Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kandungan ekstrak Marchantia Polymorpha terhadap bakteri Micrococcus luteus dan Bacillus subtilis dengan melihat diameter zona hambat yang terbentuk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak hati Marchantia polymorpha dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang uji daya hambat ekstrak tumbuhan lumut Marchantia geminata terhadap bakteri Micrococcus luteus dan Bacillus subtilis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap bakteri Micrococcus luteus dan Bacillus subtilis.
Marchantia polymorpha
Penelitian ini menguji ekstrak metanol dan kloroform Marchantia polymorpha terhadap tiga bakteri gram negatif (Xanthomonas oryzae pv. Oryzae, Salmonella enterica dan Pasturella multocida) dan empat strain jamur (Tilletia indica Mitra, Fusarium oxysporum f. Hal lain yang dilakukan terhadap lumut adalah untuk menggunakannya sebagai bahan obat untuk mengobati gatal-gatal dan penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Contoh lain adalah Marchantia polymorpha dan Scapania verrucosa yang telah dipelajari kemampuannya sebagai antioksidan yang dapat mengais radikal bebas menangkal (Krishnan & Murugan 2013; .
Mekanisme senyawa antimikroba
Suhu tinggi dan konsentrasi bahan kimia tertentu yang terkonsentrasi dapat menyebabkan koagulasi (denaturasi) ireversibel dari komponen seluler vital ini. Sebagai disinfektan cair, fenol tidak terpengaruh oleh zat organik, memiliki aktivitas rendah terhadap endospora bakteri, efektif pada konsentrasi 2-5% dengan mendenaturasi protein dan merusak membran sel bakteri, serta aktif pada pH asam. Senyawa fenolik merusak sel mikroba dengan mengubah permeabilitas membran sitoplasma, menyebabkan kebocoran bahan intraseluler, dan kemudian mendenaturasi dan menonaktifkan protein seperti enzim.
Senyawa ini juga mampu memutus ikatan silang peptidoglikan dengan mencoba menerobos dinding sel, senyawa fenolik menyebabkan kebocoran nutrisi sel dengan cara merusak ikatan hidrofilik komponen penghasil membran sel seperti protein dan fosfolipid serta melarutkan komponen pengikat hidrofilik, sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membran.
Bacillus subtilis
Bakteri tersebut dapat mencemari makanan sehingga menyebabkan keracunan makanan (Rumondor et al., 2014; Kumalaningsing., 2016; Sarjono et al., 2008).
Micrococcus luteus
Alur Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
Alat dan Bahan 1. Alat
Bahan
11 Marchantia polymorpha moss diekstraksi dengan metode ekstraksi organik yang diterapkan di laboratorium mikrobiologi terapan, yaitu dengan mengambil senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada Marchantia polymorpha. Bakteri Micrococcus luteus dan Bacillus subtilis diperoleh dari laboratorium mikrobiologi LIPI, media NA (Nutrien Agar) MHB (Mueller Hinton Broth), etil asetat, Metanol, alkohol 70%, Aquades steril, alumunium foil, kapas dan korek api, .
Cara Kerja
Lapisan bawah berfungsi sebagai penyangga media, sedangkan lapisan atas berfungsi sebagai media pertumbuhan bakteri. Lapisan bawah dibuat dengan mencampurkan 4,2 gram MHB dan 3,6 gram agar, setelah itu bahan dilarutkan dengan 200 ml akuades. Lapisan atas dibuat dengan mencampurkan 0,525 gram MHB dan 0,45 gram agar-agar kemudian melarutkan 50 ml air suling.
Kedua bahan tersebut ditempatkan dalam Erlenmeyer kemudian disterilkan menggunakan autoclave sesuai dengan prosedur sterilisasi. Lapisan bawah dituang terlebih dahulu hingga memenuhi setengah dari cawan petri, kemudian lapisan atas yang suhunya stabil dicampur dengan bakteri uji setelah perhitungan OD, kemudian dituang ke dalam cawan petri di atas lapisan penyangga. Media yang telah disterilkan siap digunakan, untuk biakan bakteri diambil 100 mikrobakteri dari biakan bakteri murni, kemudian dicampurkan dalam media MHB, setelah tercampur, tabung reaksi dengan biakan bakteri dikocok selama 24 jam.
Blanko test disk ditempatkan dalam cawan Petri steril, kemudian setiap test disk diteteskan dengan konsentrasi 50 mikron menggunakan mikropipet. Bakteri uji disiapkan terlebih dahulu, bakteri yang akan diuji diinokulasi selama 24 jam pada media NB cair. Lapisan bawah memiliki struktur yang lebih kuat dibandingkan dengan lapisan atas karena lapisan bawah berfungsi sebagai penyangga, sedangkan lapisan atas berfungsi sebagai tempat tumbuhnya bakteri.
Lapisan atas media, sebelum dituangkan ke dalam cawan Petri, terlebih dahulu menerima biakan bakteri uji yang telah diinokulasi selama 24 jam. Setelah lapisan bawah dan lapisan atas dituang ke dalam cawan petri, langkah selanjutnya adalah meletakkan piringan di atas lapisan atas.
Indikator Capain Hasil Penelitian
Fishbond Penelitian
Deskrispi Wilayah Penelitian
Hasil Penelitian
Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah tetrasiklin dengan dosis 50 mikron, tetrasiklin memiliki diameter zona hambat terbesar yaitu 9,8 mm pada Bacillus subtilis dan 10,6 mm pada Micrococcus luteus. Aquadest memiliki nilai rata-rata 0 mm yang berarti tidak membentuk zona hambat pada bakteri dan membuktikan bahwa aquadest tidak memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis atau Micrococcus luteus. Pada bakteri Bacillus subtilis zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dengan konsentrasi 70% memiliki nilai rata-rata 2,8 mm, pada ekstrak dengan konsentrasi 80%.
Kontrol positif yang digunakan sebagai tester adalah tetrasiklin, tetrasiklin digunakan sebagai tester karena antibiotik ini merupakan antibiotik semi sintetik dengan spektrum yang luas dan memiliki waktu resistensi yang lebih lama dibandingkan dengan jenis antibiotik lainnya (Pratiwi, 2008) Tetrasiklin memiliki rata-rata tertinggi Nilai zona hambat 9,8 mm pada Bacillus subtilis dan pada bakteri Micrococcus luteus memiliki nilai zona hambat rata-rata 10,6 mm. Aquadest memiliki nilai rata-rata zona hambat 0 mm, nilai rata-rata zona hambat pada metanol sama dengan pada aquadest yaitu 0 mm pada kedua bakteri yaitu Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Hasil pengujian pada bakteri Bacillus subtilis pada konsentrasi 70% memiliki nilai zona hambat rata-rata 2,8 mm, pada ekstrak 80%.
Selanjutnya zona hambat yang terbentuk pada ekstrak 70% pada bakteri uji Micrococcus luteus memiliki nilai rata-rata 3,6 mm, pada ekstrak 80% nilai zona hambat rata-rata 5,6 mm, pada ekstrak 90% nilai rata-rata adalah rata-rata. zona hambat 6,4 mm dan ekstrak 100% memiliki nilai zona hambat rata-rata 7,8 mm. Peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh menunjukkan hasil yang sama dengan bakteri uji sebelumnya yaitu semakin besar konsentrasi yang diberikan maka semakin besar pula zona hambat yang terbentuk. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bakteri uji Micrococcus luteus memiliki rata-rata nilai zona hambat yang lebih besar dibandingkan Bacillus subtilis. Hal ini diduga dipengaruhi oleh sensitivitas bakteri, media kultur, kondisi inkubasi dan laju difusi agar. (Siregar et al., 2012).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ekstrak hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi 100% dapat menghambat aktivitas mikroba uji Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus, yang menunjukkan adanya zona hambat di sekitar kertas cakram yang mengandung ekstrak hati Marchantia polymorpha. Bakteri Micrococcus luteus memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap ekstrak dibandingkan bakteri Bacillus subtilis, dibuktikan dengan zona hambat terbesar yaitu 7,8 mm pada bakteri Micrococcus luteus sedangkan nilai rata-rata zona hambat pada Bacillus subtilis hanya 6,6 mm.
Saran
Pemberian ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi dan efek 100% menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Luaran yang akan dihasilkan dalam penelitian ini adalah artikel ilmiah yang akan dipublikasikan di jurnal nasional.
IDENTITAS JURNAL
IDENTITAS SEMINAR
IDENTITAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
- Hipotesis
- Perhitungan Statistik
- Kriteria Pengujian
- Perhitungan Statistik a. Mencari nilai BNT
- Evaporator 4. Mikro pipet
- Tips 6
- Oven
- Agar (media pertumbuhan) 2. MHB (media pertumbuhan)
- Nutrient Broth (media inokulasi
Marchantin A, A Macrocyclic Bisbibenzyl Ether, Isolated from the Liverwort Marchantia polymorpha, Inhibits Protozoal Growth In Vitro. Flavonoids, antioxidant potential and acetylcholinesterase inhibitory activity of extracts from the Gametophyte and Archegoniophore of Marchantia polymorpha L. Untuk mengethai variansi data diameter daerah hambat ekstrak lumut hati dalam hanadat bakteri Bacillus subtilis.
Untuk melihat ada tidaknya pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis. Ho : Tidak terdapat pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. H1 : Terdapat pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus.
Ho ditolak yang artinya ada pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis. Mencari distribusi perbedaan rata-rata dari pasangan perlakuan jika tidak berbeda nyata atau berbeda nyata. Ho : tidak ada perbedaan yang nyata antara pasangan perlakuan H1 : ada perbedaan yang nyata antara pasangan perlakuan 3
Untuk mengetahui varian data diameter daerah hambat ekstrak lumut hati dalam menghambat pertumbuhan Micrococcus luteus. Untuk melihat ada tidaknya pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. Ho ditolak, artinya ada pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha terhadap pertumbuhan bakteri Micrococcus luteus.
Ho : tidak ada perbedaan yang signifikan antar pasangan perlakuan H1 : terdapat perbedaan yang signifikan antar pasangan perlakuan.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK Marchantia polymorpha TERHADAP BAKTERI Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus
Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat dengan caliper kemudian mengolah hasil pengukuran tersebut sesuai dengan rumus: diameter zona hambat – diameter paper disc dalam mm (David & Stout, 1971). Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat dengan caliper, kemudian hasil pengukuran diolah dengan rumus: diameter zona hambat - diameter paper disk dalam mm (David & Stout, 1971). Daya hambat rata-rata ekstrak lumut hati Marchantia polymorpha pada konsentrasi berbeda dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Pada bakteri Bacillus subtilis, zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dengan konsentrasi 70% memiliki nilai rata-rata 2,8 mm pada ekstrak. Selain itu pada uji bakteri Micrococcus luteus zona hambat yang terbentuk pada ekstrak konsentrasi 70% memiliki nilai rata-rata 3,6 mm, pada ekstrak konsentrasi 80%. Tetrasiklin memiliki nilai rata-rata zona hambat tertinggi 9,8 mm pada Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus memiliki nilai rata-rata zona hambat 10,6 mm.
Hasil pengujian pada bakteri Bacillus subtilis pada konsentrasi 70% memiliki nilai zona hambat rata-rata 2,8 mm, ekstrak 80% memiliki nilai zona hambat rata-rata 4,4 mm, ekstrak 90% memiliki nilai zona hambat rata-rata 5,8 mm dan ekstrak 100% ekstrak memiliki nilai zona hambat rata-rata 6,6. Peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh menunjukkan hasil yang sama dengan bakteri uji sebelumnya, yaitu semakin besar konsentrasi yang diberikan maka semakin besar pula zona hambat yang terbentuk. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bakteri uji Micrococcus luteus memiliki rata-rata nilai zona hambat yang lebih besar dibandingkan Bacillus subtilis. Hal ini diduga dipengaruhi oleh sensitivitas bakteri, media kultur, kondisi inkubasi dan laju difusi agar (Siregar et al., 2012).
Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus, dapat disimpulkan pemberian ekstrak hati Marchantia polymorpha dengan konsentrasi 70%. Semakin besar konsentrasi ekstrak yang diberikan maka semakin besar pula zona hambat yang terbentuk pada media, dan bakteri Micrococcus luteus memiliki kepekaan yang lebih besar terhadap ekstrak dibandingkan bakteri Bacillus subtilis, terbukti dengan zona hambat yang lebih besar yaitu 7,8 mm pada bakteri Micrococcus luteus. sedangkan nilai rata-rata zona hambat pada Bacillus subtilis hanya 6,6 mm.