BAHAN KULIAH
PSIKOLOGI PERSEPSI
Dra. Lies Neni Budiarti, M.Si
1. Pengertian/definisi
Asal kata Psikologi berasal dari kata “psycho” (jiwa/kejiwaan) dan “logos” (ilmu).
Saat ini imu psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku atau proses-‐
proses mental/psikologis yang terjadi pada diri seseorang.
Sedangkan arti leksikal dari persepsi (perception) adalah tanggapan, daya tangkap,
pemahaman.
Dengan demikian, Psikologi Persepsi merupakan bidang ilmu psikologi yang
mempelajari proses yang terjadi pada diri individu manusia di dalam
menanggapi/memahami lingkungannya.
Guna lebih memahami persepsi, beberapa definisi yang disampaikan oleh para ahli,
dapat dijadikan acuan;
CLLIFORD T. MORGAN
Persepsi adalah suatu proses membedakan rangsang (stimulus) yang satu dari yang
lain dengan melakukan interpretasi terhadap rangsang tersebut.
EDGAR F. HUSE & JAMES L. BOWDITH
Persepsi merupakan proses pengorganisasian data yang masuk ke sistem sensorik.
SCHERMERHON
Persepsi adalah proses yang terjadi saat orang memilih, menerima, mengorganisasi
dan menterjemahkan informasi dari lingkungan.
Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa;
Persepsi
adalah suatu proses penyadaran rangsang-‐rangsang yang hadir di sekitar kita
sehingga terjadi penilaian atau pengertian tentang rangsang tersebut
atau,
memberikan makna/arti pada suatu objek berdasarkan stimulus indrawi.
Dengan demikian secara singkat proses persepsi dapat diterangkan sebagai berikut
STIMULUS – INDRA – OTAK
STIMULUS – SENSASI – PERSEPSI
STIMULUS – ORGANISASI -‐ INTERPRETASI
Pada persepsi terjadi pemaknaan atau interpretasi terhadap stimulus atau objek yang mengandung muatan-‐muatan subjektif, berbeda dengan sensasi/pengindraan/proses sensorik yang lebih objektif sifatnya.
Sikap dan perilaku manusia dalam keseharian tidak lepas dari bagaimana persepsinya terhadap lingkungan yang hadir disekitarnya. Apakah lingkungan fisik, atau lingkungan non fisik (sosial) yang merupakan stimulus luar yang ditangkap oleh indera, diamati, dan diinterpretasikan/dipersepsi, serta kemudian menimbulkan sikap atau perilaku terhadap objek yang berada dalam lingkungan itu. Persepsi merupakan proses penting dalam membantu pembuatan keputusan seseorang atas sikap dan perilaku yang akan dimunculkannya.
Untuk lebih jelasnya, diagram alur penangkapan stimulus sampai terjadinya perilaku/sikap, dapat dilihat/dipelajari pada halaman 4.
VARIABEL-‐VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Secara umum variabel penting yang berpengaruh pada persepsi adalah 1. Stimulus/ransang
2. Situasi
3. Orang (person.
1. Stimulus/rangsang
Faktor-‐faktor yang merupakan variabel stimulus disebut juga sebagai faktor struktural, yang berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-‐efek syaraf yang ditimbulkan prinsip-‐prinsip yang bersifat struktural, selain karakteristik yang berupa elemen indrawi (sensory element) seperti; bau, rasa, suara, cahaya, serta warna.
Faktor ini juga bisa berupa elemen struktural seperti ukuran, posisi, kontras, dan warna. Warna, selain memiliki konotasi indrawi yang sangat penting atau memiliki efek psikologis tertentu, juga secara struktural, warna dapat mempengaruhi persepsi. Contoh, warna-‐warni sebuah dalam majalah lebih menarik perhatian daripada hitam putihnya surat kabar/koran (bahasan mengenai warna akan diulas lebih rinci di dalam sub bab mengenai persepsi warna).
Biasanya stimuli yang mampu menarik perhatianlah yang akan diamati/dipersepsi secara lebih intens. Ketika suatu stimulus hadir di sekitar seseorang, perhatian (atensi) terhadap stimulus merupakan momen sentral psikis yang terjadi pada diri orang itu;
Sensasi Persepsi
momen fisis -‐-‐-‐-‐-‐-‐-‐ momen fisiologis -‐-‐-‐-‐-‐-‐-‐-‐-‐ momen psikis
(stimuli) (”atensi” – momen sentral psikis)
Rangsang akan menarik perhatian untuk dipersepsi apabila memiliki intensitas yang kuat dalam hal; - bentuk - ukuran - warna - frekuensi - gerakan.
2. Situasi
Kondisi lingkungan fisik atau sosial yang melatari kehadiran stimulus.
3. Orang (person)
Yang termasuk ke dalam variabel ini adalah faktor-‐faktor seperti; - jenis kelamin
- umus - pendidikan
- pengetahuan & pengalaman - kebutuhan/motif
- sikap - asumsi - kepercayaan
Proses persepsi dipengaruhi oleh pengalaman-‐pengalaman masa lalu dan antisipasinya terhadap hal-‐hal yang akan datang.
Keseluruhan faktor-‐faktor tersebut di atas diorganisasikan ke dalam suatu fungsi yang disebut dengan ”kerangka acuan” (frame of reference).
Pengertian kerangka acuan (frame of reference) menurut H.J. Eysenck: suatu dasar yang digunakan untuk memperbandingkan
persepsi dengan kenyataan pada suatu peristiwa.
Kerangka acuan ini terbentuk atau didasari; - tradisi, - norma, nilai, - budaya, - pengalaman, - pengetahuan.
TEORI SOBA
Maier (1965) mengajukan suatu penjelasan mengenai proses penerimaan stimulus sampai timbulnya tingkah laku manusia dalam suatu formulasi yang disebut;
S O B A
Stimulus – Organism – Behavior -‐ Accomplishment
Tingkah laku individu menurut Maier dapat diuraikan sebagai berikut;
a. Interaksi antara individu & situasi
Situasi merupakan sumber stimulasi dan tingkah laku merupakan respon organisme terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan.
