BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Singkat Perusahaan
Soraya Intercine merupakan rumah produksi di Indonesia yang didirikan pada tahun 1980 dijakarta, soraya intercine telah melahirkan sinetron-sinetron unggulan seperti Pura-Pura,Buta, Amanda, Inayah, Muslimah (sinetron), UFO, Jiran, Baghdad,dll
Pada saat itu soraya intercine film juga sudah merambah layar lebar lewat dua produksi film antara lain : Chika (film) . Apa artinya cinta?, dan Eifel I’m in love, indosiar, ANTV dan MNCTV adalah salah satu stasiun tv yang pernah menayangkan salah satu produksi Soraya Intercine Films.
Festival dan penghargaan telah diraih oleh Soraya Intercine adalah film
Festival Kota,Negara Tahun Judul film Penghargaan hasil Akademi film
indonesia
Indonesa 2014 Tenggelamnya kapal van der wicjk Film terlaris (piala jati emas) menang Festival film bandung Bandung,ind onesia 2013 5 cm Pemeran pembantu wanita terpuji Nomina si
Apresiasi film Indonesia Jakarta, Indonesia 2013 5 cm Apresiasi poster menang film bioskop (piala dewantara) Menang Festival film Indonesia Semarang, Indonesia 2013 5 cm Sinematograf i terbaik (piala citra) Menang Festival film bandung Bandung, Indonesia 2013 5 cm Sutradara menang
Rumah produksi soraya intercine films mengakui film “ tenggelamnya kapal van der wicjk” yang di adaptasi dari novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan H. Abdul Malik Karim Amarullah atau Buya Hamka menjadi film termahal yang diproduksi soraya .
Sutradara sekaligus produser film, sunil soraya menegaskan hal itu dikarenakan harus membuat suasana cerita film seperti yang dikisahkan pada tahun 1930-an sesuai dengan era novel. Banyaknya riset dan hal-hal yang wajib dipenuhi guna mendapatkan gambar yang maksimal menjadi ongkos produksi tinggi.
Observasi, proses pra-produksi, casting, sampai penulisan scenario pun dimulai sejak tahun 2008. Berarti sudah 5 tahun berjalan guna merampungkan film terbesarnya. Bahkan, sunil pun sempat ragu film ini dapat diselesaikan karena cukup panjang proses nya.
Salah satu elemen tersulit adalah menemukan kapal yang menyerupai kapal Van Der Wijck di tahun 1930-an. Akhirnya dibuat ulang replica kapal tersebut dengan memesan kapal dari belanda yang memang produsen asli kapal Van Der Wijck.
Semua itu dilakukan agar penonton yang telah membaca novel mendapatkan gambaran tentang kapal dan diciptakan semirip munking dengan aslinya, mulai dari bentuk, warna, hingga bobotnya. Begitu juga dengan mobil yang berlalu lalang harus sama dengan yang beredar disekitar tahun tersebut yang dicari dari kolektor mobil era lama.
Kesulitan lainnya adalah sang sutradara juga mencari laut yang tidak memiliki ombak kencang kapal kapal Van Der Wijck dikisahkan tenggelam bukan karna ombak besar, padahal tempat syuting lautnya kencang sekali. Akhirnya tim produksi mendatangkan tenaga ahli dari luar negri untuk menampilkan efek tenggelam tanpa menggunakan animasi.
4.1.1 Gambaran Umum Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Judul Film : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Produser : Sunil Soraya
Sutradara : Sunil Soraya
Pemain : Herjunot Ali - Pevita Pearce - Reza Rahadian – Randy (Nidji) - Kevin Andrean - Arzeti Bilbina - Jajang C Noer
Produksi : PT Soraya Intercine Films
Story : Diangkat dari Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka
Tokoh Dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
1. Herjunot ali ( Zainudin)
Sosok pemuda tampan yang berdarah bugis dan campuran minang yang jatuh cinta kepada sosok wanita cantik bernama hayati yang keutururan asli minang
2. Pevita Pearce (Hayati)
Wanita cantik asli keturunan minang yang menjadi bunga dipersukuan nya 3.Azis ( Reza Rahardian)
Seorang pemuda kaya keturunan bangsawan yang tertarik dengan kecantikan Hayati dan akhirnya menjadi suami dari Hayati
4.Bang Muluk ( Randy Nidji)
Seorang pemuda yang menjadi penyemangat zainuddin disaat Zainuddin sakit hati dan terpuruk dan mengajak Zainuddin untuk merantau keBatavia sebagai penulis.
