sebagai kewajaran.
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, seseorang masih disebut anak hingga usia 18 tahun. Berdasarkan perkiraan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2007, pekerja anak di Indonesia mencapai 2,6 juta. Anak-anak ini bekerja di berbagai sektor, seperti pertanian, pertambangan, dan industri kecil. Realitas di lapangan menunjukkan, pekerja anak dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Banyak pemilik pekerjaan senang menggunakan tenaga anak karena mereka bisa diupah lebih rendah dibandingkan dengan pekerja dewasa.
Ada beberapa faktor pendorong banyaknya pekerja anak. Namun, ekonomi tetap menjadi faktor utama. Anak-anak yang seharusnya sedang menikmati hak pendidikan justru harus memeras keringat karena ikut menopang kebutuhan keluarga. Ini menjadi permasalahan krusial karena pada masa depan negara kehilangan generasi terdidik. Belum lagi tekanan mental pada anak-anak yang—seperti kata Cosby—bisa mengarah pada masalah kriminal.
Asep tak sekadar bicara berdasarkan data atau pengetahuan yang ditularkan orang lain. Namun, ia sempat mengalami sendiri kegetiran hidup menjadi pekerja anak. Bahkan, masa kanak-kanaknya penuh dengan belitan masalah. Asep lahir di kawasan industri sepatu Cibaduyut, Bandung. Ketika Asep berusia sebulan, orangtuanya bercerai. Asep pun diasuh uaknya, (alm) Idas Supriatna dan Endang Haryati.
Sayangnya, hal ini tidak disertai penjelasan yang memadai sehingga Asep sering bingung. ”Saat sekolah dasar saya sering ditanya teman-teman, ’orangtuamu sebenarnya yang mana?’,” kata Asep. Kadang terbesit juga iri dalam hatinya ketika kemudian tahu siapa orangtua kandungnya. ”Mengapa saya yang diasuh uak, bukan kakak saya,” kata Asep.
Industri sepatu
Dalam situasi seperti itu, Asep kecil sudah harus terlibat dalam kesibukan industri sepatu di Cibaduyut. Ada beberapa hal yang harus ia kerjakan di bengkel sepatu uaknya, seperti menggunting dan mengelem sepatu. Lulus sekolah dasar pada tahun 2002, ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, seperti kebanyakan anak-anak Cibaduyut lainnya, keinginan itu kandas. Asep justru diajak uaknya berdagang sepatu ke Sumatera, tepatnya di Pagar Alam
Berkhas 14 Volume VI Juli 2008
Kompas Senin, 07 Juli 2008
Ia pun pulang ke Bandung. Kebetulan di dekat rumahnya ada Sanggar Sidikara yang bekerja sama dengan ILO untuk menghapus pekerja anak di Cibaduyut. Saat itu jumlah pekerja anak di Cibaduyut memang tinggi. Berdasarkan data ILO pada 2005, di Cibaduyut ada 1.132 industri sepatu rumahan. Tiap bengkel sepatu setidaknya mempekerjakan dua pekerja anak. Dengan demikian, di Cibaduyut ada 2.264 pekerja anak. ”Upah mereka lebih rendah dibandingkan pekerja dewasa,” ujar Asep. Ia menyebut angka Rp 10.000 hingga Rp 15.000 sehari untuk waktu kerja selama 12 jam sehari.
Asep yang sering bermain ke sanggar itu mendapat pencerahan tentang permasalahan anak. Asep pun mendapat beasiswa dari yayasan sehingga bisa melanjutkan ke SMP. Bersama kawan-kawannya ia menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan hak-hak anak, seperti bergerilya ke bengkel-bengkel sepatu bahkan menemui pengurus Asosiasi Pengusaha Sepatu Cibaduyut.
”Dengan adanya kegiatan pada anak-anak ataupun pertemuan dengan pengusaha, jumlah pekerja anak cukup berkurang,” kata Asep. Namun, keberhasilan ini justru menjadi masalah baru. Penyebabnya, ILO mengakhiri programnya dengan Yayasan Sidikara. Bersama beberapa rekannya, Asep berinisiatif mendirikan Sanggar Muda Kreatif untuk melanjutkan aktivitas Yayasan Sidikara. Sayangnya, tanpa dukungan dana ataupun peralatan yang memadai, aktivitas di sanggar baru ini tak optimal.
Meskipun demikian, aktivitasnya dalam memperjuangkan nasib anak-anak mengantarkannya memenangi penghargaan Unicef sebagai Pemimpin Muda Indonesia tahun 2007. Kini ia aktif di Forum Anak Daerah Jabar, juga membantu kegiatan Yayasan Sidikara. ”Selama masalah anak masih ada, saya akan terus berjuang,” ujar Asep.
Dipandang sebelah mata
Keberhasilan meraih penghargaan Pemimpin Muda dan kelanjutan aktivitasnya sering membuat anak kelahiran 8 Maret 1991 ini diundang berbicara di berbagai acara. Namun, sebagai anak ia justru sering dipandang sebelah mata oleh orang dewasa.
Seputr I ndonesia Senin, 07 Juli 2008
Up a h Bu r u h H a r ia n d i Ba w a h Rp 1 1 0 .0 0 0 Be b a s PPh
Monday, 07 July 2008JAKARTA(SINDO) – Panitia Khusus RUU Pajak Penghasilan (PPh) menyepakati upah buruh harian sebesar Rp110.000 ke bawah dibebaskan dari pajak.
Sebelumnya, batasan upah harian yang kena pajak adalah Rp50.000–60.000 per hari. “Itu dihitung rata-rata selama 25 hari kerja setiap bulan sehingga kalau cuma seminggu kerja terus tidak bekerja lagi sampai akhir bulan, ya tidak kena,” kata anggota Pansus PPh DPR dari Fraksi PDIP Olly Dondokambey di Jakarta kemarin.
Berkhas 16 Volume VI Juli 2008
Tempo I nteraktif Senin, 07 Juli 2008
Bu r u h Pe la b u h a n Ge la r Ak si Tu n t u t Ke b e b a sa n
Be r se r ik a t
Senin, 07 Juli 2008 | 09:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 60 orang buruh pelabuhan yang bekerja di PT Tanto Intim Line akan menggelar aksi unjuk rasa Senin (7/7) pagi. "Kami menuntut standar upah sesuai yang ditetapkan oleh Gubernur DK Jakarta dan kebebasan berserikat," kata Humas aksi buruh PT Tanto Intim Line, Mohammad Jokay Castroeni Almayda.
Rencananya aksi tersebut akan dilakukan pukul 9 pagi di depan kantor perusahaan yang bertempat di sisi jalan Laksamana RE Martadinata, Jakarta Utara. Semua peserta aksi terdiri dari para supir trailer di perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengiriman ekspor dan impor.
Jokay menambahkan, salah satu rekan mereka, Putu Wijaya Onri telah diberhentikan karena membentuk organisasi. "Oleh karena itu, kami juga meminta agar teman kami yang telah diberhentikan, dipekerjakan kembali," ujarnya.
Pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metropolitan Jakarta Raya mengaku belum mengetahui aksi tersebut. "Mengenai aksi tersebut, kami belum mengetahuinya," kata Bripka Marso Ardhi kepada Tempo pagi ini.
Bisnis I ndonesia Rabu, 09 Juli 2008
Pe n g u sa h a a j a k p e k e r j a b a h a s j a m op e r a si
JAKARTA: Pelaku usaha akan mengajak serikat pekerja untuk membahas rencana pemerintah tentang pengalihan jam operasi dunia usaha.
Pengalihan jam operasi tersebut akan diatur lewat surat keputusan bersama (SKB) lima menteri yang dijadwalkan efektif mulai Oktober.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan pihaknya akan membicarakan rancangan SKB tersebut dengan serikat pekerja, terutama terkait dengan konsekuensi-konsekuensi yang muncul akibat pemberlakuan aturan itu.
"Saya rasa industri belum siap untuk menjalankan SKB itu, karena tidak gampang mengubah pola kerja para buruh yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun. Kami akan bahas itu dengan serikat pekerja," katanya kemarin.
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Apindo menilai pergeseran waktu kerja industri ke waktu beban penggunaan listrik yang rendah yakni Sabtu dan Minggu, berpotensi menimbulkan sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung.
Sekjen Apindo Djimanto menuturkan pergeseran waktu kerja tersebut akan menyebabkan pembayaran kerja lembur yang upahnya jauh lebih tinggi.
"Berdasarkan aturan yang berlaku, lembur pada hari libur menyebabkan tarif upahnya menjadi dua kali lipat dari lembur hari kerja. Apakah kalangan industri siap untuk menanggung beban itu? Saya rasa tidak," katanya.
Djimanto juga menilai keputusan tersebut menabrak etika usaha global yang tidak etis karena mempekerjakan buruh pada hari libur.
Apindo meminta pemerintah melibatkan pelaku usaha dan kaum pekerja/buruh terlebih dahulu sebelum mengesahkan SKB itu, karena pengaturan jam kerja industri tersebut akan membawa sejumlah konsekuensi, bagi perusahaan ataupun pekerjanya.
Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Rekson Silaban juga mengatakan perubahan waktu kerja dipastikan akan berdampak pada penentuan besaran upah lembur buruh.
Pergeseran jam kerja itu, lanjutnya, juga bertentangan dengan budaya yang selama ini berlaku di mana pekerja/buruh sudah terkondisikan untuk libur pada Sabtu dan Minggu.
"Apakah buruh bisa menyesuaikan diri dan apakah ini merupakan solusi yang tepat?" kata Rekson mempertanyakan rencana itu.
Perpendek masa kerja
Djimanto menambahkan pada dasarnya Apindo dan dunia usaha menyetujui penghematan, efisiensi, dan optimalisasi pemakaian energi listrik, sepanjang tidak mengganggu rencana kerja dan kapasitas produksi.
Solusi yang ditawarkan Apindo adalah memperpendek hari kerja menjadi lima hari dalam seminggu dari enam hari kerja dalam seminggu yang berlaku saat ini.
Berkhas 18 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Rabu, 09 Juli 2008
Rekson juga menyetujui usulan tersebut. Namun, dia berharap ada dialog yang melibatkan pekerja untuk membahas hal itu lebih lanjut, agar menguntungkan kedua belah pihak.
"Saya rasa akan ada banyak opsi yang akan keluar nanti kalau kita duduk bersama," ujarnya.
Dia juga menilai pergeseran hari kerja, seperti yang akan ditetapkan dalam SKB lima menteri, justru akan menambah masalah bagi para pekerja yang sebelumnya juga dipusingkan kenaikan harga BBM. (maria.benyamin@ bisnis.co.id)
Bisnis I ndonesia Rabu, 09 Juli 2008
Pe n y e le sa ia n k a su s TKI m e n in g k a t
JAKARTA: Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Taiwan mengklaim penyelesaian kasus yang dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) di negara itu meningkat setiap tahun.
Erwin Azis, Kepala Bidang Imigrasi KDEI Taipei, mengatakan pihaknya berhasil menyelesaikan 647 kasus sepanjang tahun lalu dan jumlah uang TKI yang bisa dikembalikan mencapai Rp5, 11 miliar.
Pada 2006, jumlah kasus TKI yang diselesaikan KDEI Taipei mencapai 201 kasus dengan jumlah uang TKI yang berhasil dikembalikan sebesar Rp2,89 miliar.
Untuk periode Januari-Juni 2008, KDEI Taipei telah menyelesaikan 519 kasus TKI, dengan jumlah uang yang berhasil dikembalikan sebesar Rp4,79 miliar.
Berkhas 20 Volume VI Juli 2008
Tempo I nteraktif Rabu, 09 Juli 2008
Soa l Pe n g a lih a n Ja m Ke r j a
Bu r u h Kh a w a t ir k a n N a sib Ja m Le m b u r
Rabu, 09 Juli 2008 | 08:24 WIBTEMPO Interaktif, BANDUNG:Para buruh mengkhawatirkan kebijakan soal pengalihan hari kerja Sabtu-Minggu bisa dijadikan alasan pengusaha melegitimasi hari libur sebagai hari kerja biasa. Akibatnya, pada perhitungan jam lembur. ”Kan repot kami. Selama ini kami diakal-akalin terus yang begituan,” kata Waras Wasisto, Wakil Ketua Serikat Pekerja Nasional Jawa Barat kepada Tempo di Bandung, Selasa (8/7)..
Waras mengaku belum mendapat penjelasan resmi soal pengalihan hari dan kerja, sebagaimana peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Ia mengaku baru mendengar dari televisi dan membacanya dari koran. Ia baru akan membicarakannya soal ini dalam sesi khusus di sela rapat kerja DPD SPN Jawa Barat di Ciawi Bogor, dalam waktu dekat.
Menurut Waras, aturan pemberian upah lembur itu bersandar pada Undang-Undang Nomor 1 tahun 1981 yang menjelaskan soal hari libur dan hari libur nasional. Dalam aturan itu, paparnya, hari Sabtu dan Minggu disebut hari libur.
Repotnya, perubahan yang dilakukan pemerintah otomatis akan mengubah perhitungan lembur tersebut. Masalahnya, apakah pemerintah sudah mengkaji semua aspek itu terutama soal aturan lembur. “Kami pada prinsipnya apa pun yang akan dilakukan monggo, tapi perimbangkan semua aspeknya,” katanya.
Waras menegaskan, kendati kenaikan BBM belum berimbas pada pengurangan pekerja, namun sebenarnya selama ini sudah mengalami kerugian akibat penghematan yang dilakukan pihak perusahaan untuk efisiensi akibat kenaikan BBM. Di antaranya, pengurangan waktu lembur.
Langkah efisiensi dan penghematan, paparnya, dilakukan perusahaan dengan memangkas waktu lembur. Padahal, lanjutnya, pekerja selama ini mendapatkan kelebihan upah mengandalkan upah lembur. ”Mau tidak mau dalam 1 bulan akhirnya hanya dapat upah pokok saja, UMR saja tapi tidak plus overtime,” katanya.
