• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2009"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. ANALISA TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM KLINIK SANITASI

DI SELURUH PUSKESMAS DI KOTA DUMAI TAHUN 2009

S K R I P S I

Oleh :

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2009

SURIANI NIM. 071000231

(2)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. ANALISA TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM KLINIK SANITASI

DI SELURUH PUSKESMAS DI KOTA DUMAI TAHUN 2009

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

SURIANI NIM. 071000231

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N 2009

(3)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi Dengan Judu l :

ANALISA TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM KLINIK SANITASI DI SELURUH PUSKESMAS DI KOTA DUMAI

TAHUN 2009

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh :

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 05 Agustus 2009 Dan Dinyatakan

Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji

Ketua Penguji Penguji I

SURIANI NIM. 071000231

dr. Devi Nuraini Santi, MKes Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, MS

NIP. 197002191998022001 NIP. 196501091994032002

Penguji II Penguji III

Ir. Indra Chahaya S, MSi dr. Taufik Ashar, MKM NIP. 196811011993032005 NIP. 197803312003121001

Medan, Agustus 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Dekan,

dr. Ria Masniari Lubis, MSi NIP. 195310181982032001

(4)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

ABSTRAK

Klinik sanitasi sebagai salah satu pelayanan di puskesmas yang mengintegrasikan antara upaya kuratif, promotif dan preventif, yang mempunyai peran antara lain sebagai pusat informasi, pusat rujukan fasilitator di bidang kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan. Empat faktor yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan yaitu lingkungan, perilaku, keturunan dan pelayanan kesehatan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mempengaruhi derajat kesehatan.

Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriftif dan informan dalam penelitian ini adalah tenaga pelaksanaan klinik sanitasi puskesmas dan kepala seksi penyehatan lingkungan Dinas Kesehatan Kota Dumai dengan jumlah informan 10 orang.

Hasil penelitian diketahui bahwa petugas sudah berlatarbelakang pendidikan sanitasi namun jumlahnya masih kurang, sarana dan prasarana sudah ada tetapi belum lengkap, pedoman dan petunjuk teknis sudah tersedia di seluruh Puskesmas, program klinik sanitasi sudah berjalan di 8 puskesmas dari 9 puskesmas yang ada di Kota Dumai, namum hasilnya belum maksimal karena masih rendahnya jumlah kunjungan klinik sanitasi yaitu 1579 (10,98%) kunjungan pasien dari 28629 (19%) kasus penyakit berbasis lingkungan dan 45 kunjungan klien, keberhasilan yang dicapai hanya 10,98% dari 50% target kota Dumai serta belum ada evaluasi secara rutin terhadap program klinik sanitasi.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada seluruh puskesmas untuk membuat skema alur masuk pasien/klein klinik sanitasi dan menempatkan diruang tunggu pasien. Dinas kesehatan perlu melakukan pembinaan dan supervisi terhadap petugas puskesmas agar program klinik sanitasi dapat berjalan dengan maksimal. Agar pasien klinik sanitasi tidak drop aut sebaiknya ruangan klinik sanitasi bersebelahan dengan ruang pemeriksaan pasien.Untuk kelangsungan suatu program perlu ada dana agar dapat mendukung kegiatan-kegiatan klinik sanitasi dan sebaiknya dana disesuaikan dengan jumlah kasus penyakit berbasis lingkungan di masing-masing puskesmas.

(5)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. ABSTRACT

Sanitation Clinic as one of service at public health centre that integrate between curative, promotif and preventif, it have three characters as information centre, reference centre fasilitator at environment health area and disease based on environment. Four factors that can influence health that is environment, behaviour, heredity and health service. Environment has big influence for health.

This research aim to know the sanitation clinic program success in all public health centre in Dumai city.

The method of the research was descriptive and informant in this research is clinic sanitation employer in public health and the leaders of parts environment health Dumai City.Total of them are 10 persons.

Result of this research has been known that workers have a good profile sanitation education but has low total, there was facilities and infrastructure but not complete, guide and technical instruction available in all public health centre, sanitation clinic program already in 8 public health centre from 9 public health centre in Dumai city, but the result not maximal because sanitation clinic is low. The amount of invitation is 1579 (10,98%) patient from 28629 (19%) disease cases based on environment and 45 client invitations, the result only 10,98% from 50% Dumai city's target, there is no evaluation routinely for sanitation clinic program.

Based on the research result that suggested the all public health centre to make channel scheme enters patient/klein sanitation clinic and laid space investigation wait patient. Necessary do construction and supervision for workers public health centre so that sanitation clinic program ambulatory with maxima. So that sanitation clinic patient doesn't deliver out best adjacent sanitation clinic with space investigation. for continuance a program necessary there fund so that can support activities at sanitation clinic and best fund is accustommed with disease case total based on environment at each at public health centre.

(6)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas Diri

Nama : Suriani

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Layan, 27 Juli 1977

Agama : Islam

Status Perkawinan : Menikah

Jumlah Anak : 1 Orang

Alamat Rumah : Jl.Dermaga Gg Pergam No. 5 Dumai

Riwayat Pendidikan

SD Negeri Blang Jerat Aceh Pidie : 1983 -1989

MTs Negeri Sigli Aceh Pidie : 1989 -1992

SLTA Negeri 1 Simpang Tiga Aceh Pidie : 1992 -1995

Akademi Kesehatan Lingkungan Sari Mutiara Medan : 1995 -1998

Fakultas Kesehatan Masyarakat USU : 2007 -2009

Riwayat Pekerjaan

Staf Puskesmas Dumai Barat Kota Dumai : 2000 - 2006

Staf Puskesmas Dumai Timur Kota Dumai : 2006 - 2007

(7)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, hanya karena rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, yang berjudul “Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009” yang merupakan salah satu syarat bagi penulis dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM-USU) Medan.

Dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan serta doa dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada :

1. dr. Ria Masniari Lubis, MSi, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Ir. Indra Chahaya S, MSi, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes, sebagai dosen pembimbing I yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, MS, sebagai dosen pembimbing II yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu dalam menyelesaikan skripsi ini

5. dr. H. Agus Widayat, MM, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

6. Kepala bidang P2PL dan kepela seksi penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Dumai, seluruh kepala puskesmas dan petugas klinik sanitasi yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian.

(8)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

7. Seluruh dosen di FKM khususnya Departemen Kesehatan Lingkungan

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.

8. Ir.Kalsum, M.Kes selaku dosen Pembimbing Akademik yang selalu meluangkan waktu untuk saya berkonsultasi.

9. Rekan-rekan seperjuangan khususnya ekstensi 2007 : Hinsa, Helena, Rica, Kamri, Santi Gea, Fatul Jannah, Hesti, dan Yuni.

10.Anak tercinta Silvia Katarina Putri (Puput) yang telah menemani mama selama pendidikan dan suami yang rela ditinggal selama penulis mengikuti pendidikan.

11.Kakak dan Abang serta keponakan tersayang Eka, Anda, Ai yang selalu

membantu penulis selama mengikuti pendidikan.

12.Kedua orang tua dan mertua yang selalu mendoakan penulis.

13.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan saran yang membangun dari semua pihak guna penyempurnaan skripsi ini.

