BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 CAN SLIM
2.5.2 A = Annual Earnings Increases
Tingkat pertumbuhan EPS sebesar 25% hingga 50% atau lebih selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan signifikan. Selain tingkat pertumbuhan EPS tahun-tahun sebelumnya, harus diikuti dengan besarnya laba tahun ini (current earning) dalam triwulan terakhir. Kombinasi dari kedua faktor tersebut dapat membentuk suatu saham unggulan atau setidaknya saham yang peluang suksesnya lebih tinggi. Annual Earning Increase dihitung menggunakan PEG Ratio, jika PEG < 1, maka harga saham undevalued dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan baik.
2.5.3 N = New Product or New Management or New Highs
Perubahan kondisi industri yang baru seperti barang melimpah dan harga yang murah, transportasi semakin lancar, berkembangnya teknologi, munculnya imperialisme modern atau lainnya dapat mempengaruhi saham
25
Indonesia Banking School
dalam suatu kelompok industri secara positif. Dengan adanya perubahan kondisi harus diimbangi dengan pembaruan dalam sebuah perusahaan.
Pembaruan akan berpengaruh terhadap harga saham dibursa. Pembaruan tersebut dapat berupa produk baru, inovasi produk, manajemen baru, gagasan baru, atau lainnya. Pembaruan melalui produk, jasa atau manajemen dapat meningkatan penjualan secara pesat, sehingga tingkat labanya meningkat dibandingkan dengan laba sebelumnya.
2.5.4 S = Supply and Demand
Di setiap transaksi perdagangan dalam ekonomi pasti terdapat suatu permintaan (demand), penawaran (supply), harga dan kuantitas akan suatu barang atau jasa yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Permintaan dan penawaran akan saling bertemu dan akan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas (jumlah barang). Hukum yang sama ini juga berlaku dalam bursa saham. Jika volume perdagangan 50% - 100% di atas normal dalam waktu lebih dari sehari, menunjukkan suatu pembelian yang solid dan kemungkinan harga sahamnya terus meningkat. Cara terbaik untuk mengukur penawaran dan permintaan adalah dengan mengamati volume yang menyertai dan tidak menimbulkan tekanan jual. Jika harga sahamnya naik secara signifikan, diharapkan volumenya meningkat, dan mengindikasikan telah terjadi pembelian institusional atau pembelian besar.
2.5.5 L = Leader or Laggard
Jabatan “pemimpin pasar nomor satu” belum tentu dipegang oleh perusahaan yang terbesar, atau yang memiliki merk terkenal, tetapi dipegang oleh perusahaan terbaik dalam ukuran tingkat pertumbuhan triwulan laba per lembar saham, tingkat return on equity (ROE), margin laba, tingkat pertumbuhan penjualan, dan fluktuasi harga sahamnya di bursa. Perusahaan yang berada dalam kategori terbaik mampu menunjukkan pertumbuhan yang mengagumkan, sementara perusahaan lainnya sulit mengejar untuk merebut posisi itu. Karena itu, kita harus berinvestasi pada perusahaan yang bagus, dan yang menjadi pemimpin dalam industrinya.
2.5.6 I = Institusional Sponsorship
Broker saham, institusi investasi, institusi dana pensiun, perusahaan asuransi, atau hedge fund yang mempunyai banyak lembar saham dalam aktivitas bursa sehari-hari merupaka contoh dari saham unggulan yang terbaik. Agar harga terdorong naik, diperlukan permintaaan dalam jumlah besar dan sumber dana besar bagi permintaan, dan dana tersebut berasal dari sponsorship institusional.
2.5.7 M = Market Direction
Untuk menganalisa situasi bursa secara benar, harus dilakukan dengan mengikuti perkembangan bursa, memahami apa yang dilakukan oleh rata-rata bursa setiap harinya, menginterpretasi indeks harian, mengamati pergerakan harga dan volume perdagangan serta langkah-
27
Indonesia Banking School
langkah responsive saham-saham unggulan. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi risiko dalam investasi.
Tabel 2.1 Metode CAN SLIM
Kriteria Pengukuran Standar
Penilaian Keterangan
C Current Quarterly
EPS EPS
EPS min.
25%, selama periode pengamatan.
Jika < 25%
tidak digunakan dalam perhitungan.
A Annual Earning Increase
P/E Growth Rasio
PEG < 1, selama periode pengamatan.
Jika PEG < 1, maka harga saham undevalued dan
perusahaan memiliki rasio
pertumbuhan baik.
