Regresi panel dalam penelitian ini melalui tahapan pengujian model. Pemilihan model yang layak digunakan dalam regresi panel menggunakan pengujian yang dilakukan berurutan yaitu uji Chow test, hausman test dan brusche pagan. Model regresi panel yang digunakan adalah common effect, fixed effect dan random
effect. Common Effects Model merupakan pendekatan model data panel denganmengkombinasikan data Time series dan cross section dalam bentuk pool, dan menggunakan teknik kuadrant terkecil atau leas square untuk estimasi koofisiennya (midesia, basri, & abdul majid, 2016).
Hasil Analisis dan Pembahasan
Deskripsi Statistik
Tabel 1 Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
GROWTH 50 -9,46 127,49 23,2760 22,26492
RISK 50 ,26 7,87 2,2332 1,86529
INFLASI 50 3,35 8,38 5,6360 2,27534
KURS 50 -3,36 13,65 8,2580 6,32696
SUKUK 50 ,20 54,69 14,5542 14,31565
KK 50 -6,58 14,46 3,5576 4,32933
Valid N (listwise)
50
Hasil Regresi Persamaan 1
Dependent Variable: SUKUK Independent
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
GROWTH 0.002446 0.000244 10.02692 0.0000
RISK -0.021071 0.003111 -6.772546 0.0000
INFLASI 0.025635 0.002488 10.30161 0.0000
KURS -0.003229 0.001183 -2.729055 0.0066
R SQUARE 0.053156 ADJUSTED R
SQUARE 0.047429
Sumber: Hasil Regresi E-views Pembahasan Hasil Penelitian Persamaan 1
Hasil penelitian menunjukkan bahwa a). Pertumbuhan perusahaan mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap sukuk korporasi, berarti hipotesis 1 diterima. Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk meningkatkan ukuran perusahaan tersebut yang dilihat dari kondisi finansialnya. Investor di dalam memilih investasi terhadap sukuk akan melihat pertumbuhan perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung Trade-off
Theory (Priska Ralna Eunike Culata; Tri Gunarsih, 2012).b). Risiko sukuk mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap sukuk korporasi. Artinya bahwa semakin tinggi risiko sukuk, maka pembiayaan sukuk akan turun. Artinya bahwa perusahaan akan mengurangi penerbitan sukuk, jika risikonya tinggi. Hasil penelitian ini mendukung Trade-off Theory. c). Inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap sukuk korporasi. Inflasi yang tidak stabil membuat ketidakpastian pada para pelaku ekonomi dalam pengambilan keputusan pembiayaan, termasuk sukuk.
Sukuk tidak terikat terhadap kenaikan indeks harga konsumen karena sukuk
menggunakan aset tetap sebagai jaminan. Syarat wajib dalam melakukan
transaksi sukuk adalah adanya kesepakatan antar pelaku dimana kesepakatan
tersebut menyangkut pengembalian biaya yang akan diberikan pada waktu yang
akan datang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitain Ghemari Abd
Elkarim (2012) dan Enni Savitri (2015) dimana hasil kedua penelitian tersebut
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara inflasi dengan Sukuk. Namun hasil
penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Ahmad et al (2012) bahwa inflasi mempengaruhi sukuk. d). Perubahan nilai kurs mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap sukuk korporasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai perubahan kurs mempunyai pengaruh negatif terhadap sukuk. Jika Perusahaan yang menjual Sukuknya keluar negeri sangat bergantung dalam penguatan nilai tukar rupiah, dimana ketika nilai tukar rupiah menguat akan menambahkan keuantungan kepada perusahaan. Hasil peneitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Nursilah Ahmad and Muhamad Muda (2013) yang menunjukan bahwa nilai kurs berpengaruh terhadap Sukuk.
Tabel 3
Hasil Regresi Persamaan 2
Dependent Variable: Kinerja Keuangan Independent
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
GROWTH 0.021384 0.008728 2.450038 0.0146
RISK 0.889419 0.116957 7.604690 0.0000
INFLASI -0.060097 0.096792 -0.620891 0.5350
KURS 0.031683 0.035617 0.889543 0.3742
SUKUK 0.408903 1.485700 0.275226 0.7833
R SQUARE 0.139641 ADJUSTED R
SQUARE 0.114805
Sumber: Hasil Regresi E-views
Berdasarkan nilai probabilitas cross-section random lebih besar dari 0,05 maka model yang dipilih pada persamaan 2 adalah model random effect.
Pembahasan Persamaan 2
Berdasarkan persamaan 2, hasilnya menunjukkan bahwa: a). Pertumbuhan
perusahaan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
keuangan. Artinya bahwa semakin tinggi nilai pertumbuhan perusahaan, maka
kinerja keuangan semakin naik., dan sebaliknya. b). Risiko mempunyai pengaruh
positif signifikan terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa semakin tinggi risiko, maka kinerja keuangan turun, dan sebaliknya. c).