Bisnis I ndonesia Kamis, 10 Juli 2008
Kisa h se d ih TKI d i Ar a b Sa u d i
Kekerasan yang dialami pekerja rumah tangga di Arab Saudi seperti tidak kunjung berkurang. Beragam penyiksaan tak jarang berujung pada kematian.
Ani, 25 tahun, merupakan satu dari sekian banyak korban kekerasan yang dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Wanita asal Karawang, Jawa Barat, itu mungkin tidak akan pernah melupakan pengalaman buruk selama 8 bulan bekerja di negara tersebut.
"Selama 8 bulan saya bekerja, saya tidak pernah menerima gaji. Saya ditampar, dipukul badannya. Saya disuruh kerja siang malam tidak berhenti. Pasti ada aja kerjaan. Sudah gitu mereka [majikan] bilang saya malas kerjanya, makanya saya tidak pantas digaji," ujar Ani. Padahal, dia dijanjikan upah 800 real per bulan.
Ani hadir dalam acara peluncuran laporan penelitian Human Rights Watch (HRW) dan Komnas Perempuan yang bertajuk As If I am Not Human: Abuses Against Asian Domestic Workers in Saudi Arabia, pada Selasa lalu.
Laporan tersebut sebenarnya didasarkan pada pengalaman semua tenaga kerja domestik (pembantu rumah tangga/PRT) di Arab Saudi. Negara tersebut tercatat mempekerjakan 1,5 juta buruh domestik, yang antara lain berasal dari Indonesia, Sri Lanka, Filipina, dan Nepal.
Laporan yang merupakan hasil riset langsung Kenneth Roth dan Nisha Varia, dua peneliti dari HRW, itu juga dirilis secara global. Namun, Indonesia menjadi negara yang mendapatkan perhatian khusus karena menjadi pengirim tenaga kerja domestik terbesar ke Arab Saudi.
Sri Wiyanti Eddyono, perwakilan dari Komnas Perempuan, menyebutkan kasus kekerasan yang dialami TKI tidak hanya dalam bentuik kekerasan dan pelecehan seksual. TKI juga kerap dituduh melakukan tindak kriminal yang sebenarnya tidak mereka lakukan.
Melihat kasus TKI yang seolah tak kunjung habis, Sri berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaudit pihak-pihak yang terkait dengan pengiriman TKI. Hal tersebut untuk mengetahui penyebab dari mandeknya penanganan masalah TKI di luar negeri.
Dalam diskusi publik yang digelar HWR dan Komnas Perempuan pada Selasa lalu, Kenneth Roth yang juga merupakan Executive Director HRW dan Nisha Varia dari Divisi Hak Perempuan HRW membahas hukum yang berlaku di Arab Saudi.
Hukum di negara tersebut dinilai cenderung memandang sebelah mata dan tidak melindungi buruh domestik. Sistem Kafala, yang berlaku di sana, semakin memberatkan buruh domestik. Kafala adalah sistem yang mengikat buruh domestik kepada yang mempekerjakan mereka.
Sistem Kafala memungkinkan orang yang mempekerjakan buruh domestik (majikan) bisa menahan buruh domestik untuk tidak bekerja di tempat lain atau bahkan meninggalkan negara tempat di mana buruh tersebut bekerja.
Pembenahan domestik
Namun, Tuti Lukman, Anggota Komisi IX DPR, mengingatkan agar tidak hanya menyalahkan Arab Saudi, sebagai negara penerima TKI. Dia menilai pengiriman TKI tidak lepas dari koordinasi berbagai pihak di dalam negeri.
Berkhas 22 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Kamis, 10 Juli 2008
Dia menyebutkan tidak jarang calon TKI memalsukan umur mereka. Belum lagi pungutan-pungutan yang diminta pihak sponsor dengan jumlah yang besar, sehingga membuat para penyalur memotong jam pelatihan yang merupakan bekal TKI di sana.
Jumhur berjanji melakukan perbaikan dalam pengiriman TKI ke luar negeri. Perbaikan akan dimulai dari kejelasan perjanjian kerja dan pengadaan kantor khusus di Arab Saudi yang digunakan untuk memantau dan memastikan pengiriman TKI secara benar.
TKI yang berniat mengadu nasib ke Arab Saudi, tentu tak berharap mendapatkan kisah sedih. Kalau beragam kisah pilu TKI di sana mampu menarik perhatian dunia internasional, pihak-pihak terkait di dalam negeri seharusnya jauh lebih peduli. (Yeni H. Simanjuntak) ([email protected])
Oleh Fani Agustina
Bisnis I ndonesia Kamis, 10 Juli 2008
Pe k e r j a a n a k d it a r g e t k a n b e r k u r a n g
JAKARTA: Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi (Depnakertrans) menargetkan pengurangan pekerja anak sebanyak 10.000 orang sepanjang tahun ini, terutama anak-anak yang bekerja pada bentuk pekerjaan terburuk.
Bentuk pekerjaan terburuk yang dimaksud adalah semua jenis pekerjaan yang dapat membahayakan kesehatan, moral, dan keselamatan anak.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah pekerja anak di Indonesia saat ini mencapai 2,8 juta orang.
Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Depnakertrans I Gusti Made Arke mengatakan pemerintah terus berupaya mengurangi pekerja anak di Tanah Air.
Berkhas 24 Volume VI Juli 2008
Seputar I ndonesia Kamis, 10 Juli 2008
I LO D u k u n g Up a y a Pe n g h a p u sa n Pe k e r j a An a k
Thursday, 10 July 2008ORGANISASIBuruh Internasional (ILO) mendukung penuh upaya Pemerintah Indonesia untuk menghapuskan pekerja anak. Bahkan, ILO meluncurkan fase kedua program bantuan teknis yang mendukung Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemerintah Indonesia untuk penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan anak.
”Program bantuan teknis ini didanai oleh Departemen Perburuhan Amerika Serikat dengan nominal USD5,5 juta untuk periode pelaksanaan empat tahun ke depan,” ungkap Kepala Penasihat Teknis Program Pekerja Anak ILO Arum Ratnawati di Jakarta kemarin.
Menurut dia, saat ini sekitar 166 juta anak di seluruh dunia menjadi pekerja dan 74,4 juta anak di antaranya bekerja di sektor pekerjaan yang berbahaya. Untuk Indonesia, pada 2004 diperkirakan ada 1,4 juta anak yang berusia 10–14 tahun bekerja dan turut mencari nafkah.
”Sebagian besar mereka bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang dan sering dalam kondisi yang berbahaya. Mereka juga tidak mendapat peluang pendidikan yang seharusnya bisa memberikan mereka masa depan lebih baik,” paparnya. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno mengatakan, pemerintah sebenarnya sudah memberi perhatian serius seiring meningkatnya jumlah pekerja anak.
”Komitmen dan kepedulian pemerintah telah diwujudkan dengan meratifikasi Konvensi No182 tentang BPTA. Sebagai tindak lanjut ratifikasi ILO dibentuklah KAN melalui Keppres No 12/2001 yang bertujuan mencegah dan menghapus bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk anak,” katanya.
