BAB VIII KORBAN DEMONOLOGI (2): NEGARA-NEGARA ISLAM
A. IRAN
BAB VIII KORBAN DEMONOLOGI (2): NEGARA-NEGARA
negara Arab tetangganya. Bagi Iran sendiri, Barat dan Amerika Serikat (AS) khususnya adalah "setan besar" (the great satan) dan kekuatan imperialis yang selalu berusaha mendominasi negara lain.
Sosok Iran dimanfaatkan media massa Barat untuk menggambarkan Islam di mata dunia. Citra Iran menjadi citra Islam di seluruh dunia yang antara lain memperlihatkan para mullah bermata kosong yang berteriak-teriak, atau kaum wanita, dengan tubuh tertutup dari kepala hingga ujung jari kaki, atau para pemuda memegang senjata Kalashniko V. Islam syiah kemudian menjadi perwakilan Islam di media Barat, padahal kaum, Syiah hanya sekitar 10% dari total kaum muslim di dunia.1)
Sebelum terjadi revolusi Islam, Iran di bawah rezim Syah Reza Pahlevi merupakan sekutu terdekat Amerika Serikat (Barat) di Timur Tengah. Iran pun memiliki perlengkapan militer paling baik di Timur Tengah karena kedekatannya dengan Barat. Di bawah pemerintahan Reza Syah Pahlevi (1921-1941) yang kemudian digantikan putranya, Muhammad Reza Syah Pahlevi (1941-1978), Iran bukan saja dekat dan memiliki ketergantungan sangat tinggi kepada Barat melainkan juga sangat "terbaratkan". Pahlevi mengharuskan kaum laki-laki berpakaian ala Barat, melarang penggunaan jilbab bagi kaum wanitaniya, dan membatasi penggunaan jubah. Rezim Pahlevi juga mengendalikan agama dan para ulama (kaum mullah). Penciptaan sistem sekolah sekuler modern dan kode-kode hukum yang berkiblat ke Barat serta kontrol atas lembaga-lembaga Islam oleh para pejabat pemerintah telah membatasi kekuasaan para ulama.
Realitas demikian lambat laun menimbulkan kekecewaan di kalangan rakyat.
Tahun 1970-an, perasaan kecewa, tumbuh dan menyebar di kalangan masyarakat.
Seiring dengan itu, kalangan cendekiawan dan kaum mullah gencar melakukan cuci otak di kalangan rakyat dengan menyuarakan masalah kemerdekaan dan idealimse nasional Iran. Salah seorang cendekiawan itu itu adalah Dr. Ali Syari'ati yang belakangan dikenal sebagai ideolog revolusi Islam Iran. la menyatukan arus pembaru pada masanya: oposisi terhadap Syah Pahlevi, penolakan terhadaqp westernisasi, kebangkitan agama, dan pembaruan sosial.2)
Pemikiran Syari'ati bertemu dengan semangat pembaruan Khomeini yang belakangan menjadi arsitek revolusi.3) Khomeini dipenjarakan penguasa beberapa kali dan dikucilkan ke Turki, Irak, dan akhirnya Perancis. Selama pengucilannya, ia terus mengecam Syah Iran. Tulisan dan kaset-kaset pidatonya diselundukan ke Iran dan diedarkan melalui masjid-masjid. la menyebut monarki Iran sebagai tidak sah dan anti-Islam, dan mengharapkan sebuah pemerintahan yang dipandu bahkan diperintah oleh ulama.
Semangat revolusi Khomeini kemudian membakar rakyat Iran untuk melakukan protes den penentangan terhadap Syah Pahlevi. Puncaknya tahun 1978 knettika terjadi peristiwa "Jumat Hitam". Puluban ribu warga Iran dari berbagai kalangan
melakukan aksi demonstrasi. Militer Iran yang peralatannya dibeli dari Barat membubarkan demonstrasi secara brutal dengan menembaki kerumunan massa.
