BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
IV- 50 BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Investigasi Kecelakaan Kerja
Langkah pertama dalam investigasi kecelakaan kerja adalah mengumpulkan informasi mengenai peristiwa tersebut. Kemudian, menganalisis informasi yang telah dikumpulkan serta mengidentifikasi pengendalian risiko yang sesuai.
Selanjutnya, menyusun rencana aksi dan implementasinya. Data laporan investigasi kecelakaan kerja ini diperoleh dari hasil observasi lokasi kejadian dan wawancara korban. Wawancara dilaksanakan pada 8 Agustus 2022. Hasil laporan investigasi kecelakaan kerja dengan format perusahaan dapat dilihat pada Lampiran B.
4.2 Kronologis Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja yang menimpa Pa Dadang, karyawan sektor finishing PT.
Hakatex, terjadi pada Senin, 20 Juni 2022, saat magrib, tepatnya pukul 18.30 WIB. Kronologisnya di mulai saat Pa Dadang dan rekannya (Pa Asep) saling bergantian untuk salat. Pekerjaan di bagian sanforizing dilakukan berpasangan, tetapi saat itu Pa Asep pergi untuk salat, sehingga pekerjaan sementara dilakukan seorang diri oleh Pa Dadang. Pa Dadang membawa wadah kain/roda kain baru karena melihat roda kain yang ada di bawah mesin sanforizing sudah penuh Ketika ingin mengganti roda kain, tidak sengaja jangka besi (dudukan penggaris) yang ada di wadah kain tersenggol dan jatuh menimpa ibu jari kaki kanan Pa Dadang. Jangka besi tersebut sudah biasa jatuh. Ketika jangka besi jatuh, Pa Dadang tidak sempat menghindar. Setelah tertimpa, Pa Dadang tidak berteriak atau meminta bantuan karyawan yang ada di kantor administrasi quality control (sebelah bagian sanforizing). Selain itu, kondisi lingkungan saat kecelakaan kerja terjadi pun sepi karena pergantian salat.
Setelah Pa Dadang tertimpa jangka besi, Pa Asep baru kembali dari salat. Melihat kejadian tersebut, Pa Asep membantu Pa Dadang melepas sepatu karetnya dan segera mengobati dengan P3K yang tersedia. Pa Dadang memilih izin pulang lebih awal dan tidak melaporkan pada atasan. Tetapi Pa Asep melaporkan kejadian tersebut langsung ke pihak manajer, sehingga manajer segera pergi menjemput Pa Dadang di rumahnya dan mengantarnya ke trauma center (BPJS) RSU Bina Sehat.
Jarak RSU Bina Sehat dari PT. Hakatex adalah sejauh 2,6 Km. Ternyata dokter spesialis di RSU Bina Sehat tidak ada, sehingga dirujuk ke RSUD Al-Ihsan yang jaraknya sejauh 5,5 Km dari PT. Hakatex. Lokasi RSU Bina Sehat dan RSUD Al- Ihsan dapat dilihat pada Lampiran A. Akibat tertimpa jangka besi, ibu jari kaki kanan Pa Dadang sobek dan harus dijahit sebanyak 3 jahitan. Hasil rontgen memperlihatkan ada sedikit retak pada tulang ibu jari kaki kanan Pa Dadang.
Kecelakaan kerja ini mengakibatkan Pa Dadang tidak dapat masuk kerja selama 1 bulan atau 25 hari kerja.
4.3 Analisis Investigasi Metode 5W1H
Pertanyaan dan jawaban investigasi metode 5W1H dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Jawaban Pertanyaan Investigasi Metode 5W1H
Pertanyaan Jawaban
Siapa yang mengalami kecelakaan kerja?
Siapa saja yang ada di lokasi saat kecelakaan terjadi?
Dadang
Kerja sendiri (harusnya berdua) Apa yang dilakukan?
Apa dampak dari kecelakaan kerja tersebut?
Mengganti wadah kain
Jempol kaki kanan retak dan sobek Kapan kecelakaan terjadi? 20 Juni 2022, 18.30 (magrib) ketika
bergantian salat Di mana kecelakaan terjadi? Sanfor (finishing) Mengapa bisa sampai terluka? Tertimpa jangka besi Bagaimana kronologis terjadinya
kecelakaan? Ingin mengganti wadah kain→jangka besi
tersenggol→jangka besi jatuh menimpa kaki
Sumber: Hasil Wawancara, 2022
Dari investigasi metode 5W1H diperoleh garis besar kecelakaan kerja yang menimpa Pa Dadang (pelaku). Mulai dari waktu terjadi saat magrib, lokasi kejadian di mesin sanfor, kecelakaan terjadi saat ingin mengganti wadah kain, di mana pelaku tidak sengaja menyenggol jangka besi, dan akhirnya jatuh menimpa kaki kanan beliau. Informasi penting yang diperoleh dari metode ini adalah kerja sendiri karena biasanya di bagian sanfor pekerjaan dilakukan berpasangan (berdua). Ada kemungkinan pekerjaan terlalu berat, jika dilakukan sendirian.