Seputar I ndonesia Kamis, 10 Juli 2008
SPSI d a n SBSI Ak a n Som a si D isn a k e r Sia n t a r
Thursday, 10 July 2008PEMATANGSIANTAR (SINDO) – Perwakilan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) menyomasi Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pematangsiantar.
Somasi tersebut terkait adanya pernyataan Kepala Disnaker yang terkesan menuduh serikat pekerja bermain mata dengan pengusaha. Kalimat tersebut menurut pengurus SPSI dan SBSI Pematangsiantar merupakan tudingan kepada SPSI/SBSI yang ada di Kota Pematangsiantar.
Menurut Sekretaris SBSI Pematangsiantar- Simalungun Atisokhi Waruhu,pernyataan tersebut sepertinya upaya mengambinghitamkan ataupun upaya cuci tangan Kepala Disnaker selama menjabat. “Kami menganggap Kepala Disnaker sengaja cuci tangan untuk menghindari bobroknya hubungan industrial di Pematangsiantar sejak dia menjabat sebagai Kepala Disnaker,” katanya kepada wartawan baru-baru ini.
Atisokhi menambahkan, tudingan tersebut salah satu carauntukmelakukanpembunuhan karakter SPSI dan SBSI yang terbentuk berdasarkan UU No 21/2000.“Apa yang
dikemukakan Kepala Disnaker di media massa,menurut penilaian kami merupakan salah satu indikasi pernyataan yang menuju kepada kampanye antiserikat pekerja dan serikat buruh,”ucapnya.
Sementara itu, Kadisnaker Tanjung Sijabat dengan tegas membantah tidak ada mengatakan kalimat serikat jangan “main mata” dengan pengusaha.“Saya tidak pernah mengatakan serikat pekerja dan serikat buruh main mata dengan pengusaha kepada siapa pun,”ujarnya.
Berkhas 26 Volume VI Juli 2008
Suara Pembaruan Kamis, 10 Juli 2008
Up a h M in im u m 2 0 0 8 La y a k D ir e v isi
Oleh Gibson Sihombing
Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak terhitung mulai 24 Mei 2008 berimplikasi terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Kenaikan harga BBM mendorong naiknya harga barang dan jasa, terutama kebutuhan pokok sehari-hari.
Menurut BPS, inflasi pada Mei 2008 sebesar 1,41 persen sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2008 terhadap Mei 2007) sebesar 10,38 persen.
Menyadari implikasi kenaikan harga BBM tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan sebagai langkah pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti, program bantuan langsung tunai (BLT) dan pemberian gaji ke-13 kepada pegawai negeri sipil dan pensiunan PNS.
Kita pahami bahwa kedua bentuk kebijakan pemerintah di atas hanyalah menopang kehidupan ekonomi sebagian kecil masyarakat Indonesia. Di luar kelompok penerima program pemerintah tersebut terdapat jutaan anggota masyarakat yang sangat terpukul dengan kenaikan harga BBM. Anggota masyarakat tersebut, antara lain, kelompok pekerja/buruh yang menerima upah berdasarkan besaran upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah.
Beratnya beban ekonomi pekerja akan semakin bertambah dengan kebijakan pemerintah menaikkan tarif angkutan umum sampai 40 persen terhitung Juni 2008.
Beban ekonomi pekerja kita sebut berat karena sesungguhnya besar upah yang mereka terima ditentukan berdasarkan perhitungan kebutuhan seorang pekerja lajang dalam sebulan. Dalam praktiknya, upah minimum menjadi upah standar, bahkan menjadi upah tertinggi dalam satu perusahaan, termasuk bagi pekerja yang sudah berkeluarga dengan beberapa anak.
Kondisi tersebut terjadi karena lemahnya daya tawar pekerja. Tingginya angka pengangguran yang mencapai 8 persen dari jumlah angkatan kerja dan rendahnya tingkat pendidikan/keterampilan pekerja merupakan faktor utama yang menyebabkan lemahnya daya tawar pekerja.
Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, jumlah pekerja dengan status kontrak dan outsourcing terus meningkat dari tahun ke tahun. Para pengusaha lebih nyaman meraup keuntungan dengan merekrut tenaga kerja melalui sistem kontrak dan outsourcing. Saat ini, pola outsourcing lebih diminati karena sangat fleksibel. Bahkan ada perusahaan yang rela memberhentikan pekerjanya dengan membayar pesangon kemudian menggantikannya dengan pekerja baru melalui agen penyedia tenaga kerja outsourcing.
Ironisnya, pola outsourcing bukan saja diterapkan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang lebih berorientasi kepada keuntungan semata, tetapi juga diadopsi oleh pemerintah melalui perusahaan BUMN.
Suara Pembaruan Kamis, 10 Juli 2008
Para pekerja/buruh dengan status kontrak dan outsourcing pada umumnya menerima upah pada basis upah minimum, dan akan mengalami kenaikan kalau upah minimum naik. Tidak ada tawar-menawar upah di sini, karena pemberi kerja mereka adalah agen pemasok tenaga kerja, bukan manajemen perusahaan tempat mereka bekerja. Apabila mereka menuntut upah yang lebih tinggi maka respons terbaik yang dapat mereka terima adalah permohonan maaf dan silakan cari pekerjaan di tempat lain.
Upah minimum ditetapkan pemerintah (dalam hal ini gubernur) dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Dewan Pengupahan yang dibentuk di tingkat provinsi dan masing-masing kota/kabupaten. Dalam menyusun rekomendasi, Dewan Pengupahan terlebih dulu melakukan survei tentang harga barang kebutuhan pokok sebanyak 46 komponen yang dikonsumsi oleh seorang pekerja lajang. Hasil survei kemudian diolah oleh BPS dan selanjutnya ditentukan besar kebutuhan hidup seorang pekerja lajang dalam sebulan.
Setelah besar kebutuhan hidup tersebut diketahui, tidak lantas upah minimum segera dapat ditetapkan. Dewan Pengupahan masih harus mempertimbangkan faktor lain, yaitu produktivitas, pertumbuhan ekonomi, usaha marginal dan kondisi pasar kerja. Faktor-faktor penentu upah minimum tersebut diatur dalam Permenakertrans No. Per-17/Men/VIII/2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak yang dipakai oleh Dewan Pengupahan sebagai pedoman dalam menetapkan rekomendasi kepada gubernur.
Sekalipun belum ada rumusan teori yang secara kuantitatif dapat menjelaskan hubungan upah minimum dengan faktor produktivitas, pertumbuhan ekonomi, usaha marginal dan kondisi pasar kerja, namun dalam praktik faktor-faktor tersebut menjadi penghambat penetapan upah minimum setara hasil survei kebutuhan hidup minimum.