Protes anti-Syah yang meluas dan membesar yang muncul pada masa-masa berikutnya, termasuk adanya pembelotan anggota militer, memaksa Syah Pahlevi kabur meninggalkan Iran (6 januari 1979) dan lima hari kemudian (11 Februari 1979) terjadilah revolusi Islam. Berslogan "bukan Timur bukan pula Barat, hanya Islam semata", revolusi itu mengubah monarki Iran menjadi sebuah republik Islam yang dikuasai para Mullah pimpinan Khomeini.
Sejak itulah, kedekatan Barat dengan Iran berubah sama sekali. Persahabatan berganti dengan permusuhan. Dipimpin AS, negara-negara. Barat tidak saja melakukan pemutusan diplomatik, mengisolasi Iran dalam percaturan inlornasional, membekukan seluruh aset Iran di AS, tetapi juga hingga kini tetap menaruh kecurigaan yang baser terhadap Iran. Iran dipandang sebagai ancaman kepentingan Barat di Timur Tengah, anti-Israel, dan berhubungan akrab dengan negara-negara yang menjadi musuh AS, seperti Libya, Sudan, dan Suriah. Dalam masalah konflik Israel-Palestina, AS dan Iran juga berada dalam posisi berlawanan. AS berpendapat bahwa Palestina harus berkompromi dengan Zionis Israel, sedangkan Iran bersikukuh tidak ada kata kompromi dengan Zionis dalam masalah Palestina. AS memusuhi Hamas dan Jihad Islam, sedanggkan Iran mendukungnya.4)
Revolusi Islam Iran yang dinilai sebagai kemenangan al-haq atas al-bathil dan lambang kemenangan kaum tertindas (mustadh'afin) atas kaum penindas (mustakbirin), menimbulkan kepercayaan diri di kalangan gerakan Islam di berbagai negara Muslim, khususnya kalangan Muslim Sy’iah yang tersebar di sejumlah negata Arab. Contohnyakelompok Islam anti monarki di Arab Saudi (dikenal dengan nama "Gerakan Imam Mahdi") pun berani unjuk kekuatan dengan menduduki Masjidil Haram Mekah (20 November 1979, disusul kemudian aksi demonstrasi besar-besaran anti monarki di Hasa oleh kaum Syiah Saudi (28 November 1979).
Ditinjau dari dinamika revolusi itu sendiri, Iran sebagai suatu negara hakikatnya telah menjadi "gerakan Islam internasional yang pasti akan mewarnai dan mempengaruhi persepsi keagamaan umat Islam dunia.5) Dukungan Iran terhadap sejumlah gerakan Islam di Timur Tengah, seperti Hamas (Palestina) dan Hizbullah (Lebanon), menjadikan Iran dituding Barat sebagai penyebar dan penyubur fundamentalisme (dan radikalisme Islam di dunia (Arab). Negaranegara Arab tetangga Iran pun takut dan ditakut-takuti akan adanya "ekspor revolusi Islam" agar memusuhi Iran.
Revolusi Islam itu sendiri, dengan atau tanpa kemauan para pemimpin Iran untuk mengekspornya ke negara lain, sudah bersifat self-exporting karena dimensi ideologisnya yang sangat menonjol. Revolusi Iran diletakkan di atas dasar-dasar yang dapat berlaku universal (dan mengancm status quo yang ada, sehingga hampir setiap rezim yang ada di sekitar Iran, terutama rezim berbagai negata Arab, merasa terancam eksistensinya.6) Tidak heran jika kemudian sejumlah pemimpin Arab
melakukan upaya pembendungan (containment policy). Presiden Irak Saddam Hussein, misalnya, menghukum mati pemimpin Syiah Irak, Baqir ash-Shadr, den mendeportasi ribuan warga Iran di Irak. Puncak pembendungan "ekspor revolusi Islam" itu adalah ketika Irak mengobarkan api perang selama delapan tahun terhadap Iran (1980-1988). Dalam peperangan tersebut, Irak didukung negara Arab lain -bahkan Barat -karena kepentingan yang sama: menekan ancaman revolusi Islam.
