• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Tetap Genetika,Ema

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Tetap Genetika,Ema"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A.

A. Latar BelakangLatar Belakang Gen ad

Gen adalah unit alah unit pewarisan pewarisan sifat bagisifat bagi organismeorganisme hidup. Batasan modernhidup. Batasan modern gen adalah

gen adalah suatusuatu lokasilokasi tertentu padatertentu pada genomgenom  yang  yang berhubungan berhubungan dengandengan  pewarisan

 pewarisan sifat sifat dan dan dapat dapat dihubungkan dihubungkan dengan dengan fungsi fungsi sebagai sebagai regulator regulator  (pengendali), sasaran

(pengendali), sasaran transkripsi,transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnyaatau peran-peran fungsional lainnya.. Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau "gen warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk 

"gen warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk  alel:alel: pilihan variasi yangpilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara

sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik fenotipik  berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses

suatu proses reproduksi,reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya.bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Persilangan monohibrida adalah persilangan sederhana yang hanya Persilangan monohibrida adalah persilangan sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Percobaan ini akan diujikan pada memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Percobaan ini akan diujikan pada lalat Drosophila dengan maksud untuk membuktikan Hukum Mendel I. Pada lalat Drosophila dengan maksud untuk membuktikan Hukum Mendel I. Pada kasus dominant penuh, keturunan yang didapat pada F2 akan menunjukkan kasus dominant penuh, keturunan yang didapat pada F2 akan menunjukkan perbandingan fenotip dominan dan resesif 3 : 1 atau perbandingan genotip 1 : perbandingan fenotip dominan dan resesif 3 : 1 atau perbandingan genotip 1 : 2 : 1. Analisa dengan uji X2 hanya dilakukan untuk perbandingan fenotipnya. 2 : 1. Analisa dengan uji X2 hanya dilakukan untuk perbandingan fenotipnya. Persilangan ini bersifat resiprokal, artinya penggunaan individu jantan dan Persilangan ini bersifat resiprokal, artinya penggunaan individu jantan dan betina dengan satu tanda beda tertentu dapat sesuka hati tanpa ada betina dengan satu tanda beda tertentu dapat sesuka hati tanpa ada pengaruhny

pengaruhnya dalam ra dalam rasio fenotip generasi kedua (asio fenotip generasi kedua (F2).F2).

B.

B. TujuanTujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengamati, mempelajari, dan Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengamati, mempelajari, dan membedakan sifat dari keturunan hasil persilangan monohibrid dan dihibrid membedakan sifat dari keturunan hasil persilangan monohibrid dan dihibrid serta membuktikan Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II, mengenal suatu serta membuktikan Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II, mengenal suatu sifat yang disebabkan oleh gen-gen yang dipengaruhi seks dan mengetahui sifat yang disebabkan oleh gen-gen yang dipengaruhi seks dan mengetahui siklus hidup dan

(2)

BAB II BAB II

ACARA PRAKTIKUM ACARA PRAKTIKUM

A.

A. ACARA I. IMITASI PERBANDINGAN GENETIKACARA I. IMITASI PERBANDINGAN GENETIK (Persilangan Monohibrid)

(Persilangan Monohibrid) 1.

1. Tujuan:Tujuan: a.

a. Mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawaMendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara

oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak.acak. b.

b. Melakukan pengujian XMelakukan pengujian X22 untuk mengetahuai apakah hasil persilanganuntuk mengetahuai apakah hasil persilangan yang di dapat di anggap baik atau

yang di dapat di anggap baik atau tidak.tidak.

2.

2. Kajian PustakaKajian Pustaka

Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis dengan memperhatikan satu sifat

sejenis dengan memperhatikan satu sifat beda.Misalnybeda.Misalnya persilangan antaraa persilangan antara rambutan yang berbuah manisdengan rambutan yang berbuah masam, rambutan yang berbuah manisdengan rambutan yang berbuah masam, persilangan antaraayam berbulu putih dengan ayam berbuluh hitam, persilangan antaraayam berbulu putih dengan ayam berbuluh hitam, manusia berkulit putih dengan manusia berkulit hitam, dan suami yang manusia berkulit putih dengan manusia berkulit hitam, dan suami yang bertubuh tinggi dengan istriyang bertubuh

bertubuh tinggi dengan istriyang bertubuh rendah.rendah.

