Nama Surah
Disebut Al-Baqarah karena surah ini menyangkut peristiwa penyembelihan sapi betina (al-baqarah), yang diperintahkan Allah Swt. kepada Bani Israil. Penyembelihan tersebut terkait dengan upaya menyingkap rahasia pembunuhan dengan cara memukul mayat dari bagian paha sapi. Atas izin Allah Swt., hiduplah orang yang terbunuh itu. Ia kemudian menceritakan siapa yang telah membunuhnya.
Kisah ini dimulai dari ayat 67. Ungkapannya sangat berbekas:
mengagumkan bagi yang mendengarnya, membangkitkan keingintahuan bagi yang ingin mempelajarinya.
Keutamaannya
Keutamaan surah ini sangat luhur. Pahala bagi yang membacakannya sangat besar. Surah ini disebut “tema sentral Al-Quran,” ini disebabkan keagungan dan kemuliaannya, keluasan hukum-hukum dan nasihat- nasihatnya. Rasulullah Saw. bersabda,
Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan akan menghindar dari rumah yang di dalamnya dibaca Surah Al-Baqarah.
2
25
Al-Baqarah
Disabdakan pula,
Bacalah Surah Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya (memahami dan mengamalkannya—pen) akan memberikan barakah, meninggalkan penyesalannya (kerugian), tidak mampu menyentuhnya tukang sihir. (HR Muslim dari Abu Umamah Al-Bahali)
Dalam Hadis Shahîh Al-Busti, diterima dari Sahal Ibnu Sa’d, Rasulullah Saw. bersabda,
Setiap sesuatu ada pokoknya, dan sesungguhnya pokok Al-Quran adalah Surah Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya di malam hari, maka tidak akan masuk setan ke dalam rumahnya selama tiga malam, dan barang siapa membacanya di siang hari, maka setan tidak akan masuk ke dalam rumahnya selama tiga hari.
Substansi
Surah Al-Baqarah adalah surah yang terpanjang dalam Al-Quran dan bersifat Madaniyyah. Ikrimah berpendapat, “Surah yang pertama turun di Madinah adalah Surah Al-Baqarah.” Sebagaimana surah–surah Madaniyyah lainnya, surah ini berisi tentang penetapan syariah untuk mengatur kehidupan Muslim di Madinah, sebagai sebuah masyarakat baru, masyarakat yang beragama dan berbangsa secara bersamaan. Tidak terpisahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Satu sama lainnya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, sebagaimana tidak dapat dipisahkannya jasad dengan ruh.
Oleh karena itu, penetapan syariah di Madinah didasarkan pada asas akidah Islamiyah. Asas yang pertama adalah keimanan kepada Allah Swt., kepada hal-hal yang gaib, kepada Al-Quran yang merupakan wahyu Allah Swt., kepada apa-apa yang diturunkan kepada para Nabi terdahulu, dan kepada amal saleh yang bermuara pada keimanan. Sebagai contoh, bentuk amal yang merupakan jalinan hubungan manusia dengan Tuhan- nya adalah salat. Adapun amal yang berpijak pada jalinan sosial adalah infak di jalan Allah Swt.
Terkandung di dalamnya adanya penetapan akidah yang membicarakan sifat-sifat orang-orang beriman, kafir dan munafik, dalam rangka melakukan perbandingan antara kelompok yang selamat dengan kelompok yang celaka. Hal ini diperlukan, seperti halnya pembicaraan tentang kekuasaan Allah Swt., yang dimulai dari penciptaan Adam a.s., dengan penghormatan sebagai bapak manusia melalui sujudnya para
malaikat dan keteraturan peristiwa yang terjadi pada diri Adam a.s. dan istrinya (Hawa) di surga, sampai turunnya mereka ke bumi.