N
New Product or New
Management or New High
Adanya perubahan, pembaruan atau tidak terkait produk, manajemen, atau mengenai harga saham yang
dilampaui.
Harus adanya perubahan selama periode pengamatan
Perubahan : kondisi perusahaan meningkat.
Tidak ada perubahan : Kondisi perusahaan dapat dinyatakan turun atau stabil.
S Supply and
Demand Harga Saham
Bergeraknya volume perdagangan di pasar bursa.
-
L Leader or Laggard
Dibandingkan dengan perusahaan di Industri yang sama.
Saham yang menjadi leader.
-
I Institutional Sponsorship
Institusi yang berinvestasi dalam perusahaan.
Adannya investor dari institusi.
-
M Market Direction Melihat arah pasar.
Mengkuti
trend market. - Sumber : Teori William J. O’Neill (2002)
2.6 Indeks LQ45
Saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah saham indeks LQ45. LQ45 merupakan suatu indeks yang didalamnya berisi perusahaan - perusahaan yang saham - sahamnya memiliki tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi. Tidak sembarang perusahaan yang dapat masuk dalam kriteria LQ45. Perusahaan - perusahaan yang ingin masuk dalam daftar LQ45 harus memiliki berbagai kriteria yang harus dipenuhi, antara lain :
a. Saham tersebut harus masuk dalam rangking 60 besar dari total transaksi saham di pasar regular (yang dilihat adalah rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir).
b. Saham tersebut juga harus masuk ke dalam jajaran teratas dalam peringkat berdasarkan kapitalisasi pasar (yang dilihat adalah rata-rata kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir).
c. Saham tersebut harus tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama miniman 3 bulan.
29
Indonesia Banking School
d. Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhan dari perusahaan pemilik saham harus baik begitu juga frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi di pasar regulernya juga harus baik.
Duduk di jajaran LQ45 merupakan suatu kehormatan bagi sebuah perusahaan karena itu berarti pelaku pasar modal sudah mengakui dan percaya bahwa tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar dari perusahaan ini baik. Namun bagi yang sudah berada di dalamnya harus tetap bekerja keras untuk mempertahankannya, karena saham-saham ini akan dipantau setiap 6 bulan sekali dan akan diadakan review yang biasanya berlangsung pada awal Februari dan awal Juli. Saham yang masih berada dalam kriteria akan tetap bertahan dalam jajaran LQ 45 sedangkan yang sudah tidak memenuhi kriteria akan diganti dengan yang lebih memenuhi syarat.
Pemilihan saham – saham LQ45 harus wajar, oleh karena itu BEI mempunyai komite penasihat yang terdiri dari para ahli di BAPEPAM, Universitas dan Profesional di bidang pasar modal. Terdapat pula faktor – faktor yang berperan dalam pergerakan indeks LQ45, yaitu :
a. Tingkat suku bunga SBI sebagai dasar portofolio investasi di pasar keuangan Indonesia.
b. Tingkat toleransi investor terhadap resiko.
c. Saham - saham penggerak indeks yang merupakan saham berkapitalisasi pasa besar di BEI.
Adapula faktor – faktor yang berpengaruh terhadap naiknya indeks LQ45, yaitu :
a. Penguatan bursa global dan regional menyusul penurunan harga minyak mentah dunia.
b. Penguatan nilai tukar rupiah yang mampu mengangkat indeks LQ45 ke zona positif.
Tujuan dari indeks LQ45 adalah sebagai pelengkap IHSG dan khususnya untuk menyediakan sarana yang obyektif dan terpercaya bagi analisis keuangan, manajer investasi, investor dan pemerhati pasar modal lainnya dalam memonitori pergerakan harga dari saham – saham yang aktif diperdagangkan.
2.7 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Riska Amalia (2009), Studi Kasus Pada PT. Aneka Tambang Tbk., PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk., dan PT. Bank Central Asia Tbk. di Bursa Efek Indonesia, yang melakukan penelitian dengan membandingkan antara metode Can Slim dengan metode Elliot Wave. Hasil dari analisis didapatkan bahwa metode Can Slim jauh lebih baik dibandingkan Elliott Wave sebagai alat analisa investasi karena Can Slim didasarkan pada realitas.
Penelitian yang dilakukan oleh Heni Kiswati (2009), dengan objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 saham perusahaan sektor pertambangan yang tercatat pada LQ45 di Bursa Efek Indonesia. Hasil
31
Indonesia Banking School
penelitian ini menunjukkan bahwa metode Can Slim dengan kombinasi dari dari analisis fundamental dan analisis teknikal yang dapat menemukan saham unggulan.