4.4 Analisis Investigasi Metode 5Whys
Pertanyaan dan jawaban investigasi metode 5Whys dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Pertanyaan dan Jawaban Investigasi Metode 5Whys
Pertanyaan Jawaban
Mengapa kecelakaan bisa terjadi? Karena jangka besi jatuh menimpa kaki Mengapa jangka besi bisa jatuh? Karena tersenggol wadah kain
Mengapa bisa tersenggol wadah kain? Karena ada dekat wadah kain yang telah penuh dan ingin diganti
Mengapa ada di dekat wadah kain penuh? Karena agar kerja lebih efektif dan cepat (jangka besi bisa dicabut pasang) Mengapa jangka besi tidak dipindahkan? Agar lebih efektif dan cepat, memang
biasanya tidak dipindah dan jangka besi sudah sering jatuh
Sumber: Hasil Wawancara, 2022
Dalam investigasi metode 5Whys, pertanyaan terakhir harus dapat membongkar akar masalah dari suatu kejadian. Informasi tambahan yang diperoleh dari metode investigasi ini adalah jangka besi yang digunakan dapat dipindah-pindah (dicabut pasang). Namun hal tersebut tidak dilakukan karena ingin menghemat waktu kerja. Pertanyaan terakhir dalam investigasi menggunakan metode 5Whys belum dapat mengungkap akar penyebab kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, dilakukan observasi lokasi kejadian kecelakaan kerja untuk memperoleh informasi tambahan. Dari hasil observasi, jangka besi memang tidak stabil bagian kaki- kakinya karena jarak untuk kaki terdekat pendek dan lebih ringan dari bagian atasnya. Bila tersenggol atau diberikan gaya di bagian tepi/ujung atas, jangka besi akan jatuh karena titik beratnya tidak ada di bagian bawah.
4.5 Analisis Investigasi Metode Fishbone
Enam kategori penyebab potensial dalam metode fishbone:
1. lingkungan: magrib→ bergantian salat→ sepi;
2. manusia: pakai APD → sepatu karet ;
alat biasa jatuh→tidak sempat menghindar→tidak waspada;
3. alat kerja: ukur kain→penggaris→jangka besi;
4. cara kerja: kerja sendirian→wadah kain digeser;
5. yang dikerjakan: wadah sudah penuh→mengganti wadah kain; dan 6. peraturan: prosedur kerja→HK03-K3M-IKA-FNS-005;
penggunaan APD→HK02-K3-TIM-002.
Investigasi metode fishbone sangat membantu di bagian detail, seperti kondisi lingkungan, perilaku manusia/pekerja, dan peraturan yang ada di PT. Hakatex.
Dari metode ini, diperoleh informasi kondisi lingkungan yang sepi, sehingga lebih sulit untuk meminta bantuan, jika terjadi sesuatu. Pekerja sudah menggunakan APD sesuai peraturan yang ada, yaitu prosedur penggunaan APD (HK02-K3- TIM-002). Akan tetapi, instruksi kerja di bagian sanforize (HK03-K3M-IKA- FNS-005) tidak ada penjelasan pekerjaan harus dikerjakan oleh minimal 2 orang.
Informasi tambahan bahwa alat yang dipakai biasa jatuh mengakibatkan pekerja mengabaikan bahaya yang ada.
4.6 Analisis Faktor Ergonomi
Dimensi wadah kain yang digunakan adalah (120 × 120 × 120)cm dengan tinggi kaki 30cm. Berat wadah kain yang kosong sekitar 15 kg. Proses dyeing menggunakan kain greige gulungan yang disambung hingga menghasilkan panjang tertentu dalam 1 batch (satuan pencelupan). Biasanya 1 batch sama dengan 600 yard atau sekitar 550 m (10 s/d 12 gulung). Kain greige gulungan yang digunakan sepanjang 50 yard (45,7 m) dengan lebar 140 cm memiliki berat 1,3 kg.
Berat keseluruhan wadah kain yang penuh (menampung kain hasil proses 1 batch) dapat dihitung sebagai berikut
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ + 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑖𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 15𝑘𝑔 +600𝑦𝑎𝑟𝑑
50𝑦𝑎𝑟𝑑 × 1,3𝑘𝑔 = 30,6𝑘𝑔
Dibandingkan dengan berat maksimum yang diperbolehkan untuk mendorong dan menarik dengan aman (Tabel 3.1), maka berat wadah kain penuh yang digeser oleh Pa Dadang sudah melebihi batas aman. Menggeser beban yang terlalu berat ditambah dengan posisi tubuh yang tidak nyaman dapat menyebabkan cedera lengan, tungkai, maupun punggung.
4.7 Rekomendasi Perbaikan
Setelah melakukan investigasi, dan analisis informasi, maka dapat disimpulkan akar penyebab kecelakaan kerja yang menimpa Pa Dadang adalah pekerjaan terlalu berat untuk dikerjakan seorang diri dan jangka besi (alat) tidak stabil.
Beberapa rekomendasi perbaikan yang disarankan untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi, di antaranya:
1. pekerjaan mengganti wadah kain penuh dilakukan minimal oleh 2 orang;
2. memperpanjang alas kaki jangka besi agar menjadi lebih stabil; dan 3. sepatu boots karet diganti dengan safety shoes (sepatu APD ujung besi).
Rekomendasi perbaikan yang dilakukan pihak PT. Hakatex adalah memanjangkan alas kaki jangka besi, sehingga menjadi stabil .
V-55