BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
1. Al Ghazali
51
3. Ketiga, sementara itu, pendidikan yang disebut kedua hanya mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di dunia Barat. Metode pengajaran sudah menggunakan metode modern. Pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda ini tidak diajarkan ilmu-ilmu keislaman.
Kebanyakan siswa yang bisa masuk dalam pendidikan ala Barat ini adalah orang-orang priyayi atau pegawai pemerintah Belanda.
Dari realitas pendidikan tersebut di atas, K.H. Ahmad Dahlan menawarkan sebuah metode sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan metode pendidikan pesantren. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini.
C. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
52
turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam sistem pendidikannya.
Ciri khas sistem pendidikannya sebenarnya terletak pada pengajaran moral religius dengan tanpa mengabaikan urusan dunia(Fathiyah hasan: 1986: 24).
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut Al Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepad Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia.
Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesestan dan kemudaratan.
Rumusan tujuan pendidikan didasarkan kepada firman Allah Swt, tentang tujuan penciptaan manusia yaitu :
Terjemahannya :
Tidaklah aku jadikan Jin dan Manusia melainkan agar beribadah kepadaku.
Tujuan pendidikan yang dirumuskan Al Ghazali tersebut dipengaruhi oleh ilmu tasawuf yang dikuasainya, karena ajaran tasawuf memandang dunia Ini bukan merupakan hal utama yang harus didewakan, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat
53
memutuskan kenikmatannya setiap saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.
Bagi Al Ghazali yang dikatakan orang, yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga derajatnya lebih tinggi disisi Allah dan lebih kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan menurut Al Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia itu hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
b. Kurikulum Pendidikan
Kurikulum disini dimaksudkan adalah kurikulum dalam arti yang sempit, yaitu seperangkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Pandangan al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai ilmu pengetahuan. Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan kepada beberapa sudut pandang:
b. Berdasarkan pembidangan ilmu
1. Ilmu Syari’ah : Ilmu Ushul, Ilmu Furu’, Ilmu Pengantar(
mukaddimah), Ilmu Pelengkap (mutammimah)
2. Ilmu bukan Syari’ah : Ilmu yang terpuji(kedokteran,berhitung,pertanian,tata
pemerintah,dll), Ilmu yang
54
diperbolehkan(kebudayaan,sastra,sejarah,dan puisi), Ilmu yang tercela(Ilmu tenung,sihir, dan bagian-bagian tertentu dari filsafat).
c. Berdasarkan objek
1. Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak, baik sedikit maupun banyak seperti sihir, azimat, nujum dan ilmu tentang ramalan nasib. Ilmu ini tercela karena tidak memiliki sifat manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.
2. Ilmu pengetahuan yang terpuji, baik sedikit maupun banyak, namun kalau banyak lebih terpuji, seperti ilmu agama dan ilmu tentang beribadat. Ilmu pengetahuan seperti itu terpuji secara mutlak karena dapat melepaskan manusia (yang mempelajarinya) dari perbuatan tercela, mensucikan diri, membantu manusia mengenai kebaikan dan mengerjakannya,memberitahu manusia ke jalan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah dalam mencari ridanya guna mempersiapkan dunia untuk kehidupan akhirat yang kekal.
3. Ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji, tetapi jika mendalaminya tercela, seperti dari filsafat Naturalisme. Menurut Al-Ghazali, ilmu-ilmu tersebut jika diperdalam akan menimbulkan kekacauan pikiran dan
55
keraguan, dan akhirnya cenderung mendorong manusia kufur dan ingkar( Jalaluddin :1994 :142).
d. Berdasarkan status hukum mempelajari yang dikaitkan dengan nilai gunanya
1. Fardhu‟ain yang wajib dipelajari oleh setiap individu. Ia memberi contoh kelompok ini ialah ilmu agama dan cabang-cabangnya.
2. Fardhu Kifayah, ilmu ini tidak diwajibkan kepada setiap muslim yang mempelajarinya. Jika sampai tidak seorangpun diantara kaum muslimin dalam kelompoknya mempelajari ilmu yang dimaksud, maka mereka akan berdosa. Diantara ilmu pengetahuan yang tergolong fardhu kifayah ini adalah ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, pertenunan, politik, pengobatan tradisional dan jahit menjahit.
c. Pendidik
Dalam proses pembelajaran, menurutnya, pendidik merupakan suatu keharusan. Eksistensi pendidik merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan suatu proses pendidikan anak.
Pendidikan dianggap sebagai maslikhul kabir. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada satu sisi, pendidik mempunyai jasa lebih dibandingkan kedua orang tuanya. Lantaran kedua orang tua menyelamatkan anaknya dari sengatan api neraka dunia,
56
sedangkan pendidik menyelamatkan dari sengatan api neraka di akhirat( Abu Hamid :1991 :22).
Al-Ghazali menyusun sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik sebagai berikut:
1. Pendidik hendaknya memandang peserta didik seperti anaknya sendiri, menyayangi dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri.
2. Dalam menjalankan tugasnya, pendidik hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi hanya mengharapkan keridaan Allah Swt.
3. Pendidik hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberi nasehat dan bimbingan kepada peserta didik, bahwa tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk memperoleh kedudukan atau kebanggaan duniawi.
4. Terhadap peserta didik yang bertingkah laku buruk, hendaknya pendidik menegurnya sebisa mungkin dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang.
5. Hendaknya pendidik tidak fanatik terhadap bidang study yang diasuhnya, lalu mencela bidang study yang diasuh pendidik lain.
57
6. Hendaknya pendidik memperhatikan perkembangan berpikir peserta didik agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berpikirnya.
7. Hendaknya pendidik mengamalkan ilmunya dan tidak sebaliknya, dimana perbuatannya bertentangan dengan ilmu yang diajarkan kepada peserta didik.
Terjemahannya :
Mengapa kamu suruh. Orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri.
d. Peserta didik
Mengenai metode dan media yang dipergunakan dalam proses pembelajaran, menurut Al-Ghazali harus dilihat secara tujuan pendidikannya. Belajar merupakan salah satu bagian dari ibadah guna mencapai derajat seorang hamba yang tetap dekat dengan khaliknya. Untuk itu seorang peserta didik harus berusaha mensucikan jiwanya dari akhlak yang tercela.
e. Metode dan Media
Mengenai metode dan media yang dipergunakan dalam prosesPembelajaran, menurut al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka
58
keberhasilan proses pembelajaran. Metode pengajaran tidak boleh menonton, demikian pula media atau alat pengajaran.
Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pendapat al- Ghazali tentang metode dan media pengajaran. Untuk metode, misalnya menggunakan metode mujahadah dan riyadlah, pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil naqli dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan media/alat digunakan dalam pengajaran. Beliau me yetujui adanya pujian dan hukuman, di samping keharusan menciptajkan kondisi yang mendukung terwujudnya akhlak yang mulia.