Highlight KOPAPDI XV Medan
Susunan Redaksi: Penanggung Jawab:DR. Dr. Aru. W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP *Pemimpin Redaksi: Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM *Bidang Materi dan Editing: Dr. lndra Marki, SpPD, FINASIM; Dr. Agasjtya Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM; Dr. Alvin Tagor Harahap, SpPD; Dr. Nadia A. Mulansari, SpPD *Koresponden:Cabang Jakarta, Cabang Jawa Barat, Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumut, Cabang
Horas,
S
elamat jumpa para sejawat Internis dalam Halo Internis edisi terakhir KOPAPDI XV Medan. Selain telah dilaksanakannya untaian acara ilmiah dan simposium, kongres juga telah melaksanakan sidang komisi dan pleno yang merupakan puncak acara kongres dengan beberapa keputusan.Hasil sidang organisasi menetapkan Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC sebagai Ketua Umum PB PAPDI periode 2012-2015, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) periode 2012-2015, kota Bandung sebagai tuan rumah KOPAPDI XVI, dan kota Yogyakarta sebagai tempat Konferensi Kerja 2014.
Ke depan, PAPDI masih menghadapi banyak tantan-gan menjelang AFTA dan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), serta adanya fragmentasi penyakit dalam. Oleh karena itu, perlu kebersamaan agar terus maju dan berkembang.
Sampai Jumpa di KOPAPDI XVI Bandung
BIDANG
HUMAS
PUBLIKASI
DAN
MEDIA
Redaksi Menerima Masukan, Saran hubungi
Amril 08158358554, 081287068835
Indonesia masih
keku-rangan dokter internis
atau spesialis penyakit
dalam. Jumlah anggota
Perhimpunan Dokter
Spesialis Penyakit
Dalam Indonesia
(PAPDI) sekitar 2.556,
padahal kebutuhannya
mencapai lebih dari
20.000 orang.
M
asih dalam rangkaian KOPAP-DI XV Medan, dilaksanakan gathering bersama PPDS de-ngan pembicara DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP dan Dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM. Dalam kesempatan terse-but, hadir tamu istimewa yaitu Secretary General International Society of Internal Medicine (ISIM), Hans P. Kohler, MD, FACP yang juga berbicara mengenai internis dunia di hadapan para PPDS tersebut.Dokter Aru mengatakan di negara-negara maju praktik subspesialis lebih diminati dokter, dibanding internis umum atau spesialis penyakit dalam. Di Inggris, bahkan sudah tidak ada praktik internis umum. Sistem pendidikan kedokteran di Inggris sudah memisahkan ilmu kedokter-an berdasarkkedokter-an orgkedokter-an tubuh.
”Sedangkan di Filipina, sudah ada 7 ribu internis umum, separuhnya sudah konsultan atau memiliki keahlian sub spe-sialis. Hampir di semua negara maju dan beberapa negara berkembang, pertam-bahan internis umum lebih rendah diban-ding konsultan,” katanya.
Di Indonesia, perbandingan jumlah dokter internis umum dengan konsultan
masih signifikan, yakni 70% internis umum dan 30% konsultan. Berbeda den-gan negara maju, menjadi konsultan di Indonesia lebih dikarenakan kewajiban akademik di pusat pendidikan kedokter-an. Namun belakangan ini, mulai ada kebutuhan konsultan dalam pelayanan kesehatan tertentu di rumah sakit.
”Ini yang menyebabkan anggota PAPDI tetap berpraktik internis umum. Mengingat Indonesia berpenduduk terbe-sar keempat di dunia yakni 237,5 juta jiwa, angka perkapita rendah serta belum memiliki pembiayaan kesehatan berbasis asuransi nasional,” paparnya.
Kondisi itu menyebabkan Indonesia masih memerlukan subspesialis sebagai staf pengajar karena jumlah internis ma-sih belum mencukupi. Terlebih, distribusi internis masih terkonsentrasi di kota besar.
”Subspesialis memang dibutuhkan, namun mesti diatur agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” tutur Dr Aru.
Hal senada disampaikan Dr Sally
Aman Nasution. Menurutnya, sejatinya pasien harus lebih dulu diperiksa internis umum. Setelah itu, internis umum meru-juknya ke internis spesialis. ”Spesialis menerima rujukan dari internis umum,” paparnya.
