Mutiara Yang Terlupakan (Pengantar Studi Sastra Lisan)_Suripan Sadi Hutomo

150 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

II

Dr.

Suripan Sadi Hutomo

!

~i

t .

,

"

.. :"'1 " .' >I ,til' ';}i

MUTIARA YANG

TERLUPAKAN

Pengantar Studi Sastra Lisan

PENERBIT

HIMPUNAN SARJANA KESUSASTRAAN INDONESIA HISKI - KOMISARIAT JAWA TIMUR

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Karya yang berjudul PENGANTAR STUDI SASTRA USAN ini untuk (1) memberi pegangan, dan (2) arah pada para peneliti lndonesia, baik mereka yang berkubu di Perguruan Tinggi maupun bukan, khususnya di bidang Umu Sastra Lisan dan Folklor, terutama bagi mereka yang masih ealon.

Karya ini disajikan di dalam bentuk deskripsi me­ ngenai: (1) teori-teori sastra lisan yang pernah ada, (2) kesejarahan penelitian yang pernah dikerjakan oleh orang Barat maupun Indonesia terhadap sastra lisan di kawasan Nusantara, (3) metode pengumpulan data di lapangan, dan (4) metode pengarsipan data dari lapangan. Bahan-bahan untuk penelitian dan penulisan karya ini tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi juga dari luar negeri, misalnya' Belanda dan Malaysia, de­ ngan eara datang langsung ke negara tersebut.

Apa yang disajikan di dalam karya ini masih dalam tahap permuiaan, dan di dalam waktu-waktu mendatang, bila Tuhan mengijinkan, akan terus dikembangkan dan disempurnakan.

Akhir kata, besar harapan penulis, karya .. sederhana yang masih jauh dad sempurna itu, berguna bagi bangsa Indonesia yang kini giat membangun, khususnya di bi­ dang penelitian sastra lisan dan folklor.

Suripan. Sadi Hutomo

(4)
(5)

DAFTAR lSI

KATA PENGANTAR

DAFTAR lSI iii

I)AFTAR SINGKATAN... v BAB I. PENGERTIAN SASTRA USAN SERTA KAITANNYA

DENGAN ILMU·Il.Mll lAIN 1. Saslra lisan ... .

2. Sastra lisan dan Folklor... ... ... ... 4 3. Sastra Usan dan Tradisi Usan... . 9 4. Sastra Usan dan Fisio!ogi Lisan... ... ... 14 Bab II. BEBEItAPA PANOANGAN TEORITlS SASTRA LlSAN 16 BAB 111. PENEI.1TIAN SASTRA l.ISAN DI INDONESIA... 32

I. Penelilian Scbelum Kcmcrdckaan... ;'2 2. Penelilian Sesudah Kcmerdekaan... ... 44 ;,. Penelitian Hangsa ASing Sesudah Kcmerdekaan. 48

BAH IV. PENEUTIAN SASTRA LlSAN MEIAYO .. 51

BAB v. GENI~E SASTRA LISAN 60

1. Lisan dan Sctcngah Lisan... ... (jf) 2. Istilah-istilah ... :.~'... 62

HAll VI. FONGSI DAN TEOHI MIGRASI ... 69 I. Fungsi Sastra Usan ... . 69

2. Pcmindahan Saslra Lisan 74

iii

:....:

(6)

BAB VII. PENGUMPUlAN BAHAN ... 77

1. Perekaman... 77

2. Catatan yang Harus Dibuat... 78

3. Pengetahuan Peneliti... ... ... ... ... ... 79

4. Petunjuk Pengumpulan ... ... ... 80

BAB VIII. TERJEMAHAN TEKS... 86

1. IImu Penerjemahan... ~ 2. Penyajian Terjemahan ... :.... 90

3. Keberhasilan Terjemahan ... ,.... 9.1 BAB IX KRITIK S,".STRA LISAN... 93

DAFTAR PUSTAKA... .... ... ... ... ... ... ... ... 97 INDEKS ...;;... :... 118 IAMPIRAN ...:.:.:...1... 123 ***** " , : ,;, .' ! i ·

(7)

DAFTAR SINGKATAN

A A = American Anthropologist

A FS = Asian Folklore Asia

BKI ::: Bijdragen tot de Taal -, Land - en Vol­

kenkunde, Koninklijk Instituut voor

Taal -, Land - en Volkenkunde

IG = Indische Gids

JAF = Journal of American Folklore

JSBRAS = Journal of the Straits Branch of. the Ro­

yal Asiatic ,Society

JIAEA = Journal of the Indian Archipetago and

Eastern Asia

MNZG ::: Mededeelingen van' wege het Nederland­

sche Zendelinggenootschap

MSFU

=

Memoires de la Societe Fenno-Ugrienne

NTV = Ned. Tijdschrift voor Volkskunde

TBG = Tijdschrift voor Indische Taal , Land

-"en Volkenkunde" Bataviaasch Genoots­ 'chap-van Kunsten en Wetenschappen.

VBe = Verhandelingen van het Bataviaasch Ge­

nootschap van Kunsten en Wetenschap­

pen

WF Wp.stern Folldore

v

(8)
(9)

SUTRISNO, dalang kentrung dari Desa Sendhanggayam, Kecamatan Banjarjo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah,

sambil memukul terbang, ia mengisahkan cerita

(10)
(11)

BAB I

PENGERTIAN SASTRA LISAN SERTA

KAITANNYA DENGAN ILMU-ILMU lAIN

1. Sastra Lisan

Istilah 'sastra lisan', di dalam bahasa Indonesia, me­ rupaRan teqemahah- ba:nasa~ lnggr is oral literature. Ada Juga --yang mengatakan bahwa-isfilah-"Ihi -b-er-asal

dari bahasa Belanda orale letterkunde. Kedua pendapat ini dapat dibenarkan;-t"e-rapl;--Yarlif menjadi soal adalah bahwa istilah ini di dalam dirinya sendiri sebenarnya mengandung kontradiksi (Finnegan 1977: 167), sebab kata leterature (Ietterkunde), yang di dalam bahasa Indonesia disebut sastra (susastra, atau kesusastraan) merujuk paaa pengertian tulisan atau buku What Wellek

1956: 22; 1978: 16; Teeuw 1984: 22 - 23). Karena pe­

ngertian seperti itulah maka, di Indonesia, perhatian terhadap 'sastra yang tidak tertulis' kurang sekali jika dibandingkan dengan perhatian terhadap 'sastra ter­ tuJis' .

Yang dina_rn..ak~Q___ ~g~g~A,.J.L~an1 • __s.ebe.o.ru::J:l¥a,--a-clalah

kesusast~r.aan yang 1JJ~!J~8J~up_ekspr..esi .. I<esusasteraan

·warga, suatu. h~QuQayaan yang disebarkan dan-diturun­ -temurlmk;:H1 secara lisan (dad mulut ke mulut). De­

--n-gan--t)egTtu,'

apa yang dinamakan kesusasteraan,

yang dulu berarti as anything written (Barnet 1963: 1)

kini maknanya te!ah diperluas olehnya.

(12)

thing written itu, sebenarnya, mengandung dua hal, baik luas maupwn sempit. Oikatakan luas sebab segala yang tercetak atau tertulis dapat disebut sebagai kar­ ya sastra tanpa membedakan adanya: (l) segala sesu­ atu yang tercetak atau tertulis yang bukan karya senij dan (2) segala yang tercetak atau tertulis yang berupa karya seni. Oikatakan sempit sebab pengertian itu tidak mencakup sastra lisan (sastra yang tidak tertu­ lis). Oi dalam kenyataan, sastra lisan itw ada, dan hi­ dup berdampingan dengan sastra tulis. .Oleh kare­ na itu, kata Barnet, pernyataan Robert Frost bahwa sastra adalah a performance in words, atau barangkali menurut \'1aatje (1977: 188), een wereld in woorden, lebih cocok untuk memaknai kata kesusasteraan. Memang, kesusasteraan ItU, baik lisan maupun tulis·, adalah 'dunia' ciptaan pengarang dengan memper-guna­ kan medium ,bahasa.

Oi negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan itu

sangat berperanan di dalam masyarakat, sebab masya­ rakatnya masih banyak yang buta huruf (umumnya pa­ ra petani pedesaan). Oengan begitu, apa yang dinamakan sastra tulis tradisional (yang ada di i~tana­

istana, pusat-pusat agama, dan lain-lain) serta sastra tulis modern (buku-buku cetakan yang banyak dijump.ai di kota) hanya rnerupakan sebagian kedl dari kehidup­ an sastra. Hal ini berbeda keadaannya bila dibandingkan dengan negara maju,misainya, Amerika atau Eropa. Oua gambaran dibawah ini akan mem:perjeias hal itu.