Pada persilangan monohibrid, bila dominansi tampak sempurna atau Pada persilangan monohibrid, bila dominansi tampak sempurna atau penuh, maka persilangan monohibrid akan menghasilkan keturunan penuh, maka persilangan monohibrid akan menghasilkan keturunan dengan rasio fenontipe 3:1. Akan tetapi, bila dominansi tidak sempurna dengan rasio fenontipe 3:1. Akan tetapi, bila dominansi tidak sempurna (intermedier), maka rasio fenontipe yaitu menjadi 1:2:1. Dalam (intermedier), maka rasio fenontipe yaitu menjadi 1:2:1. Dalam kenyataanny

kenyataannya, hasil a, hasil persilangan tidak selalu memperlihatkan rasio tersebutpersilangan tidak selalu memperlihatkan rasio tersebut di atas secara tepat, sehingga perlu dilakukan pengujian statistik. Dalam di atas secara tepat, sehingga perlu dilakukan pengujian statistik. Dalam hal ini pengujian

hal ini pengujian  x x22(dibaca Chi Sqauare) dapat digunakan untuk (dibaca Chi Sqauare) dapat digunakan untuk  menetapkan apakah penyimpangan yang terjadi itu hanya (signifikan) menetapkan apakah penyimpangan yang terjadi itu hanya (signifikan) ataukah tidak nyata. Dengan kata lain, apakah hasil yang di peroleh dapat ataukah tidak nyata. Dengan kata lain, apakah hasil yang di peroleh dapat dianggap baik atau tidak.

dianggap baik atau tidak.

Sifat keturunan yang dapat kita amati/ lihat (warna, bentuk, ukuran) Sifat keturunan yang dapat kita amati/ lihat (warna, bentuk, ukuran) dinamakan fenotip. Sifat dasar yang tak tampak dan tetap (artinya tidak  dinamakan fenotip. Sifat dasar yang tak tampak dan tetap (artinya tidak  berubah-ubah karena lingkungan) pada suatu individu dinamakan genotip berubah-ubah karena lingkungan) pada suatu individu dinamakan genotip

(3)

BAB II BAB II

ACARA PRAKTIKUM ACARA PRAKTIKUM

A.

A. ACARA I. IMITASI PERBANDINGAN GENETIKACARA I. IMITASI PERBANDINGAN GENETIK (Persilangan Monohibrid)

(Persilangan Monohibrid) 1.

1. Tujuan:Tujuan: a.

a. Mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawaMendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara

oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak.acak. b.

b. Melakukan pengujian XMelakukan pengujian X22 untuk mengetahuai apakah hasil persilanganuntuk mengetahuai apakah hasil persilangan yang di dapat di anggap baik atau

yang di dapat di anggap baik atau tidak.tidak.

2.

2. Kajian PustakaKajian Pustaka

Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis dengan memperhatikan satu sifat

sejenis dengan memperhatikan satu sifat beda.Misalnybeda.Misalnya persilangan antaraa persilangan antara rambutan yang berbuah manisdengan rambutan yang berbuah masam, rambutan yang berbuah manisdengan rambutan yang berbuah masam, persilangan antaraayam berbulu putih dengan ayam berbuluh hitam, persilangan antaraayam berbulu putih dengan ayam berbuluh hitam, manusia berkulit putih dengan manusia berkulit hitam, dan suami yang manusia berkulit putih dengan manusia berkulit hitam, dan suami yang bertubuh tinggi dengan istriyang bertubuh

bertubuh tinggi dengan istriyang bertubuh rendah.rendah.

Pada persilangan monohibrid, bila dominansi tampak sempurna atau Pada persilangan monohibrid, bila dominansi tampak sempurna atau penuh, maka persilangan monohibrid akan menghasilkan keturunan penuh, maka persilangan monohibrid akan menghasilkan keturunan dengan rasio fenontipe 3:1. Akan tetapi, bila dominansi tidak sempurna dengan rasio fenontipe 3:1. Akan tetapi, bila dominansi tidak sempurna (intermedier), maka rasio fenontipe yaitu menjadi 1:2:1. Dalam (intermedier), maka rasio fenontipe yaitu menjadi 1:2:1. Dalam kenyataanny

kenyataannya, hasil a, hasil persilangan tidak selalu memperlihatkan rasio tersebutpersilangan tidak selalu memperlihatkan rasio tersebut di atas secara tepat, sehingga perlu dilakukan pengujian statistik. Dalam di atas secara tepat, sehingga perlu dilakukan pengujian statistik. Dalam hal ini pengujian

hal ini pengujian  x x22(dibaca Chi Sqauare) dapat digunakan untuk (dibaca Chi Sqauare) dapat digunakan untuk  menetapkan apakah penyimpangan yang terjadi itu hanya (signifikan) menetapkan apakah penyimpangan yang terjadi itu hanya (signifikan) ataukah tidak nyata. Dengan kata lain, apakah hasil yang di peroleh dapat ataukah tidak nyata. Dengan kata lain, apakah hasil yang di peroleh dapat dianggap baik atau tidak.

dianggap baik atau tidak.