Aktor-aktor diatas ialah aktor yang paling berperan di film ini yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Berikut Pemeran pendukung lainnya :
Kevin Andrean
Arzeti Bilbina
Jajang C Noer
4.1.2 Sinopsis Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Synopsis dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berkisah tentang kasih tak sampai antara sosok pemuda tampan berdarah minang dan bugis yaitu Zainuddin diperankan oleh (Herjunot Ali), dengan darah cantik Hayati (Pevita Pearce), perempuan yang murni keturunan minang. Aziz (Reza Rahardian) jatuh cinta kepada hayati yang keturunan minang. Ia dan keluarganya melamar hayati, meskipun pertunanagan tersebut disetujui oleh keluarga Hayati, Namun sebenarnya cinta Hayati hanya untuk Zainuddin. Karena zainuddin berdarah campuran bugis Zainuddin dianggap tak bertalian darah dengan kerabatnya
diminang. Karena merasa tersaingi Zainuddin sering curhat kepada hayati melalui surat hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Seiring berjalannya waktu, Zainuddin pun memutuskan pindah ke padang panjang sesuai dengan permintaan ibu Hayati, namun sebelum berpisah Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia. Namun, Hayati terpaks menikah dengan Azis. Mendengar pernikahan itu, Zainuddin pun geram dan pergi kesurabaya. Disana ia menjadi penulis terkenal dan hidup serba kecukupan, Ternyata Azis dan Hayati pergi ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan.
Lamban laut rumah tangga mereka di ambang kehancuran, di tambah lagi Azis dipecat dari pekerjaannya. Hayati bersama Azis yang mulai hancur karena dihantam berbagai masa lalu menumpang hidup dirumah Zainuddin, di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya Ia masih sakit hati kepada Hayati yang dulu di anggapnya pernah ingkar janji untuk saling setia.
4.2 Hasil Penelitan
Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanda-tanda yang dapat memrepresentasikan budaya local dengan menganalisis film Tenggealmnya Kapal Van Der Wijck. Dalam metodologi peneltian ini menggunakan metode semiotika milik Charles Sanders Pierce yang diartikan sebagai ilmu peranan tanda sebagai dari kehidupan sosial. Untuk menganalisis penelitian ini, peneliti menganalisis adegan-adegan pada film Tenggealmnya Kapal Van Der Wijck untuk mengetahui tanda-tanda yang
dapat memrepresentasikan nilai-nilai budaya local dalam film Tenggealmnya Kapal Van Der wijck
4.2.1 Analisis “Tanda Budaya Lokal ” Dalam Film Tenggealmnya Kapal Van Der Wijck .
Tabel 4.1 Pacuan Kuda
Sign
Gambar 4.2
Objek Interpretant
Tempat pacuan kuda dan azis bertaruh atas kuda putih miliknya
Masyarakat minang mendatangi pacuan kuda termasuk hayati,azis dan zainudin ini merupakan acara tahunan, unsure budaya local nya Pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang telah lama ada di nagari-nagari Minang. unsure budaya local nya Pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang telah lama ada di nagari-nagari Minang, dan sampai saat ini masih diselenggarakan oleh masyarakatnya, serta menjadi perlombaan tahunan yang dilaksanakan pada kawasan yang memiliki lapangan pacuan kuda. Beberapa pertandingan
tradisional lainnya yang masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat Minang antara lain lomba pacu jawi dan pacu itik.