::J

Gambar I Gambar II

(13)

A ::: sastra tulis tradisional

x :::

sastra lisan

B ::: sastra tulis modern Y sastra tulis

C ::: sastra lisan modern

Dari perbandingan di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam masyarakat tradisional peranan sastra lisan itu lebih besar daripada peranan sastra tulis; sebalik­ nya di dalam masyarakat modern peranan sastra tulis itu lebih besar daripada sastra Iisan. Di samping itu perlu juga diketahui bahwa sastra lis<l:n di dalam masyarakat tradisional itu bersifat komunal,

milik bersamaj sebaliknya, sastra tulis modern di dalam masyarakat modern itu bersifat individual (bisa dinik­ mati perorangan di dalam kamar atau di tempat-tem­ pat sunyi lainnya).

Oleh karena sastra rakyat itu milik komu!lal, milik bersama rakyat bersahaja, maka sastra ini juga dise­ but orang sebagai folk literature, atau sastra rakyat. Hal ini bukanlah berarti bahwa sastra tersebut tidak terdapat di dala'm masyarakat kota yang telah maju.

Dari uraian sekilas di atas, dapatlah ditarik kesim­ pulan tentang dri-ciri sastra lisan, sebagai berikut:

'I. penyebarannya melalui mulut, maksudnya, ekspresi

'''' budaya yang disebarkan, baik dad, segi waktu mau­ pun ruang melalui mulut;

,,2. lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa, masyarakat di luar kota, atau masyarakat yang belum mengenal hurufj

'3. menggambarkan ciri-ciri budaya sesuatu masyarakat, sebab sastra lisan itu merupakan warisan budaya

yang menggambarkan masa lampau, tetapi

menyebut pula hal-hal baru (sesuai dengan perubah­

an sosiaJ). Oleh karena itulah,<'" sastra lisan

disebut juga sebagai tosH hidup; , :

4. Tidak diketahCli siapa pengarangnya, dan karena itu menjadi milik masyarakat;

(14)

.:5: bercorak puitis, teratur, dan berulang-ulangj mak­ sudnya, (a) untuk menguatkan ingatanj (b) untuk

menjaga keaslian sastra lisan supaya tidak cepat berubahj

6. tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih me­ nekankan pada aspek khayalan/fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern, tetapi sastra li­ san itu mempunyai fungsi penting di dalam masya­ rakatnya (lihat di dalam uraian mengenai fungsi); 7. terdiri dari berbagai versi;

'8. bahasa: menggunakan gaya bahasa lisan (sehari­ harD, mengandung dialek, kadang-kadang diucapkan tidak lengkap.

Dilihat dari segi penuturnya, misalnya, cerita rak­ yat, sastra lisan itu dapal. dibagl menjadi dua jenis, yakni : (1) sastra iisan yang bernilai sastra (mengan­ dung, su,estetik, keindahail); dan (2) sastra lisan yang tidak bernilai sastra. Jenis pertama umumnya ditutur­ kan oleh, para penutur profesional,seperti misalnya tukang kaba (Minangkabau), tukang sl jobang (Minang­ kabau), juru pantun (Sunda), tukang (dalang) kentrung (Jawa), tukang (dalang) jemblung (Jawa), penglipur lara (Melayu), dan, lain-lain. Jenis kedua dituturkan oleh orang-orang biasa yang kebetulan dapat menceri­

takan sesua tu.

2~ 5astra Lisari'dan Folklor

S!?-,stra lisan sering dikaitkan orang dengan apa yang dil)amakan folk lor , dan bahkan, ada' yang 'jelas-jelas

menyebutnya ~ebagai 'budaya rakyat ' atau folklor.

Sepintas lalu penamaan ini benar, sebab, sastra li­

san 'juga merupakan bagian dari 'tolidor" Apakah 'yang disebut falkior itu ? rytari,lah kita lihat dulu sejarah

kata ini, " ,

Istilah folklor' (folklore, Inggris;: ,dieja, folk-lore) pada muianya adalah. ciptaan William JQhn 'Thoms, seorang ahli kebLidayaan antik (antiquarian) Inggris.

(15)

Istilah ini. digunakan sebagai ganti istilah popular antiquities; dan mula-mula diperkenalkannya dalam majalah Athenaeum (No. 9&2, tanggal 22 Agustus

1984), dengan nama sa maran Ambrose Merton (1846:

862 863). Menurut Thoms istilah popular antiquities

itu tidak tepat untuk merujuk pada fenomena-feno­ mena yang hidup dan yang masih mendapat tempat di dalam kehidupan sekelompok penduduk di luar kota di negeri Inggris pada waktu itu. Istilah folklor itu,

sebenarnya, cocok dengan istilah Jerman, yakni

Volkskunde. Istilah-istilah lain yang pernah digunakan

orang adalah verbal arts, folk literature, dan

folk-life (digunakan di Skandinavia).

Di Indonesia apa yang dinamakan folklor itu meru­ pakan ilmu yang masih baru. James Danandjaja.:-lah yang banyak memperkenalkan ilmu ini kepada kalayak

llmuwan di Indonesia. Oleh karena ltu ia patut

disebut Bapak folkior Indonesia. Dan sebuah buku tentang ilmu ini telah ditulisnya, yakni Folklor Indo­

nesia: Ilmu Gosip, Dongeng, . dan lain-lain (1984;. dan

kini telah mengalami cetak ulang).

Menurut etimoioginya, perkataan folklore (diindone­ siakan menjadi folk lor) berasal dari kata folk dan lore. Kata Danandjaja (1984: 2), deiinisi folklor se­

bagai berikut: "adalah sebagai kebudayaan suatu

kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di an tara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam verst yang berbeda, balk dalam bentuk Hsan maupuncontoh yang dlsertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat(mnemonic device)". Definisi ini, sebenarnya, seperti dikatakan oleh Danandjaja sendiri, merupakan ubahan dari definisi Jan Harold Brunvand What Brunvand 1968: 5). Definisi Brunvand. berbunyi: "Folklore may be defined as those materials in culture that circulate traditionally among members of any group in defferent versions, whether in oral or by means of customary example".

(16)

Oi dalam Umu folklor, apa yang dinamakan folklor itu banyak pengertiannya. Hal ini tampak di dalam buku Dictionary of Folklore Mythology and Legend (1949) karya Maria Leach. Oi dalam bab tentang 'folklore' (1949: 398 - 403) terdapat uraian tentang definisi folklor dari:

I. Jonas Balys 2. MariusBarbeau 3. William R. Bascom 4. B.A. Batkin 5. Aurelio M. Espinosa 6. George M. Foster 7. Theodor H. Gasten 8. M. Harmon 9. Milville J. Herskovits 10. R. O. Jameson

II. Gertrude P. Kurath

12. Mac Edward Leach 13. Katharine Luomala

14. John L. Mish

15. George Herzog

16.

c.

Hades Francis Potter

17. Marian W. Smith 18. Archer Taylor 19. Stith Thompson

20. Ermine

W.

Voegelin

21. Richard A. Waterman

Daftar nama ini dapat lagi diperpanjang, misalnya, ditambah dengan Utley (1968; 3), Srunvand (1968: 5), dan Ben-Amos (1975: 3).

Oi atas dikatakan bahwa kata folklore.berasal dari kata folk .dan lore.. Menurut seorang ahli folklor Ame­

rika, Alan .."Dundes,. yang dimaksud dengan

.t9.11s

.l~l!

,

qq~lgnJseJQmpoK QrpJ1K::Qraog y<;l.JJ.g JT)e:l1]punyai,c~d~<;:iIi

pengenal.,.kebudayaan yang·1:iri-ckinya:' tadkdapat,mem­

bedakannya 4 dar-i-kelompok lain. Sedangkan yang di­

maksud dengan lor~".,..adatail ~:·-ti"aGisb::dari I ,folk. Ia

diwariskan turun-temurun. melalui cara· lisan atau

(17)

Folklor itu mempunyai ciri-ciri khusus. Menurut Jan Harold Brunvand di dalam bukunya The Study of American Folklore (1968: 4), folk lor mempunyai ciri­ ciri sebagai berikut :

I. it is oral;

2. it is tradisional;

J. it exists in different versions;

4. it is usually anonymous;

5. it tends to become formularized

Jadi, folklor itu disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke satu generasi, yang kadang-kadang penuturannya itu disertai dengan per­ buatan (misalnya, mengajar tari, mengajar membatik, mengajar mendalang).

Oleh sifatnya yang tradisional, maka folklor itu disebarkan di dalam bentuknya yang relatif tetap, atau di dalam bentuk baku di dalam suatu kelompok mas­

yarakat tertentu. Dan oleh karena folklor itu

disebarkan secara Iisan, maka makin jauh dari

sumbernya folk lor ini makin ban yak mengalami perLi­ bahan, walaupun intinya tetap.

Di dalam masyarakat yang bersifat komunal, pen­ dpta folk lor itu tidak diketahui. Ambillah misalnya tembang ilir-ilir dalam sastra lisan Jawa. Tembang ini sangat populer di masyarakat tetapi tembang ini tidak diketahui siapa penciptanya, sehingga orang bebas untuk

menafsirkan isinya.

