• Tidak ada hasil yang ditemukan

ﻳﹺﺞ

Dalam dokumen DOKUMEN TENTANG URGENSI BERKELUARGA (Halaman 32-37)

Akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin dengan menggunakan kata nakah}a atau zawaja.

Ada tiga kata kunci dari definisi tersebut di atas, yaitu

‘aqada,yatad}ammanu, dan an-nikāh}. Penggunaan kata ‘aqada untuk menjelaskan bahwa perkawinan itu adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh orang-orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam perkawinan. Perkawinan itu dibuat dalam bentuk akad karena ia adalah peristiwa hukum, bukan peristiwa biologis atau semata-mata hubungan kelamin antara laki-laki dan

perempuan. Penggunaan ungkapan yatad}ammanu ibāh}ah al-wat}a' mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin, karena pada dasarnya hubungan laki-laki dan perempuan adalah terlarang, kecuali ada hal-hal yang membolehkannya secara hukum syarak. Di antara hal-hal yang membolehkan hubungan kelamin itu adalah adanya akad nikah di antara keduanya.

Dengan demikian, akad itu adalah suatu usaha untuk membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh kemudian boleh dengan adanya akad. Menggunakan kata bi lafz}in-nikāh}, dimaksud bahwa akad yang membolehkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan itu mesti menggunakan kata na- ka-h}a atau za-wa-ja.3 Definisi tersebut begitu pendek, sederhana dan hanya mengemukakan hakikat utama dari suatu perkawinan yaitu kebolehan melakukan hubungan kelamin setelah berlangsungnya pernikahan itu.

Sedang UU Perkawinan yang berlaku di Indonesia merumuskannya dengan “Perkawinan ialah ikatan lahir-batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kalau dianalisis lebih jauh, penggunaan redaksi “seorang pria dengan seorang wanita” mengandung arti bahwa perkawinan itu hanyalah antara jenis kelamin yang berbeda. Hal ini menolak perkawinan sesama jenis yang kini berlaku dan telah dilegalkan oleh beberapa negara Barat. Kata “sebagai suami istri”

mengandung arti bahwa perkawinan itu adalah bertemunya dua jenis kelamin yang berbeda dalam suatu rumah tangga, bukan hanya dalam istilah “hidup bersama”. Dalam rumusan tersebut disebutkan tujuan perkawinan untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal, menafikan perkawinan temporal sebagaimana yang berlaku dalam perkawinan mut‘ah (perkawinan

dengan waktu tertentu dan berakhir setelah habis masanya) atau perkawinan tahlīl (perkawinan yang disertai persyaratan setelah persetubuhan). Penyebutan ungkapan berdasarkan

“Ketuhanan Yang Maha Esa” menunjukkan bahwa perkawinan itu bagi Islam adalah peristiwa agama dan dilakukan untuk memenuhi perintah agama.4 Sebagai peristiwa agama yang terkait dengan perintah agama, dengan demikian mempunyai komitmen Ilahi, selain komitmen sosial.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa intisari pernikahan adalah akad atau perjanjian. Perjanjian inilah yang menghalalkan hubungan kelamin dari dua jenis makhluk yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Perjanjian ini dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai perjanjian yang kuat (mīs\āqan galīz}an) memberikan isyarat bahwa perjanjian itu mempunyai nilai Ilahi, spritual, dan kerohanian, serta tidak terlepas dari implikasi yang sifatnya kontrak sosial, karena dilakukan oleh dua orang yang berinteraksi melalui perjanjian nikah.

2. Tujuan Pernikahan

a. Untuk mendapatkan keturunan, melestarikan manusia dengan perkembangbiakan yang dihasilkan oleh nikah.

b. Untuk menjaga kemaluan dan kehormatannya dengan melakukan hubungan seks yang sah dan fitri, sehingga terhindar dari penyakit.

c. Setelah mendapatkan keturunan, suami-istri bekerja sama dalam mendidik anak-anaknya, agar melahirkan generasi yang sehat, cerdas, saleh, dan berkualitas.

d. Untuk mengatur hubungan laki-laki dan wanita berdasarkan asas kesepakatan suci dalam suasana cinta kasih dan saling menghormati.

e. Membangun dan membina rumah tangga atas dasar mawaddah dan rah}mah.5

3. Manfaat Pernikahan

a. Lahirnya anak akan mengekalkan keturunan seseorang dan memelihara jenis manusia.

b. Terpenuhinya kebutuhan seksual seseorang secara alami, sehat, dan sah.

c. Terpenuhinya kesenangan dan ketenangan dalam diri suami-istri.

d. Menjadi motivasi untuk mencari rezeki halal dengan sungguh-sungguh.6

4. Konsekuensi Pernikahan

a. Bertanggung jawab atas keamanan dan kesejahteraan keluarga. Dalam hal ini mencakup tersedianya tempat tinggal, makanan, pakaian, dan pendidikan (al-Baqarah/2:

233).

b. Ikhlas menerima kehadiran anak, dan ikhlas mendidiknya sehingga menjadi anak saleh-salehah (at-Tagābun/64:

15).

c. Siap untuk memimpin dan dipimpin (an-Nisā'/4:34) d. Siap memberi teladan yang baik di hadapan anak dan

orang tua istri dan keluarga lainnya. (an-Nisā'/4:19).

e. Tabah dan istikamah untuk menghadapi ujian keluarga dan problematikanya. (al-Baqarah/2: 155)

Pernikahan Mengandung Komitmen Ilahi

Pernikahan merupakan perjanjian suci yang diucapkan oleh dua jenis manusia, yaitu laki-laki dan perempuan untuk membangun rumah tangga. Perjanjian tersebut tidak saja sakral,

suci, dan luhur namun mengandung komitmen Ilahi.

Sebagaimana firman Allah:

Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri- istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. (an-Nisā'/4: 21)

Ungkapan redaksi “mīs\āqan galīz}an” diulang sebanyak 3 kali dalam Al-Qur'an. Pertama, dalam Surah an-Nisā'/4: 21, seperti pada ayat tersebut di atas yang menjelaskan bahwa pernikahan itu merupakan “perjanjian yang kukuh”. Kedua, dalam Surah an- Nisā'/4: 154 yang membicarakan tentang janji Bani Israil yang tidak ingin melanggar untuk mencari ikan pada hari Sabat (hari Sabtu yang merupakan hari khusus untuk beribadah bagi orang Yahudi), tetapi kenyataannya mereka langgar. Perjanjian itu disebutkan juga sebagai perjanjian yang kuat (mis\āqan galīz}an).

Ketiga, dalam Surah al-Ah}zāb/33: 7, yang merangkan bahwa para nabi yang diutus oleh Allah, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa putra Maryam, dan Nabi Muhammad s}allallāhu ‘alaihi wa sallam telah berjanji dan berkesanggupan untuk menyampai- kan ajaran agama kepada umatnya masing-masing. Janji itu sifatnya adalah janji yang kukuh dan kuat (mis\āqan galīz}an).

Dengan demikian, mis\āqan galīz}an di dalam Surah an- Nisā'/4: 21 memberikan isyarat bahwa pernikahan merupakan perjanjian yang kukuh, kuat, dan sama nilainya dengan perjanjian para nabi dalam menyampaikan ajaran agama kepada umatnya.

Menurut Imam at}-T{abarī dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mīs\āqan galīz}an bisa diungkapkan dalam berbagai redaksi namun tetap bermakna suatu perjanjian yang kuat dan kokoh, di antaranya: 1) Wali berkata, Ankah}nākah}ā biamānatillāh (saya nikahkan engkau dengan amanah Allah). 2) Kalimat “nikāh} yang menghalalkan faraj-nya dengan kalimah Allah. 3) Nakah}tu (saya menikahinya). 4) Malaktu (saya memilikinya). 5) al-Mīs\āq yang sama dengan an-nikāh}. 6) Mīs\āqan galīz}an yaitu imsāk bil ma‘rūf au tasrīh} bi ih}sān (perjanjian yang kuat, dimaksudkan kalian menahannya atau memperlakukannya dengan makruf dan menceraikan dengan baik).7 Ungkapan tersebut diperkuat dengan hadis Nabi yang mengatakan:

ﹶﻓﱠﺗﺎ

Dalam dokumen DOKUMEN TENTANG URGENSI BERKELUARGA (Halaman 32-37)