• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dosen UNAIR Jadi Pembicara dalam Legal Preventive Program Pertamina

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dosen UNAIR Jadi Pembicara dalam Legal Preventive Program Pertamina"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Dosen UNAIR Jadi Pembicara

dalam

Legal

Preventive

Program Pertamina

UNAIR NEWS – Iman Prihandono, Ph.D, Ketua Departemen Hukum

Internasional, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, diundang sebagai pembicara pada acara Legal Preventive Program (LPP). Acara ini diselenggarakan oleh Pertamina Refinery Unit VII Kasim bertempat di Sorong, Papua Barat, pada Selasa (18/10). Pada kesempatan ini, Iman menyampaikan materi seputar ‘Audit Bisnis dalam Industri Hilir Migas Ditinjau dari Perspektif Hukum’ kepada sekitar 35 peserta. Mereka diantaranya terdiri dari general manager hingga supervisor lapangan Pertamina Refinery Unit VII Kasim, Sorong, Papua Barat.

General Manajer Pertamina RU VII Kasim, I Gusti Bagus Prihanta menyampaikan, kegiatan legal preventive program ini rutin d i s e l e n g g a r a k a n d u a k a l i d a l a m s a t u t a h u n . D e n g a n berlangsungnya kegiatan, diharapkan dapat membantu Pertamina untuk meningkatkan kepatuhan hukum dalam menjalankan operasi usahanya.

Lokasi Pertamina RU VII yang berada di Kasim, yakni sekitar hampir 100 kilometer dari kota Sorong, memerlukan pengetahuan khusus dalam bidang hukum, terutama hukum yang berkaitan dengan keadaan sosial. Sebab, letak dan jarak wilayah ini menyebabkan masyarakat dan lingkungan memiliki penanganan yang bersifat khusus.

Iman dalam materinya mengemukakan, hadirnya instrumen internasional berkaitan dengan tanggungjawab sosial, masyarakat, dan lingkungan perusahaan. Salah satu diantara instrumen internasional tersebut adalah United Nations Guiding P r i n c i p l e s 2 0 1 1 d a n I S O 2 6 0 0 0 G u i d a n c e o n S o c i a l Responsibility.

(2)

Kedua instrumen ini masih bersifat sukarela, dan belum menjadi wajib secara hukum bagi korporasi di Indonesia. Meskipun belum wajib, kedua instrumen ini sangat bermanfaat dalam membantu mengidentifikasi risiko yang dapat ditimbulkan oleh perusahaan, dan bagaimana perusahaan dapat mengambil langkah yang sesuai untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Dalam sesi tanya jawab yang dipandu oleh Febriyani S. Rahayu, S.H. selaku Junior Legal Counsel Dispute Management Pertamina RU VII Kasim yang juga alumnus FH UNAIR, dikemukakan berbagai tantangan yang ditemukan di lapangan.

Secara umum, kegiatan ini mendapatkan sambutan yang baik dari karyawan Pertamina RU VII, baik di tingkat manajer sampai pengawas lapangan. Subandi Z selaku Senior Supervisor Legal Counsel Pertamina RU VII Kasim, mengapresiasi kerjasama dengan UNAIR dalam program ini. Ke depan, pihaknya juga akan melanjutkan kerjasama untuk kegiatan LPP lainnya. (*) Editor : Binti Q. Masruroh

Bantu

Advokasi

Petani

Rembang, Menang Gugatan di

Mahkamah Agung

UNAIR NEWS – Ketiga akademisi Fakultas Hukum Universitas

Airlangga bersama dengan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi dan lembaga bantuan hukum di Indonesia yang mengadvokasi para petani untuk melawan izin pembangunan PT. Semen Indonesia patut berbangga. Pasalnya, gugatan yang mereka ajukan bersama para petani berhasil dikabulkan oleh Mahkamah Agung melalui pengajuan kasasi.