Penelitian yang dilakukan oleh Beyoglu dan Ivanov di Amerika (2008), didapatkan hasil jika dengan menggunakan metode Can Slim dalam investasi dapat mencapai strategi investasi dalam jangka panjang.
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian Judul Hasil
Riska Amalia (2009)
Perbandingan Analisis Pergerakan Harga Saham dengan Metode Can Slim dan Elliott Wave (Studi Kasus pada PT. Aneka Tambang Tbk., PT.
Telekomunikasi
Indonesia Tbk., dab PT.
Bank Central Asia Tbk., di Bursa Efek Indonesia)
Metode Can Slim jauh lebih baik dibandingkan Elliott Wave sebagai alat analisa investasi karena Can Slim didasarkan pada realitas.
Heni Kiswati (2009)
Analisa Pergerakan Harga Saham pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang Tercatat dalam Indeks LQ45 di BEI dengan Metode Can Slim
Metode Can Slim dengan kombinasi dari dari analisis
fundamental dan analisis teknikal yang dapat menemukan saham unggulan.
Belin Beyoglu dan Martin Ivanov (2008)
Technical Analysis of Can Slim Stocks
Metode Can Slim dalam investasi dapat
mencapai strategi investasi dalam jangka panjang.
Sumber : jurnal-jurnal penelitian terdahulu 2.8 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan analisis dalam landasan teori dan penelitian terdahulu, maka dapat digambarkan suatu kerangka pemikiran yang diuraikan sebagai berikut :
33
Indonesia Banking School
Gambar 2.6 Kerangka Pemikiran
Saham Bank Terindeks LQ45
Analisa Fundamental dan Teknikal
C A N S L I M
Beli Tahan Jual
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian 3.1.1 Sampel
Menurut Arikunto (2002), Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan yang dikehendaki peneliti sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003).
Kriteria yang ditetapkan untuk memperoleh sampel sebagai berikut:
1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2. Perusahaan perbankan yang terindeks LQ45 dan berturut-turut selama periode 2012-2015
3. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan kuartal selama periode 2012-2015
3.2 Desain Penelitian
Desain umum penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah salah satu metode penelitan yang banyak digunakan pada penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu kejadian. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2011) “penelitian desktiptif adalah sebuah penelitian yang
35
Indonesia Banking School
bertujuan untuk memberikan atau menjabarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual”.
Sedangkan, Sukmadinata (2006) menyatakan bahwa metode penelitian deskriptif adalah sebuah metode yang berusaha mendeskripsikan, menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau tentang kecenderungan yang sedang berlangsung.
3.3 Metode Pengambilan Sampel 3.3.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data didapat dari Bursa Efek Indonesia (IDX), Yahoo Finance, situs resmi perusahaan perbankan dan sumber lain yang digunakan untuk penelitian. Data sekunder berupa laporan kuartal perusahaan.
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data 3.3.2.1 Observasi Tidak Langsung
Observasi tidak langsung dilakukan dengan membuka situs resmi dari objek yang diteliti, sehingga dapat diperoleh laporan keuangan yang dapat digunakan untuk penelitian. Situs yang digunakan adalah :
a. www.bankmandiri.co.id b. www.bca.co.id
c. www.bni.co.id d. www.bri.co.id e. www.idx.co.id f. www.sahamok.com g. www.yahoofinance.com 3.3.2.2 Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan dilakukan untuk menentukan teori – teori sebagai landasan penelitian yang didapat dari literatur, jurnal penelitian, buku bacaan, media massa dan hasil penelitian yang diperoleh dari perpustakaan.
3.4 Variabel Operasional
Berikut dijelaskan variabel-variabel operasional yang digunakan untuk mendukung penelitian yang dilakukan.
Tabel 3.1 Variabel Operasional
Variabel Definisi Indikator Penilaian
C : Current Quarterly EPS
EPS pada kuartal saat ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya untuk menunjukkan bahwa saham dapat dipilih atau tidak.
Diamati perubahan EPS setiap kuartal selama periode pengamatan. Jika pertumbuhan EPS min.
25% akan mendapatkan bobot. Untuk
pembobotan yang dilakukan, setiap kuartal
37
Indonesia Banking School
selama periode mendapatkan bobot sebesar pembagian.
Pembagian didapatkan dari jumlah total bobot kriteria C dibagi dengan jumlah kuartal yang ada selama periode.