Individu selalu dihadapkan pada berbagai stimulus dan
dalam situasi tertentu dapat bereaksi terhadap sejumlah stimulus. Reaksinya bergantung pada karakteristik individu dan kondisi saat itu.
Individu biasanya melakukan seleksi terhadap stimulus, ia mengorganisasikan dan menginterpretasikan lingkungan sebagai sumber stimulus tempat ia berada.
Reaksi yang terjadi adalah reaksi bolak-‐balik. Kondisi individu mempengaruhi stimulus dan sebaliknya stimulus pun mempengaruhi individu.
Dalam psikologi, hasil dari interaksi stimulus dan individu ini disebut sebagai persepsi.
b. Tingkah laku dan hasil akhir
Tingkah laku merupakan reaksi individu setelah menerima rangsang dari lingkungan dan mengarah pada suatu konsekuensi yang disebut sebagai
hasil akhir.
Hasil akhir ini dapat berupa hal-‐hal yang diinginkan dan hal-‐hal yang tidak diinginkan.
Apapun hasil akhir yang terjadi, semuanya akan memberikan kesempatan
untuk belajar, yang akan merangsang individu dan mempengaruhi tingkah lakunya di masa yang akan datang dengan menumbuhkan antisipasi.
c. Keurutan hubungan sebab-‐akibat dalam tingkah laku
Interaksi antara variabel individu dan variabel situasi (lingkungan) akan mengakibatkan suatu proses.
Tingkah laku adalah proses interaksi antara variabel individu dan variabel situasional.
S = Stimulus
merupakan situasi yang memberikan rangsangan kepada organisme (individu), meliputi;
cahaya, suara, pekerjaan, rutinitas, orang lain, tingkah laku orang lain, dlsb.
O = Organism
Organisme (individu) berinteraksi dengan lingkungan (stimulus, situasi), menyebabkan timbulnya interpretasi dan persepsi
terhadap situasi/lingkungan.
Kondisi ini ditunjukkan oleh arah panah bolak-‐balik antara organisme dan stimulus.
Organisme meliputi;
hereditas, biological needs, pengetahuan, kecakapan, kebutuhan-‐kebutuhan tertentu, sikap, nilai, dlsb.
B = Behavior
Tingkah laku merupakan reaksi individu terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan.
Tingkah laku ini meliputi;
gerakan tubuh, bicara, berpikir, ekspresi wajah, respon-‐respon emosional, dlsb.
A = Accomplishment
Hasil (accomplishment) merupakan konsekuensi dari
tingkah laku, meliputi; perubahan stimulasi, penghindaran, kecelakaan, penyerangan, dlsb.
Bagan S O B A tersebut di atas memperlihatkan bahwa;
S (stimulus) berinteraksi dengan O (organism) dan hasil interaksi ini menghasilkan B (behavior)
B behavior)dapat menyebabkan perubahan antara O (organism) dengan lingkungannya, atau mempengaruhi lingkungan lain.
Akibat yang dihasilkan oleh B (behavior)adalah A (accomplishment). A (accomplishment) bisa diinginkan atau tidak diinginkan,
akan tetapi A (accomplishment) selalu merupakan hasil dari B (behavior).
A (accomplishment) dapat menjadi perangsang munculnya tingkah laku selanjutnya, atau dapat menimbulkan tingkah laku baru, dan
dengan demikian menciptakan situasi baru bagi organisme.
Proses S -‐ O – B -‐ A ini akan berulang lagi tergantung apakah menjadi perangsang tingkah laku selanjutnya atau tidak.
Fakta atau stimulus di lingkungan dipersepsikan oleh individu, kemudian dievaluasi atau diinterpretasikan.
Melalui kognisi, fakta yang telah dipersepsi akan berwujud (menjadi) pengetahuan. Apabila interpretasi tersebut ”menyentuh” afeksi, maka akan terbentuk sikap tertentu atas fakta tadi. Sikap ini akan berpengaruh pada motif individu. Sikap juga merupakan predisposisi dari tingkah laku.
Berbagai tingkah laku akan membentuk pengalaman individu yang merupakan panduan dari nilai yang dianut oleh individu yang bersangkutan.
Jadi, sikap, motif, tingkah laku, dan nilai mempengaruhi cara individu mempersepsikan fakta selanjutnya.
Menurut Schermerhon (1991), melalui persepsi individu melakukan proses masukan informasi sampai terjadinya keputusan dan tindakan.
Proses ini adalah cara untuk memperoleh bentuk mengenai diri sendiri, orang lain, dan pengalaman hidup sehari-‐hari.
Kualitas atau keakuratan dari persepsi seseorang memiliki pengaruh besar pada keputusan dan tindakan
yang dilakukannya pada situasi tertentu, karena manusia berespon pada situasi berdasarkan persepsinya.
2. SENSASI – PERSEPSI
Definisi Sensasi-‐ adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan alat indra (Benyamin B. Wolman).
-‐ bila alat-‐alat indra mengubah informasi (stimuli) menjadi impuls-‐impuls syaraf dengan ‘bahasa’ yang dipahami oleh otak maka terjadilah Sensasi
(Dennis Coon).
SENSASI: fenomena yang terjadi akibat proses sensorik yang
(pengindraan) berkaitan dengan alat-‐alat indra (senses), yang mencakup; § mata -‐-‐-‐ sight (visual)
§ telinga -‐-‐-‐ hearing (auditoris) § hidung -‐-‐-‐ smell (olfaktoris) § lidah -‐-‐-‐ taste (gustasi)
§ kulit -‐-‐-‐ touch; tekanan, temperatur & nyeri § orientasi dan gerakan tubuh (kinestesi)
Proses Sensorik: mekanisme kerja alat indra(pengindraan) merupakan tahap paling awal manusia dalam menerima informasi dari lingkungan.