(3)

Hal itu disampaikan oleh Franky Butar Butar, S.H., staf pengajar FH UNAIR yang juga tergabung dalam tim koalisi ketika diwawancarai oleh UNAIR NEWS, Selasa (11/10), usai keputusan yang diterbitkan oleh majelis hakim Mahkama Agung 5 Oktober lalu. Objek sengketa yang dimaksud adalah izin lingkungan kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen milik PT. Semen Gresik (Persero) Tbk di Rembang tertanggal 7 Juni 2012. “Masyarakat Kendeng ini kan punya daerah. Mereka punya gunung dan diakuisisi oleh PT. Semen Indonesia, dan diberi izin oleh Gubernur Jawa Tengah untuk pengolahan untuk PT. Semen. Tapi kenyataannya, dalam dokumen yang kita periksa ada banyak permasalahan,” tutur Franky.

“Kita tidak lihat secara langsung dan pengumumannya baru saja diposting. Kemungkinan besar karena ada pelanggaran administratif terutama kaitannya dengan dokumen lingkungan oleh PT. Semen Indonesia. Dan, saya pikir hakim sudah mengecek data-datanya lengkap. Dan akhirnya mengabulkan putusan tuntutan LBH dan masyarakat Kendeng untuk membatalkan izin PT. Semen Indonesia di Kendeng,” imbuh Franky.

Kemenangan petani Rembang itu bukan berarti tanpa perjuangan yang berliku-liku. Pada tahun 2014, gugatan atas nama warga Rembang (Joko Prianto) dan Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) dengan tergugat I Gubernur Jawa Tengah dan PT. Semen Indonesia, kalah di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Tak terima dengan keputusan majelis hakim PTUN Semarang, mereka mengajukan gugatan yang sama ke PTUN Surabaya. Namun, hasil yang diperoleh sama.

Mereka pun mengajukan kasasi kepada MA. Akhirnya, MA mengabulkan gugatan yang diajukan oleh warga Rembang. “Intinya adalah mengabulkan permohonan masyarakat Kendeng untuk menolak keberadaan PT. Semen Indonesia di daerah tersebut,” tutur pengajar Departemen Hukum Administrasi FH UNAIR.

(4)

adalah kemenangan bagi rakyat, khususnya masyarakat akar rumput yang tidak memiliki akses untuk melawan hukum. Dengan bantuan dari kaum akademisi dan aktivis lingkungan, warga Rembang merasa terbantu.

Selain kemenangan rakyat, Franky mengatakan bahwa putusan ini bisa menjadi jurisprudensi atau acuan bagi hakim ketika memutuskan kasus-kasus serupa. “Ini juga menjadi titik awal untuk semua permasalahan-permasalahan izin tambang di daerah. Selain itu, ini menjadi jurisprudensi. Artinya, ketika nanti ada masalah di bidang pertambangan, dengan semen, atau yang lain, ini bisa dijadikan acuan atau jurisprudensi bagi hakim untuk memutuskan kasus-kasus yang sama dengan ini,” tutur Franky.

Jauh sebelum saat ini, akademisi UNAIR dari berbagai disiplin ilmu terlebih dahulu mengadakan pertemuan untuk membahas kasus Semen. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengerucutkan masalah ini dalam perspektif hukum saja. Dari sinilah, mereka akhirnya bertemu dengan rekan-rekan akademisi dan LBH lainnya di Indonesia.

Akademisi FH UNAIR yang tergabung dalam forum ini adalah Franky sendiri, R. Herlambang Perdana, M.A. (Departemen Hukum Tata Negara), dan Iman Prihandono, S.H., LL.M., Ph.D. (Departemen Hukum Internasional).

Ke depannya, Franky menambahkan, PT. Semen Indonesia tidak boleh melakukan eksploitasi di wilayah Pegunungan Kender karena termasuk kawasan karst. Kedua, adanya mata air yang merupakan sumber kehidupan masyarakat.

Penulis: Defrina Sukma S Editor : Faridah Hari

(5)

Peraih Empat Medali Emas di

PON XIX Siap Berlaga di Asia

Champion

UNAIR NEWS – Muhammad Oky Andrianto berhasil menyabet empat

emas sekaligus dalam PON XIX 2016 lalu. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini berhasil menduduki peringkat pertama di nomor pertandingan 10 kilometer (km) point to

point, 15 km eliminasi, 10 km beregu team time trial, dan 5

km relay beregu.

