KEBIJAKAN AKUNTANSI BMN
4.3. Akuntansi Persediaan
SAP mengatur definisi, pengakuan, pengukuran serta pengungkapan persediaan.
a. Pengertian Persediaan
Pengertian persediaan yang dijelaskan pada PSAP 05 berbasis akrual dan PSAP 05 berbasis Kas Menuju Akrual adalah sama.
Persediaan merupakan aset yang berupa: (1). Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah; (2) Bahan atau perlengkapan (supplies) yang akan digunakan dalam proses produksi; (3) Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat; (4) Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan.
Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas.
Dalam hal pemerintah memproduksi sendiri, persediaan juga meliputi bahan yang digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku pembuatan alat-alat pertanian. Barang hasil proses produksi yang belum selesai dicatat sebagai persediaan, contohnya alat-alat pertanian setengah jadi.
Pengadaan tanah pemerintah yang sejak semula dimaksudkan untuk diserahkan kepada pihak lain tidak disajikan sebagai aset tetap tanah, melainkan disajikan sebagai persediaan. Misalnya, apabila Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengadakan tanah yang di atasnya akan dibangun rumah untuk rakyat miskin, pada Neraca Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tanah tersebut tidak disajikan sebagai aset tetap tanah, namun disajikan sebagai persediaan.
Dalam hal pemerintah menyimpan barang untuk tujuan cadangan strategis seperti cadangan energi (misalnya minyak) atau untuk tujuan berjaga-jaga seperti cadangan pangan (misalnya beras), barang-barang dimaksud diakui sebagai persediaan.
Persediaan hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat misalnya sapi, kuda, ikan, benih padi dan bibit tanaman dilaporkan sebagai persediaan.
Dari penjelasan di atas dimasukkannya suatu item sebagai persediaan ditentukan oleh maksud diperolehnya item-item di atas.
Dengan demikian jika unit pemerintah memperoleh barang-barang sebagaimana dimaksud di atas yang akan digunakan, dijual atau diserahkan kepada masyarakat maka barang-barang tersebut akan dicatat sebagai persediaan.
b. Pengakuan dan Pengukuran Persediaan
Pengakuan persediaan terkait kapan persediaan dicatat dan kemudian dilaporkan dalam laporan keuangan. Pengakuan persediaan menurut PSAP berbasis akrual dan SAP berbasis Kas Menuju Akrual adalah sama yaitu (a) pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan
diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal, (b) pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/ atau kepenguasaannya berpindah.
Pengukuran persediaan adalah proses memberi atribut nilai pada persediaan. Persediaan disajikan sebesar harga perolehan, harga pokok produk atau nilai wajar sebagaimana diikhtisarkan dalam tabel berikut ini:
No Cara perolehan Nilai yang dicatat
1 Pembelian Harga Perolehan
2 Diproduksi sendiri Harga pokok produksi 3 Cara lainnya (donasi,
rampasan)
Nilai wajar
Cakupan biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan.
Jika dalam tahun anggaran terjadi beberapa harga perolehan, maka nilai persediaan dapat ditentukan dengan metode yang sistematis yaitu metode FIFO atau menggunakan harga pembelian terakhir. Sesuai dengan PMK 181/PMK.06/2016, Persediaan dapat dinilai dengan menggunakan 2 (dua) metode yaitu metode Fifo dan metode harga perolehan terakhir.
a. Metode First In First Out (FIFO)
Dengan metode ini, barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali keluar dengan demikian saldo persediaan dihitung berdasarkan harga perolehan persediaan terakhir. Klasifikasi persediaan yang menggunakan metode ini adalah:
1) tanah / bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat/
Pemerintah Daerah;
2) peralatan dan mesin, untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat/ Pemerintah Daerah;
3) Jalan, Irigasi, dan Jaringan, untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat/ Pemerintah Daerah;
4) hewan dan tanaman, untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat/ Pemerintah Daerah;
b. Metode harga perolehan terakhir
Untuk unit persediaan yang nilainya tidak material dan jenisnya bermacam-macam, maka saldo persediaan dihitung berdasarkan harga perolehan terakhir. Klasifikasi yang menggunakan metode ini adalah:
1) Barang konsumsi;
2) Amunisi;
3) Bahan untuk pemeliharaan;
4) Suku cadang;
5) Persediaan untuk tujuan strategis / berjaga-jaga;
6) Pita cukai dan leges;
7) Bahan baku;
8) Barang dalam proses /setengah jadi.
Harga pokok produksi persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya tidak langsung yang dialokasikan secara sistematis.
Berikut ini diilustrasikan perhitungan nilai persediaan akhir dengan metode FIFO dan harga beli terakhir. Untuk ilustrasi misalkan selama tahun 2016 suatu Satuan Kerja telah membeli dan menggunakan satu jenis persediaan bahan habis pakai sebagaimana diasjikan di tabel berikut:
Tanggal Keterangan Kuantitas Harga Per unit (Rp)
Jumlah Harga (Rp) Jan-01 Persediaan 200 100.000 20.000.000 Mei-12 Pembelian 400 120.000 48.000.000 Mei-17 Penggunaan 200
Sept-26 Pembelian 300 110.000 33.000.000 Okt-27 Pembelian 200 105.000 21.000.000 Des-14 Penggunaan 300
Des-15 Pembelian 100 125.000 12.500.000
Dari data di atas dapat diketahui bahwa barang yang tersedia untuk digunakan selama tahun 2012 adalah sebanyak 1.200 unit (200 + 400 + 300 + 200 + 100) dengan total harga Rp134.500.000,00 (20.000.000 + 48.000.000 + 33.000.000 +21.000.000 + 12.500.000).
Misalkan persedian akhir berdasarkan inventarisasi fisik pada akhir tahun persediaan yang ada sebanyak 700 unit.
Jika persediaan akhir tahun dinilai dengan harga beli terakhir, maka persediaan 700 unit akan dinilai sebesar Rp125.000,00 per unit, sehingga nilai persediaan akhir adalah Rp87.500.000,00 (700 x Rp125.000.000,00). Harga pembelian terakhir per unit Rp125.000,00 digunakan untuk memberi nilai seluruh persediaan yang ada walaupun harga Rp125.000,00 adalah harga beli untuk pembelian 15 Desember 2016 sebanyak 100 unit saja.
FiFO merupakan kependekan dari First In First Out. Jika digunakan metode ini persediaan yang telah digunakan akan dibebani dengan harga pembelian awal sehingga persediaan akhir akan dibebani dengan biaya/harga beli terakhir. Akuntansi persediaan mengenal dua sistem yaitu sistem periodik dan sistem perpetual. Dalam sistem periodik, penentuan harga beli persediaan yang telah digunakan dan yang masih ada pada akhir tahun dilakukan pada akhir periode, sementara itu
dengan sistem perpetual penentuan persediaan yang telah digunakan dan persediaan yang ada dilakukan setiap ada mutasi atau penggunaan persediaan.
Jika Pemerintah menggunakan sistem periodik, maka persediaan akhir tahun sebanyak 700 unit (hasil inventarisasi) akan dibebani dengan harga yang mulai dari pembelian terakhir dan sebelumnya. Persediaan 700 unit tersebut akan dibebani harga beli sebesar Rp78.500.000,00 dengan rincian sebagai berikut:
Kuantitas Harga per unit (Rp)
Jumlah Harga (Rp)
100 125.000 12.500.000
200 105.000 21.000.000
300 110.000 33.000.000
100 120.000 12.000.000
Persediaan Akhir
700 78.500.000
Dari 700 unit persediaan akhir, sebanyak 100 unit akan dibebani dengan harga pembelian terakhir. Sebanyak 200 unit akan dibebani dengan harga beli sebelumnya yaitu pembelian tanggal 27 Oktober 2016, 300 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 26 September yang harga per unitnya Rp110.000,00. Sementara itu yang 100 unit dianggap berasal dari pembelian 12 Mei 2016 dengan harga perolehan Rp120.000,00 per unit.
Menurut PP 71 tahun 2010, Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan dinilai dengan menggunakan nilai wajar.
c. Pengungkapan Persediaan dalam laporan keuangan
Laporan keuangan mengungkapkan: (1) Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan; (2) Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan
dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat; dan (3) Jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang
4.4. Akuntansi Aset Tetap