Yang terakhir adalah, folk lor itu mempunyai bent uk klise. Di .dalam bentuk cerita rakyat, misalnya, ada perbandingan sebagai berikut : "matanya bagai bintang timur" (Melayu/lndonesia); atau laml>eyane mblarak sempal (Jawa), artinya, 'ayunan tangannya waktu berja­

Ian bagaikan daun kelapa lep'is dari batangnya'.

PenYlmpangan dari bentuk tetap ini dianggap menya­ lahi aturan yang ada. Hal itu dinilai tidak berbobot.

Konsep folk lor itu, sebenarnya, mencakup beberapa .hal, yakni:

(18)

I) sastra lisan;

2) sastratertulis penduduk daerah pedesaan dan

masyarakat !,:ota kedl;

3) ekspresi budaya yang mencakup:

{1} teknologi budaya;

(2) pengetahuan rakyat;

(3) kesenian dan rekreasi (arsitektur tra,disional,

kerajinan rakyat, seni pandai gamelan, penge­ tahuan obat-obatan tradisional, ilmu firasat,

numerologi atau ilmu petungan, seni ukir,

tari-tarian, dan permainan.

Khlisus untuk bangsa:"bangsa: Afrika dan Asia, kese­ nian, kesusasteraan, dan ekspresi intelektual estetik lain yang bersifat 'agama besar formal', agama, metropolitan, semuanya ti<Jak dimasukkan ke dalam konsep folk lor.

Hal-hal dl atas oleh Jan Harold Brunvand dibuat

lebih terperinci lagi. Olehnya bahan-bahan folklor

itu dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni:

I) Verbal folklore (folklor Jisan);

2} Partly verbal folklore (foJklor setengah Jisan);

3} Non verbal folklore {folk lor bukan lisan}.

Di dalam hubungan dengan folk lor lisan, maka ba­

han-bahan folklor itu mencakup : '

I) Ungkapan tradisional (peri bahasa, pepatah, wasita

, adi),

2) Nyanyian rakyat;

3) Bahasa rakyat (diaiek, julukan, sindiran,

titel-titel, wadanan, bahasil rahasia, dan lain­ lain),

4) Teka-teki, dan

5) Cerita rakyat (dongeng, ,dongen,g sud atau mite, legenda, sage, cerita jenaka, cerita cabul, dan lain-lain).

Yang termasuk folklor setengah lisan adalah bahan­ bahan folklor yang berupa:

(19)

I) Drama rakyat (ketoprak, ludrug, lenong, wayang orang, wayang kulit, topeng, langendriyan, dan lain-lain),

2) Tad (serimpi, kuda lumping, kupu-kupu, seram­

pang duabelas, dan lain-lain),

3) Kepercayaan dan takhayuI (gugon tuhon),

4) Upacara-upacara (ulang tahun, kematian, perka­

winan, sunatan, pertunangan, dan Jain-lain),

5) Permainan rakYat dan hiburan rakyat (misaJnya:

macanan, gobag sodor, sundamanda, dan Jain-la­ in),

6) Adat kebiasaan (gotong royong, batas umur peng­ khitanan anak, dan lain-lain),

7) Pesta-pesta rakyat (wetonan, sekaten, dan lain­ lain).

Akhirnya, tentang folk lor bukan lisan. Folklor ini

dibagi dua, yaknl: (l) yang berupa material; dan (2)

yang berupa bukan material. Yang termasuk ke dalam bagian pertama adaIah: mainan (boneka), makanan dan minuman, peralatan dan senjata, alat-alat musik, pa­ kaian dan perhiasan, obat-obatan, seni kerajinan ta­ ngan, dan arsi tektur rakyat (bentuk rumah, misalnya).

Sedangkan yang termasuk ke dalam bagian

kedua adalah bahan-bahan foIklor yang berupa: musik (gamelan Sunda, Bali, Jawa), dan bahasa isyarat (meng­ angguk tanda setuju; menggelengkan kepala berarti tidak setuju, dan lain-lain).

Dari uraian di atas dapatlah di~impulkan bahwa apa

yang dinamakan sastra lisan itu, balk yang bernilai sastra maupun bukan, ternyata juga menjadi obyek bidang studi ilmu folklor. Dengan begitu, seorang pe­

neliti sastra lisan atau seorang ahli sastra lisan dian­ jurkan juga untuk mempelajari ilmu folklor. Untuk ke­

perluan ini telah tersedia beberapa buku, dan

umumnya berkaitan dengan ilmu antropologi. 3. Sastra Lisan dan Tradisi Lisan

Istilah tradisi lisan merupakan terjemahan dari ba­ hasa Inggris oral tradition. Adapun konsep istilah ini

9 ....

(20)

hampir sama pengertiannya dengan folkIor, bedanya hanya terletak pada unsur-unsur yang ditransmisi se­ cara lisan, yang kadang-kadang diikuti dengan tin­ dakan. Mohd. Taib Osman di dalam karangannya "Cadangan Untuk Dasar-dasar Umum Dalam Membuat Klassifikasi Dan PetunjukBagi KumpuIan Tradisi Lisan Di Malaysia" mencoba menjelaskan peralihan pemakaian istilah folklor ke tradisi lisan. 8egini pen­

jelasannya :

"Masalah yang pertama ialah mengenali bahan kita.

Apakah yang kita artikan sebagai tradisi lisan

(oral tradition) adalah sesuatu yang baru, dan

hanya pada sebagian yang besar adalah merangkumi

bahan-bahan yang selama ini dikenali di bawah la­

bel folklore Penggunaan istilah oral tradisional

difikirkan lebih sesuai "dan tepat daripada isti­

lah folklore karena istilah yang kemudian ini se­

lalunya mendapat tanggapan yang berbeda daripada

tujuan asalnya: Kalau pada mula - mulanya istilah

folklore ditujukan kepada aspek-aspek tradisional

dalaffi sesuatu budaya dan aspek-aspek itu selalu­

nya terdapat dalam golongan masyarakat yang dike­

" nali dengan label folk ( atau "volk dalam bahasa

German), sekarang hanya menjadl "satu istilah po­

pular untuk ditujukan kepada benda - benda

atau

perkara-perkara yang kebenaraunya disangsikan.Se­

bab itu bahan-bahan folklore selalu" diterjemah­

kan sebagai dongeng

Penggunaan popular istilah folklore atau d.ongeng

adalah bersikap edmocentri; hanya" mencerminkari

sikap dan nilai seseorang terhadap aspek-aspek

budaya yang tidak melibatkan dirinya sendiri. Pa­

dahal sebenarnya, bahan-bahan folklore adalah as­

pek-aspek dan unsur-unsur budaya yang hidup dan

berfungsi dan mengakibatkan pola - pola perlakuan

anggota sebuah subculture dalam satu masyarakat

yang

~omplex

Untuk menghiridarkan berlakunya sa­

(21)

bih

diutm,~kan

daripada folklore Naroun bahan-ba­

han yang dirangkumi oleh oral tradition itu sama­

1ah dengan yang ditunjukkan oleh istilah folklore

pada awa1nya." (Osman 1975 : 86 - 87).

Dad uraian Osman di atas dapat diketahui bahwa peralihan penggunaan istilah folklor ke tradisi lisan, sebab istilah folklor kini telah mempunyai konotasi baru, yakni 'kebohongan', atau 'sesuatu yang kebenar­ annya disangsikan'. Tetapi,. sampai kini, istilah folklor tetap dipergunakan orang di sisi istilah tradisi lisan,

yang maknanyapun berbeda. .

Menurut keputusan atau rumusan UNESCO, yang dinamakan tradisi lisan itu adalah: "those traditions which have been transmitted in time and space by the word and act", yang artinya kurang Iebih 'tradisi yang

ditranmisi dalam waktu dan ruang den~an ujaran dan

tindakan' (Advisorey Committee 1981). Dengan begitu tradisi lisan itu mencakup beberapa hal, yakni:

l) yang berupa kesusasteraan lisan; 2) yang berupa teknologi tradisional;

3) yang berupa pengetahuan folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan;

4) yang berupa unsur-unsur reIigi dan kepercayaan folk di luar batas formal agama-agama besarj

5) yang berupa kesenian folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan; dan

6) yang berupa hukum adat.

Begitulah hal-'hal yang tercakup di dalam tradisi Ji­

san. Untuk pendalaman masalah ini, perlu kiranya di­ baca buku karangan Jan Vansina, yakni Oral Tradition (1973). Di dalam buku ini diuraikan secara mendalam masalah-masalah yang ada di dalam persoalan tradisi lisan.

Di dalam hubungan penulisan sejarah, yang dimak­ sud dengan tradisi lisan, secara umum, adalah: "sega­ la macam keterangan lisan dalam bentuk laporan ten­ tang sesuatu hal yang terjadi pada masa lampau"

(22)

(Vansina 1973: 19), atau aslinya: "Oral traditions consist of all verbal testimonies which are reported statements concerning the past.'