Medan, Agustus 2009

(9)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. DAFTAR ISI Halaman Halaman Pengesahan ... i Abstrak ... ii Abstract ... iii

Daftar Riwayat Hidup ... iv

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel ... x

Daftar Lampiran ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 4 1.3. Tujuan ... 4 1.3.1. Tujuan Umum ... 4 1.3.2. Tujuan Khusus ... 4 1.4. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Penyakit Berbasis Lingkungan ... 6

2.1.1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) ... 7

2.2.2. Penyakit Kulit ... 7

2.2.3. Diare ... 8

2.2.4. Tuberkulosis (TBC) ... 8

2.2.5. Malaria ... 10

2.2.6. Demam Berdarah Dengue (DBD) ... 12

2.2.7. Kecacingan ... 14

2.2. Pengertian Klinik Sanitasi ... 15

2.2.1. Pengertian Pasien Klinik sanitasi ... 17

2.2.2. Pengertian Klien Klinik Sanitasi ... 17

2.2.3. Pengertian Konseling ... 18

2.3. Tujuan Klinik Sanitasi ... 18

2.3.1. Tujuan Umum Klinik Sanitasi ... 18

2.3.2. Tujuan Khusus Klinik Sanitasi ... 18

2.4. Ruang Lingkup Klinik Sanitasi ... 19

2.5. Sasaran Program Klinik Sanitasi ... 19

2.6. Sumber Daya Program Klinik Sanitasi ... 20

2.6.1. Tenaga Pelaksana ... 20

2.6.2. Sarana dan Prasarana Program Klinik Sanitasi... 20

2.6.3. Sumber Dana Program Klinik Sanitasi ... 21

2.7. Strategi Operasional Program KLinik Sanitasi ... 21

2.8. Kegiatan Program Klinik Sanitasi ... 22

(10)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

2.8.2. Luar Gedung Puskesmas ... 23

2.9. Kriteria Keberhasilan Program KLinik Sanitasi ... 24

2.9.1. Indikator Keberhasilan Langsung ... 24

2.9.2. Indikator Keberhasilan Tidak Langsung ... 25

2.10. Alur Kegiatan Program Klinik Sanitasi ... 26

2.11. Kerangka Konsep ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

3.1. Jenis Penelitian ... 29

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 29

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 29

3.2.2. Waktu Penelitian ... 29

3.3. Objek dan Informan Penelitian... 29

3.3.1. Objek Penelitian ... 29

3.3.2. Informan Penelitian ... 30

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 30

3.4.1. Data Primer ... 30

3.4.2. Data Sekunder ... 30

3.5. Aspek Pengukuran ... 31

3.6. Definisi Operasional ... 34

3.7. Analisa Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 37

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37

4.2. Data Dasar Program Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Dumai ... 38

4.2.1. Data Jumlah Tenaga Sanitasi ... 38

4.2.2. Data Sanitasi Dasar ... 39

4.3. Hasil Observasi Terhadap Petugas ... 39

4.3.1. Hasil Observasi Terhadap Pendidikan, Jabatan dan Masa Kerja Petugas ... 39

4.3.2. Hasil Observasi Terhadap Surat Penugasa, Ijazah/SK serta Sertifikat Pelatihan ... 40

4.4. Hasil Observasi Terhadap Sarana dan prasarana Program Klinik Sanitasi ... 41

4.4.1. Hasil Observasi Terhadap Ruangan Program Klinik Sanitasi ... 42

4.4.2. Hasil Observasi Terhadap Alat Bantu ... . 43

4.4.3. Hasil Observasi Terhadap Alat Transportasi ... 44

4.4.4. Hasil Observasi Terhadap Ketersediaan Pedoman dan Petunjuk Teknis ... 44

4.5. Hasil Jumlah Kunjungan Klinik Sanitasi ... 45

4.5.1. Hasil Jumlah Penyakit Berbasis Lingkungan ... 45

4.5.2. Hasil Jumlah Pasien Klinik Sanitasi ... 46

4.5.3. Hasil Kunjungan Klien Klinik Sanitasi ... 47

(11)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

4.6. Jumlah Stimulan ... 49

4.7. Hasil Wawancara ... 49

4.7.1. Hasil Wawancara Dana Klinik Sanitasi ... 50

4.7.2. Hasil Wawancara Mengenai Kerjasama Lintas Program 51

4.7.3. Hasil Wawancara Mengenai Kerjasama Lintas Sektor ... 53

4.2.4. Hasil Wawancara Mengenai Evaluasi ... 54

4.8. Data Kunjungan Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Tahun 2008 ... 56

BAB V PEMBAHASAN ... 56

5.1 Petugas Klinik Sanitasi ... 56

5.2. Sarana dan Prasarana Klinik Sanitasi ... 56

5.3. Dana Program Klinik Sanitasi ... 57

5.4. Buku Pedoman dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Klinik Sanitasi ... 59

5.5. Jumlah Penyakit Berbasis Lingkungan ... 60

5.6. Jumlah Pasien Klinik Sanitasi ... 60

5.7. Jumlah Klien Klinik Sanitasi... 60

5.8. Jumlah Pasien/Klien Yang Dikonseling ... 61

5.9. Kunjungan Rumah ... 62

5.10. Kerjasama Lintas Program dan Lintas Sektor ... 62

5.11. Evaluasi Program Klinik sanitasi ... 62

5.12. Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi ... 63

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 65

6.1. Kesimpulan ... 65

6.2. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(12)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1. Data jumlah tenaga sanitasi Dinas Kesehatan Kota Dumai ... 38 Tabel 4.2. Data jumlah sarana sanitasi dasar yang ada di Kota Dumai ... 39 Tabel 4.3. Gambaran petugas pelaksana klinik sanitasi menurut pendidikan,

jabatan dan masa kerja dimasing-masing Puskesmas di Kota Dumai tahun 2009 ... 39 Tabel 4.4. Hasil observasi terhadap surat penugasan, ijazah/SK dan sertifikat

pelatihan petugas pelaksana klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai ... 40 Tabel 4.5. Hasil observasi terhadap ruangan klinik sanitasi di seluruh puskesmas

di kota dumai tahun 2009 ... 41 Tabel 4.6. Hasil observasi terhadap alat peraga/alat bantu penyuluhan dalam

pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota

Dumai Tahun 2009... ... 42 Tabel 4.7. Hasil observasi terhadap alat transportasi yang mendukung kegiatan

pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun 2009 ... 43 Tabel 4.8. Hasil observasi terhadap ketersediaan buku pedoman dan petunjuk

teknis dalam pelaksanaan kegiatan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai Tahun 2009... 43 Tabel 4.9. Jumlah penyakit berbasis lingkungan di seluruh puskesmas di Kota

Dumai Tahun 2009 ... 44 Tabel 4.10.Jumlah pasien penderita penyakit berbasis lingkungan yang dirujuk ke

klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun 2009 ... 45 Tabel 4.11.Jumlah kunjungan klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai

Tahun 2009 ... 46 Tabel 4.12.Jumlah kunjungan rumah yang dilakukan oleh petugas Klinik sanitsi di

seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun 2009 ... 47 Tabel 4.13.Jumlah stimulant program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota

(13)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Tabel4.14.Hasil wawancara mengenai kecukupan dana dalam mendukung pelaksanaan kegiatan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai Tahun 2009 ... 49 Tabel4.15.Hasil wawancara mengenai kerjasama lintas program dalam

pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun 2009 ... 50 Tabel 4.16.Hasil wawancara mengenai kerjasama lintas sektor dalam pelaksanaan

program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun

2009 ... 52 Tabel 4.17.Hasil wawancara mengenai kegiatan evaluasi yang dilakukan terhadap

program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai Tahun 2009 ... 53 Tabel 4.18.Data kunjungan klinik sanitasi di seluruh puskesmas Tahun 2008-2009

(14)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Check List Observasi dan Daftar Pertanyaan Lampiran 2. Indikator Indonesia Sehat 2010

Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Penelitian Dari FKM-USU

Lampiran 4. Surat Izin Penelitian Ke Puskesmas Dari Dinas Kesehatan Lampiran 5. Surat Selesai Penelitian Dari Seluruh Puskesmas

Lampiran 6. Surat Balasan Selesai Penelitian Dari Dinas Kesehatan Kota Dumai Lampiran 7. Blangko Pencatatan dan Pelaporan

Lampiran 8. Dokumentasi

(15)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah (Depkes RI, 2004).

Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, derajat kesehatan yang besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia dan sebagai modal bagi pelaksana pembanganunan nasional (Depkes RI, 2004).

Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan yang meliputi peningkatan derajat kesehatan ( preventif ), penyembuhan penyakit ( kuratif ) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif ) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes RI,1992).

Dalam pembangunan sektor kesehatan, berbagai program telah dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembanguan nasional tersebut, namun masih dijumpai berbagai masalah kesehatan utama, peluang dan ancaman yang berhubungan pada pembangunan kesehatan (Depkes RI, 2005).

Diindentifikasi beberapa masalah kesehatan utama meliputi derajat kesehatan yang rendah, status gizi masyarakat masih memprihatinkan, berbagai penyakit menular

(16)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

baru (New Emerging Diseases) muncul dan berkembang, adanya penyakit menular muncul kembali (Re Emerging Diseases), beberapa daerah mempunyai masalah penyakit menular lokal spesifik yang perlu mendapat perhatian (Depkes RI, 2005).

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyebutkan antara lain bahwa : (1) kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat , (2) kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya, (3) kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air , tanah dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor penyakit dan penyehatan atau pengamanan lainnya, (4) setiap tempat umum atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan persyaratan (Depkes RI,1992).

Menurut Hendrik L.Blum, derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling berkaitan dengan faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem budaya dan populasi sebagai satu kesatuan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap derajat kesehatan masyarakat. Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, lingkungan biologik dan lingkungan sosio kultural (Depkes RI, 2000).

Pengelolaan lingkungan merupakan upaya untuk memecahkan, memperbaiki dan meningkatkan mutu lingkungan, agar fungsi lingkungan bagi manusia dan mahkluk hidup lainnya dapat terpenuhi bagi kelangsungan hidup (Depkes RI, 2001).

(17)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Lingkungan yang diharapkan dalam visi Indonesia Sehat 2010 adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya masyarakat yang saling tolong menolong dalam memelihara nilai-nilai budaya bangsa (Depkes RI, 2001).

Masalah kesehatan berbasis lingkungan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai baik kualitas maupun kwantitasnya serta perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah sehingga mengakibatkan penyakit-penyakit berbasis lingkungan muncul antara lain seperti diare, ISPA, malaria, DBD, TBC, yang masih mendominasi 10 penyakit terbesar puskesmas dan merupakan pola penyakit utama di Indonesia (Depkes RI, 2001).

Dalam rangka meningkatkan stastus kesehatan masyarakat, puskesmas merupakan ujung tombak yang paling depan diwilayah kerjanya. Salah satu fungsi puskesmas yang penting adalah mengembangkan dan membina kemandirian masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang timbul, mengembangkan kemampuan dan kemauan mayarakat baik berupa pemikiran maupun kemampuan yang berupa sumber daya, salah satu terobosan untuk mengatasi masalah kesehatan berbasis lingkungan adalah klinik sanitasi (Depkes RI,2001).

Klinik sanitasi sebagai salah satu pelayanan dipuskesmas yang mengintegrasikan antara upaya kuratif, promotif dan preventif, yang mempunyai peran antara lain sebagai pusat informasi, pusat rujukan fasilitator di bidang kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan ( Depkes RI, 2005).

(18)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Data yang diperoleh dari survei pendahuluan bahwa 10 penyakit terbesar yang ada di kota Dumai pada tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan antara lain seperti ISPA 27244 kasus (18,11%), Influenza 7771 kasus (5,16%), penyakit kulit Alergi 7651 kasus (5,09%) dan diare (4,10%) kasus 6176

(Dinkes Dumai, 2007).

1.2. Perumusan Masalah

Tingginya penyakit berbasis lingkungan di kota Dumai dan program klinik sanitasi telah dijalankan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan berbasis lingkungan yang terjadi di masyarakat yang berada diwilayah kerja puskesmas di kota Dumai, maka peneliti ingin mengetahui tingkat keberhasilan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai.

1.3. Tujuan

1.3.1.Tujuan Umum

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui jumlah tenaga pelaksanaan program klinik sanitasi diseluruh puskesmas di kota Dumai.

2. Untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai.

3. Untuk mengetahui ketersediaan dana dalam pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai.

(19)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

4. Untuk mengetahui ketersediaan pedoman dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan program klinik sanitasi diseluruh puskesmas di kota Dumai.

5. Untuk mengetahui jumlah penyakit berbasis lingkungan dipuskesmas di kota Dumai.

6. Untuk mengetahui jumlah pasien penderita penyakit berbasis lingkungan yang di rujuk ke klinik sanitasi di kota Dumai.

7. Untuk mengetahui jumlah kunjungan klien klinik sanitasi diseluruh puskesmas di kota Dumai

8. Untuk mengetahui jumlah kunjungan klinik sanitasi yang di konseling oleh petugas klinik sanitasi.

9. Untuk mengetahui jumlah kunjungan rumah pasien/klien klinik sanitasi yang dilakukan oleh petugas klinik sanitasi.

10.Untuk mengetahui kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai

11.Untuk mengetahui evaluasi yang dilakukan dalam penyempurnaan pelaksanaan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan dan kajian bagi puskesmas dan Dinas Kesehatan kota Dumai untuk meningkatkan mutu pelaksanaan program klinik sanitasi.

2. Untuk menambah pengetahuan penulis dibidang sanitasi khususnya program klinik sanitasi.

(20)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyakit Berbasis lingkungan

Lingkungan tidak mungkin mampu mendukung jumlah kehidupan yang tanpa batas dengan segala aktivitasnya. Karena itu, apabila lingkungan sudah tidak mampu lagi mengdukung kehidupan manusia, manusia akan menuai berbagai kesulitan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berdampak pada kualitas daya dukung lingkungan, yang pada akhirnya akan merusak lingkungan itu sendiri. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan akan berdampak buruk pada manusia (Anies, 2006).

Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada manusia telah lama disadari, seperti dikemukakan Blum dalam Planning for health, development and application of social change theory, bahwa faktor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya kondisi kesehatan masyarakat yang buruk, termasuk timbulnya berbagai penyakit juga dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk. (Anies, 2006).

Interaksi manusia dengan lingkungan telah menyebabkan kontak antara kuman dengan manusia. Sering terjadi kuman yang tinggal di tubuh host kemudian berpindah ke manusia karena manusia tidak mampu menjaga kebersihan lingkungannya. Hal ini tercermin dari tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan yang masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat Indonesia. Beberapa penyakit yang timbul akibat kondisi lingkungan yang buruk seperti ISPA, TBC, diare, DBD, malaria, kecacingan dan penyakit kulit (Depkes RI, 2002).

(21)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. 2.1.1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)

ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14 hari, yang dimaksud dengan saluran pernafasan adalah mulai dari hidung sampai gelembung paru beserta organ-organ disekitarnya seperti sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru (Depkes RI, 2001).

ISPA disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumonia, hemophilhillus Influensa, asap dapur, sirkulasi udara yang tidak baik, tempat berkembangbiaknya di saluran pernafasan, ISPA dapat ditularkan melalui udara yang terkontaminasi dengan bakteri ketika penderita batuk yang terhirup oleh orang sehat masuk ke saluran pernafasannya (Depkes RI, 2001).

ISPA dapat dicegah dengan cara menjaga sirkulasi udara dalam rumah dengan membuka jendela setiap hari, menghindari polusi udara di dalam rumah seperti asap dapur dan asap rokok, tidak padat penghuni di kamar tidur, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitarnya (Depkes RI, 2001).

2.1.2. Penyakit Kulit

Penyakit kulit atau sering disebut dengan kudis/scabies/gudik/budukan yang disebabkan oleh tungau atau sejenis kutu yang sangat kecil (Sarcoptes scabies), tempat berkembangbiaknya adalah dilapisan tanduk kulit dan membuat terowongan dibawah kulit sambil bertelur, penularannya dapat melalui kontak langsung dengan penderita dan dapat pula ditularkan melalui perantara seperti baju, handuk, sprei yang digunakan penderita kemudian digunakan oleh orang sehat, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindar menukar baju, handuk, lingkungan agar tidak terlalu padat, menjaga kebersihan lingkungnan dan personal hygiene (Depkes RI, 2001).

(22)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. 2.1.3. Diare

Diare adalah buang air besar lembek sampai encer yang lebih dari 3 kali dalam satu hari. Diare dapat disebabkan oleh bakteri/virus antara lain seperti : Rotavirus, Escherrichia Coli Enterotoksigenik (ETEC), shigella. Compylobacter Jejuni, Cryptospondium (Depkes RI, 2001).

Diare karena bakteri Escherrichia Coli (E.Coli) disebabkan oleh bakteri E.Coli tempat berkembang biak bakteri ini adalah dalam tinja manusia, cara penularan melalui makanan yang terkontaminasi dengan bakteri E.Coli yang dibawa oleh lalat yang hinggap pada tinja yang dibuang sembarangan, melalui minum air terkontaminasi bakteri E.Coli yang tidak dimasak sampai mendidih, melalui tangan yang terkontaminasi bakteri E.Coli

karena sesudah buang air besar tidak mencuci tangan dengan sabun (Depkes RI 2001). Cara pencegahan diare dapat dilakukan antara lain : menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat, tidak membuang air besar sembarangan, mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan dan setelah buang air besar, mancuci bahan makanan dengan air bersih, memasak air sampai mendidih, menggunakan air bersih yang memenuhi syarat (Depkes RI, 2001).

2.1.4. Tuberkulosis (TBC)

Penyakit TBC adalah batuk yang berlangsung secara terus menerus selama 3 minggu atau lebih, berkeringat malam tanpa aktifitas serta dapat juga ditandai dengan batuk darah karena pembuluh darah pecah akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. TBC disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis basil atau kuman yang berbentuk batang dan mempunyai sifat tahan terhadap penghilangan warna yang bersifat asam dan alkohol

(23)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

(kuman tetap berwarna kemerahan), maka disebut Basil Tahan Asam (BTA) menemukan kuman BTA ini menjadi dasar penting dalam penegakan diagnosis (Achmadi, 2008).

Berdasarkan pemeriksaan TBC dapat diklasifikasikan menjadi 3 (Achmadi, 2008): 1. TBC paru BTA (Basil Tahan Asam) positif

Disebut sebagai TBC paru BTA positif apabila sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu) hasilnya positif atau 1 spesimen sputum SPS positif disertai pemeriksaan radiologi paru menunjukkan gambaran TBC aktif.

2. TBC paru BTA negatif

Apabila dalam pemeriksaan 3 spesimen sputum SPS BTA negatif dan foto radiologi dada menunjukkan gambaran TBC aktif, TBC paru dengan BTA negatif dan gambaran foto radiologi positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan, bila menunjukkan keparahan yaitu kerusakan luas dianggap berat.

3. TBC ekstra paru

Tuberculosis yang menyerang organ lain selain paru, termasuk pleura, yaitu yang menyelimuti paru, selaput otak selaput jantung perikarditis, kelenjar limpa, kulit persendian, ginjal serta saluran kencing.

TBC dapat menular melalui udara dengan cara penderita TBC berbicara, meludah, batuk, dan bersih sehingga kuman TBC yang berada di paru-paru penderita menyebar ke udara terhirup oleh orang (Depkes RI, 2001).

Pencegahan TBC dapat dilakukan dengan cara membuka jendela setiap hari agar terjadi sirkulasi udara dalam rumah, bila batuk menutup mulut, tidak meludah disembarang tempat, lantai rumah tidak boleh lembab, rumah tidak boleh padat penghuni,

(24)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

gunakan kaleng tertutup untuk menampung dahak dan hadak dibuang ke lubang Water Closed (WC) atau ditimbun dalam tanah, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi seimbang, menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungannya (Depkes RI, 2001).

2.1.5. Malaria

Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium

yang termasak golongan protozoa, yang penularannya melalui vektor nyamuk Anopheles spp, dengan gejala demam, pening, lemas, pucat, nyeri otot, menggigil, suhu bias mencapai 40ºC terutama pada infeksi Plasmodium falcifarum. Di Indonesia terdapat 4 spesies plasmodium yaitu (Achmadi, 2008) :

1. Plasmodium vivax, memiliki distribusi geografis terluas, termasuk wilayah beriklim dingin, subtropik hingga daerah tropik. Demam terjadi setiap 48 jam atau setiap hari ketiga, pada waktu siang atau sore. Masa inkubasi Plasmodium vivak

antara 12 hingga 17 hari dan salah satu gejala adalah pembengkakan limpa atau

splenomegali.

2. Plasmodium falciparum, merupakan penyebab malaria tropika secara klinik berat dan dapat menimbulkan berupa malaria cerebral dan fatal. Masa inkubasi malaria tropika sekitar 12 hari, dengan gejala nyeri kepala, pegal linu, demam tidak begitu nyata serta kadang dapat menimbulkan gagal ginjal.

3. Plasmodium ovale, masa inkubasi malaria dengan penyebab Plasmodium ovale

adalah 12 hingga 17 hari, dengan gejala setiap 48 jam, relatif ringan dan sembuh sendiri.

4. Plasmodium malariae merupakan penyebab malaria guartana yang memberikan gejala demam setiap 72 jam, malaria jenis ini umumnya terdapat pada daerah

(25)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

gunung dataran rendah pada daerah tropik. Biasanya berlangsung tanpa gejala dan ditemukan secara tidak sengaja namun malaria jenis ini sering mengalami kekambuhan.

Beberapa faktor lingkungan sangat berperan dalam berkembangbiaknya nyamuk sebagai vektor penular malaria, faktor-faktor tersebut antara lain, lingkungan fisik seperti suhu udara, suhu udara mempengaruhi panjang pendeknya masa inkubasi ekstrinsik yaitu pertumbuhan fase sporogoni dalam perut nyamuk. Kelembaban udara yang rendah, akan memperpendek umur nyamuk, hujan yang diselingi panas semakin besar kemungkinan perkembangbiakannya (Achmadi, 2008).

Tempat berkembangbiak nyamuk Anopheles antara lain : kolam ikan yang tidak dipakai lagi, bekas galian tanah atau pasir yang terisi air hujan, batang bambu yang dapat menampung air hujan, kaleng bekas, ban bekas yang dapat menampung air hujan serta saluran air yang tidak mengalir (Depkes RI, 2001).

Lingkungan biologi juga berperan dalam perkembangbiakan vektor penular malaria, misalnya ada lumut, ganggang berbagai tumbuhan air yang membuat Anopheles sundaicus merasa nyaman untuk membesarkan anak keturunannya berupa telur dan larva (Achmadi.U.F.2008).

Penyakit malaria dapat menular dengan cara nyamuk malaria menggigit dan menghisap darah orang yang sakit malaria, parasit di dalam tubuh manusia masuk ke dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembangbiak dalam tubuh nyamuk dan menjadi matang dalam waktu 10-14 hari, setelah parasit matang, jika nyamuk menggigit manusia sehat maka parasit malaria akan masuk ke dalam tubuh orang yang sehat, maka orang yang sehat akan menjadi sakit (Depkes RI, 2001).

(26)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Malaria dapat dicegah dengan membasmi tempat perindukan nyamuk seperti menyebarkan ikan pemakan jentik, membersihkan semak belukar di sekitar rumah, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, membersihkan tempat air minum burung dan vas bunga secara teratur, menimbun atau mengalirkan air yang tergenang, membersihkan tambak, empang serta saluran irigasi dari tumbuhan air (Depkes RI, 2001).