Sebanyak empat medali emas yang ia sumbangkan untuk Jawa Timur ini tak lain berkat usaha dan ketekunan berlatihnya. Oky mengaku, ia telah berlatih selama kurun waktu dua tahun ini. Terkait persiapan, Oky mengikuti serangkaian latihan. Salah satunya, Oky mengikuti kompetisi uji coba di Jepang bulan Juni lalu untuk memantapkan mental, fisik dan teknik permainan.

Ditanya soal motivasi, mahasiswa FH UNAIR ini sudah ingin mengikuti PON sejak ia masih kecil. “Saya sudah dari kecil memang pengin banget ikutan PON, dan dapat medali. Pertama kali ikut PON tahun 2008, ada senior saya Regi Yumasuti dapat empat emas. Dari situ, saya sudah pengin banget untuk dapat empat emas. Waktu 2012 lalu, aku dapat satu emas dan satu perak. Alhamdulillah, tahun 2016 ini baru terwujud dapat empat emas,” ujar Oky.

“Dari awal memang sudah termotivasi dapat emas, tapi saya tidak terlalu nafsu. Saya tetap usaha dan saya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Alhamdulillah sudah tercapai.”

Kini, Oky pun tengah mempersiapkan dirinya untuk mengikuti ajang bergengsi internasional yaitu “The 17th

Asian Roller Skating Championship” di Cina, bulan November mendatang. Saat ini, ia lebih banyak berlatih di Pemusatan Latihan Daerah

(6)

(PUSLATDA) Jatim didampingi sang pelatih.

Oky berharap, keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut bisa menyumbangkan medali emas untuk Indonesia. Ia pun berharap, posisi peringkatnya bisa lebih baik dari sebelumnya yakni peringkat keempat.

Ditanya mengenai kendala, Oky sempat mengalami kendala dalam mengikuti perkuliahan. Oky tertinggal beberapa mata kuliah karena persiapan di PON XIX lalu.“Perlombaan Asian Champion besok itu pas waktu ujian tengah semester. Semoga saja ijinnya nanti tidak terlalu sulit dan saya masih bisa tetap bertanding,” harap Okky.

Penulis: Faridah Hari Editor: Defrina Sukma S

Pentingnya Perlindungan Hukum

Bagi Tenaga Kesehatan

UNAIR NEWS – Masih dalam serangkaian acara Airlangga Law Fest,

Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga kembali menyelenggarakan seminar nasional berkaitan dengan hukum dalam dunia kesehatan. Kali ini, tema yang diangkat yakni “Peningkatan Profesionalitas Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan Serta Perlindungan Hukumnya”. Seminar berlangsung pada Rabu (5/10) bertempat di Aula R. Boedi Soesetjo, FH UNAIR.

Dalam Kesempatan ini, narasumber yang dihadirkan adalah dr. Daeng Mohammad Faqih, M.H., Dr. Sabir Alwi, S.H., M.H., Dr. Astutik, S.H., M.H, dan Prof. dr. Budi Sampurna, DFM., S.H., Sp.F(k). Seminar dihadiri oleh tak kurang dari 55 peserta yang

(7)

terdiri dari mahasiswa UNAIR dan umum.

Yang dibahas dalam seminar ini adalah dinamika kesehatan dilingkup hukum. Misalnya seputar perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan dan mekanisme penyelesaian masalahnya apabila terjadi sengketa medis. Selain itu, dibahas pula aspek hukum kesehatan yang terdiri dari pidana, perdata, dan administrasi. “Perlindungan hukum bagi tenanga kesehatan merupakan hak. Seperti yang sering terjadi, bagaimana banyak dokter yang digugat oleh pasiennya,” tutur Astutik.

Ada dua penyelesaiannya berkaitan dengan sengketa medis. Pertama, melalui jalur hukum yang terdiri dari hukum pidana dan hukum perdata mediasi. Kedua, melalui jalur non hukum yang terdiri dari penegakan disiplin oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan penegakan etik OP. Dalam proses perdata, bila terjadi pelanggara medis dapat menggunakan pasal 29 UU Kesehatan dan atau pasal 46 UU Rumah Sakit. Namun, hal itu dirasa kurang tepat oleh sabir.

