• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN SOSIAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PERSPEKTIF AL-QUR’AN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PERAN SOSIAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PERSPEKTIF AL-QUR’AN "

Copied!
62
0
0

Teks penuh

Judul Penelitian: Peran Sosial Laki-Laki dan Perempuan Dalam Perspektif Al-Qur'an Jenis Penelitian: PENELITIAN DISERTASI. Perbedaan tersebut membawa konsekuensi pada perbedaan karakter, hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Kaum feminis percaya bahwa laki-laki dan perempuan hanyalah identitas biologis (seks) yang tidak memiliki hubungan dan pengaruh terhadap perbedaan peran sosial (gender).

Perbedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan, termasuk stereotip gender, adalah bawaan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perbedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan dalam perspektif Al-Qur'an. Yang lain berpendapat bahwa semua perbedaan ini dipengaruhi oleh susunan biologis laki-laki dan perempuan (kodrat).

Dalam perspektif Islam, unsur biologi lelaki dan wanita bukan sahaja kehendak fitrah (pendidikan) tetapi kehendak Tuhan (iradatullah).

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Laki-laki Perspektif al-Quran

Kata ar-rijaal yang berarti manusia dengan berbagai turunannya di dalam Al-Qur'an disebutkan sebanyak 54 kali. Kata ar-rijaal dengan berbagai bentuknya paling sering menunjukkan arti laki-laki (lebih tepatnya laki-laki dewasa) yaitu sebanyak 26 kata. Namun, dalam istilah umum, ar-rijaal adalah kualifikasi tipikal pria dewasa, bukan wanita.

Kata ar-rijaal, yang diartikan sebagai rasul, mengingat para rasul juga benar-benar laki-laki. Jadi kata ar-rijaal disana tidak lain berarti manusia (lebih tepatnya dalam konteks bahasa Indonesia berarti manusia). Kedua, sebanyak 3 ayat yang di dalamnya terdapat 3 kata ar-rijaal, dimana ayat tersebut menunjukkan identitas biologis laki-laki.

Ketiga, sebanyak 21 ayat yang didalamnya terdapat 23 kata ar-rijhal dimana ayat ini menunjukkan sifat dan peran sosial manusia.

Perempuan Perspektif al-Quran

Berdasarkan hal tersebut, timbul kesan bahwa tugas dan peran perempuan lebih banyak berkaitan dengan identitas biologisnya daripada laki-laki. Jadi Al-Qur'an tidak mau mengajarkan siapa laki-laki dan siapa perempuan dalam konteks ciri biologisnya masing-masing. Berdasarkan hasil pembahasan ayat-ayat Alquran di atas, kini dapat dirumuskan siapa laki-laki dan siapa perempuan.

Bahwa ada laki-laki dan perempuan dari segi ciri-ciri biologisnya nampaknya tidak menjadi perhatian utama al-Qur'an. Ayat-ayat yang berkaitan dengan identitas biologis umumnya diarahkan untuk membicarakan tema-tema lain yang berkaitan dengan aturan, sifat dan juga peran laki-laki dan perempuan serta pelaksanaan amanah sebagai hamba dan khalifatullah di muka bumi. Berbeda dengan pandangan kaum feminis yang menganggap hal ini sangat penting dan bahkan menjadi satu-satunya penanda laki-laki dan perempuan.

Bagi Al-Qur'an, laki-laki dan perempuan yang terpenting harus dipahami dalam konteks berbagai tugas dan perannya dalam kehidupan sosial.

Pembagian Peran Laki-laki dan Perempuan

Menurut terjemahan Alquran, Kementerian Agama Republik Indonesia diartikan sebagai “pelindung”, laki-laki adalah pelindung perempuan. Dalam logika Rasulullah SAW, seharusnya pria ini qishah, namun sebenarnya ayat ini melarangnya secara tidak langsung. Tuhan rupanya memiliki pertimbangan yang sangat detail terkait dengan sifat laki-laki dan perempuan, termasuk hubungan keduanya dalam rumah tangga.