Pencegahan malaria juga dapat dilakukan dengan memasang kasa nyamuk dan jendela, memasang kelambu yang berinsektisida waktu tidur pada malam hari, menggunakan anti nyamuk, jangan bergadang pada malam hari serta menutup seluruh badan jika diluar rumah pada malam hari (Depkes RI, 2001).

2.1.6. Demam Berdarah Dengue (DBD).

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, dengan cara seseorang yang dalam darahnya mengandung virus

Dengue bila digigit nyamuk akan terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk dan berkembang biak, kemudian masuk ke dalam kelenjar air liur nyamuk setelah satu minggu di dalam tubuh nyamuk, bila nyamuk menggigit orang sehat akan menularkan virus Dengue, virus ini tetap berada di dalam tubuh nyamuk sehingga dapat menularkan kepada orang sehat lainnya (Depkes RI, 2001).

Nyamuk Aedes Aegypti berkembangbiak di dalam dan di luar rumah seperti ember, drum, tempayan, tempat penampungan air bersih, vas bunga, kaleng bekas yang berisi air bersih, bak mandi, lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu yang dapat menampung air hujan (Depkes RI, 2001).

(27)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Upaya praktis yang dapat dilakukan dalam pengendalian vektor dan pemberantasan penyakit DBD adalah sebagai berikut (Anies, 2006) :

1. Menguras tempat penyimpanan air seperti bak mandi, drum dan gantilah air divas bunga serta ditempat minum burung sekurang-kurangnya seminggu sekali.

2. Menutup rapat tempat penampungan air seperti drum dan tempayan agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembangbiak.

3. Mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, ban bekas, botol bekas.

4. Tutuplah lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen.

5. Jangan meletakkan pakaian digantungan ditempat yang terbuka misalnya

dibelakang pintu kamar, agar nyamuk tidak hinggap.

6. Untuk tempat penampungan air yang sulit dikuras taburkan bubuk abate ke dalam genangan air tersebut, untuk membunuh jentik-jentik nyamuk, ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali. Takaran penggunaan bubuk abate, untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk abate.

7. Perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk misalnya dengan menggunakan anti nyamuk dan memakai kelambu yang diberi insektisida pada saat tidur.

2.1.7. Kecacingan

Ada tiga jenis cacing yang banyak diderita oleh anak-anak yaitu (Depkes RI, 2001) :

1. Cacing gelang, penyebabnya adalah Ascariasis lumbricoides yang

berkembangbiak di dalam perut manusia dan tinja, menular dengan cara, telur cacing masuk ke dalam mulut melalui makanan yang tercemar atau tangan yang tercemar telur cacing, kemudian telur cacing menetas menjadi cacing didalam

(28)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

perut manusia kemudian telur cacing keluar bersama dengann tinja. Pencegahan dapat dilakukan dengan menutup makanan, menggunakan air bersih, buang air besar di jamban sehat, menggunting kuku, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, tidak membuang sampah sembarangan agar terhindar dari lalat.

2. Cacing kremi, penyebabnya adalah Enterobius vermicularis, tempat

berkembangbiaknya adalah di perut dan tinja, cara penularannya adalah dengan menelan telur cacing yang telah dibuahi melalui debu, makanan atau jari tangan (kuku). Pencegahan dapat dilakukan dengan menutup makanan, menggunakan air bersih, buang air besar di jamban sehat, menggunting kuku, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, tidak membuang sampah sembarangan agar terhindar dari lalat.

3. Cacing tambang, penyebabnya adalah Ancylostomiasis duodenale, tempat berkembangbiaknya perut dan tinja, penularan terjadi dengan cara, telur cacing dalam tinja di tanah yang lembab atau lumpur menetas menjadi larva, larva masuk ke tubuh manusia melalui kulit, biasanya melalui kaki, menghirup telur melalui udara (debu), pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan alas kaki, buang air besar di jamban yang sehat, menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

2.2. Pengertian Klinik Sanitasi

Klinik sanitasi adalah upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan antara promotif, preventif dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas bersama masyarakat

(29)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam dan di luar gedung puskesmas (Depkes RI, 2003).

Klinik sanitasi juga merupakan wahana masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan dan masalah penyakit berbasis lingkungan dengan bimbingan, penyuluhan dan bantuan teknis dari petugas puskesmas. Klinik sanitasi bukan sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, akan tetapi sebagai bagian integral dari kegiatan puskesmas dalam melaksanakan program ini berkerjasama dengan lintas program dan lintas sektoral yang ada diwilayah kerja puskesmas (Depkes RI 2000).

Dengan klinik sanitasi diharapkan dapat memperkuat peran dan meningkatkan efektifitas puskesmas dalam melaksanakan pelayanan sanitasi dasar guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan semua masalah yang ada kaitannya dengan kesehatan lingkungan khususnya pengendalian penyakit berbasis lingkungan (Depkes RI, 2000).

Klinik sanitasi pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Puskesmas Wanasaba kabupatan Lombok Timur provinsi NTB sejak bulan Nopember tahun 1995 dan selanjutnya kegiatan ini diikuti oleh beberapa puskesmas yang ada di provinsi Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 kegiatan klinik sanitasi sudah sampai ke seluruh puskesmas di Indonesia (Depkes RI, 2000).

Dalam pelaksanaan program klinik sanitasi menjaring pasien/klien di puskesmas dengan keluhan penyakit berbasis lingkungan dan lingkungan yang tidak sehat sebagai media penularan dan penyebab penyakit yang dialami oleh masyarakat selanjutnya dilaksanakan konseling dan kunjungan lapangan atau kunjungan rumah untuk mencari

(30)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

jalan keluar akibat masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan yang muncul di masyarakat (Depkes RI, 2000).

Sesuai dengan Visi Indonesia Sehat 2010 tujuan jangka panjang yang harus dicapai oleh setiap kabupaten diharapkan penduduk hidup dalam lingkungan yang sehat, memiliki perilaku hidup sehat, bebas penularan penyakit serta akses kepada pelayanan kesehatan yang adil, merata dan berkualitas (Achmadi, 2008).

Dengan demikian salah satu tujuan Pemerintah kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan adalah membebaskan penduduk dari penularan atau transmisi penyakit dengan cara menghilangkan sumber penyakit dengan menciptakan lingkungan yang optimum, melakukan penyehatan lingkungan, dan meningkatkan perilaku hidup sehat penduduk serta memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit (Achmadi, 2008).

Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal pula, ruang lingkup kesehatan lingkungan antara lain : perumahan, pembuangan kotoran manusia, penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor dan pencemaran ruang lingkup tersebut harus dijaga untuk mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya (Notoatmodjo, 2007).

Masalah kesehatan lingkungan menjadi sangat komplek seperti urbanisasi penduduk dari desa ke kota, pembuangan sampah yang dilakukan secara dumping tanpa adanya pengolahan, penyediaan air bersih hanya 60% penduduk Indonesia mendapatkan air dari PDAM, tingkat pencemaran udara sudah melebihi nilai ambang batas khususnya di kota-kota besar, pembuangan limbah industri dan limbah rumah tangga yang tidak dikelola

(31)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

dengan baik, bencana alam serta perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah yang sering kali menimbulkan masalah baru bagi kesehatan lingkungan (Candra, 2007).

Ada beberapa pengertian yang harus di pahami dalam pelaksanaan program klinik sanitasi selain pengertian klinik sanitasi itu sendiri (Depkes RI, 2001) yaitu :

2.2.1. Pengertian Pasien Klinik sanitasi

Pasien klinik sanitasi adalah penderita penyakit yang diduga berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan yang dirujuk oleh petugas medis ke ruang klinik sanitasi.

2.2.2. Pengertian Klien Klinik Sanitasi

Klien klinik sanitasi adalah masyarakat umum bukan penderita penyakit yang datang ke puskesmas untuk berkonsultasi mengenai masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.