Analisis Gambar :
Masyarakat minang mendatangi pacuan kuda termasuk hayati,azis dan zainudin ini merupakan acara tahunan, ditempat pacuan kuda ini sebenarnya Zainuddin dan Hayati memang sudah berjanji akan bertemu lagi dipacuan kuda melalui surat. Tabel 4.2 Pakaian laki-laki adat Minangkabau “Udheng”
Sign
Gambar 4.2 Dialog;
Kabarnya disini banyak didirikannya sekolah agama, saya ingin menimba ilmu di desa ini,
Object Interpretant
Zainudin pertama kali melihat Hayati yang sangat cantik saat sedang berkeliling batipuh dengan pamannya
Zainuddin terpesona melihat kecantikan hayati saat diajak berkeliling desa unsur budaya lokal terlihat dari udheng
yang dipakai dikepala pamamnya ,Udheng merupakan ikat kepala yang dipakai orang zaman dahulu sebagai pakaian untuk penutup kepala.
Analisis gambar :
Dalam scene ini Zainuddin dengan terpesona melihat kecantikan hayati yang sedang berkeliling desa melihat pesantren yang ada di padang, karena Zainuddin ingin menimba ilmu agama di desa padang. Tapi justru bertemu dengan hayati Tabel 4.3 Musyawarah Datuak
Sign
Gambar 4.3 Dialog;
Cinta adalah hayalan dongeng dikitab saja,kamu itu gadis kebanggaan keluarga, Zainuddin itu tidak bersuku.
Object Interpretant
para petinggi minang sedang berdiskusi tentang percintaan yang dijalin Hayati dan Zainuddin
Hayati ketahuan oleh datuk karena menjalin cinta dengan Zainuddin. Dan akhirnya hayati di jodohkan oleh azis lelaki yang tidak dicintainya Unsur budaya lokal nya para petinggi mengadakat musyawarah oleh pemuka
adat setempat membicarakan proses perkawinan. Ada istilah adat di minangkabau yaitu : adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang artinya adat yang didasarkan/ ditopang oleh syariat agama islam yang syariatnya tersebut berdasarkan pula pada al-quran Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas Rumah Gadang mereka.
Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), maka
kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai dari sutan, bagindo atau sidi (sayyidi) di kawasan pesisir pantai. Sementara itu di kawasan Luhak Limopuluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.
Datuk atau Datuak gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepkatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah minangkabau dan selanjutnya disetujui sampai ketingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat..
Analisis Gambar
Hayati menangis karena cinta nya tidak direstui oleh datuk, padahal cintanya suci dan tidak melanggar aturan agama, tetapi justru hayati ingin dijodohkan oleh datuk, Datuk merupakan gelar yang diberikan seseorang melalui kesepakatan kaum atau suku yang ada diwilayah minangkabau.
Tabel 4.4 Upacara menyambut mempelai pria “Silek” Sign
Gambar 4.4
Object Interpretant
Upacara pernikahan Hayati dan Azis Acara Penyambutan mempelai pria unsur budaya local yang terdapat pada scene ini adalah penyambutan dirumah anak Daro. Yaitu tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria dirumah calon mempelai wanita lazimnya merupakan momen meriah dan besar. Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak
cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang.
Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama. Dewasa ini Silek tidak hanya diajarkan di Minangkabau saja, namun juga telah menyebar ke seluruh Kepulauan Melayu bahkan hingga ke Eropa dan Amerika. Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut dengan randai. Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengan sijobang, dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario.
Selain itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Terdapat tiga genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa
menggunakan senjata dan kontak fisik.
Analisis Gambar
Penyambutan kedatangan keluarga Azis kerumah Hayati dan diiringi bunyi tradisional khas minang yaitu talempong dan gandang tabuk serta barisan pria-pria yang berpakaian silat.
Tabel 4.5 Baju adat pernikahan Minangkabau Sign
Gambar 4.5
Object Interpretant
Azis dan hayati setelah menjalani proses pernikahan
Hayati tertunduk sedih karena Azis bukan lah pria yang dicintai Hayati. Unsur budaya local yang terdapat dalam scene ini adalah pakaian pengantin adat minangkabau. Baju pengantin wanita menggunakan suntiang. Suntiang adalah salah satu
bentuk hiasan kepala anak daro. Suntiang yang dipakai secara umum sekarang biasa disebut suntiang gadang. Nama ini untuk membedakan dengan suntiang ketek yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin yang disebut pasumandan.