Sifat keturunan yang dapat kita amati/ lihat (warna, bentuk, ukuran) Sifat keturunan yang dapat kita amati/ lihat (warna, bentuk, ukuran) dinamakan fenotip. Sifat dasar yang tak tampak dan tetap (artinya tidak  dinamakan fenotip. Sifat dasar yang tak tampak dan tetap (artinya tidak  berubah-ubah karena lingkungan) pada suatu individu dinamakan genotip berubah-ubah karena lingkungan) pada suatu individu dinamakan genotip

(4)

(misalnya TT, tt). Anggota dari sepasang gen yang memiliki pengaruh (misalnya TT, tt). Anggota dari sepasang gen yang memiliki pengaruh berlawanan di sebut alel. Misalnya T menentukan sifat tinggi pada batang, berlawanan di sebut alel. Misalnya T menentukan sifat tinggi pada batang, sedangkan t menentukan batang kecil, maka T dan t merupakan alel. sedangkan t menentukan batang kecil, maka T dan t merupakan alel. Tetapi andaikan R adalah

Tetapi andaikan R adalah gen yang menentukan warna merah pada gen yang menentukan warna merah pada bunga,bunga, maka T dan R bukan alel. Homozigot ialah individu yang genotipnya maka T dan R bukan alel. Homozigot ialah individu yang genotipnya terdiri dari alel yang

terdiri dari alel yang sama (misalnya sama (misalnya TT, tt), sedangkaTT, tt), sedangkan heterozigot adn heterozigot adalahalah individu yang genontipnya terdiri dari pasangan alel yang tidak sama individu yang genontipnya terdiri dari pasangan alel yang tidak sama (misalnya Tt). Homozigot dapat dibedakan atas homozigot dominan (TT) (misalnya Tt). Homozigot dapat dibedakan atas homozigot dominan (TT) dan homozigot resesip (tt).

dan homozigot resesip (tt).

3.

3. Alat dan BahanAlat dan Bahan

a.

a. Alat:Alat:

-- Alat tulis menulisAlat tulis menulis -- Kancing genetikaKancing genetika b.

b. Bahan:Bahan:

-- Lembar tabel XLembar tabel X22

(5)

4. Hasil Pengamatan.

a. Tabel 2.1 Hasil pengamatan 1) Dominanansi Sempurna

 M = MERAH

 m = PUTIH

 Perbandingan 3:1 1) Tabel data individu

Pengambilan-ke MM Mm Mm 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 1 10 1

3 3 4

2) Tabel data kelompok 

Individu-ke MM/Mm mm 1 6 4 2 6 4 3 6 4 4 7 3 5 8 2

Jumlah (∑)

33 17

(6)

 Tabel analisis data

G/F Expected observer (d=e-o) X2 =  MM dan Mm  x50=37,5 33 4,5 0,54 Mm  x50=12,5 17 -4,5 1,62

50 50 0 2,16 Contoh perhitungan           Dengan DB = N – 1 = 2 – 1 = 1  Kesimpulan

Dari hasil analisis data kelompk yang di hasilkan atau yang di proleh yaitu 2,16 di mana nilai rata-rata ini lebih dari 0,05, setelah di cocokkan di tabel ciskuer hasil yang di proleh tersebut dapat di katakana data ini adalah data baik.

3) Tabel data kelas.

Kelomok-ke MM dan Mm mm I 33 7 II 33 7 III 31 9 IV 30 10 V 32 8 VI 38 12 VII 37 13 VIII 42 8 IX 33 17 X 45 15

354 106

(7)

 Tabel analisis data G/F E O d=e-o X2 =  MM dan Mm  x460=345 354 -9 0,23 Mm  x460=115 106 9 0,7

460 460 0 0,93           Dengan DB = N - 1 = 2 – 1 = 1  Kesimpulan

Pada hasil data yang di dapatkan yaitu 0,93, data yang di peroleh tersebut merupakan yang menunjukkan bahwa hasil yang di dapatkan yaitu data yang baik.