2.2.3. Pengertian Konseling

Adalah kegiatan wawancara mendalam dan penyuluhan yang bertujuan untuk mengenal masalah lebih rinci kemudian diupayakan pemecahannya yang dilakukan oleh petugas klinik sanitasi sehubungan dengan konsultasi penderita/pasien yang datang ke puskesmas (Depkes RI, 2000).

2.3.Tujuan Klinik Sanitasi

2.3.1. Tujuan Umum Program Klinik Sanitasi

Klinik sanitasi bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif, kuratif dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan terus menerus (Depkes RI, 2003).

(32)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat (pasien dan klien serta masyarakat disekitarnya) akan pentingnya lingkungan sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat.

2. Masyarakat mampu memecahkan masalah kesehatan yang berhubungan dengan

kesehatan lingkungan.

3. Terciptanya keterpaduan lintas program-program kesehatan dan lintas sektor terkait, dengan pendekatan penanganan secara holistik terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan.

4. Untuk menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatkan

penyehatan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat.

5. Meningkatkan kewaspadaan dini terdapat penyakit-penyakit berbasis lingkungan melalui Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) secara terpadu (Depkes RI 2000).

2.4. Ruang Lingkup Klinik Sanitasi

Ruang lingkup kegiatan klinik sanitasi mencakup berbagai upaya antara lain (Depkes RI, 2000) :

1. Penyediaan dan penyehatan air bersih/jamban dalam rangka pencegahan penyakit diare, kecacingan dan penyakit kulit.

2. Penyehatan perumahan/pemukiman dalam rangka pencegahan penyakit ISPA,

TB-Paru, Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria.

3. Penyehatan lingkungan tempat kerja dalam rangka pencegahan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau penyakit akibat kerja.

4. Penyehatan makanan dan minuman dalam rangka pencegahan penyakit saluran pencernaan atau keracunan makanan.

(33)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

5. Pengamanan pestisida dalam rangka pencegahan dan penanggulangan keracunan pestisida.

6. Pengamanan penyakit atau gangguan lainnya yang berhubungan dengan

kesehatan lingkungan.

2.5. Sasaran Program Klinik Sanitasi

Program klinik sanitasi dalam pelaksanaannya mempunyai sasaran sebagai berikut (Depkes RI, 2000) :

1. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke puskesmas.

2. Masyarakat umum (klien) yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke puskesmas.

3. Lingkungan penyebab masalah bagi pasien/klien dan masyarakat sekitarnya.

2.6. Sumber Daya Program Klinik Sanitasi

Dalam melaksanakan program klinik sanitasi diperlukan sumber daya untuk mencapai tujuan program, sumber daya dalam program klinik sanitasi adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2000) :

2.6.1. Tenaga Pelaksana

Adapun tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan program klinik sanitasi adalah terdiri dari tenaga inti di bidang kesehatan lingkungan seperti Sanitarian atau Diploma III Kesehatan Lingkuangan, disamping itu dalam pelaksanaan program klinik sanitasi ini juga dibutuhkan tenaga pendukung seperti dokter, bidan, perawat dan petugas gizi yang telah ditunjuk oleh pimpinan puskesmas dalam pelaksanaan program,

(34)

tenaga-Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

tenaga tersebut diatas telah mendapat pelatihan dan orientasi tentang program klinik sanitasi.

2.6.2. Prasarana dan Sarana Program Klinik sanitasi

Prasarana dan sarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program klinik sanitasi adalah ruangan sebagai tempat petugas sanitasi melakukan kegiatan-kegiatan penyuluhan, konsultasi, konseling, demonstrasi, pelatihan atau perbaikan sarana sanitasi dasar dan penyimpanan peralatan kerja.

Peralatan-peralatan klinik sanitasi berupa alat-alat peraga penyuluhan, cetakan sarana air bersih dan jamban keluarga, alat pengukur kualitas lingkungan (air, tanah dan udara), alat transportasi untuk mendukung kegiatan program klinik sanitasi yang dilaksanakan baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas.

Alat peraga dan media penyuluhan yang digunakan dalam melaksanakan program klinik sanitasi antara lain berupa maket, media cetak, sound system, media elektronik dan formulir untuk pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan (Depkes RI, 2000).

2.6.3. Sumber Dana Program Klinik Sanitasi

Untuk mendukung tercapainya cakupan program klinik sanitasi dibutuhkan dana, adapun dana ini diperoleh dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) kabupaten/kota, APBD provinsi BLN (Bantuan Luar Negeri), kemitraan dan swadaya masyarakat. Besarnya dana yang dibutuhkan sangat berbeda di masing-masing

(35)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

puskesmas, tergantung masalah kesehatan lingkungan yang ditangani di wilayah kerja puskesmas (Depkes RI, 2000).

2.7. Strategi Operasional

Agar program klinik sanitasi dapat mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan, maka perlu adanya strategi operasional adalah sebagai berikut :

1. Penajaman masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat dan mengatasi dengan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitataif secara terpadu dan berkesinambungan.

2. Masalah dalam tiap puskesmas tidak lah sama, baik antar lingkungan ataupun antar kelurahan oleh sebab itu harus dipahami benar peta masalah kesehatan yang berkenaan dengan kesehatan lingkungan, sehingga penanganannya menjadi lebih spesifik dan berorientasikan pada hasil.

3. Membuat skala perioritas penanganan masalah kesehatan lingkungan dengan mempertimbangkan segala sumber daya yang ada, karena sulit untuk menangani semua masalah yang ada dalam waktu bersamaan, baik luas wilayah maupun jenis penyakitnya.

4. Dilaksanakan secara terpadu dan bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas.

5. Menumbuh kembangkan peran serta masyarakat melalui kelembagaan yang sudah ada seperti PKK, LSM, LKMD.

6. Mengutamakan segi penyuluhan, bimbingan teknis dan pemberdayaan untuk

menciptakan kemandirian masyarakat, penyuluhan juga dilakukan dengan pemberian contoh dan keteladanan.

(36)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

7. Mengupayakan dukungan dana dengan meningkatkan swadaya masyarakat

termasuk swasta selain sumber dana dari pemerintah (Depkes RI, 2000).

2.8. Kegiatan Klinik Sanitasi

Kegiatan klinik sanitasi dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas, ada pun kegiatan tersebut adalah (Depkes RI, 2000) :

2.8.1. Dalam Gedung Puskesmas

Semua pasien yang mendaftar di loket pendaftaran, setelah mendapat kartu stastus kemudian diperiksa oleh petugas medis, paramedis puskesmas, apabila didapat penderita penyakit yang berhubungan erat dengan faktor lingkungan maka pasien tersebut dirujuk ke klinik sanitasi.

Di ruang klinik sanitasi petugas mewawancarai pasien mengalami penyakit yang dialami dikaitkan dengan lingkungan, petugas mencatat keterangan pasien, serta memberikan penyuluhan dan data yang diperlukan ditulis dalam kartu status kesehatan lingkungan, petugas juga membuat janji dengan pasien untuk melakukan kunjungan rumah untuk melihat langsung faktor resiko penyakit yang dialami pasien tersebut (Depkes RI, 2000).

Kegiatan lain didalam gedung adalah petugas membahas segala permasalahan kesehatan lingkungan, cara pemecahan masalah, hasil monitoring atau evaluasi dan pelaksanaan klinik sanitasi dalam mini loka karya puskesmas yang melibatkan seluruh penanggungjawab kegiatan dan dilaksanakan satu bulan sekali, dengan demikian diharapkan dapat dilakukan penanganan klinik sanitasi secara integratif dan komprehensif (Depkes RI, 2000).