Diungkapkan pula peringatan Allah Swt. bagi orang-orang beriman serta pembicaraan tentang dosa-dosa Bani Israil, sekitar sepertiga lebih surah ini, yakni dari ayat 47 sampai ayat 123. Kaum Bani Israil mengingkari nikmat Allah Swt., tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan Fir’aun, dan menyembah anak sapi. Mereka pun mengingkari ajaran Nabi Musa a.s.
dengan berbagai alasan, sambil berbuat kesombongan serta melakukan penentangan. Tuntutan yang paling keras mereka lakukan adalah permintaan materi (harta benda). Tatkala tuntutan materi tidak dipenuhi, mereka berbuat keingkaran, membunuh para Nabi tanpa hak, melanggar perjanjian dan sumpah. Perilaku sedemikian itulah yang menyebabkan turunnya laknat dan murka dari Allah Swt. dan membuat mereka jadi umat yang hina dan terjauhkan dari rahmat Allah Swt.
Pembicaraan kemudian berpindah dari Ahli Kitab kepada umat Nabi Muhammad Saw. Diingatkan bahwa umat Nabi Musa a.s dan umat Nabi Muhammad Saw. adalah dua umat yang berkait-berkelindan dengan nasab (keturunan) Nabi Ibrahim a.s pada keutamaan dan kemuliaannya.
Kesinambungan para pembawa risalah sebelumnya pada asas ajaran yang paling agung, yaitu tauhîd ulûhiyyah (hanya beribadah kepada Allah Swt.), syukur nikmat atas karunia rezeki yang halal dan dibolehkannya rezeki yang haram pada kondisi darurat, serta penjelasan dasar-dasar kebaktian kepada Allah Swt. pada QS Al-Baqarah (2) ayat 177.
Kemudian dijelaskan dasar-dasar ditetapkannya syariah Islam bagi orang-orang beriman, dalam hal ibadah dan mu’amalah, yaitu diwajibkannya menunaikan salat, mengeluarkan zakat, saum ramadhan, haji, jihad di jalan Allah Swt., aturan berperang, penetapan bulan Qamariyah bagi agama, dan infak di jalan Allah Swt. Semuanya itu merupakan pengantar (wasilah) untuk menghindari datangnya kebinasaan (azab), pesan bagi orangtua dan karib kerabat, penjelasan bagi orang-orang yang memiliki hak nafkah, pemeliharaan anak yatim, penataan aturan keluarga (pernikahan, talak, menyusui, dan idah), perwalian wanita, larangan sumpah palsu, pengharaman sihir, ditegakkannya qishâsh 1 bagi pembunuh yang bersalah, pengharaman memakan harta anak yatim dengan cara batil, pengharaman khamr, perjudian dan riba, pengharaman untuk menggauli wanita pada saat haid atau bukan pada tempatnya.
Kandungan surah yang paling utama adalah akidah dan rahasia ketuhanan, yaitu terdapat pada ayat Kursi. Demikian juga peringatan
datangnya hari kiamat, yang tertera pada ayat terakhir (QS Al-Baqarah [2]:
281).
Pada surah ini juga terdapat ayat yang terpanjang dalam Al-Quran, yaitu ayat tentang utang. Pada ayat ini, dianjurkan bagaimana utang-piutang itu menyertakan adanya catatan, saksi, dan hukum penyaksian antara wanita dan laki-laki, agunan, keharusan amanah, dan diharamkannya menyembunyikan persaksian.
Surah ditutup dengan mengingat, bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt., serta berdoa memohon kemudahan dan keluasan, menghilangkan sifat benci dan kelalaian, dan memohon pertolongan dalam menghadapi kaum kafir.
Penjelasan yang terdapat di dalamnya merupakan jalan (cara) yang lurus bagi orang-orang beriman, yaitu dengan dikemukakannya penjelasan tentang sifat-sifat orang beriman serta sifat-sifat orang kafir dan munafik.
Kemudian dijelaskan proses penetapan hukum, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus, penyandaran sepenuhnya kepada Allah Swt.
dan senantiasa hanya berdoa kepada-Nya dalam menetapkan keimanan, mengembangkan kebaikan dan keutamaan yang bermuara pada nilai-nilai ketuhanan, dan memohon pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh Allah Swt. yang berpegang pada batas-batas kemanusiaan.
Arah dari kandungan surah adalah bahwa sumber dari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat adalah agama. Adapun asas agama ada tiga, yaitu: iman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan amal saleh. Secara umum, titik tekan pembahasan adalah tentang keimanan dan konsistensi serta larangan untuk membenci agama.
***
Sifat Orang-Orang Beriman dan Pahala bagi Orang-Orang yang Bertakwa (Ayat 1-5)
(1) Alîf lâm mîn; (2) Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertakwa; (3) (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,2 yang mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka; (4) Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat; (5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah [2]: 1-5)
Penjelasan Ayat
Surah Al-Baqarah dimulai dengan bacaan basmalah. Bacaan basmalah menunjukkan arti bahwa seluruh kalimat dalam surah berasal dari Allah Swt., bukan dari manusia. Al-Quran diturunkan karena rahmat- Nya, sebagai hidayah untuk menunjukkan kepada manusia jalan kebaikan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Tidak diragukan lagi, isi Surah Al-Baqarah merupakan ayat-ayat Allah Swt. Ini berdasarkan kesepakatan para sahabat yang bekerja keras mengumpulkan mushhaf Al-Quran. Tidak sedikit pun di dalamnya terdapat kalimat yang bukan dari Al-Quran.
Pada QS Al-Baqarah, ayat 1, Allah Swt. mengungkapkan:
Alîf lâm mîm. (QS Al-Baqarah [2]: 1)
Huruf abjad di permulaan sebagian surah-surah Al-Quran (seperti:
Alîf lâm mîm, Alîf lâm râ, Alîf lâm mîm shâd, dan sebagainya), di antara para ahli tafsir, ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah. Mereka memandangnya sebagai ayat-ayat mutasyâbihât.
Namun, ada pula yang menafsirkannya. Golongan para penafsir ini, ada yang memandangnya sebagai nama surah. Ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memerhatikan Al-Quran dan mengisyaratkan Al-Quran diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf
abjad (Depag RI, 1995: 8).
Surah Al-Baqarah ini dibuka dengan deretan huruf yang terpotong- potong sebagai cara untuk menarik perhatian dan isyarat tentang kemukjizatannya. Selain itu, juga merupakan tantangan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Al-Quran untuk mendatangkan ayat atau surah yang lebih pendek dari itu, kalau mampu.
Hal ini pun menunjukkan ketetapan yang sangat jelas, bahwa ia adalah firman Allah Swt. yang tak mungkin ditandingi sekecil apa pun oleh kalimat manusia. Seakan Allah Swt. berfirman kepada orang-orang Arab, yang dengan bahasanya Al-Quran diturunkan: “Bagaimana mungkin kalian mampu mendatangkan susunan yang seperti itu. Sekalipun susunannya merupakan bahasa sehari-hari kalimat Arab, berhuruf Hijaiyah, kalian tidak akan mampu menandinginya.”
Berdasarkan kondisi yang sedemikian itu, jumhur ulama berpendapat
“Sesungguhnya disebutkannya huruf-huruf Hijaiyah di awal surah sebagai penjelasan yang nyata tentang kemukjizatan Al-Quran. Bahwa hamba Allah Swt. tidak akan mampu menandinginya dengan kalimat serupa, sekalipun kalimat itu terdiri atas huruf-huruf yang mereka gunakan sehari- hari dalam percakapan.”
Al-Zamakhsyari, s ebagaimana dikutip Wahbah Al-Zuhai li, berpendapat, “Tidak diragukan bahwa huruf-huruf seperti itu juga digunakan di awal beberapa Surah Al-Quran, sesungguhnya diulangnya huruf-huruf tersebut untuk menegaskan tantangan. Sebagaimana diulang-ulangnya kisah Al-Quran, maka tantangan yang nyata, diulang di beberapa tempat.”
Dalil yang menunjukkan alîf-lâm-mîm sebagai huruf Hijaiyah di awal surah yang mempunyai nilai tersendiri adalah sabda Nabi Saw.,
Barang siapa yang membaca Al-Quran satu huruf saja dari kitab Allah, maka ia mendapatkan suatu kebaikan. Satu kebaikan itu berbanding dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Tidak dikatakan alîf-lâm-mîm itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.