2) Dominansi tidak sempurna  Perbandingan 1:2:1

1) Tabel data indiviu

Pengambilan-ke MM Mm Mm 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |

3 3 4

(8)

2) Tabel data kelompok  Individu-ke MM Mm Mm 1 3 3 4 2 1 5 4 3 6 4 4 2 5 3 5 4 4 2

10 23 17

 Tabel analisis data

G/F E O d=e-o X2 =  MM  x50=12,5 12 0,5 0,02 Mm  x50=25 21 4 0,64 Mm  x50=12,5 17 -5,5 2,42

50 50 0 3,08           Dengan DB = N – 1 = 3 – 1 = 2  Kesimpulan

Dari data kelompok yang di proleh yaitu termasukbaik, kenapa di katakana data yang baik karna data yang di proleh lebih dari 0,05 yaitu:3,06.

(9)

3) Tabel Data Kelas Kelompok-ke MM Mm Mm I 10 23 7 II 10 23 7 III 5 26 9 IV 10 20 10 V 15 17 8 VI 14 24 12 VII 5 28 17 VIII 19 30 11 IX 12 21 17 X 13 32 15

113 244 113

 Tabel analisis data

G/F E O od=e-o X2 =  MM  x470=117,5 113 4,5 0,17 Mm  x470=235 244 -9 0,34 mm  x470=117,5 113 4,5 0,17

470 470 0 0,68          DB= N-1 =3-1=2  Kesimpulan

Dari data kelas yang di hasilkan di proleh yaitu termasuk data yang baik, karna data yang di proleh lebih dari 0,05 yaitu:0,68.

(10)

B. ACARA II. IMITASI PERBANDINGAN GENETIK (Persilangan Dihibrid)

1. Tujuan:

a. Mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak.

b. Melakukan pengujian X2 untuk mengetahui apakah hasil persilangan yang di dapat di anggap baik atau benar.

2. Kajian Pustaka

Persilangan dihibrida merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya.

Masalah penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak  peneliti. Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johann Mendel yang lahir tahun 1822 di Cekoslovakia. Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan dan biarawan ini menemukan prinsip-prinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikan dengan cermat dalam pembiakan silang. Penelitian-penelitian Mendel menghasilkan hukum Mendel I dan hukum Mendel II.

Mendel melanjutkan persilangan dengan menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, misalnya warna bunga dan ukuran tanaman. Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan gamet. Persilangan dengan dua sifat beda yang lain juga memiliki perbandingan fenotip F2 sama, yaitu 9 : 3 : 3 : 1. persilangan dihibrid yang menghasilkan

(11)

keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 merupakan bukti berlakunya Hukum Mendel II yang disebut Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas (The Law Independent Assortment of Genes)

Pada semidominansi (artinya dominansi tidak nampak penuh, sehingga ada sifat intermedier), maka hasil perkawinan dihibrid akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1:2:1 x 1:2:1 = 1:2:1:2:4:2:1:2:1. Misalnya tanaman bunga pukul empat ada yang berdaun lebar (genotip LL) dan ada yang berdaun sempit (genotip ll), sedangkan yang berdaun sedang bersifat heterozigotik (genotip Ll). Bunganya ada yang berwarna merah (genotip MM), ada yang putih (genotip mm), dan ada yang merah jambu (genotip Mm). jika tanaman berdaun sempit bunga putih disilangkan dengan tanaman homozigot berdaun lebar bunga merah, maka tanaman F1 bersifat intermedier berdaun sedang dan berbunga merah jambu. Tanam-tanaman F2 akan memperlihatkan 16 kombinasi dengan perbandingan 1:2:1:2:4:2:1:2:1.

3. Alat dan Bahan

a. Alat :

- Kancing genetika - Alat tulis menulis b. Bahan :

- Pasangan kantong dari kain - Lembar tabel X2

4. Hasil Pengamatan

a. Tabel 2.2 Tabel hasil pengamatan 1) Dominansi sempurna  4 Tangkup Merah-Hitam (MB)  4 Tangkup Merah-Hijau (Mb)  4 Tangkup Putih-Hitam (mB)  4 Tangkup Putih-Hijau (mb)  Perbandingan :9:3:3:1

(12)

1) Tabel data individu. Pengambilan-ke M-B M-bb mmB- mmbb 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 1 10 1 11 1 12 1 13 1 14 1 15 1 16 1

11 1 4 0

2) Tabel Data Kelompok 

Individu-ke M-B- M-bb mmB- mmbb 1 13 2 1 0 2 10 5 0 1 3 8 5 1 2 4 10 1 2 3 5 5 2 7 2 6 11 1 4 0

57 16 15 8

(13)

 Tabel analisis data G/F E O d=e-o X2 =  M-B  x96=57 57 -3 0,16 M-bb  x96=16 16 2 0,22 mmB-  x96=15 15 3 0,5 mmbb  x96=8 8 -2 0,66

96 96 0 1,54           DB = N – 1 = 4 – 1 = 3  Kesimpulan

Hasil dari analisis data kelompok jumlah nilai yang di proleh yaitu: 1,54, berarti dari hasil data yang di proleh tersebut merupakan termasuk data yang baik.