A : Annual Earning Increase
Tingkat penghasilan tahunan dapat menunjukkan
pertumbuhan perusahaan signifikan atau tidak.
Dilihat dari perhitungan PEG Ratio. Jika PEG Ratio < 1 maka akan mendapatkan bobot.
Untuk pembobotan yang dilakukan, setiap kuartal selama periode
mendapatkan bobot sebesar pembagian.
Pembagian didapatkan dari jumlah total bobot kriteria C dibagi dengan jumlah kuartal yang ada selama periode.
N : New Product or New
Management or New High
Perubahan dapat berupa produk baru, manajemen baru atau saat harga saham dapat melampaui harga tertinggi.
Adanya perubahan atau tidak terkait produk, manajemen, atau mengenai harga saham yang dilampaui.
Memilih salah satu perubahan yang ada.
Jika, ada perubahan dari salah satu pilihan (produk, manajemen, atau harga saham) maka akan diberikan bobot sesuai dengan kriteria pembobotan.
S : Supply and Demand
Jika volume perdagangan diatas normal dalam waktu lebih dari sehari, menunjukkan suatu pembelian yang solid dan kemungkinan harga
Dilihat dari pergerakan volume perdagangan harga saham. Jika, perusahaan melakukan penjualan di bursa dan penjualannya baik maka
sahamnya terus meningkat.
diberikan bobot sesuai dengan kriteria
pembobotan.
L : Leader or Laggard
Memilih saham yang menjadi leader atau pemimpin dalam sektornya.
Dibandingkan dengan perusahaan di Industri yang sejenis.
Pembandingan bisa dilihat dari indikator laba triwulan pertahun, ROE, margin laba, tingkat pertumbuhan penjualan, dan fluktuasi harga saham. Dipilih salah satu dari 6 indikator untuk penilaian. Dan
pembobotan hanya didapatkan oleh salah satu objek yang menjadi leader dalam industrinya.
I : Institutional Sponsorship
Membeli saham yang juga dibeli oleh beberapa investor institusi yang kinerjanya bagus.
Penilaiai dilakukan, jika ada institusi yang menjadi sponsorship dalam perusahaan.
Hanya perusahaan yang mempunyai pemegang saham dari institusi yang mendapatkan bobot.
M : Market Direction
Berinvestasi sesuai trend market. Membeli saham hanya ketika uptrend untuk investor.
Melihat arah pasar. Jika, pergerakan menunjukkan tren pasar yang bagus maka diberikan bobot sesuai dengan kriteria pembobotan.
3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode CAN SLIM sebagai alat utama untuk mongolah dan menganalisis data. Indikator yang digunakan sebagai alat analisis yaitu ada 7 kriteria, yang masing - masing mempunyai arti sebagai berikut :
39
Indonesia Banking School
C : Current Quarterly Earning per SHare (EPS) A : Annual Earnings Increases
N : New Product, New Management, New Highs
S : Supply and Demands
L : Leader or Laggard
I : Institutional Sponsorship M : Market Direction
3.5.1 Tahapan Pembobotan
Gambar 3.1 CAN SLIM
Sumber : canslim investor indonesia
Gambar 3.1 dapat menjelaskan mengenai pembobotan yang digunakan dalam penelitian menggunakan metode CAN SLIM ini.
Pembobotan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Tabel 3.2
Pembobotan CAN SLIM Kriteria Bobot Total
C 16,5 %
33 %
A 16,5 %
N 33 % 33 %
S 8,25 %
33 %
L 8,25 %
I 8,25 %
M 8,25 %
Dapat diketahui, pembobotan dibagi rata dari tiga kategori.
Pembagian rata pembobotan digunakan dikarenakan tiga kategori tersebut sama rata pentingnya.
3.5.2 Tahapan Pengukuran
Dalam penggunaan metode CAN SLIM sebagai alat ukur penelitian ini, maka akan dijelaskan bagaimana susunan tahap- tahap penggunaan metode CAN SLIM, yakni sebagai berikut : Step 1 : Untuk step yang pertama, yakni menilai kriteria C
(Current Quarterly Earning Per Share) dengan cara membandingkan Earning Per Share (EPS) setiap kuartal yang sama tahun ini dengan tahun sebelumnya. Jika ditemukan penurunan laba perusahaan dalam 2 kuartal berturut-turut, maka perusahaan harus lebih diperhatikan karena akan berbahaya untuk investor. Pembobotan kriteria C mendapat porsi 16.5%. Dari 16.5% dibagi dengan jumlah kuartal dalam empat tahun. Jadi, setiap kuartal yang memenuhi syarat minimal 25% akan mendapatkan bobot sebesar 1.03%.
Step 2 : Untuk kriteria yang kedua, yakni A (Annual Earning
41
Indonesia Banking School
PEG Ratio. Kemudian, hasil dari PEG Ratio jika <1 maka berarti harga sahamnya dibawah harga semestinya (undervalued) dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan yang baik. Pembobotan kriteria A mendapat porsi 16.5%, jadi jika rata-rata setiap tahun memenuhi PEG ratio <1 maka akan mendapatkan bobot 16.5%.
Step 3 : Kemudian step selanjutnya ialah kriteria ketiga yakni N (New Product or New Management or New High). Dalam kriteria ini, dilihat apakah ada perubahan di bagian produk dan manajemen dalam perusahaan. Jika ada perubahan maka, kondisi perusahaan dinyatakan meningkat dan jika tidak ada perubahan maka kondisi perusahaan dapat dinyatakan turun atau stabil. Dan untuk New High yang berarti harga saham perusahaan tersebut melampaui harga tertinggi yang dicapai diawal saat terdaftar di bursa. Dalam kriteria ini, dilihat salah satu perubahan yang terjadi. Pembobotan kriteria N mendapat porsi 33%, bobot akan diberikan ketika salah satu dari kriteria N (produk, manajemen, atau harga saham tertinggi) dilakukan oleh objek.
Step 4 : Selanjutnya, step yang keempat ialah menilai kriteria S (Supply and Demand). Pada kriteria ini, kita akan menilai volume perdagangan dalam bursa saham dengan melihat
pergerakan harga saham. Jika volume perdagangan menunjukkan suatu pembelian yang solid dan kemungkinan harga yang terus meningkat. Pembobotan kriteria S mendapat porsi 8.25%. Bobot akan diberikan ketika objek melakukan kegiatan volume perdagangan.
Step 5 : Dalam step kelima, yakni akan menilai kriteria L (Leader or Laggard). Pada step ini, kita akan melihat saham mana yang akan menjadi leader atau pemimpin dalam sektornya. Untuk memilih saham mana yang akan menjadi leader, dilihat dari segi laba triwulan pertahun.
Untuk investasi, hindari perusahaan yang menjadi follower dalam sebuah sektor. Pembobotan kriteria L mendapat porsi 8.25%. Bobot akan diberikan ketika objek menjadi leader di industrinya.
Step 6 : Untuk step yang keenam, yakni akan menilai kriteria I (Institutional Sponsorship). Dalam step ini kita akan melihat apakah ada institusi yang menjadi pemegang saham dalam perusahaan yang menjadi objek. Karena agar harga terdorong naik, diperlukan permintaan dalam jumlah besar dan sumber dana besar bagi permintaan, dana besar tersebut berasal dari institutional sponsorship.
Pembobotan kriteria I mendapat porsi 8.25%. Bobot akan
43
Indonesia Banking School
diberikan ketika objek memiliki institusi yang menjadi pemegang saham dalam saham yang dikeluarkan.
Step 7 : Kemudian, untuk step yang ketujuh ialah akan menilai kriteria M (Market Direction). Kriteria ini dinilai dengan cara melihat trend market, berinvestasi sesuai trend, dan membeli hanya ketika uptrend. Jika, arah pasar berada di area positif dan keluar dari area konsolidasi harga disertai peningkatan volume, disaat seperti itulah merupakan sinyal untuk melakukan pembelian saham. Pembobotan kriteria M mendapat porsi 8.25%. Bobot akan diberikan ketika trend market objek baik.
Step 8 : Untuk step yang kedelapan, jika semua kriteria sudah dinilai sesuai dengan standar penilaian dan diberikan bobot penilaian selanjutnya bobot dijumlahkan dari masing-masing kriteria untuk menentukan hasil akhir yang akan menunjukkan saham bank mana yang terbaik.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 PT Bank Central Asia Tbk.
4.1.1 Gambaran Umum
Berdiri sejak 1957, BCA hadir di tengah masyarakat Indonesia dan tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Selama hampir 60 tahun BCA tak pernah berhenti menawarkan beragam solusi perbankan yang menjawab kebutuhan finansial nasabah dari berbagai kalangan.
