• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. ARAHAN KEBIJAKAN GREEN BUDGETING RTH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VII. ARAHAN KEBIJAKAN GREEN BUDGETING RTH"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

VII. ARAHAN KEBIJAKAN GREEN BUDGETING RTH

7.1. Prioritas Kebijakan Berdasarkan Pendapat Stakeholders

Strategi pengalokasian RTH Berbasis Green Budgeting merupakan pencerminan stimulus kebijakan penganggaran APBD dalam upaya pembangunan lingkungan terkait pengelolaan RTH. Aspek penganggaran pada sub model green budgeting RTH menjadi faktor pengungkit berjalannya sistem secara keseluruhan dan berkelanjutan. Intervensi simulasi model memberi arahan terhadap pentingnya penganggaran hijau untuk rencana penambahan atau pengalokasian RTH publik secara optimal.

Definisi green budgeting sebagaimana sudah dijelaskan pada kerangka teoritik adalah aktivitas penganggaran daerah yang bersifat pro-lingkungan atau APBD hijau termasuk dalam hal penganggaran RTH. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah. Pendapatan daerah adalah hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah.

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah yang menambah ekuitas dana. Pendapatan daerah meliputi: (a) Pendapatan Asli Daerah; (b) Dana Perimbangan, dan (c) Lain-Lain Pendapatan. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran uang dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya (Permendagri Nomor 13 Tahun 2006). Pembiayaan daerah adalah transaksi keuangan pemerintah daerah yang dimaksudkan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus APBD.

Penganggaran hijau (green budgeting) dalam kaitan penelitian ini dibatasi pada aspek pendapatan dan belanja. Alasan tidak memasukkan unsur pembiayaan daerah karena terkait kebijakan hutang piutang dan aset daerah

(2)

lainya yang tidak menyentuh tingkat partisipatif kebijakan yang lebih luas. Dengan demikian Green Budgeting RTH merupakan sub-sistem yang berkaitan dengan aktivitas penganggaran daerah terhadap program belanja RTH dalam APBD disamping aspek pendapatan itu sendiri. Aktivitas pendapatan tersebut dimaksudkan dalam upaya pengendalian pemanfaatan ruang yang dikenal dengan istilah disinsentif dan insentif pajak.

Pendapatan pajak yang disoroti lebih kepada kebijakan mengurangi atau menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terkait perubahan penggunaan lahan RTH. Kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang dari aspek pendapatan pajak PBB tersebut dengan cara penetapan harga NJOP PBB khusus lahan RTH. Komponen pendapatan pada sektor ini searah dalam upaya strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting. Hasil pembahasan analisis kebijakan green budgeting RTH pada skenario optimis menjadi rujukan penentuan prioritas dengan menggunakan pendekatan AHP.

Hirarki dalam AHP disusun dengan lima level, menggambarkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai berturut-turut dari level 1-5 adalah tujuan, aspek, faktor, aktor dan alternatif prioritas kebijakan. Analisis dilakukan pada setiap level dari hirarki strategi pengalokasian RTH berdasarkan penganggaran daerah berbasis lingkungan (green budgeting). Pemberian bobot dan prioritas yang dianalisis berdasarkan hasil kombinasi penilaian stakeholders pada setiap matriks perbandingan berpasangan.

Prinsip kerjanya adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, strategik, dan dinamik menjadi bagian-bagian yang tertata dalam suatu hirarki. Urutan prioritas setiap elemen hasil AHP dinyatakan dalam bentuk nilai numerik atau persentase. Hasil penilaian gabungan kriteria dan alternatif tersebut memiliki tingkat konsisten yang baik dengan rasio konsisten (CR) berkisar antara 0,00 hingga 0,05. Revisi pendapat, dapat dilakukan apabila nilai rasio inkonsistensi pendapat cukup tinggi (> 0,1). Hal ini karena AHP menguji konsistensi penilaian, bila terjadi penyimpangan yang terlalu jauh dari nilai konsistensi sempurna, maka hal ini menunjukkan bahwa penilaian perlu diperbaiki, atau hierarki harus distruktur ulang (Marimin, 2004).

Dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan dari strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting, maka dilakukan penentuan kriteria subsistem yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Pada level

(3)

tujuan penelitian, terdapat 2 aspek yang juga dibatasi dan perlu diberikan penekanan yaitu pada : 1) Bersifat pengendalian pemanfaatan ruang melalui pendekatan aspek pendapatan pajak, 2) Bersifat belanja program APBD melalui pendekatan aspek Belanja RTH dengan pendekatan MTEF. Hasil pendapat responden menunjukkan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing aspek terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti terlihat pada Tabel 51.

Tabel 51 Skala prioritas aspek tujuan

No Aspek Bobot Presentase Prioritas

1 Pendapatan pajak 0,333 33 % 2

2 Belanja RTH dgn MTEF 0,667 67 % 1

Hasil analisis menunjukan bahwa aspek belanja RTH merupakan prioritas utama yang dipilih dengan memberikan bobot tertinggi yakni sebesar 0,667 (67%) menurut persepsi stakeholder. Aspek lain yang menempati prioritas ke dua adalah pendapatan pajak dengan bobot sebesar 0,333 (33%). Dengan demikian aspek belanja RTH hendaknya senantiasa menjadi dasar utama dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting disamping aspek pendapatan pajak.

Aspek pendapatan pajak dapat dicapai melalui kriteria yaitu peningkatan pajak dan pengurangan pajak. Hasil pendapat responden menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing kriteria yang ingin dicapai dapat dilihat pada Tabel 52.

Tabel 52 Skala prioritas kriteria untuk aspek pendapatan pajak

No Sub-kriteria Bobot Presentase Prioritas

1 Pengurangan pajak 0,469 47 % 2

2 Peningkatan pajak 0,531 53 % 1

Hasil analisis menunjukan bahwa kriteria untuk aspek pendapatan pajak yang dipilih menurut persepsi stakeholder adalah peningkatan pajak merupakan prioritas pertama dengan bobot 0,531 (53%) dan kedua adalah pengurangan pajak dengan bobot 0,469 (47%). Dengan demikian, kriteria peningkatan pajak hendaknya senantiasa menjadi dasar utama dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting disamping kriteria pengurangan pajak.

(4)

Aspek belanja RTH dengan MTEF dapat dicapai melalui kriteria yaitu program mempertahankan RTH eksisting dan penambahan luas RTH. Hasil pendapat responden menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing sub kriteria seperti tertera pada Tabel 53.

Tabel 53 Skala prioritas kriteria untuk aspek belanja RTH dengan MTEF

No Sub-kriteria Bobot Presentase Prioritas

1 Penambahan luas RTH 0,594 60 % 1

2 Prog.Mempertahankan RTH ekst 0,406 40 % 2

Hasil analisis menunjukan bahwa kriteria untuk aspek belanja RTH dengan MTEF yang dipilih menurut persepsi stakeholder adalah penambahan luas RTH merupakan prioritas pertama dengan bobot 0,594 (60%) sedangkan prioritas kedua adalah program mempertahankan RTH eksisting dengan bobot 0,406 (40%). Dengan demikian, kriteria penambahan luas RTH hendaknya senantiasa menjadi dasar utama dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting disamping kriteria kedua.

Kriteria peningkatan pajak dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting dapat ditunjang dengan baik apabila didukung oleh peran dari stakeholders. Hasil pendapat gabungan responden menunjukan besarnya kontribusi peran yang diberikan stakeholders seperti tertera pada Tabel 54.

Tabel 54 Skala prioritas stakeholders untuk peningkatan pajak

No Stakeholders Bobot Presentase Prioritas

1 Pemerintah Kota Bekasi 0,400 40% 1

2 DPRD Kota Bekasi 0,400 40% 1

3 Swasta 0,100 10% 2

4 Masyarakat 0,100 10% 2

Dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting maka dari kriteria Peningkatan Pajak, stakeholder memilih Pemerintah Kota dan DPRD Kota Bekasi sebagai stakeholders prioritas pertama dengan memberikan bobot masing-masing sebesar 0,400 dan 0,400 (80 %), diikuti kemudian oleh masyarakat dan pihak swasta dengan bobot yang sama sebesar 0,100 dan 0,100 (20 %).

