mengabdi kepada Sang Pemilik Alam Alam Semesta, Allah SWT yang telah membagikan tugas-tugas itu kepada kita semua. Keihklasan, ketekunan, dan keseriusan masing-masing oranglah yang dinilai di hadapan Allah. Sesungguhnya dalam konteks kehidupan, nilai- nilai ini adalah juga merupakan sumber utama kesuksesan, bukan semata-mata sebagai perilaku spiritual yang berbalas fahala di akhirat. Allah tidak menilai suatu pekerjaan dengan adanya imbalan finansial.
Al-Quran surat al-Ahzab ayat 33 telah menegaskan bahwa urusan rumah tangga adalah tugas utama perempuan. Ayat ini sebenarnya hanya menjelaskan bahwa perempuan hendaknya tinggal di rumah, bukan melakukan pekerjaan rumah. Namun secara umum tentu saja berhubungan dengan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan rumah atau pekerjaan rumah. Selain berbagai pekerjaan yang sifatnya duniawi, para istri yang berdiam di rumah itu hendaknya banyak membaca ayat-ayat Allah, memperbanyak ibadah, sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:
ا اريِّبَخ اافيِّطَل َناَك َ َّللَّٱ َّنِّإ ِّةَم ۡك ِّحۡلٱ َو ِّ َّللَّٱ ِّتََّٰياَء ۡنِّم َّنُكِّتوُيُب يِّف َّٰىَلۡتُي اَم َن ۡرُكۡذٱ َو ٣٤
ةروس[
بازحلۡا -
٣٤ ]
Artinya: Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33).
Sekali lagi, baik sektor publik maupun domestik keduanya sama-sama mulia dalam perspektif al-Quran. Namun tiba-tiba ada orang-orang yang memilah-milah dan membeda- bedakan kedua. Dalam perspektif masyarakat materialis – kapitalistik segala sesuatu dinilai dengan materi. Pekerjaan-pekerjaan yang secara langsung tidak mendatangkan imbalan materi dianggap sebagai pekerjaan non produktif, pekerjaan yang inferior, bahkan dianggap bukan pekerjaan. Prinsip inilah yang kemudian diadopsi oleh gerakan feminisme. Para feminis kemudian mendekonstruksi definisi jenis kelamin dengan membedakan antara sex dan gender. Teori inilah kemudian yang menjadi pisau analisis untuk melahirkan teori kesetaraan gender. Pada intinya, sebagaimana telah disinggung pada bagian terdahulu, agenda utama keseteraan gender adalah ingin mengeluarkan perempuan dari sektor domestik ke dunia publik. Simpelnya mendorong perempuan untuk masuk ke dunia kerja dan ranah politik yang selama ini didominasi oleh laki-laki.
Menurut para feminis, baik peran publik maupun peran domestik seharusnya dikerjakan bersama-sama baik oleh laki-laki maupun perempuan yang mereka sebut
dengan equal partership. Sepintas kedengarannya sangat indah. Namun secara prinsip ini sungguh tidak logis dan secara praktik juga tidak realistis. Jika kita melihat adanya perbedaan yang sangat mencolok antara keduanya dan berpikir secara modern kaitannya dengan perspektif ilmu manajemen sebagaimana dijelaskan di sebelumnya, prinsip equal partneship jelas tidak logis. Itu sama artinya memandang bahwa alam semesta ini tidak dikelola Tuhan dengan prinsip manajemen yang baik.
Prinsip membiarkan semua diurus bersama secara sukarela sebenarnya sama dengan tidak adanya kejelasan tugas dan fungsi pokok dalam sebuah organisasi. Apa yang terjadi selanjutnya bukannya semua hal dikerjakan maksimal. Tapi semua akan terbengkalai karena satu sama lain bisa saja bersikap masa bodoh dan saling mengandalkan. Hal semacam ini jelas sebuah kekacuan yang tidak mungkin diterapkan dalam pengelolaan organisasi yang profesional. Lalu bagaimana hal semacam ini akan kita labelkan kepada Allah, tuhan yang menciptakan manusia dan memberikan sedikit ilmu manajemen yang Dia kuasai pada manusia.