“Pasal 29 UU Kesehatan kurang tepat. Karena jika ada kesalahan, itu termasuk pidana. Dan dalam pidana tidak ada mediasi. Kalau mediasi kan, berarti perdata,” ungkap Sabir. Kesimpulan dari seminar nasional kali ini adalah mekanisme penyelesaian bila terjadi pelanggaran medis telah diatur baik dalam proses hukum maupun non hukum. Untuk mencegah proses hukum dan non hukum, serta medapatkan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan, harus bekerja profesional dan patuh melaksanakan standart-standartnya. (*)

Penulis : Pradita Desyanti Editor : Binti Q. Masruroh

(8)

FH UNAIR Persiapkan Mahasiswa

Magang di Institusi Peradilan

UNAIR NEWS – Career Day adalah salah satu rangkaian acara

Airlangga Law Fest yang didedikasikan bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang ingin magang di firma hukum ternama. Acara ini diselenggarakan di halaman Gedung A FH UNAIR selama tiga hari sejak 3 Oktober – 5 Oktober yang diikuti oleh sebanyak 10 firma hukum dari Indonesia.

Dalam acara ini, setiap perwakilan dari kantor-kantor advokat ternama dan instansi-instansi yang bergerak di bidang peradilan mempresentasikan profil institusi. Tujuannya, untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa FH UNAIR untuk dapat magang di kantor advokat melalui stan yang telah disediakan.

“Career Day ini untuk menampung dan memfasilitasi mahasiswa maupun alumni FH UNAIR untuk magang di beberapa lawfim yang turut berpartisipasi,” tutur Berliana Destrie, panitia acara

Career Day. Sejumlah instansi yang turut meramaikan career day

itu adalah Makarim Lawfirm, Kejaksaan Negeri Surabaya, Badan Narkotika Nasional, dan Bank Jatim.

Bagi mahasiswa yang ingin magang, mereka diharuskan membawa berkas biodata dan pengalaman untuk diserahkan ke stan kantor advokat yang mereka tuju. Nantinya, pihak firma itulah yang akan menyeleksi berkas dan menerima mahasiswa yang sesuai kriteria.

Hampir dari semua stan menyediakan suvenir bagi mahasiswa yang bersedia datang ke stan mereka. Suvenir yang diberikan pun beraneka ragam seperti buku catatan, stiker, dan buku undang-undang.

Selain stan kantor advokat di acara itu, mahasiswa juga disuguhi penampilan grup musik akustik. Para mahasiswa FH juga terlihat antusias dengan acara tersebut. Mereka menyempatkan

(9)

waktunya untuk datang ke acara career day itu di tengah kepadatan jadwal kuliah.

“Acara ini sangat bermanfaat menurut saya karena kami mendapat informasi mengenai lawfirm apa saja yang ada di Indonesia meskipun tidak semua. Bagi saya sendiri, career day dapat dijadikan peluang mengenai pekerjaan,” Destya Fidela mahasiswa FH tahun angkatan 2015. (*)

Penulis : Pradita Desyanti Editor: Defrina Sukma S

Teliti Pemilukada, Surya

Darma Jadi Wisudawan Terbaik

S2 FH

UNAIR NEWS – Surya Darma Kardeli ditetapkan sebagai wisudawan

terbaik S-2 Fakultas Hukum Universitas Airlangga, karena ia meraih IPK tertinggi, 3,89. Tesis yang ikut menunjang prestasinya itu pun cukup aktual, yakni “Perlindungan Hukum Terhadap Profesi Pegawai Negeri Sipil dalam Mengikuti Pemilukada Melalui Calon Independen”.

Alasan Surya memilih topik tesis itu tidak lain adalah perlindungan hukum terhadap hak-hak profesi PNS yang mengikuti pemilukada melalui calon independen. Dalam UU Nomor 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) Pasal 119 dan Pasal 123 Ayat (3), mewajibkan PNS yang mengikuti pemilukada untuk mengundurkan diri secara tertulis pada saat mengikuti pemilihan. Selain itu, ketentuan pasal tersebut merupakan penjabaran dari ketentuan pasal yang menyatakan bahwa PNS diberhentikan dengan tidak hormat apabila menjadi anggota atau

(10)

pengurus partai politik.