Stimulus/stimuli: rangsang -‐-‐-‐-‐ melanda alat indra
Sense/alat indra: menghubungkan organisme dengan lingkungan.
RESEPTOR-‐RESEPTOR INDRA:
-‐ Eksteroseptor ; reseptor yang menerima/menangkap informasi dari luar tubuh (dikenal dengan panca indra).
-‐ Interoseptor ; reseptor yang mengolah informasi dalam tubuh seperti gerakan peristaltik usus, pernafasan, detak jantung/
tekanan darah.
-‐ Proprioseptor ; reseptor yang menangkap informasi orientasi & gerakan tubuh (kinestesi).
SIFAT SEMUA INDRA
-‐ memiliki sensitivitas;
§ terhadap intensitas -‐-‐-‐ diukur oleh ambang mutlak (absolute threshold): jumlah minimum energi stimulus yang dapat dideteksi.
§ terhadap perubahan intensitas -‐-‐-‐ diukur oleh perbedaan ambang (differential threshold)
perbedaan minimum antara dua stimuli yang dapat dideteksi.
§ Jumlah perubahan yang diperlukan untuk terjadinya deteksi, meningkat bersamaan dengan intensitas awal stimulus, dan kira-‐kira proporsional dengannya (hukum Weber).
Bagan Sistem Indera Bahasan Indra Stimuli Reseptor Ambang Mutlak (sensitivitas) EKSTEROSEPTOR mata (visual) cahaya kornea/lapisan tipis pada permukaan mata Panjang gelombang: 380 – 780 nanometer telinga (auditoris)
suara sel rambut halus di dalam telinga Frekuensi gelombang suara : 20 – 20.000 hertz hidung (olvaktoris) bau-‐bauan, aroma
silia dengan lapisan lemak lidah (gustasi) substansi rasa (dipengaruhi pengalaman masa lalu & susunan genetik
bintik pengecap di permukaan lidah kulit (perabaan) tekanan/tekstur besar; pd bibir, hidung, pipi kecil; pd ibu jari
temperatur/suhu
reseptor panas & dingin yang teraktivasi
10° -‐ 45° Celcius -‐ 10°C menggigil 45°C + kepanasan
rasa sakit/ stimulus
bahaya
(pengaruh kultur & pengalaman) reseptor nyeri INTEROSEPTOR sistem peredaran darah sistem pernafasan sistem pencernaan
PROPRIOSEPTOR Orientasi tubuh Vestibular,
Keseimbangan tubuh
Orientasi yang berkaitan dengan gravitasi & kesadaran ruang
Gerak Kinestesi Posisi & gerak anggota
tubuh thd badan
3. PROSES PERSEPTUAL
Dalam proses pengindraan (sensasi), informasi mungkin memasuki indera dalam bentuk potongan-‐potongan atau bagian-‐bagian, namun tidak demikian cara kita mempersepsi, kita mempersepsi dunia, hal-‐hal yang ada disekitar yang melanda diri kita dalam kutuhan yang terintegrasi, tidak berupa bagian-‐bagian/potongan. Contoh mempersepsi wajah. Dalam kondisi tidak biasa saja mungkin kita mempersepsi ciri individu atau bagian dari stimuli.
Penelitian persepsi menunjukkan bagaimana manusia mengintegrasikan sensasi ke dalam percepts objek, dan bagaimana selanjutnya menggunakan percepts itu untuk mengenali dunia. Masalah apa yang dipecahkan oleh sistem perseptual, hasil penelitian David Marr melaporkan bahwa sistem persepsi menentukan (fungsi persepsi) :
a) objek apa yang ada (fungsi rekognisi) b) dimana objek itu berada (fungsi lokalisasi)
Fungsi pengenalan pola stimulus yang dikenal dengan rekognisi (recognition) ini merupakan fungsi penting bagi kelangsungan hidup manusia, kita seringkali hatus mengetahui dulu apa objek itu sebelum kita mengenali sifat-‐sifat penting dari objek itu. Misalnya setelah kita tahu oh itu apel, kita tahu rasanya segar, atau kita tahu objek itu ular, kita tahu bahwa harus hati-‐ hati/menghindarinya
Hal penting lainnya bagi kelangsungan hidup adalah menentukan dimana objek itu berada, dikenal dengan istilah lokalisasi spatial. Lokalisasi adalah cara kita bernavigasi di dalam lingkungan kita. Tanpa kemampuan seperti itu, mungkin kita akan terus-‐terusan menabrak benda atau jalan ke arah binatang yang berbahaya, atau tidak dapat mengambil benda yang ingin kita raih.
Kedua fungsi ini (rekognisi & lokalisasi spatial), walaupun tidak sepenuhnya terpisah dalam hal bahwa kedua fungsi ini sama memerlukan informasi mengenai ’bentuk’, temuan riset melaporkan bahwa keduanya dilakukan oleh daerah otak yang berbeda.
Rekognisi objek, tergantung pada cabang sistem visual yang mencakup area cortikal penglihatan (area pertama di korteks untuk menerima informasi visual, dan daerah dekat dasar otak).
Sementara lokalisasi objek adalah daerah korteks dekat puncak/bagian atas otak.
Hasil riset Mishkin & Appenzeller (1987) yang dilakukan terhadap hewan, menunjukkan bukti;
- jika cabang otak yang bertugas untuk rekognisi terganggu, maka hewan masih bisa menentukan hubungan spasial diantara objek (objek yang satu di depan objek yang lain), tapi tidak bisa membedakan objek aktual itu, misalnya ini silinder, ini kubus. - Jika cabang lokalisasi yang terganggu, dapat membedakan silinder dari kubus,
Riset Haxby, dkk (1990) dengan menggunakan teknik brain scanning pada otak manusia membuktikan bahwa tugas rekognisi dan lokalisasi sebagai suatu tugas dari cabang sistem visual yang tersendiri.
Saat seseorang melakukan tugas yang menekankan pengenalan objek (rekognisi), terjadi peningkatan aliran darah terutama pada cabang pengenalan di korteks. Dan bila tugas lokalisasi yang dilakukan, aliran darah meningkat pada cabang lokalisasi (area korteks dekat puncak otak).