Pada praktiknya, Hughes dan Galinsky menyatakan bahwa setelah perempuan masuk ke dunia kerja justru menambah beban (double burden) dan membuat perempuan stress. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suami dan istri sama-sama berkeraris maka pihak perempuan mengalami stres psikologis yang lebih besar. Masalah double burden ini sekarang marak sebagai perbincangan serius di kalangan feminisme. Sayangnya tidak pernah disadarai bahwa semuanya juga muncul atau setidaknya makin parah karena disebabkan oleh propaganda para feminis. Hal ini ibarat mengobati penyakit dengan menebar penyakit.
Selain masalah doubloe burden, keluarnya perempuan dari ranah domestik kemudian juga dibarengi dengan munculnya berbagai serentetan kejadian yang merugikan perempuan itu sendiri. Salah satunya dan yang laing parah adalah makin maraknya pelecehan seksual. Universitas Quinnipiac melakukan survei terhadap para koran dan hasil sebanyak 69 persen para korban mengaku mengalami pelecehan di tempat kerja, 43 persen di acara sosial, 45 persen di jalanan dan 14 persen di rumah.
(https://news.detik.com/internasional/d-3737725/duh-60-persen-wanita-as-pernah-alami- pelecehan-seks). CNN, Senin (27/11/2017) mengabarkan hasil survei bahwa lebih dari 40 persen perempuan merasa tidak aman di tempat di mana banyak pria berada.
Hasil survei di India menemukan hasil bahwa 44 persen perempuan pernah diraba- raba oleh pria di tempat publik, dan 79 persen perempuan pernah mengalami pelecehan seksual. Sebanyak 84 persen perempuan di Bangladesh dan 87 persen perempuan di
Vietnam pernah mengalami pelecehan seksual di area publik. Selanjutnya di Amerika Serikat dan Kanada sebanyak 65 juga mengalami pelecehan seksual di jalan. Di Inggris, 64 persen perempuan pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik. Di Brasil sebanyak 86 persen perempuan mengalami pelecehan dan kekerasan di ruang publik.
Survei Institut Nasional Statistik dan Geofrafi Meksiko menunjukkan bahwa 96 persen perempuan di Mexico City pernah mengalami kekerasan seksual di tempat umum.(https://internasional.kompas.com/read/2017/11/29/11204751/pelecehan-seksual-perempuan- tertinggi-terjadi-di-amerika-latin-dan-asia?page=all). Selanjutnya di Indonesia, Komnas Perempuan melaporkan pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4,336 kasus kekerasan seksual, di mana 2,920 kasus di antaranya terjadi di ranah publik/komunitas. (https://tirto.id/bentuk- bentuk-pelecehan-seksual-rayuan-hingga-perkosaan-elTB).
Melihat angka-angka ini maka sudah seharusnya untuk memikirkan ulang agenda kesetaraan gender yang tujuan utamanya adalah mengeluarkan perempuan dari rumah dan memasukkannya ke dalam dunia kerja. Berbagai upaya untuk melindungi perempuan di tempat kerja sudah dilakukan di negara-negara maju. Tapi kasus pelecehan seksual ini termasuk kategori kasus yang rumit karena sifatnya yang sangat privasi sehingga seringkali korban justru tidak mau melapor. Pelecehan seksual juga mudah sekali dilakukan di mana pun dan pelaku dengan mudahnya dapat merencanakan aksinya agar lepas dari jerat hukum. Melihat masalah ini maka kita menjadi paham bahwa menempatkan perempuan di rumah adalah salah upaya untuk memelihara kehormatan perempuan, bukan sebaliknya.
Disadari juga bahwa wanita diciptakan Allah dengan ciri-ciri khusus dimana penampilan fisiknya dapat mengundang birahi lawan jenis. Bersolek merupakan salah satu karakter khusus perempuan. Karena karakter inilah kemudian di mana-mana muncul berbagai alat kecantikan dan berbagai aksesoris untuk mempercantik penampilan perempuan. Seribu macam jenis kosmetik, seribu macam jenis pakiaian dan seribu macam jenis aksesoris perempuan dapat kita temukan. Memang benar ada juga laki-laki yang suka berdandan. Tapi itu hanya dilakukan oleh sedikit orang saja jika dibandingkan dengan perempuan. Jarang sekali laki-laki di rumahnya punya meja rias atau sejenis. Kalau pun berdandan tentu hanya sekedarnya, termasuk jenis kosmetik, maju, mapun aksesoris laki- laki juga sangat terbatas.