Mengambil contoh besar UMP DKI Jakarta 2008 sebesar Rp 972.604, hanya 92 persen dari besar kebutuhan hidup minimum seorang pekerja lajang sebesar Rp 1.055.275 yang ditetapkan berdasarkan hasil survei pada Juli, Agustus dan September 2007. Ditinjau dari proporsinya, sebesar 29,61 persen merupakan kebutuhan makanan dan minuman, sebesar 7,66 persen kebutuhan sandang, 45,54 persen kebutuhan (kelompok) perumahan, kemudian 1,09 persen kebutuhan pendidikan, 11,37 persen kebutuhan jasa transportasi, 2,65 persen kebutuhan kesehatan dan 2,08 persen kebutuhan rekreasi.
Biaya Transportasi
Dari 46 komponen kebutuhan hidup seorang pekerja lajang, nilai kebutuhan transportasi tidak ditentukan melalui hasil survei, tetapi hanya mengutip tarif angkutan umum (tarif pemerintah) satu kali jalan dikali dua (pulang pergi) dengan frekuensi 30 hari dalam sebulan. Nilai ini tentu jauh dari biaya riil yang dikeluarkan oleh seorang pekerja lajang dalam sebulan. Untuk menuju tempat kerja, pekerja pada umumnya harus menumpang angkutan umum dengan berpindah kendaraan. Apalagi sebagian dari pekerja harus menumpang ojek yang tarifnya jauh lebih mahal.
Berkhas 28 Volume VI Juli 2008
Suara Pembaruan Kamis, 10 Juli 2008
Bagaimana pekerja dapat bertahan hidup dengan kondisi ini? Dari berbagai penelitian yang dilakukan terhadap kehidupan pekerja, disimpulkan bahwa kalangan pekerja menyiasati hidup dengan mengurangi kualitas barang dan jasa yang dikonsumsi sehari-hari, seperti, memilih tinggal di daerah kumuh dan padat penduduk, beberapa rumah tangga pekerja tinggal dalam satu rumah kontrakan, hidup berpisah sementara dengan istri/suami dan anak-anak yang ditinggal di kampung halaman, meminjam uang di koperasi atau menggunakan kartu kredit (karena akses perbankan semakin mudah). Tidak heran apabila dari kelompok pekerja banyak yang gagal membayar kartu kredit, sehingga nama mereka tercantum dalam daftar hitam di Bank Indonesia, berurusan dengan debt collector atau aset mereka berupa sepeda motor yang mereka peroleh secara kredit, ditarik oleh dealer. Singkatnya, sesungguhnya setiap bulan mereka defisit keuangan.
Kembali ke masalah BBM di atas, kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dan jasa pasca 24 Mei 2008 semakin menyulitkan kondisi pekerja. Apalagi dengan naiknya tarif angkutan umum mulai Juni yang mencapai 40 persen akan semakin melemahkan daya beli mereka. Menurut ukuran pemerintah, pekerja tidak termasuk kategori miskin, sehingga bukan merupakan rumah tangga sasaran yang berhak mendapatkan Bantuan Langsung Tunai.
Lalu, apa yang bisa diperbuat pemerintah bagi kelompok pekerja yang upahnya hanya sebatas upah minimum? Ada satu jalan terbuka bagi pemerintah, yaitu merevisi Upah Minimum 2008. Hal ini pernah dilakukan pada 2001, yaitu pada April 2001 ketika pemerintah menetapkan upah minimum baru sebagai pengganti Upah Minimum 2001 yang diberlakukan mulai 1 Januari 2001. Revisi tersebut merupakan respons atas kenaikan harga-harga pascakenaikan harga BBM.
Bisnis I ndonesia Senin, 14 Juli 2008
'Bu r u h h a r u s k e n a sa n k si j ik a t ola k SKB'
JAKARTA: Pelaku usaha menuntut pemerintah agar menetapkan sanksi kepada buruh yang menolak dan bahkan menuntut uang lembur akibat pengalihan jam kerja ke Sabtu-Minggu di dalam surat keputusan bersama (SKB) lima menteri untuk menjunjung asas pemerataan keadilan.
Di dalam butir rancangan SKB pengaturan jam kerja industri yang akan efektif berlaku pada 21 Juli 2008, disebutkan pemerintah hanya akan mengenakan sanksi kepada industri yang menolak pengalihan waktu kerja berupa pemutusan sementara saluran listrik.
Pelaku usaha tetap akan membayar uang lembur apabila waktu bekerja buruh melampaui batas maksimal seperti yang diatur dalam UU No. 13 tentang Ketenagakerjaan, yakni 40 jam dalam seminggu.
"Nah, pergeseran hari kerja ke Sabtu-Minggu berpotensi meningkatkan operasional kerja buruh melampaui 40 jam, sehingga pengusaha perlu memberikan tambahan uang lembur. Aturan ini sangat memberatkan keuangan mereka," kata Ketua Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, kepada Bisnis, kemarin.
Menurut dia, gangguan listrik yang sempat terjadi telah mengacaukan proses produksi, sehingga sejumlah sentra industri seperti petrokimia terpaksa memangkas penggunaan kapasitas terpasan pabrik (utilisasi) sekitar 10%.
Asosiasi industri lainnya juga mengkhawatirkan pengaturan jam kerja dan ketidakjelasan sanksi dapat memperburuk hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja.
Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan pihaknya masih kurang puas dengan penjelasan pemerintah dan PLN pada pertemuan dengan pebisnis, Jumat pekan lalu.
Dia mengatakan SKB lima menteri soal pergeseran jam kerja harus disesuaikan dengan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Bagi dia, pengaturan jam kerja baru harus melalui keputusan satu pintu.
Hal senada dikatakan Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy kebijakan pengaturan hari libur bagi karyawan juga membutuhkan aturan hukum yang jelas. Perusahaan, ujarnya, tidak menghendaki diadu domba dengan karyawan ataupun serikat pekerja.
"Di undang-undang [ketenagakerjaan] dikatakan hari kerja itu dari Senin hingga Sabtu. Jadi kami minta ada surat keputusan tingkat Menteri [Tenaga Kerja]. Pemerintah jangan lepas tangan," ujarnya.
Dia mengemukakan pabrik garmen memiliki ruang untuk memberlakukan hari kerja pada Sabtu dan Minggu, tetapi dengan sistem lembur. Kebijakan itu tetap menekan perusahaan dari ongkos produksi.
Berkhas 30 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Senin, 14 Juli 2008
Hubungan industrial
Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno khawatir penerapan surat keputusan bersama (SKB) tentang pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan waktu kerja pada sektor industri akan mengancam hubungan industrial antara pekerja dan pengusaha.
Detail SKB tersebut, katanya, harus dipersiapkan secara lengkap dan rinci untuk memastikan implementasi di lapangan nanti tidak menimbulkan gejolak-gejolak yang mengganggu hubungan industrial.
"Ini harus dikaji secara detail. Saya khawatir implementasi di lapangan tidak berjalan dengan lancar, akibatnya pengusaha dan pekerja bisa ribut dan ini bisa jadi persoalan baru lagi," ujarnya, akhir pekan lalu.
Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Rekson Silaban juga memikirkan kemungkinan adanya ancaman terhadap hubungan antara pekerja dan pengusaha.