Dr Sally dan Dr Aru sepakat harus ada solusi mengatasi kekurangan internis di
tanah air. Caranya antara lain dengan menambah pusat pendidikan program in-ternis dan memperpendek masa study. ”Bisa saja yang selama ini masa study 4,5 tahun menjadi 3,5 tahun,” ujar Dr Sally Aman.
Pembicara lainnya, Secretary General of International Society of Internal Medi-cine (ISIM) Prof. Hans P. Kohler, MD, FACP, juga memaparkan, bahwa dunia kekurangan internis umum. General inter-nis masih kurang di layanan primer bahkan di rumah sakit. “Masalah lain adalah fragmentasi pelayanan pasien, dengan subspesialisasi yang semakin bertambah,” ujar Kohler.
Padahal, saat ini penyakit multikomor-biditas semakin bertambah dan sistem pelayanan kesehatan yang terfragmen-tasi tidak cocok untuk pasien multikomor-bid. Internis umum memainkan peranan penting di pelayanan kesehatan sebagai titik awal konsultasi untuk pasien. Dan terkait masalah cost-effective, internis umum merupakan sebuah jawaban. “Ini-lah yang kita butuhkan.” (HI)
Indonesia Minim
Dokter Internis
B
allroom 1 Hotel Aryaduta, Medan, seketika gempita pada Rabu ma-lam, 13 Desember 2012, ketika sidang pleno Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Dokter Pe-nyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) XV digelar. Setelah melewati sidang komisi seharian, para peserta sidang seperti dia-jak memasuki laga puncak pembahasan berbagai keputusan strategis organisasi, mulai kebijakan-kebijakan dan reko-mendasi-rekomendasi yang diambil, pe-milihan tuan rumah perhelatan KOPAPDI XVI dan tuan rumah KONAS XIII, hingga pemilihan ketua umum baru PB PAPDI sekaligus ketua kolegium. Ada ke-tegangan, ada kelucuan, bahkan hiruk pi-kuk dan beragam suasana mewarnai si-tuasi sidang.Seperti ketika sidang pembahasan hasil sidang semua komisi misalnya. Suasana serius dan tegang, kental me-warnai. Maklumlah ini adalah momen penting organisasi dimana kebijakan-ke-bijakan dan keputusan-keputusan strate-gis organisasi diputuskan. Meski
demi-kian, celetukan-celetukan lucu tetap sem-pat keluar dari anggota sidang dan men-jadi penyegar suasana.
Ketegangan mulai mengendur ketika mulai memasuki sesi presentasi kandi-dat-kandidat tuan rumah penyelengga-raan KONAS XIII dan KOPAPDI XVI. Bisa dibilang bahkan ini adalah sesi paling ”intertainment” di banding sesi-sesi yang lain. Setiap wakil mempresentasikan ke-lebihan-kelebihan ”Rumah” mereka de-ngan gaya dan karakter masing-masing. Ada yang menampilkan presentasi mela-lui video atraktif, seperti yang dilakukan oleh perwakilan PAPDI Cabang Bogor. Ada yang kalem. Sebaliknya, beberapa bahkan cukup ”provokatif” dalam mena-warkan serangkaian kelebihan daerah-nya, mulai dari penawaran hotel terbaik, tempat wisata terbaik, akses transportasi termudah, pun penawaran diskon pada tempat wisata dan belanja.
Ada pula yang membagi-bagi gimmick merchandise karakter daerah atau dalam bentuk kalender. Beberapa kandidat bah-kan ada yang sejak hari pertama kongres
sudah gencar berkampanye. Seperti Ban-dung dan Makassar misalnya, demi agar kotanya terpilih, mereka membuat book-let menarik dan informatif yang disebar ke peserta kongres. Meskipun pada akhir-nya Makassar mesti berlapang dada me-nerima ”kekalahan” karena ”rival” kuatnya Bandung akhirnya yang terpilih sebagai tuan rumah KOPAPDI XVI. Di luar du-gaan, PAPDI Cabang Yogyakarta, meski dengan presentasinya yang kalem, ter-nyata berhasil ”mencuri hati” peserta sehingga memilihnya sebagai tuan rumah KONKER XIII.