Menurut Vansina, ada tiga jenis keterangan lisan,

yakni: (1) penglahiran penyaksian; (2) tradisi lisan

(secara khusus); dan (3) khabar angin. Adapun

proses bagaimana melahirkan laporan lisan itu dapat diterangkan sebagai berikut:

a. Ada seorang" penyaksi melaporkan·sesuatu. peristiwa yang telah disaksikannya dan meJalui testimoni apa yang disaksikannya itu dapat diwujudkan seba­ gai 'keterangan awal' atau 'proto';

b. Keterangan (a) didengar oleh orang lain (pendengar pertama) yang berminat dan dia mengulanginya untuk disampaikan kepada pendengar kedua;

c. Pendengar kedua mengulanginya untuk disampaikan kepada pendengar ketiga;

d. dan begitu seterusnya.

Proses tersebut di atas, bukan hanya dad penyaksi kepada pendengar pertama, kedua, dan seterusnya; tetapi akhirnya dapat dad satu generasi kepada satu

g"enerasi berikutnya. Akibatnya, di dalam proses itLi

ter jadi penyimpangan a tau' . pun Penyelewengan.

Oh~h karena itu, di dalam hubungan penulisan s~jarah,

orang per lu mengetahui metode penapisan terhadap

hal-:hal yang tidak benar. . .

Berdasarkan tradisi lisan di Afrika, Jan Vansina

membagi tradisi lisan menjadi lima jenis, yakni: (1)

formula; (2) puisi; (3) daftar kata; (4) -cerita; dan (5) .

komentar.

(23)

I

V

-_

..

-Jenis Kategori Wujud

~o

I

l

,

I i i Formula

-

!

I gelaran

I

! I I

I

I

I

! [I Puisi Resmi

I

I Milik umum (orang awam) Daftar (kata) III

-Pensejarahan Cerita IV Didaktis Artistik Individu .'!o? Komentar " Legal Penghubung Sporadic -_L--. ______ slogan formula didakti~ formula upacara pense jarahan pujian keagamaan individu nama tempat nama perseo­ rangan ,umum lokal keke luargaan mitos aetiologik artistik ingatan perse­ orangan precedent menerangkan komentar occa­ tional 13

,..

(24)

Dad bagan di atas tampak bahwa sastra lisan (puisi

dan cerita) juga menjadi bagian dad ilmu 'tradisi , Ii ­

san', baik secara umum maupun khusus (untuk penulis­ an sejarah). Oleh karena itu seorang ahli sastra lisan (di dalam kerangka ilmu sastra dan fHologi) perlu juga memahami ilmu tradisi lisan.

4. Sastra Lisan dan Filologi Lisan

Istilah 'filologi lisan' tentu sangat mengejutkan, sebab, biasanya, istilah fHologi selalu dikaitkan dengan teks-teks kuna yang tertulis. Akan tetapi jika kita ber­ pegang pada pendapat Mac Edward Leach (1949: 401) bahwa sastra lisan (folklor) itu sebagai a lively fossil which refuses to die, maka teks-teks sastra lisan, yang

lebih tepat disebut teks lisan, juga mengandung

'kekunaan' di samping 'kekinian'. Maka jika kita

berpegang pada pendapat bahwa pengertian filologi

sebagai 'ilmu yang menyelidiki perkembangan

kerohanian sesuatu bangsa dan kekhususannya atau yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusasteraan', maka adanya istilah 'filoiogi lisan' bukan lagi mengherankan. Dia dapat dianggap sebagai pencabangan filologi tulis.

Di dalam filologi lisan kita dapat bekerja,

an tara lain mengenai:

I. membandingkan teks lisan dengan teks tulis, dan

hasilnya dapat berupa: (a) teks lisan berasal dari teks tuBs; dan (b) teks tulis berasal dad teks lisan; dan di dalam hubungan ini kita perlu berbekalkan teori intertekstualitas yang menyangkut hipogram

2. membandingkan beberapa versi sastra lisan

untuk menentukan pusat penyebaran cerita; atau untuk mencari ase tidaknya sebuah teks lisan yang dipergunakan untuk kajian, misalnya untuk keperlu­ an menulis sejarah dengan mempergunakan bahan­ bahan sastra lisan.

(25)

RA TI, dalang kentrung dad DesaBate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, J awa Timur, sambil memukul kendhang,

(26)
(27)

Di samping hal diatas, yang pasti adalah, sebuah teks lisan (yakni setelah ditranskripsikan ke tulisan)

dapat kita analisis seperti halnya teks tulis. D3.r i hasi I

analisis itu kita akan mendapatkan perkembangan

kerohanian sesuatu bangsa.

(28)

BAH II

BEBERAPA PANDANGAN TEORITIS

SASTRA LISAN

Sastra lisan, yakni warisan sastra yang diturunkan di dalam tradisi lisan, dan yang merupakan lawan sastra tertulis atau tercetak, telah dijadikan objek dari berbagai cara pendekatan dengan berbagai teor!. Sarjana yang mula-mulasekali meneliti sastra lisan ialah para sarjana folklor. Dan pada awal peneJitian mereka para sarjana folklor ini memusatkan perhatian pada folktale (fairy tale), atau di dalam bahasa Jerman disebut Marchen (Thompson 1977: 4).

Masalah yang oianggap fundamental pada waktu itu ialah masalah asal-usul dongeng, variasi dongeng, penyebaran dongeng, makna dongeng, dan hubungan dongeng dengan bentuk-bentuk sastra lisan lain, seper­

ti mite dan sage. Di dalam penyelidikan masalah-ma­ salah ini lalu timbul berbagai teori.

Sarjana yang pertama kaii mengemukakan teori ten­ tang dongeng ialah Grimm. Teori Grimm ada dua. Teori pertama dikenal sebagai teori lndo-Eropah. Me­ nurut teori ini dongeng-dongeng yang memperlihatkan persamaan-persamaan itu berasal dari dongeng-dongeng bahasa lndo-Eropah. Teori kedua dikenal sebagai teori mite yang sudah rusak (the broken-down myth), Di dalam teori ini Grimm mengatakan bahwa dongeng­ dongeng ituberasal dari mite yang rusak.

Kedua teori Grimm ditanggapi oleh beberapa sarja­ r.1a, ada yang mendukung dan ada pula yang tidak ,me ­ nyetujuinya. Di antara para pendukung Grimm itu

(29)

ada pula yang melahirkan teori baru. Salah seorang di antara mereka ialah Theodor Benfey. [a mengemukakan teori yang kemudian terkenal sebagai teori India "(Thompson 1977: 379). Di dalam teori ini Theodor Ben­

fey mengatakan bahwa dongeng yang bermotif sama itu berasal' dari tanah India. Teori ini, di dalam gads besarnya didukung oleh Emmanuel Cosquin. Tetapi Cosquin berpendapat bahwa India bukanlah satu-satunya tempat asal··usul dongeng yang bermotif sama itu.

Peneliti lain, seperti Andrew Lang, Paul Ehrenreich, sarjana-sarjana pengikut S. Freud (kelompok Freudian) dan P. Sai'ntyves ialah sarjana-sarjana yang tidak me­ nyetujui teori Grimm atau tt"ori pendukung Grimm. Andre\v Lang tidak menyetujui teori Theodor Beniey dan mengemukakan teod polygenesis.

Pendukung teori ini mengatakan bahwa dongeng-do­ ngeng yang mempunyai persamaan-persamaan itu bukanlah berasal dari suatu tempat tertentu, tapi adanya persamaan-persamaan itu hanya karena suatu kebetulan saja, yang disebabkan oleh para­ lelisme perkembangan kebudayaan. Paul Ehrenreich dengan bersandar pada ilmu jiwa mengatakan bahwa dongeng-dongeng itu banyak yang berasal dad mite matahari dan bulan. Peristiwa terjadinya dongeng disebutnya sebagai peristiwa naturmytholo­

gisches Marchen (Thompson 1977: 384), artinya

dongeng yang 'kelahirannya' disebabkan oleh mite terhadap peristiwa-peristiwa alam. Kelompok Freudian mengatakan bahwa dongeng itu berasal dad ritual.

Diskusi yang ditimbulkan oleh teori Grimm mereda dengan sendirinya seteJah timbul apa yang dinamakan aliran Finlandia yang mencoba meneIiti dongeng dengan metode historic-geographic. Aliran ini mula­ mula muncul di Skandinavia sebagai kelanjutan kerja Elias LOnnrot. Pada waktu itu Elias L6nnrot meneliti epik nasional Finlandia yang berjudul Kalevala. Jylius Krohn kemudian mencoba membandingkan berbagai versi Kalevala dengan latar belakimg sejarah kehidup­ an orang Finlandia. la menemukan berbagai motif di

17

(30)

dalarn versi-versi epik ini. la lalu mempeiajari distribusi masing-masing motif dalam daerah-daerah yang bersangkutan yang tr.adisinya telah berubah-ubah. Hasilnya ialah ia menerTIukan adanya proses perubahan motif. I<aarle Krohn, anak Julius Krohn, kemudian mengembangkan cara kerja InI, yaitu metode historic-geographic, untuk sastra lisan yang berbentuk dongeng, Antti A arne mencoba menyempurnakan teknik metodc ini di dalam rangka membuat sistem klasifikasi berdasarkan type dongeng, yang oleh Stith Thompson disebut sebagai a traditional tale that has an independent existence a tau sebagai a complete tale (Thompson 1977: 415). Selanjutnya Stith Thompson membuat sistem klasifikasi berdasarkan motif, yaitu the smallest element in a tale having a power to persist in tradition (Thompson 1977: 415), dalam bukunya yang terkenal Motif Index of Folk Literature yang terdiri dari enam jilid (I, 1955; II, 1956; III, 1956j IV, 1957j V, 1957; VI, 195&).