Pengalihan jam kerja industri diperkirakan akan menimbulkan masalah baru, terutama terkait upah lembur dan persoalan budaya.
"Kadin sudah mengatakan tidak akan membayar upah lembur. Di lain pihak, banyak buruh tidak siap untuk bekerja pada Sabtu dan Minggu, karena alasan kegiatan sosial dan budaya," katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekjen Apindo Djimanto. Dia menuturkan pengusaha dan
serikat pekerja harus duduk bersama untuk membahas hal itu.
([email protected]/[email protected]/maria.benyamin@ bisnis.co.id)
Bisnis I ndonesia Senin, 14 Juli 2008
PH K m e m b a y a n g i k a r y a w a n h ot e l
PANGKAL PINANG: Pengusaha perhotelan mengisyaratkan tidak tertutup kemungkinan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terkait dengan kenaikan tarif listrik dan pemadaman bergilir.
"Bagaimana bisa tenang biaya operasional sangat tinggi, sedangkan tamu menginap sangat sedikit meski pada liburan anak sekolah sekarang ini," ujar Halim Susanto, mantan Ketua PHRI Bangka Belitung di Pangkal Pinang, kemarin. Dia mengaku sulit mempertahankan karyawan dalam situasi seperti ini. Dengan tarif listrik saja pengusaha hotel sudah terpukul, apalagi rencana pemadaman listrik di Sumatra.
Menurut dia, kalau masalah pemadaman listrik bergilir, sebenarnya biasa terjadi di Bangka Belitung, tetapi dikhawatirkan intensitas pemadaman ke depan akan makin meningkat, seiring dengan tekad pemerintah melakukan hemat energi melalui pemadaman listrik bergilir.
Berkhas 32 Volume VI Juli 2008
Pikiran Rakyat Senin, 14 Juli 2008
Se r ik a t Pe k e r j a Ja b a r Tu n t u t SKB D ica b u t
Senin, 14 Juli 2008 , 14:45:00CIMAHI, (PRLM).- Serikat Pekerja se Jawa Barat, menolak SKB (Surat Keputusan Bersama) lima menteri yang mewajibkan pengusaha menukar hari libur dengan hari lain. Bila pemerintah tidak mencabut SKB tersebut, maka tidak mustahil akan menimbulkan demo besar-besaran.
Menurut Ketua Aktivis Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jabar yang juga sebagai Ketua SPSI Cimahi, Edi Suherdi, SKB ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi PLN sebagai produsen listrik. SKB tersebut juga dinilai sebagai melanggar perjanjian kerja bersama antara pekerja dan pengusaha. Alasannya, dengan adanya pergantian hari libur sudah pasti tidak ada lembur lagi.
Bisnis I ndonesia Selasa, 15 Juli 2008
Pe k e r j a se t u j u p e n g a lih a n j a m k e r j a
JAKARTA: Para pekerja di sektor industri menyetujui surat keputusan bersama (SKB) tentang pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan waktu kerja pada sektor industri, dengan catatan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan.
Pelaksanaan pengalihan waktu kerja tersebut selanjutnya akan diatur melalui perjanjian kerja bersama (PKB) tiap-tiap perusahaan.
Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Syukur Sarto mengatakan para pekerja sudah bisa memahami persoalan krisis energi listrik yang terjadi di Tanah Air.
"Kami memahami persoalan ini karena merupakan persoalan yang sifatnya nasional, tapi pelaksanaannya harus diserahkan kepada perusahaan masing-masing," katanya kepada Bisnis seusai rapat bersama tripartit, kemarin.
Menurut Syukur, apabila pelaksanaannya diserahkan kepada perusahaan masing-masing dengan melibatkan koordinasi antara pihak pengusaha dan pekerja, maka ancaman konflik antara kedua pihak tersebut bisa dihindari.
Sebelumnya, pelaku usaha menuntut pemerintah agar menetapkan sanksi kepada buruh yang menolak dan bahkan menuntut uang lembur akibat pengalihan jam kerja ke Sabtu-Minggu di dalam SKB lima menteri untuk menjunjung asas pemerataan keadilan.
Di dalam butir rancangan SKB pengaturan jam kerja industri yang akan efektif berlaku pada 21 Juli 2008, disebutkan pemerintah hanya akan mengenakan sanksi kepada industri yang menolak pengalihan waktu kerja berupa pemutusan sementara saluran listrik.
Sementara itu, Dirjen Perselisihan Hubungan Industrial Depnakertrans Myra Maria Hanartani mengatakan dalam rapat bersama antara tripartit, baik pengusaha dan pekerja melalui serikat pekerjanya tidak keberatan dengan SKB tersebut.
Pihak-pihak tersebut, lanjutnya, telah memahami persoalan krisis energi listrik yang dihadapi. Terkait dengan teknis pelaksanaannya pun telah diserahkan kepada pengusaha dan pekerja untuk dibahas sesuai dengan aturan perusahaan yang berlaku, sebagaimana yang tertera dalam perjanjian kerja bersama.
Wewenang pengusaha
Myra menegaskan pemerintah tidak akan mengatur teknis pelaksanaan di lapangan karena itu merupakan wewenang dari perusahaan masing-masing. "Semua aturan teknisnya akan diatur oleh PKB masing-masing perusahaan."
Hal ini karena undang-undang ketenagakerjaan tidak mengatur tentang hari kerja, tetapi hanya mengatur soal jam kerja, yakni 40 jam dalam seminggu.
Syukur menambahkan untuk pelaksanaan SKB tersebut, diperlukan surat edaran atau surat keputusan dari menteri yang bertanggung jawab dalam wilayah ketenagakerjaan, yaitu Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi Erman Suparno.
Hal ini diperlukan untuk menjamin pelaksanaannya di lapangan agar tidak keluar dari aturan dan jalur yang berlaku. (maria.benyamin@ bisnis.co.id)
Berkhas 34 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Kamis, 17 Juli 2008
Bu r sa k e r j a j a d i a n d a la n u t a m a
JAKARTA: Penempatan tenaga kerja melalui bursa kerja pemerintah/swasta ditargetkan masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja terbesar dibandingkan dengan kegiatan lainnya selama 2008.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi, penempatan tenaga kerja melalui bursa kerja pemerintah/swasta ditargetkan mencapai 1,4 juta orang sepanjang tahun ini.
Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, target penempatan tenaga kerja melalui kegiatan bursa kerja baik pemerintah maupun swasta itu meningkat lebih dari 60%.
Pada 2007, kegiatan bursa kerja pemerintah/swasta ditargetkan menyerap 863.677 orang. Target itu bahkan berhasil terlampaui dengan total tenaga kerja yang terserap mencapai 870.000 orang.
Direktur Pengembangan Pasar Kerja Depnakertrans Reyna Usman Ahmadi mengatakan sepanjang tahun ini pemerintah memang menggenjot upaya penyerapan tenaga kerja baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebesar 2,5 juta orang melalui sejumlah kegiatan.
Sementara itu, penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri ditargetkan mencapai 1 juta orang baik itu tenaga kerja formal maupun tenaga kerja nonformal.