Sesi kemudian dilanjutkan ke pemili-han ketua umum PB PAPDI dan ketua ko-legium Ilmu Penyakit Dalam Periode 2012-2015. Tak disangka proses yang di-lalui begitu cepat karena peserta secara aklamasi langsung memilih Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, KKV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC sebagai ketua umum PB PAPDI, dan DR. Dr. Siti Setiati, SpPD, Kger sebagai ketua kolegium. Horas PAPDI! (HI)
Riuh Rendah
Sidang Pleno KOPAPDI XV
Riuh Rendah
M
alam beranjak semakin larut. Pada Kamis (13/12) kemarin, ketika suasana kota Medan semakin hening, ruang meet-ing di hotel Aryaduta justru terasa semakin ‘panas’. Perdebatan masih berlangsung di sidang pleno PB PAPDI membicarakan berbagai hal mengenai organisasi ahli penyakit dalam ini. Padahal, sejak pagi hingga siang para pengurus telah menguras tenaga dan pikiran pada sidang komisi.Namun, kerja keras tersebut tidak sia-sia. Kongres Nasional PAPDI telah meng-hasilkan beberapa hal penting di sidang komisi dan pleno. Dan yang terpenting lagi, Kongres telah memilih ketua baru. Sekitar pukul 3 dini hari pada Jumat (14/12), Kongres Nasional PAPDI secara
KETUA UMUM PB PAPDI 2012-2015
Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC
Pengurus PAPDI pada Dasarnya
resmi mengangkat Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC sebagai Ketua Umum PB PAPDI periode 2012-2015 menggantikan DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP yang telah habis masa jabatannya usai menjadi Ketua Umum PB PAPDI selama dua periode.
Pagi hari menjelang siang, Halo Internis berkesempatan untuk berbincang sejenak dengan Prof. Idrus, usai pria yang tengah menjabat sebagai Ketua PAPDI JAYA ini mengikuti sesi simpo-sium. Di tengah keriuhan suasana pam-eran, pria kelahiran Palembang, tanggal 22 Maret 1962, menjawab pertanyaan dengan tenang dan tutur kata teratur. Berikut petikan pembicaraan tersebut.
Selamat Prof, atas terpilihnya Prof sebagai Ketua Umum PB PAPDI peri-ode selanjutnya.
Terima kasih. Ini lebih merupakan ke-percayaan untuk menjalankan tugas yang berat dan kompleks PAPDI.
Apa program kerja periode kepe-ngurusan baru ini sekaligus tantang-annya?
Ada beberapa isu di PAPDI, baik di lingkup internal dan eksternal. Isu internal adalah fragmentasi di bidang penyakit dalam dengan berbagai sub spesialisasi. Kami tentu saja ke depan tetap berkomit-men untuk mempertahankan keutuhan penyakit dalam.
Isu lain dalam skala nasional adalah mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasio-nal (SJSN). Kemudian mengenai dokter asing tentunya kita harus sikapi dengan hati-hati jangan sampai nanti hal ini justru dapat mengganggu tatanan yang sudah ada.
Tentu saja kita harus melakukan ka-jian terhadap isu-isu tadi dan menyiapkan tim ad hoc untuk menghadapi berbagai hal baik untuk SJSN atau menyongsong AFTA 2015.
Program-program ke depan yang akan dilakukan, pertama adalah konsoli-dasi anggota, melanjutkan apa yang telah dirintis ketua PB PAPDI sebelumya, Dr. Aru Sudoyo.
Selanjutnya adalah peningkatan kom-petensi para internis, melalui Continuing Professional Development (CPD) atau
kegiatan peningkatan keilmuan, karena memang merupakan tanggung jawab kita untuk meningkatkan kompetensi. Nanti-nya, internis dari daerah atau tempat ter-pencil akan mendapatkan prioritas untuk mengikuti kegiatan simposium.
Hal lain lagi adalah meningkatkan ker-ja sama termasuk lintas profesi, dengan IDI atau kelembagaan terkait dan kerja-sama ini akan terus kita bina.
Kerja sama dalam lingkup regional, ki-ta telah menjajakinya dalam Asean Fede-ration of Internal Medicine (AFIM) dan Mei tahun depan kami diundang oleh Phi-lippine College of Physicians (PCP) da-lam pertemuan untuk membuat kerjasa-ma dengan negara-negara ASEAN. Ke-mudian dijalin juga kerjasama pada ting-kat internasional dengan International So-ciety of Internal Medicine (ISIM) dan American College of Physicians (ACP). Bahkan kami telah menjajagi untuk mem-buat ACP chapter di Asia Tenggara, kare-na model yang ada di Amerika itu hampir sama dengan kita. Benchmark kita antara lain American Board of Internal Medicine (ABIM), jadi baik sekali jika kita bekerja sama dengan ACP.
