• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akar Sejarah Sumbawa

A. Tau Samawa

1. Akar Sejarah Sumbawa

Secara geografis pulau Sumbawa terletak pada posisi yang cukup strategis, yaitu berada pada segi tiga emas kawasan pariwisata antara pulau Bali, Lombok dan pulau Komodo. pulau Sumbawa juga memiliki kekayaan sumberdaya alam yang cukup potensial, yaitu berupa lahan pertanian dan peternakan dan telah

102

|

Mozaik Islam

ditetapkan sebagai lumbung padi dan daerah pengembangan ternak di NTB. Di samping memiliki kekayaan hutan, flora dan fauna, mineral, pertambangan emas dan tembaga, industri dan sumber daya kelautan dengan panjang pantai mencapai 900 km. Luas wilayah darat mencapai 8.493 km2 dan wilayah laut 4912,46 km2. Penduduk asli pulau ini adalah etnis Samawa mencapai 68,66% selebihnya adalah berasal dari etnis Bali, Sasak (Lombok), Jawa, Sunda, Madura, Mbojo (Bima/Dompu), Bugis, Makasar, Minang, Sumba/ Timor, dan Arab.141

Kata Sumbawa digunakan untuk menyebutkan sebuah pulau yang terdapat pada gugusan kepulauan Indonesia bagian Timur, juga digunakan sebagai nama salah satu kabupaten yang terdapat di pulau tersebut yaitu Kabupaten Sumbawa. Dalam tulisan ini kata Sumbawa dalam bahasa Sumbawa disebut dengan nama Samawa. Kata Samawa pun, selain digunakan sebagai nama asli Sumbawa, juga dipakai untuk menyebut sukubangsa Sumbawa yaitu Tau Samawa.142.

Berbicara tentang Sumbawa dari hasil penelusuran di lapangan terutama dalam jejak-jejak sejarah lama tidak cukup memberikan informasi valid karena dalam ingatan penduduk tidak dijumpai informasi yang jelas. Bahkan tulisan-tulisan yang memuat sejarah Sumbawa kebanyakan sudah terbakar atau bahkan hilang. Menurut Manca,143 pada masa pra-sejarah (purba) daerah Sumbawa belum dapat diungkapkan secara jelas, karena disamping belum ditemukan bahan-bahan tertulis, juga sisa-sisa peninggalan kebudayaan purba yang berhasil ditemukan

141Syaifuddin Iskandar Ardiansyah, Konflik Etnis Samawa dengan Etnis Bali:

Tinjauan Sosial Politik dan Upaya Resolusi Konflik, (Sumbawa: Universitas Samawa, 2010), h. 286.

142Mahsun, Dialek Geografis Bahasa Sumbawa, Disertasi, (Yoyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1994), h. 54.

143Lalu Manca, Sumbawa Pada Masa Lalu: Suatu Tinjauan Sejarah, (Surabaya:

Rinta, 1984), h. 21

Awal Mula Islam di NTB

|

103

cukup terbatas. Di antara sisa-sisa kebudayaan purba yang cukup penting, yang berhasil ditemukan itu adalah situs Airenung yang merupakan satu-satunya penemuan yang memiliki ciri peradaban pra-sejarah yang sudah cukup tinggi validitasnya.

Gambar 2 : Istana Kesultanan Sumbawa

Situs Airenung ditemukan pada ketinggian 475 m di atas permukaan air laut di desa Batu Tering, kecamatan Moyo Hulu itu merupakan kompleks Sarcofaag (kuburan manusia yang terbuat dari batu). Hal ini menurut Muslimin Yasin144 adalah produk budaya bangsa Austronesia 4000 tahun yang lalu sebagai penghuni dan perintis pertama sehingga lubang kuburan ditata sangat rapi, dikagumi oleh arkeolog Australia, Belanda, Perancis dan negara-negara lain. Menurut Mahsun (1994:56) Kompleks ini terdiri dari 4 buah sarcofaag. Setiap sarcofaag dihiasi dengan relief atau gambar-gambar timbul yang bermotif Polinesia dan berbentuk lukisan anak-anak. Keseluruhan bentuk pola hiasan itu menggambarkan alam pikiran yang umum tersebar di seluruh

144Muslimin Yasin, Pentingnya Memelihara Arsip dan Situs Sejarah, (Yogyakarta:

Arti Bumi Intaran, 2007), h. xxvi.

104

|

Mozaik Islam

nusantara, misalnya binatang melata dianggap berhubungan dengan alam arwah, muka atau kepala manusia adalah lambang pencegah bahaya, dan alat kelamin melambangkan kesuburan.145

Berdasarkan laporan singkat yang ditulis oleh tim peneliti arkeologi di Batu Tering (1980), sekitar 30.000-50.000 tahun pada akhir masa plestosen, daerah Sumbawa telah dihuni oleh manusia purba. Pada akhir masa plestosen daerah Sumbawa Barat mengalami pengangkatan yang menyebabkan endapan sungai purba plestosen terkikis hingga terjadilah undak-undakan sungai sebanyak 8 buah. Pada saat itulah di lembah Batu Tering manusia purba tiba untuk pertama kalinya dan tinggal menetap di daerah tersebut.146

Seperti halnya yang terjadi di kepulauan lain, maka dapat dikatakan pula bahwa pada zaman purba telah terjadi perpindahan penduduk dari suatu tempat menuju Sumbawa yang kemudian menjadi sukubangsa Samawa yang kita kenal sekarang ini. Mereka datang ke tanah Sumbawa (Tana Samawa) dan tinggal bersama kaum pribumi pada abad ke-15 dan ke- 16 yang menganggap pulau itu adalah “pulau nasi”.147 Hal ini yang mendorong para pendatang dari berbagai suku bangsa lain datang ke daerah ini seperti orang Bali, Bugis, Makassar, Banjar, Jawa, Melayu, Mbojo serta Lombok. Para pendatang ini

145Manca, Sumbawa.., h. 20. Bandingkan dengan L. Wacana, Sejarah daerah Nusa Tenggara Barat, (Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Nusa Tenggara barat, 1998), h. 12.

146Muhammad Harfin Zuhdi, Muhammad Salah Ending, et.all, Peta Dakwah NTB, (Mataram: Sanabil, 2017), h. 321

147Pulau nasi adalah sebutan bagi “negeri tanah Samawa” yang mempunyai sejarah kerajaan yang makmur, terutama di daerah yang terletak di bagian barat pulau ini. Dengan potensinya yang demikian besar, baik laut dan pesisir, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, pariwisata, dan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara “terbesar” di Indonesia.

Awal Mula Islam di NTB

|

105

membawa pengaruh terhadap bahasa, budaya, bentuk tubuh dan warna kulitnya.

Menurut Manca,148 dari hasil kutipannya dalam buku Memorie Van Overgave (Serah terima jabatan seorang residen) bahwa penduduk asli Sumbawa dulunya bertempat tinggal di Semenanjung Sanggar. Secara geologis, dahulunya Gunung Tambora telah mencapai ketinggian 4000 m dan pulau Sumbawa telah tenggelam 1000 m. kenyataan itu menunjukkan bahwa pulau Sumbawa dan Semenanjung Sanggar dahulunya merupakan dataran yang luas. Hal ini memungkinkan terjadinya perpindahan penduduk dari semenanjung Sanggar ke Sumbawa.

Sedangkan menurut Mahsun,149 penduduk Sumbawa pada masa lalu berasal dari berbagai tempat dan datangnya secara berkelompok-kelompok, kemudian masing-masing membuat tempat kediamannya. Hal ini didukung oleh dugaan bahwa pada zaman glasial Sumbawa bersambung langsung melalui Lombok dan Bali dengan dataran Sunda (Jawa, Kalimantan, dan Sumatra), serta dataran Asia. Melalui jembatan daratan itulah manusia purba dapat bermigrasi. Terdesak oleh suasana dan keadaan, baik karena perpindahan penduduk yang baru, maupun karena tarikan alam untuk mereka jadikan tempat bercocok tanam dan pemeliharaan ternak. Penduduk yang telah memiliki tempat kediaman itu akhirnya menjadi tanah ulayat yang dalam bahasa Sumbawa-nya disebut lar lamat, dengan batas serta penguasaanya yang disebut nyaka (membentuk daerah kekuasaan sendiri) dan diberi hak atas tanah disebut penyaka (penggarap dari kalangan rakyat biasa). Dasar kepemilikan hak atas suatu wilayah dilukiskan dalam ungkapan tradisi lisan Sumbawa tumpan aeng-

148Manca, Sumbawa.., h. 19.

149Mahsun, Dialek..,h. 57.

106

|

Mozaik Islam

aeng, me tu tumpan nan tau baeng (menemukan, siapa yang lebih dulu menemukan dia yang memilikinya).

Penduduk yang lebih tua dan lebih dulu datang ke Sumbawa adalah tinggal di pegunungan Ropang, Lunyuk dan sebelah selatan pegunungan Batu Lanteh. Mereka telah terdesak penduduk baru yang masuk melalui pantai utara. Mereka tinggal di pegunungan tersebut selain adanya perbedaan tipe, juga bahasanya berlainan dengan penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Di tempat lain seperti di kampung Mantar, daerah pegunungan dekat desa Seteluk dan kampung Sesat dekat kecamatan Rhee, mereka mirip dengan logat/bahasa Jawa.

Sedangkan di pegunungan Jereweh mereka mempunyai bahasa yang berlainan dengan tetangga dekatnya yaitu Jereweh dan Taliwang yang mempunyai bahasa sendiri. Namun tentang asal- usul Sumbawa tersebut sampai sekarang belum ada penelitian yang menjelaskan secara valid.150

Penduduk Sumbawa yang berada di daerah pegunungan seperti Orong Telu Ropang, Lunyuk, dan sebelah selatan Batu Lanteh, memiliki persamaan dengan orang-orang Bugis, Makasar, Banjar, Melayu, dan sebagian kecil dengan Jawa dan di sebelah barat orang Sasak. Hal ini dapat dipelajari dari logat bahasa yang digunakan, bentuk tubuh dan warna kulit yang lebih mirip dengan tetangganya di sebelah barat, sedangkan pada adat- istiadat, bangunan rumah dan aksara lebih menyerupai Makasar.

Pada bagian lain, ada pendapat dari kisah perjalanan Zollinger pada bulan Mei-Desember (1847) bahwa penduduk Bima dan Sumbawa, Selebes, Slayar, dan Flores secara keseluruhan berasal dari rumpun bangsa Melayu.151

150Zuhdi, et.all, Peta Dakwah.., h. 322.

151Mahsun, Dialek.., h. 58.

Awal Mula Islam di NTB

|

107

Berdasarkan sejarah ringkas masyarakat Sumbawa pada masa lalu, dan kehidupan sosial lainnya dapat dikatakan bahwa apapun latar belakang asal usul penduduk Sumbawa saat ini, secara realitas bahwa sukubangsa Samawa telah tumbuh dan berkembang dari percampuran aneka ragam sukubangsa yang telah berasimilasi dan bersatu dalam satu community (kesatuan masyarakat) yang bernama sukubangsa Samawa yang merasa memiliki kesamaan sejarah, adat istiadat, dan kebudayaan yang terus dikembangkan dan dipelihara oleh warganya, sehingga tetap menyatu dalam sistem adat istiadat dan kebudayaan Sumbawa yang kemudian disebut adat rapang Tana Samawa (tata cara dan adat istiadat orang Sumbawa).