Saat studi S-2 itu, Surya mengaku tak banyak mengikuti kegiatan lain diluar kegiatan akademik. Kegiatan diluar perkuliahan yang sering diikuti antara lain seminar, FGD, advocacy class, dan kegiatan yang ada kaitannya dengan studi Ilmu Hukum. Laki-laki kelahiran Padang 19 April 1990 ini saat S-1 pernah Juara I lomba karya tulis ilmiah dalam acara Recht

Partij Ilmu Hukum yang diadakan UIN Sunan Gunung Djati,

Bandung, tempatnya menempuh studi. Kini, menjadi wisudawan terbaik S-2 FH UNAIR, bagi Suerya ini sangat membanggakan. “ P a d a P r o d i M a g i s t e r I l m u H u k u m F H U N A I R s i s t e m pembelajarannya terstruktur baik. Yang tak kalah penting yaitu sikap ramah dan tidak pelit ilmu para civitas akademika FH UNAIR yang selalu memotivasi dan mengayomi semua peserta didik,” ujarnya.

Kelancaran studi S-2-nya ini pun, katanya, tak terlepas dari peran dosen pembimbing tesisnya, Dr. Lanny Ramli, S.H., M.Hum. Setelah lulus ini Surya akan kembali Padang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dosen. “Sejak awal hendaknya sudah dipersiapkan target yang akan dicapai, dan harus konsisten dalam melaksanakannya,” ujar laki-laki yang kini menjadi anggota Lembaga Pembinaan dan Pengawas Keuangan, PW Muhammadiyah Sumatera Barat ini. (*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh Editor: Nuri Hermawan.

(11)

Terbaik

S3

FH

karena

Mencintai Ilmu

UNAIR NEWS – Tradisi menjadi lulusan terbaik selalu

dipertahankan oleh Dr. Rusdianto Sesung, S.H., MH. Buktinya, sejak Rusdianto masih di bangku SD hingga menengah atas, ia selalu lulus dengan nilai ujian nasional tertinggi. Di saat kuliah sarjana hingga doctor pun, Rusdi selalu menjadi wisudawan terbaik.

Tahun 2009 ia menjadi lulusan terbaik S-1 Fakultas Hukum Universitas Mataram dengan IPK 4,0. Lalu tahun 2011 ia juga lulus yang terbaik S-2 FH Universitas Airlangga dengan IPK 3,95. Kini, Rusdi kembali dinyatakan sebagai lulusan terbaik S-3 FH UNAIR dengan IPK 3,87. “Dari jenjang S-1 hingga S-3 saya mengambil ilmu hukum tata negara. Jadi selalu linier,” jelasnya.

Ditanya kiatnya menjadi yang terbaik, dosen FH Universitas Narotama Surabaya ini berprinsip sederhana, yakni mencintai ilmu. “Cintailah ilmu yang telah kamu pilih, sebagaimana kamu mencintai pasangan hidupmu, niscaya kejenuhan selama menyelesaikan studi akan terobati,” katanya.

Ilmu yang dimiliki juga telah ia sumbangkan pada pihak-pihak yang membutuhkan. Selain sebagai mahasiswa dan dosen, ia juga menjadi tenaga ahli DPRD Provinsi Jawa Timur, DPRD Kab. Sidoarjo, konsultan hukum Pemprov Jawa Timur, Kab. Gresik, dan Kab. Tuban.

Ia meyakini pilihan untuk berkarir yang sejalan dengan bidang ilmunya merupakan pilihan tepat. “Ketika Anda sudah memilih, maka syukurilah, niscaya Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita,” kata Doktor berusia 28 tahun ini.

Dalam disertasinya, Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum Universitas Narotama ini membahas otonomi daerah. Judulnya

(12)

“Prinsip Kesatuan Hukum Nasional Dalam Pembentukan Produk Hukum Pemerintahan Daerah Otonomi Khusus atau Istimewa”. (*) Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Deprina Sukma Satiti

Nadia Intan, Model yang Lulus

Terbaik Fakultas Hukum UNAIR

UNAIR NEWS – Sempat ganti dosen pembimbing saat menyelesaikan

skripsi, tak membuat Nadia Intan Belinda putus asa. Lantaran dosen pembimbingnya Prof. Dr. Eman, S.H., MS meninggal dunia Mei lalu, Nadia harus ngebut merevisi skripsinya. Berkat kegigihannya, ia berhasil merampungkan studi dengan predikat wisudawan terbaik S-1 Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan meraih IPK 3,66.

