BAB V LABEL DEMONOLOGI (2): TERRORISME ISLAM
D. AMERIKA SEBAGAI SASARAN
Dalam film itu, Iran, Irak, dan Suriah disebut-sebut untuk mengesankan bahwa ketiga negara itu memang mendukung terorisme internasional. Film tersebut juga mengesankan organisasi teroris itu ada di Palestina, dengan menampilkan beberapa anggotanya yang mengenakan tutup kepala/muka ala para pejuang intifadhah (Hamas).
Diberikannya nama Crimson Jihad bagi organisasi teroris pimpinan Abu Aziz dalam film itu, juga merupakan pelecehan atau pendiskreditan terhadap konsep jihad dalam Islam. Tendensinya, jihad diidentikkan dengan terorisme. Memang, kalangan masyarakat Barat, seperti telah dikemukakan, kerap mengasosiasikan jihad dengan terorisme. Aksi kekerasan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam, oleh Barat disebut aksi terorisme. Sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.
Ketiga, situasi dunia pasca-Perang Dingin dengan keruntuhan Blok Komunis telah menempatkan "Blok Islam" sebagai "musuh baru" dunia Barat. Sehingga, jika pada masa Perang Dingin, Barat selalu mengambing-hitamkan dan mencurigai kaum komunis manakala ada aksi teroris, sekarang kaum Muslimlah yang dicurigai dan didakwa.
Keempat, khusus bagi AS, seperti diungkap Time 14), sebagai satu-satunya adidaya AS menjadi tumpuan harapan sekaligus kemarahan dunia, juga menjadi
"Setan Besar" (Great Satan) atau musuh yang harus diperangi bagi kaum Muslim .fundamentalis. karena AS telah menjadi pelindung setia dan utama Israel, pendukuqg kebijakan represif Presiden Mesir Husni Mubarak terhadap gerakan Islam, musuh utama Iran, membiarkan Muslim Bosnia dibasmi Serbia, membiarkan bangsa Kurdi hidup tertindas di berbagai negara, dan lain-lain.
Terakhir, tudingan terhadap kaum Muslimin sebagai pelaku teror, di satu sisi menunjukkan adanya "rasa bersalah" (guilty feeling) sekaligus "pengakuan" Barat khususnya AS terhadap dunia Islam. Pemerintah Washington bisa jadi merasa bahwa aksi-aksi kekerasan yang terjadi di dalam negerinya sebagai ulah kaum Muslimin yang marah terhadapnya, karena selama ini AS selalu mendukung pembasmian "fundamentalisme Islam" dan menjegal naiknya kelompok Muslim
"garis keras" ke tampuk kekuasaan di berbagai negeri Muslim, termasuk "dosa besar" AS yang menopang dan menjadi "centeng" setia Israel, musuh bersama dunia Islam.
BAB VI: LABEL DEMONOLOGI (3): BOM ISLAM
Jika label fundamentalisme Islam mengarah kepada peredaman ghirah kebangkitan Islam, terorisme Islam bersasaran kepada peredaman ruhul jihad umat Islam, maka label "bom Islam" (Islamic bomb) bertujuan mencegah negara-negara Muslim memiliki kemampuan persenjataan nuklir -barometer kekuatan -dan
"kharisma" sebuah negara dalam kancah politik dan militer internasional. Dengan perkataan lain, pemunculan istilah "bom Islam" ditujukan terhadap penguasaan teknologi dan persenjataan nuklir yang dimiliki sebuah negara Islam. Tujuannya untuk mencegah terjadinya nuklirisasi dunia Islam agar negara-negara Islam tetap lemah dan inferior di bidang militer.