Kemudian Allah Swt. menyifati Al-Quran dengan tiga sifat:
Pertama, Al-Quran itu adalah kitab yang sempurna. Segala sesuatu yang tercakup di dalamnya memiliki makna yang luas, tujuan yang jelas, kisah-kisah yang nyata, pelajaran yang berharga, hukum-hukum yang serba mencakup, tidak terdapat kelemahan sedikit pun di dalamnya.
Kedua, Al-Quran itu tidak diragukan lagi, benar-benar datang dari sisi Allah Swt., bagi orang yang benar-benar menggunakan nalar dan penglihatannya serta membuka hatinya.
Ketiga, Al-Quran itu sumber hidayah dan tuntunan bagi orang- orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang menjaga diri dari sentuhan azab Allah Swt. dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka itulah orang-orang yang memanfaatkan Al-Quran.
Selanjutkan Allah Swt. mengungkapkan,
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 2)
Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Saw. adalah kitab yang mulia, tidak ada yang dapat mengalahkannya. Tidak ada keraguan dan kebimbangan di dalamnya. Bagi orang-orang yang memikirkan, merenungkan, serta membuka telinga atas pesan-pesannya, akan melihat bukti-bukti kebenarannya dengan mata kepala. Dia akan menjadi hidayah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang memelihara diri dari murka Allah Swt. dengan cara menjalankan perintah- Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta orang yang menjauhkan diri dari azab-Nya, dengan cara menanamkan ketaatan.
Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang- orang yang memelihara diri dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah Swt.), berbuat berdasarkan ketaatan kepada-Nya.”
Sementara, menurut Hasan Bashri, orang-orang bertakwa itu adalah
“Orang-orang yang menjaga diri dari apa-apa yang diharamkan atas dirinya dan menjalankan pekerjaan yang diwajibkan atas dirinya” (Al-Shabuni, 1396 H: 32).
Hidayah yang hakiki, hidayah yang alami, hidayah yang simbolik, dan hidayah yang substantif, hanya akan diserap oleh orang-orang yang menjadikan Al-Quran sebagai cahaya dan sebagai kebenaran yang nyata.
Dialah orang-orang yang bertakwa (Quthub, 1973: 38).
Apa yang dimaksud dengan takwa? Menurut Sayyid Quthub, takwa adalah keadaan yang sangat sensitif di dalam hati kecil, sehat perasaan, rasa takut yang terus menerus (kepada Allah Swt.), selalu waspada, dipelihara dari berbagai jalan hidup yang menggelincirkan: kesenangan syahwat, rakus dan serakah, kecemasan dan keresahan, harapan yang menipu, takut kepada sesuatu yang tidak membawa manfaat maupun madarat,
dan berbagai jalan lain yang dapat menggelincirkan (1973: 38).
Seperti apakah sifat-sifat dari orang yang bertakwa itu? Allah Swt.
menegaskan,
(yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
(QS Al-Baqarah [2]: 3)
Siapakah orang-orang yang bertakwa itu?
Pertama, orang-orang yang beriman kepada hal-hal gaib, yang meyakini adanya sesuatu yang maujûd (ada) yang tidak dapat ditangkap pancaindera karena dalil Al-Quran atau sabda Nabi Saw. yang menunjukkan adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.
Kedua, orang-orang yang mendirikan salat dengan syarat, rukun, khusyuk, dan adabnya. Ibnu Abbas berpendapat, “Mendirikan salat, adalah terdapatnya kesempurnaan rukuk, sujud, bacaan, dan ke-khusyukannya.”
Ketiga, orang-orang yang dikaruniai keluasan rezeki kemudian mereka berinfak dan bersedekah di jalan kebaikan dan kebaktian kepada Allah Swt.
Sebenarnya, kata infak mencakup pengertian yang umum. Infak menurut Ibnu Jarir, yaitu zakat, sedekah, dan infak pada umumnya. Menurut Ibnu Abbas adalah zakat mal. Adapun menurut Ibnu Katsir, Allah Swt.
dalam banyak hal membandingkan salat dengan infak harta. Salat adalah hak Allah Swt. yang merupakan manifestasi dari ketauhidan, kemuliaan, dan pujian terhadap-Nya. Infak adalah perbuatan ihsân (baik) kepada sesama makhluk dan merupakan hak adami. Setiap bentuk dari infak yang dianjurkan dan zakat yang wajib, masuk dalam makna ayat ini (Al-Shabuni, 1396 H: 32).
Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS Al-Baqarah [2]: 4)
Keempat, orang-orang yang membenarkan setiap hal yang datangnya dari Allah Swt. (wahyu-Nya), dan apa-apa yang diturunkan kepada para Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw., serta, tidak membedakan kitab-kitab yang diturunkan Allah Swt., dan para Nabi yang diutus Allah Swt. (Al-Shabuni, 1396 H: 32).
Substansi keimanan pada apa-apa yang Allah turunkan, baik kepada Nabi Muhammad Saw. atau Rasul-Rasul sebelumnya, menurut Sayyid Quthub (1973: 38), adalah sifat yang melekat pada umat Islam, pewaris akidah samawi, pewaris kenabian dari sejak Adam, penjaga warisan akidah dan kenabian, pengawal keutuhan iman sampai akhir zaman. Esensi dari sifat-sifat tersebut adalah suasana batin (perasaan) tentang kesatuan kemanusiaan, kesatuan agama, kesatuan Rasul-Rasul, dan kesatuan Tuhan, Yang Maha Esa. Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan ruhani dari fanatik buta yang rendah dan hina, menggantikannya dengan agama dan keimanan yang benar. Tujuan utamanya adalah ketenangan dan kemantapan kepada penjagaan Allah Swt. bagi nilai-nilai kemanusiaan yang berkesinambungan dari generasi demi generasi.
Kelima, meyakini dengan itikad yang benar, tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikit pun terhadap kampung akhirat. Di dalamnya terdapat kebangkitan, balasan, surga, neraka, perhitungan, dan timbangan. Disebut kampung akhirat disebabkan karena ia datang setelah kampung dunia.
Selanjutnya Allah Swt. menerangkan,
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah [2]: 5)
Orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia tersebut, diterangkan Allah Swt., sebagai orang-orang yang mendapat cahaya, kebenaran, dan penglihatan ruhani dari Allah Swt. Mereka ialah orang-orang yang mendapat kemenangan dan derajat yang tinggi di surga yang penuh dengan kenikmatan (Al-Shabuni, 1396 H: 32).
Hikmah dan Pesan
(1) Jalan hidup dan norma-norma keislaman dari sifat orang-orang yang beriman adalah iman yang sungguh-sungguh dan menyeluruh terhadap hal-hal gaib yang diberitakan wahyu, sekalipun tidak
terjangkau oleh ilmu, seperti Zat Allah, malaikat-Nya, dan kampung akhirat. Iman pada dasarnya harus sejalan dengan amal saleh seperti mendirikan salat yang diwajibkan, infak di jalan Allah, menyantuni fakir miskin dengan sedekah yang dianjurkan, memenuhi nafkah kepada keluarga dan kerabat. Iman tidak boleh terbelah-belah. Iman mencakup hal-hal rinci yang diturunkan Allah Swt., dan hal-hal global berupa kitab-kitab dan suhuf yang turun sebelumnya. Semua itu harus berdasar ilmu, agar melahirkan keyakinan yang sebenar- benarnya dalam keimanan.
(2) Keterangan ayat-ayat di atas menerangkan bahwa takwa adalah rasa takut untuk melakukan penentangan, di dalamnya merupakan kumpulan dari seluruh kebaikan, yang merupakan ajaran Allah Swt.
di masa dulu maupun sekarang. Kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalamnya sangat bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia.
(3) Al-Quran akan menjadi petunjuknya orang-orang yang memiliki sifat keimanan sebagaimana disebutkan, menjadi pedoman amal dan sikap batinnya. Orang seperti ini telah mengantarkan diri ke dalam keselamatan di alam akhirat, kebahagiaan dan ketenteraman batin di dunia. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat keimanan tersebut, menurut jumhur ulama, disebabkan kepatuhan kepada hukum yang menyebabkannya mendapatkan hidayah serta keberuntungan.
Mujahid berpendapat, “Pada awal Surah Al-Baqarah, terdapat empat ayat yang menerangkan sifat orang-orang beriman. Dua ayat menjelaskan sifat orang-orang kafir, tiga belas ayat mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafik.”