Penelitian terhadap asaJ usul dongeng bukanlah satu­ satunya pendekatan terhadap sastra Iisan. Hal

101 tampak dalam pendekatan para sarjana i Imu

sosial (terutama sarjana antropologi budaya dan sosiaI). Mereka meneliti fungsi sastra lisan dalam masyaraka t. Masalah yang timbul di dalam pendekatan· ini antara lain iaiah: apakah peranan sastra di dalam ma­ syarakatj sedikit ataukah banyak ia mencerminkan keadaan budaya dan tata susunan' masyarakat; kalau ia merefleksikan keadaan masyarakat, apakah yang direfleksikan itu keadaan yang sebenarnya ataukah hanya yang tampak dari luar sajaj dan apakah ia sebagai reflektor dari masyarakat berperanan aktif ataukah pasif di dalam masyarakat ?

Menurut teori fungsi ini sastra Iisan antara lain dapat berfungsi untuk kontrol sosial dan untuk mendidik anak. Bronislaw Malinowski 0&&4 - 1942) ialah' salah seorang tokoh antropologi penganut teori in,i. ,.ia .bermi.nat pada dongeng-dongeng sud orang­ orang Trobr1and, yaitlt penduduk keptliauan di

(31)

sebelah timur Irian. Pendirian Malinowski perihal do­ ngeng-dongeng sud itu diuraikan dalam bukunya

Myth in Primitive Psychology (1948). Menurut Malinowski di antara dongeng-dongeng orang Trobriand ada sejumlah dongeng-dongeng suei atau rnitologi yang disebut liliu. Dongeng-dongeng ini tidaklah dianggap sebagai dongeng-dongeng perlambang dan sejarah, tetapi sebagai eerita-eerita tentang hal-hal yang benar-benar terjadi dan tidak terikat pad a tempat dan \\Iaktu. Menurut Malinowski dongeng-dongeng suei ini berfungsi sebagai pedoman untuk upacara keagamaan, kesusilaan dan aktivitas masyarakat.

Teori fungsi ini tampak mempengaruhi tokoh antropologi Inggris yaitu Alfred R. Radcliffle-Brown

(1881 (955) dan pengikut-pengikutnya. Radeliffle­

Brown sebenarnya bukan penganut faham fungsi tetapi penganut faham social structure. Dalam hubungan pengertian fungsi ia berbeda pendirian dengan Mali­ nowski. Kalau Malinowski beranggapan bahwa

f~ngsi dari unsur-unsur kebudayaan itu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan naluri dari manusi'a maka Radcliffle-Brown beranggapan bahwa fungsi dari unsur-unsur kebudayaan itu ialah memelihara keutuhan dan sistematik struktur sosial (Koentjaraning­

rat 1964: 68).

Ada pula semacam teori fungsi yang lahir di kalang­ an kaum Mancis. Dengan bersandar pada ajaran Karl Marx (1818 - 1883) mereka itu beranggapan bahwa sastra dapat berfungsi sebagai tool of ruling class, yai tu untuk mempropagandakan serta menyebar ide­ ide klas yang berkuasa itu. Bagi kaum 1\1arxis sastra merupakan senjata yang potensial dalarn the class struggle. Oleh karena itu kaum Marxis sangat mena­

ruh perhatian pada popular literature (sastra rakyat) dan the people's song (nyanyian rakyat). Yang dite­ liti oleh sarjana golongan ini ialah: eara sebuah nya­ nyian poJitik berpengaruh dalam kampaye pemilihan umum; eara tulisan-tulisan yang bersifat satire dapat merongrong dan merobohkan penguasa yang sah yang

(32)

dipegang oleh klas yang berkuas.:.l; dan cara ide-ide baru dan faham-faham politik dapat dipropagandakan

lewat bentuk-bentuk sastra yang ada. Dengan

demikian sastra tidak dipandang sebagai fenomena individU akan tetapi dipandang sebagai f enomena sosia!. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata bahwu para peneliti sastra lisan dipengaruhi pula oleh teori

sosiologi umum. Konsepsi kemasY,Jrakatan Emile

Durkheim (1858 1917) tentang f.:.lham kolektif

(Koentjaraningrat 1964: 40) rnelahirkan dua model ma­

syarakat yaitu masyarakat primitif dan masyarakat modern.

Menurut Ruth Finnegan masyarakat primitif atau non-industrial itu berciri: "small scale and homoge­

neous, comformist, 'oral' rather than literate,

communal, dominated by religious and traditional norms and the ties of ascribed 'kinship', unselconcious, and probably more 'organic' and 'close to nature' that ourselves - or at any rate untouched by the mechani­

sation and advanced technology of our society."

(Finnegan 1977: 45). Sedangkan masyarakat modern atau industrial berciri: "secular and rational; hetero­ geneous; dominated by the written word and oriented

towards achievement and individual development;

and at the same time highly mechanised and specia­

lised typically bound together by artificial rather

than 'natural' and 'organic' links." (Finnegan 1977: 45).

Oi dalam hubungan dua model masyarakat

ini sastra lisan dianggap hanya mungkin terjadi

di dalam jenis masyarakat yang masih primitif.

Karenanya sastra !OI tak banyak menarik perhatian

kalangan ahIi ilmu sosiologi sastra (ilmu campuran antara ilmu' sosiologi dan ilmu sastra) sebagaimana tampak dalam uraian Laurenson (Laurenson 1971: 13, 17) dan Rene Wellek (Wellek 1968: 95 - 96). Mereka

lebih banyak menaruh minat pad a sastra ter­

cetak.

G010ngan ketiga yang. mengarahkan perhatian mere­ ka kepada sastra' lisan ialahsarjana-sarjana ilmu sas­

(33)

tra. Mereka itu mengkaji sajian penyanyi-penyanyi cerita semata-mata sebagai 'karya sastra'.

Salah seorang sarjani:i yang mula-mula sekali me­ ngarahkan perhatiannya kepada bentuk dan teknik-tek nik penceritaan ialah Albert B. Lord. Lord sebenarnya meneruskan. inisiatif gurunya, Milman Parry.

Milman Parry mengadakan penelitian tentang pengguna­ an epitheta yang digunakan secara stereotip dalam epos-epos Yunani Iliad dan Odyssey karya Homer. Mil­ man Parry yakin bahwa epos-epos Homer merupakan karya yang diciptakan dalam rangka sebuah tradisi dan ia berpendapat bahwa versi yang diabadikan dalam ben­ tuk tertulis pada mulanya berasal dari versi lisan. Oleh karena itu ia mengetahui bahwa puisi epik lisan di Yu­ goslavia masih hidup sebagai kesenian tradisional, ia kemudian mengadakan penelitian tentang puisi itu. Se­ pulang dari Yugoslavia pad a tahun 1935 ia menyusun buku yang memuat hasil studinya itu, tetapi buku ini tidak sempat diselesaikannya karena ia meninggal dunia (Lord 1976: 279). Yang ditinggalkan oleh Milman hanyaJah koleksi rekaman-rekamannya beserta manuskrip-manuskrip transkripsi dan catatan-catatan peneLitiannya (sebagian disimpan di Harvard University Library), Apa yang dirintis oleh Milman Parry itu lalu diteruskan oleh Albert B. Lord. Lord berhasil menulis buku berjudul The Singer of Tales (cetakan pertama tahun 1960). Oleh karena teori Lord berdasarkan ide­ ide gurunya maka teod itu biasanya disebut sebagai teori Parry-lord.•

Dalam bukunya itu Lord membicarakan lima masalah, yaitu:

a) masa:Iah hubungan antara menciptakan, menyanyikan dan pertunjukkan;

Q;1

masalah formula; c) masalah 'tema'; d) masalah teks asli;

e) masala'h hubungan an tara versi tertulis dan versi lisan.

Lord membedakan secara mutlak dua jenis puisi ya­ itu puisi tertulis dan puisi lisan. Kedua jenis puisi in!

(34)

mempunvai ciri yang berbeda. Puisi tertulis setelah dicipta dapat disimpan atau diedarkan sekehendak hati. [a dapat dinyanyikan atau dibacakan berulang­ ulang dengan menggunakan teksnya yang tcrtulis atau tercetak. Sebaliknya puisi lisan peker jaan mencipta dan menyajikan dilakukan serentak, yaitu pada waktu sang penyanyi cerita' memberi pertunjukan dalam kedai kopi atau pada pesta-pesta kawin dan sebagainya. Jadi puisi epik lisan Yugoslavia itu tidaklah diciptakan untuk

pertunjukan, tapi diciptakan di dalam pertunjukan. Penyanyi cerita itu dapat mencipta serentak karena. ia menggunakan prosede istimewa yang berda­ sarkan formula (pada tingkat susunan kata) dan penja­ linan tema (pada tingkat susunan bahan cerita).

Yang dimaksud formula ialah 'group of words '.which is regular Iy employed under the same metrical conditions to express a given essential idea' (Lord

1976: 30). Apa yang disebut 'a group of words',

atau kelompok kata yang disebut oleh Lord. cukup ban yak dimiliki oleh seorang guslar (penyanyi epos rakyat Yugoslavia), dan, stock-in-trade, artinya siap dipakai bercerita, dan pekerjaan mencipta dan menyanyikan di dalam pertunjukan (di kedai kopi atau pada pesta-pesta kawin) dapat dilakukan secara serentak. "

Formula sangat dekat hubungannya dengan tema. Yang dimaksud dengan tema ialah 'the repeated incidents and descriptive passages in the traditional songs' (Lord' 1976: 4-); atau 'the groups of ideas regular ly used in telling a tale in the formulaic style of song' (Lord 1976: 68).

Jadi, di dalam mendeskripsi peristiwa yang diu lang, yang merupakan bagian yang harus ada di dalam epos, dipergunakanlah kelompok-kelompok kata tertentu yang siap pakai sedemikian rupa caranya sehingg:.l dapat dilahirkan cerita dengan lancar. Peristiwa-peris­ tiwa yang diulang itu misalnya adegan persidangan (per temuan raja dengan para pUrlggawa dj istana), 'adegan pertempuran, adegan perkawinan, adegan perjalanan

(35)

dengan naik kuda, dan lain-lain. Menurut Lord (1976:68 17),ada dua macam tema, yakni tema mayor dan tema minor. Adapun yang dimaksud dengan tema mayor ialah tema besar, sedang tema minor ialah bagian ked I dari tema mayor. Misalnya, adegan persidangan raja dengan para punggawanya merupakan tema mayor dan di dalam adegan ini masih terdapat adegan-adegan kecil, misalnya, ade.gan raja menerima surat; raja

memerintahkan mengirim bala tentara, dan

sebagainya.

Di samping hal di atas, pendekatan yang tampak menonjol terhadap sastra lisan, akhir-akhir ini, adalah pendeka tan struktur, yakni struktur naratif ceri ta

lisan. Elli Ko'hgas Maranda dan Pierre Maranda,

misalnya, telah menu lis bersama, yakni Structural

Models in Folklore and Transformational Essays

(1971) yang berisi model-model penganalisisan

struktur sastra Iisan. Salah satu model di dalam buku ini teJah digunakan oleh Yus Rusyana untuk mengana­ li;Sis cerita lisan Sunda (1978). Sebenarnya, pendekat­

an struktur itu telah lama bermula di Eropa pad

a

pada akhir abad ke-19 What buku Patterns in oral Literature susunan Heda Jason dan Dimitri Segal

1977: I). KemudiaQ, pada tahun 1910-an dan InO-an,

pendekatan ini sangat berkembang di Rusia.

Perkembangan pendekatan struktur nara tip di

Rusia itu sejajar dengan perkembangan Iinguistik

modern. Hal ini tampak di dalam karangan yang ber­ judul Russian Formalism: History, Doctrine (1955) oleh Viktor Erlich; dan Russian Formalist Theory and Its Poetic Ambiance (I968) karangan Krystina Pamors­ ka.Edisi bahasa Inggris diterbitkan Mouton.

Karangan-karangan seperti itu·· sangat dekat

dengan karangan-karangan seperti di bawah ini:

( I) Relation of the Compositional Method of the

Fabula to the~eneral Method of Style (1925) oleh

Viktor Shklovskij;

(2) Poetics and Genesis of the Bylinas (1924) oleh Aleksandr Skaftymovj

(36)

".~

(3) The Fairy Tale: Investigation of the Structure of

the Folktale (t 924) o(eh Roman M. Volkov;

(4) On the Morphological Study of the Folktale (t 927)

oleh Aleksandr J. Nikiforov; ,

(5) The Morphology of the Folktale (1928) oleh Vladimir Propp.

Karangan-karangan ini, isinya, urnurnnya meletakkan dasar-dasar pengelolaan, pertanyaan-pertanyaan yang mendasar, memberi jalan ke luar mengenai unit-unit

dasar analisis dan hubungan-hubungannya, serta

dasar-dasar pendekatan ten tang perkembangan model untuk struktur naratif. Pendekatan rnereka umumnya

analog dengan pendeka tan generative di dalam

linguistik modern. Hal ini tampak jp.las di dalam karya Nikiforov tersebut di atas.

Per~anyaan-pertanyaan yang rnendasar itu

antara lain berbunyi sebagai berikut: (1) Mengapa para

ahli toikior menggeluti sastra lisan dari sudut struc­

tural models; (2) Apakah tujuannya; (3) Bagairnana

car a membuatnya; dan (4) Bagaimana dapat secara improvisasi dan terus menerus beribu-ribu baris sebuah epik, atau penceritaan sebuah cerita dihasilkan di

d'alam beberapa jam saja (misalnya, Lord 1976) '?

Jawabnya: Karena ada generative grammar atau gene­ rating narrative (Iihat Shklovskij 1925, Nikiforov 1927).

Viktor Shklovskij berkata: "In reality the tales

continuously dissipate and are. again composed by spe­

cial rules of composition ...• " (1925: 23 - 24).

Sedangkan menurut Aleksandr J. Nikiforoy~ "The law

of the grammatical formation of the plot is particu­ larly interesting because it leads us to the conclusion that natural forces are at the, basis of folktales, force which bring about the development of various spheres of folk creativity (language, the folktale

plot) according to similar formal categoriesri (I 927:

28). .

Vladimir Propp di. dalam bukunya Morphology of

(37)

dan L 975; aslinya di dalam bahasa Rusia 1928) berusa­ ha menemukan aturan yang menguasai atau menentukan

struktur plot di dalam dongeng Rusia. Tujuan

lain dari Propp, dengan analisis struktur itu, ia berha­ rap dapa t menemukan struktur awal (purba) dongeng, dan dengan jalan berbagai transformasi, maka struk­ tur itu berkembang ke berbagai arah. Berdasarkan analisis 100 dongeng Rusia, Propp menemukan hal-hal sebagai berikut :

(l) fungsi merupakan unsur dongeng yang palmg

rnantap dan tidak berubah, walaupun tokoh

yang mendukung fungsi berganti;

(2) fungsi itu terbatas jumiahnya (menurut Propp ada 31 fungsi);

(3) urutan fungsi di dalam sebuah dongeng selalu sama;

(4) semua dongeng hanya mewakili satu tipe

saja jika dilihat dad strukturnya.

01eh Propp, lungsi didefinisikan sebagai: "Function is understood as act of a tharacter, defined from the point of view of its :;ignificance for the course of the

action" (I97 5: 21). Jadi, definisi ini hanya mengkaji

atas aksi watak atau dramatis personae pada

perkembangan cerita. Menurut Propp' (1975: 79 - 80), ada tujuh jenis dramatis personae, yakni:

(1) penjarah; (2) donor/pemberi;

(3) pembantu;

(4) tuan puteri dan ayahnya;

(5) pengutus; .

(6) pahlawan (wira) sejati; (7) pahlawan (wira) palsu.

Adapun ke-31 fungsi Propp itu, sebagaimana tertu­ lis di dalam terjemahan bahasa Inggris, sebagai beri­ kut:

(38)

( 1) One of the members of a family absents himself from home (Absentation).

(2) An interdiction is addressed to the hero (Interdic­ tion).

(3) The interdiction is violated (Violation).

(4) The villain makes an attempt at reconnaissance (Reconnaissance).

(5) The villain receives information about his victim (Delivery).

(6) The viUa.in attempts tto decci:ft!his victim in order

to take possession of him or of his belongings (Tric kery).

(7) The victim submits to deception and thereby unwi­ tingly helps his enemy (Complicity).

(8) The villain causes harm or injury to a member of

a family (Vil~ainy).

(8a) One member of family either lacks something or desires to have something (Lack).

(9) Misfortune or lack is made. known; the hero is approached with a request or ·command; he is allowed to go or he is dispatched (Mediation, the connective incident).

( 10) The seeker agrees to or decides upon counteraction (Beginning counterraction).

(II) The hero leaves home (Departure).

(12) The hero is tested, interrogated, attacked, etc, which prepares the way for his receiving either

it magical agent or helper (The firs function of

the donor)

(13) The hero reacts to the actions of the future donor (The hero's reaction).

(14) The hero acquires the use of a magical (Provision or rp.ce,ipt of a magical agent).

(39)

(15) The hero is transferred, delivered, or led to the whereabouts of an object (Spatial transference between two kingdoms, guidance).

(l6) The hero and the villain join in direct combat (Struggle).

(17) The hero is branded (Branding). (18) The villain is defeated (Victory).

(19) The initial misfortune or lack is liguidated.

(20) The hero returns (Return).

(21) The hero is pursued (Pursuit, chase). (22) Rescue of the hero from pursuit (Rescue).

(23) The hero, unrecognized, arrives home or in

another country (Unrecognized arrival).

(24) A false hero presents unfounded claims (Unfounded claims).

(i5) A' difficult task is proposed to the hero (Difficult task).

(26) The task is resolved (Solution).

(27) The hero is recognized (Recognition).

(28) The false hero or villain is ~xposed (Exposure).

(29) The hero is given a new appearance (Transfigu­ ration).

(30) The villain is punished (Punishment).

(31) The hero is married and ascends the throne <Wed­ ding).

Masing-masing fungsi tersebut di atas diberi tanda pengenal (kode) tertentu. Misalnya, fungsi ke-8 diberi kode M; fungsi ke-9 diberi kode B; fungsi ke 10 diberl

kode C; fungsi ke-l1 diberi kode '!' j dan seterusnya.

Di dalam praktek, jika kita berhadapan dengan sebuah

dongeng, kita harus mengabstraksikan unsur-unsur

(40)

dongeng ke dalam fungsi-fungsi tertentu dan

sekaligus memberinya kode. Sebagai kesimpulan

analisis, kita menyanyikan urutan kode, yakni sebuah

rumus plot dongeng tertentu. Untuk kepentingan

penelitian sastra Jisan di Indonesia, setiap peneliti dapa t menciptakan kode-kode tersendiri, maksudnya,

mengindonesiakan kode Propp, asalkan jelas yang

dimaksud.

Usaha Propp tersebut di atas diikuti oleh sarjana

lain. Misalnya, Alan Dundes, Dan Ben-Amos, Heda

Jason, Paul Powlinson, Benjamin N. Colby, Claude

Bremond, Erhardt Guttgemanns, dan lain-lain.

Karangan-karangan yang telah mereka tulis antara lain adalah: 1. From Etic to of Folktale Journal of Am 95 - 105. Emic (1962) erican Units oleh Fo in the Alan lklore Struktural Study Dundes, dalam 75, halaman

2. The Binary Structure of 'Unsuccessful Repetition' in Lithuanian Folktales (1962) oleh Alan Dunpes,

dalam Western Folklore 21, halaman 165

174.

3. The Morphology of North American Indian Folk­ tales (1964). oleh Alan Dundes, Folklore Fellows Communications 195, Helsinki.

4. Narrative Forms in the Haggadah: Structural Ana­ lysis (1967, disertasi) oleh Dan Ben-Amos.

5. The Narrative Structure of Mindles Tales

(1971) oleh Heda Jason, dalam AR V 27, halaman 141 - 160.

6. The Formalistic Approach in Oral Literature

Research: A Critical Historical Review (1971) oleh Heda Jason, dalam Hasifrut 3, halaman 53 - 84. 7. Structural Analysis and the Concept of 'Tale Type'

(1972) oleh Heda Jason, dalam AR V 28, halaman 36­

(41)

8. The Application of Propp's Functional Analysis to a Vague Folktale (1972) oleh Paul S. Pow linson, dalam Journal of American Folklore 85, halaman 3 ­ 20.

9. A Partial Grammar of Eskimo Folktales (1973) oleh Benjamin N. Colby, dalam American Anthropologist 75, halaman 64-5 - 662.

10. Analytical Procedures in Eidochronic Study (1973)

oleh Benjamin N. Colby, dalam Journal of

American Folklore 86, halaman 14- - 24-.

11. Morphology of the French Folktale (I970) olch Claude Bremon, dalam Semiotica 2, halaman 24-7 ­ 276.

12. Fundamentals of a Grammer of Oral Literature (1977) oleh Enhardt Guttgemanns, dalam Patterns in Oral Literature (editor Heda Jason dan Dimitri SegaI), halaman 77 - 97.

Aliran lain dari pendekatan struktur naratip ini

adalah penganalisisan tingkat 'makna'. Levi-Strauss

di dalam karyanya The Structural Study of Myth

(I955), misalnya, mencoba menyoroti dari aspek

semantik yang terdapat didalam mite dan problem­ problem mengenai pikiran manusia. Begltu juga dengan Kangas Maranda dan Pierre Maranda di dalam karang­ annya Structural Models in Folklore and Transforma­

tional Essays (l97 I).

Menurut Heda Jason (1977: 99 - 139) di dalam

karangannya A model for narrative structure

in Oral Literature, struktur sastra lisan itu ada empat tingkat. yakni:

1. wording, tingkat kata, yakni materi bahasa

yang erat hubungannya dengan linguistik;

2. texture, yakni tingkat jalinan kata-kata; dan hal

ini meliputi masalah ciri-ciri bahasa prosa dan

puisi, gaya sebuah genre, kebudayaan,' a'tau; a­

29

(42)

liran-aliran pencerita dan penyanyi; dan gaya yang aneh perseorangan di dalam pertunjukan; 3. narration, yakni tingkat jalinan plot (alur) cerita; 4. dramatization, yakni tingkat jalinan yang terjadi di oalam pertunjukan, yang berupa akustik, visual, dan aspek-aspek gerak yang merupakan elemen-elemen setiap pertunjukan sastra lisan, atau penciptaan sastra lisan.

Di dalam konperensi 'struktur sastra Iisan' di

Copenhagen, dari 15 - 18 Agustus 1973, sebagai bagi­

an dad Kongres Internasional ke IX llmu Antropologi dan Etnologi, disimpulkan (oleh Heda Jason dan Dimi­ tri Segal 1977: 3) bahwa ' struktur sastra lisan' mem­ punyai gejala-gejala yang sangat komplek. Secara teoritis, struktur sastra lisan itu mempunyai 4 tingkat (tataran), yakni (dikutip sesuai dengan aslinya):

d· {surface layer

a. The IeveI 0 f war mg :

deep layer

b. The level of poetic texture: (not yet clear how many layer).

surface layer c. The level of narrative:

{ deep layer

d. The level of m~ani~g: (presumably includes several

(Symbolic component) layers)

Menurut Heda Jason dan Dimitri Segal, tingkat (a)·

masuk ke dalam domein linguistik, khususnya

dialektologi. Karangan Thomas A. Sebeok, yakni: ( 1) Sound and Meaning in a Cheremis Message (1959); dan The Texture of a Cheremis Incantion (1962); serta karangan Albert B. Lord, yakni. T.he Singer of

(43)

MARKAM, dalang kentrung dari Desa Jendhing, Kccamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Dalang ini

(44)
(45)

Tales (1960), khususnya mengenai formula, termasuk ke dalam tingkat (b).

Elemen-elemen struktur sastra lisan itu satu sama lain saling berkaitan. Model Vladimir Propp, misalnya,

adalah gabungan tingkat (b) dan (c) dan harus dime­

ngerti sebagai surface -layer (lapisan luar). Model Alan Dundes di dalam The Morphology of North American Indian Folktales (1964) merupakan gabungan dad pola surface dan deep.

Tingkat (d), yakni tingkat makna, dapat diperoleh dengan jalan dianalisis lewat tingka tan yang ada. Dari makna kata-katanya, jalinannya, dan teks-nya sendiri. Jelasnya, isi dan struktur teks dapat dibongkar dan dianalisis maknanya, terutama di dalam keterika tan­ nya sa tu sama lain.

(46)

BAB III

PENELITIAN SASTRA LISAN

DI INDONESIA

1. Penelitian Sebelum Kemerdekaan

Yang mula-mula mengadakan penelitian sastra lisan di daerah Indonesia (Nusantara) ialah beberapa peny iar agama Nasrani, ahli bahasa-bahasa dan sastra Indonesia, dan para pengawai pemerintah jajahan darl Eropah. Mereka meneliti cerita-cerita rakyat, PU1S1-pU!S! rakyat dan teka-teki rakyat. Mereka mengadakan penelitian itu sejak pertengahan abad 19 (1850 - 1900). Kemudian pada awal abad 20 0900 1950) tampil beberapa ahli antropologi dan folklor yang mengolah lebih lanjut bahan-bahan yang telah dikumpulkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. 01eh karena pada waktu itu apa yang dinamakan teori Parry-Lord dan Propp belum dikenal maka teori itu tidak tampak dalam pendekatan mereka.

Tujuan utama para penyiar agama Nasrani datang ke Indon~sia ialah untuk menyiarkan agama Nasrani di antara penduduk asH di Indonesia. Sebenarnya penyiaran agama Nasrani ini telah dilakukan oleh V.O.C sejak permulaan abad 17. Pada mulanya para penyiar inl tidak meneliti kebudayaan (di dalamnya termasuk sastra lisan) suku-suku bangsa dl Indonesia. Baru pada pertengahan abad'19 terbit ka.rangan­ karangan mereka yang berisi uraian tentang sastra lisan yang terdapat di daerahnya masing-masing.