Skripsi berjudul “Perolehan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun Melalui Jual Beli” ini membahas karakteristik hak milik atas satuan rumah susun dianggap selesai dan perolehan hak milik atas satuan rumah susun melalui Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang diikuti dengan Akta Jual Beli (AJB).

Nadia memiliki beragam kegiatan, baik intra dan ekstra kampus. Misalnya mengembangkan dengan bakat modelling-nya, finalis Ning Surabaya tahun 2015 ini pernah menjadi Juara Favorit Hijabers Surabaya Model 2014, dan Juara I Miss Hijab by GlamourLook Model Management tahun 2015. Juga Juara Favorit Hijabers Surabaya Model tahun 2014. Selain itu, pada kegiatan akademik ia pernah Juara III & Majelis Hakim Terbaik dalam Kompetisi Peradilan Semu Nasional piala Mahkamah Agung tahun 2013.

(13)

Sejak masih berstatus mahasiswa baru, Nadia sudah tertarik dengan study club pada BSO Komite Mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR (KOMAHI). Anggota Paskibrakan Kota Surabaya tahun 2011 ini juga terhitung aktif mengikuti kegiatan intra dan ekstra kampus, seperti BEM UNAIR, HMI, dan Management Hijabers Surabaya. Kepada WARTA UNAIR Nadia membagi tipsnya agar dapat berprestasi, baik dalam akademik dan non-akademik.

“Tak perlu terlalu sibuk dengan politik, cukup tahu saja. Karena biaya kuliah tidak murah dan tak semua orang beruntung bisa kuliah. Imbangi kuliah dengan hal positif yang kita senangi. Jangan pernah menghalalkan segala cara untuk memperoleh hasil yang diinginkan,” kata penerima beasiswa Pembangunan Jaya tahun 2015 ini. Saat ini ia mengisi waktu di Paguyuban Cak & Ning Surabaya serta magang di Kejaksaan Negeri Surabaya. (*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh Editor: Nury Hermawan

Pagelaran Airlangga Sumbaga

Wiratama Raih Sukses Besar di

TMII

UNAIR NEWS – Pagelaran wayang orang (WO) Pancagatra Nararya

Senawangi (PNS) dengan lakon ”Airlangga Sumbaga Wiratama” meraih sukses besar, di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta, Minggu (25/9) petang. Pagelarang yang diprakarsai Dr. Sri Teddy Rusdy, SH., M.Hum., alumni S1 Fakultas Hukum dan S2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga ini, didedikasikan untuk almamaternya, Universitas Airlangga, sebagai pertama kali ia menempuh ilmu di dunia pendidikan.

(14)

Tolok ukur sukses itu dilihat dari pemirsa yang hadir dan memadati gedung. Diantara pemirsa itu ada mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Menteri Perindustrian Ir. Hartarto, pengurus Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia) dan pengurus PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), tokoh masyarakat dan masyarakat pecinta seni.

Dari jajaran UNAIR hadir Rektor Prof. Dr. Moh Nasih, MT., SE., Ak., MCA, beberapa dekan dan wakil dekan, tokok IDI dr. Ario Djatmiko, Sp.B-(Onk). Dari jajaran alumni UNAIR, ada Ketua IKA UNAIR Drs. Ec. Haryanto Basyuni, Drs. Ec. Mustofa (KAP dan penulis buku “Branding Kantor Akuntan”), Drs. Mashariono, MBA., Drs. Ec. Pribadi “Diar”, dan puluhan alumni UNAIR di Jakarta.

Mengapa mengangkat lakon “Prabu Airlangga?”. Ditegaskan oleh Dr. Sri Teddy Rusdy, karena di eranya, Airlangga merupakan raja pembaharu yang disegani diantara raja-raja di Asia Tenggara. Kemudian sebagai penggiat kebudayaan, lebih khusus tentang wayang sebagai kesenian asli Indonesia yang adiluhung dan edipeni, kesenian ini bahkan sudah diakui UNESCO sebagai

World Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

”Karena itu saya memilih ’Airlangga’ yang saya tuangkan dalam karya naskah pewayangan ini. Hal ini sekaligus untuk menggali dan mengeksplorasi narasi besar kebudayaan bangsa Indonesia sebagai maha karya warisan sejarah dunia,” tulis Dr. Sri Teddy Rusdy, yang dalam pagelaran ini sebagai penulis naskah sekaligus pemrakarsa.

(15)

SIVITAS Universitas Airlangga diantaranya Rektor, Wakil Rektor, beberapa dekan dan tokoh alumni, bersama mantan Wapres Try Sutrisno dan pemeran Prabu Airlangga. (Foto: Pribadi IKA-UA)

Kedepan, kata pendiri Senawangi ini, naskah “Airlangga” ini akan dikembangkan menjadi gelaran wayang kulit untuk durasi semalam suntuk. Hal ini tidak lain untuk mengangkat kebesaran Airlangga sebagai raja yang dikagumi dan berwibawa pada jamannya.

”Disini kami sejatinya berharap agar putera-puteri terpilih alumni Universitas Airlangga dapat menjadi Airlangga-Airlangga baru yang tersebar di seluruh Nusantara, bahkan dunia. Jayalah Airlangga,” tandas Sri Teddy Rusdy, yang pernah menyumbangkan satu kotak komplit wayang kulit (Wayang Purwa) kepada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR.

Pagelaran “Airlangga Sumbaga Wiratama” ini didukung 28 pemain dan disutradarai oleh Ali Marsudi, S.Sn., yang sekaligus memerankan tokoh Prabu Airlangga. Mereka memainkan berbagai karakter tokoh, misalnya Narotama, Prabu Udayana, Prabu Dharmawangsa, Mpu Baradha, Mahendradatta, dsb. Musiknya ditangani oleh Untoro, S.Sn bersama 19 pengrawitnya. Sedang Ki Edi Sulistiyono, S.Sn., M.Hum sebagai dalangnya. Tim artistik digarap oleh Agus Linduaji. Selain itu juga didukung Teater

(16)

Wayang Indonesia dan Yayasan Kertagama. (*) Penulis : Bambang Bes

Kuliah Santai tapi Serius

tentang Hukum Laut

UNAIR NEWS – Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum

Universitas Airlangga menggelar kuliah tamu. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional (Arbitral Tribunal) atas Sengketa Laut Tiongkok Selatan dalam Perspektif UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982.” Kuliah tamu diselenggarakan pada Selasa (27/9) di Aula Boedi Soesetjo FH UNAIR.

Narasumber yang dihadirkan dalam kuliah tamu adalah Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH., MA., Sekretaris Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Damos, sapaan akrabnya, mengawali kuliah dengan memaparkan awal mula terjadinya sengketa Laut China Selatan yang terjadi pada 2012. Dilanjutkan dengan poin-poin mengenai gugatan Filiphina terhadap Tiongkok ke Arbitral Tribunal UNCLOS Under Annex VII pada tahun 2013, serta pembahasan tentang keputusan final dari Mahkamah Arbitrase Internasional.

Damos menjelaskan, keputusan tribunal sifatnya tidak memaksa tetapi mengikat. Artinya, mau tidak mau kedua belah pihak harus menyetujui meskipun sebenarnya ada keputusan yang tidak menguntungkan. “Jadi, mau tidak mau mereka harus setuju meskipun keputusan tersebut terkadang tidak menguntungkan. Ibaratnya mau nggak mau ya harus mau,” tutur Damos.

(17)

Berbicara mengenai perairan Indonesia, tak ada lagi permasalahan mengenai klaim batas laut. Artinya, klaim atas batas laut di wilayah Indonesia sudah diakui. “Ibarat orang, Indonesia itu sudah ijab Kabul,” imbuh Damos.

Kuliah tamu kali ini diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Hukum Laut, Penyelesaian Sengketa Internasional, dan Hukum Internasional. Kuliah tamu tentang hukum laut berjalan santai namun serius sehingga mahasiswa terlihat antusias. Buktinya, tak sedikit dari mereka yang mengajukan pertanyaan. (*)

Penulis : Pradita Desyanti Editor: Defrina Sukma S

Referensi

Dokumen terkait