Yang tidak boleh dilupakan, keberada-an PAPDI seyogykeberada-anya dirasakkeberada-an oleh masyarakat. Masyarakat harus mengenal peran PAPDI melalui CSR, public relation PAPDI, yang juga bekerja sama dengan media cetak maupun elektronik.
Tidak kalah penting, PAPDI harus di-rasakan manfaatnya oleh seluruh anggo-ta, terutama untuk anggota yang bertu-gas di daerah terpencil. PAPDI akan memperhatikan mereka, baik itu dalam perspektif keilmuan maupun hal lain. Upaya PAPDI lain untuk anggota di an-taranya jika terjadi kasus yang berlanjut ke ranah hukum, kami turut memikirkan adanya advokasi. Pada dasarnya, dapat saya katakan, pengurus PAPDI adalah pelayan karena kami memberikan pela-yanan kepada masyarakat dan anggota.
Apa tantangan terberat dan bagai-mana langkah PAPDI untuk melaksa-nakan berbagai program tersebut?
Tentu saja banyak masalah yang di-hadapi PAPDI. Kami akan bersinergi da-lam menjalankan kepengurusan ini. Ber-bagai kegiatan akan kami siapkan dalam waktu dekat. Kami akan membuat time
table bahkan untuk satu tahun ke depan. Terdapat lebih dari 2.500 anggota PAPDI yang tersebar di seluruh Indo-nesia. Sekali lagi ini pekerjaan yang cu-kup berat, tapi saya percaya dengan ban-tuan dari pengurus cabang, mudah-mudahan tugas ini menjadi lebih ringan.
Bagaimana dengan program road-show ke daerah-daerah?
Roadshow akan tetap kami jalani, ka-rena ini merupakan bagian dari konsoli-dasi internal. Tujuan utamanya adalah kami memberikan pembekalan CPD, tapi pada saat yang bersamaa kita melakukan konsolidasi secara organisasi. Kita ber-bincang untuk melihat masalah dan kebu-tuhan daerah serta hal-hal yang akan kami bantu.
Bagaimana tentang hubungan PAPDI dengan organisasi profesi lain, terkait hal-hal yang masih belum sela-ras?
Pada prinsipnya, PB PAPDI itu terbu-ka, artinya kalau memang ada masalah bersama, juga harus dilakukan evaluasi bersama. Jadi mari kita duduk, dan kita lihat ada persamaan. Filosofinya adalah kita saling menghargai sesuai dengan kompetensi masing-masing. Jadi tidak ada suatu organisasi profesi yang mena-fikan kemampuan organisasi lain sesuai dengan kompetensi yang telah dicapai. Kalau memang telah mencapai level of competen tertentu yang harus dimiliki, maka harus dianggap mampu untuk me-nangani kasus-kasus penyakit. Sekali lagi, dasarnya adalah kompetensi.
Menjadi Ketua Umum PB PAPDI, berarti harus menyisihkan waktu un-tuk organisasi. Sudah siap dengan hal ini, Prof?
Sebenarnya sebelum menjadi Ketua PB PAPDI, saya juga (menjadi Ketua-red) di PAPDI JAYA. Itu juga sudah menyita waktu. Kalau di PB, ruang lingkupnya me-ngenai kebijakan sedangkan cabang le-bih banyak masalah-masalah yang sifat-nya teknis. Tapi, (menjadi Ketua Cabang) juga cukup repot.
Pada dasarnya, yang terpenting ada-lah menyusun tim kerja yang solid. De-ngan kerjasama saya yakin semua tugas akan menjadi lebih ringan. (HI)
S
ebuah tugas berat diberikan kepa-da DR. Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, M.Epid. Dalam puncak si-dang pleno Kongres Nasional Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indo-nesia di Medan Jumat (14/12), yang ber-akhir dini hari, sidang sepakat mengang-kat dokter kelahiran Bandung, 15 Oktober 1961 sebagai Ketua Kolegium Ilmu Pe-nyakit Dalam (KIPD) periode 2012-2015. ”Ini merupakan amanah meski saya katakan ini beban pekerjaan yang berat, yang bahkan barangkali tidak diminati ba-nyak orang,” ujar Dr. Ati ketika diberikan ucapan selamat oleh Halo Internis. ”Tapi, demi kualitas pendidikan spesialis dansubspesialis penyakit dalam, harus ada yang bersedia untuk mengawal pendi-dikan.”