Di mana-mana kita juga melihat banyak bertebaran salon kecantikan. Tapi jarang kita temui yang namanya salon kegantengan. Kalau kita melihat ke dunia maya misalnya, atau ke berbagai platform media sosial maka dengan mudahnya di sana kita menemukan
foto maupun video perempuan yang dengan sengaja mempertontonkan kecantikan atau pun kemolekan tubuhnya. Tapi jarang sekali atau setidaknya kalah jauh dengan perempuan para lelaki yang memamer-mamerkan tubuhnya, kecuali binaragawan upun untuk kepentingan tertentu dan jumlahnya juga tidak banyak. Kenyataan ini merupakan salah satu bukti kebenaran firman Allah SWT:
ِّةَّضِّفْلا َو ِّبَهَّذلا َنِّم ِّة َرَطْنَقُمْلا ِّريِّطاَنَقْلا َو َنيِّنَبْلا َو ِّءاَس ِّنلا َنِّم ِّتا َوَهَّشلا ُّبُح ِّساَّنلِّل َن ِّيُز
ْنَ ْلۡا َو ِّةَم َّوَسُمْلا ِّلْيَخْلا َو َُّاللَ َو اَيْنُّدلا ِّةاَيَحْلا ُعاَتَم َكِّلَذ ِّث ْرَحْلا َو ِّماَع
ِّبَآَمْلا ُنْسُح ُهَدْنِّع
Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa- apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran [3]: 14).
Perhatikan kalimat ini: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita...”. Kalimatnya “zuyyina” seakar kata dengan “ziinatun” yang artinya perhiasan. Kaum feminis boleh mengatakan bahwa semua ini adalah konstruk sosial. Pertanyaannya dari manakah konstruk itu mula-mula timbul?
Kenapa demikian massifnya hingga terjadi di seluruh belahan dunia? Berdasarkan hal inilah kajian biologis tentang perbedaan struktur otak perempuan dapat menjadi salah satu jawabannya. Semuanya terutama adalah disebabkan oleh perbedaan anatomi tubuh, termasuk janis hormon yang ada dalam tubuh manusia dan semua itu dengan sengaja diciptakan Allah. Dengan kata lain, semua itu adalah desain Allah SWT. Karena itulah, setelah Allah memerintahkan agar perempuan diam di rumah, kemudian Allah berfirman:
ََّّٰۖىَلوُ ۡلۡٱ ِّةَّيِّلِّه ََّٰجۡلٱ َج ُّرَبَت َن ۡج َّرَبَت َلَ َو
Artinya: “....dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang- orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab [33]: 33].
Perempuan dilarang telanjang, memamerkan tubuh dan perhiasan. Hal ini berkebalikan dengan apa yang terjadi dewasa ini dimana pergaulan bebas marak di mana- mana. Alih-alih hal ini ditertibkan demi melindungi harga diri dan kehormatan perempuan, yang ada justru dibiarkan dengan dalih hak asasi manusia dan sebagainya. Berbagai upaya pun, termasuk yang “mengatasnamakan” penelitian dilakukan. Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta, dan Change.org Indonesia merilis hasi penemuannya bahwa tiga peringkat teratas korban pelecehan seksual adalah pemakai rok/celana panjang yang besarnya 18 persen, pemakai
jilbab sebanyak 17 persen, serta pemakai baju lengan panjang sebesar 16 persen. "Temuan ini membantah sama sekali ucapan ‘Salah sendiri nggak pakai baju sopan’," ujar Peneliti Lentera Sintas Indonesia, Rastra, dikutip Detik saat jumpa pers di Cikini, Jakarta Pusat.
Dalam tulisan rilisnya mereka menampilkan wanita dengan memegang poster bertuliskan:”Bukan baju gue yang porno, tapi otak lu!”
(https://www.vice.com/id_id/article/ywy8jg/pakaian-picu-pelecehan-data-buktikan- perempuan-berjilbab-sering-dilecehkan-di-indonesia).
Hasil survei ini tentu saja bisa dipertanyakan dan diperdebatkan dalam banyak aspeknya. Tarmasuk hasil survei itu tidak lantas kemudian dapat melegitimasi untuk memakai bikini atau bahkan telanjang. Apalagi jika dilihat dari perspektif Islam. Inilah sekali lagi kalau semua hal diserahkan pada ukuran-ukuran manusia. Terlebih lagi kesimpulan hasil survei ini tampak bertentangan dengan logika moral secara umum.