Pemecahan masalah ini terkait hubungan suami istri dan juga hubungan suami istri ternyata tidak sesederhana hukum qishah. Berdasarkan aturan ini, pemahaman bahwa kepemimpinan adalah tugas utama laki-laki adalah benar. Ayat ini meletakkan aturan dasar mengenai pembagian peran antara suami dan istri, tetapi antara suami dan istri.

Artinya, begitulah seharusnya pria dan wanita dan ke arah itu masing-masing harus memposisikan diri. Kedudukan dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan di atas sejalan dengan rancangan alam semesta (hukum alam). Tentunya kepemimpinan juga merupakan peran yang sesuai dengan sifat maskulin laki-laki.

Fakta di seluruh dunia membuktikan bahwa ranah kepemimpinan di semua negara di belahan dunia ini didominasi oleh laki-laki. Perspektif ini tentu bertentangan dengan Islam yang menganggap manusia, termasuk laki-laki dan perempuan, berada dalam hubungan yang harmonis (azwaaj). Dalam konsep ini, laki-laki dan perempuan, khususnya laki-laki dan perempuan, tidak boleh dilihat sebagai individu, melainkan sebagai satu paket.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar pepatah: "Di balik pria yang sukses ada wanita yang luar biasa." Mengukur produktivitas perempuan di bidang ekonomi, misalnya dengan membandingkan laki-laki dan perempuan secara kuantitatif, adalah sebuah kesalahan.

ةروس[

بازحلۡا٣٣

بازحلۡا-

KESIMPULAN

  • Kesimpulan
  • Saran

Namun yang lebih penting adalah identitas yang terkait dengan perbedaan sifat, tugas dan peran masing-masing yang ada di muka bumi. Kedua, seperti halnya siang dan malam, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk yang secara fundamental berbeda satu sama lain. Ketiga, laki-laki dan perempuan adalah pasangan (azvaj) dimana satu sama lain saling membantu dan melengkapi.

Namun, bukan berarti satu sama lain kehilangan orientasi dan tugas utama kehadirannya di Bumi. Keempat, laki-laki dicirikan oleh agresivitas dan kemandirian dengan peran sosial memimpin, melindungi, mencari nafkah dan peran lain yang lebih terkait dengan dunia publik dan kehidupan sosial. Sementara itu, karakteristik, tugas, peran, dan eksistensi perempuan ada dan lebih terkait dengan identitas biologisnya.

Wanita dicirikan oleh sifat berhias, lemah lembut, patuh, menjaga kehormatan diri dan peranan lain yang berkaitan dengan rumah tangga/rumah tangga. Kelima, tugas dan peranan utama lelaki adalah berkaitan dengan hal ehwal awam khususnya dari segi kepimpinan dan penghidupan (economic affairs). Manakala tugas dan peranan utama wanita adalah berkaitan dengan urusan rumah tangga khususnya berkaitan dengan masalah pembesaran anak.

Paradigma dan model pendidikan kesetaraan gender yang dipraktikkan selama ini umumnya berangkat dari paradigma feminisme Barat yang pada dasarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam.

LUARAN YANG DICAPAI

IDENTITAS JURNAL

RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI

Intervensi berbasis gender untuk pengembangan program pendidikan menangani karakteristik dan peran sosial laki-laki dan perempuan. Pria dan wanita adalah istilah yang dimaksudkan untuk menunjukkan perbedaan sifat, tugas, dan peran masing-masing kehadiran di Bumi. Pemahaman ini nampaknya bertentangan dengan realitas dan ayat-ayat al-Qur'an yang secara jelas (nas sharih) menggambarkan berbagai perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Penciptaan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan mencolok jelas memiliki maksud dan tujuan. Kemudian merumuskan asumsi dasar dan prinsip dasar mengenai peran dan tugas laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial dalam perspektif Islam. Semua definisi sepakat bahwa gender adalah ciri atau identitas khusus yang dimiliki laki-laki dan perempuan.