Tugas kolegium memang tidak main-main. Seperti yang dikatakan ahli geriatri ini, kolegium memiliki peran dalam men-gawal dan menjaga mutu lulusan dokter spesialis dan sub spesialis penyakit da-lam. Jika dijabarkan sebagai hal teknis, maka kolegium harus membuat standar kompetensi, memantau dan memonitor pelaksanaannya, untuk selanjutnya mela-kukan evaluasi atas hasil yang dicapai.
”Tentunya kolegium tidak bekerja sen-diri, melainkan bekerja sama dengan pro-gram studi, karena propro-gram studi yang
mendidik peserta pendidikan. Kolegium menyusun kurikulum dan memastikan di-jalankan dengan baik oleh program studi. Jadi perlu ada sinergi antara kolegium dan program studi,” ujar Dr. Ati.
Ia mengatakan, evaluasi terhadap akreditasi, beberapa menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Untuk itu, ha-rus dilakukan berbagai pembenahan ter-utama dalam hal manajemen pendidikan. ”Meski tidak mudah, ada beberapa hal yang harus dilakukan,” ujar dokter yang mengambil pendidikan geriatri di Australia ini. Pertama, melakukan revisi terhadap standar kompetensi yang telah dibuat baik untuk spesialis maupun sub spesia-lis. Kedua, membantu program studi da-lam memperbaiki manajemen pendidikan agar mutu lulusan dapat dijaga. Bentuk yang dilakukan dapat berupa course dan pemantauan ke lapangan apakah saran-saran kolegium saat akreditasi telah di-jalankan oleh program studi tersebut.
Hal lain yang akan dilakukan kolegium bersama PAPDI adalah menyelesaikan permasalahan di tingkat yang lebih makro terkait sub spesialisasi dengan advokasi ke berbagai pihak baik internal maupun eksternal. ”Saya percaya bahwa tidak ada masalah yang tidak selesai, asalkan ada niat baik. Ini memang harus kita per-juangkan, baik internal, eksternal, ke atas, dan ke bawah,” ujarnya optimis. ”Tujuan dokter adalah meningkatkan derajat kese-hatan masyarakat melalui pendidikan yang baik. Jadi, mari berlomba memper-baiki pendidikan kita. Harapannya adalah kualitas pendidikan yang baik.”
Ia mengatakan, hal yang dihadapi sa-ngat serius. ”Ini tantangan besar. Tapi jika dilakukan bersama-sama, saya yakin pasti bisa,” ujarnya. Komitmen, sangat di-butuhkan untuk menjalankan tugas. ”Ka-lau tidak ada komitmen maka sulit untuk berjalan dengan baik,” ujarnya. Selain ko-mitmen, yang diperlukan adalah visi yang dilaksanakan secara disiplin, passion, dan conscience. Selamat menjalankan tugas, Dokter Ati. (HI)
DR. Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, M.Epid
Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) 2012-2015
Dr. Eko Sudarmo Dahad Prihanto, SpPD, FINASIM - Maluku Utara
Secara keseluruhan acaranya baik dan lancar. Cuma shut-tle busnya kurang banyak dan kurang informatif, sehingga cukup menyulitkan moving antar hotel. Harapan saya, KOPAPDI berikut dapat bisa ditampung dalam satu venue.
Dr. Nur Albar, SpPD, FINASIM -Gorontalo
Dalam sidang-si-dang komisi, yang kebetulan saya di komisi 1, sidang sa-ngat dinamis dan seru. Banyak ga-gasan yang kons-truksif. Apa yang
sudah diusulkan pada Konker lalu di Batam diputuskan di sidang ini, tapi juga masih ada gagasan-gagasan lain yang muncul. Untuk KOPAPDI berikut, semoga kegiatan bisa dikonsentrasikan dalam sa-tu tempat sehingga tidak terpisah-pisah.
Dr. Suprapto, SpPD, FINASIM -Semarang
Acaranya sih sudah baik ya, cuma tem-pat memang terlalu jauh antar satu dan yang lain. Belum la-gi kalau siang ma-cet. Sampai jadinya ada yang malas kesana atau kema-ri. Untuk yang akan datang sebaiknya berada satu tempat atau boleh juga dua tempat tapi berdekatan sehingga dengan jalan kaki pun bisa dijangkau.
Dr. Zulrifqi, SpPD - Kalimantan Selatan - Tengah
Karena tempat terpisah, macet dan sem-pat ada demo kemarin, jadi perencanaan
kita jadi terlambat. Informasi tentang workshop juga ku-rang memadai, bah-kan tidak ada di bu-ku kecil, adanya malah di announce-ment. Lalu masalah jadwal, ke depan
saya harap jadwal olahraga dan shop tidak berdekatan, kalau bisa work-shopnya agan siangan lah. Jadi setelah ikut acara olahraga masih tidak terlambat mengikuti workshop.
Dr. Oey Tjeng Sien, SpPD -Balikpapan
Acaranya bagus. Cuma masalah makan siang selalu telat. Mengenai ser-tifikatnya juga kelar simposium sudah bisa diambil, ini malah masih nung-gu dua jam. Untuk
tempat ke depan kalau tidak bisa satu tempat yang minimal deketan.
Dr. Elfiani, SpPD FINASIM - Jambi
Kita agak susah ka-rena kongresnya tersebar di dua ho-telnya. Ditambah workshop dan sim-posium jadwalnya bersamaan, jadi kita
kerepotan untuk bisa ikut dua-duanya. Ke depan kalau bisa simposium dan work-shop jadwalnya dibedakan, misal pagi Simposium, siang workshop. Seperti di PIN itulah. Dr. Leonard Perlindungan, SpPD, FINASIM - Kalimantan Barat Informasi tentang tempat dan jadwal workshop kurang
memadai. Banyak yang mengeluhkan ti-dak tahu dimana dan kapan workshop-nya. Juga masalah tempat kegiatan yang terpisah. Kalau menginapnya di pisah ti-dak masalah, tapi kegiatan kalau bisa di-satukan dalam satu tempat. Jadi kita mu-dah memilih-milih kegiatan.
Dr. Rudy Dwi Laksono, SpPD -Papua
Jarak antar hotel ya. Apalagi siang hari dari Marriot menuju Aston, jalanan bia-sanya sudah mulai macet dan muter la-gi. Tapi memang Pe-sertanya sangat ba-nyak ya jadi kalau
dijadikan satu venue juga kayaknya su-sah. Jadi ya nanti kalau tidak bisa satu tempat sebisa mungkin yang berdekatan. Untuk topik-topik sih bagus-bagus apalagi bagi kami yang di daerah, jadi kalau bisa ke depan dipertahankan.
Dr. Suhartono Notosuwano, SpPD
- Surabaya
Acara ilmiahnya sa-ya lihat lancar-lan-car aja. Kalau pun sempat ada kenda-la itu kan karena ada macet dan rame-rame demo kemarin. Kalau itu tadi ga ada,
sebe-narnya pasti lancar-lancar saja. Semoga ke depan tidak pas ada acara demo-demo seperti itu yang bikin macet.
Dr. Deddy Rizki - Aceh
Acaranya cukup padat sehingga kita agak kuwalahan ju-ga mengikutinya. Padahal topiknya bagus-bagus. Be-lum lagi kita dibagi dua hotel, semen-tara jalanan agak macet juga. Jadinya
kadang ada simposium atau workshop yang mau diikuti jadi ga bisa. Sebenarnya ga terlalu masalah dibagi dua hotel kalau memang tidak ada macet sih. (HI)
Kata Mereka
K
ongres Nasional PAPDI XV telah usai. Perhelatan internis se-Indonesia terakbar ini, bukan hanya sukses memil-ih ketua umum periode 2012-2015, tapi juga berhasil menen-tukan tempat kongres selan-jutnya.Persaingan cabang-cabang untuk menjadi tuan rumah ko-ngres, ternyata jauh lebih se-ngit dari proses pemilihan ke-tua umum baru. Mekanismenya
diawali dengan biding. Sejumlah daerah menyampaikan persentase tentang ke-siapannya. Cabang Bandung, Makassar dan Surakarta sejak hari perdana kong-res PAPDI XV, sudah gencar melakukan promosi keunggulan daerah masing-ma-sing. Mereka membagi-bagikan brosur, booklet dan souvenir. Tujuannya untuk menarik simpati agar dipilih menjadi tuan rumah KOPAPDI XVI.
Semula muncul nama enam cabang yang siap menjadi tuan rumah KOPAPDI XVI mendatang. Masing-masing
Ban-dung, Makassar, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Peserta kongres juga ramai membahas keunggulan daerah enam cabang tersebut. Topografi daerah, fasilitas pendukung dan sarana trans-portasi menjadi topik bahasan penting bagi peserta kongres.
Namun, saat pelaksanaan biding da-lam sidang pleno KOPAPDI XV, nama ca-bang Surabaya, Bali dan Semarang hilang dari peredaran. Sementara Bandung, Makassar dan Surakarta semakin santer di kalangan peserta kongres. Tidak
dike-tahui apa yang menjadi penyebab nama tiga cabang itu raib dari peredaran. Konon disebut-sebut untuk memberi kesempatan kepada cabang lain yang belum pernah menjadi tuan rumah.
Ketika pelaksanaan bidding, cabang Bandung mempertontonkan slide keunggulan fasilitas dae-rah. Berbagai hotel bintang li-ma, berikut fasilitas pendukung-nya dipaparkan secara rinci. Sarana transportasi pendukung juga digambarkan dengan gam-blang. Tak hanya itu, Bandung juga mempromosikan pesona keindahan alam yang natural disertai aneka tempat berbelan-ja murah hingga mengingatkan peserta tentang Paris Van Java.
Makassar dan Surakarta ju-ga memaparkan kesiapannya. Kedua cabang ini memberi penjelasan tentang keunggulan daerah berikut fasili-tasnya. Sayangnya, setelah biding dilak-sanakan, kedua cabang ini kurang men-dapat respon peserta kongres. Hal itu di-buktikan saat pemilihan yang digelar de-ngan cara voting. Dari 33 cabang yang memiliki hak suara, 20 mendukung Ban-dung, 9 Makassar dan 4 untuk Surakarta. Hasil voting ini menempatkan Bandung menjadi tuan rumah KOPAPDI XVI 2015 mendatang. Dugi Kapapanggih (sampai jumpa) KOPAPDI XVI di Bandung! (HI)
L
iga KOPAPDI XV berakhir sukses. Skuad Sumatera Utara gagal meraih juara setelah kalah dalam adu finalti di putaran final melawan Manado. Pertan-dingan yang digelar di Stadion Mini USU ini mendapat perhatian dokter-dokter internis dari seluruh cabang PAPDI se-Indonesia.Sumatera Utara dan Manado merupa-kan dua skuad yang sejak awal liga sudah diperhitungkan akan bertemu babak final. Kedua tim bermain sangat baik hingga me-laju final.
Saat pertandingan final, keduanya me-nampilkan pola permainan yang menarik. Bola-bola pendek diselingi umpan lambung kerap membuat gemuruh dari ratusan in-ternis yang menonton. Sayangnya, sampai akhir turun minum babak kedua,
masing-masing tim tidak berhasil mencetak gol. Pertandingan dilanjutkan dengan pe-nambahan waktu. Namun, lagi-lagi kedua tim tidak berhasil membuahkan gol hing-ga memaksa wasit memutuskan adu finalti yang dimenangkan Manado de-ngan skor 5-4.
Sedangkan pemain pencetak gol ter-banyak yakni dr Fahmi dari Sumatera Utara. Ia berhasil mencetak 7 gol selama pertandingan.
Koordinator liga KOPAPDI XV, AKBP Dr Zulkhairi SpPD, FINASIM, MKes bangga dengan sportivitas yang ditunjukkan pe-main saat pertandingan. ”Alhamdulillah sukses, tidak ada halangan. Semuanya lancar,” katanya.
Ia berharap saat KOPAPDI XVI di
Bandung, pertandingan juga bisa dilak-sanakan seperti di Sumatera Utara. ”Saya berharap pertandingan liga KOPAPDI mendatang, dapat menggunakan sistem jumpa agar persahabatan, kekeluargaan dan persaudaraan sesama anggota PAPDI semakin erat,” ujarnya.
Di event tenis lapangan, Bali-2 berhasil merebut juara pertama. Pasangan Dr I Dewa Putu Surawan SpPD dan Dr Gde Somayana SpPD mampu menaklukan pemain utusan cabang-cabang PAPDI lain-nya. Sedangkan juara II direbut pasangan Dr Tatar Sumandjar SpPD-KPTI, FINASIM dan Dr Indarji Dwimulyawan dari Solo. Juara III juga direbut pasangan ganda Solo yakni Dr Suradi Maryono SpPD-KHOM, FINASIM dan Dr Budi Haryanto. (HI)
Presentasi Bidding peserta dari Bandung.