Melalui beragam produk dan layanan yang berkualitas dan tepat sasaran, solusi finansial BCA mendukung perencanaan keuangan pribadi dan perkembangan nasabah bisnis. Didukung oleh kekuatan jaringan antar cabang, luasnya jaringan ATM, serta jaringan perbankan elektronik lainnya, siapa saja dapat menikmati kemudahan dan kenyamanan bertransaksi yang ditawarkan BCA.
Sesuai dengan komitmen “Senantiasa di Sisi Anda”, BCA akan terus berupaya menjaga kepercayaan dan harapan nasabah serta para pemangku kepentingan. Memenangkan kepercayaan untuk memberikan solusi terbaik bagi kebutuhan finansial para nasabah adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi BCA.
45
Indonesia Banking School
4.1.2 Hasil Pengolahan dan Analisis Data
4.1.2.1 C = Current Quarterly Earning per Share (EPS) Tabel 4.1
Laporan Keuangan PT Bank Central Asia Tbk Per-Kuartal 2012-2013
(dalam ratusan jutaan, kecuali EPS & dalam jutaan saham beredar)
BCA 2012 2013
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
SAHAM
BEREDAR 24,456 24,456 24,456 24,456 24,655 24,655 24,655 24,655 TOTAL
ASSET Rp 400 Rp 408 Rp 27 Rp 442 Rp 447 Rp 458 Rp 487 Rp 496 TOTAL
LIABILITIES Rp 355 Rp 362 Rp 77 Rp 390 Rp 389 Rp 399 Rp 424 Rp 430 NET SALES Rp 6 Rp 12 Rp 19 Rp 27 Rp 7 Rp 15 Rp 24 Rp 34 NET
INCOME Rp 2 Rp 5 Rp 8 Rp 11 Rp 2 Rp 6 Rp 10 Rp 14 EPS Rp 95 Rp 217 Rp 39 Rp 480 Rp 118 Rp 257 Rp 421 Rp 579
Sumber : Laporan Keuangan Kuartal PT BCA Tbk Tabel 4.2
Laporan Keuangan PT Bank Central Asia Tbk Per-Kuartal 2014-2015
(dalam ratusan jutaan, kecuali EPS & dalam jutaan saham beredar)
BCA 2014 2015
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
SAHAM
BEREDAR 24,655 24,655 24,655 24,655 24,655 24,655 24,655 24,655 TOTAL
ASSET Rp 502 Rp 522 Rp 537 Rp 552 Rp 557 Rp 571 Rp 584 Rp 594 TOTAL
LIABILITIES Rp 432 Rp 450 Rp 460 Rp 472 Rp 475 Rp 487 Rp 495 Rp 501 NET SALES Rp 9 Rp 9 Rp 30 Rp 41 Rp 10 Rp 22 Rp 34 Rp 47 NET
INCOME Rp 3 Rp 7 Rp 12 Rp 15 Rp 4 Rp 8 Rp 13 Rp 18 EPS Rp 149 Rp 318 Rp 495 Rp 669 Rp 165 Rp 346 Rp 542 Rp 731
Sumber : Laporan Keuangan Kuartal PT BCA Tbk
Tabel 4.1 dan 4.2 berisikan tentang laporan keuangan per-kuartal PT Bank Central Asia Tbk periode tahun 2012 hingga 2015. Tabel tersebut memuat informasi mengenai saham yang beredar, total asset, total liabilities, net sales, net income dan EPS. Informasi yang tersedia digunakan untuk menghitung segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian.
Berdasarkan tabel 4.1 dan 4.2 laporan per kuartal dari PT Bank Central Asia Tbk di atas dapat dinilai serta dibandingkan tingkat pertumbuhan EPS kuartal yang sama antara tahun ini dengan tahun sebelumnya dan mendapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.3
Hasil Perhitungan Peningkatan EPS
Sumber : Olah data perhitungan, diolah oleh peneliti
Pada tabel diatas terlihat jelas bahwa selalu terjadi peningkatan EPS setiap tahunnya. Namun, walaupun selalu terjadi peningkatan EPS di PT Bank Central Asia Tbk, tidak semua memenuhi syarat dari kriteria C metode CAN SLIM, karena minimum presentase EPS ialah 25%. Hanya pada tahun 2014 kuartal 1 yang memenuhi syarat, dengan peningkatan
BANK TAHUN KUARTAL RATA-RATA
PER TAHUN
RATA- RATA Q1 Q2 Q3 Q4
BCA
2012 14% 10% 8% 8% 10%
2013 24% 18% 24% 21% 22% 16%
2014 26% 24% 18% 16% 21%
2015 11% 9% 9% 9% 10%