Istilah bom Islam dilontarkan secara terang-terangan oleh Amerika Serikat (AS) ketika Pakistan -negara berpenduduk Muslim terbesar ketiga di dunia -diketahui memiliki kemampuan persenjataan nuklir. Anehnya, tidak ada istilah
"Bom Kristen" (Christian bomb) bagi negara-negara Kristen Barat atau "Bom Hindu" (Hindus bomb) dan "Bom Yahudi" (Jews bomb) bagi India dan Israel dua negara yang jelas jelas berkemampuan nuklir dan tidak menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Digandengkannya kata bom dan Islam jelas mengandung pesan dan mengidentiikasikan Islam sebagai ancaman yang berbahaya. Dalam persepsi Barat, jika sebuah negara Islam mampu memiliki atau mengembangkan persenjataan nuklir, pada gilirannya senjata pemusnah massal itu akan jatuh pula ke tangan kelompok fundamentalis Islam. Dengan label "bom Islam", masyarakat dunia dicekoki pandangan bahwa jika umat Islam atau sebuah negara Islam memiliki senjata nuklir, dunia terancam bahaya besar. Dalam pandangan Esposito, stigma (labelisasi) "bom Islam" kepada negara-negara Muslim yang berkemampuan nuklir
"menyiratkan eksistensi sebuah dunia Islam yang monolitik t yang mengancam Israel dan Barat”1)
Dunia Barat pasca Perang Dingin memang sangat mengkhawatirkan terjadinya nuklirisasi dunia Islam. Hal itu terungkap ketika negara-negara Barat yang tergabung dalam NATO menggelar Konferensi Munich tentang Kebijakan Keamanan (the Munich Conference on Security Policy) pada Februari 1992. Selain memunculkan persepsi tentang fundamentalisme Islam sebagai "ancaman berikutnya" terhadap NATO/Barat pasca Perang Dingin2) mereka juga sangat mewaspadai adanya kemungkinan terabsorpsi sains dan teknologi persenjataan nuklir Uni Sovyet yang dibawa para ahli nukhr Sovyet mengalir ke negara-negara Islam. Mereka menganggap negara-negara seperti Libya, Iran, Irak, atau Pakistan akan mampu membeli para ahli dan peralatan nuklir bekas Uni Sovyet guna menciptakan sebuah
"bom Islam". Memang, kemampuan membeli dengan harga tinggi bagi negara- negara Islam di Timur Tengah yang kaya minyak, sangat memungkinkan. Para pakar ahli nuklir Sovyet akan mudah tergiur memperoleh imbalan tinggi, apalagi iklim
perekonomian di negara-negara bekas anggota Uni Sovyet sangat kondusif untuk mewujudkan impian memperoleh kekayaan pribadi.3)
Istilah "bom Islam" mencuat ke permukaan pada Desember 1993. Ketika itu, dalam sebuah konferensi persnya di Pakistan, senator AS Larry Pressler dari Partai Republik menyatakan bahwa AS sangat khawatir akan terciptanya suatu "bom Islam". Alasannya, jika suatu negara Islam telah berhasil menguasai teknologi senjata nuklir, hal itu bisa menyebar ke negara negara Islam lainnya.
Sasaran pernyataan Pressler mengarah langsung pada Pakistan, satu-satunya negara Islam yang sudah diyakini berkemampuan nuklir. Terlebih, saat itu beredar isu bahwa Iran telah meminta alih teknologi senjata nuklir dari Pakistan. Pakistan diperkirakan akan menjadi pemasok senjata nuklir modern bagi negara-negara Islam di Timur Tengah. Pakistan yang sangat membutuhkan banyak dana bagi pembangunan ekonominya, boleh jadi akan menarik minat negara-negara Arab petro dolar untuk menukar uang dengan teknologi nuklirnya.4)
Karena alasan "bom Islam", AS tidak segan-segan merekayasa atau setidak- tidaknya mendukung penggulingan PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto oleh Jenderal Zia ul-Haq tahun 1977. Bhutto menolak untuk menerima tekanan AS agar menghentikan proyek nuklirnya. Tahun 1990, AS bahkan menghentikan bantuan ekonomi dan militernya ke Pakistan sebagai sanksi atas rencana Pakistan membangun instalasi reaktor nuklir.