Agar dunia kian memusuhi Iran, AS bahkan melangkah lebih jauh lagi, yakni dengan mencap negeri kaum mullah itu sebagai dalang terorisme internasional.
Hingga kini, Iran masih tercantum dalam daftar negara sponsor terorisme internasional versi AS. Hal ini dilakukan AS antara lain karena Iran mendukung Hamas dan Jihad Islam di Palestina serta milisi Hizbullah di Lebanon Selatan.
Ketiganya merupakan kelompok pejuang anti-Israel yang menjadi "hantu" bagi Zionis Israel den operasi militernya terhadap Israel selalu dituding Barat dan Israel sebagai aksi teroris. Untuk menegaskan tudingannya, AS bersama Israel dan sejumlah negara Arab menggelar KTT Antiteroris atau KTT Para Pencipta Perdamaian di Sharm ash-Sheikh Mesir, 13 Maret 1996. Sasaran KIT yang mengangkat isu milisi Hizbullah Lebanon tersebut adalah mengecam dan mengucilkan Iran sebagai negara pendukung terorisme. PM Israel Shimon Pares bahkan menyebut KTT itu untuk "menghancurkan ular teroris" (smash the terrorist snake).7)
Banyak pihak menduga bahwa Iran hingga kini masih memerangi Israel khususnya melalui tangan Hamas, Jihad Islam, dan Hizbullah. "Pada kenyataannya, keputusan tentang perang atau damai di Lebanon dibuat oleh Suriah dan Iran, yang mendukung Hizbullah," tulis Newsweek8). Bagi Iran, dukungannya terhadap Hizbullah merupakan manifestasi komitmen membantu sesama kaum Syiah dan merupakan balas budi, karena kabarnya kaum Syiah Lebanon mempunyai andil besar dalam Revolusi Islam Iran 1979 dengan melatih pasukan pendukung Khomeini. Selain itu, cita-cita Hizbullah untuk mendirikan sebuah negara Islam Lebanon model Iran tentu merupakan pendorong utama datangnya dukungan penuh kaum mullah yang kini berkuasa di Iran.
Di samping terus mencitrakan Iran agar dimusuhi dunia, Barat/AS juga berupaya agar pemerintahan Iran dikendalikan oleh orang-orang yang moderat dan bersahabat dengan Barat. Media massa Barat paling gemar membuat julukan- julukan dan pemilahan seperti "mullah moderaf' dan "mullah radikal". Yang pertama realtif tidak membahayakan dan bersahabat dengan Barat karena tidak "segalak"
Khomeini dan "mullah radikal" lainnya.
Tahun 1997 bertiup angin perubahan ketika seorang "mullah moderat", Mohammad Khatami, terpilih sebagai presiden Iran yang baru. Banyak pihak menilai bahwa kemenangan Khatami merupakan juga kemenangan garis kebijakan Presiden Rafsanjani, yang terus menyokong Iran ke arah lebih terbuka dan
mendobrak isolasi internasional Iran pasca revolusi 1979.9) Dengan kepemimpinan Khatami, Iran dinilai banyak pengamat akan memasuki era baru, yakni menuju Iran yang lebih moderat dan ramah terhadap negara-negara Barat tidak "segalak" masa mendiang Khomeini. Sampai-sampai, tokoh penggemar tenis meja dan mendaki gunung ini dijuluki "Ayatullah Gorbachev" oleh banyak rakyat Iran,10)
Khatami sendiri bertekad mengakhiri era Iran yang terisolasi, menjadikan Iran yang ramah dan bersahabat dengan negara lain. Jika Huntington meramalkan adanya "benturan peradaban" (clash of civilizations) Barat Islam, Khatami justru mengampanyekan "dialog peradaban" (dialogue of civilizations) menuju tata dunia yang damai.?