"Untuk dalam negeri target penyerapan tenaga kerja kami naikkan menjadi 1,5 juta orang, sedangkan untuk luar negeri menjadi 1 juta orang, sehingga total 2,5 juta tenaga kerja bisa terserap selama satu tahun ini," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.
Tahun lalu, Depnakertrans berhasil menempatkan tenaga kerja kurang lebih 1,57 juta orang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Penempatan tenaga kerja ini berhasil memangkas angka pengangguran di Tanah Air selama 2007.
Kegiatan lainnya yang diharapkan menyumbang penyerapan tenaga kerja adalah job fair, padat karya, terapan teknologi tepat guna, wirausaha baru, subsidi program, hingga pendampingan usaha mandiri.
Penempatan tenaga kerja melalui job fair ditargetkan menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 60.000 orang.
Bisnis I ndonesia Kamis, 17 Juli 2008
Se r ik a t b u r u h m in t a im p le m e n t a si SKB j a m k e r j a
d it u n d a
JAKARTA: Pemerintah diminta tidak terburu-buru mengimplementasikan surat keputusan bersama (SKB) lima menteri tentang pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan kerja yang telah ditandatangani awal pekan lalu.
Ketua Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Rekson Silaban meminta agar implementasi SKB tersebut ditunda untuk sementara waktu guna membuka perundingan antara pihak terkait, yaitu buruh dan pengusaha.
"Jangan diimplementasikan dulu, seharusnya dibuka kesempatan untuk berunding, sehingga ada kesesuaian baik antara buruh dan pengusaha," katanya kemarin.
Menurut Rekson, perundingan antara pengusaha dan buruh tersebut berpeluang memunculkan penambahan pasal-pasal baru yang bertujuan untuk meminimalisasi konflik sebagai konsekuensi dari pemberlakuan SKB itu.
Apalagi, lanjutnya, beberapa kelompok serikat pekerja berencana mengajukan judicial review atau hak uji materi terhadap SKB tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
"Kalau PTUN mengabulkan judicial review itu, tentu saja SKB tersebut akan berujung pada ketidakpastian, karena surat keputusan bersama lima menteri itu sama sekali tidak memiliki landasan hukum.
Perundingan antara pihak terkait, jelas Rekson, diperlukan untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini masih menjadi hambatan, terutama dalam hubungannya dengan para buruh.
Sebaiknya diselesaikan dulu hambatan-hambatan yang muncul akibat penerapan SKB daripada tetap nekat dikeluarkan lalu muncul benturan yang bisa mengarah ke konflik," tegasnya.
Upah lembur
Sebelumnya, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kab. Sidoarjo, Jawa Timur, meminta penambahan upah lembur 50% dibanding dengan lembur hari biasa Rp6.800/jam apabila bekerja pada Minggu, menyusul pengalihan jam kerja dari Senin-Jumat ke Sabtu-Minggu terkait dengan krisis listrik.
Ketua SPSI Kab. Sidoarjo Didik Bagyo mengatakan pengalihan jam kerja ke Sabtu-Minggu cukup sulit diimplementasikan, meskipun serikat pekerja tersebut tidak menolak pengaturan jam kerja yang dirancang melalui SKB lima menteri (Menteri ESDM, Mennakertrans, Mendagri, Menperin, dan Meneg BUMN).
"Kami tidak menolak kebijakan pemerintah tentang pengalihan jam kerja ke hari libur, dan kami mendukung langkah SPSI Pusat, yakni menyerahkan pelaksanaan pengalihan jam kerja ke Sabtu-Minggu melalui perjanjian kerja bersama setiap perusahaan [koordinasi pihak pengusaha dan pekerja]," ujarnya di Sidoarjo, Jatim, Selasa.
Adapun Lilis Hartono, Ketua DPC Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 Sukoharjo, menuturkan tetap akan menuntut jam lembur kepada perusahaan jika penerapan SKB tersebut melebihi jam kerja yang ditentukan.
Berkhas 36 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Kamis, 17 Juli 2008
"Jangan sampai SKB ini dijadikan tameng bagi pengusaha untuk mengebiri hak-hak buruh," tuturnya di Solo.
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng Djoko Santosa dalam pertemuan dengan pihak PLN dan Gubernur Jateng meminta agar Disnaker mengeluarkan kebijakan sebagai payung hukum penerapan pengalihan jam kerja industri.
"Kalau SKB itu diterapkan, Disnaker harus melakukan deregulasi sejumlah ketentuan yang mengatur tentang pengalihan jam kerja," imbuhnya. (k16/k22) ([email protected])
Kompas Kamis, 17 Juli 2008
Ja m sost e k H a r u s Le b ih Ke d e p a n k a n Pe k e r j a
Kamis, 17 Juli 2008 | 01:24 WIBJakarta, Kompas - Kalangan pengurus serikat buruh dan pengusaha mendesak manajemen PT Jamsostek (Persero) untuk mengubah paradigma kerjanya. Badan usaha milik negara— yang didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja untuk mengelola dana pekerja—seharusnya lebih mengedepankan pelayanan jaminan sosial daripada laba.
Demikian yang mengemuka di seminar bertajuk ”Mewujudkan Jaminan Sosial untuk Semua: Perlukah Jamsostek Direformasi?”, Rabu (16/7) di Jakarta.
Para pengusaha dan pengurus serikat buruh menilai manajemen Jamsostek selama ini cenderung lebih mengedepankan kinerja keuangan dan profit. Padahal, Jamsostek didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial pesertanya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan, citra Jamsostek di kalangan pengusaha masih negatif. Hal ini mendorong pengusaha enggan mengikuti program Jamsostek dan mendaftarkan pekerjanya pada program jaminan sosial yang lebih baik.
”Uang yang selama ini kami setor lebih banyak dipakai untuk kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerja dan pengusaha. Bahkan, banyak juga yang dikorupsi. Lebih baik kami membangun dana jaminan sosial sendiri yang lebih baik dari Jamsostek sehingga pekerja bisa menikmati manfaatnya secara langsung,” kata Sofjan.
Kepesertaan rendah
Kondisi ini menyebabkan tingkat kepesertaan aktif Jamsostek relatif rendah. Sampai Desember 2007, jumlah peserta aktif Jamsostek 7.941.017 orang yang bekerja pada 90.697 perusahaan. Adapun peserta yang tidak aktif mencapai 15.788.933 orang yang bekerja di 68.516 perusahaan.
Menurut Sofjan, Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga harus bekerja keras membangun kepercayaan pengusaha kembali terhadap BUMN pengelola dana pekerja tersebut. Caranya, manajemen Jamsostek harus meningkatkan sosialisasi program yang mudah dipahami dan langsung menyentuh pekerja.