Identitas biologis merupakan ciri khas yang terdiri dari struktur biologis (anatomi tubuh) yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Sementara itu, identitas sosiologis merupakan ciri khusus laki-laki dan perempuan dilihat dari sifat, peran dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat. Ada beberapa kata dan ayat dalam Al-Qur'an yang merujuk pada laki-laki dan perempuan.

Laki-laki dalam Al-Qur'an ditunjukkan dengan jamak ar-rijaal i rajul dan adz-dzakar dengan berbagai kata turunannya. Kemudian menunjukkan arti orang secara umum yang artinya memberitahu laki-laki dan perempuan hingga 12 kata. Pertama, ada 12 ayat yang didalamnya terdapat 13 kata ar-rijhal dimana ayat tersebut tidak menunjukkan identitas tersendiri dalam hubungannya dengan laki-laki.

Namun, ayat-ayat yang berkaitan dengan identitas biologis tidak dimaksudkan untuk membahas ciri-ciri biologis atau anatomi laki-laki dan perempuan. Selain itu, bagian ini akan membahas lebih lanjut ayat-ayat Al-Qur'an yang secara khusus membahas tentang perbedaan kodrat dan peran sosial laki-laki dan perempuan.

نُهو

Namun, tidak menutup kemungkinan akan terjadi masalah penghidupan di antara mereka, sehingga nasehat kepada manusia ini juga ditegaskan oleh Allah. Pernyataan bahwa pekerjaan laki-laki dalam konteks ini adalah mencari nafkah bukan hanya pernyataan apriori, tetapi juga nasihat yang sangat relevan dan bijak terkait konflik keluarga yang sedang dialami suami istri ini. Penelitian pada otak manusia, seperti yang dibahas pada bagian sebelumnya, menunjukkan bahwa pada pria, hormon testosteron mendominasi, yang pada gilirannya mendorong sifat dan perilaku maskulin, perilaku yang menuntut kinerja dan mendorong sikap agresif di ruang publik.

Hal itu menunjukkan bahwa bagaimanapun perubahan itu terjadi, sifat-sifat khusus laki-laki dalam perannya sebagai suami dan ayah tetap melekat. Jika ditelusuri lebih jauh, sifat maskulin ini berasal dari struktur biologis laki-laki, yakni adanya hormon testosteron yang mendominasi dan mempengaruhi otak laki-laki. Dominasi hormon testosteron pria membuatnya agresif, suka bersaing dan menunjukkan eksistensinya dalam bentuk kemandirian dan kemampuannya untuk mengontrol sesuai dengan kebutuhannya.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan masyarakat yang egaliter, terutama dalam kaitannya dengan laki-laki dan perempuan, kedua jenis kelamin juga harus terdistribusi secara merata di dua sektor penting tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar pepatah: "Di balik pria sukses ada wanita hebat." Produktivitas laki-laki di ruang publik tidak boleh dilihat sebagai kesuksesan mereka. Ketika laki-laki sebagaimana dijelaskan di atas memiliki tugas khusus yang harus dilakukan, yaitu tugas-tugas yang berkaitan dengan sektor publik, maka ada satu sektor kehidupan yang belum tergarap, yaitu sektor rumah tangga.

Sederhananya, mendorong perempuan memasuki dunia kerja dan ranah politik yang didominasi laki-laki. Menurut kaum feminis, baik peran publik maupun peran domestik harus dilakukan secara bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan yang mereka sebut kemitraan yang setara. Hasil survey di India menemukan bahwa 44 persen wanita pernah diraba-raba oleh pria di tempat umum, dan 79 persen wanita pernah mengalami pelecehan seksual.

Sebuah survei oleh Institut Statistik dan Geografi Nasional Meksiko menemukan bahwa 96 persen wanita di Mexico City pernah mengalami kekerasan seksual di tempat umum. Kalaupun berdandan tentu saja hanya seadanya, termasuk jenis kosmetik yang canggih, tetapi juga aksesoris pria juga sangat terbatas.

Referensi

Dokumen terkait

0291 441613 Email: [email protected] Website: http://iainkudus.ac.id PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi Saudara/