Susilo1, Shanti Ratnakomala2, Mega Elvianasti1, Dwi Astuti1
1 Pendidikan Biologi, Universita Muhammaydiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Indonesia, 13830
2 Mikrobiologi Terapan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong, Indonesia, 16911
*Email korespondensi: [email protected]
Received: ……… | Accepted: ………. | Published: ………..
Abstrak
Latar Belakang: Marchantia polymorpha banyak tersebar luas di beberapa negara tropis seperti Indonesia.
Karena jumlah lumut yang melimpah, lumut memiliki peluang besar untuk dikaji manfaatnya. Beberapa penelitian telah mencoba membuktikan manfaat kandungan metabolit sekunder pada lumut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antibakteri ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Metode: Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Terapan LIPI.
Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan. Kontrol positif menggunakan Tetrasikin dan kontrol negatif menggunakan aquadest. Konsentrasi ekstrak Marchantia polymorpha yang digunakan yaitu 70%, 80%, 90%, dan 100% dengan menggunakan uji ANAVA sebagai uji analisis data. Hasil: Hasil pengukuran diameter daya hambat menghasilkan nilai rata-rata paling kecil 70%: 2,8 mm dan rata-rata paling besar 100%: 6,6 mm pada bakteri Bacillus subtilis dan pada bakteri Micrococcus luteus memiliki nilai rata-rata paling kecil 70%: 3,6 dan rata-rata paling besar 100%: 7,8 kemudian nilai rata-rata tersebut di uji dengan analisis statistik uji ANAVA dengan nilai Fhitung (78,31) > Ftabel (4, 43) pada Bacillus subtilis dan pada bakteri Micrococcus luteus menunjukkan nilai Fhitung (89,73) > Ftabel (4, 43) dengan taraf signifikansi kedua bakteri uji 0, 01 dilanjutkan dengan uji BNT dengan nilai pada Bacillus subtilis 0,876 dan 0,81 pada Micrococcus luteus α 5%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Kata kunci: Antibakteri; Bacillus subtilis; Ekstrak; Marchantia polymorpha; Micrococcus luteus
Abstract
Background: Marchantia polymorpha is widely distributed in several tropical countries such as Indonesia.
Because of the abundance of moss, moss has a great opportunity to study its benefits. Several studies have tried to prove the benefits of secondary metabolites in mosses. Purpose: This research headed to find out the influence antibacterial of liverworts extract, Marchantia polymorpha towards Bacillus subtilis and Micrococcus luteus.
Methods: This research was conducted in a laboratory of Mikrobiologi Terapan LIPI. It was done by applying Rancangan Acak Lengkap (RAL) with 6 treatments and 5 repairs The positive control used tetrasiklin, while the negative control used aquadest. The concentration extract of Marchantia polymorpha that was used was 70%, 80%, 90%, and 100%. Result: The result of measuring the inhibitory power produced an the smallest average value is 70%: 2.8 mm and the average is 100%: 6.6 mm in Bacillus subtilis and Micrococcus luteus bacteria has the smallest average value of 70%: 3.6 and flat the biggest 100%: 7,8 furthermore, those values were tested with statistic analysis ANOVA test with Fcount (78.31)> Ftable (4, 43) in Bacillus subtilis and Micrococcus luteus bacteria showed Fcount (89.73)> Ftable (4, 43) with a significance level of both test bacteria 0, 01 followed by test BNT with values in Bacillus subtilis 0.876 and 0.81 in Micrococcus luteus with α 5%. Conclusion: In conclution the liverwort extract of Marchantia polymorpha could inhibit the growth of pathogenic bacteria Bacillus subtilis and Micrococcus luteus.
Keywords: Antibacterial; Bacillus subtilis; Extract; Marchantia polymorpha; Micrococcus luteus
© 2018 BIOEDUSCIENCE. ALL RIGHTS RESERVED
1 PENDAHULUAN
Lumut merupakan tumbuhan perintis, secara ekologi lumut memiliki peranan yang sangat penting dalam menciptakan habitat primer dan sekunder setelah adanya kerusakan lingkungan. Lumut dapat tumbuh dengan berbagai kondisi pertumbuhan di tempat tumbuhan tingkat tinggi tidak bisa tumbuh. Pada umumnya lumut banyak tumbuh di tempat yang basah dan lembab yaitu pada batang pohon, kayu lapuk, batuan dan tanah. Karena jumlah lumut yang melimpah, lumut memiliki peluang besar untuk dikaji manfaatnya. Beberapa penelitian telah mencoba membuktikan manfaat kanduang metabolit sekunder pada lumut (Fitantri, 2017).
Seiring dengan perkembangan ilmu biologi dan sains, lumut mulai diteliti karena dianggap memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen yang dapat merugikan manusia. Jenis lumut hati Marchantia polymorpha telah dijadikan tumbuhan obat- obatan di Cina untuk penyembuhan luka, luka bakar, memar, TBC, neurasthenia, patah tulang.
Bahkan beberapa masyarakat memanfaatkannya sebagai obat hepatitis. Beragam aktivitas biologis yang teramati dari ekstrak lumut tersebut meliputi antibakteri, antikapang, antipiretik, antitoksin, antiseptik, duretik, dan anti hepatitis (Asakawa et al., 2012; Bajaj, 2013).
Methanol dan ekstrak flavonoid bebas pada ekstrak Marchantia polymorpha menunjukan aktivitas aktivitas terbaik melawan S. Aureus.
Kandungan marchantin A pada Marchantia polymorpha memiliki potensi untuk menghambat protozoa jenis Plasmodium falciparum. Ekstrak etil asetat lumut hati mengandung flavonoid, alkaloid dan steroid.
Ekstrak etil asetat pada berbagai konsentrasi dapat menghambat pertumbuhan mikroba uji Escherichia coli, Proteus mirabilis, Staphylococcus aureus dan C. albicans.
(Mewari et al 2008; Jhensen et al 2012;
Junairah, 2015)
Faktor penting senyawa antimikroba dari ekstrak Marchantia polymoprpha terutama disebabkan karena kandungan senyawa fenol sederhana yaitu bis(bibenzil) khususnya marchantin A. Senyawa fenolik diketahui merupakan senyawa metabolit sekunder yang bersifat toksik pada beberapa bakteri. Fenol dapat merusak sel mikroba dengan mengubah permaebilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran bahan-bahan intraseluler, kemudian mendenaturisasi dan menginaktifkan protein seperti enzim (Asakawa et al., 2000; Pratiwi, 2008)
Berkaitan dengan adanya aktivitas antibakteri yang terlihat pada bakteri pathogen jenis Escherichia coli, Proteus mirabilis, Staphylococcus aureus dan C. albicans. Perlu dilakukan penelitian lebih lajut pada bakteri jenis lain untuk mengetahui aktivitas antibakteri. Maka, peneliti ingin mencoba melakukan penelitian menggunakan bakteri pathogen jenis lain yaitu Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Penelitian ini menggunakan ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha yang di ekstaksi menggunakan metode ekstraksi halus menggunakan pelarut organik dengan metode uji anti mikroba menggunakan metode disc diffusion.
METODE
Metode uji antibakteri yang menggunakan metode disc diffusion yaitu meletakan kertas cakram yang berisi agen antimikroba pada media agar yang sudah terdapat mikroorganisme, kertas cakram yang berisi agen antimikroba perlahan akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikrorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar dan metode ekstraksi menggunakan metode ekstraksi halus menggunakan pelarut organik (Pratiwi, 2008). Bahan yang digukana pada penelitian ini adalah lumut hati Marchantia polymorpha.
Pengambilan sampel lumut hati Marchantia polymorpha dilakukan di kawasan curug Cibereum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan perumahan warga di kawasan
2 Lembang Bandung. Ekstrak lumut hati
(Marchantia polymorpha) yang diekstraksi di laboratorium Mikrobiologi Terapan, Puslit Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus, media NB (Nutrien Broth) dan MHB (Mueller Hinton Broth) dan aquadest.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Dengan 6 perlakuan. 0% control -, tetrasiklin kontrol +, ekstrak lumut dengan konsentrasi 70%, 80%, 90%, 100%.
Ekstraksi Marchantia polymorpha
Pembuatan ekstrak dengan cara mengeringkan lumut hati Marchantia polymorpha dengan cara menjemurnya di suhu ruangan tanpa sinar matahari, kemudian menghaluskan lumut dengan cara diblender. Setelah itu melarutkan serbuk lumut menggunakan pelarut etil asetat 100%. Kemudian menghomogenkan larutan menggunakan shaker selama 24 jam. lalu larutan disaring, kemudian menguapkan hasil penyaringan menggunakan evaporator. Setelah penguapan kemudian menambahkan endapan pada filtrat menggunakan metanol 100%.
Mayoritas metabolit sekunder bersifat semi polar sehingga larut dalam pelarut organik. Metanol dan asetonitril adalah pelarut organik paling polar.
Terakhir pengenceran ekstrak menggunakan aquadest hingga mencapai konsentrasi 70%, 80%, 90%, 100% (Saifudin, 2014).
Pembuatan Media Biakan
Pembuatan media menggunakan 2 lapisan, yaitu bottom layer untuk lapisan bawah dan Upper layer untuk lapisan atas. Pembuatan bottom layer dengan cara mencampurkan serbuk Mueller Hinton Broth (MHB) sebanyak 4,2gr dengan serbuk agar sebanyak 3,6 gam lalu untuk melarutkannya menggunakan 200ml aquadest.
Pembuatan Upper layer dengan cara mencampurkan serbuk Mueller Hinton Broth (MHB) sebanyak 0,525gr dengan serbuk agar sebanyak 0,45 gam lalu untuk melarutkannya menggunakan 50 ml aquadest. Setelah media
bottom layer steril, kemudian menuangkan media bottom layer ke tiap cawan petri.
Persiapan Biakan Bakteri
Medium pemeliharaan bakteri menggunakan NB. Pembuatan media NB dengan cara melarutkan Serbuk NB sebanyak 0,525gr dalam 50 ml aquadest. Setelah itu larutan tersebut diambil sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi kemudian di sterilkan. Setelah steril, peneliti mencampurkan bakteri murni sebanyak 100 mikro dalam media NB kemudian bakteri di inokulasi selama 24 jam. Hasil inokulasi kemudian diletakan pada spektro untuk mengetahui nilai OD bakteri, menghitung OD pada bakteri bertujuan agar perbandingan volume bakteri dengan media upper layer seimbang.
Kemudian menuangkan media Upper layer yang telah di campur dengan bakteri uji pada permukaan bottom layer yang telah memadat.
Setelah itu media upper layer didiamkan hingga memadat.
Uji Daya Hambat Bakteri
Berikutnya penanaman kertas cakram yang sudah di teteskan ekstrak 70%, 80%, 90%, 100%, kontrol negatif aquadest dan kontrol positif tetrasiklin pada media uji. Kemudian meletakan media uji pada kulkas selama 3 jam agar ekstrak berdifusi dengan baik pada media. Terakhir, meletakan media uji pada inkubator selama 24 jam (Apriliana et al., 2013).
Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan parameter besarnya diameter daerah hambat Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Pengambilan data dengan cara mengukur diameter daerah hambat dengan menggunakan jangka sorong kemudian mengolah hasil pengukuran dengan rumus: Diameter Zona Hambat – Diameter Kertas Cakram dengan satuan mm (David & Stout, 1971).
Analisis Data
Analisis data menggunakan uji ANAVA satu arah untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan dalam uji daya hambat ekstrak lumut
3 hati (Marchantia polymorpha) dengan
konsentrasi 0% kontrol, 100%, 90%, 80%, 70%, Sebelumnya dilakukan uji normalitas sebagai uji prasyarat terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
hasil
Hasil uji antibakteri menggunakan ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 70%, 80%, 90%, dan 100% menunjukkan adanya aktivitas antibakteri pada ekstrak. Hal ini dianalisis dari terbentuknya daerah hambat disekitar kertas cakram yang berisi ekstrak pada media MHA (Muller Hinton Agar). Daerah jernih yang terbentuk merupakan bukti bahwa ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha memiliki kemampuan antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Pengambilan data diambil dengan mengukur diameter daerah hambat dengan menggunakan jangka sorong kemudian hasil pengukuran diolah dengan rumus: diameter zona hambat – diameter kertas cakram dengan satuan mm (David & Stout, 1971).
Hasil rata-rata daya hambat ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha pada beberapa konsentrasi dapat dilihat melalui tabel di bawah ini.
Tabel 1. Hasil Rata-Rata Daya Hambat Ekstrak Marchantia polymorpha Terhadap Pertumbuhan Bacillus subtilis
No. Konsentrasi Rata-rata (mm)
Total (mm)
1. A = Kontrol + 9,8 49
2. B = Kontrol - 0 0
3. C = 70% 2,8 14
4. D = 80% 4,4 22
5. E = 90% 5,8 29
6. F = 100% 6,6 33
Pada bakteri Bacillus subtilis zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dengan konsentrasi 70% memiliki nilai rata-rata 2,8 mm, pada ekstrak
dengan konsentrasi 80% memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 4,4 mm, pada ekstrak dengan konsentrasi 90% memiliki nilai rata-rata zona hambat 5,8 mm dan pada ekstrak dengan konsentrasi 100% memiliki nilai rata-rata zona hambat 6,6 mm.
Tabel 2. Hasil Rata-Rata Daya Hambat Ekstrak Marchantia polymorpha Terhadap Pertumbuhan Micrococcus luteus
Selanjutnya, pada bakteri uji Micrococcus luteus zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dengan konsentrasi 70% memiliki nilai rata-rata 3,6 mm, pada ekstrak dengan konsentrasi 80%
memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 5,6 mm, pada ekstrak dengan konsentrasi 90%
memiliki nilai rata-rata zona hambat 6,4 mm dan pada ekstrak dengan konsentrasi 100% memiliki nilai rata-rata zona hambat 7,8 mm.
lumut hati Marchantia polymorpha dengan kosntrasi yang berbeda terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai rata-rata diameter zona hambat, Nilai rata-rata dari masing-masing konsentrasi pada tabel menunjukkan bahwa peningkatan nilai rata-rata equivalen dengan peningkatan persentase konsentrasi yang diberikan. Kontrol positif yang digunakan dalam peneltian ini adalah tetrasiklin dengan dosis 50 mikro, tetrasikin memiliki diameter zona hambat yang paling besar yaitu 9,8 mm pada Bacillus subtilis dan pada Micrococcus luteus sebesar 10,6 mm. Meski demikian tetrasiklin dalam penelitian ini hanya digunakan sebagai pembanding antibiotik alami, karena tetrasiklin merupakan
No. Konsentrasi Rata-rata (mm)
Total (mm)
1. A = Kontrol + 10,6 43
2. B = Kontrol - 0 0
3. C = 70% 3,6 18
4. D = 80% 5,6 28
5. E = 90% 6,4 32
6. F = 100% 7,8 39
4 antibiotik semisintetik yang dijadikan standar
untuk menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus, tetrasiklin memiliki kemampuan resistensi lebih lama dengan toksisitas rendah (Pratiwi, 2008; Junaedi, 2012).
Kontrol negatif yang diberikan pada penelitian ini adalah aquadest, aquadest diberikan sebanyak 50 mikro pada tiap bakteri uji. Aquadest memiliki nilai rata-rata 0 mm. Zona hambat yang terbentuk pada kedua bakteri uji Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus pada media MHA dapat dilihat pada gambar:
Gambar 1. Hasil uji antibakteri Bacillus subtilis (kiri) dan Micrococcus luteus (kanan)
Pengaruh ekstrak dari lumut hati Marchantia polymorpha terhadap Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus didukung oleh hasil analisis statistik uji ANAVA yang ditemukan adanya pengaruh ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Dengan ketentuan jika nilai Fhitung > nilai Ftabel maka dapat disimpulkan adanya pengaruh ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Hasil ANAVA pada bakteri Bacillus subtilis menunjukkan nilai Fhitung (78,31)
> Ftabel (4, 43) dan pada bakteri Micrococcus luteus menunjukkan nilai Fhitung (89,73) > Ftabel (4, 43) dengan taraf signifikansi kedua bakteri uji 0, 01 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Adanya pengaruh atau perbedaan dari hasil analisis uji
ANAVA dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) 5%.
Uji BNT dilakukan untuk mengetahui efektivitas urutan dari perlakuan melalui nilai minimum atau nilai BNT. Konsentrasi diurutkan dari nilai rata-rata diameter daerah hambat yang terkecil hingga yang terbesar. Selesai diurutkan kemudian selisih antara masing-masing nilai rata- rata diameter daya hambat dibandingkan dengan nilai minimum atau nilai BNT yang telah ditetapkan melalui hasil perhitungan yang didapat dari rumus BNT.
pembahasan
Hasil analisis statistik menunjukan ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi 70%, 80%, 90%, dan 100% dapat menghambat aktivitas mikroba uji Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus yang ditunjukan adanya zona hambat di sekitar kertas cakram yang mengandung ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha. Salah satu metode yang digunakan dalam uji antibakteri yaitu metode difusi cakram kertas. Metode ini dilakukan dengan meletakkan cakram kertas yang telah direndam larutan uji di atas media padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Pertumbuhan bakteri diamati setelah diinokulasi untuk melihat zona bening disekitar cakram. Zona bening yang terbentuk di sekitar cakram pada konsentrasi antibakteri terendah merupakan nilai KHM (Mulyadi et al., 2013).
Pada penelitian uji daya hambat ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus, menggunakan tujuh perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, methanol dan ekstrak lumut hati dengan berbagai konsentrasi 70%, 80%, 90%, dan 100%. Fungsi kontrol positif adalah sebagai pembanding apakah zat uji bisa berefek sama dengan antibiotik yang digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan fungsi kontrol negatif adalah untuk mengetahui apakah pelarut yang digunakan sebagai pengencer ekstrak mempunyai efek terhadap bakteri uji (Emrizal et al., 2012).
5 Sedangkan methanol yang diujikan
berfungsi untuk mengetahui pengaruh kandungan methanol sebagai pelarut ekstrak terhadap aktivitas pertumbuhan bakteri.
Ada atau tidaknya pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan bakteri dianalisis dengan melihat dan mengukur diamter zona hambat yang terbentuk dengan menggunakan jangka sorong kemudian hasil pengukuran diolah dengan rumus:
diameter zona hambat – diameter kertas cakram dengan satuan mm (David & Stout, 1971).
Penilaian zona hambat digolongkan menjadi tidak ada zona hambat, lemah yaitu zona hambat kurang dari 5mm, sedang yaitu zona hambat 5-10 mm, kuat yaitu zona hambat 11-20 mm, sangat kuat yaitu zona hambat 21-30 mm (Putra et al., 2017)
Kontrol positif yang digunakan sebagai penguji adalah tetrasikin, tetrasiklin dipakai sebagai penguji dikarenakan antibiotik ini merupakan antibiotik semisintetis yang berspektrum luas dan memiliki waktu resistensi lebih lama dibanding antibiotik jenis lain (Pratiwi,2008). Tetrasiklin memiliki nilai rata- rata zona hambat tertinggi sebesar 9,8 mm pada Bacillus subtilis dan pada bakteri Micrococcus luteus memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 10,6 mm.
Kontrol negatif yang digunakan sebagai penguji adalah aquadest, aquadest digunakan karena untuk mengetahui apakah aquadest yang digunakan sebagai pengencer ekstrak mempunyai efek terhadap pertumbuhan bakteri uji. Aquadest memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 0 mm, nilai rata-rata zona hambat pada methanol sama dengan aquadest yaitu 0 mm pada kedua bakteri yaitu Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Hal ini membuktikan bahwa aquadest dan methanol tidak memiliki pengaruh dalam menghambat pertumbahan bakteri.
Hasil uji coba pada bakteri Bacillus subtilis dengan menggunakan konsentrassi 70% memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 2,8 mm, pada ekstrak 80% memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 4,4 mm, pada ekstrak 90% memiliki nilai rata-rata zona hambat 5,8 mm dan pada ekstrak 100% memiliki nilai rata-rata zona hambat 6,6
mm membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi yang diberikan akan semakin besar pula zona hambat yang terbentuk.
Selanjutnya, pada bakteri uji Micrococcus luteus zona hambat yang terbentuk pada ekstrak 70% memiliki nilai rata-rata 3,6 mm, pada ekstrak 80% memiliki nilai rata-rata zona hambat sebesar 5,6 mm, pada ekstrak 90% memiliki nilai rata-rata zona hambat 6,4 mm dan pada ekstrak 100% memiliki nilai rata-rata zona hambat 7,8 mm. Peningkatan nilai rata- rata yang diperoleh menunjukan hasil yang sama dengan bakteri uji sebelumnya, bahwa semakin besar konsentrasi yang diberikan maka semakin besar zona hambat yang terbentuk. Hasil yang didapat menunjukan bakteri uji Micrococcus luteus memiliki nilai rata- rata zona hambat lebih besar dibandingkan dengan Bacillus subtilis hal ini diduga dipengaruhi oleh sensitivitas bakteri, media kultur, kondisi inkubasi, dan kecepatan difusi agar (Siregar et al., 2012).
Penelitian ini menggunakan ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dengan metode ekstraksi pelarut organik etil asetat dan methanol sebagai pembilas rendemen. Pemilihan pelarut tersebut dilakukan karena memeliki sifat non polar yang berfungsi untuk mengisolasi senyawa metabolit sekunder pada lumut hati Marchantia polymorpha yang memiliki sifat non polar (Cairns, 2004).
Penghambatan aktivitas mikroba uji oleh ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha diduga berasal dari aktivitas senyawa bioaktif.
Komponen-komponen bioaktif yang berperan penting dalam beragam aktivitas tersebut adalah senyawa terpenoid (monoterpenoid, diterpenoid, triterpenoid), dan fenolik sederhana. Kandungan fenolik sederhana pada Marchantia polymorpha sejumlah besar dikarakteristik dalam bentuk lipofilik dan hidrofilik, termasuk flavon dan flavon glikosida (Asakawa, 2012; Bajaj, 2013).
Kandungan senyawa fenol sederhana yaitu bis(bibenzil) khususnya marchantin A. Dalam penelitian Marchantin A pada Marchantia polymorpha memiliki potensi untuk menghambat
6 protozoa jenis Plasmodium falciparum (Asakawa
et al., 2000; Jhensen et al., 2012).
Tumbuhan menghasilkan banyak produk sekunder yang mengandung gugus fenol.
Beberapa senyawa fenol larut dalam pelarut organik, beberapa adalah glikosida dan asam karboksilat yang larut air dan sejumlah besar lainnya adalah polimer yang tidak larut (Mastuti, 2016)
Fenol aktif dalam suasana bahan organik, stabil, dan tahan lama setelah aplikasi.
Mekanisme antibakterinya diperoleh melalui penghancuran dinding sel, dan mempresipitasi protein sel sehingga menyebabkan koagulasi dan hilangnya fungsi. Fenol toksik, baik terhadap bakteri maupun sel penjamu. Senyawa fenolik merusak sel mikroba dengan mengubah permaebilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran bahan-bahan intraseluler, kemudian mendenaturisasi dan menginaktifkan protein seperti enzim. Senyawa ini juga mampu memutuskan ikatan silang peptidoglikan oleh usahanya menerobos dinding sel, senyawa fenol menyebabkan kebocoran nutrient sel dengan merusak ikatan hidrofilik komponen penghasil membran sel seperti protein dan fosfolipida serta larutnya komponen- komponen yang berikatan secara hidrofilik yang berakibat meningkatnya permaebilitas membran.
Terjadinya kerusakan pada membran berakibat terhambatnya aktivitas dan biosintesis enzim spesifik yang diperlukan dalam reaksi metabolisme (Pratiwi, 2008).
Dalam Mewari et al (2008) Total aktivitas ekstrak terhadap masing-masing pathogen sensitif juga dievaluasi. Methanol dan ekstrak flavonoid bebas pada ekstrak Marchantia polymorpha menunjukan aktivitas aktivitas terbaik melawan S.
aureus, P. mirabilis dan C. albicans. Studi saat ini menunjukkan bahwa ekstrak yang diuji dari Marchantia polymorpha mungkin dieksploitasi untuk obat antimikroba di masa depan.
kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data mengenai uji antibakteri ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha L terhadap bakteri
Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus maka dapat di simpulkan pemberian ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi 70%
menghasilkan nilai rata-rata terkecil 2,8 mm dan rata-rata terbesar pada konsentrasi 100% sebesar 6,6 mm pada bakteri Bacillus subtilis dan pada bakteri Micrococcus luteus memiliki nilai rata- rata pada konsentrasi 70% yaitu 3,6 mm dan rata- rata terbesar pada konsentrasi 100% yaitu 7,8 mm berpengaruh sebagai penghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Semakin besar konsentrasi ekstrak yang diberikan makan semakin besar zona hambat yang terbentuk pada media, dan bakteri Micrococcus luteus memiliki sensitivitas lebih besar pada ekstrak dari pada bakteri Bacillus subtilis, dibuktikan dengan zona hambat yang lebih besar yaitu 7,8 mm pada bakteri Micrococcus luteus sedangkan nilai rata- rata zona hambat pada Bacillus subtilis hanya sebesar 6,6 mm.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses penyusunan jurnal ini yaitu Pusat Penelitian Mikrobiologi Terapan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
REFERENSI
Apriliana, Pamella. 2013. Uji Anti Bakteri Aktinomisetes Terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus subtilis INACC B.289, Escherichia coli INACC B.285, Dan Staphylococcus Aureus INACC B.286. Prosiding. 472.
Asakawa, Yoshinori. 2000. Chemical structures of macrocyclic bis (bibenzyls) isolated from liverworts (Hepaticae). Tokushima Bunri University.
Asakawa, Yoshinori. 2012. Phytochemical And Biological Studies Of Bryophytes. Tokushima Bunri University.
Bajaj. 2013. Biotechnology In Agriculture And Forestry 37. Thomson press. India.
Cairns, Donald .2004. Intisari Kimia Farmasi.
Pharmaceutical Chemistry. Indonesia.
David & Stout, 1971. Disc Plate Method of Microbiological Antibiotic Assay. Applied Microbiology. Vol. 22(4): 668