(37)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. 2.8.2. Kegiatan Klinik Sanitasi di Luar Gedung Puskesmas

Kegiatan luar gedung ini adalah kunjungan rumah atau lokasi sebagai rencana tindak lanjut kunjungan pasien/klien ke klinik sanitasi di puskesmas, kunjungan rumah ini untuk mempertajam sasarannya karena pada saat kunjungan petugas telah memiliki data pasti adanya sarana lingkungan bermasalah yang perlu diperiksa dan faktor-faktor perilaku yang berperan besar dalam proses terjadinya masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan.

Dalam kunjungan rumah petugas klinik sanitasi bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor, apabila dibutuhkan suatu perbaikan atau pembangunan sarana sanitasi dasar dengan biaya besar, seperti pembangunan sistem perpipaan untuk air bersih yang kurang terjangkau oleh masyarakat setempat, maka petugas dapat bekerjasama dengan lintas sektor, perlu diingat bantuan yang diberikan berupa stimulan masyarakat harus dimotivasi untuk swadaya sehingga menjadi sarana sanitasi dasar yang lengkap (Depkes RI, 2000).

2.9. Kriteria Keberhasilan Program Klinik Sanitasi

Lingkungan mempunyai dua unsur pokok yang sangat erat kaitannya satu sama lain yaitu unsur fisik dan sosial, lingkungan fisik dapat mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan dan perilaku sehubungan dengan kesehatan seperti akibat pengelolaan limbah yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan penyakit antara lain ISPA, DBD, diare, Malaria, TBC serta penyakit kulit. Lingkungan sosial seperti ketidakadilan sosial

(38)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

yang menyebabkan kemiskinan yang berdampak terhadap status kesehatan masyarakat yang mengakibatkan timbulnya penyakit berbasis lingkungan (Depkes RI, 2001).

Keberhasilan pelaksanaan program klinik sanitasi ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan menjadi 80%, persentase keluarga menggunakan air bersih menjadi 85%, persentase keluarga menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan menjadi 80% dan persentase tempat-tempat umum yang sehat menjadi 80% (Depkes RI, 2006)

Selain itu indikator keberhasilan program klinik sanitasi dibagi dua yaitu (Depkes RI, 2000) :

2.9.1. Indikator Keberhasilan Langsung

a. Meningkatkan kunjungan klien dan menurunkan angka penderita penyakit

berbasis lingkungan.

b. Makin meningkat pembangunan sarana kesehatan lingkungan dengan swadaya masyarakat.

2.9.2. Indikator Tidak Langsung

a. Penurunan angka kejadian penyakit yang menjadi prioritas penanganan seperti diare, kecacingan, penyakit kulit, ISPA, TB-Paru, DBD, Malaria, penyakit akibat kerja, penyakit saluran pencernaan dan keracunan.

b. Terciptanya hubungan dan kerjasama yang baik antara lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas.

(39)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

c. Terbentuknya kelembagaan di tingkat desa/kelurahan yang aktif dalam

melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan secara swadaya dan berkesinambungan.

2.10. Alur Kegiatan Program Klinik Sanitasi

Penderita Klien/Masyarakat Umum P u s k e s m a s L O K E T Poliklinik Apotik Klinik Sanitasi Lok min/Pertemuan Bulanaan P U L A N G D a l a m G e d u n g

(40)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. Keterangan : - Penderita : - Klien : - Petugas : - Umpan Balik : Sumber Depkes RI 2000 Keterangan :

1. Pasien datang ke puskesmas, mendaftar di loket, diperiksa oleh medis/paramedis jika indikasinya menderita penyakit berbasis lingkungan maka dirujuk ke klinik sanitasi, di klinik sanitasi pasien dikonseling, diberikan penyuluhan serta membuat perjanjian kunjungan rumah untuk memecahkan masalah kesehatan

Koordinasi Masyarakat - Toga - Toma - LKMD - Guru Koordinasi Lintas Program - Pustu - Polindes/Bindes Koordinasi Lintas Sektor - Dep.Agama - Dep. PU - PMD - Pariwisata - Pertanian

- Sektor terkait lain

Kunjungan rumah dan lingkungan : lingkungan kerja, TTU, TPM, T i Implementasi dan rekomendasi perbaikan lingkungan Pemantauan Penilaian-PWS Pemantauan Penilaian-PWS L u a r G e d u n g

(41)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

lingkungan yang dialaminya kemudian pasien mengambil obat di apotek kemudian pulang.

2. Petugas berkoordinasi dengan lintas program melalui loka karya mini atau pertemuan bulanan.

3. Petugas melakukan kunjungan rumah dengan memberikan implementasi dan

rekomendasi perbaikan lingkungan

4. Klien datang ke puskesmas untuk berkonsultasi mengenai masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi untuk mencari cara pemecahan masalah.

5. Pemantauan wilayah setempat untuk dijadikan tolak ukur pelaksanaan program klinik sanitasi (Depkes RI 2000).

2.11. Kerangka Konsep

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Mutu Pelayanan Program Klinik Sanitasi 1. Petugas

(42)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Program Klinik Sanitasi Berhasil Tidak Berhasil

(43)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif, bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat keberhasilan pelaksanaan program klinik sanitasi di Kota Dumai Tahun 2009

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di seluruh puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Dumai, pertimbangan pemilihan lokasi ini, karena :

1. Belum pernah dilakukan penelitian mengenai analisa tingkat keberhasilan program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota Dumai.

2. Data yang diperoleh cukup untuk dijadikan sampel.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni sampai bulan Juli tahun 2009.

3.3. Objek dan Informan Penelitian 3.3.1. Objek Penelitian

Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah program klinik sanitasi di seluruh puskesmas di kota Dumai yang meliputi : petugas, sarana dan prasarana, dana, pedoman dan petunjuk teknis, jumlah penyakit berbasis lingkungan, jumlah pasien klinik sanitasi, jumlah klien klinik sanitasi, jumlah pasien/klien yang dikonseling, jumlah kunjungan rumah, kerjasama lintas program dan lintas sektor serta evaluasi program klinik sanitasi.

3.3.2. Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan teknik key person dengan mencari informan kunci di seluruh puskesmas, maka tiap puskesmas memiliki 1 orang informan

(44)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

yang dapat memberikan informasi mengenai objek penelitian ini, maka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah 1 orang petugas klinik sanitasi di 9 puskesmas (9 orang) dan 1 orang kepala seksi penyehatan lingkungan Dinas Kesehatan kota Dumai, maka total informan dalam penelitian ini adalah 10 orang.

3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui wawancara yang mendalam dengan petugas klinik sanitasi dipuskesmas, dengan kepala seksi penyehatan lingkungan Dinas kesehatan kota Dumai serta observasi langsung pada objek penelitian, hasil wawancara dan hasil observasi yang diperoleh di catat pada lembar wawancara dan lembar observasi yang telah di persiapkan.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Dumai dan dari seluruh puskesmas di Kota Dumai. Adapun data-data sekunder tersebut adalah :

1. Data jumlah sanitasi dasar yang ada dan memenuhi syarat di wilayah kerja puskesmas.

2. Data jumlah tempat pengolahan makanan dan minuman yang ada dan memenuhi syarat di wilayah kerja puskesmas.

3. Data jumlah tempat-tempat umum yang ada dan memenuhi syarat di wilayah kerja puskesmas.

4. Data jumlah tenaga sanitarian.

(45)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan dengan dua alat bantu untuk mendapatkan hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian yaitu dengan wawancara yang mendalam

(in-depth interview) serta observasi parsipasi (participant observer) dengan menggunakan check list (Bungin 2008) :

1. Petugas

a. Baik, jika petugas tersebut minimal berpendidikan SPPH, D III kesehatan lingkungan yang telah mendapat pengetahuan/orientasi mengenai program klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika petugas berpendidikan lain. 2. Sarana dan Prasarana

a. Baik, jika tersedia sarana dan prasarana untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika tidak tersedia sarana dan prasarana untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

3. Dana

a. Baik, jika tersedia dana untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika tidak tersedia dana untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

(46)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

a. Baik, jika petugas memiliki buku pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika petugas tidak memiliki buku pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan klinik sanitasi.