Bisakah kita membayangkan apa yang terjadi seandainya diadakan sebuah penelitian eksperimen misalnya sejumlah pria dipaparkan di depannya perempuan telanjang atau memakai pakaian yang seronok, kemudian pada sisi lain dipaparkan obyek yang berbeda yaitu perempuan yang mengenakan jilbab. Kemudian dilihat reaksinya melalui mimik ataupun gerak alat kelamin, mana yang mengundang birahi?
Meskipun ini belum dilakukan penelitiannya, tapi pada hal yang serupa sebenarnya dapat diambil contoh berbagai paparan gambar dan film-film porno yang tentunya mempertontonkan anggota tubuh baik telanjang maupun seronok. Teramasuk juga beberapa iklan yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Untuk apa semua itu dilakukan?
Bukankah untuk menarik perhatian? Termasuk nafsu birahi yang erat hubungannya dengan pelecehan seksual? Kenapa tidak dipaparkan saja perempuan-perempuan berjilbab jika memang menurut hasil survei tadi dia lebih mengundang daya tarik ke arah itu?
Sekali lagi penempatan perempuan di sektor domestik dan etika perilaku, termasuk berbusana adalah sebuah aturan yang relevan dengan karakter dasar perempuan.
Semuanya disamping merupakan sesuatu yang logis dalam konteks manajemen semesta juga dimaksudkan untuk menjaga harga diri dan martabat perempuan. Tak ada satupun ayat al-Quran yang menyebutkan bahwa peran domestik adalah peran rendah dan inferior.
BAB 5. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut. Pertama, lak-laki dan perempuan dalam perspektif al-Quran bukanlah sekedar identitas biologis. Tapi yang terutama adalah identitas yang berhubungan dengan perbedaan sifat, tugas, dan peran kehadiran masing-masing di muka bumi. Kedua, sebagaimana siang dan malam, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai dua sosok makhluk yang secara fundamental berbeda satu sama lain. Perbedaan ini berhubungan dengan perbedaan tugas dan fungsi kehadiran masing-masing di muka bumi. Ketiga, lak-laki dan perempuan adalah pasangan (azwaj) dimana satu sama lain saling bantu dan saling melengkapi. Kendati demikian tidak berarti satu sama lain kehilangan orientasi dan tugas utama kehadirannya di muka bumi.
Keempat, laki-laki dicirikan dengan sifat-sifat agresifitas dan kemandirian dengan peran sosial memimpin, melindungi, mencari nafkah, dan peran lain yang berhubungan lebih banyak dengan dunia publik dan kehidupan sosial. Sedangkan sifat, tugas, peran, dan eksistensi perempuan ada pada dan lebih banyak berhubungan dengan identitas biologisnya. Perempuan dicirikan dengan sifat berhias, kelembutan, ketaatan, menjaga kehormatan diri dan peran lain yang berhubungan dengan ranah domestik/rumahtangga.
Kelima, tugas dan peran utama laki-laki berkenaan dengan urusan publik, terutama berkenaan dengan kepemimpinan dan mencari nafkah (urusan ekonomi). Sedangkan tugas dan peran utama perempuan berkenaan dengan urusan domestik terutama berkenaan dengan masalah pengasuhan anak.
B. Saran
Berdasarkan hasil penilitian ini terdapat beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi dunia pendidikan hendaknya merekonstrukti kembali paradigma dan model pendidikan keseteraan gender. Paradigma dan model pendidikan kesetaraan gender yang selama ini dipraktikkan pada umumnya berangkat dari paradigma feminisme Barat yang secara prinsip tidak selaras dengan ajaran Islam.
2. Bagi keluarga hendaknya mendidik putra-putrinya sesuai dengan karakteristik masing-masing. Anak laki-laki mempunyai sifat dan perannya sendiri. Demikian juga anak perempuan. Para orangtua hendaknya memperhatikan hal ini dala mendidik putra-putrinya. Anak laki-laki harus dididik menjadi anak laki-laki, demikian juga anak perempuan.
BAB 6. LUARAN YANG DICAPAI
Luaran yang dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: