• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI GOD-PAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI GOD-PAP"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENETAPAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DENGAN

METODE GOD-PAP

Disusun oleh:

Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)

Kenny Ryan Limanto (098114006)

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENETAPAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DENGAN

METODE GOD-PAP

Disusun oleh:

Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)

Kenny Ryan Limanto (098114006)

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENETAPAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DENGAN

METODE GOD-PAP

Disusun oleh:

Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)

Kenny Ryan Limanto (098114006)

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

PERCOBAAN IV

PENETAPAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH

DENGAN METODE GOD-PAP

A. TUJUAN

Menentukan kadar glukosa dalam darah dengan metode GOD-PAP B. DASAR TEORI

Glukosa merupakan karbohidrat yang paling penting dalam biokimia mamalia karena hampir semua karbohidrat dalam makanan akan dikonersi menjadi glukosa untuk metabolisme selanjutnya (Murray, 1999).

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat pada buah-buahan dan madu lebah. Dalam alam, glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbon dioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun (Poedjiadi, 1994).

Penggunaan glukosa diatur dalam tubuh oleh insulin. Kelebihan glukosa akan diubah menjadi glukagon dan akan disimpan dalam hati dan otot , dan akan digunakan bila diperlukan dan akhirnya diubah menjadi lemak dan disimpan sebagai jaringan lemak (Anonim, 2002).

Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor yang sangat penting untuk kelancaran kerja tubuh. Kadar normal glukosa dalam darah adalah 70-90 mg/100 ml. keadaan di mana kadar glukosa berada di bawah 70 mg/ 100 ml disebut hipoglisemia, sedangkan jika di atas 90mg/ 100 ml disebut hiperglisemia. Hipoglisemia ekstrim dapat menghasilkan suatu rentetan reaksi goncangan yang ditunjukkan oleh gejala gemetarnya otot, perasaan lemah badan dan pucatnya warna kulit. Hipoglisemia yang serius dapat menyebabkan kehilangan kesadaran (pingsan) sebagai akibat kekurangan glukosa dalam otak yang perlu untuk pembentukan energi, sehingga kemudian dapat menyebabkan kematian (Wirahadikusuma, 1985).

Kadar glukosa yang tinggi merangsang pembentukan glikogen dari glukosa, sintesis asam lemak, dan kolesterol dari glukosa. Kadar glukosa antara 140-170 mg/ 100mL disebut kadar ambang ginjal. Gejala ini disebut glikosuria, yaitu keadaan ketidakmampuan ginjal untuk menyerap kembali glukosa yang telah mengalami filtrasi (Poedjiadi, 1994).

Hormon insulin berperan sentral dalam mengatur glukosa darah. Hormon ini

dihasilkan oleh sel β pulau Langerhans di pankreas sebagai respons terhadap hiperglikemia. Sel-sel β pulau Langerhans bersifat permeabel bebas terhadap glukosa melalui pengangkut GLUT 2, dan glukosa mengalami fosforilasi oleh glukokinase. Oleh karena itu peningkatan glukosa darah akan meningkatan aliran metabolik

(3)

melalui glikolisis, siklus asam sitrat, dan pembentukan ATP. Oleh karena itu, kadar insulin dalam darah setara dengan konsentrasi glukosa darah. Meskipun tidak secara langdung mempengaruhi penyerapan glukosa oleh hati, namun insulin meningkatkan penyerapan jangka panjang akibat kerjanya pada enzim-enzim yang mengendalikan glikolisis, glikogenesis, dan glukoneogenesis (Murray, 1999).

Glukosa ditetapkan kadarnya setelah dioksidasi secara enzimatis menggunakan enzim GOD (Glucose oksidase). H2O2 yang terbentuk kemudian bereaksi dengan fenol dan 4-aminoantipirin dengan katalis enzim peroksidase (POD) yang membentuk quinoneimine. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi glukosa dalam sampel (Anonim, 2009).

GOD (Glukosa-oksidase) adalah suatu enzim spesifik FAD yang diperoleh dari jamur, karena dipakai untuk penafsiran glukosa. Semua aerobic dehidrogenase yang diterangkan mengandung 2 molekul glukosa nukleotida. PAP (Phenol Amino Peroksidase) mengandung antigen atau antibody dalam patogen jaringan. Mempertahankan kadar glukosa dalam darah hingga stabil adalah salah satu yang paling baik pengaturannya dari semua mekanisme homeostatik (Mayes, 1984).

Glukosa + O2+ 2 H2O asam glukonat + H2O2

2 H2O2+ phenol + 4-aminoantipirin quinoneimine + 4 H2O (Diachem, 2007)

C. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

1. Sentrifuge 4. Efendorf

2. Tabung sentrifuge 5. Tabung reaksi 3. Mikropipet 6. Microlab-200

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1. Reagen, yang terdiri dari :

- Fosfat buffer - 4-amino antipirin - Glucose oksidase (GOD) - Peroksidase (POD) 2. Aquabidest 3. Serum/plasma darah GOD POD

(4)

D. SKEMA KERJA 1. Pembuatan Blanko

Mengambil aquadest sebanyak 10 µL

Memasukkannya ke dalam tabung reaksi

2. Pembuatan larutan standar

Mengambil 1000 µL reagen dalam tabung reaksi

Menambahkan 10 µL larutan standard glukosa

3. Pembuatan larutan sampel

Mengambil 1000 µL reagen dalam tabung reaksi

Menambahkan 10 µL serum darah tikus sebagai sampel yang akan diuji

Melakukan replikasi (didapat 2 larutan sampel tiap kelompok)

4. Pengukuran dengan Microlab-200

Memvortex semua larutan yang telah dibuat

Mendiamkannya selama operating time , kurang lebih 20-25 menit

Mengukur aktivitas serumnya dengan Microlab-200 pada panjang gelombang 546 nm

(5)

E. DATA PENGAMATAN komposisi kadar ( ) Absorbansi ( ) ( − ) | − | blanko 10 µL aquadest - 0 128,889 - -standar 10 µL larutan standard glukosa + 1000 µL reagen 160 0,409 31,111 967,894

sampel 1 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 224 - 95,111 9046,102

sampel 2 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 158 - 29,111 847,450 standar 10 µL larutan standard glukosa + 1000 µL reagen 100 - -28,889 834,574

sampel 3 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 146 - 17,111 292,786

sampel 4 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 78 - -50,889 2589,690 standar 10 µL larutan standard glukosa + 1000 µL reagen 101 - -27,889 777,796

sampel 5 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 93 - -35,889 1288,020

sampel 6 10 µL serum tikus +

1000 µL reagen 100 - -28,889 834,574 | − | 17478,886 ( ) = ∑| − 1 =− | 17478,8869 − 1 = 17478,8868 = 46, 742 ∶ ± = (128,889 −46, 742) − (128,889 +46, 742) = 82,147 − 175,631

Data yang tidak masuk dalam range, data sampel 1 yang menunjukkan kadar 224 mg/ dL dan data sampel 4 yang menunjukkan kadar 78 mg/ dL.

(6)

F. PEMBAHASAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar glukosa dalam darah dengan metode GOD-PAP. Metode GOD-PAP adalah salah satu metode penentuan kadar glukosa sesudah oksidasi enzimatik oleh glukosa oksidase.

Reaksinya adalah :

Pada reaksi di atas , glukosa oksidase (GOD) mengkatalisis oksidase glukosa,pada reaksi ini terbentuk H2O2 , yang dengan adanya peroksidase (POD) akan bereaksi dengan fenol dan

amino-antipirin. Sebenarnya dapat digunakan 2,4-dichloro phenol, namun karena susah didapat, sifatnya yang tak stabil dan harganya mahal, maka digunakan fenol dalam percobaan ini. Oksidasi ini akan menimbulkan zat warna yang intensitasnya sebanding dengan kadar glukosa, diukur secara fotometrik. Reaksinya:

Prinsip dari pengujian ini adalah dengan menembakkan panjang gelombang tertentu (dalam percobaan ini, digunakan λ = 546 nm) pada suatu senyawa. Karena cahaya yang ditembakkan mengandung energi ( = ℎ ), hal ini akan membuat elektron dari senyawa tersebut akan tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi. Setelah mengalami eksitasi, elektron tersebut akan turun kembali ke

ground state (keadaan dasar), sambil melepaskan emisi yang kemudian dapat diukur oleh Microlab-200. Salah satu yang memegang peran dalam pengujian ini adalah gugusan kromofor (ikatan rangkap

terkonjugasi), yang dapat menangkap panjang gelombang tertentu.

Metode GOD-PAP ini memiliki akurasi dan presisi yang baik karena enzim GOD spesifik untuk reaksi pertama. Sedangkan pada reaksi kedua rawan interferen (sifatnya tidak spesifik). Interferen yang dapat mengganggu antara lain bilirubin, asam urat , asam askorbat. Untuk itu bagian yang diuji bagian serumnya, protein darah (sel padatnya) tidak boleh ikut terambil.

Pada praktikum yang digunakan adalah darah tikus. Tikus tidak dalam keadaan puasa karena kadar glukosanya akan menurun. Pada tubuh manusia, pengaturan kadar glukosa dalam darah berkaitan erat dengan hormon insulin dan glukagon. Pada waktu kadar glukosa darah naik, hormon insulin disekresikan, yang akan menurunkan kadar glukosa darah. Dalam keadaan puasa, kadar glukosa darah menurun, hormon glukagon disekresikan untuk meningkatkan kadar glukosa darah. Keduanya bekerja berlawanan, hormon insulin dihasilkan oleh sel-sel beta pulau Langerhans dan glukagon dihasilkan oleh sel-sel alfa pulau Langerhans. Gangguan pada pengeluaran hormon insulin dapat menyebabkan penimbunan glukosa dalam darah (hiperglikemia = di atas 90 mg / 100mL) yang kita kenal sebagai penyakit diabetes melitus. Sebaliknya jika hormon glukagon tidak disekresikan dengan baik maka kita dapat merasakan pusing, gemetar, lemah, pucat, hipoglikemia (di bawah 70

(7)

mg/ 100mL) dapat mengakibatkan pingsan sebagai akibat kekurangan glukosa dalam otak yang perlu untuk pembentukan energi. Kemudian dapat menyebabkan kematian (Wirahadikusuma, 1985).

Setelah itu dilakukan sentrifugasi (pemisahan campuran berdasarkan perbedaan berat jenis). Kecepatan yang digunakan 3000 rpm. Setelah memisah, terdapat bagian yang menggumpal dan cairan yang bening. Yang diambil adalah cairan bening itu (serumnya), selain sudah dijelaskan di atas, akan ada interferen dari protein-protein darahnya, juga karena yang dibutuhkan pada percobaan ini adalah bagian cair bening yang dapat ditembus cahaya, sedangkan padatan tentu tidak bisa ditembus oleh cahaya sehingga jika plasma darah dalam serum itu mengalami lisis, maka tidak dapat diukur menggunakan Microlab-200, karena prinsip dari Microlab-200 itu sendiri adalah spektroskopi, yang bisa mengukur jika larutan itu bening sehingga dapat ditembus oleh cahaya.

Setelah serum didapat , diambil sebanyak 10 µL dan ditambahkan reagen sebanyak 1000 µL dan di-vortex dengan tujuan agar serum dan reagen homogen. Larutan direplikasi sebanyak 2, sehingga masing-masing tabung berisi 5 µL serum dan 500 µL reagen. Larutan blanko dibuat dengan mengambil aquadest sebanyak 10 µL. Tujuan dari pembuatan larutan blanko adalah untuk membuktikan bahwa aquadest (pelarut) yang digunakan tidak memiliki daya absorbansi (sama dengan nol) sehingga ketika kita mengukur sampel, hanya kadar yang ingin kita ukur saja (glukosanya) yang terbaca. Kemudian dibuat juga larutan standard yang berisi 1000 µL reagen dan 10 µL larutan standard glukosa. Larutan standard ini sebagai pembanding kedua sampel yang ada. Kemudian setelahnya didiamkan selama 20-25 menit (operating time) supaya didapatkan hasil optimal di mana reagen dan serum bereaksi optimal.

Langkah selanjutnya adalah mengukur aktivitas serum dengan Microlab-200 pada panjang gelombang 546 nm. Pada panjang gelombang inilah daya absorbansinya optimal. Pada saat akan menggunakan Microlab, pipa perlu dicuci dengan aquadest dengan tujuan supaya tidak terkontaminasi senyawa/ bahan-bahan sebelumnya.

Glukosa oksidase (GOD) adalah enzim yang mengkatalisis oksidasi β-D-glukosa menjadi glukonolakton yang kemudian dengan adanya molekul air terhidrolisis menjadi asam glukolonat dan peroksida. Reaksinya sebagai berikut:

β-D-glukosa + FAD β-D-glukonolakton + FADH2

β-D-glukonolakton + H2O asam D-glukolonat

FADH2+ O2 H2O2+ FAD

β-D-glukosa + O2+ H2O asam-D-glukolonat + H2O2 (Whitaker, 1972).

Berdasarkan teori seharusnya kadar glukosa normal dalam darah adalah sekitar 70-110 mg/dl, namun pada percobaan kami dihasilkan kadar glukosa yang sangat tinggi melebihi standar, hal ini dapat disebabkan karena pemipetan serum yang kurang benar dan pencucian alat yang tidak bersih, sehingga masih ada zat pengotor lainnya yang tertinggal di dalam tabung reaksi. Hal ini dapat mengganggu hasil pengukuran dengan Microlab-200 yang sensitif.

Dari data-data di atas, didapatkan range dari hasil percobaan sebesar 82,147 −

175,631 . Dari range tersebut, terdapat dua data yang tidak masuk dalam range tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan, baik dari pemipetan maupun pencucian alat yang kurang bersih.

(8)

G. KESIMPULAN

1. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan data sebagai berikut: a. Range kadar glukosa yang didapat sebesar82,147 − 175,631 b. Kadar rata-rata dari glukosa yang diuji sebesar128,889 mg/ dL

2. Kadar glukosa terbesar sebesar 224 mg/ dL, kadar glukosa terkecil sebesar 78 mg/ dL

3. Reaksi dalam percobaan ini adalah

O HO OH HO OH HO glucose O O oxygen H O H water O OH HO OH HO O HO glucuronic acid HO OH hydrogen peroxide HO OH hydrogen peroxide O N N NH2 4-aminoantipyrine HO phenol O HN quinone imine H. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2002, Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29, 931-932, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Anonim, 2009, Glucose GOD-PAP, http://www.chemoquip.com/html/downloads/18.pdf+god +pap&cd=10&hl=id&ct=clnk=&gl=id, diakses tanggal 6 April 2010

Diachem, 2007, GLUCOSE GOD/PAP DIACHEM Ltd, http://www.diachem.hu/CE%20Diag on%20angol%20utas/Glucose_PAP_stable_liliqu.pdf, diakses tanggal 19 April 2010 Mayes, P. A. A., 1984, Biokimia, 146, 284, 285, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Murray, R. F., 1999, Biokimia Harper edisi 24, 141-142, EGC, Jakarta

Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, 8-11, UI Press, Jakarta

Whitaker, R.J., 1972, Principle of Enzimology for The Food Science, 561-570, Mergel Dekker Inc., New York

Wirahadikusumah, M., 1985, Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat, dan Lipid, 127-128, ITB Press, Bandung

(9)

Yogyakarta, 20 April 2010 Praktikan,

1. Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)

2. Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)

Referensi

Dokumen terkait

Jika sebuah layer ditampilkan, dengan cara mencentang kotak kecil sebelum nama layer pada kotak Table Of Contents, maka ArcMap akan menampilkan layer tersebut pada jendela Data

Berdasarkan hasil penelitian dari proses pengujian data dapat beberapa kesimpulan dari tujuan peneitian antara lain: 1) Pertama, dari hasil penelitian ini dapat

Objek Garapan Batasan Cara Pengerjaan Batas Waktu Deskripsi Luaran tugas yang dihasilkan 1 dan 2 Menyelesaikan soal-soal esai: -Metode Debet dan Kredit -Laporan

Analisis dilakukan dengan cara mengklasifikasikan data sesuai dengan faktor penyebab terjadinya campur kode dari data tersebut sehingga dapat diketahui faktor apa

Praktek Kerja Lapang (PKL) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan di berbagai perusahaan dan

sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia baik secara individu maupun secara kelompok dan akibat dari hubungan

untuk menyimpan berita acara rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara di tingkat kecamatan, sertifikat hasil dan rincian penghitungan perolehan suara dari

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan jadwal yang optimal atau hasil makespan minimum yaitu dengan metode Campbell Dudeck Smith (CDS)