Teori Temuan pada pasien
Aspirasi adalah ketika sesuatu memasuki saluran napas atau paru- paru secara tidak sengaja. Bisa berupa makanan, cairan, atau bahan lainnya. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti pneumonia.
Aspirasi seringkali disebabkan oleh disfagia. Ini terjadi ketika otot-otot di tenggorokan tidak bekerja secara normal dan menyebabkan masalah menelan. Berbagai kondisi medis dapat menyebabkan hal ini, seperti:
Anatomi yang tidak normal, seperti langit-langit mulut sumbing atau masalah pada kerongkongan
Pertumbuhan tertunda, akibat kelahiran prematur atau kondisi seperti sindrom Down
Kerusakan otak atau masalah lain, misalnya akibat Cerebral Palsy atau infeksi
Masalah pada saraf kranial yang mengontrol otot-otot menelan
Anamnesis
Bayi. S usia 26 hari, datang ke IGD RSUD Sekarwangi rujukan RS Betha medika oleh ibu nya pada tanggal 14 oktober 2023 pukul 16.35 wib dengan keadaan wajah pucat dan terlihat tidak bernapas karena tersedak asi dirumah.
Awalnya Ibu pasien
memberikan asi per OGT namun tidak lancar sehingga ibu pasien mendorong paksa asi dengan menggunakan spuit lalu tiba tiba bayi terlihat pucat dan tidak bernapas sehingga ibu pasien langsung melarikan bayi nya ke RS Betha medika.
Diketahui bayi dengan BBLR, dengan berat badan lahir 1100 gram yang lahir secara secsio caesaria pada G2P1A0 hamil 28 minggu dengan indikasi KPD. Apgar Score tidak diketahui.
22 3
Teori Temuan pada pasien
Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan pengukuran tanda-tanda vital dan kesadaran. Pada pneumonia ditemukan tanda klinis seperti :
Gejala distress pernapasan:
takipnea, retraksi subkostal, batuk, krepitasi, dan penurunan suara paru.
Ronki basah (rales, crackles) Suara napas tambahan berupa vibrasi terputus-putus (tidak kontinu) akibat getaran yang disebabkan oleh adanya cairan dalam jalan napas yang dilalui udara. Ronki basah dibedakan berdasarkan lokasi suara.
Ronki basah halus berasal dari duktus alveolus, bronkiolus dan bronkus kecil, sedangkan ronki basah kasar berasal dari bronkus di luar jaringan paru. Ronki basah halus terkadang hanya terdengar pada akhir inspirasi atau pada inspirasi dalam sehingga pada bayi yang
Pemeriksaan fisik TTV :
HR: 160x/menit RR: 68x/menit S: 38 c
Status Generalis
Mulut: Mukosa bibir kering, bibir sianosis (+), gusi berdarah (-), lendir dari mulut (-).
Paru
Inspeksi: Gerak napas simetris, retraksi (+) interkosta, deformitas (-)
Palpasi: Pergerakan dinding dada simetris, vokal fremitus baik
Perkusi: Tidak dilakukan
Auskultasi: Rhonki basah halus (+/+), wheezing (-/-)
22 menangis, ronki basah halus ini mudah terdengar. Pada gagal jantung, ronki basah terdengar pada bagian bawah saja. Pada asma, bronkiolitis serta aspirasi benda asing, ronki basah dapat terdengar pada fase ekspirasi3.
Demam dan sianosis.
Teori Temuan pada pasien
22 5 Pada pemeriksaan penunjang pneumonia dapat dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap, CRP, uji serologis, pemeriksaan mikrobiologis, dan pemeriksaan rontgen thorax.
Bronkopneumonia pada tanda radiologi, ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium
Hb: 9.7 Gr%
Leukosit: 20.400 /mm3 Trombosit: 262.000 /mm3 Hitung jenis
Eosinofil: 2 Basofil: 0 Batang: 2 Segmen: 32 Limfosit: 62 Monosit: 6
Hematokrit: 29%
Pemeriksaan rontgen thorax :
• Jantung tidak membesar : CTR <50%
• Aorta dan mediastinum superior tidak melebar
• Trakhea di tengah
• Kedua hilus tidak menebal
• Infiltrat di kedua perihiler dan paracardial kanan
• Kedua hemidiafragma licin
• Sudut kostofrenikus kanan-kiri lancip Kesan :
• Sugestif gambaran bronchopneumonia
• Tidak tampak kardiomegali
22 1.11 Dasar Terapi
Teori Pemberian pada pasien
Pengelolaan Aspirasi dan Pneumonia Aspirasi
Bantuan hidup dasar
Yakinkan bahwa penolong dan korban telah berada pada tempat yang aman, dipindahkan hanya jika tempat tersebut membahayakan korban.