(5)

Hasil pendapat gabungan responden menunjukkan besarnya kontribusi peran yang diberikan stakeholders terhadap kriteria pengurangan pajak tertera pada Tabel 55.

Tabel 55 Skala prioritas stakeholders untuk pengurangan pajak

No Stakeholders Bobot Presentase Prioritas

1 Pemerintah Kota Bekasi 0,460 46% 1

2 DPRD Kota Bekasi 0,220 22% 2

3 Swasta 0,119 12% 4

4 Masyarakat 0,201 20% 3

Dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting, maka responden memilih Pemerintah Kota Bekasi sebagai stakeholders prioritas pertama dengan memberikan bobot sebesar 0,460 (46%), diikuti kemudian masing-masing oleh DPRD Kota Bekasi dengan bobot sebesar 0,220 (22%), masyarakat dengan bobot sebesar 0,201 (20%), serta prioritas terakhir dengan bobot 0,119 (12%) terhadap swasta.

Kriteria program mempertahankan RTH eksisting dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting dapat ditunjang dengan baik apabila didukung oleh peran dari masing-masing stakeholders. Hasil pendapat gabungan responden menunjukan besarnya kontribusi peran yang diberikan stakeholders terhadap tujuan yang dicapai seperti tertera pada Tabel 56.

Tabel 56 Skala prioritas stakeholders untuk program mempertahankan RTH eksisting

No Stakeholders Bobot Presentase Prioritas

1 Pemerintah Kota Bekasi 0,246 25% 2

2 DPRD Kota Bekasi 0,246 25% 2

3 Swasta 0,210 20% 3

4 Masyarakat 0, 298 30% 1

Dalam strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting, responden memilih masyarakat sebagai stakeholders prioritas pertama dengan memberikan bobot sebesar 0,298 (30 %), diikuti kemudian masing-masing Pemerintah Kota dan DPRD Kota Bekasi dengan bobot sama sebesar 0,246 (25 %), serta prioritas terakhir dengan bobot 0,210 (20%) terhadap swasta.

Kriteria penambahan luas RTH dapat ditunjang dengan baik apabila didukung oleh peran masing-masing stakeholders. Hasil pendapatan gabungan

(6)

responden menunjukan besarnya kontribusi peran yang diberikan stakeholders terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti tertera pada Tabel 57.

Tabel 57 Skala prioritas stakeholders untuk penambahan luas RTH

No Stakeholders Bobot Presentase Prioritas

1 Pemerintah Kota Bekasi 0,412 41% 1

2 DPRD Kota Bekasi 0,392 39,2% 2

3 Swasta 0,117 12% 3

4 Masyarakat 0,078 7,8% 4

Dalam rangka kriteria penambahan luas RTH maka responden memilih Pemerintah Kota sebagai stakeholders prioritas pertama dengan memberikan bobot sebesar 0,412 (41%), diikuti kemudian masing-masing oleh DPRD Kota Bekasi dengan bobot sebesar 0,392 (39,2%), swasta dengan bobot sebesar 0,117 (12%), serta prioritas terakhir dengan bobot 0,078 (7,8%) terhadap masyarakat.

7.2. Analisis Prioritas Kebijakan Strategi Pengalokasian RTH

Strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting bertujuan mengarahkan tercapainya eksistensi 20 persen RTH publik kota sehingga menjamin kualitas lingkungan khususnya nilai THI kota yang nyaman. Banyak faktor (elemen-elemen) yang berpengaruh dalam menentukan arahan strategi tersebut. Permasalahan yang muncul adalah kesulitan dalam menentukan skala prioritas arahan strategi dari elemen-elemen tersebut. Hal ini karena tidak mungkin semua elemen dapat ditangani dalam waktu bersamaan karena adanya keterbatasan dana, waktu, dan tenaga, sehingga perlu penanganan secara bertahap dengan cara menentukan prioritas yang harus ditangani.

Berdasarkan hasil analisis AHP penentuan terhadap faktor yang paling penting sampai yang kurang penting terhadap strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting adalah sebagai berikut pertama kebijakan pembangunan infrastruktur RTH/pertanian memiliki nilai bobot terbesar (0,192). Kemudian secara berturut-turut diikuti oleh kebijakan pengadaan lahan RTH (0,185), pengenaan pajak tinggi (0,120), penetapan sanksi dan pengetatan IMB memiliki nilai sama (0,115), kenaikan PBB (0,111), sewa lahan oleh pemerintah

(7)

(0,084) dan terakhir subsidi lahan RTH privat (0,078). Hasil analisis prioritas kebijakan tertera pada Gambar 45.

Gambar 45 Rincian alternatif kebijakan

Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh 8 alternatif strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting di Kota Bekasi, yaitu:

1. Kebijakan pembangunan infrastruktur RTH/pertanian, yaitu dengan membangun jaringan irigasi yang memberikan kemudahan bagi usaha pertanian/tanaman pangan.

2. Kebijakan pengadaan lahan RTH, dengan membeli lahan-lahan baru sebagai kawasan bervegetasi RTH.

3. Kebijakan sewa lahan oleh pemerintah Kota Bekasi, khususnya lahan-lahan kritis atau lahan pertanian teknis sehingga kawasan lindung dan ketahanan pangan dapat dipertahankan.

4. Kebijakan subsidi lahan RTH privat, dengan stimulus pemberian pupuk dan atau padat modal pertanian dengan bunga murah. Kebijakan ini diharapkan dapat mempertahankan lahan RTH.

5. Kebijakan pengetatan IMB perlu diberlakukan dalam upaya pengendalian RTRW Kota.

6. Kebijakan kenaikan PBB berdasarkan mekanisme pertumbuhan harga pasar tanah.

7. Kebijakan pengenaan pajak tinggi untuk IMB diberlakukan bagi masyarakat yang merubah bentang lahan menjadi terbangun namun sesuai peruntukan. 8. Kebijakan penetapan sanksi, diberlakukan bila pemanfaatan lahan dilakukan

(8)

dengan menyalahi aturan dengan mencabut ijin kegiatan usaha dan sebagainya.

Struktur hirarki strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting di Kota Bekasi dapat digambarkan dalam bentuk kerangka hierarki kebijakan seperti tertera pada Gambar 46.

Gambar 46 Struktur hirarki strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting

Keterangan:

I = Pembangunan Infrastruktur pertanian/RTH dengan nilai 0,192 II = Pengadaan Lahan RTH dengan nilai 0,185

III = Pengenaan Pajak Tinggi dengan nilai 0,120

IV= Pengetatan IMB dan Penetapan Sanksi (punishment enforcement) memiliki nilai sama 0,115

V = Kenaikan PBB dengan nilai 0,111

VI = Sewa Lahan oleh Pemerintah dengan nilai 0,084 VII =Subsidi lahan RTH Privat dengan nilai 0,078

Prioritas utama strategi strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting bila dilihat dari bobot nilai ada 2 yaitu kebijakan pembangunan

(9)

infrastruktur RTH/pertanian, dan kebijakan pengadaan lahan RTH. Kebijakan lebih diarahkan atau diprioritaskan kepada perencanaan belanja program RTH dari pada aspek pengendalian yaitu pengenaan pajak dan pengetatan perijinan.

Optimalisasi pengalokasian RTH di Kota Bekasi sebagai bagian dari amanat Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang diharapkan dapat menciptakan suatu tatanan lanskap kota yang berkelanjutan. Lanskap berkelanjutan (sustainable landscape) merupakan suatu lanskap yang tidak hanya produktif, fungsional dan dapat dimanfaatkan oleh penggunanya disaat ini tetapi juga tetap dijaga produktifitas dan fungsinya sehingga terus dapat dimanfaatkan oleh penggunanya dimasa yang akan datang (Nurisyah dan Pramukanto, 2008).

7.3. Arahan Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan analisis dan sintesis hasil penelitian, rekomendasi kebijakan dikelompokkan menjadi dua yaitu arahan kebijakan strategi green budgeting RTH publik dan arahan kebijakan pengendalian penduduk yang menyangkut strategi pengendalian dan distribusi penduduk. Diagram alir model konseptual kebijakan disajikan pada Gambar 47.

Gambar 47 Diagram alir model konseptual kebijakan strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting

(10)

Kebijakan strategi pengalokasian RTH berdasarkan penganggaran daerah berbasis lingkungan merupakan kebijakan pembangunan lingkungan berkelanjutan yang diintegrasikan ke dalam model pendekatan penataan ruang. Secara umum rekomendasi kebijakan pada skenario optimis diarahkan pada dua strategi yakni strategi pengendalian penduduk dan strategi green budgeting RTH. Pada strategi pengendalian penduduk, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Kota Bekasi perlu menjadi perhatian pemerintah terutama arus urbanisasi yang menyumbang 70 persen dari pertumbuhan alamiahnya. Pengendalian penduduk penting dilakukan karena salah satu faktor dominan yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan RTH.

Hasil analisis sistem memperlihatkan bahwa kebijakan strategi green budgeting RTH merupakan faktor pengungkit (leverage) sub sistem lainnya, dengan memperhatikan aspek laju pertumbuhan penduduk. Dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan dari strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting, maka prioritas utama ada 2 yaitu kebijakan pembangunan infrastruktur RTH/pertanian, dan kebijakan pengadaan lahan RTH.

7.3.1. Strategi Green Budgeting RTH

Alternatif prioritas kebijakan dalam FGD dikelompokkan menjadi langkah-langkah strategi Green Budgeting RTH sebagai berikut : program operasional pembangunan infrastruktur pertanian/RTH, refungsionalisasi RTH Kota Bekasi, pengadaan lahan RTH publik, pengetatan ijin, dan pengenaan pajak tinggi serta sanksi (policy power). Langkah-langkah strategi Green Budgeting RTH merupakan penjabaran hasil analisis AHP dan validasi FGD. Ada 2 faktor yang paling penting dari hasil analisis tersebut yaitu pertama kebijakan pembangunan infrastruktur RTH/pertanian memiliki nilai bobot terbesar (0,192), dan kedua kebijakan pengadaan lahan RTH (0,185). Kemudian secara berturut-turut diikuti oleh pengenaan pajak tinggi (0,120), penetapan sanksi dan pengetatan IMB memiliki nilai sama (0,115), kenaikan PBB (0,111), sewa lahan oleh pemerintah (0,084) dan terakhir subsidi lahan RTH privat (0,078).

Sebagai gambaran langkah-langkah kebijakan strategi green budgeting RTH tertera pada Gambar 48.

(11)

Gambar 48 Skema arahan strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting Prioritas utama kebijakan pembangunan infrastruktur pertanian/RTH adalah termasuk penanganan refungsionalisasi kawasan sempadan situ, saluran irigasi, sempadan sungai, daerah kawasan lindung resapan air, revitalisasi taman-taman kota dan RTH di jalan protokoler serta lahan fasos-fasum. Pilihan kebijakan kedua dan seterusnya yaitu pengadaan lahan untuk daerah penampung air sebagai kawasan lindung pencegah banjir, pengadaan lapangan olah raga untuk kegiatan kreatif/prestasi dan rekreatif serta wahana interaksi sosial warga termasuk pencanangan program one village one play ground. Langkah berikutnya adalah arahan kebijakan penerapan mekanisme insentif dan disinsentif.

7.3.1.1. Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Kawasan Hijau Pertanian /RTH dan Penambahan Lahan RTH Kota

Alternatif strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting berdasarkan hasil analisis AHP yang paling penting adalah pembangunan infrastruktur pertanian/RTH dan pengadaan atau penambahan lahan RTH kota. Berjalannya sistem dan usaha pertanian di kawasan perkotaan misalnya tidak saja mendorong pertumbuhan ekonomi lokal tetapi lebih dari itu menjaga dan

(12)

menjamin kawasan lindung kota yang seimbang dengan pertumbuhan kawasan budidayanya. Pembangunan infrastruktur pertanian akan berperan sebagai pengungkit (leverage) dan penggerak utama (prime mover) upaya mempertahankan lahan RTH lainnya seperti sektor perkebunan di kawasan perkotaan. Kawasan hijau pertanian, pengembangannya diarahkan pada Bagian Wilayah Kota (BWK) bagian selatan kota seperti kecamatan Bantargebang, Mustika Jaya, Jatiasih dan Jatisampurna dan BWK bagian utara (Tabel 27 terdahulu). Luas lahan sawah yang terbatas tersebut berdasarkan analisis SIG (kurang lebih 900 ha terdiri dari sawah tadah hujan dan irigasi teknis) tetap dapat dipertahankan sebagai lingkungan alami yang masih didominasi oleh pertanian untuk pengembangan hortikultura.

Kondisi arahan kebijakan ini berbeda bila dibandingkan produk draft Raperda RTRW yang saat ini masih dalam tahap evaluasi pemerintah. Dalam Raperda RTRW, lahan pertanian tidak masuk dalam arahan kebijakan pengembangan RTH kota. Padahal Kota Bekasi masih memiliki lahan pertanian sebagaimana gambaran pada Tabel 27 terdahulu. Wilayah yang masih memiliki lahan sawah tadah hujan adalah Kecamatan Bantargebang (236,46 ha), Jatiasih (16,90 ha), Mustika Jaya (255,52 ha) dan Rawa Lumbu (6,84 ha). Fakta ini dapat dilihat dari perbandingan arahan pengembangan RTH dalam draft RTRW Kota Bekasi 2010-2030 dengan kondisi aktual hasil analisis GIS 2009 pada Tabel 58. Tabel 58 Perbandingan fakta kondisi aktual lahan bervegetasi RTH dengan

arahan draft RTRW 2010-2030

Ket: KC = Kebun Campuran, LT = Lahan Terbuka, PR = Padang Rumput/Alang-alang, P = Permukiman, SI = Sawah Irigasi, SB = Semak Belukar, TL = Tanah Ladang dan TA = Tubuh Air (Sungai/Danau)

(13)

Wilayah yang masih memiliki sawah irigasi teknis ada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Medan Satria dan Kecamatan Bekasi Utara (212,67 ha). Rencana kebijakan Pemerintah Kota Bekasi mengkonversi lahan pertanian pangan menjadi RTB akan terjadi secara besar-besaran. Arahan pengembangan RTH Kota Bekasi berdasarkan draft Raperda RTRW 2010-2030 tersebut, secara umum hanya ada 4 kelompok besar yang dikembangkan. Lahan pertanian dan lapangan olahraga tidak direncanakan dalam arahan pengembangan RTH tersebut (Tabel 58).

Kebijakan mempertahankan lahan pertanian merupakan amanat Undang-undang No. 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Dalam pasal 8 disebutkan bahwa dalam hal di wilayah kota terdapat lahan pertanian pangan dapat ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan untuk dilindungi. Produk Raperda RTRW Kota Bekasi 2010-2030 perlu dievaluasi kembali agar lahan pertanian yang ada saat ini seluas 900 lebih ha dapat dipertahankan. Data yang bersumber dari BPS Kota Bekasi tahun 2009, lahan pertanian masih seluas 600 ha).

Kemudian yang perlu dievaluasi ulang kembali dari raperda tersebut adalah arahan pengembangan hutan kota seluas 24,95 ha berada di wilayah permukiman yang padat penduduk yaitu di Kecamatan Bekasi Selatan. Kebijakan pengembangan hutan kota di wilayah padat penduduk tersebut memiliki resistensi dan biaya sosial yang tinggi. Di sisi lain harga pasaran tanah yang tinggi berimplikasi kepada anggaran daerah yang dipersiapkan juga besar.

Sebagai gambaran simulasi perhitungan harga NJOP (Tabel 44 terdahulu), pada wilayah Kecamatan Bekasi Selatan diperkirakan harga pasaran tanah Rp. 1.500,00 per meter. Asumsi harga pasar berada di atas harga NJOP terendah dan di bawah harga NJOP tertinggi. Dana pembebasan lahan untuk 24 ha hutan kota, diperkirakan sebesar Rp.1.500.000 x 240.000 m², maka pemerintah Kota Bekasi membutuhkan anggaran sebesar Rp. 360 milyar. Dana sebesar 360 milyar pada wilayah tersebut dapat menambah lahan seluas 180 ha pada wilayah kepadatan rendah berdasarkan skenario optimis, seperti tertera pada Tabel 59.

(14)

Tabel 59 Penambahan lahan RTH pada skenario optimis

Time GB_RTH_OPT LHN_YG_DPRLH_OPT

01 Jan 2010 01 Jan 2011 01 Jan 2012 01 Jan 2013 01 Jan 2014 01 Jan 2015 01 Jan 2016 01 Jan 2017 01 Jan 2018 01 Jan 2019 01 Jan 2020 01 Jan 2021 01 Jan 2022 01 Jan 2023 01 Jan 2024 01 Jan 2025 01 Jan 2026 01 Jan 2027 01 Jan 2028 01 Jan 2029 01 Jan 2030 47.252.106.219,96 53.158.619.497,46 59.803.446.934,64 67.278.877.801,47 75.688.737.526,65 85.149.829.717,48 95.793.558.432,17 107.767.753.236,19 121.238.722.390,71 136.393.562.689,55 153.442.758.025,74 172.623.102.778,96 194.200.990.626,33 218.476.114.454,62 245.785.628.761,45 276.508.832.356,63 311.072.436.401,21 349.956.490.951,36 393.701.052.320,28 442.913.683.860,32 498.277.894.342,86 23,63 26,58 29,90 33,64 37,84 42,57 47,90 53,88 60,62 68,20 76,72 86,31 97,10 109,24 122,89 138,25 155,54 174,98 196,85 221,46 249,14

Sebagaimana Tabel 29 terdahulu Kecamatan Bantargebang, Jatisampurna dan Kecamatan Mustika Jaya merupakan wilayah yang berpotensi untuk dijadikan area kawasan lindung hutan kota, karena proporsi lahan RTH masih cukup luas, menempati posisi teratas yakni sebesar 810,27 ha, 910,84 ha dan 1.011,82 ha. Dengan demikian skenario optimis diasumsikan dapat menambah luasan areal RTH lebih dari 2.000 ha (10%) pada tahun 2030 apabila harga NJOP dapat dipertahankan oleh kebijakan pemerintah daerah bagi kawasan yang direncanakan menjadi kawasan lindung kota. Jumlah RTH publik Kota Bekasi sebagaimana hasil olahan data sebelumnya teridentifikasi kurang dari empat persen, artinya masih 16 persen atau sekitar 3.367 ha yang harus dipenuhi. Sebagai perbandingan bila kebijakan kinerja green budgeting RTH seperti saat ini (0,07% dari APBD) maka pada tahu 2030 lahan yang diperoleh hanya seluas 60-70 ha, pada skenario pesimis diperoleh seluas 300-320 ha dan moderat seluas 1.500-1.550 ha. Kebijakan pembangunan infrastruktur kawasan hijau pertanian dan penambahan lahan RTH kota merupakan prioritas pilihan pendapat stakeholders.

Penganggaran pada APBD Hijau terhadap strategi green budgeting RTH sebagaimana hasil simulasi model skenario optimis dapat dilaksanakan pada

(15)

tahun pertama dan kedua dengan nilai kurang lebih Rp. 100 milyar kemudian untuk penganggaran refungsionalisasi RTH dilaksanakan pada tahun ketiga (2012) dengan nilai biaya kurang lebih Rp. 63,8 milyar (Tabel 57 terdahulu). Secara teknis pembangunan infratruksur pertanian/RTH ini harus dilaksanakan dengan memenuhi kaidah-kaidah NSPM (Norma Standar Pedoman Manual) yang meliputi: adanya perencanaan yang menyeluruh (a master linking or integrated plan), adanya rencana induk untuk setiap pembangunan dan pengembangan sistem (master plan for the development of each service infrastructure system), tersusunnya perkiraan biaya (assesments that tie to the budgeting process), terbentuknya organisasi dan pengembangan institusi yang ada (capacity building development), dan adanya perencanaan peningkatan sistem yang ada (plans to improve operation services).

Pengaturan kembali fungsi (refungsionalisasi) lahan-lahan peruntukkan RTH Kota merupakan bagian dari sistem RTH kota yang telah dibangun seperti taman kota, sempadan situ dan sungai. Refungsionalisasi RTH bertujuan mengembalikan fungsi lahan sesuai peruntukkannya, hal ini dilakukan dalam rangka memenuhi ketentuan Pasal 8 PP No. 63 tahun 2002 dan Inmendagri No. 14 tahun 1988 tentang ketentuan luasan bahwa persentasi luas hutan kota paling sedikit 10 persen dari wilayah perkotaan. Arahan refungsionalisasi pengembangan pola pemanfaatan RTHK menurut jenisnya meliputi:

1. Kawasan hijau pertamanan kota, pengembangannya diarahkan secara tersebar pada Bagian Wilayah Kota (BWK) khususnya pada BWK pusat kota seperti : Taman Alun-alun, Taman Cut Meutiah, Taman GOR Buper Bina Bangsa, Taman Multiguna Kota Bekasi dan Taman Pintu Tol Bekasi Timur. 2. Kawasan hijau pemakaman, pengembangannya diarahkan pada tiap BWK

dan dengan memanfaatkan keberadaan pemakaman-pemakaman umum yang telah ada serta disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Kawasan hijau jalur hijau, pengembangannya diarahkan sepanjang jalur sungai (berfungsi sebagai garis sempadan sungai yaitu kali cikeas, cileungsi, kali Bekasi dan bantaran sungai Cikiwul ), jalan utama kota, dan jalur kereta api.

4. Kawasan lindung sebagai tempat resapan air, pengembangannya diarahkan pada Lahan karang Kitri (Bekasi Timur) dan Lahan Kritis di kel. Sumur Batu (semula untuk IPLT).

(16)

5. Kawasan situ, pengembangannya diarahkan pada pelestarian dan pemulihan fungsi situ-situ (Situ Rawalumbu, Situ Rawa Gede dan Situ Pulo) yang saat ini kondisinya tidak terkelola, mengalami degradasi dan alih fungsi lahan ke peruntukan lain (sebagai pool kendaraan dan tempat pembuangan sampah masyarakat).

Idealnya jumlah penduduk Kota Bekasi adalah 2,84 juta jiwa bila luas lahan RTH yang tersedia saat ini dapat dipertahankan sebagai RTH publik. Kondisi RTH saat ini dapat dianalisis dari hasil analisis SIG tahun 2009 bahwa kelompok lahan RTH masih seluas 5.728,88 ha (27,2%) terdiri dari Kebun Campuran, Padang Rumput / Alang-alang, Sawah Irigasi, Sawah Tadah Hujan, Semak Belukar, dan Tegalan / Ladang (Tabel 28 terdahulu). Asumsi ideal tersebut didasarkan perhitungan kebutuhan RTH kota dengan pendekatan Kepmen PU No. 378 tahun 1987, ketentuannya menetapkan kebutuhan RTH kota dibagi atas: fasilitas hijau umum 2,3 m2/jiwa, sedangkan untuk penyangga lingkungan kota (ruang hijau) 15 m2/jiwa sehingga total perorang sebesar 17,3 m2/kapita. Apabila dikalikan dengan jumlah penduduk maka RTH publik kota yang harus tersedia adalah seluas 4.913,2 ha atau 23%.

Pemerintah Kota Bekasi perlu memiliki rencana penganggaran untuk mencapai target RTH publik pada tahun 2030 sebesar 20 persen. Pendekatan penganggaran menggunakan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM/MTEF). Alternatif lain karena keterbatasan lahan dan anggaran pemerintah, adanya dukungan pihak swasta membantu membuka RTH miliknya untuk akses publik. Beberapa program lain yang secara komplementer mendukung kebijakan pembangunan infrastruktur pertanian/RTH adalah :

1. Meningkatkan program insentif subsidi produktif pertanian yang prorural melalui dana-dana APBD untuk pengadaan pupuk, bibit unggul, serta untuk pembangunan infrastruktur pertanian. Kebijakan ini diharapkan dapat mempertahankan lahan tanaman pangan berkelanjutan sekaligus mempertahankan lahan RTH kota dimasa yang akan datang. Terjadi pengorbanan sector pedesaan (rural) khususnya pertanian untuk kepentingan sektor perkotaan. Pembangunan seperti ini bersifat jangka pendek dan cenderung sektoral dan bertentangan dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

(17)

2. Mensosialisasikan UU Ketahanan Pangan Berkelanjutan Nomor 41 Tahun 2009, UU Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) Nomor 32 Tahun 2009 dan UU Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 agar zonasi-zonasi dan persentase penggunaan lahan/land allocations precentages (LAP) tetap sesuai dengan peruntukan yang telah ditetapkan dalam RTRW Kota Bekasi dan RDTR Bagian Wilayah Kota (BWK).

3. Mengembangkan dan menerapkan teknologi tepat guna pertanian dengan memperhatikan aspek-aspek pemanfaatan sumberdaya yang tidak merusak lingkungan (resource endowment).

4. Mencetak kader-kader petani/kelompok tani (POKTAN) di masing-masing kecamatan, untuk menjaga pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan serta menjaga terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian produktif menjadi lahan industri dan permukiman.

5. Memberdayakan kembali fungsi-fungsi kelembagaan petani yang sudah diformalkan di masyarakat petani seperti gabungan kelompok tani (Gapoktan), Kelompok Tani Andalan Nasional (KTNA), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan asosiasi-asosiasi pemerhati lingkungan dan pertanian lainnya.

Arahan program kebijakan pengadaan lahan RTH publik kota meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

1. Penetapan obyek lahan RTH publik pada lokasi yang jelas (Peta arahan pengembangan RTH hasil analisis Alos 2009 pada Lampiran 26) dengan memadukan kesesuain potensi RTH dari draft rencana perda RTRW Kota 2010-2030 terkait rencana pengembangan RTH di Kota Bekasi (Tabel 15 terdahulu).

2. Penetapan luas area yang di butuhkan pada masing-masing lokasi rencana obyek RTH publik.

3. Penyusunan kebutuhan belanja RTH berdasarkan nilai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) lahan.

4. Jumlah kebutuhan dana dialokasikan dalam Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM/MTEF) pada rencana kerja (Renja) SKPD, sebagamana kerangka atau bagan Alir Tahapan MTEF dalam green budgeting RTH (Gambar 47 terdahulu).

5. Disain belanja KPJM/MTEF menjadi arahan dalam Kebijakan Umum APBD (KUA).

(18)

6. Untuk pengaturan lebih detil rencana pengadaan lahan RTH publik ini sebaiknya dipadukan dalam Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) masing wilayah kecamatan. Dalam kondisi khusus dapat langsung membuat Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) khusus kawasan yang akan dijakdikan kawasan konservasi RTH sebagaimana amanat Kepmen Kimpraswil No.327/KPTS/M/2002. Rencana detail tata ruang didasarkan pada berbagai pertimbangan, antara lain dalam rangka pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, revitalisasi kawasan pusat kota, pengembangan kawasan permukiman skala besar, revitalisasi RTHK dan sebagainya.

7. Mempublikasikan draft kebijakan pengadaan lahan RTH publik kota kepada stakeholder yang lebih luas.

7.3.1.2. Pendekatan MTEF dalam Green Budgeting RTH

Kegiatan yang dikembangkan dalam pengalokasian RTH publik berbasis penganggaran daerah atau APBD hijau seyogyanya bersifat multi sektor dimana ada kepentingan partisipatif swasta untuk publik, sehingga beban pembiayaan bersifat multi finance. Dana sumbangan pihak ketiga atau dari masyarakat pengusaha sebaiknya masuk ke rekening kas daerah, sehingga terdapat keterpaduan dalam program green budgeting RTH.

Komitmen bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam membangun kualitas lingkungan kota sangat diperlukan.Komitmen kesepakatan pembiayaan dalam jangka panjang dituangkan dalam master plan pengembangan RTH publik kota dengan mengintrodusir terlebih dahulu perda RTH kota. Kota Bekasi sampai saat ini belum memiliki produk hukum Perda RTH kota (Tabel 24 terdahulu).

Perda RTH kota penting kedudukannya dalam menjalankan arahan RTRW Kota Bekasi 2010-2030. Amanat rencana pengembangan RTH di Kota bekasi berdasarkan Rencana Perda (Raperda) RTRW Kota Bekasi 2010-2030 dapat dilihat pada Tabel 15 terdahulu. Materi Raperda tersebut salah satunya adalah upaya Pemerintah Kota Bekasi memenuhi target 20 persen RTH publik dengan pendekatan penambahan lahan RTH yang saat ini baru memiliki 3,7 persen. Upaya tersebut seyogyanya dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) dengan program dan kegiatan nyata pada penganggaran daerah.

(19)

Kesepakatan penganggaran (green budgeting RTH) pada masing-masing sektor dituangkan dalam RPJM, sedangkan kesepakatan rencana penganggaran tahunan dituangkan dalam Rencana Kegiatan Pembangunan Daerah (RKPD) dan Rencana Strategis (Renstra) Kota dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Pendekatan green budgeting RTH merupakan rencana tindakan pada masa yang akan datang dalam konteks mekanisme belanja tahunan APBD.

Mekanisme tersebut melalui tahapan MUSRENBANG (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang dikenal dengan penganggaran partisipatif. Usulan partisipatif tersebut disintesis dengan pendekatan MTEF (Medium Term Expenditure Framework), dalam dokumen perencanaan yang disebut RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah).

Pasal 1 angka 33 Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 2005 dan pasal 1 angka 35 Peraturan Menteri Dalam Negeri No13/2006 menyatakan: Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran, dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju.

Kebutuhan biaya untuk pelaksanaan program pengalokasian RTH yang melebihi waktu satu tahun harus diestimasi sejak awal (bersifat indikatif). Hal ini secara implisit telah diprediksi ketika target kinerja (outcome) yang hendak dicapai pada akhir periode jangka menengah (multi-years) telah dapat ditentukan. Memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui. Hakekat dari penganggaran berbasis kinerja bukanlah periode pelaksanaan anggaran, tetapi hasil (outcome) yang hendak dicapai.

Outcome 20 persen RTH publik merupakan solusi atas kebutuhan yang dihadapi pemerintah kota, sementara periode anggaran adalah mekanisme untuk memudahkan perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung jawaban anggaran. Dengan demikian, kesinambungan pelaksanaan program/kegiatan selama beberapa tahun anggaran merupakan keniscayaan untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.

Berdasarkan ketentuan pengelolaan keuangan tersebut format RKA-SKPD telah mengakomodasi konsep KPJM ini. Dalam format Formulir Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) 2.2.1, yakni

(20)

dokumen yang memuat rencana kegiatan (dengan menggunakan anggaran belanja langsung), dapat ditemukan anggaran untuk tahun sebelumnya (n-1), tahun berjalan/yang akan dilaksanakan (n), dan tahun yang akan datang (n + 1). Dokumen RKA-SKPD 2.2.1 bisa dibuat oleh SKPD apabila telah ada perda tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah yang memuat pasal KPJM/MTEF.

Subtansi didalamnya memuat karakteristik/persyaratan, mekanisme, penatausahaan, pertanggungjawaban, pengukuran kinerja. Sumber pendanaan yang sudah “terjamin”, misalnya dari dana cadangan atau pinjaman daerah atau dalam perda multiyears pengalokasian RTH sebagai turunan perda RTH. Nama program/kegiatan sudah tercantum dalam RKPD, KUA, dan PPAS sesuai dengan Tupoksi SKPD yang bersangkutan. Dalam pengelolaan keuangan daerah di Indonesia, mata rantai penyusunan anggaran diawali dengan Kebijakan Umum APBD (KUA), yang dilengkapi dengan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), dan harus disepakati dulu dalam bentuk penandatanganan Nota Kesepakatan antara kepala daerah dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Berdasarkan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) atau dikenal dengan MTEF tersebut, program belanja RTH dapat diprediksi kebutuhan dan ketersediaan dananya melalui kesepakatan bersama untuk belanja lebih dari satu tahun anggaran, format formulir MTEF seperti tertera pada Lampiran 28. Kebijakan tentang pelaksanaan suatu program atau kegiatan yang melebihi satu tahun anggaran dengan pendekatan MTEF wajib dicantumkan dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Permendagri No.13 tahun 2006). Pembiayaan pengembangan RTH Kota Bekasi dalam program jangka menengah lima tahunan (2010-2015) perlu disusun dalam matriks program lintas sektor yang merupakan bagian dari penyusunan master plan strategi pengalokasian RTH kota.

Seyogyanya master plan ini dijadikan bagian dari visi kepala daerah dalam membangun sebuah kota yang berkelanjutan dimana lingkungan hidup kita merupakan subyek pembangunan itu sendiri. Bagan alir kerangka model pendekatan MTEF dalam strategi pengalokasian RTH berdasarkan penganggaran daerah berbasis lingkungan (green budgeting RTH) disajikan pada Gambar 49.

(21)

RKA-SKPD

DPA-SKPD ANGGARAN KAS GREEN

BUDGETING RTH RAPBD PENJABARAN APBD PERDA APBD RPJMD/ RKPD KUA PPAS EVALUASI RTRW/ RPJP MTEF/KPJM PERDARTH MASTER PLAN RTH RDTR PERDA KEU DAERAH

Ket: RKPD= Rencana Kerja Pemerintah Daerah, KUA= Kebijakan Umum APBD, PPAS= Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, RKA= Rencana Kerja dan Anggaran, DPA=Dokumen Pelaksanaan Anggaran, SKPD= Satuan Kerja Perangkat Daerah

Gambar 49 Bagan alir tahapan MTEF dalam green budgeting RTH Anggaran kas green budgeting RTH merupakan alur terakhir dari skema Medium Term Expenditure Framework (MTEF) atau Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) yang dirancang. Total biaya yang diestimasikan berdasarkan skenario optimis untuk mengembangkan green budgeting RTH dalam tahun ke lima atau akhir tahun RPJM I kepala daerah terpilih adalah sebesar kurang lebih Rp. 425 milyar dengan jumlah capaian target penambahan lahan RTH publik seluas 225 ha (Tabel 59). Dalam waktu 20 tahun perjalanan pembangunan ke depan RTRW Kota Bekasi 2010-2030 atau RPJM IV atau RPJP I dapat dilaksanakan sesuai arah tata ruangnya.

Hasil simulasi skenario optimis, target pengalokasian RTH publik kota akan dapat dicapai pada tahun ke 2030 dengan prediksi anggaran sebesar kurang lebih 6 trilyun rupiah. Demikian langkah perhitungan tersebut, action plan strategi pengembangan RTH Kota memiliki alur yang jelas pencapaiannya. Model konsep alur penganggaran daerah dalam misi pembangunan lima tahunan disajikan pada Gambar 16 terdahulu.

Langkah-langkah di bawah ini dapat dijadikan arahan penyusunan Master Plan Strategi Pengalokasian RTH Kota sebagai berikut :

(22)

1. Penetapan obyek lahan RTH publik pada lokasi yang jelas dan penetapan luas area yang di butuhkan pada masing-masing lokasi rencana obyek RTH publik dengan merujuk pada pedoman RTRW Kota. Misalkan dalam RTRW kebutuhan lapangan olahraga tersebar di masing-masing kecamatan, maka dalam master plan sudah ada titik lokasi wilayah yang tertuju.

2. Penyusunan kebutuhan belanja RTH berdasarkan nilai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) lahan. Jumlah kebutuhan dana dialokasikan dalam Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM/MTEF) pada rencana kerja (Renja) SKPD terkait. Disain belanja KPJM/MTEF menjadi arahan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dalam APBD.

3. Untuk pengaturan lebih detil master plan ini sebaiknya dipadukan dalam Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) masing wilayah kecamatan.

7.3.1.3. Alternatif pembiayaan pengalokasian RTH dari Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pemerintah memainkan peranan penting dalam mendukung pelaksanaan urusan pemerintahan terutama keuangan yang didesentralisasikan ke pemerintah daerah. Pemerintah bertanggung jawab menjaga keseimbangan alokasi dana antardaerah melalui beberapa mekanisme, seperti dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan dana bagi hasil (DBH). Semua dana perimbangan tersebut disalurkan ke dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Tujuan transfer dana bukan saja dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, tetapi juga upaya untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antardaerah, dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. Dana perimbangan masih merupakan sumber penerimaan terbesar daerah.

DAU bersifat hibah umum (block grant), oleh karenanya, Pemerintah Kota Bekasi memiliki kebebasan dalam memanfaatkannya sesuai rencana belanja yang disepakati dengan DPRD Kota Bekasi. DBH adalah dana yang dialokasikan kembali kepada daerah (penghasil) dengan pembagian sebagaimana diatur dalam Undang-undang (UU) No. 33 tahun 2004. DBH dibagi atas DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam. DBH Pajak terdiri dari pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), dan pajak penghasilan (PPh). DBH untuk Sumber Daya Alam berasal dari kehutanan,

(23)

pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi.

Sejak awal tahun 2011 Pemerintah Kota Bekasi tidak lagi memperoleh DBH dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), karena sudah mampu melaksanakan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah sesuai amanat UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah. Terbitnya undang-undang tersebut mendorong Pemerintah Kota Bekasi untuk merencanakan pelayanan PBB pada tahun 2012.

Tujuan utama alokasi DAK adalah untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah dan meningkatkan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memobilisasi sumberdayanya. DAK dipakai untuk menutup kesenjangan pelayanan publik antardaerah dengan prioritas pada bidang kegiatan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan,

pertanian, prasarana pemerintahan daerah, dan lingkungan hidup. Program dan kegiatan DAK khususnya berkenaan dengan lingkungan hidup tersebut sesuai dengan prioritas nasional yang diarahkan untuk mendanai urusan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Daerah dapat menerima DAK apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu (1) kriteria umum berdasarkan indeks fiskal neto; (2) kriteria khusus berdasarkan peraturan perundangan dan karakteristik daerah; dan (3) kriteria teknis berdasarkan indeks teknis bidang terkait (UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004).

Kriteria teknisDAK bidang lingkungan hidup meliputi indikator data : • Kepadatan penduduk

• Panjang sungai tercemar • Luas tutupan lahan • Bentuk kelembagaan • Ruang tutupan hijau

• Volume sampah

Kriteria teknis bidang pertanian meliputi 1). Luas Penggunaan Lahan, 2). Balai Penyuluhan Pertanian 3). Jumlah Penyuluh dan 4). Pengguna Lahan. Tujuan DAK BIDANG LH adalah membantu Kab/Kota mendanai kegiatan di bidang LH terutama dalam rangka pencapaian Standar Pelayanan Minimal

(24)

(SPM) di Bidang LH yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Sebagai gambaran perencanaan ke depan dapat dipertimbangkan hasil rancangan arah pemanfaatan DAK LH 2011 untuk

Perubahan Iklim meliputi pengadaan Taman Hijau/Taman Kehati, Pengelolaan sampah (3R), Particulat Matters (PM) 10 dan Bio Gas. Rancangan kriteria teknis DAK LH 2011 adalah 1). Proporsi panjang sungai tiap Kab./Kota terhadap total panjang sungai yang mengalir di seluruh Kab./Kota, 2). Kepadatan Penduduk tiap Kab./Kota, 3). Proporsi tutupan lahan tiap Kab./Kota terhadap total tutupan lahan di seluruh Kab./Kota, 4). Bentuk Kelembagaan LH Kab./Kota, 5). Luas Ruang Terbuka Hijau perKab/Kota dan 6). Volume sampah per Kab/Kota.

Sekitar 80% DAU yang dikelola Kota Bekasi digunakan untuk belanja rutin, terutama gaji pegawai. Diperlukan sumber dana untuk membangun sarana dan prasarana fisik berkenaan pengalokasian RTH selain dari PAD dan dana bagi hasil pajak dengan Povinsi jawa barat adalah dari DAK. Operasionalisasi anggaran disusun dengan menggunakan prinsip anggaran kinerja, dalam arti mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Output (keluaran) menunjukkan barang atau jasa yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai input yang digunakan. Input (masukan) adalah besarnya sumber dana, sumber daya manusia, material, waktu dan teknologi yang digunakan untuk pelaksanaan program atau kegiatan DAK.

Berdasarkan prinsip anggaran kinerja tersebut, Pemerintah Kota Bekasi jangan menjadi penerima pasif atas hibah DAK karena sebenarnya peraturan perundangan memungkinkan daerah untuk secara aktif mengajukan usul. Dinas teknis terkait bertugas merencanakan program dan kegiatan pengalokasian RTH dan mengirimkan data tentang kondisi sarana dan prasarana bidang-bidang yang memperoleh alokasi DAK terkait dengan lingkungan hidup termasuk upaya mempertahankan pertanian kota. Data tersebut menjadi bahan baku bagi Pemerintah Pusat (baik Kementerian teknis terkait dan juga Keuangan) dalam mengalokasikan DAK per bidang dan per daerah. Penentuan bidang lingkungan hidup yang menerima alokasi DAK disesuaikan dengan prioritas pembangunan yang tercermin dalam rencana kerja pemerintah (RKP).

Belanja per kegiatan DAK dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja.

(25)

Belanja berdasarkan urusan, diklasifikasikan sesuai urusan wajib dan urusan pilihan. Sebagai contoh: Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air dan Sumber-Sumber Air, Pengelolaan gulma di danau/situ, Peningkatan edukasi dan komunikasi masyarakat di bidang lingkungan, Penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan lahan dan air, Pencetakan lahan persawahan, Pembukaan lahan kering, termasuk pengadaan lahan untuk taman hijau.

Pemerintah Daerah dalam menyusun program dan kegiatan yang bersumber dari DAK, terlebih dahulu mensinkronkan dengan program dan kegiatan indikatif Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). Penganggaran dana pendamping dalam APBD wajib dialokasikan sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari jumlah alokasi DAK. Dana pendamping dimaksud dianggarkan untuk kegiatan yang bersifat fisik.

7.3.2. Strategi Pengendalian Penduduk

Tingginya konversi lahan RTH menjadi lahan terbangun (RTB) merupakan fenomena yang terjadi begitu cepat sejak pelaksanaan otonomi daerah diberlakukan. Pembangunan infrastruktur kota semakin baik karena dana pusat berupa dana alokasi umum (DAU) semakin besar ke daerah sehingga memberikan keleluasan daerah berinovasi memenuhi pembangunan utilitas kota. Aksesibilitas yang semakin baik memberikan dorongan orang untuk berinvestasi dan bedrtempat tinggal di Kota Bekasi.

Investasi daerah semakin tumbuh berkembang sehingga laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Bekasi tumbuh di atas rata-rata enam persen (6%) pada tahun 2006-2008. Kontribusi terbesar disumbang oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu mencapai 10,96 persen dan sektor perdagangan mempunyai pertumbuhan tertinggi kedua dengan nilai 8,35 persen. Sementara itu

penurunan kinerja terjadi pada sektor pertanian yaitu menjadi negatif senilai -2,27 persen (Gambar 22 terdahulu).

(26)

Penurunan kinerja sektor pertanian mempengaruhi lanskap kota hijau, padahal keberadaan kondisi perkotaan dengan segala tantangannya harus tetap menjamin kawasan lindung yang seimbang dengan kawasan budidayanya. Disamping itu kebijakan mempertahankan lahan pertanian merupakan amanat Undang-undang No. 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Dalam pasal 8 disebutkan bahwa dalam hal di wilayah kota terdapat lahan pertanian pangan dapat ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan untuk dilindungi.

Oleh sebab itu lahan RTH kota dinyatakan sebagai bagian dari ruang fungsional yang dapat meningkatkan kualitas fisik dan non fisik wajah kota. Kebijakan mengoptimalisasi pengalokasian RTH di Kota Bekasi sebagai bagian dari amanat Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang diharapkan dapat menciptakan suatu tatanan lanskap kota yang berkelanjutan. Model strategi pengalokasian RTH kota berbasis green budgeting merupakan salah satu pilihan pendekatan terbaik memenuhi kebutuhan 20 persen RTH publik. Model pendekatan green budgeting RTH keberhasilannya juga dipengaruhi oleh tingkat pengendalian penduduk kota.

Konsekuensi laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi yang tinggi menyebabkan keinginan orang untuk tinggal dan berinvestasi tinggi. Arus urbanisasi ke Kota Bekasi semakin mempertajam laju pertumbuhan penduduk hingga rata-rata di atas empat persen (4%) pertahun. Akibatnya permintaan terhadap lahan terbangun semakin tinggi sehingga memarjinalisasi lahan RTH. Oleh karena itu, kebijakan yang arif terhadap laju pengendalian penduduk harus diperhitungkan. Penduduk tahun 2009 sebesar 2.319.518 jiwa, bila tahun 2030 jumlah penduduk dibatasi 4 juta jiwa berarti 20 tahun kedepan diupayakan menjaga pertumbuhan penduduk sebanyak 1,7 juta jiwa atau sebanyak 85 ribu jiwa per tahunnya.

Dari model-model prakiraan perkembangan penduduk dapat dianalisis model penanganan strategis aspek kependudukan yang meliputi jumlah, sebaran dan pergerakan penduduk di masa mendatang. Strategi aspek kependudukan ditekankan pada dua hal, yaitu strategi penyebaran penduduk secara proporsional dan strategi pengendalian jumlah penduduk.

(27)

7.3.2.1. Strategi Penyebaran Penduduk

Distribusi penduduk berdasarkan administrasi kependudukan tidak merata untuk setiap kecamatan, disparitas berkisar antara 3,44 persen sampai 22,74 persen. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas areal dimana mereka tinggal, seperti terlihat pada Gambar 50.

Gambar 50 Distribusi penduduk Kota Bekasi tahun 2008 (%)

Konsentrasi penduduk Kota Bekasi tahun 2008 paling banyak terdapat di Kecamatan Bekasi Barat yaitu sebesar 13,43 persen. Sementara itu kepadatan penduduk yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Jatisampurna yaitu sebesar 3,44 persen. Berdasarkan hasil susenas 2009 (BPS Kota Bekasi, 2010) menunjukkan ada peningkatan penyebaran penduduk tahun 2009 (Lampiran 24) akibat pertambahan penduduk dimana posisi tertinggi tetap pada Kecamatan Bekasi Utara naik dari 12,76 persen menjadi 16,64 persen (314.567 jiwa), dan seterusnya Bekasi Barat 11,36 persen (214.693 jiwa), Pondokgede 11,67 persen (209.285 jiwa) dan terendah di Kecamatan Jati Sampurna sebesar 3,46 persen (65.333 jiwa). Dalam konteks keterbatasan lahan maka distribusi penduduk antar wilayah kecamatan seyogyanya diatur dalam Perda RTRW Kota Bekasi. Untuk mewujudkan optimalisasi rencana pemanfaatan ruang sesuai daya dukung lingkungan, maka model strategi penyebaran penduduk di Kota Bekasi sampai tahun 2030 seyogyanya dibatasi 4.000.000 jiwa.

Asumsi laju pertumbuhan penduduk (LPP) tiga persen pada skenario optimis diprediksi pada tahun 2030 berjumlah 3.889.539 jiwa yang tersebar di masing-masing kecamatan, kemudian dibatasi tidak melebihi 4 juta jiwa pada 2030. Penduduk Kota Bekasi tahun 2009 sebesar 2.319.518 jiwa jiwa (BPS Kota Bekasi, 2010) berarti untuk 20 tahun kedepan harus bekerja keras menjaga

(28)

pertumbuhan penduduk sebanyak 1,7 juta jiwa atau sebanyak 85 ribu jiwa per tahunnya.

Bagian wilayah pusat kota dengan kepadatan tinggi meliputi Kecamatan Bekasi Utara, Timur, Selatan dan Barat ditetapkan dengan kebijakan jumlah penduduk 40 persen (1.600.000 jiwa) dari jumlah penduduk Kota Bekasi atau dibatasi masing-masing 300.000-400.000 jiwa. Penyebaran dan kepadatan penduduk masing-masing wilayah dapat diarahkan sebagai berikut :

1. Kecamatan Pondokgede diarahkan sebanyak 350.000 jiwa 2. Kecamatan Jati Sampurna diarahkan sebanyak 300.000 jiwa 3. Kecamatan Jati Asih diarahkan sebanyak 300.000 jiwa 4. Kecamatan Bantargebang diarahkan sebanyak 300.000 jiwa 5. Kecamatan Bekasi Timur diarahkan sebanyak 350.000 jiwa 6. Kecamatan Rawalumbu diarahkan sebanyak 300.000 jiwa 7. Kecamatan Bekasi Selatan diarahkan sebanyak 350.000 jiwa 8. Kecamatan Bekasi Barat diarahkan sebanyak 350.000 jiwa 9. Kecamatan Medan Satria diarahkan sebanyak 350.000 jiwa 10. Kecamatan Bekasi Utara diarahkan sebanyak 400.000 jiwa 11. Kecamatan Mustika Jaya diarahkan sebanyak 300.000 jiwa 12. Kecamatan Pondok Melati diarahkan sebanyak 350.000 jiwa

Berdasarkan strategi target tersebut maka Kecamatan Bekasi Utara dengan kepadatan tertinggi sudah mendekati optimal. Hal ini penting dilakukan untuk distribusi tingkat kepadatan penduduk yang optimal antar wilayah kecamatan dan kebijakan pengembangan perumahan. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi tersebut perlu kebijakan terhadap pembangunan perumahan vertikal pada wilayah kecamatan dengan kepadatan di atas 350-400 jiwa/ha.

7.3.2.2. Strategi Pengendalian Laju Pertumbuhan Penduduk

Dari aspek strategi pengendalian jumlah penduduk ada beberapa arahan kebijakan terkait dengan pengendalian pendududk yang menjadi tugas pokok kelembagaan pemerintah seperti program Keluarga Berencana (KB). Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan

(29)

tetapi bertujuan menetap (BPS Kota Bekasi, 2009). Pengendalian penduduk adalah kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, umumnya dengan mengurangi jumlah kelahiran.

Pengendalian penduduk dengan cara dipaksakan terjadi di Republik Rakyat Cina yang terkenal dengan kebijakannya 'satu anak cukup' dan sterilisasi wajib. Berbeda dengan kebijakan Indonesia melalui KB yang bersifat persuasif. Dengan otonomi daerah dan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, sejak saat itu, program KB menjadi salah satu dari 35 urusan wajib pemerintah daerah. Konsekuensinya, harus ada pembiayaan dari APBD, sehingga persoalan program KB tidak diabaikan. Dengan adanya program bersubsidi tersebut, diupayakan dapat menekan laju angka kelahiran alamiah yang saat ini tidak lebih dari 1 persen pertumbuhannya sambil mengatasi persoalan penduduk migran yang pada akhirnya menetap dan berketurunan.

Program prioritas yang menjadi pilihan adalah pemberian layanan KB dan jaminan persalinan secara gratis untuk 2 anak, program advokasi kepada pasangan usia subur (PUS) menunda masa perkawinan, program Operasi Yustisi Kependudukan dan Transmigrasi. Ketiga program tersebut harus dioptimalkan selama 20 tahun ke depan. Pada model optimis kondisi pada tahun 2030 bisa dikendalikan pada angka prediksi 3.889.539 jiwa atau dibatasi empat (4) juta dengan LPP tiga persen (3%). Kondisi sekarang dengan pertumbuhan penduduk 4 persen, penduduk Kota Bekasi pada tahun 2025 saja sudah mencapai 3.978.076 jiwa (Tabel 33 terdahulu). Pada umumnya migrasi yang terjadi di kota tidak diimbangi dengan perkembangan kegiatan ekonominya. Akibatnya menimbulkan persoalan pengangguran terbuka dan pengangguran terselubung.

Dukungan program penciptaan lapangan kerja baru di desa dan antarpemerintahan di daerah menjadi pilihan terbaik dalam rangka pengendalian dan penyebaran penduduk. Diperlukan program terpadu sehingga pertumbuhan ekonomi antar wilayah tidak timpang dan distribusi migrasi penduduk menjadi proporsional lebih-lebih bila didukung dengan kekuatan ekonomi desa dengan konsep agropolitan. Kebijakan pengendalian penduduk migran diarahkan melalui kegiatan bersama antar pemerintahan melalui operasi yustisi, transmigrasi dan distribusi kepadatan wilayah.

Gambar

Gambar 45  Rincian alternatif kebijakan
Gambar 46    Struktur hirarki strategi pengalokasian RTH berbasis green  budgeting
Gambar 47   Diagram alir model konseptual kebijakan strategi pengalokasian    RTH berbasis green budgeting
Gambar 48 Skema arahan strategi pengalokasian RTH berbasis green budgeting  Prioritas utama kebijakan pembangunan infrastruktur pertanian/RTH adalah   termasuk penanganan  refungsionalisasi kawasan sempadan situ, saluran irigasi,  sempadan sungai, daerah k
+5

Referensi

Dokumen terkait

Populasi penelitian seluruh lansia yang mengalami keterbatasan rentang gerak pada lutut dan ankle yang berada di Kota Bengkulu sebanyak 60 lansia yang terdiri dari 3 kelomok

Jawa pos sendiri memiliki beberapa divisi di dalamnya seperti yang akan di bahas nantinya ialah divisi pemasaran dimana fungsinya bertugas memasarkan koran baik ke

Kami, selaku pemilik perniagaan turun padang sendiri ke Kuala Lumpur & Shah Alam untuk menghantar produk sekut kepada ejen kerana ingin bersua muka dengan

Berdasarkan hasil estimasi menggunakan ketiga metode analisis di atas diperoleh bahwa sebagian besar variabel-variabel bebas yang diukur memiliki pengaruh yang signifikan

Sesuai dengan kewenangan yang dimiliki daerah sebagai amanat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 diatas, Pemerintah Daerah mengajukan Retribusi Jasa Umum dengan 8

penyembuhan kanker. Berbagai macam model matematika yang menggambarkan pertumbuhan sel tumor di bawah pengaruh virus oncolytic telah banyak dikemukakan. Dalam tulisan ini

Dalam menjamin pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan setiap warga negara, telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017

Pada tanggal 23 Februari 2012, BORNEO menandatangani Perjanjian Pekerjaan Jasa Pengupasan Tanah Penutup dan Pengangkutan Batubara dengan PT Saptaindra Sejati, pihak ketiga,