Sedangkan untuk hiasan kepala sebenarnya beragam bentuknya. Saat ini, hiasan kepala “Suntiang Kambang” asal Padang Pariaman lah yang di lazim digunakan di Sumatera Barat. Padahal ada banyak bentuk hiasan kepala, ada yang berupa Sunting Pisang Saparak (Asal Solok Salayo), Sunting Pinang Bararak (Dari Koto nan Godang Payakumbuh), Sunting Mangkuto (dari Sungayang), Sunting Kipeh (Kurai Limo Jorong), Suntiang Sariantan (Padang Panjang), Suntiang Matua Palambaian
Setelah menjalani proses pernikahan dan mereka sudah sah menjadi suami istri azis dan hayati masuk kamar pengantin dan masih menggunakan pakaian adat sumatera barat
Tabel 4.6 Sign
Gambar 4.6
Object Interpretant
Zainuddin sangat kecewa dan sedih saat melihat tangan hayati sudah terhias oleh henna
Kekecewaan dan kesedihan yang di tunjukkan kepada zainuddin saat dia melihat tangan hayati sudah terhias henna dan hayati pun ikut sedih karena tidak tega melihat pria yang dicintainya kecewa. Unsure budaya local yang di tunjukan pada scene ini adalah Henna yang tergambar ditangan seorang wanita itu artinya wanita sudah menikah. Bukannya hanya diminangkabau yang memakai henna
sebagai hiasan tangan tapi di india,arab,aceh juga menggunakannya hanya perbedaanya di ukirannya
Analisis gambar
Zainuddin ketika itu sedang sakit keras dia tidak sanggup hidup karena mendengar kabar kalau hayati ingin menikah dengan Azis, Zainuddin berfikir jika Hayati menghianati janji cinta mereka. Lalu Hayati datang menjenguk dan ingin melihat keadaan Zainuddin setelah dia sudah menjadi istri Azis.
4.3 Pembahasan
Kebudayaan Daerah atau Kebudayaan local adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerh tertentu yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi terdahulu kepada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial uyang sama sehingga menjadi suatu kebiasaan mereka yang membedakan mereka dengan penduduk lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi sosial yang dilakukan masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama lain.
Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan Bundo Kanduang, memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak
ibu), dan penghulu (kepala suku). Pengaruh yang besar tersebut menjadikan perempuan Minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah). Walau kekuasaan sangat dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau memiliki legitimasi kekuasaan pada komunitasnya.
Matrilineal tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang walau hanya diajarkan secara turun temurun dan tidak ada sanksi adat yang diberikan kepada yang tidak menjalankan sistem kekerabatan tersebut. Pada setiap individu Minang misalnya, memiliki kecenderungan untuk menyerahkan harta pusaka yang seharusnya dibagi kepada setiap anak menurut hukum faraidh dalam Islam hanya kepada anak perempuannya. Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula, begitu seterusnya, sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minangkabau walau mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun.
Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang.
Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama. Dewasa ini Silek tidak hanya diajarkan di Minangkabau saja, namun juga telah menyebar ke seluruh Kepulauan Melayu bahkan hingga ke Eropa dan Amerika. Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut dengan randai. Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengan sijobang, dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario.
Selain itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Terdapat tiga genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.
Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun temurun. Rumah adat ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan belakang. Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa disebut gonjong dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng. Di halaman depan Rumah Gadang, biasanya didirikan dua sampai enam buah Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga yang menghuni Rumah Gadang tersebut.
Hanya kaum perempuan bersama suaminya beserta anak-anak yang menjadi penghuni Rumah Gadang, sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap di rumah istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau. Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah.
Dalam budaya Minangkabau, tidak semua kawasan boleh didirikan Rumah Gadang. Hanya pada kawasan yang telah berstatus nagari saja rumah adat ini boleh ditegakkan. Oleh karenanya di beberapa daerah rantau Minangkabau seperti Riau, Jambi, Negeri Sembilan, pesisir barat Sumatera Utara dan Aceh, tidak dijumpai rumah adat bergonjong.
Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas Rumah Gadang mereka.
Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari tertentu setelah
ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai dari sutan, bagindo atau sidi (sayyidi) di kawasan pesisir pantai. Sementara itu di kawasan Luhak Limopuluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.