- Periksa kesadaran
Panggil korban dengan suara keras dan jelas atau panggil nama korban, lihat apakah korban bergerak atau memberikan respons. jika tidak bergerak berikan stimulasi dengan menggerakkan bahu korban.
- Posisikan korban
Pada penderita yang tidak sadar Tempatkan korban pada tempat yang datar dan keras dengan posisi terlentang. Jika harus membalikkan posisi, maka lakukan seminimal mungkin gerakan pada leher dan kepala (posisi stabil miring)
- Evaluasi jalan napas
Pada penderita yang tidak sadar sering terjadi obstruksi akibat lidah jatuh ke belakang. Oleh karena itu penolong harus segera membebaskan jalan napas dengan beberapa teknik.
Anamnesis :
Diberikan pertolongan pertama dengan membebaskan jalan napas dengan memiringkan pasien sehingga air asi keluar melalui hidung dan mulut, lalu 5 menit kemudian setelah bayi dimiringkan, bayi menangis dan kemudian oleh perawat RS betha diberikan oksigen nasal canul 0,5 lpm dan bayi ditempatkan di infant warmer untuk observasi lebih lanjut.
Tatalaksana medikamentosa :
a. IVFD DS ¼ NS 100 cc/kgBB dalam 24 jam 252ml/24
jam. Diberikan dengan tetes mikro sehingga 100x60/24x60= 4 TPM mikro
b.Terapi Oksigen lanjutan dari CPAP : F1O2 : 301; Flow 6; PEEP 6 H2O
c.Pemasangan OGT intake 3 cc/3 jam d.Cefotaxim 2 x 60 mg IV
e.Amikasin 1 x 25 mg IV
f.Aminofilin loading 6 mg/kgBB (10mg), 8 jam kemudian 2 mg/KgBB (3mg).
g.Ranitidin 2 x 1,2 mg
22 7 - Mengeluarkan benda asing Obstruksi karena aspirasi benda asing dapat menyebabkan sumbatan ringan atau berat, jika sumbatannya ringan maka korban masih dapat bersuara dan batuk, sedangkan jika sumbatannya sangat berat maka korban tidak dapat bersuara ataupun batuk. Jika terdapat sumbatankarena benda asing maka pada bayi <1 tahun dapat dilakukan teknik 5 kali back blows (back slaps) di interskapula.
Bantuan hidup lanjut jalan napas Pernapasan : Oksigenasi dan ventilasi buatan
Oksigen
Gunakan 100% oksigen selama resusitasi. Monitor kadar oksigen penderita.Ketika penderita sudah stabil, menghentikan secara bertahap jika saturasi oksigen dapat dipertahankan baik7.
CPAP
Mengurangi kebutuhan akan ventilasi mekanis. Ini memberikan satu set distending tekanan yang sama dengan tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP) untuk mempertahankan alveoli untuk perekrutan maksimum.
Cara penggunakaan CPAP
22 - Mulailah dengan PEEP 4-8 cm
H2O.
- Titrasi oksigen untuk menjaga saturasi antara 90 hingga 94%.
Pada pneumonia penggunaan antibiotik merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan. Antibiotik dipilih berdasarkan pengalaman empiris atau kemungkinan etiologi penyebabdenganmempertimbangka n usia dan keadaan klinis dan faktor epidemiologis.
1. Tindakan suportif : cairan IV, oksigen, koreksi gangguan asam basa, elektrolit, dan gula darah.
Demam dapat diberikan antipiretik.
2. Antibiotik pilihan utama adalah golongan beta-laktam
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat per oral (misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat
Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah:
ampisilin dan
kloramfenikol, co- amoxiclav, ceftriaxone,
22 9 cefuroxime, dan cefotaxime50
100mg/KgBB/hari dibagi dalam 2-4 dosis dan Amikasin 15mg/KgBB setiap 12 jam