(4) Mengeluarkan infak dengan cara yang baik, penuh kebaktian dan kebaikan dari harta benda yang dimiliki seperti zakat, sedekah dan seluruh bentuk nafkah yang wajib secara hukum. Dengan demikian terpancar sifat kedermawanan dan kemurahan untuk sesama manusia.
Harta bendanya menjadi bersih dari setiap bentuk kotoran syubhât (harta yang remang-remang campuran haram dan halalnya). Bangunan syar’î yang diharapkan adalah pribadi yang dibangun oleh salat sebagai tiang agama, masyarakat yang dibangun dari kesadaran berzakat dan bersedekah yang merupakan dasar kemajuan dan kesejahteraan umat.
Pada dasarnya, ayat ini memberitakan hal-hal gaib yang bersifat umum, disusul kemudian dengan perintah salat dan infak, mencakup yang wajib dan yang sunah.
(5) Membenarkan semua yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
dan seluruh para Nabi. Selanjutnya, meyakini alam akhirat serta segala sesuatu yang akan terjadi di dalamnya, kebangkitan jasad dan ruh dari kubur, perhitungan, pahala, timbangan, shirâth (jalan lurus yang sempit), surga, dan neraka.
(6) Orang-orang yang disifati Allah Swt. sebagaimana disebutkan:
memiliki iman yang sebenar-benarnya kepada al-ghâib, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, meyakini hari akhir, beriman kepada Al- Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, Zabur, dan Suhuf). Mereka adalah orang-orang yang mendapat cahaya kebenaran dan hidayah dari Allah Swt. Mereka berada di tempat yang mulia di sisi Allah Swt. Mereka mendapatkan keberuntungan dan derajat yang tinggi di surga yang kekal.
***
Sifat-Sifat Orang Kafir (Ayat 6-7)
(6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman;
(7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS Al-Baqarah [2]: 6-7)
Latar dan Konteks
Setelah menerangkan keadaan orang-orang beriman, pada ayat-ayat selanjutnya Allah Swt. menerangkan sifat-sifat orang kafir. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perbandingan antara keduanya. Kekufuran adalah lawannya iman. Orang-orang beriman akan selamat, orang-orang kafir akan celaka selamanya dalam api neraka.
Kedua ayat tersebut diturunkan, menurut Al-Thabari dari Ibnu Abbas
dan Al-Kalbi (yang dapat dipercaya), berkenaan dengan para pemimpin Yahudi, seperti Huyai Ibnu Akhthab dan Ka’ab Ibnu Al-Asyraf, serta pemikiran- pemikirannya.
Penjelasan Ayat
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
(QS Al-Baqarah [2]: 6)
Sesungguhnya, orang-orang kafir itu menentang ayat-ayat Allah Swt., mendustakan Al-Quran dan Nabi Muhammad. Bagi mereka sama saja, baik diberi peringatan maupun tidak, tidak ada pengaruhnya dalam hati mereka. Hati mereka terkunci dan tidak masuk ke dalamnya cahaya Ilahi.
Iman tidak muncul di dalam hati mereka, karena mereka buta dari kebenaran dan ayat-ayat Allah Swt. tidak dapat menembus ke dalamnya sinar hidayah dan nasihat. Mereka mengabaikan jalan menuju kepada pengetahuan, penalaran, dan pemikiran. Fungsi pendengaran dan penglihatan mereka tidak berjalan baik. Sebenarnya, mereka melihat kebenaran, tetapi tidak mengikutinya. Mereka mendengarkan peringatan, tetapi ti dak mengambilnya. Maka itu, sama saja, apakah peringatan itu datang pada mereka maupun tidak.
Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan,
Allah telah mengunci-mati hati, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS Al-Baqarah [2]: 7)
Allah Swt. menutup dan mengunci-mati hati mereka, sehingga tidak masuk ke dalamnya cahaya. Iman tidak membersit darinya. Arti khatama, adalah menutup dan mengunci. Kondisi hati seperti itu, dengan dosa yang makin bertambah, akan menghalangi masuknya sinar penglihatan batin.