Inflasi tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hipotesis sebelumnya sehingga hipotesis ditolak. Inflasi adalah keadaan dimana haraga barang mengalami kenaikan akibat jumlah uang beredar yang berkurang. Pada perusahaan inflasi berakibat pada kenaikan barang produksi yang akan menyebabkan perusahaan menaikan harga barang produksi sehingga menurunkan minat konsumen. Namun, dalam penelitian ini nilai probabilitas dari inflasi lebih besar dari 0,05 dimana inflasi tidak berpengaruh terhadap nilai peruashaan hal ini menandakan bahwa perusahaan masih mampu menahan laju inflasi yang terjadi dalam priode kurun waktu 2011 sampai 2015.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Edhi Satriyo Wibowo dan Muhammad Syaichu (2013) dimana dalam penelitiannya inflasi memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Return On Assets). d). Perubahan nilai kurs tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, Kurs bisa berubah setiap saat, dan hal ini sangat mempengaruhi penerbitan sukuk.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan nilai kurs tidak mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan.
Artinya bahwa tinggi rendahnya nilai kurs tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini sejalan dengan penelitain dari Putri Asrina (2015), dimana kurs tidak berpengaruh terhdap Return on Assetse). Sukuk tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembiayaan sukuk tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini sangat beralasan bahwa dalam prakteknya nilai sukuk yang diterbitkan oleh perusahaan proporsinya sangat kecil jika dibandingkan dengan total pendanaan yang digunakan perusahaan, sehingga sukuk tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ikromi Ramadhani (2013) dimana dalam penelitiannya menunjukan Sukuk tidak berpengaruh terhadap
Return on asset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sukuk korporasi tidakdapat memediasi pengaruh pertumbuhan perusahaan, risiko sukuk, inflasi, perubahan nilai kurs terhadap kinerja keuangan.
Simpulan, Keterbatasan dan Saran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Pertumbuhan perusahaan mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap sukuk korporasi, risiko sukuk mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap sukuk korporasi. Hasil ini mendukung Trade-off Theory. 2). Inflasi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap sukuk korporasi, sedangkan perubahan nilai kurs mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap sukuk korporasi. 3).Pertumbuhan perusahaan mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan, risiko sukuk mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja keuangan, 4). Inflasi, perubahan nilai kurs maupun sukuk korporasi tidak mempengaruhi kinerja keuangan, 5).
Sukuk korporasi tidak dapat memediasi pengaruh pertumbuhan perusahaan, risiko sukuk, inflasi, perubahan nilai kurs terhadap kinerja keuangan.
Beberapa keterbatasan dan saran dalam penelitian ini, antara lain: a).
Penelitian ini hanya menggunakan rentang waktu lima tahun yaitu dari tahun 2011 sampai 2015. Pada penelitian selanjutnya diharapkan mampu menambah rentang waktu penelitian agar bisa memperoleh hasil yang lebih baik. b). Pada penelitian ini menggunakan jenis sukuk ijarah dan Mudharabah. Pada penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan sampel sukuk dengan salah satu jenis misalnya sukuk
ijarah atau sukuk mudharabah saja. c). Beberapa variabel makro seperti tingkatinflasi dan perubahan nilai kurs tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Oleh karena itu untuk penelitian yang akan datang sebaiknya menambah variabel lain sebagai variabel intervening antara tingkat inflasi dan nilai kurs terhadap kinerja keuangan.
Daftar Pustaka
Ahmad, N, Daud, SNM & Kefeli, Z. 2012. Economic Forces and The Sukuk Market. Procedia-social and Behavioral Sciences. Vol. 65, 127-133.
Fama, E. F. & French, K. R. (2002). Testing tradeoff and pecking order predictions about dividends and debt. Review of Financial Studies, 15, 1- 33.
Geetha, C., Mohidin, R., Chandran, V.V., & Chong, V. 2011. The Relationship
between Inflation and Stock Market: Evidence from Malaysia, United
States, and China. International Journal of Economics and Management
Sciences. Vol. 1 (2) : 1-16.Hanifa, M. H., Masih, A. M., & Bacha, O. I. (2015). Why do issue Sukuk or Conventional Bond? Evidance from mayasian listed firm using partial adjustment model. Pasific Basin Finance Journal, 3(2), 1-20.
Myers, Stewart C. & Majluf, Nicholas S. (1984). Corporate Financing and investment decisions when firms have information that investors do not have. Journal of Financial Economics, 13, 187-221.
Myers, Stewart C. (1984). The capital structure puzzle. Journal of Finance, 39, 575-592.
Nagano, M. (2010). Islamic Finance and the Theory of Capital Structure. Munic
Personal RePEc Archive (MPRA), 1-17.Nugroho, H. (2013). Perkembangan Sukuk Di Dunia. Journal Ekonomi Islam,
2(1), 1-34.Priska Ralna Eunike Culata; Tri Gunarsih (2012),” Pecking Order Theory And Trade-Off Theory Of Capital Structure: Evidence From Indonesian Stock Exchange”, Journal The Winner Vol 13 no 1, pp 40-49
Putri, R. A., & Herlambang, L. (2015). Pengaruh Penerbitan Sukuk Ijarah
Terhadap Return on Asset, Return on Equity, dan Erning Per Share Emiten
Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009 -2003. JESTT, 2(6), 459-472.
760