(47)

Karangan-karangan itu terbit di dalam majalah Zending yaitu Mededeelingen van wege het Nede­

landsche Zendinggenootschap (nomer pertama terbit pad a tahun 1857; di singkat: MNZ). Kemudian karangan-karangan mereka juga terbit di Tijdschrift

v~~r Neder·land's Indie (pertama kali terbit di Jakarta pada tahun 1838; disingkat: TN!), Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (disingkat: TBG), Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap (di­ sing kat: VBG), dan Bijdragen tot Taal-, Land- en

Volkenkunde, Koninklijk Instituut voor taal-, Land- en Volkenkunde (nomer pertama terbit pada tahun 1859; disingkat: BKl). TBG dan VBG diterbitkan oleh Genoot­ schap voor Kunsten en Wetenschaappen yang didirikan di Jakarta pada tahun 1778. Beberapa tokoh penyiar agama Nasrani yang menaruh perhatian pada sastra lisan ialah: C. Poensen, P.N. Wilken, D.K.

Wielinga dan M.J. van Baarda.

C. Poensen ialah seorang guru agama Nasrani. la pernah bekerja di beberapa tempat di Pulau Jawa. Ia banyak menulis karangan tentang kebudayaanorang Jawa. Karangan C. Poensen yang menyebabkan ia terkenal d1 dalam dunia ilmiah ialah karangan yang berisi uraian perihal wayang. Di dalam 'De Wayang' ia mengatakan bahwa sastra lisan. ini berasal dad luar Indonesia. Jelasnya wayang merupakan unsur kebudayaan Hindu (MNZ 1873: 143 - 144).

P.N. Wilken ialah seorang pendeta Nasrani yang bertempat tinggal di an tara penduduk Minahasa di Sulawesi Utara. Di dalam Bijdragen tot de Kennis van de Zeden en Gewoonten der Alfoeren in de Minahasa (MNZ 1863: 117 391) 1a mendiskripsi beberapa cerita rakyat (dongeng-dongeng binatang) dan keterangan tentang asal-usul nama-nama tempat di daerah Minahasa. Semua diceritakan di dalam bahasa Belanda tanpa disertai teks asli di dalam ba­ hasa Minahasa.

D.K. Wielinga ialah anggota penyiar agama Nasra­ n1 di ciaerah SIJmba eH Nusa Tenggara Barat.

(48)

Oi dalam Soembaneesche Verhalen In 't Dialect van Kambera, met Vertaling en Annteekeningan (BKI No. 68 1913: 1 - 287) ia rnendiskripsi dua

cerita rakyat Sumba dialek Kambera. Cerita ini diterbitkan dalam wujud teks di dalam bahasa Sumba dialek Kambera disertai dengan terjemahan di dalam bahasa Belanda.

M.J. van Baarda ialah penyiar agama Nasrani di daerah Halmahera. Oidalam BKI (No. 56 1904) ia menerbitkan karangan ten tang tatabahasa dialek bahasa Galela di Halmahera. Selain itu ia menyajikan dua cerita rakyat di dalam dialek bahasa Galela dengan disertai terjemahannya di dalam bahasa Belanda. la juga mendiskripsi tujuh belas cerita rakyat yang lain di dalam bahasa yang lain di dalam bahasa Belanda.

Karangan-karangan para penyiar agama Nasrani ini jika ditilik dari teori sastra lisan dapat dikatakan bahwa karangan-karangan itu tidak mengandung teod sastra lisan. Karangan-karangan itu hanya bersifat deskriptif.

Para penyiar agama Nasrani di Indonesia selanjutnya sangat memerlukan tenaga pen1;erjemah kitab-kltab sud agama Nasrani ke dalam bahasa Melayu dan bahasa-bahasa suku bangsa dl Indonesia. Untuk meme­ nuhi permintaan para penyiar agama Nasrani ini lalu tampil beberapa orang sarjana bahasa-bahasa dan sastra Indonesia didikan Universitas Leiden. Tokoh-tokoh penterjemah kitab-kltab sud agama Nas­ rani itu antara lain ialah B. F. Matthes, H. N. van der Tuuk, H.C. Klinkert dan N. Adriani.

B.F. Matthes ialah sarjana bahasa dan sastra Timur. Pada tahun 1848 ia datang ke daerah Sulawesi untuk mempelajari bahasa Makasar dan Bugis serta membyat terjemalian kitab Injil ke dalam kedua bahasa itu. Pada waktu ia mempelajari bah as a Maka­ sar dan Bugis ia juga mengumpulkan cerita-cerita

r a k y a t . · '

H.N. van der Tuuk datang ke dacrah Ba;ak untuk mempelajari bahasa daerah di sini dan menterjemah­

(49)

kan kitab Injil ke dalam bahasa Batak. Tugas ini menjadikan Van der Tu.i< banyak memberi sumbangan kepada perkembangan ilm.u perbandingan bahasa dan filologi Indonesia. Ia juga mengumpulkan beberapa cerita rakyat Batak What Van Ophuijsen: Batak Texs; Van der Tuuk: Bataksch Leesboek. IV). H.C. Klinkert pada mulanya lalah ahli ukur tanah. Ia kemudian menjadi lektor bahasa Melayu di Univer­ sitas Leiden. Ia juga termasuk salah seorang tokoh penting di dalam ilmu filologi di Indonesia. Ia pernah bertugas mempelajari bahasa Melayu di daerah Riau dan menterjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa itu. Sewaktu ia bertugas di daerah ini ia juga menaruh perhatian pada sastra lisan, ya:itu tentang pantun Melayu.

N. Adriani ialah sarjana bahasa-bahasa dan sastra Indonesia. Ia bekerja di Indonesia sebagai pegawai Nederlandsch Bijbelgenootschap. Pada tahun 1895 hingga tahun 1919 ia bertempat tinggal di a/ltara suku-suku bangsa di Sulawesi Tengah dan bertugas menterjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Bare'e. Ia banyak menulis karangan tentang kebudayaan suku bangsa di mana ia bertempat tinggal. Di antara karangan N. Adriani ada karangan tentang cerita rakyat Bare'e. Di dalam Bare'e-verha­ len. I, Adriani mengumpulkan seratus lima puluh cerita rakyat di dalam bahasa Bare'e. Di dalam jilid II buku ini ia membuat singkatan cerita di dalam bahasa Belanda dan klasifikasi cerita berda­ sarkan motif-motif cerita.

Perhatian Andriani terhadap cerita rakyat tidak hanya terbatas pada mengumpulkan dan mengklasifika­ sikan cerita akan tetapi ia juga mencoba melahirkan ilmu perbandingan cerita rakyat. Pada tahun 1910 ia menulis karangan tentang hubungan yang ada antara beberapa motif cerita dari Toraja dan Minahasa dengan beberapa' motif cerita (dongeng) da­ ri Jerman. Karangan itu berjudul Trekken van Ove­ reenkomst tusschen de Germaansche en de Toradja'

(50)

sehe en Minahassisehe Volksverhalen (Indisehe Gids 1910: 253 - 284).

Para pegawai pemerintah jajahan di Indonesia ada juga yang menaruh minat pada kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia. Para pegawai ini dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu para pegawai pemerinta..,.i! jajahan Inggris dan para pengawai pemerintah jajahan Belanda.

Par'" pegawai pemerintah Inggris yang terkemuka antara.lain ialah W. Marsden (pegawai tinggi di Beng­ kulu dari tahun 1771 - 1779), T.S Raffles (kepala pemerintahan di Indonesia dari tahun 1811 - 1816),

J. Crawfurd (pernah tinggal di Penang dan di Jawa Tengah pada tahun 1808 - 1916), dan J.R. Logan (di Penang dari tahun 1840 - 1869). Mereka mengarang . buku-buku yang berisi uraian tentang kebudayaan suku­ suku bangsa di Indonesia. Buku-buku ini sangat berharga sekali untuk penelitian antropologi budaya. W. Marsden mengarang tentang kebudayaan suku-suku bangsa di Sumatra (Marsden 1783), T.S. Raffles me­ ngarang tentang kebudayaan orang Jawa (Raffles

1917), J. Crawfurd mengarang tentang kebudayaan su­

ku-suku' • bangsa di Indonesia (Crawfurd 1810), dan J.R; Logan mengarang tentang kebudayaan suku­ suku bangsa di Sumatra (Logan 1849). Masalah kesu­ sasteraan suku-suku bangsa yang diselidiki oleh mereka itu juga dibicarakan dalam buku-buku mereka tapi masalah sastra lisan tidak mendapat perhatian seeukupnya. Hal ini berbeda dengan para pegawai pemerintah jajahan Hindia Belanda.

Pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda ada beberapa' pegawai dari pemerintah ini yang mengarang ten tang sastra lisan di Indonesia. Karangan-k~rangan

mereka itu terbit di TBG, VBG dan BKI. Tokoh-tokoh­ nya an tara lain ialah O.L. Helfrich, J.J. Meijer,

dan lain-lain. .

O.L Helfrich ialahkontrolir di daerah Bengkulu. Ia menaruh perhatian pada bermaeam-maeam jenis sastra Hscim. OJ dalam TBG (1894) ia menuiis

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :