78
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5.1. Makro
5.1.1. Deskripsi Tapak
Gambar 5.1 Letak Tapak
Tapak terletak di Jalan Margonda No. 58 Terminal Terpadu Kota Depok, Jawa Barat. Tapak terletak di barat laut Terminal Kota Depok. Tapak memiliki luas 6.230 m2.
Gambar 5.2 Lingkungan Sekitar Tapak
Tapak dikelilingi oleh kawasan komersial dan fasilitas kendaraan umum. Di sebelah utara dan timur merupakan kawasan komersial, seperti Mall, toko baju,
79
tempat makan, dan lain-lain. Di sisi selatan dan barat tapak merupakan stasiun kereta api dan Terminal Depok. Selain kawasan komersial dan fasilitas kendaraan umum, di dekat tapak juga ada beberapa sekolah seperti, Sekolah Teknik Mesin dan sekolah kejuruan lainnya.
a. Poin Positif
Berada di tempat yang strategis
Dekat dengan fasilitas kendaraan umum
Mudah ditemukan dan dikenali
Dekat dengan tempat ‘kerja’ anak jalanan (terminal dan perempatan jalan)
b. Poin Negatif
Posisi tapak yang di pinggir jalan dan terminal membahayakan siswa dari kendaran yang lalu-lalang
Tidak ada pemandangan yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan suasana tenang
Bising kendaraan yang lalu lalang 5.1.2. Analisa Tapak
Gambar 5.3 Analisa Tapak
Pencapaian menuju bangunan melalui pintu masuk pada sisi utara dan keluar pada sisi timur. Hal ini dikarenakan untuk mengefektifitaskan sirkulasi
80
kendaraan. Kendaraan masuk melalui bagian utara agar bisa langsung menuju ke pintu masuk dari segala arah tanpa harus memutar balik dan keluar di sisi barat agar langsung keluar menuju jalan utama.
Tapak yang terletak bersebelahan langsung dengan Terminal Depok, stasiun kereta, serta jalan utama menjadikan tapak mendapatkan polusi suara yang sangat tinggi yang berasal dari kendaraan bermotor dan suara kereta api. Untuk meminimalisir suara, diberikan elemen pemecah suara agar suara yang masuk ke dalam tapak tidak terlalu banyak. Elemen pemecah suara ini bisa berupa pohon, tembok, ataupun yang lainnya.
Tapak berorientasi ke arah timur laut – barat daya sehingga tapak mendapatkan cahaya matahari yang cukup tanpa harus menghadap langsung ke barat ataupun timur sehingga pada sisi barat diberikan penghalang sinar matahari yang cukup agar tidak mendapatkan sinar matahari langsung.
Angin di Kota Depok berasal dari sisi tenggara. Oleh karena itu, untuk mendapatkan penghawaan yang cukup dan ventilasi silang, pada sisi tenggara dan barat laut diberikan bukaan agar angin bisa bersirkulasi dengan baik.
5.2. Mezzo
Gambar 5.4 Konsep Mezzo Tapak
Massa bangunan berorientasi barat daya – timur laut untuk menghindari sinar matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan. Massa bangunan disusun secara linear dan
81
memberikan ruang diantaranya untuk vegetasi sebagai transisi view anak jalanan dari dunia jalanan. Selain diantara massa, vegetasi juga diletakan mengelilingi tapak sebagai area transisi dari dunia luar rumah singgah dan dunia dalam sekaligus untuk mengistirahatkan view dan pikiran anak jalanan dari dunia jalanannya. Untuk memberikan batas pengaman antara jalan raya dan terminal dengan rumah singgah, tapak dikelilingi oleh sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki yang akan keluar dari rumah singgah.
5.2.1. Tata Massa Bangunan
Gambar 5.5 Tata Massa Bangunan
Massa dikelompokan sesuai dengan zonasinya. Dimana warna biru
merupakan zonasi publik, warna hijau merupakan zonasi semi private, dan warna pink menjadi zonasi private. Massa dikelilingi oleh sirkulasi kendaraan rumah singgah dan dibatasi oleh vegetasi untuk menjaga keamanan. Pada sisi
exit, diberikan penghijauan sebagai batas dan transisi antara dunia luar dan dunia dalam tapak/rumah singgah.
Zona publik diletakkan di dekat entrance untuk memberikan kemudahan orang luar untuk mengakses zona ini (Pendopo, display wall, panggung pertunjukan, dan toilet). Zona publik juga berdekatan dengan area parkir. Dari gambar, terlihat bahwa ada warna zonasi publik diantara zona private, massa itu adalah massa masjid. Masjid dikelilingi oleh zona private dikarenakan untuk memberikan akses yang mudah bagi pengguna di setiap zonanya.
EXIT ENTRANCE
82
Walaupun masjid terpisah dari zonanya, masjid diletakkan bersebelahan langsung dengan sirkulasi pejalan kaki sehingga pengguna dapat dengan mudah mencapai masjid.
Zona semi private terletak di tengah untuk memudahkan akses dari setiap zona. Zona ini dapat diakses oleh seluruh pengguna rumah singgah dan tamu. Khusus untuk tamu atau pengguna yang hanya berkunjung saja, mereka harus meminta izin terlebih dahulu untuk menggunakannya.
Zona private merupakan zona yang hanya bisa diakses oleh pengguna rumah singgah. Ruang yang ada di zona ini adalah kelas, hunian, gudang, dan kantor. Massa-massa kelas diberikan jarak untuk fleksibilitas ruang ekspansibilitas saat jumlah pengguna mengalami penambahan dan ruang yang tersedia tidak mencukupi.
5.2.2. Strategi Sirkulasi
Gambar 5.6 Strategi Railing dan Ramp
Salah satu strategi sirkulasi adalah dengan memberikan ramp dan railing di setiap sirkulasinya untuk memberikan kenyamanan bagi mereka yang membutuhkan fasilitas khusus. Ukuran ramp mengikuti standar di dalam buku Data Arsitek, yaitu perbandingan antara tinggi dan panjang adalah 1 : 14, dimana setiap ketinggian 100 cm diberikan bordes sebagai tempat istirahat sebelum melanjutkan jalur ramp. Lebar ramp mengikuti lebar minimum sirkulasi kursi roda, yaitu 150 cm.
83 Gambar 5.7 Skematik Sirkulasi
Railing diberikan di seluruh sirkulasi tanpa terputus. Ada dua jenis railing, yaitu railing untuk anak-anak dan dewasa. Tinggi railing untuk anak-anak adalah 50 cm, dimana anak balita hingga anak usia sekolah dasar dapat menggunakannya dengan lama. Untuk tinggi railing dewasa adalah 90 cm.
Tidak semua sirkulasi hanya menggunakan ramp, tetapi sirkulasi juga menggunakan tangga untuk mereka yang normal dan sehat untuk mempercepat pergerakan sirkulasi mereka.
5.3. Mikro
5.3.1. Konsep Kegiatan Rumah Singgah
Kegiatan di rumah singgah dibagi menjadi :
a. Kegiatan Rutin - Belajar mengajar PAUD SD SMP SMA - Hunian - Pembinaan
Minat dan bakat (musik, video/film, fotografi, lukis, karya tangan, grafis)
84 Kewirausahaan Psikologi anak b. Kegiatan Insidental - Pameran seni - Kunjungan - Penyuluhan
5.3.2. Konsep Pengguna Rumah Singgah
a. Anak Jalanan
Anak jalanan merupakan anak yang berumur dibawah dari 18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan untuk mencari nafkah dan bahkan untuk hidup dan tinggal di jalanan. Anak jalanan memiliki karakteristik, yaitu :
- Senang bermain
- Bebas, tidak dapat dikekang dan dipaksa
- Memiliki kreativitas yang tinggi
- Berada di bawah tekanan
Di rumah singgah, anak jalanan dibagi menjadi dua kriteria, yaitu :
- Anak yang menetap di rumah singgah untuk tinggal, berkegiatan, dan belajar
- Anak yang hanya berkegiatan, belajar, dan istirahat tanpa tinggal di rumah singgah
85 Strategi desain : karakteristik anak jalanan yang senang bermain, kreatif, bebas, dan tidak dapat dikekang membuat anak-anak ini membutuhkan ruang yang bebas yang dapat mengakomodasi kegiatan dan diberikan tempat untuk mengekspresikan sisi artistic mereka. Ruang ini bida dijadikan sebagai ruang pamer karya anak-anak.
b. Siswa Sekolah
1. PAUD
Kategori siswa PAUD adalah anak dengan umur 3 – 5 tahun. Pada level ini, anak-anak sedang melalui tahap perkembangan yang pesat dan cepat secara motorik, kecerdasan, serta kemampuan berbahasanya. Rasa ingin tahu mereka dengan dunia baru membuat mereka peka dan sensitif dengan lingkungan sekitarnya. Karakteristik anak dengan usia 3 – 5 tahun adalah mereka senang untuk melakukan aktivitas, seperti berlari, melompat, hingga memanjat sehingga mereka membutuhkan ruang untuk bergerak luas.
Gambar 59 Strategi Desain PAUD
Strategi desain : anak usia dini membutuhkan ruang yang bebas yang dapat mengakomodasi karakteristiknya dan memfasilitasi untuk perkembangan motoriknya. Walaupun ruang bebas, desain ruang tidak boleh banyak naik turun tangga sehingga ramp menjadi solusi yang aman jika ingin ada leveling. Selain itu, untuk menjaga keamanan mereka ketika sedang asyik bermain, elemen-elemen ruang tidak boleh tajam, karena ketika anak-anak menabrak elemen ini mereka tidak akan terluka parah.
86
2. SD
Kategori siswa SD dibagi menjadi dua, yaitu anak berumur 6 – 8 tahun dan anak berumur 9 – 12 tahun.
- Anak umur 6 – 8 tahun
Pada kelompok umur ini, anak sedang senang untuk bermain dan melakukan banyak pergerakan. Anak tidak bisa duduk diam lebih dari 30 menit. Pada umur ini, anak-anak juga sedang gemar untuk bersosial dengan sekitarnya. Anak lebih suka untuk langsung
praktik dilapangan dengan permainan, pergerakan, dan
berkelompok.
- Anak umur 9 – 11 tahun
Pada umur ini, anak-anak sudah mulai berpikir secara logis dan menggunakan nalarnya. Sudah terbentuk rasa tanggung jawab dan kemandirian untuk masalahnya.
Strategi desain : anak-anak SD membutuhkan ruang yang bebas yang dapat mengakomodasi karakteristiknya dan membutuhkan desain open space yang menarik dan bisa dijadikan tempat bermain dan belajar oleh anak-anak. (Gambar 5.8)
3. SMP
Kategori siswa SMP adalah anak dengan umur 12 – 14 tahun. Anak-anak pada umur ini sedang mengalami masa puber dimana fisik mereka mengalami perubahan sehingga butuh orang yang dapat membantu untuk psikologisnya. Pada umur ini, anak-anak sudah mulai berpikir kritis dan mempertanyakan setiap hal yang harus dilakukannya sampai bertemu dengan sisi logis dari hal tersebut. Anak umur ini membutuhkan ruang untuk berinteraksi dengan temannya.
87 Gambar 5.10 Strategi Desain SMP
Strategi desain : anak-anak SMP sudah membutuhkan privasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak SD. Anak-anak SMP
membutuhkan ruang untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan
sekitarnya. Kebutuhan ruang anak SMP dapat diakomodasi dengan pemberian batas semu antara dunia remaja dengan dunia anak-anak, namun siapa saja tetap bisa mengakses area ini.
4. SMA
Kategori siswa SMA adalah anak dengan umur 15 – 17 tahun. Anak sedang mencari jati dirinya karena pada umur ini merupakan umur transisi dari dunia anak-anak ke dunia dewasa. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan muncul tanggung jawab pada anak untuk mempersiapkannya.
Strategi desain : anak SMA sudah memiliki kondisi seperti orang dewasa, sehingga mereka membutuhkan ruang privasi. Hal ini bisa dicapai dengan strategi pembuatan area privasi semu sehingga anak SMA bisa mendapatkan privasi namun areanya masih bisa diakses oleh pengguna lain. Kondisi fisik yang hamper menyerupai orang dewasa membuat desain untuk anak SMA mengikuti orang dewasa. (Gambar 5.9)
c. Pengajar
88
Pengajar tetap adalah pengajar yang bertanggungjawab atas kegiatan belajar mengajar dan aktivitas-aktivitas penunjang di rumah singgah.
Pengajar tetap yang beraktivitas di rumah singgah untuk mengajar dan tinggal
Pengajar tetap yang hanya mengajar dan beraktivitas lainnya tanpa tinggal
- Pengajar volunteer
Pengajar voulunteer merupakan pengajar yang hanya mengajar dalam jangka waktu tertentu, bergantung pada berjanjian dengan rumah singgah. Jumlah pengajar volunteer tidak dapat ditentukan karena setiap saat jumlahnya berubah-ubah. Pengajar tipe ini hanya datang untuk berkegiatan dan kemudian pulang setelah kegiatan mereka selesai.
d. Tamu
Tamu adalah mereka yang datang untuk berkunjung melihat kegiatan di dalam rumah singgah. Tamu hanya datang dalam waktu yang singkat dan kemudian pulang setelah kegiatannya selesai.
e. Berkebutuhan Khusus
Berkebutuhan khusus adalah mereka yang berkegiatan di dalam rumah singgah. Mereka menggunakan kursi roda atau tongkat untuk berjalan serta kekurangan fisik lainnya. Mereka yang memiliki kebutuhan khusus tidak hanya siswa yang belajar di rumah singgah, namun juga pengajar dan tamu yang datang ke rumah singgah.
Untuk siswa yang berkebutuhan khusus, mereka memiliki keterbatasan ruang gerak sehingga membutuhkan ruang yang dapat mengakomodasinya. Anak-anak memiliki perasaan yang sensitif tentang keadaannya dan merasa sebagai beban orang di sekitarnya.
89 Gambar 5.11 Strategi Desain Berkebutuhan Khusus
Strategi desain : desain untuk berkebutuhan khusus harus memberikan akses dan sirkulasi yang menguntungkan bagi mereka. Diberikan ramp
ketika ada leveling dan bordes setelah mencapai jarak tertentu. Selain itu, diberika railing di setiap ramp yang ada dan tidak terputus. Jarak gapaian mereka juga terbatas, sehingga desain elemen pendukung harus berada di jarak maksimum dan minimum gapaian. Material yang digunakan untuk sirkulasi harus yang keras dan tidak licin.
f. Anak Terlibat Hukum
Anak terlibat hukum adalah anak yang memiliki masalah dengan hukum. Anak-anak ini mendapatkan kesulitan untuk bersekolah di sekolah formal biasa, sehingga membutuhkan tempat yang mau menerima mereka. Anak-anak memilih untuk menjauh dari kehidupan sosialnya dan berada dibawah tekanan sehingga membutuhkan bimbingan yang intensif.
Strategi desain : anak-anak ini cenderung membutuhkan ruang untuk berekspresi sebagai tahap pembinaannya. Dibutuhkan desain ruang yang bersifat bebas dan terbuka untuk mengakomodasi kebutuhannya. Selain itu, desain ruang harus menciptakan interaksi antara anak dan sekitarnya. (Gambar 5.7 Poin G)
90
g. Strategi Desain untuk Pengguna
Gambar 5.12 Strategi Desain untuk Pengguna
Berbagai macam jenis pengguna rumah singgah dengan
karakteristiknya masing-masing membuat desain rumah singgah harus dapat mengakomodasi kebutuhan setiap penggunanya. Gambar 5.11 menunjukan rangkuman strategi desain dari setiap penggunanya. Secara garis besar, dibutuhkan sebuah ruang yang bersifat terbuka dan bebas tanpa ada dinding solid untuk mengakomodasi karakter pengguna. Sirkulasi menggunakan ramp dan juga menyediakan jalur biasa untuk mereka yang normal dan sehat.
Dari ruang tersebut, disediakan panggung pertunjukan dan display wall
untuk mengakomodasi kebutuhan anak jalanan dan anak-anak PAUD serta SD. Agar ruang ini bisa digunakan bersama, maka disediakan vegetasi pembatas sebagai pembatas semu antara ruang publik dengan semi private. Ruang semi private ini diperuntukan untuk anak SMP dan SMA dimana mereka membutuhkan ruang yang lebih private untuk mengakomodasi kebutuhannya. Agar anak SMP dan SMA tidak mengeksklusifkan dirinya dan masih bisa bersosialisasi dengan pengguna lain, maka vegetasi pembatas menjadi solusi untuk menciptakan ruang private yang tidak terisolasi dari zona publik.