Selain rekognisi & lokalisasi, tugas lain dari sistem perseptual adalah mempertahankan penampilan objek tetap konstan (kekonstanan perseptual). Lokalisasi dan kekonstanan persepsiakan dibicarakan pada bahasan mengenai persepsi gestalt (total) dan persepsi jarak/kedalaman.
Matlin di dalam bukunya ”Cognition”, memaparkan bahwa pattern of recognition (rekognisi pola) merupakan aspek persepsi yang terkait dengan fungsi kognitif manusia, selain attention (perhatian).
Rekognisi pola mencakup pengidentifikasian serangkaian stimulasi pengindraan yang kompleks, seperti tulisan alpabetis, wajah seseorang, atau pemandangan.
Bila kita belajar sambil mendengarkan obrolan seorang teman, maka kita akan mengalami perhatian yang terbatas. Penelitian membuktikan, unjuk kerja seseorang akan menurun apabila perhatiannya terbagi atas dua hal atau dua macam tugas sekaligus. Demikian pula apabila secara selektif kita hanya memperhatikan satu jenis tugas, maka kemampuan me-‐ recall kita akan menjadi berkurang atas tugas-‐tugas lain yang tidak relevan.
Persepsi berlangsung dengan amat mudahnya. Hanya dengan memutar kepala, sistem perseptual akan mencatat pelbagai hal yang ada disekitar kita. Dibandingkan dengan tugas kognitif lain seperti problem solving atau decision making, maka persepsi merupakan proses yang tidak memerlukan upaya apapun. Namun demikian, hingga saat ini tidak ada satu pun komputer yang bisa menirukan stimuli yang mampu dipersepsi manusia (Hoffman, 1986).
Selain itu, persepsi merupakan proses yang memanfaatkan pengetahuan masa lalu untuk mengumpulkan dan memaknakan stimuli yang telah didaftar oleh organ pengindraan. Misalnya kita menggunakan persepsi untuk memaknakan setiap huruf yang terdapat pada halaman ini. Perhatikan bagaimana kita mengatur untuk memepersepsi huruf n pada kata perception. Kita mengkombinasikan informasi yang didaftar oleh mata dengan pengalaman sebelumnya tentang apa yang terjadi apabila sistem visual berhadapan dengan kata perception tersebut.
Jadi disini, persepsi menggabungkan aspek di luar diri (yaitu stimulus) dengan aspek di dalam diri (yaitu pengalaman masa lalu).
3.1. REKOGNISI POLA (Pattern Recognition)
Untuk mengilustrasikan kemampuan manusia di dalam merekognisi pola-‐pola, kita perhatikan demo berikut ini:
Pasang televisi dengan volume 0. Lalu pindahkan saluran sambil menutup mata. Di saluran ini segera buka mata tetapi segera itu pula televisi dimatikan. Perhatikan bagaimana kita dengan cepat dapat mengidentifikasi dan memaknakan imej yang ada pada layar TV kendati sebelumnya belum pernah melihat imej yang sama. Dalam waktu 1 detik dan tanpa kerja keras kita dapat mengenali warna, tekstur, kontur, benda, dan orang.
Demo ini diprakarsai oleh Irving Briedermann (1990) yang menyatakan, manusia bisa memaknakan arti tayangan dalam waktu 1/10 detik. Perhatikan pula bahwa kita dapat merekognisi imej-‐imej yang disajikan di layar televise dengan cepat (5 tayangan per detik).
Ini berarti secara cepat dan efisien, manusia dapat merekognisi pola stimulus.
Rekognisi pola adalah proses mengidentifikasikan serangkaian stimuli pengindraan yang kompleks. Ketika kita merekognisi suatu pola, maka indra kita akan mengubah dan mengorganisasikan informasi yang masih mentah yang diberikan oleh reseptor pengindraan, lalu informasi ini akan dibandingkan dengan informasi yang telah tersimpan di dalam ingatan (memory).
Merekognisi suatu objek, memerlukan penggolongan ke dalam suatu kategori (seekor kucing, sebuah topi, itu Ani, ini Steven). Dengan pengenalan objek memungkinkan kita utuk mengambil kesimpulan dari banyak sifat tersembunyi dari objek. Jika objek itu baju misalnya, maka kita tahu terbuat dari kain, kita dapat memakainya, kuno modelnya, dlsb.
Atribut dari suatu objek yang digunakan untuk mengenalinya, antara lain : - bentuk - ukuran - warna - tekstur - orientasi/posisi,
Atribut bentuk memiliki peran yang penting, contohnya ketika kita mengenali sebuah ’cangkir’, tanpa memandang cangkir itu besar – kecil (ukuran), atau cokelat – putih (warna), halus – kasar (tekstur), tegak – terbalik (orientasi).
Walaupun semua atribut itu dapat berperan, tapi kemampuan kita untuk mengenali benda terpengaruhi oleh bentuk, karena jika sebagian bentuk cangkir disembunyikan kita mungkin tidak mengenalinya sama sekali.
Salahsatu bukti bahwa bentuk itu penting adalah misalnya meskipun hanya berupa gambar sketsa sederhana, tetap kita bisa mengenali objek itu sebaik kita melihat objek tersebut dalam foto berwarna yang tentunya banyak memiliki atribut lainnya selain bentuk.
Tahapan Pengenalan (Rekognisi): -‐ tahap awal (Marr, 1982) -‐ tahap lanjut
Sistem persepsi pada tahap awal, menggunakan informasi pada retina terutama variasi intensitasnya untuk mendeskripsikan objek dalam kaitan dengan komponen dasarnya seperti garis, tepi, sudut. Pada tahap lanjut, sistem membandingkan deskripsi objek itu dengan deskripsi bentuk berbagai kategori objek yang disimpan di memori visual dan memilih yang paling cocok/tepat.
Bagaimana mendeskripsikan bentuk ? melalui;
-‐ detektor ciri (contohnya, huruf ’T’, terdiri dari garis horisontal dan garis vertikal).
-‐ hubungan antar ciri (garis horisontal itu terletak pada garis vertikal yang bertemu pada pertengahan garis horisontal).
Inilah yang digali oleh Psikologi Gestalt, bahwa keseluruhan (hubungan antar ciri) lebih baik dari bagian-‐bagian.
Ke-‐2 hal ini berlaku baik dalam mengenali objek seperti huruf dalam kata, maupun untuk benda-‐benda yang lebih natural seperti orang, hewan, tumbuhan, perabotan, pakaian, dimana ciri bentuk objek-‐objek natural lebih kompleks dari sekedar garis lurus dan lengkung, lebih kepada bentuk geometrik.
Maka untuk mengenalinya, ciri objek harus sedemikian rupa, sehingga dapat dikombinasikan untuk menjadi bentuk benda yang dikenal, sehingga dapat ditentukan dari ciri-‐ciri dasar primitifnya, karena ciri primitif satu-‐satunya informasi yang ada untuk sistem.
Menurut Biedermann, ciri objek mencakup sejumlah bentuk geometrik (geon), seperti silinder, kerucut, balok, dll. Dengan adanya relasi spatial sejumlah geon-‐geon dikombinasikan, dan ini sudah cukup untuk mendeskripsikan bentuk benda/objek.
Terdapat banyak teori yang berbeda tentang rekognisi pola untuk melakukan pendekatan dalam menelaah bagaimana tugas merekognisi pola stimulus bekerja, satu diantaranya adalah top-‐down processing. Kunci penting lainnya di dalam persepsi adalah proses antara bottom-‐up dan top down.
Top Down & Bottom up Processing
Teori-‐teori lain tentang rekognisi lebih banyak membahas bagaimana manusia mempersepsi benda-‐benda secara tersendiri, tidak memperhatikan bagaimana pengetahuan dan harapan (ekspetasi) akan membantu rekognisi.
Namun teori ini, selain akan mengarahkan pada proses bottom-‐up dan proses data-‐driven dengan menekankan pentingnya stimulus bagi rekognisi pola, padamana informasi mengenai stimulus diperoleh melalui reseptor (melalui bottom-‐level process). Kemudian kombinasi informasi yang sederhana itu memungkinkan kita untuk mengenali pola-‐pola
keseluruhan. Pembahasan teori ini juga menekankan pentingnya proses lain yang ada dalam rekognisi pola yaitu yang disebut proses top down.
Pendekatan ini menekankan bagaimana konsep yang dimiliki individu dan proses higher-‐ level mempengaruhi rekognisi pola. Adakalanya kita mengharapkan menemukan bentuk tertentu di tempat tertentu, dan kita berharap akan menjumpai bentuk-‐bentuk tertentu karena pengalaman masa lalu. Harapan (ekspetasi) seperti itu akan membantu kita merekognisi pola-‐pola secara cepat.
Psikolog kognitif menyatakan baik proses bottom-‐up maupun top-‐down diperlukan untuk menjelaskan kompleksitas rekognisi pola. Seperti diungkapkan oleh Palmer (1975) yang menyatakan tidak mungkin hanya meyakini satu bentuk proses saja; artinya kita tidak mungkin menanyakan apakah perseptor itu terlebih dahulu memaknakan keseluruhan atau memaknakan bagian-‐bagian.
Misalnya, suatu wajah direkognisi karena dua proses berlangsung serentak; (a) bila setiap bentuk -‐seperti bentuk mulut-‐ ditempatkan pada gambar wajah, maka dapat direkognisi karena proses top-‐down, dan (b) proses bottom–up mendorong kita untuk mengkombinasikan komponen ciri-‐ciri untuk mempersepsi wajah. Lebih jauh, ke dua proses tersebut bekerja sama sehingga memungkinkan kita untuk merekognisi pola-‐pola secara cepat dan akurat.
Selanjutnya fokus kita arahkan kembali untuk membahas proses top-‐down. Dalam hal ini, kita akan melihat bagaimana rekognisi pola dibantu oleh konteks disekitar stimulus dan pengalaman masa lalu yang berkaitan dengan stimulus tersebut.
Konteks dan Rekognisi Pola
Beberapa penelitian mengenai konteks dan rekognisi pola terfokus kepada mengidentifikasi objek yang ambigus. Misalnya Palmer (1975) menemukan bahwa ternyata manusia lebih suka merekognisi gambar ambigus yang ditempatkan pada konteks yang tepat. Misalnya pada gambar dapur, sekerat roti lebih mudah dikenali ketimbang kotak surat.
Fenomena lain dari rekognisi pola yang didemonstrasikan secara luas adalah word superiority effect. Menurut fenomena ini, kita akan mampu mengidentifikasi satu buah secara lebih akurat dan lebih cepat apabila huruf tersebut muncul dalam sebuah kata ketimbang bila muncul bersama-‐sama huruf yang tidak memiliki hubungan (misalnya work atau orwk).
Begitu pula saat kita membaca, bagaimana suatu konteks dapat mempengaruhi kecepatan membaca. Huruf sebelumnya dalam satu kata akan membantu mengidentifikasi sisa huruf berikutnya secara lebih cepat. Demikian pula, kata-‐kata lain dalam suatu kalimat akan membantu kita untuk mengidentifikasi sebuah kata dengan lebih cepat.
Pengalaman Masa lalu dan Rekognisi Pola
Telah kita lihat bahwa rekognisi pola dimudahkan oleh konteks. Rekognisi pola juga dimudahkan oleh pengalaman masa lalu. Kita bisa merekognisi “cangkir kopi” secara lebih cepat karena kita telah familiar dengan benda tersebut (mengenalinya karena pengalaman); sebaliknya orang-‐orang yang berlatar belakang budaya yang tidak terbiasa dengan cangkir kopi tentunya akan mengalami kesulitan untuk merekognisi benda tersebut.
Pentingnya pengalaman masa lalu telah ditunjukkan melalui penelitian ‘the priming technique’. Bila teknik ini digunakan untuk meneliti rekognisi pola, maka peneliti akan memperlihatkan stimulus berupa kata atau gambar suatu benda atau raut wajah. Beberapa saat kemudian, peneliti memperlihatkan versi lain dari stimulus tersebut, yang berisi sedikit sekali informasi perseptual (misalnya berupa sebagian kecil huruf dari sebuah kata atau penyajian imej benda secara cepat). Teknik priming menunjukkan bahwa subjek penelitian bisa merekognisi stimulus dengan cepat dibandingkan bila stimulus yang sama tidak diperlihatkan terlebih dahulu.
Intinya, pada proses bottom-‐up, rekognisi pola diawali oleh datangnya stimulus. Sedang proses top-‐down lebih menekankan kepada peran konteks dan pengalaman masa lalu di dalam mengidentifikasi suatu pola. Kedua proses tersebut diperlukan untuk dapat menjelaskan bagaimana manusia merekognisi/mengenali pola stimulus.
Contoh; mengenali objek ”lampu”, melalui proses yang digerakkan semata-‐mata oleh masukan stimulus, dan didasarkan pada deskripsi geon-‐nya saja, itu berarti melibatkan proses bottom-‐up, mulai dari ciri masukan yang primitif yang menentukan konfigurasi geon (misalnya terdiri 3 geon), sampai kemudian deskripsi masukan ini dibandingkan dengan deskripsi objek yang disimpan dalam memori.
Meskipun sebagian besar proses melibatkan level bottom-‐up, tetapi melalui proses top down, kita juga mengenali ”itu lampu” karena objek itu berada dekat tempat tidur misalnya. Artinya proses top down, mengandung informasi lebih dari hanya sekedar informasi
masukan stimulus. Dengan kata lain, proses top down adalah proses yang terletak di balik efek kuat dari konteks pada persepsi kita tentang objek, yang didorong antara lain oleh pengetahuan dan harapan (expectancy).
3.2 ATENSI (Attention) Pengertian
Dalam pembicaraan sehari-‐hari kita menggunakan kata ‘atensi’ untuk menjelaskan beberapa jenis aktifitas mental yang berbeda. Para psikolog juga menggunakan kata ini dalam berbagai konteks yang berbeda.
Ada yang berpendapat bahwa atensi merupakan proses mental ketika stimuli/rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Pendapat lain menyatakan, atensi terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salahsatu alat indera, dan mengesampingkan masukan-‐masukan melalui indra lainnya. Selain itu pengertian atensi
merujuk pada konsentrasi terhadap tugas mental dimana individu mencoba ‘meniadakan’ stimuli lain yang mengganggu. Dapat juga merujuk pada menerima beberapa pesan pada satu waktu dan mengabaikan semua pesan kecuali satu pesan tertentu.
Untuk selanjutnya kita menggunakan definisi umum yang mencakup kedua pengertian di atas, yaitu atensi adalah konsentrasi terhadap aktifitas mental.
Popularitas topik atensi bervariasi sepanjang sejarah ilmu psikologi. Di Amerika, William James (1890) mengemukakan suatu pemikiran tentang jumlah ide yang dapat diterima dalam satu waktu tertentu dan pemikiran ini telah menggugah minat para psikolog. Namun dengan munculnya aliran behaviorism, pemikiran tersebut dinilai tidak tepat. Aliran tersebut memandang atensi sebagai proses yang ‘tersembunyi’ dan bukan merupakan bagian dari studi ilmiah. Pada awal tahun 1953, buku teks eksperimen bahkan tidak menyebutkan atau membahas topik tentang atensi. Namun dalam dekade ini, atensi menjadi topik yang ‘hangat’ dibicarakan.
Dipandang dari topiknya sendiri, atensi merupakan topik yang penting, selain itu merupakan hal yang penting bagi proses kognitif lainnya misalnya dalam proses pemecahan masalah (problem solving).
Dasar Biologis Atensi
Parietal cortex diidentifikasi sebagai daerah otak yang yang terlibat dalam atensi; ketika individu memperhatikan lokasi spatial, terjadi perubahan aliran darah yang menunjukkan adanya aktifitas syaraf pada bagian itu.
Faktor Eksternal Penarik Perhatian
Stimuli diperhatikan karena sifat-‐sifat yang menonjol : § Gerakan
§ Intensitas stimuli
§ Kebaruan/Novelty & Kontras § Perulangan
Faktor Internal Penaruh Perhatian
§ Faktor Biologis; lapar, haus, dorongan seksual
§ Faktor Sosio-‐Psikologis; sikap, kebiasaan, kemauan, dll
Dalil-‐dalil Perhatian Selektif: (Kenneth Andersen)
1. Perhatian merupakan proses aktif-‐dinamis(bukan pasif-‐reflektif).
menonjol atau melibatkan diri kita.
3. Kita menaruh perhatian kepada hal-‐hal tertentu sesuai kepercayaan, sikap, nilai, kebiasaan & kepentingan kita, untuk memperkokoh pendapat kita.
4. Dalam situasi tertentu, kita sengaja menstrukturkan perilaku untuk menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikan.
5. Efek motivasi menentukan perhatian & persepsi
6. Intensitas perhatian tidak konstan.
Fokus bergantian pada keseluruhan & pada aspek-‐aspek objek.
7. Perhatian tergantung pada kesiapan mental.
Kita cenderung mempersepsi apa yang memang ingin kita persepsi.
8. Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak.
Makin besar keragaman stimuli yang mendapat perhatian, makin kurang tajam persepsi kita pada stimuli tertentu.
9. Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik & mempertahankan perhatian.
Divided Attention
Manusia memang ‘kompeten’, namun tidak mampu memperhatikan segala hal dalam waktu yang bersamaan. Dalam tugas ‘divided attention’ (DA), individu harus memperhatikan beberapa pesan secara simultan dan berrespon terhadap setiap pesan sesuai dengan respon yang diharapkan setiap pesan tersebut.
Dalam laboratorium, DA dipelajari dengan menginstruksikan partisipan untuk melakukan 2 tugas secara simultan. Umumnya unjuk kerja (performance) dari partisipan tersebut akan menghasilkan hasil yang buruk, kecuali bila diberi kesempatan untuk berlatih mengerjakan tugas tersebut.
Menurut Hirst (1986) latihan akan mengubah batas kapasitas atensi. Allport (1989) mengemukakan bahwa amnesia tidak memiliki batas yang ‘built-‐in’, yang terpola (fixed) dalam hal jumlah tugas yang dapat diselesaikan secara simultan.
Selective Attention
Selective Attention (SA) berhubungan erat dengan divided attention. Dalam DA, individu diminta untuk memperhatikan beberapa tugas secara bersamaan. Dalam SA, individu dihadapkan pada dua atau lebih tugas secara simultan dan diminta untuk memfokuskan perhatian terhadap satu tugas dan mengabaikan perhatian terhadap tugas yang lain.
Studi tentang SA memperlihatkan bahwa individu mencurahkan perhatian yang sedikit terhadap tugas yang tidak relevan. Kita dapat merasakan pada saat kita hanya dapat mengikuti satu percakapan secara seksama dalam suatu pertemuan yang ramai dipadati orang, isi percakapan lain umumnya tidak akan kita olah.
Suatu saat mungkin kita berharap bahwa atensi kita tidak bersifat selektif. Tampaknya akan menyenangkan bila kita dapat berpartisipasi dalam satu percakapan tetapi masih tetap dapat menangkap detil percakapan lain yang berlangsung disekitar kita. Namun bila lebih jauh kita renungkan, akan terasa betapa kacaunya situasi yang akan kita rasakan.
Dari uraian di atas tampak bahwa selective attention dapat mempermudah kehidupan kita. Selective attention yang awalnya tampak merupakan suatu kekurangan bagi kita sebagai manusia, ternyata merupakan sesuatu hal yang menguntungkan.
Studi klasik tentang SA dilakukan oleh Cherry (1953) yang menggunakan ‘the shadowing technique’. Dalam teknik ini individu diminta untuk menggunakan ‘earphone’ serta diminta untuk mendengarkan serangkaian kata-‐kata dan mengulangi membacakan kata-‐kata tersebut setelah selesai dibacakan eksperimenter. Mereka diminta untuk mengikuti pesan yang disampaikan pada satu telinga. Sementara pesan kedua disampaikan melalui telinga yang lain, kondisi ini disebut sebagai ‘dichotic listening’.
Hasil studi ini memperlihatkan bahwa individu hanya sedikit mengenali pesan kedua. Cherry kadang-‐kadang mengubah pesan kedua dari kata-‐kata dalam bahasa Inggris ke kata-‐kata dalam bahasa Jerman. Namun, subjek penelitian mengungkapkan bahwa mereka berasumsi bahwa pesan kedua tersebut disampaikan dalam bahasa Inggris.
Dengan perkataan lain, atensi mereka begitu terkonsentrasi terhadap pesan pertama sehingga gagal untuk mengenali pergantian kata-‐kata yang disampaikan dari bahasa Inggris ke bahasa Jerman. Namun mereka dapat mengenali saat pesan kedua yang awalnya disampaikan oleh pria ditukar menjadi oleh wanita. Dengan demikian, beberapa karakteristik dari pesan kedua dapat diketahui.
Selain dapat mengenali jenis kelamin dari pembicara, Morray (1959) menemukan bahwa individu dapat mengetahui saat namanya disebut seseorang yang terlihat dalam suatu percakapan.
4. MEMORI
Memori/daya ingat memegang peranan di dalam proses persepsi yaitu menyediakan rujukan/acuan dalam menafsirkankan stimuli berdasarkan pengetahuan atau pengalaman masa lalu yang telah tersimpan di dalam sistem memori.
Dalam arti luas, ingatan/memori merupakan aktifitas psikologis yang tergantung dari pengaruh-‐pengaruh masa lalu.
Proses akhir dari persepsi adalah interpretasi, setiap stimulus yang menarik perhatian baik disadari atau tidak, akan diinterpretasi. Dalam proses interpretasi, invidivu membuka kembali berbagai informasi di dalam memori yang te;ah tersimpan dalam waktu yang lama. Dengan demikian interpretasi didasarkan pada pengalaman-‐pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam ingatan jangka panjang.
Menurut Schlessinger & Groves (1976, 352), memori merupakan sistim yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk mengarahkan perilakunya.
Berapa kemampuan jumlah memori manusia untuk menyimpan informasi ?
- John Griffith, pakar matematika menyebutkan seratus triliun byte (satuan informasi terkecil).
- John Neumann, ahli teori informasi adalah 280 kuintilium byte (2.8 X 10 ²°)
Jadi, betapa luar biasa kemampuan memori manusia, bahkan rekaman peristiwa dari memori dapat diungkap kembali, dengan menggerakkan elektroda pada lokasi no.11, 13. di otak, sehingga ingatan begitu hidup, seakan-‐akan si pasien mengalaminya lagi peristiwa itu.
Kapasitas mengingat yang dimiliki seseorang ini akan berpengaruh terhadap hasil persepsi terhadap lingkungan/objek/stimuli yang diamati dan diinterpretasinya.
Sistem memori manusia menyediakan sejumlah informasi yang diperlukan untuk mempersepsi, yang diperoleh melalui belajar atau pengalaman di masa lalu sehingga tersimpan sejumlah pengetahuan mengenai sesuatu hal.
Dalam pandangan Psikologi Kognitif, daftar informasi/data-‐data yang tersimpan dalam sistem memori, meliputi identitas, ciri-‐ciri/masukan sensoris, dikenal dengan istilah skema (schema). Misalnya ada skema tentang kursi... bentuk, ciri, sifat kursi; meja... ciri meja makan mungkin beda dengan meja belajar, meja tamu, dlsb.
Jadi, menurut pandangan ini, manusia menerjemahkan informasi dari lingkungan berdasarkan skema-‐skema yang terbentuk di dalam ingatannya, apakah sesuai dengan skema atau tidak. Bilamana sesuai, maka kualitas arti/makna dari stimulus itu makin bertambah. Jika tidak, maka proses pemaknaan atau persepsi (ingat persepsi merupakan pemaknaan terhadap stimulus lingkungan) terus terjadi sampai makna stimulus tersebut dikenali. Untuk lebih jelasnya, mengenai poin ini akan diuraikan lebih rinci di dalam bahasan materi sifat aktif persepsi.
Dalam prosesnya, memori melewati tiga (3) fase/tahap;
1. Perekaman (encoding);
yaitu pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkuit syaraf internal.
menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan dimana.
3. Pemanggilan (retrieval);
dalam bahasa sehari-‐hari, mengingat kembali informasi yang disimpan (memanggil kembali).
Umumnya kita tidak menyadari proses memori pada 2 tahap yaitu tahap ke-‐1 (encoding) & ke-‐2 (storage), tetapi hanya mengetahui memori pada tahap ke-‐3 yaitu retrieval (pemanggilan kembali).
Retrieval bisa dilakukan melalui;
1. Recall (pengingatan); proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta/informasi secara verbatim. Contoh; apa jenis binatang yang termasuk reptil ?
2. Recognition; akan lebih mudah dengan mengenal kembali. Contoh: siapa Presiden RI ke 4 ? recall
siapa Presiden RI ke 4 ? Habibi atau Gus Dur..? recognition
3. Relearning; mempelajari kembali/menguasai kembali materi yang pernah diperoleh. Lebih mudah mengingat dengan membaca ulang daripada baru mendapatkannya. Contoh; menghafal kembali materi yang telah didengar, lebih cepat daripada materi yang belum didengar.
4. Reintegrasi; merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk kecil (memory cues).
Contoh; mendengar gema takbir….. indah, melibatkan seluruh emosi yang menyertainya.
Mekanisme Memori
Bagaimana cara kerja sistem memori kita ?
Bila dilihat dari tujuan praktisnya, memori kita mengefektifkan pekerjaan kita, karena merupakan arsip murah, efisien, dan mudah dibawa-‐bawa (portable).
Tapi adakalanya memori kita tidak berfungsi, itu yang dinamakan dengan ”lupa”.
Jadi untuk mengerti cara kerja memori, kita harus mengerti mengapa orang lupa, dengan demikian menjelaskan mengapa orang ingat.
Ada tiga (3) teori yang menjelaskan hal ini;
1. Teori Aus (Disuse theory)
-‐ memori bisa hilang karena waktu;
2. Teori Inferensi
Hal/pengalaman berikutnya bisa menghapus hal/rekaman yang pertama atau mengaburkannya... terjadi inferensi, karena ada;
- Inhibisi retroaktif (hambatan/dampak yang mengganggu dari materi berikutnya terhadap pengingatan materi sebelumnya/ yang pernah dipelajari)
- Inhibisi proaktif (hambatan terdahulu pada proses mengingat berikutnya)
Contoh mengingat daftar kata selama 24 jam (bisa 80 %) , terus selama 48 jam dengan ditambah jumlah daftarnya (hanya 20 %). Semakin sering mengingat, justru semakin jelek daya ingat kita.
- Hambatan motivasional (sebetulnya kurang tepat masuk teori inferensi)
Dari penelitian-‐penelitian klinis, peristiwa-‐peristiwa yang melukai hati kita cenderung dilupakan.
Menurut Freud, pada dasarnya ”lupa” itu adalah proses represi yang ada kaitan dengan perasaan cemas (ketakutan).
Contoh; amnesia (penyakit lupa) baik sebagian atau seluruh memori, terjadi karena gangguan fisik atau psikologis, karena kerusakan otak atau neurosis.
Sebaliknya, sesuatu yang penting menurut kita, yang menarik perhatian, yang memenuhi kebutuhan kita, akan mudah diingat. Inilah yang terjadi karena pengaruh faktor personal.
3. Teori Pengolahan Informasi
Analogi komputer dengan otak;
-‐ lebih merupakan proses -‐ sangat terpengaruh -‐ ini yang perseptual di dlm oleh inferensi dikenal sbg memori visual/ikonis, ingatan
memori auditif/ekois
-‐ penyimpanan (storage) -‐ hanya mampu mengingat -‐ dilupakan/ berlangsung cepat 7 (±2) bit informasi dikoding
(1/10 at ¼ detik) masuk melalui LTM ;
contoh; -‐chunking
SENSORY
melihat rangkaian gbr -‐ rehearsals/mengulang
bergerak (nonton film) -‐clustering
(diklasifikasikan mnrt konsep) -‐method of loci (mem-‐ visualisasika n dlm benak) Tipe/Jenis Ingatan
Dengan demikian, tipe/jenis memori dapat dibedakan atas dasar berbagai klasifikasi/kategori, antara lain;
Berdasarkan pemrosesan informasi:
- Memori indrawi (sensory memory/storage) - Memori jangka pendek (short term memory) - Memori jangka panjang (long term memory)
Menurut bentuk:
- Ingatan mekanik (berdasarkan pesan indrawi) - Ingatan logis (ada analisis)
Menurut reproduksi:
- Ingatan spontan; lihat foto, ingat namanya.
- Ingatan sadar; contoh mengingat rumus matematika.
Berdasarkan cara mengingat: - Tipe auditoris - Tipe visual - Tipe motoris - Tipe gabungan
Faktor-‐faktor yang mempengaruhi daya ingat :
- Jasmani; lelah, kurang tidur, sakit.
- Usia: 10 -‐14 thn, ingatan paling tajam; 50 thn mulai menurun.
- Kondisi mental /Kondisi fisik dan psikologis: menyakitkan, menggembirakan (menyentuh perasaan), lebih mudah & lama diingat.
- Perhatian: yang mendapat perhatian, lebih mudah diingat.