”Pekerja lebih paham membaca laporan pinjaman uang muka perumahan atau beasiswa ketimbang iklan neraca keuangan di koran. Manajemen harus lebih banyak menyosialisasikan programnya,” tutur Sofjan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi Pertambangan, Minyak Gas Bumi dan Umum (FSP-Kem) Sjaiful DP mengatakan, pihaknya tidak merasa memiliki Jamsostek. ”Jamsostek seharusnya nirlaba dan keuntungan yang diperoleh harus dipakai untuk meningkatkan manfaat program bagi peserta. Jangan sekadar mencari untung,” ujar Sjaiful.
Sebagai BUMN pengelola aset Rp 64 triliun, hasil usaha Jamsostek memang sangat menggiurkan. Tahun 2007, pendapatan iuran dari program Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp 6,8 triliun dan pendapatan iuran non-JHT mencapai Rp 1,8 triliun.
Berkhas 38 Volume VI Juli 2008
Kompas Kamis, 17 Juli 2008
Target jangka panjang
Menurut Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban, yang sedang menjalani amanat sebagai Komisaris Jamsostek mewakili unsur pekerja, sudah saatnya manajemen menetapkan target penambahan jumlah peserta untuk jangka panjang. Realisasi penambahan peserta baru dan penyaluran dana jaminan sosial untuk peserta aktif harus menjadi tolok ukur kinerja manajemen.
”Sudah 26 tahun Jamsostek berdiri, tetapi mengapa jumlah peserta aktif baru tujuh jutaan? Harus ada target penambahan peserta baru dan pelayanan peserta lama agar mereka aktif membayar iuran,” kata Rekson Silaban.
Hotbonar Sinaga, yang mengikuti seminar sejak awal, mengakui lemahnya sosialisasi program. Selain bakal meningkatkan anggaran sosialisasi, ujar Hotbonar, pihaknya kini bekerja sama dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta kepolisian untuk menindak perusahaan yang belum menyertakan pekerjanya dalam program Jamsostek.
Kompas Kamis, 17 Juli 2008
Pe n g a lih a n Ja m Ke r j a Ru g ik a n Bu r u h
Kamis, 17 Juli 2008 | 01:49 WIBSerang, Kompas - Kebijakan pengalihan jam kerja dari hari biasa ke hari Sabtu dan Minggu, untuk mengurangi defisit pasokan listrik, dianggap menyulitkan kalangan buruh sekaligus pengusaha. Pasalnya, kebijakan pemerintah pusat itu dipastikan akan mengakibatkan penghasilan buruh menurun.
Penilaian itu salah satunya diungkapkan Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Banten Sumantri. Menurut dia, pengalihan jam kerja dari hari biasa ke hari libur akan menambah beban para buruh. ”Biasanya kami mendapat tambahan penghasilan kalau masuk kerja di hari libur. Tapi mulai minggu depan, kami malah diliburkan pas hari biasa,” katanya.
Oleh karena itu, kebijakan lima menteri itu dipastikan akan membuat pekerja mengalami kesulitan perekonomian, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan. Apalagi, pengalihan jam kerja itu dilakukan saat pemerintah baru saja menaikkan harga BBM.
Saat ini buruh berusaha menyesuaikan diri dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok pascakenaikan harga BBM.
Namun, SBSI belum mengeluarkan sikap resmi atas pemberlakuan surat keputusan bersama (SKB) lima menteri tentang pengalihan jam kerja. ”Kami baru akan membahasnya. Tapi kebijakan itu benar-benar merugikan pekerja,” ujarnya.
Kalangan buruh juga menilai pengalihan jam kerja akan berdampak terhadap peningkatan biaya produksi. Akibatnya, perusahaan akan mengurangi biaya tenaga kerja yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain dampak ekonomi, kebijakan itu juga akan mengganggu waktu libur para buruh. Pasalnya, pemerintah tidak mengatur jadwal libur mingguan bagi para pekerja.
Berkhas 40 Volume VI Juli 2008
Bisnis I ndonesia Jumat, 18 Juli 2008
Ast r a b u t u h b a n y a k t e n a g a k e r j a
JAKARTA: PT Astra International Tbk membutuhkan tenaga kerja baru yang berkualitas rata-rata mencapai 1.000-1.200 orang per tahun seiring dengan pertumbuhan industri di sektor pertambangan, agribisnis, dan otomotif.
Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM), Astra International tahun ini bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) menggelar Astra Day, ajang interaktif antara dunia industri dan kalangan akademisi.
Astra Day menjadi komitmen perusahaan publik ini untuk berinvestasi di aspek SDM, sekaligus menjawab tantangan persaingan pada masa mendatang. Selain menggelar kegiatan konsultasi karier, seminar, pameran dan edutaintment, Astra Day juga mengadakan bursa kerja untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja baru, baik level diploma maupun sarjana.
Bisnis I ndonesia Rabu, 23 Juli 2008
Ju m la h TKI m e n in g g a l ca p a i 8 4 or a n g
JAKARTA: Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang meninggal di luar negeri periode Januari-Juli 2008 telah mencapai 84 orang, sedangkan pengaduan kasus buruh migran yang dialamatkan ke Migrant Care meningkat menjadi 87 kasus dalam periode yang sama.
Peningkatan angka TKI yang meninggal dan besaran jumlah pengaduan kasus ini dinilai mencerminkan buruknya perlindungan TKI di luar negeri.
Hal ini dinilai menjadi pertanda semakin melemahnya koordinasi antara pihak terkait yang bertanggung jawab terhadap urusan ketenagakerjaan, baik itu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), maupun perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI).
"Dalam kurun waktu enam bulan saja, kasus kematian buruh migran di luar negeri mencatat jumlah yang tinggi. Kondisi ini seharusnya dihentikan, bukan dibiarkan begitu saja," ujar Wahyu Susilo, aktivis Migrant Care, sebuah organisasi yang menangani buruh migran kepada Bisnis, kemarin.
Berdasarkan data Migrant Care, kasus kematian yang menimpa TKI di luar negeri terus meningkat sepanjang tahun.
Pada 2003, angka kematian TKI sempat mencapai 99 orang. Jumlah itu terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 2007 lalu di mana TKI yang meninggal tercatat sebesar 212 orang.
Sementara itu, terkait dengan pengaduan kasus, tercatat kurang lebih 87 kasus yang dialamatkan ke Migrant Care.
Rata-rata kasus yang diadukan beragam, mulai dari kehilangan kontak, kasus kekerasan, hingga kematian di daerah penempatan.
Menurut Wahyu, pemerintah seharusnya bisa meminimalisasi dan menekan jumlah kasus tersebut melalui beragam upaya di antaranya dengan meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Dalam hal ini, pemerintah juga harus berani menindak PJTKI nakal karena akar persoalan dari kejadian yang menimpa TKI di luar negeri disebabkan oleh buruknya penanganan tenaga kerja oleh PJTKI.
"PJTKI menjadi pihak yang paling bertanggung jawab karena mereka yang mengurusi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri," tegasnya.
Perketat sistem
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat yang dihubungi secara terpisah mengakui adanya peningkatan angka kematian TKI di luar negeri tersebut.
Namun, menurutnya, kasus kematian TKI di luar negeri itu disebabkan oleh penyakit yang diderita oleh tenaga kerja itu sendiri.