• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akar Genealogi Islam Nusantara

Dalam dokumen Jaringan Islam Nusantara (Halaman 132-138)

BAB I GENEALOGI ISLAM LOMBOK

B. Akar Genealogi Islam Nusantara

adalah dalam hal pengertian hukum-hukum ijtihadiah yang bersifat dinamis, yang berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu, bukan pada hal yang sifatnya statis.123

Sedangkan penambahan kata “Nusantara” sebagai tarkib idhafy bagi kata “Islam” dalam istilah ilmu Nahwu mengandung arti fi (di dalam), artinya Islam terinternalisasi dan termanifestasi di dalam hidup dan kehidupan umat muslim Nusantara; bi (dengan/pada teritori), maksudnya adalah Islam yang berekspansi, berpenetrasi, berdialog dan berdakwah pada dan de- ngan wilayah teritorial-geografis insan-insan Nusantara sejak awal masuknya hingga kini dan juga menyimpan arti lii (untuk, bagi), yaitu Islam dan ajarannya untuk menyempurnakan dan berdialektika bersama adat, tradisi, budaya dan peradaban Nusantara (local wisdom) yang mengandung nilai-nilai universal bagi harkat dan martabat kemanuasiaan.

atau penyebaran Islam di Indonesia sejak beberapa abad sebelumnya. Ketika Islam masuk di Indonesia, kebudayaan Nusantara telah dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha, selain masih kuatnya berbagai kepercayaan tradisional, seperti animisme, dinamisme, dan sebagainya.124 Kebudayaan Islam akhirnya menjadi tradisi kecil di tengah-tengah Hinduisme dan Budhisme yang juga menjadi tradisi kecil. Tradisi-tradisi kecil inilah yang kemudian saling mempengaruhi dan mempertahankan eksistensinya.

Wilayah-wilayah Nusantara yang pertama ter- tarik masuk Islam adalah pusat-pusat perdagangan di kota-kota besar di daerah pesisir. Islam ortodok dapat masuk secara mendalam di kepulauan luar Jawa, yang memiliki hanya sedikit pengaruh Hindu dan Budha.

Sementara itu di Jawa, agama Islam menghadapi resistensi dari Hiduisme dan Budhisme yang telah mapan. Dalam proses seperti ini, Islam tidak saja harus menjinakkan sasarannya, tapi juga harus memperjinak diri.125 Benturan dan resestensi dengan kebudayaan- kebudayaan setempat memaksa Islam untuk men-

124Sebuah studi menarik berkaitan dengan tema ini, lihat Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiah dan Muhammad Abduh, Suatu Studi Perbandingan, (Jakarta: BulangBintang, 1993), h. 4

125Taufik Abdullah, “Pengantar: Islam, Sejarah dan Masyrakat”, dalam Taufik Abdullah [ed.], Sejarah dan Masyarakat: Lintasan Historis Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), h. 3

dapatkan simbol yang selaras dengan kemampuan penangkapan kultural dari masyarakat setempat.

Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan bu- daya setempat memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebdaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami trasformasi budak saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kulutral.

Prses kompromi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mungkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan, apa yang di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan. Sementara di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam Wetu Telu.126

Proses islamisasi yang berlangsung di nusantara pada dasarnya beraada dalam proses akulturasi.

Seperti telah diketahui bahwa Islam disebarkan ke Nusantara sebagai kaedah normatif di samping aspek

126Muhammad Harfin Zuhdi, Parokialitas Adat Terhadap Pola Keberagamaan Komunitas Islam Wetu Telu di Bayan Lombok, (Jakarta:

Lemlit UIN Jakarta, 2009), h. 111

seni budaya. Sementara itu, masyarakat dan budaya di mana Islam itu disosialisasikan adalah sebuah alam empiris. Dalam konteks ini, sebagai makhluk berakal, manusia pada dasarnya beragama dan dengan akalnya pula mereka paling mengetahui dunianya sendiri. Pada alur logika inilah manusia, melalui perilaku budayanya senantiasa meningkatkan aktualisasi diri. Karena itu, dalam setiap akulturasi budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal paling sesuai dengan kebutuhannya.127

Dari paradigma inilah, masih dalam kerangka akulturasi, lahir apa yang kemudian di kenal sebagai local genius. Di sini local genius bisa diartikan sebagai kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya.

Pada sisi lain, secara implisit local genius dapat dirinci karakteristiknya, yakni: mampu bertahan terhadap dunia luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur dunia luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur buudaya luar ke dalam budaya

127Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta: Logos, 2001), h. 251.

asli; dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya.128

Sejatinya tema Islam Nusantara bukan istilah yang baru muncul. Namun istilah ini biasa digunakan oleh Walisongo pada periode awal penyebaran Islam.

Seperti dalam sebuah teks yang ditulis putra Hamengku Buwono I dalam Serat Suryo Royo, pada abad ke-18 yang sekarang menjadi pusaka Kraton Yogyakarta. Di dalamnya terdapat istilah Din Arab Jawi. Istilah Din Arab Jawi ini berasal dari Walisongo, konteksnya adalah ketika Sunan Giri membaiat raja-raja Jawa. Naskah tersebut menjelaskan tentang pembaiatan Sunan giri kepada seorang Raja dengan gelar “kimudin Arab Jawi”, yang berarti adalah raja-raja di Jawa harus punya komitmen menjadi pemimpin yang harus menegakkan Islam Nusantara. Din Arab Jawi adalah Islam dari Arab tapi dengan karakternya Jawa.129

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Islam Nusantara adalah dialektika antara normativitas Islam dan

128Soerjanto Poespowardojo, “Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” dalam Kepribadian Budaya Bangsa (local genius), Ayotrohaedi [ed.] (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), h. 28-38

129Lihat http://www.nu.or.id/post/read/60458/maksud- istilah-islam-nusantara, diakses 22 September 2016

historisitas keindonesiaan yang meliputi sejak masuknya Islam ke Nusantara, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, kemudian melahirkan ekspresi dan manifestasi umat Islam Nusantara, yang direspon dalam suatu metodologi dan strategi dakwah para alim ulama, Walisongo, dan para pendakwah Islam untuk memahamkan dan menerapkan universalitas ajaran Islam sesuai prinsip-prinsip faham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dengan demikian, Islam Nusantara sebagai meto- dologi dakwah Islam di Nusantara itu diwujudkan dalam suatu bentuk ajaran yang telah mengalami proses persentuhan dengan tradisi baik (‘urf shahih) di Nusantara, dalam hal ini wilayah Indonesia, atau respon terhadap tradisi yang tidak baik (‘urf fasid) namun sedang dan atau telah mengalami proses dakwah; asimilasi, adaptasi dan akulturasi, sehingga tidak bertentangan dengan diktum-diktum syari’ah.

Sementara penyesuaian khazanah Islam dengan Nusantara berada pada bagian ajarannya yang bersifat dinamis (mutaghayyirat), bukan pada bagian ajaran yang statis (qath’iy).

Dalam dokumen Jaringan Islam Nusantara (Halaman 132-138)