91
5.3.3. Konsep Perencanaan Ruang
a. Kapasitas siswa yang berkegiatan di Rumah Singgah Sekolah MASTER Indonesia adalah 1814 siswa, yang terdiri dari :
Tabel 5.1 Jumlah Murid dan Jumlah Kelas Rumah Singgah No. Jenjang Pendidikan Jumlah Siswa Jumlah Kelas Keterangan
1 PAUD 109 3 Kelas (A, B1,
B2)
2 SD 265 7 Kelas (Ceria
1,2,3 ; Hebat 4,5,6 ; Pelangi)
Kelas Pelangi adalah kelas karantina
khusus untuk siswa yang
membutuhkan untuk standardisasi sebelum masuk ke kelas yang sesuai dengan siswanya.
3 SMP 265 Cerdas 1,2,3 Kelas putra dan putri dipisah
4 SMA 900 ++ Mandiri 1,2,3 Kelas putra dan putri dipisah.
Tersedia kelas malam untuk mereka yang bekerja pada pagi hari. b. Kapasitas pengajar adalah 136 personel, terdiri dari :
Tabel 5.2 Jumlah Pengajar Rumah Singgah
No Pengajar Jumlah
1 Tetap 40
2 Relawan 96
c. Kapasitas asrama
Asrama rumah singgah tidak memiliki jumlah yang tentu setiap malamnya karena setiap malam jumlah yang datang berbeda-beda. Walaupun tidak ada jumlah tetap yang tinggal di asrama, ada 20 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan yang tinggal di asrama. Untuk jumlah keseluruhan tiap malamnya, asrama dapat menampung hingga 200 orang.
d. Kebutuhan ruang
Tabel 5.3 Kebutuhan Ruang Rumah Singgah
No Nama Ruang Keterangan
1. Parkir :
- Motor
- Mobil
- Sepeda
Terletak di pintu masuk rumah singgah. Ada pos penjaga untuk menjaga dan mengatur parkir.
2. Ruang terbuka (open space), lapangan, inner court, taman
Berfungsi untuk kegiatan outdoor dan menjadi pusat massa tapak.
3. Pendopo Public space yang bisa digunakan oleh
siapa saja untuk kegiatan apa saja.
4. Masjid/musholla Masjid dijadikan sebagai tempat beribadah
92
diletakan di depan atau dekat dengan pintu masuk agar bisa digunakan oleh banyak pengguna.
5. Display wall Berisi hasil karya siswa yang dapat
ditampilkan untuk menambah semangat belajar siswa. Display wall dan panggung pertunjukan sebaiknya diletakan di depan sehingga ketika ada pameran, semua pengguna rumah singgah dan orang umum dapat melihat pameran tersebut.
6. Panggung pertunjukan
7. Toilet Toilet bersifat public agar berbagai macam
pengguna dapat menggunakannya.
8. Perpustakaan Perpustakaan sebagai tempat membaca,
mengerjakan tugas dan diskusi siswa dan pengajar. Perpustakaan dapat diakses oleh semua pengguna rumah singgah.
9. Ruang Psikologi Ruang psikologi merupakan tempat
konsultasi anak-anak. Sebuah tempat dimana ada ahli yang dapat membantu perkembangan dan emosi anak agar bisa kembali ke norma yang seharunya.
10. Kantin/koperasi Kantin/koperasi menjual jajanan dan
kebutuhan sehari-hari pengguna rumah singgah, terutama mereka yang berhuni di rumah singgah. Kantin/koperasi sebaiknya diletakan dekat dengan hunian serta kelas. 11. Ruang minat dan bakat :
6. Ruang music
7. Ruang gambar dan lukis 8. Ruang karya tangan 9. Koperasi (wirausaha) 10. Ruang computer 11. Ruang grafis 12. Ruang fotografi 13. Ruang video/film 14. Ruang Sablon 12. Kelas : 15. PAUD 16. SD 17. SMP 18. SMA
Jumlah siswa di setiap kelasnya diperkirakan berjumlah 35 siswa setiap harinya, namun diharapkan agar kelas dapat menampung hingga 50 siswa.