3) Tabel Data Kelas

Kelompok-ke M-B M-bb mmB- mmbb I 32 19 11 2 II 41 5 16 2 III 38 11 9 6 IV 38 14 5 7 V 44 11 9 0 VI 53 16 24 3 VII 54 10 18 14 VIII 69 17 20 6 IX 57 16 15 8 X 65 16 25 6

491 135 152 54           DB = N – 1 = 4 – 1 = 3

(14)

 Tabel Analisis Data G/F E O d=e-o X2 =  M-B  x832=468 491 -23 1,13 M-bb  x832=156 135 21 2,82 mmB-  x832=156 152 4 0,10 Mmbb  x832=52 54 -2 0,07

832 832 0 4,12  Kesimpulan

Hasil dari analisis data kelas yang di dapatkan adalah termasuk data yang baik, karena nilainya (x2) lebih dari 0,05 di mana data yang di peroleh tersebut yaiu: 4,12.

2) Dominansi Tidak Sempurna a) Tabel Data Individu

Pengambilan ke MMBB MMBb MmBB MmBb MMbb Mmbb mmBB mmBb mmbb 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 1 10 1 11 1 12 1 13 1 14 1

(15)

15 1

16 1

Σ 1 1 3 5 0 2 1 3 0 b) Tabel Data Kelompok 

Pengambilan ke MMBB MMBb MmBB MmBb MMbb Mmbb mmBB mmBb mmbb 1 1 1 3 5 0 2 1 3 0 2 0 0 6 4 1 0 2 0 3 3 1 1 3 8 0 2 0 1 0 4 2 1 1 4 0 5 1 0 2 5 1 0 1 3 0 2 3 4 2 6 1 4 3 2 1 4 0 0 1

Σ

6 7 17 29 2 15 7 8 8

c) Tabel Analisis Data Kelompok 

G/F Expeoted Observed d= e-0 x2= d2 /e MMBB 1/16 x 96 = 6 6 0 0 MMBb 2/16 x 96 = 12 7 5 2,08 MmBB 1/16 x 96 = 6 17 -11 20,16 MmBb 2/16 x 96 = 12 26 -14 16,33 MMbb 4/16 x 96 = 24 2 22 20,16 Mmbb 2/16 x 96 = 12 15 -3 0,75 mmBB 1/16 x 96 = 6 7 -1 0,16 mmBb 2/16 x 96 = 12 8 4 1,33 mmbb 1/16 x 96 = 6 8 -2 0,66

Σ

96 96 0 61,63           DB = N

 – 

1 = 9

 – 

1 = 8 d) Kesimpulan

Dari data kelompok yang diperoleh yaitu data baik, karena nilai x2yang didapatkan lebih dari 0,05 yaitu 61,63.

(16)

1) Tabel Data Kelas Kelompok ke- MMBB MMBb MmBB MmBb MMbb Mmbb mmBB mmBb mmbb 1 3 5 4 20 5 14 4 7 2 2 6 8 12 15 1 4 8 8 2 3 2 4 11 21 8 3 2 7 6 4 13 18 6 11 5 9 0 5 7 5 8 4 12 20 5 6 6 3 0 6 3 13 11 26 3 13 11 13 3 7 9 9 15 21 7 5 6 13 11 8 13 3 17 27 13 7 3 15 4 9 6 7 17 26 2 15 7 8 8 10 6 12 17 30 8 10 6 17 6

Σ

69 833 122 217 57 86 53 96 49

a) Tabel Analisis Data Kelas G F Expected Observed d = e - 0 X 2 = d2 /e MMBB 1/16 x 832 = 52 69 -17 5,5 MMBb 2/16 x 832 = 104 83 21 4,2 MmBB 1/16 x 832 = 52 122 -70 94,2 MmBb 2/16 x 832 = 104 217 -113 122,7 MMbb 4/16 x 832 = 208 57 151 109,6 Mmbb 2/16 x 832 = 104 86 18 3,1 mmBB 1/16 x 832 = 52 53 -1 0,01 mmBb 2/16 x 832 = 104 96 8 0,6 mmbb 1/16 x 832 = 52 49 3 0,17 Jumlah 832 432 0 340,08           DB = N - 1 = 9 – 1 = 8

(17)

b) Kesimpulan

Pada data analisis kelas, nilai x2 yang diperoleh yaitu 340,08 berarti data tersebut termasuk data yang baik karena data tersebut lebih dari 0,05.