5. Jumlah penyakit berbasis lingkungan

a. Baik, jika penyakit berbasis lingkungan menurun diwilayah kerjanya.

b. Tidak baik, jika penyakit berbasis lingkungan meningkat diwilayah kerjanya. 6. Jumlah Kunjungan Pasien Klinik Sanitasi

a. Baik, jika semua pasien penderita penyakit berbasis lingkungan dirujuk ke klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika pasien penderita penyakit berbasis lingkungan tidak dirujuk ke klinik sanitasi.

7. Jumlah Kunjungan Klien Klinik sanitasi

a. Baik, jika kunjungan klien klinik sanitasi meningkat. b. Tidak baik, jika kunjungan klien klinik sanitasi menurun. 8. Jumlah Konseling

a. Baik, jika pasien/klien klinik sanitasi dikonseling oleh petugas klinik sanitasi b. Tidak baik, jika pasien/klien klinik sanitasi tidak dikonseling oleh petugas klinik

sanitasi

(47)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

a. Baik, jika pasien/klien klinik sanitasi dikunjungi rumahnya oleh petugas klinik sanitasi

b. Tidak baik, jika pasien/klien klinik sanitasi tidak dikunjungi rumahnya oleh petugas klinik sanitasi

10. Kerjasama lintas program

a. Baik, jika petugas bekerjasama dengan program lain yang ada di puskesmas

b. Tidak baik, jika petugas tidak bekerjasama dengan program lain yang di

puskesmas.

11. Kerjasama lintas sektor

a. Baik, jika petugas melakukan kerjasama lintas sektor dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan.

b. Tidak baik, jika petugas tidak menjalin kerjasama dengan lintas sektor. 12. Evaluasi

a. Baik, jika ada evaluasi program klinik sanitasi

b. Tidak baik, jika tidak ada evaluasi program klinik sanitasi 13. Program Klinik Sanitasi

a. Baik, jika tersedia petugas, sarana dan prasarana, dana, pedoman dan petunjuk teknis, jumlah penyakit berbasis lingkungan, jumlah pasien klinik sanitasi, jumlah klien klinik sanitasi, jumlah pasien/klien yang dikonseling, jumlah kunjungan rumah, kerjasama lintas program dan lintas sektor serta evaluasi program klinik sanitasi.

b. Tidak baik, jika tidak tersedia petugas, sarana dan prasarana, dana, pedoman dan petunjuk teknis, jumlah penyakit berbasis lingkungan, jumlah pasien klinik

(48)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

sanitasi, jumlah klien klinik sanitasi, jumlah pasien/klien yang dikonseling, jumlah kunjungan rumah, kerjasama lintas program dan lintas sektor serta evaluasi program klinik sanitasi.

14. Berhasil

a. Berhasil dengan baik, jika kunjungan klien klinik sanitasi meningkat dan kunjungan pasien penyakit berbasis lingkunan menurun serta tercapai target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan

b. Tidak berhasil dengan baik, jika kunjungan pasien penyakit berbasis lingkungan meningkat dan kunjungan klien klinik sanitasi menurun serta target tidak tercapai.

3.6. Defenisi Operasional

Untuk memahami keseluruhan dari penelitian ini, maka akan dikemukakan defenisi operasional dengan tujuan menghindari timbulnya perbedaan dalam pengertian.

1. Petugas adalah tenaga yang melaksanakan program klinik sanitasi di puskesmas minimal berpendidikan SPPH atau DIII kesehatan Lingkungan.

2. Sarana dan prasarana adalah segala fasilitas yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

3. Dana adalah sejumlah uang yang dipergunakan untuk pelaksanaan program klinik sanitasi.

4. Pedoman dan petunjuk teknis adalah buku pedoman yang dipergunakan oleh petugas pelaksana program klinik sanitasi.

5. Jumlah penyakit berbasis lingkungan yang meliputi antara lain ISPA, diare, TBC, DBD, Kecacingan, penyakit kulit dan malaria yang datang ke puskesmas.

(49)

Suriani : Analisa Tingkat Keberhasilan Program Klinik Sanitasi Di Seluruh Puskesmas Di Kota Dumai Tahun 2009, 2009.

6. Jumlah pasien klinik sanitasi adalah jumlah pasien penderita penyakit berbasis lingkungan yang dirujuk ke klinik sanitasi.

7. Jumlah klien klinik sanitasi adalah jumlah masyarakat umum yang datang ke puskesmas untuk berkonsultasi mengenai masalah kesehatan lingkungan.

8. Jumlah konseling adalah jumlah pasien/klien yang dikonseling oleh petugas klinik sanitasi.

9. Jumlah kunjungan rumah adalah jumlah pasien/klien yang dikunjungi rumahnya oleh petugas klinik sanitasi untuk memecahkan masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi.

10.Kerjasama lintas program adalah petugas klinik sanitasi berkoordinasi dengan petugas program lain yang ada di puskesmas.

11.Kerjasama lintas sektor adalah suatu kegiatan koordinasi dengan sektor untuk memecahkan masalah kesehatan lingkungan di wilayah kerjanya.

12.Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh petugas klinik sanitasi puskesmas dan seksi penyehatan lingkungan Dinas kesehatan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program.

13.Program klinik sanitasi adalah suatu program yang menangani penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan.

14.Berhasil adalah jika kunjungan klien klinik sanitasi meningkat dan kunjungan pasien penyakit berbasis lingkunan menurun serta mencapai target yang telah ditetapkan oleh Dinas Ksehatan.

Gambar

Tabel 4.1. Data Jumlah Tenaga Sanitasi di Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas  Kesehatan Kota Dumai Tahun 2009
Tabel 4.2. Data Jumlah Sarana Sanitasi Dasar Yang Ada di Kota Dumai
Tabel 4.3. Gambaran Petugas Pelaksana Klinik Sanitasi Menurut Pendidikan,   Jabatan dan Masa Kerja di masing-masing Puskesmas di Kota Dumai  Tahun 2009
Tabel 4.4.Hasil observasi terhadap surat penugasan, ijazah/SK dan sertifikat  pelatihan petugas pelaksana klinik sanitasi di seluruh puskesmas di Kota  Dumai Tahun 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

1 Penguasaan konsep sains yang disampaikan tidak menguasai konsep IPA dengan sangat baik, istilah- istilah yang digunakan tidak tepat kurang menguasai konsep IPA,

Masing – masing perusahaan yang membentuk industri pariwisata adalah perusahaan jasa ( service industry ) dan masing –masing bekerja sama menghasilkan produk ( good and service

Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan berpikir logika mahasiswa yang diajar menggunakan pendekatan SEA dibandingkan

Pada [4] metode Cryptosystem digunakan untuk mengenkripsi data atau pesan rahasia yang berupa teks angka dengan jumlah maksimum yang dimasukkan adalah 24 digit angka

Dengan pcn^gunaan metode pengakuan pendapatan berda­ sarkan saat penjualan, maka atas semua pembayaran yang diterima dari penjualan kartu-kartu langganan pada suatu periode

Variabel hubungan antar karyawan mempunyai pengaruh positif terhadap. kinerja karyawan di Pemerintahan Kabupaten

Majelis hakim dalam persidangan sudah mendengarkan keterangan terdakwa, saksi- saksi, Jaksa Penuntut Umum dan telah memperhatikan beberapa hal yang memberatkan dan

Barata Indonesia (Persero) Medan memiliki masalah dalam tata letak lantai produksinya dimana penyusunan stasiun kerja membentuk jarak yang tidak diperlukan yang disebabkan adanya