13. Kantor : 19. Lobby 20. Ruang tamu 21. Ruang administrasi 22. Ruang rapat 23. Ruang pimpinan 24. Ruang pengajar 25. Pantry 26. Toilet 14. Hunian : 27. Kamar 28. Toilet 29. Dapur
Hunian diletakan jauh dari pinggir tapak untuk mendapatkan ketenangan dan bising yang minimal. Hunian diharapkan untuk dapat memenuhi jumlah dan karakteristik
93
30. Ruang makan 31. Ruang tamu 32. Ruang berkumpul 33. Ruang jemur + cuci 34. Ruang belajar 35. Gudang
pengguna.
15. Gudang
16. UKS UKS dapat digunakan sebagai tempat rawat
inap sementara sebelum dirujuk ke rumah sakit.
17. Dapur Umum
5.3.4. Strategi Ruang a. Ekspansibilitas
Gambar 5.13 Diagram Ekspansibilitas (1)
Gambar 5.14 Diagram Ekspansibilitas (2)
Fleksibilitas ruang dengan model ekspansibilitas adalah keadaan ruang dimana ruang tersebut dapat menampung penambahan jumlah pengguna dengan cara memperluas luasan ruang itu sendiri. Ruang ekspansi diletakan diantara ruang kosong sehingga ketika terjadi penambahan luasan tidak ada ruang yang terganggu. Contoh dari ruang kosong adalah area penghijauan (outdoor) atau koridor (indoor). Pada saat tidak digunakan untuk ruang ekspansi, ruang kosong ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti ruang untuk interaksi, ruang untuk belajar, dan ruang untuk bermain.
94 Gambar 5.15 Diagram Ekspansibilitas (3)
Strategi yang dapat dilakukan selain dengan penambahan ruang untuk ruang ekspansi adalah dengan memberikan sekat ruang yang mudah digunakan untuk memperbesar luas ruangan. Kondisi ini adalah pada saat dua ruangan digabungkan menjadi satu ruangan. Untuk mencapai ruang yang dapat berekspansi dengan sekat ruang adalah dengan memberikan pembatas yang tidak masif, seperti rolling door atau panel.
Gambar 5.16 Hubungan Antar Ruang Kelas dengan Ekspansibilitas
95
Untuk memenuhi kebutuhan ruang yang dapat menampung penambahan jumlah pengguna, maka digunakan ruang dengan sifat fleksibel secara ekspansibilitas dimana sebuah ruang dapat memperluas luasannya. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan memberikan jarak antar massa bangunan untuk memberikan ruang bebas ketika ada penambahan luasan ruang. Ruang bebas ini merupakan ruang penghijauan yang dapat digunakan sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar atau bermain.
Gambar 5.18 Penambahan Ruang Portabel
Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan penambahan ruang secara portabel. Ruang ini merupakan ruang yang tersimpan dan terbuka ketika dibutuhkan. Material dari ruang ini ringan sehingga mudah untuk diaplikasikan ketika dibutuhkan. Ruang portabel ini bisa digunakan pada ruang yang tidak memiliki ruang permanen di sampingnya, sehingga ruang portabel ini harus berada di atas lahan kosong agar penambahan ruang dapat terjadi. Lahan kosong ini ketika tidak digunakan untuk penambahan ruang akan dimanfaatkan sebagai tempat aktivitas anak-anak.
Gambar 5.19 Dinding Portabel
Alternatif selanjutnya untuk ruang yang bersifat fleksibel secara ekspansibilitas dapat menggunakan dinding portabel atau panel sebagai pembatas ruangnya. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah penambahan
96
ukuran ruang ketika terjadi penambahan jumlah pengguna dan ruang asli tidak dapat menampungnya. Ruang seperti ini berada di ruang-ruang yang tidak dapat diprediksi jumlah pasti setiap harinya, namun dapat ditemukan jumlah rata-rata setiap harinya, yaitu hunian dan kelas. Dinding portabel dapat digunakan ketika ada dua ruang yang berdempetan dan dapat digabungkan.
b. Konvertibilitas
Gambar 5.20 Strategi Modul Elemen Konvertibilitas
Ruang fleksibel dengan sifat konvertibilitas merupakan keadaan dimana sebuah ruang dapat berubah fungsi sesuai dengan kebutuhan dan waktu tanpa melakukan banyak perubahan pada ruangan itu sendiri. Cara yang dapat dilakukan untuk mencapai ruang yang konvertibilitas adalah melalui elemen ruang tersebut. Elemen ruang menggunakan bentuk dasar sehingga ketika dibutuhkan elemen dapat digabungkan atau dimodifikasi untuk mendukung perubahan fungsi. Elemen ini akan menjadi modul untuk mendukung konvertibilitas.
Gambar 5.21 Alternatif Konvertibilitas Elemen Kelas
Salah satu ruang yang diharapkan bisa bersifat konvertibilitas adalah ruang kelas. Ruang kelas merupakan ruang yang dapat mengakomodasi keadaan dan karakteristik anak-anak. Anak-anak membutuhkan ruang kelas
97
yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar. Altrernatif untuk konvertibilitas elemen kelas dapat dilakukan dengan membuat modul elemen kelas. Elemen dapat berdiri sendiri dan dapat digabungkan sesuai dengan kebutuhan.
Gambar 5.22 Alternatif Konvertibilitas Fungsi Ruang
Selain mengubah elemen ruang, konvertibilitas juga harus mampu mengubah fungsi ruang dengan elemen ruangnya. Alternatif konvertibilitas ada di ruang kelas. Pada saat tertentu, ruang kelas dapat berubah fungsi menjadi ruang rapat dengan penyusunan elemen ruangnya. Ruang kelas dapat dirubah menjadi ruang rapat dengan menata dan menyusun modul elemen.
c. Versabilitas
Gambar 5.23 Versabilitas dengan Ukuran Elemen
Ruang dengan sifat fleksibilitas versabilitas adalah suatu keadaan dimana ruang tersebut dapat mengakomodasi kebutuhan penggunanya
98
tanpa harus ada perubahan di dalam ruang tersebut. Karakteristik dan kondisi pengguna bermacam-macam, sehingga ruang tersebut diharapkan dapat memberikan kenyamanan untuk penggunanya. Versabilitas dapat didukung oleh desain elemen ruang, yaitu dimana elemen tersebut harus mengikuti standar minimal dari setiap penggunanya. Oleh karena itu, disediakan dua macam ukuran dengan fungsi yang sama untuk setiap elemennya untuk mendukung kebutuhan pengguna.
Gambar 5.24 Elemen Versabilitas
Versabilitas ruang dapat juga dicapai dengan penggunaan elemen yang spesifik, seperti penggunaan railing. Tinggi dan kondisi pengguna yang bermacam-macam membuat desain railing tidak bisa menjadi general
untuk semuanya, sehingga dibuatkan dua macam ketinggian railing, untuk anak-anak dan dewasa.
Gambar 5.25 Versabilitas Ruang Kelas
Alternatif untuk ruang versabilitas bisa diletakan di dalam kelas. Untuk mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus, maka diberikan ruang untuk anak-anak ini serta pemberian railing di dalam kelas dan ramp pada saat menuju ke dalam kelas. Hal ini dilakukan untuk mencapai fleksibilitas
99
secara versabilitas dimana sebuah ruang dapat mengakomodasikan keadaan penggunanya tanpa melakukan banyak perubahan tata ruang.
5.4. Sistem Bangunan
5.4.1. Sistem struktur
Sistem struktural bangunan dirancang dan dikonstruksikan untuk menahan beban lateral dan menyalurkan gaya gravitasi bangunan ke tanah tanpa melampaui beban yang diizinkan yang dapat ditanggung oleh bagian-bagian sistem struktur itu sendiri.
Gambar 5.26 Sistem Struktur
(Sumber : http://sidiksipil.blogspot.co.id/2015/03/upper-structure.html diakses pada 27 Desember 2015)
a. Sub Structure
Sub Stucture merupakan bagian dari bangunan yang menopang beban bangunan. Bagian ini terletak di bawah tanah, seperti pondasi (pondasi batu kali, beton, bor pile, tiang pancang, dan rakit).
b. Upper Structure
Upper Structure merupakan komponen-komponen pembentuk wujud bangunan atau elemen-elemen yang terdapat di atas tanah. Bagian ini berkaitan dengan fungsi bangunan (ruang aktivitas pengguna).
5.4.2. Sistem penghawaan
Sistem penghawaan merupakan salah satu faktor kenyamanan bangunan untuk penggunanya. Sistem penghawaan diharapkan dapat menggunakan penghawaan alami untuk memberikan kenyamanan. Posisi Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki iklim tropis dimana
100
matahari bersinar serta angin bertiup hamper sepanjang tahun. Kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia ini memberikan sebuah dilema kepada desain bangunan. Dengan posisi yang berada di garis khatulistiwa ini, suhu di dalam ruangan menjadi panas sehingga dibutuhkan sebuah desain ruang yang dapat mendinginkan suhu dengan memanfaatkan kondisi alamnya.
a. Ventilasi
Gambar 5.27 Macam Sirkulasi Udara
(Sumber : http://3.bp.blogspot.com/-jM1oUXmPtYs/TpFnGG9aLSI/AAAAAAAAACs/akHr24en4II/s1600/4.png diakses pada 27 Desember 2015)
Ventilasi yang baik adalah ventilasi yang memanfaatkan kondisi alami tanpa ada bantuan. Desain sebuah rumah diharapkan untuk memiliki ventilasi silang dimana udara dapa bersirkulasi di dalam ruangan sehingga terjadi pertukaran udara di dalam ruangan dan memberikan kenyaman. Berikut macam-macam ventilasi :
101
Ventilasi Horisontal
Gambar 5.28 Ventilasi Horisontal
(Sumber : https://19design.files.wordpress.com/2011/04/gambar-14.jpg diakses pada 27 Desember 2015)
Ventilasi horizontal merupakan ventilasi dimana angin datang secara horizontal. Untuk ventilasi horizontal, salah satu sisi rumah dijadikan sebagai zona dingin, sedangkan sisi yang satunya dijadikan sebagai zona panas biar ada penarikan suhu karena perbedaan tekanan. Ventilasi Vertikal
Gambar 5.29 Ventilasi Vertikal
(Sumber : https://19design.files.wordpress.com/2011/04/gambar-22.jpg diakses pada 27 Desember 2015)
Ventilasi vertikal dapat digunakan untuk desain bangunan bertingkat.
5.4.3. System pencahayaan
Pencahayaan merupakan salah satu elemen yang dibutuhkan sebuah ruangan untuk memberikan kenyamanan. Kondisi Indonesia yang terletak di
102
garis khatulistiwa menjadi sebuah nilai positif untuk mendapatkan pencahayaan alami. Sistem pencahayaan dapat terbagi menjadi :
a. Sistem Pencahayaan Langsung
90 – 100% cahaya diarahkan langsung kepada benda. Ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan pencahayaan alami. Namun, bahaya dari system ini adalah dapat menimbulkan kesilauan yang mengganggu. Untuk meminimalisirnya, sebaiknya langit-langit, dinding dan benda-benda di dalam ruangan diberikan warna cerah untuk memberikan kesan menyegarkan.
b. Pencahayaan Semi Langsung
60 – 90% cahayaa diarahkan langsung ke benda, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Pencahayaan akan lebih efektif lagi jika dinding dan langit-langit diberi warna putih.
c. System Pencahayan Difus
40 – 60% cahaya diarahkan ke benda dan sisanya dipantulkan ke dinding dan langit-langit.
d. Sistem Pencahayan Semi tidak Langsung
90 – 100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Namun, kekurangan dari sistem ini adalah cahaya total yang jatuh ke benda menjadi kurang efisien.
103
5.4.4. Sistem akustik
Gambar 5.30 Akustik Ruang
(Sumber : https://wikarmawan.wordpress.com/2011/01/31/sistem-akustik-ruang/ diakses pada 27 Desember 2015)
Sistem akustik adalah system untuk menata suatu ruang tidak ada gangguan suara pada suatu ruang. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk sistem ini adalah dengan material penutup dinding, bentuk dinding, langit-langit dan tekstur.