(18)

ACARA III

PERANAN GEN YANG DIPENGARUHI SEKS

1. Tujuan

Menetapkan genotif diri sendiri berdasarkan variabel ukuran telunjuk   jari tangan.

2. Kajian Pustaka

Gen (dari bahasa Belanda: gen) adalah unit pewarisan sifat bagi organisme hidup. Bentuk fisiknya adalah urutan DNA yang menyandi suatu protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi organisme yang memilikinya. Batasan modern gen adalah suatu lokasi tertentu pada genom yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat  dihubungkan dengan fungsi sebagai regulator (pengendali), sasaran transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya[1][2]. Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau "gen warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk  alel: pilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik  berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Dengan demikian, informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu organisme dapat terjaga.

3. Alat dan Bahan

a. Jari tangan dan alat tulis b. Menulis praktikan

(19)

4. Hasil Pengamatan

a. Tabel Hasil Pengamatan

No Nama Jenis

Kelamin

Jari Telunjuk panjang kiri

Jari telunjuk Pendek  kiri 1 2 3 4 5 6 Amirudin Bayan Sari Bq. Nilai Kusuma Bq. Rahmawati Bq. Indrawati Bq. Ismawati Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan

-√

b. Pembahasan

Dari hasil data di atas dihasilkan semua probundus rata-rata memiliki jari telunjuk pendek, yang dimana genotifnya dapat dituliskan atau disimbolkan dengan huruf yaitu TT, sehingga untuk  mengetahui genotif dari kedua orang tua (induk) dapat diambil dari 5 kemungkinan genotif yaitu contohnya pada probundus Amiruddin : (TT) : 1) Parental (P) = TT x TT Genotif (G) = T x T Fenotif (F) = TT 2) P = TT x Tt G = TT x Tt F = TT, Tt 3) P = TT x tt G = Tt x Tt F = TT.Tt.tt

(20)

ACARA IV

PENGAMATAN SIKLUS HIDUP DAN DETERMINASI DROSOPHILA S.P. ) A. Tujuan

1. Mengetahui tahapan-tahapan dalam siklus hidup Drosophila SP

2. Mengetahui waktu dari tiap tahapan dalam siklus hidup Drosophila SP 3. Membedakan lalat jantan dan lalat betina berdasarkan struktur tubuh dan

ciri-ciri morfologi Drosophila SP B. Kajian Pustaka

 Drosophila melanogaster  merupakan jenis lalat buah yang dapat

ditemukan di buah-buahan busuk. Drosophila telah digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan.

Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Borror, 1992): Kingdom Animalia Phyllum Arthropoda Kelas Insecta Ordo Diptera Famili Drosophilidae Genus Drosophila

Spesies  Drosophila melanogaster 

Selain itu, Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub ordo Cyclophorpha (pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw hooks) dan termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa (Wheeler, 1981).

Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, ayitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan

(21)

poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk  penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen.

Adapun ciri umum lain dari  Drosophila melanogaster diantaranya : Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.

a. Berukuran kecil, antara 3-5 mm.

b. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.

c. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan. d. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung. Mata majemuk 

berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.

e. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.

f. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.

Sedangkan ciri-ciri yang membedakan  Drosophila jantan dan betina antara lain;

Jantan Betina

1. Ukuran tubuh lebih kecil dari betina

1. Ukuran tubuh lebih besar dari  jantan

2. Sayap lebih pendek dari sayap betina

2. Sayap lebih panjang dari sayap  jantan

3. Terdapat sisir kelamin (sex comb)

3. Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb)

4. Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam

(22)

Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur

 – 

larva instar I

 – 

larva instar II

 – 

larva instar III

 – 

pupa

 – 

imago. Fase perkembangan dari telur  Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini.

Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003)

Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).

Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror, 1992).

Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia, 2003).

Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai

(23)

pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashburner, 1985).

Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan  jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa.

Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala,

bantalan sayap, Drosophila melanogaster dan kaki. Puparium (bentuk terluar

pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985).

Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil  jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan

preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003).

Dewasa pada dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah  jantan.

(24)

Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio. (Borror, 1992)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup

 Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut:

 Suhu Lingkungan

 Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam

kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.  Ketersediaan Media Makanan

Jumlah telur  Drosophila melanogaster  yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini  juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva

betina (Shorrocks, 1972).

 Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan

Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja.

Pada  Drosophila melanogaster  dengan kondisi ideal dimana tersedia

cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa

(25)

 Intensitas Cahaya

 Drosophila melanogaster  lebih menyukai cahaya remang-remang

dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap.

C. Alat dan Bahan

a. Droshopila SP b. Tali Rapia c. Jilbab Paris d. Pisang

(26)

Perkembangan Tanggal Waktu Tanggal Waktu Tanggal Waktu Tanggal Waktu Tanggal Waktu Mulai pengamatan 07-05-2012 14.22 07-05-2012 14.32 07-05-2012 12.00 7-05-2012 12.00 7-05-2012 13.00 Telur 13-05-2012 11.06 11-05-2012 09.57 11-05-2012 11.00 10-05-2012 11.20 11-05-2012 19.00 Larva 14-05-2012 10.52 12-05-2012 13.12 13-05-2012 10.00 12-05-2012 22.00 14-05-2012 15.00 Prepupa 16-05-2012 09.25 13-05-2012 09.13 14-05-2012 14.00 14-05-2012 15.00 16-05-2012 09.00 Pupa 17-05-2012 04.00 14-05-2012 17.32 15-05-2012 07.30 16-05-2012 15.00 17-05-2012 20.00 Imago 18-05-2012 02.04 17-05-2012 10.05 17-05-2012 08.00 18-05-2012 10.00 19-05-2012 13.00 Dewasa 20-05-2012 02.56 19-05-2012 09.10 19-05-2012 09035 20-05-2012 04.45 20-05-2012 11.00 Rata-rata siklus hidp 8 – 9 hari b. Kesimpulan

Hasil pengamatan dilakukan dapat disimpulkan bahwa lalat buah (Drosophil SP) stadium perkembangannya mulai dari keluarnya telur, larva, prepupa, pupa, imago sehingga menjadi dewasa sehingga dapat dibedakan lalat jantan dan lalat betina.

26

E. Pembahasan

Drosophyla yang dimasukan ke dalam medium sebagai objek penelitian terdiri dari 15 ekor lalat buah. Pada hari pertama setelah lalat dimasukan ke dalam medium (10 mei 2012) jarak 1 hari tampak ada bintik-bintik putih kecil dan terlihat basah. Ternyata bintik-bintik tersebut adalah telur Drosophyla sp.

Pada jarak 2 hari telur mulai ada yang menetas dan tampak banyak  larva yang bergerak-gerak seperti belatung. Larva ini berwarna putih dan beruas-ruas dengan titik hitam di salah satu ujungnya, dan diperkirakan titik  hitam ini adalah cikal bakal mata. Perkembangan larva dilanjutkan pada hari berikutnya yang ditandai dengan adanya pertambahan ukuran memanjang dan membesar.

Pada jarak 1 hari , banyak larva yang tampak tidak bergerak, ternyata larva-larva tersebut tengah mengalami perubahan untuk menjadi pupa. Ukuran pupa lebih pendek dari ukuran larva sebelumnya, dan pupa yang masih muda warnanya tampak lebih muda daripada pupa yang sudah berusia 2 atau 3 hari.

(27)

Drosophyla yang dimasukan ke dalam medium sebagai objek penelitian terdiri dari 15 ekor lalat buah. Pada hari pertama setelah lalat dimasukan ke dalam medium (10 mei 2012) jarak 1 hari tampak ada bintik-bintik putih kecil dan terlihat basah. Ternyata bintik-bintik tersebut adalah telur Drosophyla sp.

Pada jarak 2 hari telur mulai ada yang menetas dan tampak banyak  larva yang bergerak-gerak seperti belatung. Larva ini berwarna putih dan beruas-ruas dengan titik hitam di salah satu ujungnya, dan diperkirakan titik  hitam ini adalah cikal bakal mata. Perkembangan larva dilanjutkan pada hari berikutnya yang ditandai dengan adanya pertambahan ukuran memanjang dan membesar.

Pada jarak 1 hari , banyak larva yang tampak tidak bergerak, ternyata larva-larva tersebut tengah mengalami perubahan untuk menjadi pupa. Ukuran pupa lebih pendek dari ukuran larva sebelumnya, dan pupa yang masih muda warnanya tampak lebih muda daripada pupa yang sudah berusia 2 atau 3 hari. Pada pupa masih terlihat adanya ruas-ruas dan titik hitam yang terdapat di salah satu ujungnya pun masih jelas terlihat pada fase ini.

Pada hari kesembilan, individu-individu baru  Drosophyla sp muncul dari pupa-pupa yang sudah matang menjadi imago,dan proses imago menuju drosophila spdewasa.

(28)

PENUTUP A. Kesimpulan

Dari penelitian yang kami lakukan dapat kami tarik kesimpulan bahwa imitasi persilangan genetik (persilangan monohibrid) dan imitasi persilangan genetik (persilangan dihibrid), bila dominasi tampak sempurna atau penuh, maka persilangan monohobrid akan menghasilkan keturunan dengan rasio fenotif, sedangkan pada persilangan dihibrid, apabila dominasi tampak  sempurna maka perkawinan dihibrid akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotif.

B. Saran

Kepada para Co. Ass, kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu membimbing praktikum yang kami lakukan pada semester I sampai sekarang ini dengan sabar, kami juga berharap agar semua Co. As  jangan terlalu keras kepada adik-adik yang sedang dibimbing praktikumnya

(29)

Dwijoseputro, 1997. Pengantar Genetika. Jakarta : Bharata.

Fardiaz, Srikandi, 1992. Mutasi Genetika. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama Peter H, Reven et al, 1986. Genetika Sains. New York : Water Publisher Inc Sumu, Usman F, dkk, 1985. Prinsip-prinsip Genetika. Jakarta : Gramedia Suryo, 1992. Genetika. Yogyakarta : Gajah Mada. University Press

(30)
(31)

LAPORAN TETAP

GENETIKA

Di Susun Oleh

NAMA : BAIQ RAHMAWATI

NIM : 09.211.065

CLASS/SEMESTER : VI.A/BIOLOGI

CO.ASS : JULIE HASNATA

LABORATORIUM BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN

ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN

IKIP MATARAM

(32)

Laporan tetap praktikum genetika ini di buat untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian akhir praktikum genetika.

Di sahkan pada tanggal 27 Mei 2012

Nama Tanda tangan

1) Co.Ass Kelas ( )

2) Coordinator Praktikum ( )

3) Dosen Pembimbing ( )

Mengetahui

Kepala laboratorium biologi

Fakultas pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam IKIP Mataram

(33)

Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa’karena

atas nikmat dan karunianya penulis dapat menyelsaikan laporan tetap GENETIKA ini tepat pada waktunya yang telah di tetapkan. Laporan tetap ini kami susun berasarkan hasil penelitaian atau hasil praktikum.

Kegiatan praktikum tersebut berbobot satu (1) SKS bersifat wajib dan turut menentukan nilai dalam KHS. Dalam hal ini mahasiswa senantiasa di tuntut bersikap ilmiah yang kelak dapat di tunjukan oleh hasil evaluasi.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan banyak terimakasih kepaa para Co.Ass yang telah memberikan bimbingan selama penelitian, penulis juga sangat mengharapkan atau berharap usul koreksi dan kritik demi kesempurnaan dari laporan tetap genetika ini.

Demikian laporan ini penulis buat atas perhatiannya penulis ucapkan banyak  terimakasih.

Mataram, 27 Mei 2012

Referensi

Dokumen terkait

Apabila siswa membuat perencanaan pemecahan masalah estimasi hitung pecahan, dan dapat mengakomodasi strategi estimasi, yaitu membualatkan bilangan dengan

Hasil dari beberapa pemodelan yang dilakukan untuk memodelkan aliran 1D pada Bendungan Tugu menghasilkan elevasi profil muka air yang lebih rendah dibanding

4.7.2 Melakukan berbagai variasi dan kombinasi rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) dalam aktivitas gerak berirama sesuai hasil pengamatan untuk

Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh = 0,765 dengan p= 0,000 (p<0,01) hasil tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara ma ḥ abbah

Potensi lain yang dimiliki oleh desa Lopait adalah keberadaan peternakan sapi perah namun kurang dimanfaatkan oleh warga. Selain itu letak geografis desa Lopait yang sangat

Program yang berjudul KRUSIYUR TABLENG “Krupuk Nasi Sayur Tanpa Bleng” Sebagai Camilan Lezat dan Bergizi merupakan inovasi pembuatan kerupuk yang berbahan dasar nasi

Hasi penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja karyawan PT.Sumber Sawit Sejahtera Pelalawan belum optimal.Hal ini ditunjukkan dari para karyawan merasa kurang

Penelitian ini menggunakan data penggunaan lahan, ketinggian, tekstur tanah, dan jarak permukiman terhadap sungai dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2010 sampai 2030,